• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

PUTUSAN Nomor 24 P/HUM/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa dan mengadili perkara permohonan keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1871/MENKES/PER/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/MENKES/PER/VI/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, pada tingkat pertama dan terakhir telah memutuskan sebagai berikut, dalam perkara:

1 MAHENDRA BUDIANTA, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Bronggalan Sawah 5 Baru Nomor 03, Surabaya, Jabatan Ketua Perkumpulan Tukang Gigi (PTGI) Jawa Timur;

2 ARIFIN, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Wonorejo Timur Nomor 24, Surabaya, Jabatan Sekretaris Perkumpulan Tukang Gigi (PTGI) Jawa Timur;

Selanjutnya memberi kuasa kepada 1. Muhammad Sholeh, S.H., 2. Imam Syafii, S.H., 3. Ahmad Sahid, S.H., 4. Adi Darmanto, S.H., 5. Abdul Holil, S.H., Para Avokat yang tergabung dalam Sholeh & Partners, beralamat di Jl. Genteng Muhammadiyah Nomor 2b, Surabaya, berdasarkan Surat KuasaKhusus Tanggal 29 Mei 2012;

Selanjutnya disebut sebagai Para Pemohon; melawan:

MENTERI KESEHATAN RI, tempat kedudukan Jl. H. R. Rasuna Said Blok X5 Kav. 4-9, Jakarta Selatan:

Selanjutnya memberi kuasa kepada:

1 Arsil Rusli, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Setjen Kementerian Kesehatan;

2 Netty T. Pakpahan, Kepala Bagian Pelayanan Hukum pada Biro Hukum dan Organisasi Setjen Kementerian Kesehatan;

3 Sudono, Kepala Subdit Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan;

4 Rahmat, Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum pada Biro Hukum dan Organisasi Setjen Kementerian Kesehatan;

Halaman 1 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5 Purwanta, Kepala Sub Bagian Pertimbangan Hukum pada Biro Hukum dan Organisasi Setjen Kementerian Kesehatan;

6 Andi Ardjuna Sakti, Kepala Sub Bagian Hukum pada Sekretariat Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan;

Kesemuanya beralamat di Jalan HR. Rasuna Said Blok X5 Kav.4-9 Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor HK/MENKES/233/VII/2012 Tanggal 3 Juli 2012;

Selanjutnya disebut sebagai Termohon; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan; DUDUK PERKARA

Menimbang, bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 7 Juni 2012 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Agung pada Tanggal 8 Juni 2012 dan diregister dengan Nomor 24 P/HUM/2012 telah mengajukan permohonan keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1871/MENKES/PER/ IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/MENKES/PER/ VI/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, dengan dalil-dalil yang pada pokoknya sebagai berikut:

A KEWENANGAN MAHKAMAH AGUNG

1 Pasal 24 A Undang-Undang Dasar 1945 dan perubahannya.

2 Pasal 20 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. 3 Pasal 79 Undang-Undang No 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

4 Pasal 31 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyatakan, Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji peraturan perundang- undangan di bawah undang-undang terhadap Undang-undang.

5 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 B KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING).

1 Bahwa Para Pemohon adalah Ketua dan Sekretaris Perkumpulan Tukang Gigi (PTGI) Jawa Timur.

2 Bahwa, Termohon adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia selaku pejabat negara yang mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1871/Menkes/ Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/ Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

3 Bahwa, Para Pemohon mempunyai anggota Tukang Gigi se Jawa Timur berjumlah sekitar 200 anggota.

4 Bahwa, Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) menyatakan: Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

5 Bahwa, Para Pemohon keberatan terhadap Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi. Yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 September 2011.

6 Bahwa, dalam Pasal 4 peraturan a quo, dijelaskan jika "Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 6 (enam) bulan terhitung sejak di undangkan". Artinya Peraturan Menteri a quo diberlakukan secara efektif terhitung sejak tanggal 5 Maret 2012.

7 Bahwa, saat diajukannya Permohonan ini, Peraturan Menteri Kesehatan yang dikeluarkan oleh Termohon telah berlaku, dan Para Pemohon dalam menjalankan pekerjaan sebagai Tukang Gigi sudah merasa tidak aman. Karena di beberapa daerah sudah ada Tukang Gigi yang ditangkap aparat kepolisian karena dianggap berpraktek secara melanggar hukum.

8 Bahwa, pada awalnya keberadaan para Tukang Gigi dipayungi oleh payung hukum berupa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53/DPK/I/K/1969 yang sejatinya memberikan pengakuan kepada para Tukang Gigi. Sebab dalam peraturan a quo memberikan ijin untuk Tukang Gigi berpraktek.

9 Bahwa, akan tetapi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53/DPK/I/K/1969 selanjutnya telah dicabut oleh Menteri Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi. 10 Bahwa, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang

Pekerjaan Tukang Gigi pada prinsipnya masih memberikan peluang kepada para Tukang Gigi yang sebelumnya telah mempunyai izin untuk tetap beraktifitas dan menjalankan pekerjaannya, namun sejak tahun 1989 Departemen Kesehatan tidak lagi mengeluarkan izin baru yang diperuntukkan bagi Tukang Gigi. Hal itu sama halnya keberadaan Tukang Gigi dibunuh secara perlahan-lahan oleh Tergugat.

11 Bahwa, akan tetapi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi selanjutnya telah pula dicabut dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011.

Halaman 3 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

12 Bahwa, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, maka keberadaan para Tukang Gigi telah diberangus, dan sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan kelangsungan hidup para Tukang Gigi dan keluarganya untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang Iayak sesuai dengan bidang dan keahlian yang dimiliki oleh para Tukang Gigi.

13 Bahwa, kewenangan Tukang Gigi berdasarkan pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/ 1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi Kewenangan pekerjaan Tukang Gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a membuat sebagian/seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik; dan b memasang gigi tiruan lepasan.

14 Bahwa jelas sekali kewenangan Tukang Gigi tidak perlu dikhawatirkan oleh Termohon dan para Dokter Gigi, sebab Tukang Gigi tidak diperbolehkan menambal, membius, mencabut gigi dll.

15 Bahwa, Para Pemohon menduga pemberangusan keberadaan Tukang Gigi melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, adalah ketakutan para Dokter Gigi terhadap ramainya masyarakat yang meminta bantuan jasa Para Pemohon (Tukang Gigi).

16 Bahwa, yang harus dipahami oleh Termohon, pangsa pasar dari Tukang Gigi adalah masyarakat menengah ke bawah. Ini dikarenakan biaya membuat gigi tiruan lepasan harganya lebih mahal pada Dokter Gigi dari pada di Tukang Gigi. Orang-orang kaya tidak mungkin mendatangi Tukang Gigi.

17 Bahwa, jika pelarangan keberadaan Tukang Gigi diakibatkan banyak terjadi malpraktek dilakukan oleh Tukang Gigi, tuduhan ini harus dibuktikan, sebab para Tukang Gigi selama ini bekerja sudah sangat hati-hati dan selalu mengutamakan kesehatan gigi pasien. Dan para Tukang Gigi sepakat, jika ada Tukang Gigi yang melanggar dalam berpraktek silahkan yang melanggar diberi sangksi yang tegas.

18 Bahwa, implikasi dari penerapan 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pen-cabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pekerjaan Tukang Gigi, bagi Tukang Gigi yang tetap membuka praktek akan dituduh melanggar Pasal 78 Undang-Undang Praktek kedokteran yang diancam pidana penjara 5 tahun.

19 Pasal 78 Undang-Undang 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran menyatakan; Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau Dokter Gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi Dokter Gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

20 Pasal 78 secara tersirat melarang siapapun yang membuka usaha yang menggunakan alat atau palayanan yang menimbulkan kesan seolah-olah seperti dokter/Dokter Gigi dilarang. Pertanyaannya, bagaimana dengan praktek bidan? Bukankah bidan melakukan pekerjaan dokter spesialis kandungan? Kenapa diperbolehkan? Padahal UU praktek kedokteran tidak mengatur tentang praktek bidan? Praktek bidan hanya diatur oleh keputusan menteri. Bukankah praktek bidan juga bisa dikatakan melanggar pasal 78 UU praktek kedokteran?.

21 Bahwa, karena perkara ini sudah menjadi keresahan Tukang Gigi se Indonesia dan demo terjadi dimana-mana. Para Pemohon memohon kepada Ketua Mahkamah Agung Cq hakim pemeriksa Perkara a quo agar segera menggelar sidang.

C POKOK PERMOHONAN

1 Pasal 59 Undang-Undang Tentang Kesehatan No 36 Tahun 2009 jelas memberikan perlindungan kepada pengobatan tradisional.

2 Adapun bunyi Pasal 59 Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan; Pelayanan Kesehatan Tradisional 59:

ayat (1) Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan pengobatan tradisional terbagi menjadi;

a pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan; dan b pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.

ayat (2) pelayanan kesehatan tradisonal sebagaimana dimaksud ayat (1) dibina dan diawasi oleh pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma-norma agama.

Pasal 61 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan;

Halaman 5 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Ayat (1) masyarakat diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan, meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

Ayat (2) pemerintah mengatur dan mengawasi pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada keamanan, kepentingan dan perlindungan masyarakat.

3 Jelas sekali menurut Para Pemohon jika Termohon (Kementerian Kesehatan) telah menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap Para Pemohon. Disatu sisi, melindungi para bidan yang diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin penyelenggaraan praktek bidan. 4 Bahwa, jika Termohon konsisten melarang siapapun melakukan praktek

seolah-olah seperti dokter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 Undang-Undang 29 Tahun 2004 tentang praktek kedokteran. Seharusnya bidan juga di larang. Karena pekerjaan bidan adalah pekerjaan dokter spesialis kandungan (SP.OG). dan dalam UU No 29 Tahun 2004 tentang praktek kedokteran, keberadaan bidang sama sekali tidak disinggung. Hanya dokter dan Dokter Gigi. Pertanyannya kenapa bidan diberikan payung hukum sementara Tukang Gigi tidak?

5 Bahwa, tidak semua pekerjaan dokter spesialis kandungan boleh dilakukan oleh bidan. Misalnya bidan tidak boleh operasi caecar, bidan tidak boleh melakukan curetase dll. Bidan hanya diperbolehkan melakukan persalinan normal. Bukankah hal ini seharusnya diperlakukan sama kepada Para Pemohon (Tukang Gigi)?

6 Bahwa Para Pemohon melakukan sebagian pekerjaan Dokter Gigi, misalnya; membuat sebagian/seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik; dan memasang gigi tiruan lepasan selebihnya tidak boleh dikerjakan oleh Para Pemohon (Pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi Kewenangan pekerjaan Tukang Gigi). Lalu ada yang bertanya, bidan-kan ada sekolahnya? Bukankah proses belajar Para Pemohon dari tahun ke tahun kepada orang tua Para Pemohon itu juga sekolah (bukan sekolah resmi). Jadi Para Pemohon berani menantang Termohon melakukan uji kompetensi dengan para Dokter Gigi dalam membuat gigi tiruan lepasan, Para Pemohon masih berkeyakinan tidak akan kalah dengan para Dokter Gigi.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

7 Bahwa, jika Termohon mau adil, keberadaan praktek Para Pemohon yang sudah puluhan tahun harus diakomodir dalam peraturan, dan Para Pemohon siap dilakukan sertifikasi sehingga keberadaan Para Pemohon legal dan dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatannya.

8 Bahwa, Termohon juga melakukan diskriminasi kepada Para Pemohon, karena Termohon memberikan perlindungan kepada pengobatan tradisional yang diatur Termohon dalam Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1076/MENKES/ SKNII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Pasal 1 menyatakan; Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatnya yang mengacu kepada pengalaman, ketrampilan turun temurun, dan/atau pendidikan/pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

9 Pasal 3 ayat (3) Klasifikasi dan jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

a Pengobat tradisional ketrampilan terdiri dari pengobat tradisional pijat urut, patah tulang, sunat, dukun bayi, refleksi, akupresuris, akupunkturis, chiropractor dan pengobat tradisional lainnya yang metodenya sejenis. Pertanyaannya, kenapa pengobatan tradisional seperti sangkal putung dan dukun bayi dilindungi secara hukum oleh Termohon, Namun disisi lain tidak mengakui keberandaan Para Pemohon?.

10 Bahwa, jika melihat dari isi pasal 1 Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1076/ MENKES/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Bahwa pengobatan tradisional adalah pengobatan dan/cara perawatan dengan cara yang mengacu pada pengalaman, keterampilan turun temurun. Bukankah pekerjaan Para Pemohon sesuai dengan definisi pasal a quo. Karena Para Pemohon bisa melakukan pekerjaan merawat gigi tiruan dari keterampilan turun temurun orang tua Para Pemohon.

11 Bahwa, menurut Para Pemohon Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi tidak sinkron dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1076/MENKES/SKNII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Dimana sebenarnya pengobatan tradisional sudah di atur oleh Keputusan Menteri namun sayangnya Termohon tidak memasukkan Tukang Gigi dalam keputusan a quo.

Halaman 7 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

12 Bahwa jika kita telaah lebih dalam, jelas pengobatan tradisional patah tulang atau sangkal putung lebih berbahaya daripada Tukang Gigi. Sebab patah tulang atau sangkal putung menyangkut tulang keseleo hingga tulang patah. Dan sangkal putung tidak pakai sekolah, mereka bekerja karena turun temurun dari orang tua. Pertanyaannya kenapa patah tulang atau sangkal putung, sunnat dan dukun bayi keberadaannya diakui oleh Termohon, justru mendapatkan perlindungan secara hukum dari Termohon, sementara Para Pemohon (Tukang Gigi) keberadaannya harus diberangus.

13 Bahwa, menurut Para Pemohon Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi telah bertentangan dengan Pasal 59 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Di mana dalam pasal UU a quo memberikan perlindungan kepada pelayanan pengobatan tradisional. Artinya Termohon telah berlaku sewenang-wenang dalam membuat peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

14 Bahwa Termohon dan DPR yang mengesahkan UU kesehatan nomor 36 tahun 2009 secara sadar dan mengakui keberadaan pengobatan tradisional yang telah mengakar di masyarakat Indonesia. Tapi sayangnya justru Termohon yang tidak menghargai keberadaan Para Pemohon sebagai pengobatan tradisional (merawat gigi atau memasang gigi tiruan lepasan) yang telah berusia ratusan tahun dan sangat mengakar di bumi nusantara Indonesia.

15 Bahwa, Para Pemohon berpendapat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor; 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi jelas bertentangan dengan Pasal 59 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Karena membedakan Para Pemohon tidak termasuk pengobatan tradisional.

16 Bahwa, menurut Para Pemohon Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi bertentangan dengan Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan yang memberikan kesempatan yang seluas-Iuasnya kepada untuk mengembangkan,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

17 Pertanyaannya, apakah Termohon tidak memahami makna Pasal 61 ayat (1) UU No 36 Tahun 2009? Apakah harus Para Pemohon yang menjelaskan makna dari UU memberi kesempatan yang seluas-Iuasnya kepada masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan pelayanan pengobatan tradisional?

18 Bahwa, Termohon sebagai pembuat UU kesehatan dan DPR telah mengebiri produknya sendiri, dan dampaknya Para Pemohon yang dirugikan.

19 Bahwa, berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas dapatlah disimpulkan jika kebijakan Termohon a quo jelas-jelas tidak mencerminkan dan bernafaskan konstitusi in casu Pasal 28 I ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan: (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

20 Bahwa, jika dilihat Pasal 61 ayat (1) di atas, jelas undang-undang telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan pelayanan kesehatan tradisional. Tapi kenapa peraturan yang dibuat Termohon nomor, 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi justru memasung hak warga negara dalam mengembangkan kreatifitas masyarakat dalam pelayanan kesehatan. Bahwa, Peraturan a quo secara langsung telah membunuh mata pencarian dari Para Pemohon di seluruh Indonesia. Padahal keberadaan Tukang Gigi sudah ada ratusan tahun yang Ialu. sejak sebelum adanya fakultas kedokteran Gigi di Indonesia. Maka Para Pemohon berpendapat jika peraturan nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi bertentangan dengan Pasal 61 ayat (1) UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.

21 Bahwa, Para Pemohon sebagai warga negara yang membayar pajak kepada negara, punya hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sebagaimana diatur dalam pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan; Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

22 Bahwa, Para Pemohon tidak pernah merasakan dibina oleh Termohon sejak adanya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53/DPK/I/K/1969. artinya sejak tahun 1969 Termohon hanya berdiam diri tanpa pernah melakukan pembinaan

Halaman 9 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

kepada Para Pemohon, padahal setiap hari Para Pemohon menerima pasien yang membutuhkan jasa Para Pemohon. Apakah itu tugas dari seorang menteri? 23 Bahwa, Para Pemohon sangat senang jika Termohon melakukan pembinaan

kepada Para Pemohon mengenai dunia kedokteran gigi modern, sehingga ilmu Para Pemohon bisa disinergikan dan menambah kualitas pelayanan kesehatan Para Pemohon.

24 Bahwa, keberadaan Tukang Gigi (Para Pemohon) memang bukan belajar dari sekolah. Tapi ilmu yang dipelajari secara turun-temurun. Ini sama dengan pengobatan tradisional lainnya, seperti sangkal putung, sunnat, dukun bayi dll. 25 Bahwa, pengobatan tradisional merupakan aset nasional yang perlu terus digali,

diteliti dan dikembangkan dan dimaksimalkan kemanfaatannya. Indonesia sebagai suatu wilayah yang mempunyai banyak keanekaragaman suku dan budaya merupakan aset dengan nilai keunggulan koomperatif dan suatu modal dasar utama dalam upaya pemanfaatan sumber daya manusia yang seutuhnya. Tapi sayang Termohon (Kementerian Kesehatan Indonesia), seakan tutup mata terhadap aset Tukang Gigi yang berumur ratusan tahun ini.

26 Bahwa, kewenangan Para Pemohon sangat dibatasi oleh Termohon, sesuai Pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX//2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi Kewenangan pekerjaan Tukang Gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a membuat sebagian/seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik; dan b memasang gigi tiruan lepasan.

27 Artinya keberadaan Para Pemohon tidak bisa dianggap sebagai ancaman dari para Dokter Gigi. Para Pemohon sudah menerima kewenangan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan a quo, dan Para Pemohon komitmen tidak akan melakukan pekerjaan di luar yang ditentukan.

28 Bahwa, Para Pemohon berharap ke depan bisa diberikan sertifikasi oleh Kementerian Kesehatan Indonesia kepada Para Pemohon, agar pemahaman Para Pemohon dalam dunia gigi sejalan dengan dunia kedokteran gigi modern. 29 Di negara China, pengobatan tradisional dari leluhur sangat dihargai

keberadaannya justru mendapat perlindungan dari pemerintah setempat. Akhirnya pengobatan tradisional China bisa merambah ke negara-negara lain. Ini bisa berhasil karena pemerintah memberikan ruang yang luas terhadap pengobatan tradisional. Pengobotan tradisional bukan dianggap sebagai musuh

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

dunia kedokteran modern, malah disinergikan dengan dunia kedokteran modern. Seharusnya keberadaan Para Tukang Gigi di Indonesia harus disinergikan dengan dunia kedokteran gigi modern, agar posisinya bisa saling melengkapi. Bukan malah diberangus.

30 Berdasarkan uraian di atas, nyatalah bahwa Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/PerN/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, bertentangan dengan Pasal 59 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) jo Pasal 61 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

31 Bahwa, Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi harus dinyatakan tidak sah atau tidak berlaku untuk umum.

32 Karena Peraturan Menteri Kesehatan nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, tidak sah atau tidak berlaku untuk umum, maka Termohon harus segera mencabut peraturan a quo.

Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, maka selanjutnya Para Pemohon mohon kepada Ketua Mahkamah Agung berkenan memeriksa permohonan keberatan dan memutuskan sebagai berikut:

1 Mengabulkan Permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2 Menyatakan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, bertentangan dengan Pasal 59 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) jo Pasal 61 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

3 Menyatakan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, tidak sah atau tidak berlaku untuk umum.

4 Memerintahkan kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia agar segera mencabut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor; 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

Halaman 11 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5 Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.

Atau apabila Mahkamah Agung berpendapat lain, mohon diberi keputusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).

Menimbang, bahwa untuk mendukung dalil-dalil permohonannya, Pemohon telah mengajukan surat-surat bukti berupa:

1 Fotokopi Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1871/MENKES/PER/IX/2011 (Bukti P-1);

2 Fotokopi Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 (Bukti P-2);

3 Fotokopi Akta Pendirian Perkumpulan Tukang Gigi Jawa Timur (Bukti P-3); 4 Fotokopi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 (Bukti

P-4);

5 Fotokopi Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 (Bukti P-5);

6 Fotokopi Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 (Bukti P-6);

7 Fotokopi media online vivanews.com Kamis 31 Mei 2012 (Bukti P-7); 8 Fotokopi Koran Jawa Pos tanggal 1 Juni 2012 (Bukti P-8);

Menimbang, bahwa permohonan keberatan hak uji materiil tersebut telah disampaikan kepada Termohon pada Tanggal 11 Juni 2012 berdasarkan Surat Panitera Muda Tata Usaha Negara Mahkamah Agung Nomor 33/PER-PSG/V/24 P/HUM/ TH.2012, Tanggal 11 Juni 2012;

Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut, Termohon telah mengajukan jawaban tertulis pada Tanggal 6 Juli 2012, yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

I POKOK PERMOHONAN

1 Bahwa Pemohon keberatan terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

2 Bahwa pada awalnya keberadaan para Tukang Gigi mempunyai payung hukum berupa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53/DPK/I/K/1969 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Menjalankan Pekerjaan Tukang Gigi yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 339/Menkes/ Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi yang pada prinsipnya masih memberikan peluang kepada para Tukang Gigi yang sebelumnya telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

mempunyai izin untuk tetap beraktivitas dan menjalankan pekerjaannya, namun sejak tahun 1989 Departemen Kesehatan tidak lagi mengeluarkan izin baru bagi Tukang Gigi.

3 Bahwa dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi maka keberadaan Tukang Gigi telah diberangus dan tidak mempertimbangkan kelangsungan hidup para Tukang Gigi dan keluarganya.

4 Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/PerN/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, kewenangan pekerjaan Tukang Gigi meliputi:

a membuat sebagian/seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik; dan b memasang gigi tiruan lepasan.

5 Bahwa jelas sekali Tukang Gigi tidak diperbolehkan menambal, membius, mencabut gigi, dan lain-lain.

6 Bahwa Pasal 59 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan sebagai berikut:

1 Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi:

a pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan; dan b pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.

2 Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibina dan diawasi oleh Pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama.

3 Ketentuan Iebih lanjut mengenai tata cara dan jenis pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Jelas pasal tersebut di atas memberikan perlindungan kepada pengobatan tradisional.

7 Menurut Pemohon, Termohon telah menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap Pemohon karena melindungi bidan yang pekerjaannya adalah pekerjaan Dokter Spesialis Kandungan dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin Penyelenggaraan Praktek Bidan dan juga melakukan diskriminasi terhadap Tukang Gigi karena

Halaman 13 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

memberikan perlindungan bagi pengobat tradisional Iainnya seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.

8 Bahwa Pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/ VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional berbunyi: Pengobat tradisional keterampilan terdiri dari pengobat tradisional pijat urut, patah tulang, sunat, dukun bayi, refleksi, akupresuris, akupunkturis, chiropractor, dan pengobat tradisional Iainnya yang metodenya sejenis. Jadi pertanyaannya adalah mengapa pengobatan tradisional seperti sangkal putung dan dukun bayi dilindungi secara hukum oleh Termohon namun tidak mengakui keberadaan Pemohon.

9 Bahwa menurut Pemohon Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1871/ Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi bertentangan dengan Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi:

Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-Iuasnya untuk mengembangkan, meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

II JAWABAN TERMOHON A DALAM EKSEPSI

Termohon dapat menginformasikan ke Mahkamah Agung bahwa saat ini sedang diajukan Pengujian Materi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran register perkara nomor 40/PUU-X/2012 yang diajukan oleh Tukang Gigi, sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang yang sedang dilakukan Mahkamah Agung wajib dihentikan apabila undang-undang yang menjadi dasar pengujian peraturan tersebut sedang dalam proses pengujian Mahkamah Konstitusi sampai ada putusan Mahkamah Konstitusi.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Termohon meminta kiranya kepada Mahkamah Agung agar menghentikan proses hak uji materiil untuk sementara waktu hingga keluarnya Keputusan Mahkamah Konstitusi.

B DALAM POKOK PERMOHONAN

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Termohon dapat menginformasikan ke Mahkamah Agung bahwa saat ini sedang diajukan Pengujian Materi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran register perkara Nomor 40/PUU-X/2012 yang diajukan oleh Tukang Gigi, sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang yang sedang dilakukan Mahkamah Agung wajib dihentikan apabila undang-undang yang menjadi dasar pengujian peraturan tersebut sedang dalam proses pengujian Mahkamah Konstitusi sampai ada putusan Mahkamah Konstitusi.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Termohon meminta kiranya kepada Mahkamah Agung agar menghentikan proses hak uji materiil untuk sementara waktu hingga keluarnya Keputusan Mahkamah Konstitusi. Namun demikian, apabila Mahkamah berpendapat lain, Termohon menyiapkan jawaban/penjelasan terhadap Permohonan Uji Materiil Permenkes Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Permenkes Nomor 339/Menkes/PerN/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, yaitu sebagai berikut:

1 Penjelasan dari Perspektif Filosofis dan Sosiologis terhadap keberadaan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/PerN/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, yaitu sebagai berikut :

a Bahwa dalam Pasal 1 angka 16 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu kepada pengalaman dan ketrampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

b Bahwa dari definisi huruf a tersebut di atas, pengobatan tradisional dilakukan berdasarkan pengalaman, keterampilan turun menurun dan dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi Tukang Gigi dalam praktiknya menggunakan metode, cara, alat, dan bahan kedokteran dan keperawatan yang mengandung bahan kimia dan fisika, seperti akrilik. Bahan akrilik yang digunakan oleh Tukang Gigi merupakan bahan kimia yang mengandung acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau yang tajam. Bahan ini berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehida. Secara kimia

Halaman 15 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

dinamakan polymetil metakrilat yang terbuat dari minyak bumi, gas bumi atau arang batu.

Bahan ini disediakan untuk kedokteran gigi berupa cairan (monomer) monometil metakrilat dan dalam bentuk bubuk (polimer) polimetil metakrilat. Penggunaan resin akrilik ini biasa dipakai sebagai bahan denture base, landasan pesawat orthodontik (orthodontikbase), basis gigi tiruan, pembuatan anasir gigi tiruan (artificial teeth) dan sebagai bahan restorasi untuk mengganti gigi yang rusak. Resin akrilik adalah resin termoplastis, merupakan persenyawaan kompon non metalik yang dibuat secara sintetis dari bahan-bahan organik. Resin ini dapat dibentuk selama masih dalam keadaan plastis dan mengeras apabila dipanaskan karena tejadi reaksi polymerisasi adisi antara polimer dan monomer.

Peralatan dan bahan yang digunakan Tukang Gigi merupakan peralatan kedokteran gigi/kesehatan gigi, sedangkan bahannya merupakan bahan kimia, keduanya bukan merupakan bahan yang dianjurkan untuk pengobatan tradisional.

Peralatan pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada penjelasan Pasal 60 dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "penggunaan alat dan teknologi" dalam ketentuan ini adalah yang tidak bertentangan dengan tindakan pengobatan tradisional yang dilakukan. Sedangkan alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.

c Terkait dengan dalil Pemohon yang menyatakan bahwa Termohon menerapkan diskriminatif terhadap Pemohon dengan melindungi bidan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin Penyelenggaraan Praktik Bidan, hal ini tidaklah berdasar karena antara bidan dan Tukang Gigi jelaslah berbeda dengan alasan sebagai berikut:

• Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/ III/2007 tentang Standar Profesi Bidan, bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

• Berdasarkan Permenkes 1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, disebutkan setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan pekerjaannya wajib memiliki STR dan untuk memperoleh STR tenaga kesehatan harus memiliki ijazah dan sertifikat kompetensi. • Tukang Gigi adalah mereka yang melakukan pekerjaan di bidang

penyembuhan dan pemulihan kesehatan gigi dan tidak mempunyai pendidikan berdasarkan ilmu pengetahuan kedokteran gigi serta telah mempunyai izin Menteri Kesehatan untuk melakukan pekerjaannya (pengertian berdasarkan Permenkes Nomor 339/Menkes/Per/V/1989). d Bidan diberikan payung hukum karena bidan melalui pendidikan formal

terstruktur, memiliki standar, kompetensi dan kewenangan dalam memberikan pelayanan kebidanan, sedangkan Tukang Gigi tidak melalui pendidikan formal terstruktur, tidak mempunyai standar, dan kompetensi untuk melakukan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien (pasient safety). Tukang Gigi juga tidak termasuk dalam kategori pengobat tradisional karena alat, obat, dan bahan yang digunakan sama seperti peralatan kedokteran dan keperawatan serta mengandung bahan kimia dan fisika.

e Terhadap dalil Pemohon Nomor 5 tentang peran bidan, kembali Termohon tegaskan bahwa bidan dan Tukang Gigi jelaslah tidak dapat dipersamakan. f Berdasarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang

Kompetensi menyebutkan bahwa "kompetensi" adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melakukan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Bahwa Pemohon sampai dengan saat mengajukan permohonan ini ke Mahkamah Agung, Pemohon tidak memiliki standar operasional prosedur maupun standar kompetensi untuk melakukan pelayanan kesehatan/ membuat sebagian atau seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik, dan memasang gigi tiruan lepasan.

g Termohon jelaskan bahwa sertifikasi kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seseorang tenaga kesehatan untuk dapat

Halaman 17 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi.

h Terhadap dalil Pemohon nomor 8, 9, dan 10 tentang pengobat tradisional, dapat Termohon jelaskan bahwa Tukang Gigi tidak termasuk dalam klasifikasi dan jenis pengobat tradisional sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/ VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional karena Tukang Gigi menggunakan alat, bahan, obat kedokteran dan keperawatan serta bahan kimia dan fisika.

i Terhadap dalil Pemohon nomor 11, dapat Termohon jelaskan bahwa kedua kebijakan dimaksud mengatur substansi yang berbeda, yaitu Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003 mengatur tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, sedangkan Permenkes 1871/ Menkes/Per/IX/2011 mengatur tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi. j Terhadap dalil Pemohon nomor 12, Termohon dapat jelaskan bahwa patah

tulang atau sangkal putung, sunat, dan dukun bayi menggunakan bahan hayati yang bersumber dari alam, sedangkan Tukang Gigi menggunakan alat, bahan, obat kedokteran dan keperawatan serta bahan kimia dan fisika. k Terhadap dalil Pemohon nomor 13, Termohon dapat jelaskan bahwa Tukang

Gigi bukan merupakan pengobat tradisional, sehingga Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 yang mengatur tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi sama sekali tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

l Terhadap dalil Pemohon nomor 14, Termohon dapat jelaskan sebagai berikut:

• Standar pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 284/Menkes/SK/IV/2006.

• Kompetensi profesi perawat gigi telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 378/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Perawat Gigi.

m Terhadap dalil Pemohon nomor 15, 16, 17, dan nomor 18, kembali Termohon tegaskan bahwa Tukang Gigi bukan merupakan pengobat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

tradisional sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

n Terhadap dalil Pemohon nomor 19, Termohon dapat jelaskan bahwa ketentuan Pasal 28H Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak masyarakat yang dilindungi oleh undangundang. Dalam mewujudkan perlindungan hak masyarakat atas kesehatan, Termohon bersama-sama dengan organisasi profesi/ pemberi pelayanan merumuskan norma, standar, kriteria dan prosedur pemberian pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai standar dan kompetensi tertentu.

o Terhadap dalil Pemohon nomor 20, Termohon dapat jelaskan bahwa penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/Per/ V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi semata-mata dilakukan untuk memberikan jaminan perlindungan hak masyarakat atas kesehatan yang optimal dalam mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

p Terhadap dalil Pemohon nomor 21, Termohon dapat jelaskan bahwa Termohon mempunyai tugas dan tanggung jawab mutlak untuk memberikan jaminan perlindungan hak atas kesehatan kepada masyarakat melalui perumusan kebijakan-kebijakan yang mengatur mutu dan prinsip-prinsip keamanan dan keselamatan pasien.

q Terhadap dalil Pemohon nomor 22, Termohon dapat jelaskan bahwa dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 284/Menkes/SK/ IV/2006 tentang Standar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 378/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Perawat Gigi, Termohon telah melakukan pembinaan terhadap tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

r Terhadap dalil Pemohon nomor 23, Termohon dapat jelaskan bahwa dengan adanya pendidikan formal terstruktur, standar dan kompetensi tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut maka ilmu Tukang Gigi tidak dapat disinergikan dengan tenaga kesehatan.

Halaman 19 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

s Terhadap dalil Pemohon nomor 24, Termohon kembali tegaskan bahwa Tukang Gigi bukan merupakan pengobat tradisional karena menggunakan alat, bahan, obat kedokteran dan keperawatan serta bahan kimia dan fisika. t Terhadap dalil Pemohon nomor 25, Termohon dapat jelaskan bahwa

Termohon harus memberikan jaminan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat memberikan pelayanan kesehatan dan Termohon juga harus menjamin hak masyarakat atas kesehatan yang bermutu sebagaimana dimaksud oleh ketentuan Pasal 28H Undang-Undang Dasar 1945.

u Terhadap dalil Pemohon nomor 26 dan 27, Termohon dapat jelaskan bahwa kewenangan itu lahir dari standar operasional prosedur (sop), sedangkan Tukang Gigi tidak mempunyai standar maupun standar kompetensi untuk melakukan pelayanan kesehatan/membuat sebagian atau seluruh gigi tiruan lepasan dari akrilik, dan memasang gigi tiruan lepasan.

v Terhadap dalil Pemohon nomor 28, Termohon dapat jelaskan bahwa berdasarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kompetensi menyebutkan bahwa "kompetensi" adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melakukan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Bahwa terkait hal tersebut di atas, Termohon dapat menjelaskan bahwa setiap orang untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi harus melalui pendidikan formal terstruktur. Hal ini berlaku sama terhadap pemohon.

w Terhadap dalil Pemohon nomor 29, Termohon kembali tegaskan bahwa Tukang Gigi bukan merupakan pengobat tradisional sebagaimana dimaksud oleh ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. x Terhadap dalil Pemohon nomor 30, Termohon dapat jelaskan bahwa oleh

karena Tukang Gigi bukan merupakan pengobat tradisional, maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/ 2011 yang mengatur tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/ PerN/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi sama sekali tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 59 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) jo Pasal 61 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. y Terhadap dalil Pemohon nomor 31, Termohon dapat jelaskan bahwa

penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

mengatur tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/ Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi semata-mata ditujukan untuk jaminan perlindungan hak masyarakat atas kesehatan yang bermutu. z Terhadap dalil Pemohon nomor 32, Termohon dapat jelaskan bahwa

penetapan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1871/Menkes/Per/IX/2011 mengatur tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/ Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi merupakan tindak lanjut dari ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Provinsi, Kabupaten/ Kota.

2 Dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran terdapat beberapa ketentuan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh selain dokter atau dokter gigi.

Di bawah ini adalah ketentuan tersebut :

a Pasal 73 ayat (2) menyatakan bahwa setiap orang dilarang menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda dan/atau surat izin praktik. b Pasal 78 menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja

menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

Terhadap uraian angka 2 tersebut di atas, bahwa ditetapkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi jelas merupakan amanah dari Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, sehingga Termohon dalam hal ini telah melaksanakan apa yang diamanahkan oleh Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004.

PERTIMBANGAN HUKUM

Halaman 21 dari 32 halaman. Putusan Nomor 24 P/HUM/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan keberatan hak uji materiil dari Para Pemohon adalah sebagaimana tersebut di atas;

Menimbang, bahwa yang menjadi obyek permohonan keberatan hak uji materiil Para Pemohon adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1871/MENKES/ PER/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/MENKES/ PER/VI/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi, vide bukti nomor P-1;

Menimbang, bahwa sebelum Mahkamah Agung mempertimbangkan tentang substansi permohonan yang diajukan Para Pemohon, maka terlebih dahulu akan dipertimbangkan apakah permohonan a quo memenuhi persyaratan formal, yaitu apakah Pemohon mempunyai kepentingan untuk mengajukan permohonan keberatan hak uji materiil, sehingga pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) dalam permohonan a quo sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 A ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Pasal 1 ayat (4) dan Pasal 2 ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil;

Menimbang, bahwa objek permohonan keberatan hak uji materiil berupa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1871/MENKES/PER/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/MENKES/PER/VI/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi merupakan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, sehingga Mahkamah Agung berwenang untuk mengujinya;

Menimbang, bahwa Para Pemohon adalah 1. MAHENDRA BUDIANTA, 2. ARIFIN dalam kapasitasnya sebagai Ketua dan Sekretaris Perkumpulan Tukang Gigi (PTGI) Jawa Timur, oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama organisasi;

Menimbang, bahwa dalam permohonannya, Para Pemohon telah mendalilkan bahwa Para Pemohon mempunyai kepentingan dengan alasan sebagai berikut:

• Bahwa Para Pemohon adalah Ketua dan Sekretaris Perkumpulan Tukang Gigi (PTGI) Jawa Timur, mempunyai anggota Tukang Gigi se Jawa Timur berjumlah sekitar 200 anggota.

• Bahwa, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/Menkes/ Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi. Yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 September 2011 Pasal 4, dijelaskan jika "Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 6 (enam) bulan terhitung sejak di

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Stanley & Beare, (2006) dan Maas et al , (2011) bahwa senam Kegel merupakan salah satu terapi

Penghapusan adalah tindakan menghapus barang milik daerah dari daftar barang dengan menerbitkan keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna

Interior pada sebuah sarana kesehatan harus direncanakan dengan detail, ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhatikan. Rumah sakit/klinik sebagai healing environment

Nilai IC50 yang terendah adalah ekstrak daun mimba dengan pelarut methanol dengan konsentreasi 80%. Perbedaan nilai IC50 ini dapat disebabkan oleh jumlah antioksidan

Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi BAP 1 ppm + IAA 3 ppm memberikan pengaruh lebih baik pada diameter batang planlet pisang raja bulu dibandingkan dengan penelitian sebelumnya

Sebuah aplikasi atau software pada sistem ini sangat mendukung dari kemampuan sistem untuk mengubah atau untuk membangun ulang dari sebuah versi aplikasi dan software yang tepat

Dengan memanfaatkan media elektronik dibuatlah video yang menampilkan semua gedung kampus Universitas Gunadarma Diharapkan melalui video ini dapat membantu mahasiswa baik itu

[r]