• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Penulis mengadakan penelitian Pada PT. HI LEX INDONESIA yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Penulis mengadakan penelitian Pada PT. HI LEX INDONESIA yang"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1 Pengumpulan Data 3.1.1 Lokasi Penelitian

Penulis mengadakan penelitian Pada PT. HI – LEX INDONESIA yang beralamat di Jalan Lio Baru – Desa Karang Sari, Kecamatan Batu Ceper Tangerang.

3.1.2. Sejarah Umum Berdirinya Perusahaan

PT HI – LEX INDONESIA didirikan pada tanggal 21 November 1978, yang merupakan anak perusahaan Nippon Cable System, INC PT. HI-LEX INDONESIA bergerak di bidang pembuatan kontrol kabel kendaraan bermotor baik yang beroda dua maupun yang beroda empat. Perusahaan ini beralamatkan di Jalan Lio Baru/ Desa Karang Sari Kecamatan Batu Ceper, Tangerang, dengan luas tanah 41.483 M2 dan luas bangunan 9.143 M2. Perusahaan ini dikelola oleh Mikio Kurata sebagai presiden direktur dan Ferry Tjandra sebagai direktur. PT HI-LEX INDONESIA merupakan perusahaan penanaman modal asing, dengan penanaman modal PT Lippo

(2)

Multi Usaha 60% (Indonesia) dan Nippon Cable System Inc. 40% (Jepang). Nilai investasinya sebesar US $ 2.500.000

Jenis-jenis Control Cable yang diproduksi oleh PT. HI-LEX INDONESIA meliputi :

1) Shift Cable 8) Engine Stop Cable

2) Select Cable 9) Hood Lock Cable

3) Brake Cable 10) Speedometer Cable

4) Throttle Cable 11) Transmission Cable

5) Clutch Cable 12) Wire Pump

6) Choke Cable 7) Accelarator Cable

Pelanggan utama dari PT. HI-LEX INDONESIA adalah sebagai berikut :

A. Automobile : B. Motor Cycle

1) Chevrolet 13) Honda : 2) Daihatsu 14) Kawasaki 3) Ford 15) Suzuki 4) Hino 16) Vespa 5) Honda 17) Yamaha 6) Isuzu 7) Mazda 8) Mercedes Benz 9) Mitshubishi 10) Nissan

(3)

11) Suzuki 12) Toyota

3.1.3. Visi Dan Misi Perusahaan

• Visi

Visi perusahan adalah menjadi produsen control cable nomor satu di Indonesia dengan mutu bertaraf internasional yang menguasai pasar di bidangnya dengan mengutamakan keselamatan pemakai dan menjadi produk yang berwawasan lingkungan.

• Misi

Misi perusahaan adalah mempunyai komitmen sebagai pemasok utama control cable pada kendaraan terkemuka melalui pengembangan sumber daya manusia yang handal.

3.1.4. Kebijakan Mutu Yang Diberikan Perusahaan

Untuk memberikan rasa kepuasan bagi para pelanggan perusahaan menerapkan kebijakan mutu, yaitu menggunakan sistem jaminan mutu secara optimum oleh seluruh karyawan serta mendapat kepercayaan dan kepuasan pelanggan.

3.1.5. Struktur Organisasi

Jenis struktur organisasi PT. Hi-Lex Indonesia adalah garis dan staff, pembagian tugas dari masing-masing divisi secara garis besar adalah sebagai berikut:

(4)

1) President Director

Membawahi Vice President Directors, Director. Presiden Direktur bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang terjadi di perusahaan dan mempunyai wewenang penuh terhadap perusahaan.

2) Vice president Director

Membawahi dan mengawasi sistem kerja Human Resource Development and General Accounting.

3) Human Resource Development & General Accounting Menangani tugas dan wewenang sebagai berikut : a) Menangani bagian ketenagakerjaan.

b) mengadakan training maupun magang untuk meningkatkan keahlian karyawan.

c) Merekrut sumber daya manusia yang handal, terampil dan siap pakai.

d) Mengadakan promosi karyawan, pengangkatan kerja dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu Human Resource Development and General Accounting membawahi General Accounting, Training, Personalia.

4) Finance & Accounting

Membawahi dan mengawasi sistem kerja Electronic Data Process, Purchasing, Accounting, Finance, Trading.

5) Director

Membawahi dan mengawasi sistem kerja Quality control and design Product Development, Production and Maintenance.

(5)

6) Vice President Director

Membawahi dan mengawasi sistem kerja Management Representative. 7) Management Representative

Manajemen yang bertugas membuat laporan kepda Vice President Director yang diterima dari semua divisi/departemen.

8) Manufacturing & Planning Production control

Membawahi dan mengawasi sistem kerja Assembling, Planning Production Control, Ordering.

9) Store Room

Bertugas untuk mengawasi dan mencatat nama dan banyaknya barang atau produk yang masuk (disimpan) dan yang keluar dari gudang.

10) Marketing

Membawahi Sales and Delivery. Memiliki tugas yaitu melaksanakan kegiatan pemasaran secara baik dan benar serta mengkoordinasikan departemen yang ada di bawahnya agar tercipta pandangan yang sama mencapai tujuan perusahaan.

3.1.6. Tenaga Kerja dan Waktu Kerja

• Tenaga Kerja

Jumlah keseluruhan tenaga kerja PT. Hi-Lex Indonesia pada saat ini adalah berjumlah 442 orang terdiri dari pria 418 orang dan 24 orang wanita. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel.

(6)

Tabel 3.1 Jumlah Karyawan dan Staff

Jabatan Jumlah

(Orang)

President Direktur Vice President Director

Direksi Manager Ass. Manager Sekertaris Staff Karyawan Leader Foreman Expatriate Supervisor 1 2 4 4 4 1 26 306 55 18 10 14 Total 445

Sumber : Personalia PT. Hi-Lex Indonesia (2003) • Waktu Kerja

Waktu kerja PT. Hi-Lex Indonesia terbagi dalam empat shift. Day shift adalah jam kerja bagi karyawan tingkat staff ke atas. Shift satu sampai dengan shift tiga adalah jam kerja untuk karyawan yang terlibat dalam kegiatan produksi. Hari Sabtu dan Minggu dihiutng lembur. Untuk lebih jelas dapat dilaihat pada tabel.

(7)

Tabel 3.2 Jadwal Jam Kerja

Hari Waktu Day

Shift (WIB) Shift I (WIB) Shift II (WIB) Shift III (WIB) Senin S/d Kamis Istirahat Istirahat 07.55-12.00 06.30-11.30 15.30-18.00 21.30-01.30 12.00-12.40 11.30-12.25 18.00-18.30 01.30-02.00 12.40-15.30 12.25-15.30 18.30-22.30 02.00-05.00 15.30-15.45 22.30-23.00 05.00-05.30 15.45-17.00 23.00-24.30 05.30-06.30 Jum’at Istirahat Istirahat 07.55-12.00 06.30-11.30 15.30-18.00 21.30-01.30 11.30-12.55 11.30-12.25 18.00-18.30 01.30-02.00 12.55-15.30 12.25-15.30 18.30-22.30 02.00-05.00 15.30-15.45 22.30-23.00 05.00-05.30 15.45-17.00 23.00-24.30 05.30-06.30

Sumber : Personalia PT. Hi-Lex Indonesia (2003)

3.1.7. Sarana dan Fasilitas Perusahaan

PT. Hi-Lex Indonesia juga menyediakan sarana dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya yang dapat menunjang kesejahteraan karyawan beserta keluarganya. Selain itu juga diharapkan dengan adanya sarana dan fasilitas ini akan semakin meningkatkan gairah kerja para karyawan, sehingga akan membantu kelancaran jalannya produksi. Sarana dan fasilitas-fasilitas yang terdapat di PT. HI-LEX Indonesia adalah :

(8)

1) Mess

Hal ini untuk memberi kemudahan bagi tenaga kerja asing, karyawan yang belum dapat tempat tinggal atau rumah dan juga memudahkan karyawan yang tempat tinggalnya jauh agar dekat dengan perusahaan.

2) Sarana Ibadah

Sarana ibadah disini adalah masjid, yang dibangun di dalam komplek perusahaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh karyawan dan para tamu yang sedang berkunjung jika ingin melakukan ibadah.

3) Sarana Olahraga

Sarana olahraga di sini adalah lapangan bola volley. Sarana tersebut dapat dimanfaatkan dan digunakan oleh seluruh karyawan misalnya pada saat hari minggu maupun pada saat ulang tahun perusahaan.

4) Faslitas Kesehatan atau Poliklinik

Disediakan tenaga medis beberapa dokter yang ditugaskan untuk membangun pelaksanaan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya.

5) Kafetaria

Hal ini untuk memberikan kemudahan bagi karyawan dan bagi para tamu yang sedang berkunjung. Seluruh karyawan sehari makan di kantin satu kali.

6) Koperasi Karyawan

Pihak perusahaan menyediakan pula faslitas koperasi karyawan untuk mensejahterakan karyawannya dengan memenuhi kebutuhan pokok karyawan.

(9)

7) Fasilitas Jamsostek

Pihak perusahaan juga menyediakan fasilitas jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) bagi seluruh karyawannya. Hal ini diharapkan dapat memberikan ketenangan dalam bekerja sehingga jalannya kegiatan perusahaan tidak terganggu.

3.1.8. Prosedur Pengumpulan Data

Penelitian dan pengumpulan data ini dilakukan di PT. HI – LEX Indonesia yaitu suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kontrol kabel kendaraan bermotor baik yang beroda dua maupun yang beroda empat, prosedur yang dilakukan dalam pengambilan data adalah sebagai berikut :

1. Dengan melakukan wawancara dengan bagian yang terlihat dalam pengadaan dan pengendalian bahan baku (material) yaitu bagian logistik.

2. Dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan dimana bahan baku berada, disertai Tanya jawab (interview) dengan karyawan yang benar-benar menguasai di bidang yang diteliti.

3. Dengan melakukan pengamatan pada dokumen-dokumen atau catatan-catatan yang dapat memberikan informasi tentang persediaan yaitu laporan tentang pemakaian material dan data dari kartu kontrol persediaan.

(10)

3.2. Pengumpulan Data Bahan Baku Produk Kabel Speedometer Yamaha MH – 110

Untuk memenuhi perhitungan data-data yang diperlukan agar lebih mudah dalam pengolahan data selanjutnya. Untuk Industri yang menggunakan bahan baku serta bahan penolong yang banyak sekali jenis/macamnya, maka bahan yang cukup kecil nilainya dapat digabungkan dengan sebutan “bahan-bahan lain” dan cantumkan nilainya saja. Tetapi dengan ketentuan bahwa penggabungan nilai-nilai bahan-bahan lain tersebut kurang dari 10% dari seluruh jumlha nilai pemakaian bahan.

Berikut ini adalah data-data yang diperlukan untuk pengolahan data : 1. Jenis – jenis bahan baku yang digunakan

2. Pemakaian dari setiap bahan baku untuk suatu periode tertentu 3. Proses pembelian bahan baku

4. Harga perunit satuan dari masing-masing bahan baku yang digunakan 5. Lead time dan jenis material

6. Ongkos-ongkos yang terlibat dalam pengendalian persediaan yang meliputi : ongkos pengadaan, ongkos penyimpanan, ongkos pemesanan dan ongkos kekurangan persediaan.

3.2.1. Data Harga Jenis-Jenis Bahan Baku Produk Kabel Speedometer Yamaha MH – 110 (produksi dalam negeri/domestik)

Jenis – jenis bahan baku berikut harga per jenis jenis bahan baku yang digunakan pada proses pembuatan kabel speedometer Yamaha MH – 110 adalah sebagai berikut :

(11)

• Hard Wire Iner (HWI) dengan harga per Kg Rp.10.542.121,6 • Hard Wire Outer (HWO) dengan harga per Kg Rp. 9.291.242,09 • Inner Cable (IC) dengan harga per MT Rp. 377.289,014 • Outer Cable (OC) dengan harga per MT Rp. 1.142.071,331

3.2.2 Jumlah Biaya Kebutuhan Bahan Baku Untuk Proses Produksi Kabel Speedometer Yamaha MH – 110 (Produksi Dalam Negeri)

Kebutuhan bahan baku dari masing-masing material yang digunakan untuk produksi kabel speedometer Yamaha MH – 110 tahun 2006 yaitu dibagi dalam dua semester yaitu semester I dan semester II, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.3. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester I Tahun 2006 (Berasal dari Produksi Dalam Negeri/domestik)

NO Bulan Nama Material (Biaya dalam Rupiah)

HWI (000) HWO (000) IC (000) OC (000) 1 Januari 159.565 694.673 569.214 1.768.467 2 Februari 197.639 853.310 499.196 1.125.826 3 Maret 201.521 797.547 609.487 988.839 4 April 228.376 877.586 673.744 1.487.267 5 Mei 239.247 750.115 650.521 1.198.725 6 Juni 304.812 805.329 786.998 1.389.931 Total 1.331.160 4.778.560 3.789.160 7.959.055

(12)

Tabel 3.4. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester II Tahun 2006 (Berasal dari Produksi Dalam Negeri/domestik)

NO Bulan Nama Material (Biaya dalam Rupiah)

HWI (000) HWO (000) IC (000) OC (000) 7 Juli 596.588 797.530 519.619 2.701.465 8 Agustus 307.451 574.589 692.351 1.398.465 9 September 497.769 886.475 421.792 1.621.458 10 Oktober 502.562 539.645 547.954 977.681 11 November 569.485 519.583 583.474 645.186 12 Desember 419.561 574.010 327.917 466.741 Total 2.893.416 3.891.832 3.093.107 7.810.996

(Sumber : Bagian Pembelian PT. HI – LEX INDONESIA)

Jadi total kebutuhan Bahan Baku pada tahun 2006 (berasal dari produksi dalam negeri) adalah jumlah total kebutuhan bahan baku semester I + jumlah total kebutuhan bahan baku semester II yaitu seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.5. Total Biaya Kebutuhan bahan Baku (dalam Rupiah) (Berasal dari Produksi Dalam Negeri)

Semester I + Semester II Tahun 2006

NO Nama Material Jumlah

Semester I Rp (000) Jumlah Semester II Rp (000) Total Rp (000)

1 Hard Wire Iner 1.331.160 2.893.416 4.224.576

2 Hard Wire Outer 4.778.560 3.891.832 8.670.392

3 Inner Cable 3.789.160 3.093.107 6.882.267

4 Outer Cable 7.959.055 7.810.996 15.770.051

(13)

Dari tabel di atas dapat dijelaskan jenis-jenis material yang digunakan berikut biaya kebutuhan bahan baku tahun 2006, yaitu sebagai berikut (dalam

negeri/domestik)

 Kebutuhan Hard Wire Iner (HWI) dari semua jenis bahan baku (material) HWI adalah sebesar Rp. 4.224.576.000

 Kebutuhan Hard Wire Outer (HWO) dari semua jenis bahan baku (material) HWO adalah sebesar Rp. 8.670.392.000

 Kebutuhan Inner Cable (IC) dari semua jenis bahan baku (material) IC adalah sebesar Rp. 6.882.267.000

 Kebutuhan Outer Cable (OC) dari semua jenis bahan baku (material) OC adalah sebesar Rp. 15.770.051.000

Dari total biaya kebutuhan bahan baku yaitu yang berasal dari produksi dalam negeri, dapat dicari kebutuhan bahan baku per tahun dalam satuan, sesuai dengan jenis bahan baku yang dipakai.

Untuk mencari kebutuhan bahan baku dalam satuan, dapat dicari dengan cara membagi jumlah biaya kebutuhan bahan baku di bagi harga bahan baku persatuan, yakni dengan rumus :

Perhitungan untuk mencari kebutuhan bahan baku per satuan yang bahan bakunya berasal dari produksi dalam negeri adalah sebagai berikut :

Total biaya kebutuhan bahan baku Kebutuhan Bahan Baku = Harga bahan baku per satuan

(14)

1. Bahan Baku Hard Wire Inner (HWI) Kg / 6 , 121 . 542 . 10 . Rp tahun / 000 . 576 . 224 . 4 . Rp = = 400,733 Kg / tahun 2 Bahan Baku Hard Wire Outer

Kg / 09 , 242 . 291 . 9 . Rp tahun / 000 . 392 . 670 . 8 . Rp = = 933,179 Kg / tahun 3 Bahan Baku Inner Cable

MT / 0144 , 289 . 377 . Rp tahun / 000 . 267 . 882 . 6 . Rp = =18.241,366 MT / tahun 4. Bahan Baku Outer Cable

MT / 331 , 071 . 142 . 1 . Rp tahun / 000 . 051 . 770 . 15 . Rp = =13.808,289 MT / tahun

Tabel 3.6. Kebutuhan Bahan Baku (Berasal dari Produksi Dalam Negeri)

NO Nama Material Kebutuhan Bahan Baku Satuan Standard

1 Hard Wire Inner 400,733 Kg

2 Hard Wire Outer 933,179 Kg

3 Inner Cable 18.241,366 MT

4 Outer Cable 13.808,289 MT

(15)

3.2.3. Data Harga Jenis-Jenis Bahan Baku Produk Kabel Speedometer Yamaha MH – 110 (Berasal dari Import)

Jenis – jenis bahan baku berikut harga per jenis jenis bahan baku yang digunakan pada proses pembuatan kabel speedometer Yamaha MH – 110 adalah sebagai berikut :

• Hard Wire Iner (HWI) dengan harga per Kg Rp.15.099.698,98

• Hard Wire Outer (HWO) dengan harga per Kg Non - Import

• Inner Cable (IC) dengan harga per MT Rp. 1.244.102,55 • Outer Cable (OC) dengan harga per MT Rp. 2.921.188,86

3.2.4. Jumlah Biaya Kebutuhan Bahan Baku Untuk Proses Produksi Kabel Speedometer Yamaha MH – 110 (Berasal dari Import)

Kebutuhan bahan baku dari masing-masing material yang digunakan untuk produksi kabel speedometer Yamaha MH – 110 tahun 2006 yaitu dibagi dalam dua semester yaitu semester I dan Semester II seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.7. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester I Tahun 2006 (Berasal dari Import)

NO Bulan Nama Material (Biaya dalam Rupiah)

HWI (000) HWO (000) IC (000) OC (000) 1 Januari 112.705 360.285 337.921 2 Februari 127.416 416.288 341.078 3 Maret 106.512 399.205 279.632 4 April 290.350 359.014 246.590 5 Mei 192.297 315.080 438.174 6 Juni 178.265 464.336 446.688 Total 1.007.545 2.314.208 2.090.083

(16)

Tabel 3.8. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester II Tahun 2006 (Berasal dari Import)

NO Bulan Nama Material (Biaya dalam Rupiah)

HWI (000) HWO (000) IC (000) OC (000) 7 Juli 109.296 179.680 419.605 8 Agustus 240.685 255.916 338.424 9 September 225.796 209.731 317.877 10 Oktober 165.762 308.254 412.771 11 November 341.267 130.142 351.081 12 Desember 407.713 231.987 190.788 Total 1.490.519 1.315.710 2.030.546

(Sumber : Bagian Pembelian PT. HI – LEX INDONESIA)

Jadi total kebutuhan Bahan Baku pada tahun 2006 (berasal dari Import) adalah jumlah total kebutuhan bahan baku semester I + jumlah total kebutuhan bahan baku semester II yaitu seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.9. Total Biaya Kebutuhan Bahan Baku (dalam Rupiah) (Berasal dari Import)

Semester I + Semester II Tahun 2006

NO Nama Material Jumlah

Semester I Rp (000) Jumlah Semester II Rp (000) Total Rp (000)

1 Hard Wire Iner 1.007.545 1.490.519 2.498.064

2 Hard Wire Outer - - -

3 Inner Cable 2.314.208 1.315.710 3.629.918

4 Outer Cable 2.090.083 2.030.546 4.120.629

(17)

Dari tabel di atas dapat dijelaskan jenis-jenis material yang digunakan berikut biaya kebutuhan bahan baku tahun 2006, yaitu sebagai berikut (Import/dalam

Rupiah)

 Kebutuhan Hard Wire Iner (HWI) dari semua jenis bahan baku (material) HWI adalah sebesar Rp. 2.498.064.000

 Kebutuhan Hard Wire Outer (HWO) dari semua jenis bahan baku (material) HWO adalah -

 Kebutuhan Inner Cable (IC) dari semua jenis bahan baku (material) IC adalah sebesar Rp. 3.629.918.000

 Kebutuhan Outer Cable (OC) dari semua jenis bahan baku (material) OC adalah sebesar Rp. 4.120.629.000

Dari total biaya kebutuhan bahan baku yaitu yang berasal dari Import, dapat dicari kebutuhan bahan baku per tahun dalam satuan, sesuai dengan jenis bahan baku yang dipakai.

Untuk mencari kebutuhan bahan baku dalam satuan, dapat dicari dengan cara membagi jumlah biaya kebutuhan bahan baku di bagi harga bahan baku persatuan, yakni dengan rumus :

Perhitungan untuk mencari kebutuhan bahan baku per satuan yang bahan bakunya berasal dari Import adalah sebagai berikut :

Total biaya kebutuhan bahan baku Kebutuhan Bahan Baku = Harga bahan baku per satuan

(18)

1. Bahan Baku Hard Wire Inner (HWI) Kg / 98 , 698 . 099 . 15 . Rp tahun / 000 . 064 . 498 . 2 . Rp = = 165,438 Kg / tahun

2 Bahan Baku Hard Wire Outer (HWO)

= (Perusahaan tidak mengimport untuk jenis bahan baku ini)

3 Bahan Baku Inner Cable

MT / 55 , 102 . 244 . 1 . Rp tahun / 000 . 918 . 629 . 3 . Rp = = 2.917,700 MT / tahun 4. Bahan Baku Outer Cable

MT / 86 , 188 . 921 . 2 . Rp tahun / 000 . 629 . 120 . 4 . Rp = = 1.410,600 MT / tahun

Tabel 3.10. Kebutuhan Bahan Baku (Berasal dari Import)

NO Nama Material Kebutuhan Bahan

Baku

Satuan Standard

1 Hard Wire Inner 165,438 Kg

2 Hard Wire Outer - Kg

3 Inner Cable 2.917,700 MT

(19)

Tabel 3.11. Keseluruhan Total Biaya Kebutuhan Bahan Baku (dalam Rupiah) (dalam negeri + import)

NO Nama Material Total Produksi (dalam negeri) Rp (000) Total Produksi (import) Rp (000) Total Rp (000)

1 Hard Wire Iner 4.224.576 2.498.064 6.722.640

2 Hard Wire Outer 8.670.392 - 8.670.392

3 Inner Cable 6.8822.607 3.629.918 10.512.185

4 Outer Cable 15.770.051 4.120.629 19.690.680

TOTAL 45.595.897

3.2.5. Biaya Pemesanan

Biaya pemesanan yaitu semua biaya yang meliputi biaya administrasi untuk pembelian atau pemesanan kepada pemasok (supplier) dari luar. Besar kecilnya biaya pemesanan akan sangat tergantung pada seberapa sering pesanan akan dibuat dengan jumlah volume pesanan barang. Untuk menghitung biaya pemesanan setiap kali pesan yaitu dengan cara menjumlahkan total keseluruhan yang meliputi biaya telepon, biaya penerimaan, biaya pengiriman, dan biaya surat menyurat yaitu diperkirakan sebesar 17 %.

Presentase biaya pemesanan tersebut adalah sama untuk setiap jenis-jenis bahan baku baik yang berasal dari produksi dalam negeri dan Import. Untuk selanjutnya angka presentase tersebut dikalikan dengan harga bahan baku menurut asal bahan baku, baik yang berasal dari dalam negeri ataupun import.

(20)

Tabel 3.12. Biaya Pemesanan ( bahan baku berasal dari produksi dalam negeri) NO Nama Material 17 % x Harga jenis-jenis Bahan Baku (Produksi dalam Negeri) Biaya Pemesanan (Rp)

1 Hard Wire Inner Rp. 1.792.160,7

2. Hard Wire outer Rp. 1.579.511,16

3. Inner Cable Rp. 64.139,13245

4. Outer Cable Rp. 194.152,13

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa biaya pemesanan sebesar Rp.1.792.160,7 didapat dari perhitungan perkalian antara harga bahan baku dengan biaya pemesanan sebesar 17 %, dari hasil wawancara dengan manager pembelian dan begitu juga seterusnya untuk bahan baku yang lain.

Tabel 3.13. Biaya Pemesanan ( bahan baku berasal dari Import)

NO Nama Material 17 % x Harga jenis-jenis Bahan Baku (Import) Biaya Pemesanan (Rp)

1 Hard Wire Inner Rp. 2.566.948,83

2. Hard Wire outer -

3. Inner Cable Rp. 211.497,4335

4. Outer Cable Rp. 496.602,1055

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa biaya pemesanan sebesar Rp.2.566.948,83 didapat dari perhitungan perkalian antara harga bahan baku dengan biaya pemesanan sebesar 17 %, dari hasil wawancara dengan manager pembelian dan begitu juga seterusnya untuk bahan baku yang lain.

(21)

3.2.6. Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan yaitu seluruh biaya yang berkaitan dengan penyimpanan barang, misalnya biaya sewa gudang, biaya pengawasan gudang, asuransi, biaya bunga bank, listrik dan pajak. Biaya penyimpanan bahan baku didapatkan dari perusahaan dari harga jenis-jenis bahan baku per satuan adalah sebesar 15 %

Biaya penyimpanan 15 % didapat juga dari total jumlah biaya penyimpanan adalah sebagai berikut : (Sumber : Bagian Pembelian PT. HI – LEX Indonesia)

1) Biaya penurunan barang/bongkar muat 0,04 %

2) Biaya penyusutan dan rusak barang di gudang 0,35 %

3) Biaya pemeliharaan barang 0,11 %

4) Biaya modal tertanam dalam perusahaan

Jumlah 15%

14,5 %

3.2.7. Waktu Tenggang

Waktu tenggang adalah waktu yang dibutuhkan pada saat awal pemesanan dilakukan sehingga bahan baku sampai ke pabrik. Lead Time tersebut berbeda untuk setiap pemesanan, tergantung pada jarak tempuh dan prosedur yang diberlakukan. Bahan baku yang didatangkan dari luar negeri mempunyai waktu tenggang selama 3 bulan sekali, sedangkan dari dalam negeri waktu tenggangnya selama 2 bulan

3.3. Pengolahan Data

Berdasarkan hasil pengumpulan data pada PT. HI – LEX Indonesia, barulah dapat dihitung biaya-biaya persediaan bahan baku kabel speedometer Yamaha

(22)

MH-110 yaitu dengan membandingkan antara metode EOQ dengan metode perusahaan adalah sebagai berikut :

3.3.1. Perhitungan Biaya Persediaan Bahan Baku (Berasal dari Produksi

dalam Negeri) Kabel Speedometer Yamaha MH-110 Menggunakan

Metode Economic Order Quantity (EOQ) A. Bahan Baku Hard Wire Inner (HWI)

• Kebutuhan bahan baku HWI ( S ) = 400,733 Kg / tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp. 1.792.160,7 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp. 10.542.121,6 per Kg

• Lead Time ( L ) = 2 Bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku HWI perbulan (D) :

12 733 , 400 12= = S D = 33,39 = 33,4 Kg/Bulan 2). ixc xAxS Q0= 2 6 , 121 . 542 . 10 . xRp % 15 733 , 400 x 8 , 160 . 792 . 1 . xRp 2 Q0= 24 , 318 . 581 . 1 948 . 355 . 436 . 1 0= Q 33 , 908 0= Q = 30,14 Kg

(23)

3). Banyaknya pemesanan dilakukan (n) : 0 Q S n= 14 , 30 733 , 400 = n

= 13,29 13 kali pemesanan per tahun (dibulatkan ke bawah)

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan HWI yang diperlukan, jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, maka dapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

13 365 = i

= 28,08 28 hari

Dengan ini dapat diatur agar pemesanan bahan baku HWI dilakukan setiap 28 hari.

4). Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP = × 2 4 , 33 ROP = × ROP = 66,8 Kg

5). Biaya total persediaan per tahun (TC) :

c i 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = TC = 400,733 x Rp.10.542.121,6 + .1.792.160,6 30,14 400,733 × Rp           + 15% Rp.10.542.121,6 2 30,14 × ×        

(24)

TC = Rp.4.224.576.015 + Rp.23.828.065 + Rp.23.830.465 TC = Rp.4.272.234.545.

B. Bahan Baku Hard Wire Outer (HWO)

• Kebutuhan Bahan Baku HWO ( S ) = 933,179 Kg per tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.1.579.511,16 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku

• Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.9.291.242,09 per Kg

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan Bahan Baku HWO Per Bulan ( D ) :

12 D= S 12 179 , 933 D= = 77,76 77,8 Kg / bulan 2) Kuantitas Pesanan Ekonomis ( Q0

c i S A × × × = 2 0 Q ) : 09 , 242 . 291 . 9 . % 15 179 , 933 16 , 511 . 579 . 1 . 2 0 Q Rp Rp × × × = 206 , 115 . 2 0 Q = Kg 46 99 , 45 0 Q = →

(25)

3) Banyaknya Pesanan dilakukan 0 Q S n= 46 933,179 n=

n = 20,28654 20 kali pemesanan per tahun (dibulatkan ke bawah) Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan HWO yang diperlukan tersebut. jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, makadapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

n 365 I= 20 365 I= hari 18 25 , 18 I= →

Dengan demikian dapat diatur agar pemesanan HWO dilakukan setiap 18 hari.

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP= × 2 8 , 77 ROP= × 155,6 ROP= Kg

5) Biaya total persediaan per tahun :

c i 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = 933,179 = 933,179 x Rp.9.291.242,09 + 46 x Rp.1.579.511,16 +

(26)

46

2 x 15 % x Rp.9.291.242,09

= Rp.8.670.392.002 + Rp.32.042.753 + Rp.32.054.785 = Rp.8.734.489.540.

C. Bahan Baku Inner Cable (IC)

• Kebutuhan Bahan Baku IC ( S ) = 18.241,366 MT / tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.64.139,13245 per pesanan

• Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku

• Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.377.289,0144 per meter

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan Bahan Baku IC per Bulan ( D ) :

12 S D= 12 18.241,366 D= MT 1.520,114 D= 2) c i S A × × × = 2 0 Q 0144 , 289 . 377 . % 15 366 , 241 . 18 13245 , 139 . 64 . 2 0 Q Rp Rp × × × = 01 , 347 . 41 0 Q = 203,34MT 0 Q =

(27)

3) Banyaknya pesanan dilakukan 0 Q S n= 203,34 18.241,366 n =

n = 89,7 90 kali pemesana per tahun.

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan IC yang diperlukan tersebut. jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, makadapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

365 I = n 365 = 90 = 4,06 4 hari

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP= × ROP=1.520,114 × 2 ROP=3.040,228MT 5) i c 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = 18.241,366 = 18.241,366 x Rp.377.289,0144 + x Rp.64.139,13245 203,34 + 203,34 x 15 % x Rp.377.289,0144 2

(28)

= Rp.6.882.266.999 + Rp.5.753.837 + Rp.5.753.846 = Rp.6.893.774.682.

D. Bahan Baku Outer Cable (OC)

• Kebutuhan Bahan Baku IC ( S ) = 13.808,289 MT / tahun • Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.194.152,13 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.1.142.071,331 per MT

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan Bahan Baku OC per Bulan ( D ) :

12 S D= 12 13.808,289 D= MT 1.150,7 D= 2) c i S A × × × = 2 0 Q 331 , 071 . 142 . 1 . % 15 289 , 808 . 13 13 , 152 . 194 . 2 0 Q Rp Rp × × × = 31.298,8 0 Q = 176,914MT 0 Q = 3) 0 Q S n= 176,914 13.808,289 n =

(29)

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan OC yang diperlukan tersebut. jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, maka dapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

365 I = n 365 = 78 = 4,67 5 hari

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP= × ROP=1.150,7 × 2 ROP=2.301,4MT 5) i c 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = 13.808,289 = 13.808,289 x Rp.1.142.071,331 + x Rp.194.152,13 176,914 + 176,914 x 15 % x Rp.1.142.071,331 2 = Rp.1.5770051 x 1010 + Rp.15.153.739 + Rp.15.153.630 = Rp.15.800.358.370.

3.3.2. Perhitungan Biaya Persediaan Bahan Baku (Berasal dari Import) Kabel Speedometer Yamaha MH-110 Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ)

(30)

A. Bahan Baku Hard Wire Inner (HWI)

• Kebutuhan bahan baku HWI ( S ) = 165,438 Kg / tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.2.566.948,83 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.15.099.698,98 per Kg

• Lead Time ( L ) = 3 Bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku HWI perbulan (D) :

12 S D= 12 165,438 D= bulan / Kg 13,8 13,7865 D= → 2). c i S A × × × = 2 0 Q 98 , 698 . 099 . 15 . % 15 438 , 165 83 , 948 . 566 . 2 0 Q Rp Rp × × × = 374,99 0 Q = 19,36 19,4Kg 0 Q = ↔

3). Banyaknya pemesanan dilakukan (n) :

0 Q S n= 176,914 13.808,289 n =

(31)

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan HWI yang diperlukan, jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, maka dapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

365 I = n 365 = 8 = 45,62 46 hari

Dengan ini dapat diatur agar pemesanan bahan baku HWI dilakukan setiap 46 hari.

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP= × 3 13,8 ROP= × Kg 45,77 ROP= 5) i c 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = 165,438 = 165,438 x Rp.15.099.698,98 + x Rp.2.566.948,83 19,4 + 19,4 x 15 % x Rp.15.099.698,98 2 = Rp.2.498.064.000 + Rp.21.890.251 + Rp.21.970.062 = Rp.2.541.924.313.

(32)

B. Bahan Baku Inner Cable (IC)

• Kebutuhan Bahan Baku IC ( S ) = 2.917,700 MT / tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp. 211.497,4335 per pesanan

• Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku

• Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.1.244.102,55 per MT

• Lead Time ( L ) = 3 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan Bahan Baku IC per Bulan ( D ) :

12 S D= 12 2.917,700 D= bulan / MT 243,142 D= 2) c i S A × × × = 2 0 Q 55 , 102 . 244 . 1 . Rp % 15 700 , 917 . 2 4335 , 497 . 211 . Rp 2 0 Q × × × = 453 , 613 . 6 0 Q = 81,32MT 0 Q = 3) 0 Q S n= 81,32 2.917,700 n =

(33)

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan IC yang diperlukan tersebut. jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, makadapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

365 I = n 365 = 36 = 10,13 10 hari

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : ROP=D × L 3 142 , 243 ROP= × 729,426 ROP= MT 5) i c 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = 2.917,700 = 2.917,700 x Rp.1.244.102,55 + x Rp.208.097,4335 80,7 + 80,7 x 15 % x Rp.1.244.102,55 2 = Rp.3.629.918.010 + Rp.7.523.740 + Rp.7.529.930 = Rp.3.644.971.680.

(34)

C. Bahan Baku Outer Cable (OC)

• Kebutuhan Bahan Baku OC ( S ) = 1.410,600 MT / tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.496.602,1055 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.2.921.188,86 per MT

• Lead Time ( L ) = 3 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan Bahan Baku OC per Bulan ( D ) :

12 S D= 12 1.410,600 D= D=117,55MT / bulan 2) c i S A × × × = 2 0 Q 86 , 188 . 921 . 2 . % 15 600 , 410 . 1 1055 , 602 . 496 . 2 0 Q Rp Rp × × × = 36 , 197 . 3 0 Q = MT 545 , 56 0 Q = 3) 0 Q S n= 56,545 1.410,600 n =

(35)

Berdasarkan metode EOQ, kita dapat mengatur jadwal pemesanan OC yang diperlukan tersebut. jika kita menganggap dalam setahun terdiri atas 365 hari, maka dapat ditentukan interval waktu pemesanan, yaitu :

365 I = n 365 = 25 = 14,6 15 hari

4) Titik Pemesanan Kembali (ROP) : L D ROP= × ROP=117,55 × 3 ROP=352,65MT 5) i c 2 Q A Q S c S TC 0 0 × ×       + ×       + × = = 1.410,600 = 1.410,600 x Rp.2.921.188,86 + x Rp.496.602,1055 56,545 + 56,545 x 15 % x Rp.2.921.188,86 2 = Rp.4.120.629.006 + Rp.12.388.485 + Rp.12.387.739 = Rp.4.145.405.230.

(36)

3.4. Penentuan Lot Ekonomis Bahan Baku Kabel Speedometer Yamaha MH-110

Untuk mencari biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya bahan baku dan total biaya per tahun dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Sumber Jhon. E. Biegel, hal.89)

A.S i . q C = + S . c +

0

q0 2

Dimana : C = Total biaya per tahun A = Biaya pemesanan q0

c = Biaya dari satu unit barang yang dibeli = Jumlah pembelian dalam satu lot

i = Biaya penyimpanan tahunan dari satu item (bagian)

Tiga elemen biaya dari rumus di atas ditunjukkan dengan tiga pernyataan yaitu : A.S

= Biaya pemesanan per tahun q0

S.c = Biaya bahan baku i . q0

= Biaya penyimpanan

2

3.4.1. Penentuan Lot Ekonomis Bahan Baku (berasal dari produksi dalam negeri) Kabel Speedometer Yamaha MH-110

Berikut ini akan diuraikan perhitungan-perhitungan untuk menentukan lot size yang ekonomis dari tiap-tiap jenis-jenis bahan baku (berasal dari produksi dalam

(37)

A. Bahan Baku HWI     × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +       × = 2 30,14 24 , 318 . 581 . 1 . Rp 121,6 Rp.10.542. 400,733 30,14 400,733 60,7 Rp.1.792.1 = Rp.23.828.066 + Rp.4.224.576.015 + Rp.23.830.465 = Rp.4.272.234.546.

B. Bahan Baku HWO

    × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +     × = 2 46 86,314 Rp.1.393.6 42,09 Rp.9.291.2 933,179 46 933,179 11,16 Rp.1.579.5 = Rp.32.042.753 + Rp.8.670.392.002 + Rp.32.054.785 = Rp.8.734.489.537. C. Bahan Baku IC     × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +       × = 2 34 , 203 35 Rp.56.593, ,01 Rp.377.289 18.241,366 203,34 18.241,366 132 Rp.64.139, = Rp.5.753.837 + Rp. 6.882.266.999 + Rp.5.753.846 = Rp.6.893.774.682.

(38)

D. Bahan Baku OC     × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +       × = 2 176,914 ,7 Rp.171.310 71,331 Rp.1.142.0 13.808,289 176,914 13.808,289 ,13 Rp.194.152 = Rp.15.153.739 + Rp.1,5770051 x 1010 + Rp.15.153.630 = Rp.15.800.358.370 .

Total biaya minimum terjadi apabila dua komponen biaya yakni biaya penyimpanan dan biaya pemesanan saling berpotongan pada satu titik dan biaya dapat dilihat dalam bentuk kurva persediaan bahan baku HWI, HWO, IC, dan OC.

Masalah tersebut dapat diseslesaikan secara grafis, seperti dalam gambar biaya-biaya pemesanan dan biaya-biaya menjaga persediaan digambarkan berlawanan dengan jumlah pemesanan.

Disini akan digambarkan kurva biaya persediaan pada setiap jenis-jenis bahan baku (berasal dari dalam negeri/domestik) HWI, HWO, IC dan OC, yaitu seperti gambar di bawah ini :

(39)

a) Kurva Biaya Persediaan Bahan Hard Wire Inner

Gambar 3.1 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku HWI

b) Kurva Biaya Persediaan Bahan Hard Wire Outer

Gambar 3.2 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku HWO

Kg Kurva biaya total

Rp.4.272.234.546 B iaya t ahuna n

(c) Jumlah pesanan dengan total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.4.224.576.015 Biaya simpanan Rp.23.830.465 Biaya pesanan Rp.23.828.066 10 20 30 30,14 40 50 60 Rp 46 B iaya t aha huna n

(c) Jumlah pesanan dengan

total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.8.670.392.002

Biaya simpanan Rp.32.054.785

Biaya pesanan Rp.32.042.753 Kurva biaya total

Rp.8.734.489.537

20 30 40 50 60 70

Kg Rp

(40)

c) Kurva Biaya Persediaan Bahan Inner Cable

Gambar 3.3 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku IC d) Kurva Biaya Persediaan Bahan Outer Cable

Gambar 3.4 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku OC

MT Kurva biaya total

Rp.15.800.358.370 B iaya t ahuna n (

c) Jumlah pesanan dengan

total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.15.770.051.000 Biaya simpanan Rp.15.153.630 Biaya pesanan Rp.15.153.739 50 100 150 176,914 200 250 300 Rp MT Rp B iaya t aha huna n

(c) Jumlah pesanan dengan

total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.6.882.266.999

Biaya simpanan Rp.5.753.846

Biaya pesanan Rp.5.753.837

100 150 200 250 300 350 Kurva biaya total

Rp.6.893.774.682

(41)

3.4.2. Penentuan Lot Ekonomis Bahan Baku (berasal dari Import) Kabel Speedometer Yamaha MH-110

Berikut ini akan diuraikan perhitungan-perhitungan untuk menentukan lot size yang ekonomis dari tiap-tiap jenis-jenis bahan baku (berasal dari produksi dalam negeri). Perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut :

A. Bahan Baku HWI

    × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +       × = 2 19,4 54,85 Rp.2.264.9 698,98 Rp.15.099. 165,438 19,4 165,438 48,83 Rp.2.566.9 = Rp.21.889.854 + Rp.2.498.018.701 + Rp.21.970.062 = Rp.2.541.878.617. B. Bahan Baku IC     × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C     × + × +       × = 2 81,32 ,4 Rp.186.615 02,55 Rp.1.244.1 2.917,700 81,32 2.917,700 ,4335 Rp.208.097 = Rp.7.523.740 + Rp. 3.629.918.010 + Rp.7.587.781. = Rp.3.645.029.531. C. Bahan Baku OC     × + × +       × = 2 Q i Q S A 0 c S C

(42)

    × + × +       × = 2 56,545 ,33 Rp.438.178 88,86 Rp.2.921.1 1.410,600 56,545 1.410,600 ,1055 Rp.496.602 = Rp.12.388.485 + Rp.4.120.629.006 + Rp.12.388.396 = Rp.4.145.405.887.

Total biaya minimum terjadi apabila dua komponen biaya yakni biaya penyimpanan dan biaya pemesanan saling berpotongan pada satu titik dan biaya dapat dilihat dalam bentuk kurva persediaan bahan baku HWI, HWO, IC, dan OC.

Masalah tersebut dapat diseslesaikan secara grafis, seperti dalam gambar biaya-biaya pemesanan dan biaya-biaya menjaga persediaan digambarkan berlawanan dengan jumlah pemesanan.

Disini akan digambarkan kurva biaya persediaan pada setiap jenis-jenis bahan baku (berasal dari Import) HWI, HWO, IC dan OC, yaitu seperti gambar di bawah ini :

a) Kurva Biaya Persediaan Bahan Hard Wire Inner

Kurva biaya total Rp.2.541.878.617 B iaya t ahuna n (

c) Jumlah pesanan dengan

total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.2.498.018.701 Biaya simpanan Rp.21.970.062 Biaya pesanan Rp.21.889.854 Rp Kg 5 10 15 19,4 20 25 30

(43)

b) Kurva Biaya Persediaan Bahan Inner Cable

Gambar 3.6 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku IC c) Kurva Biaya Persediaan Bahan Outer Cable

Gambar 3.7 Kurva Biaya Persediaan Bahan Baku OC

Jumlah pesanan dengan total biaya minimum

B iaya t aha huna n (c)

Kurva biaya total Rp.3.644.971.680

80,7

MT Rp

40 60 80 100 120 140

Garis biaya bahan baku Rp.3.629.918.010

Biaya simpanan Rp.7529.930

Biaya pesanan Rp.7.523.740

MT Rp

Kurva biaya total Rp.4.145.405.887 B iaya t ahuna n (

c) Jumlah pesanan dengan

total biaya minimum

Garis biaya bahan baku Rp.4.120.629.006

Biaya simpanan Rp.12.388.396

Biaya pesanan Rp.12.388.485

(44)

3.5. Perhitungan Biaya Persediaan Bahan Baku Dengan Menggunakan Metode Perusahaan

Cara atau metode yang dipakai oleh PT. “XYZ” untuk melakukan perhitungan-perhitungan biaya persediaan bahan baku adalah sebagai berikut :

3.5.1. Perhitungan Biaya Persediaan Bahan Baku Yang Berasal Dari Produksi Dalam Negeri

A. Bahan Baku HWI

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 400,733 Kg per tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.1.792.160,7

• Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.10.542.121,6

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku HWI per bulan ( D ) = 33.4 Kg

2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu : TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c )

= (400,733 x Rp.10.542.121,6) + (12 x Rp.1.792.160,7) + (15% x 400,733 x Rp.10.542.121,6)

= Rp.4.224.576.015 + Rp.21.505.928 + Rp.633.686.402 = Rp.4.879.768.345.

(45)

B. Bahan Baku HWO

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 933,179 Kg per tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.1.579.511,16

• Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.9.291.242,09

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku HWO per bulan ( D ) = 77,8 Kg

2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu : TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c ) = (933,179 x Rp.9.291.242,09 ) + ( 12 x Rp.1.579.511,16) + (15 % x 933,179 x Rp.9.291.242,09 ) = Rp.8.670.392.002 + Rp.18.954.133 + Rp.1.300.558.800 = Rp.9.989.904.935 C Bahan Baku IC

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 18.241,366 MT per tahun

• Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.64.139,13245

• Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku

• Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.377.289,0144

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku IC per bulan ( D ) = 1.520,114 MT

(46)

TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c ) = (18.241,366 x Rp.377.289,0144) + (12 x Rp.64.139,13245) + (15 % x 18.241,366 x Rp.377.289,0144) = Rp.6.882.266.999 + Rp.769.669 + Rp.1.032.340.050 = Rp.7.915.376.718 D. Bahan Baku OC

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 13.808,289 MT per tahun • Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.194.152,13 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.1.142.071,331

• Lead Time ( L ) = 2 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku IC per bulan ( D ) = 1.150,7 MT

2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu : TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c )

= (13.808,289 x Rp.1.142.071,331) + (12 x Rp.194.152,13) + (15 % x 13.808,289 x Rp.1.142.071,331)

= Rp.15.770.051.000 + Rp.2.329.825 + Rp.2.365.507.650 = Rp.18.137.888.480

(47)

3.5.2. Perhitungan Biaya Persediaan Bahan Baku Yang Berasal Dari Import A. Bahan Baku HWI

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 165,438 Kg per tahun • Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.2.566.948,83 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.15.099.698,98 per Kg

• Lead Time ( L ) = 3 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku HWI per bulan ( D ) = 13,7865 Kg

2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu : TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c ) = (165,438 x Rp.15.099.698,98) + (12 x Rp.2.566.948,83) + (15 % x 165,438 x Rp.15.099.698,98 ) = Rp.2.498.064.000 + Rp.30.803.385 + Rp.374.709.600 = Rp.2.903.576.985 B. Bahan Baku IC

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 2.917,700 MT per tahun • Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.208.097,4335 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.1.244.102,55 per MT

• Lead Time ( L ) = 3 bulan

(48)

1) Kebutuhan bahan baku IC per bulan ( D ) = 243,142 MT 2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu :

TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c ) = (2.917,700 x Rp.1.244.102,55) + (12 x Rp.208.097,4335) + (15 % x 2.917,700 x Rp.1.244.102,55) = Rp.3.629.918.010 + Rp.2.497.169 + Rp.544.487.701 = Rp.4.176.902.880 C. Bahan Baku OC

• Kebutuhan Bahan Baku ( S ) = 1.410,600 MT per tahun • Biaya Pemesanan ( A ) = Rp.496.602,1055 per pesanan • Biaya Penyimpanan ( i ) = 15 % dari harga bahan baku • Harga Bahan Baku ( c ) = Rp.2.921.188,86 per MT

• Lead Time ( L ) = 3 bulan

Berikut akan diuraikan perhitungan-perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan bahan baku IC per bulan ( D ) = 117,55 MT

2) Rata-rata Total Biaya Persediaan Per Tahun (TC) yaitu : TC = ( S x c ) + ( 12 x A) + ( i x S x c )

= (1.410,600 x Rp.2.921.188,86) + (12 x Rp.496.602,1055) + (15 % x 1.410,600 x Rp.2.921.188,86)

= Rp.4.120.629.006 + Rp.5.959.225 + Rp.618.094.350 = Rp.4.744.682.581

Gambar

Tabel 3.1 Jumlah Karyawan dan Staff
Tabel 3.2 Jadwal Jam Kerja
Tabel 3.3. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester I Tahun 2006  (Berasal dari Produksi Dalam Negeri/domestik)
Tabel 3.4. Biaya Kebutuhan Bahan Baku Pada Semester II Tahun 2006  (Berasal dari Produksi Dalam Negeri/domestik)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kondisi tidak tersedianya harga di pasar aktif, maka entitas dapat menentukan nilai wajar dengan mempertimbangkan informasi dari berbagai sumber, di antaranya: (1) harga

Hal ini berbeda dengan Australia yang sudah mempunyai kerangka hukum/ aturan hukum nasional yang secara spesifik mengatur penegakan hukum terhadap ancaman maritim yang menyeluruh,

6. Bogor via e-mail untuk menutup kegiatan usaha “CV. Harapan Utama Indah”. Sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya. Demikian surat ini dibuat dan kami harap segera

Rancangan Jadual dan Mekanisme pembahasan 4 (empat) RUU tentang Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama di Provinsi Maluku Utara, Banten, Bangka Belitung dan Gorontalo

Sistem sensor beban yang telah teruji dan katup elektro- hidrolik Kompensasi Tekanan Prioritas Proporsional (PPPC, Caterpillar Proportional Priority Pressure Compensating)

Ability To Pay (ATP) dan Willingness To Pay (WTP) Pada Batik Solo Trans (BST) Koridor Empat Di Surakarta, Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas.. Teknik,

Terdapat korelasi positif namun tidak bermakna antara status gizi berdasarkan indeks massa tubuh dengan derajat nyeri sendi pada osteoartritis lutut.. Adanya kecenderungan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel independen yang merupakan komponen fraud triangle terhadap kecurangan laporan keuangan (financial statement