I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau Coastal Community Development Project (CCDP) merupakan proyek kerjasama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan The International Fund for Agricultural Development (IFAD) sebagai respon terhadap kebijakan dan strategi pemerintah yang mendukung :
- pengentasan kemiskinan, - penyerapan tenaga kerja, - pertumbuhan ekonomi, dan
- pembangunan yang berkelanjutan dengan melibatkan peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Proyek PMP diharapkan dapat meningkatkan daya lenting masyarakat pesisir (coastal community resilience) dalam menghadapi masalah ekonomi dan dampak perubahan iklim dengan memperkuat kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengelolaan sumber daya pesisir berbasis masyarakat, serta mengembangkan infrastruktur skala kecil yang akan meningkatkan standar kehidupan masyarakat.
Empat elemen kunci yang menjadi dasar dan desain proyek PMP ini adalah : - pemberdayaan masyarakat,
- pendekatan yang berfokus pada pasar, - fokus pada kelompok miskin yang aktif, dan - replikasi.
2. Tujuan
Tujuan proyek ini adalah untuk untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job, pro-growth and pro-sustainability), yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir.
3. Sasaran
Sasaran Proyek PMP adalah masyarakat yang bermukim diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang mempunyai kegiatan terkait sektor kelautan dan perikanan yang berada dibawah garis kemiskinan atau membutuhkan stimulan untuk meningkatkan kinerja usahanya.
Proyek ini juga bertujuan untuk memperbaiki infrastruktur dan lingkungan yang bisa memperbaiki kinerja dari usaha masyarakat pesisir.
II. GAMBARAN UMUM LOKASI 1. Kondisi Geografis
Kota Makassar terletak antara 119º24'17'38” Bujur Timur dan 5º8'6'19” Lintang Selatan yang berbatasan dengan :
- sebelah utara dengan Kabupaten Maros, - sebelah timur Kabupaten Maros,
- sebelah selatan Kabupaten Gowa dan - sebelah barat adalah Selat Makassar.
Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi yang meliputi 14 kecamatan, 143 kelurahan, 971 Rukun Warga dan 4.789 Rukun Tetangga, 10 diantaranya merupakan Kecamatan yang berada diwilayah pesisir. Ke 14 Kecamatan tersebut adalah :
1. Kecamatan Biring Kanaya 2. Kecamatan Bontoala 3. Kecamatan Makassar 4. Kecamatan Mamajang 5. Kecamatan Manggala 6. Kecamatan Mariso 7. Kecamatan Panakkukang 8. Kecamatan Rappocini 9. Kecamatan Tallo 10. Kecamatan Tamalanrea 11. Kecamatan Tamalate 12. Kecamatan Ujung Pandang 13. Kecamatan Ujung Tanah 14. Kecamatan Wajo
Berdasarkan pencatatan Stasiun meteorologi Maritim Paotere, secara rata-rata kelembaban udara sekitar 77 persen, temperatur udara sekitar 26,2º-29,3ºc, dan rata-rata kecepatan angin 5,2 knot.
Perkembangan jumlah penduduk sejak Tahun 1997 hingga Tahun 2010 mengalami perkembangan yang signifikan sebagai berikut :
Tahun 1971 1980 1990 2000 2008 2009 2010 Jumlah
penduduk 434.766 708.465 944.372 1.130.384 1.253.656 1.272.349 1.338.663
2. Sosial Ekonomi
PerikananSalah sektor andalan Kota Makassar dalam rangka Otonomi Daerah untuk membiayai pembangunan yaitu sektor Perikanan yang terdiri dari perikanan laut dan perikanan budidaya (Budidaya air Payau dan Marine Culture). Untuk Perikanan laut, dengan perairan selat Makassar mempunyai potensi yang cukup besar, dari hasil analisis yang dilakukan terdapat 639.200 ton/tahun yang terdiri dari ikan pelagis kecil pelagis besar, ikan demersal, ikan karang. Dari potensi tersebut baru sebagian yang dikelola. Pada tahun yang akan datang prioritas eksploitasi sumberdaya perikanan tangkap yang harus di lakukan adalah perairan lepas pantai (ikan laut dalam, ikan demersal). Daerah-daerah penangkapan sekitar pantai sudah saatnya diatur penangkapannya karena sudah hampir mencapai titik kejenuhan, apalagi penggunaan bahan peledak dan racun sianida yang selama ini masih banyak dilakukan oleh nelayan yang dibaking oleh oknum-oknum penegak hukum sudah waktunya harus dihentikan sebelum kehancuran lebih besar lagi kita alami.
Berdasarkan data yang ada dari 14 Kecamatan di Kota Makassar, hanya terdapat 4 Kecamatan yang tidak mempunyai potensi perikanan laut. Bagi perikanan budidaya terdapat 6 Kecamatan yang mempunyai potensi sumberdaya ini. Berdasarkan data tahun 1997 produksi perikanan darat sebesar 1.053,71 ton dengan nilai Rp.3.371.84,0,- meningkat menjadi 1.245,04 ton pada tahun 2000 dengan nilai Rp. 5.367.031
Untuk marine culture, seperti yang diuraikan diatas bahwa potensi perikanan laut disekitar pantai sudah mendekati kejenuhan, maka marine culture sangat cocok dikembangkan pada tahun-tahun yang akan datang.
Faktor lain yang mendukung adalah Wilayah Kota Makassar terdiri dari beberapa pulau-pulau yang praktis cocok untuk marine culture karena pada bulan-bulan tertentu kondisi perairannya tenang dan cukup terlindung dari pengaruh gelombang. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah Kota bagaimana mengatur penggunaan ruang dari pemanfaatan tersebut, sehingga tidak menimbulkan komplik horisontal dan vertikal. Dan tidak mengganggu sektor lainnya seperti perhubungan dan pariwisata bahari, yang mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.
3. Sosial Budaya
Nama Makassar sudah disebutkan dalam pupuh 14/3 kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14, sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit. Walaupun demikian, Raja Gowa ke-9 Tumaparisi Kallonna (1510-1546) diperkirakan adalah tokoh pertama yang benar-benar mengembangkan kota Makassar. Ia memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan.
Pada abad ke-16, Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut.
Selain itu, sikap yang toleran terhadap agama berarti bahwa meskipun Islam semakin menjadi agama yang utama di wilayah tersebut, pemeluk agama Kristen dan kepercayaan lainnya masih tetap dapat berdagang di Makassar. Hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat yang penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagang-pedagang dari Eropa dan Arab.Semua keistimewaan ini tidak terlepas dari kebijaksanaan Raja Gowa-Tallo yang memerintah saat itu (Sultan Alauddin, Raja Gowa dan Sultan Awalul Islam, Raja Tallo).
Kontrol penguasa Makassar semakin menurun seiring semakin kuatnya pengaruh Belanda di wilayah tersebut dan menguatnya politik monopoli perdagangan rempah-rempah yang diterapkan Belanda melalui VOC. Pada tahun 1669, Belanda,
bersama dengan La Tenri Tatta Arung Palakka dan beberapa kerajaan sekutu Belanda Melakukan penyerangan terhadap kerajaan Islam Gowa-Tallo yang mereka anggap sebagai Batu Penghalang terbesar untuk menguasai rempah-rempah di Indonesia timur. Setelah berperang habis-habisan mempertahankan kerajaan melawan beberapa koalisi kerajaan yang dipimpin oleh belanda, akhirnya Gowa-Tallo (Makassar)terdesak dan dengan terpaksa menanda tangani perjanjian Bongaya.
Makassar merupakan kota yang multi etnis Penduduk Makassar kebanyakan dari Suku Makassar dan Suku Bugis sisanya berasal dari suku Toraja, Mandar, Buton, Tionghoa, Jawa dan sebagainya.
III. RENCANA KERJA 1. Manning Schedule
Kegiatan PMP diawali dengan pembentukan Kantor Pengelola Proyek yang meliputi Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, dan Pejabat Penandatangan SPM dan Bendahara. Pada tahap kedua, untuk kelancaran pelaksanaan Proyek PMP di lapangan selanjutnya dilakukan rekrutmen Tenaga Pendamping sebanyak 6 orang yang bertugas di tiga desa. Tenaga Pendamping tersebut direkrut dan ditetapkan oleh PIU/Kepala Dinas yang terlebih dahulu mendapat verifikasi dari Ditjen KP3K. Selanjutnya Tenaga Pendamping tersebut akan mendapatkan pelatihan oleh Ditjen KP3K.
Pembentukan Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir yang beranggotakan 9 (sembilan) orang berasal dari SKPD (Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kelautan, Perikaan, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kota Makassar, BPSPL Makassar, Universitas Hasanuddin, LSM dan dunia usaha. Selanjutnya PIU/Kepala Dinas membentuk Kelompok Kerja Desa/Village Working Group (VWG) terdiri dari lima anggota, dua di antaranya adalah perempuan. VWG ini akan mencakup seorang ketua, sekretaris dan tiga anggota biasa yang semuanya diambil dari rumah tangga sasaran. Tahap ketiga, dilakukan pembentukan Kelompok Masyarakat Pesisir (Pokmas Pesisir) yang meliputi: identifikasi dan seleksi. Proses pembentukan Pokmas Pesisir dijelaskan pada bab berikutnya.
Tahap keempat terdiri atas dua kegiatan yang dilakukan secara simultan, yaitu (i) pengembangan Kapasitas Masyarakat Pesisir melalui pelatihan-pelatihan serta (ii) penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP). Proses penyusunan RPDP ini dilakukan melalui konsultasi publik dan Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbang-Des). Desa yang telah memiliki draft RPDP, akan dilakukan review dan prioritisasi kegiatan dari dokumen yang sudah ada. Selanjutnya RPDP ditetapkan oleh Kepala Desa sebagai acuan
pelaksanaan Proyek PMP. Tahap kelima, penyusunan Rencana Kerja Kelompok
(RKK) oleh Pokmas Pesisir yang didampingi oleh VWG dan Tenaga Pendamping. Penyusunan RKK harus sesuai dengan skala prioritas pembangunan desa pada Dokumen RPD. Proses penyusunan dan pengajuan serta penetapan RKK akan dijelaskan pada bab selanjutnya. Tahap keenam, penyusunan Rencana Detail Kegiatan merupakan bagian dari penyusunan RKK. Dokumen Rencana Detail Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proposal RKK dalam pengajuan BLM. Tahap ketujuh, Penyaluran dan Pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dilakukan setelah Proposal RKK beserta kelengkapan dokumen administrasi telah lolos verifikasi ditetapkan oleh PIU/kepala dinas kabupaten/kota. Dalam pelaksanaan BLM oleh Pokmas Pesisir dengan
didampingi TPD dan VWG, agar kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan, output dan target kegiatan. Tahap kelima dan keenam adalah penyaluran BLM dan PMP
Gambar 1. Tahapan Kegiatan Proyek PMP Pemilihan Desa
Di setiap kabupaten/kota, diusulkan 15 desa/kelurahan pesisir dan pulau-pulau kecil, masing-masing terdiri dari sejumlah masyarakat pesisir, yang dipilih berdasarkan:
1. Tingkat kemiskinan (prosentase rumah tangga di bawah garis kemiskinan – sekurangnya 20% sesuai standar Badan Pusat Statistik);
2. Motivasi yang terlihat untuk ikut serta dalam proyek dan suksesnya partisipasi mereka dalam program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi sebelumnya terutama PNPM-Mandiri KP, PEMP, PLBPM, Proyek Pesisir, MCRMP, dan COREMAP;
3. Potensi untuk menghasilkan produk dan pertambahan nilai hasil produksi usaha kelautan dan perikanan;
Pembentukan Tim Pengelola Kegiatan (KPA, KPA, Pejabat Penandatangan tangan SPM) 1. Rekrutmen Tenaga Pendamping 2. Pembentukan Komite Pemberdayaan Masyarakat 3. Pembentukan VWG Pembentukan Kelompok Masyarakat Pesisir (Pokmas Pesisir): 1. Identifikasi 2. Seleksi 3. Verifikasi
Pelatihan Tenaga Pendamping*
Pengembangan Kapasitas Masyarakat Pesisir
(Pelatihan-pelatihan)
Review dan Prioritisasi Penyusunan Rencana Pengembangan Desa
Penyusunan Profil Desa* Penyusunan Rencana Kerja
Kelompok (RKK) / Proposal: - Pendampingan - Verifikasi Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Penyaluran dan Pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Monitoring dan Evaluasi *
4. Perlunya mengikutsertakan masyarakat di pulau-pulau kecil di setiap lokasi;
5. Desa yang dipilih, masuk klasifikasi sebagai ‘rural’; dan
6. Konsistensi dengan kerangka strategi pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kabupaten/kota melalui PIU secara teliti akan memilih 3 desa awal berdasarkan kriteria tambahan sebagai berikut:
1. Suksesnya pengalaman PEMP, PNPM, PLPBM, MCRMP atau proyek pemberdayaan masyarakat lainnya;
2. Sumberdaya alam dan potensi mendukung usaha kelautan dan perikanan;
3. Adanya kelompok berpotensi dalam pengembangan usaha kelautan dan perikanan;
4. Komitmen yang kuat dari pemimpin desa dan masyarakatnya; dan 5. Kualitas kepemimpinan yang dirasakan oleh kelompok sasaran
dimana Pemerintah desa akan memberikan pernyataan yang memastikan komitmennya untuk Proyek PMP tersebut.
Jumlah persis desa yang akan didukung Proyek PMP di setiap kabupaten/kota akan bergantung pada kinerja kabupaten/kota tersebut dalam melaksanakan kegiatan proyek. Sembilan dari 15 desa telah dipilih sebelumnya dengan peluncuran proyek di desa-desa ini selama dua tahun pertama, sebelum evaluasi tengah proyek (midterm review). Desa/kelurahan tambahan yang akan didanai di setiap kabupaten/kota ini berkisar dari 0 sampai 12 desa/kelurahan, dengan rata-rata 6 desa/kelurahan tambahan. Jumlah total desa/kelurahan binaan Proyek PMP dalam sebuah kabupaten/kota akan bergantung pada kesuksesan kabupaten/kota itu dalam melaksanakan kegiatan proyek di 9 desa/kelurahan pertama. Prestasi kabupaten/kota dalam melaksanakan Proyek PMP di 9 desa/kelurahan pertama akan menjadi kunci penentu dalam memutuskan jumlah desa/kelurahan tambahan yang akan menerima dana Proyek PMP dalam sebuah kabupaten/kota. Karenanya, 180 desa/kelurahan akan diberdayakan dalam Proyek ini.
Pemilihan Kelompok
Pada setiap desa/kelurahan terdiri dari sekurang-kurangnya 13 kelompok, yaitu: 1 Kelompok Pengelolaan Sumberdaya, 1 Kelompok Pembangunan Prasarana, 10 Kelompok Usaha, dan 1-4 Kelompok Tabungan. Masing-masing kelompok beranggotakan rata-rata 10 orang (8 – 12) anggota per-kelompok. Dari kelompok-kelompok tersebut dipilih 5 orang, 2 diantaranya wanita sebagai
Kelompok Kerja Desa atau Village Working Group (VWG) dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh PIU, kepala desa/lurah atau pihak lain.
Dari semua kelompok yang ada pada sebuah desa, maka setiap kelompok akan memiliki Ketua dan Sekretaris. Jika sebuah kelompok memiliki tanggung jawab untuk menggunakan dana Proyek, maka akan dipilih seorang Bendahara. Para TPD bersama dengan konsultan dan PIU akan memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok tersebut mengenai pelaksanaan rapat, pencatatan kegiatan kelompok, pencatatan keuangan, akuntansi, dan pengetahuan keuangan. Adapun kelompok-kelompok pada sebuah desa diuraikan pada Tabel di bawah ini:
Tabel 1. Kelompok Desa
Jenis
Kelompok Fungsi per desa Keanggotaan Jumlah
Cara Pemilihan Anggota Kelompok Kerja Desa (VWG) pengkoordinasi semua kegiatan Proyek; anggotanya sebagai motivator kegiatan Proyek di desa itu 1
kelompok sekurangnya 5 (termasuk dua orang wanita) mufakat pokmas yang ada Kelompok Pengelolaan Sumberdaya persiapan dan pelaksanaan rencana pengelolaan wilayah pesisir (Sub-Komponen 1.2) 1
kelompok diputuskan kemudian (sekurangnya 30% adalah wanita) oleh masyarakat Kelompok Pembangunan Prasarana perencanaan, pelaksanaan dan O & M prasarana desa (Sub-Komponen 1.3) 1
kelompok diputuskan kemudian (sekurangnya 30% adalah wanita) oleh VWG berkonsultasi dengan Kepala Desa Kelompok
Usaha pelaksanaan dan perencanaan, pengelola kegiatan ekonomi berbasis kelautan (Sub-Komponen 1.3) 10 kelompok, maks 6 kelompok pada tahun I & 4 kelompok pada tahun II s/d III 8 s/d 10 rumah tangga/ kelompok rumah tangga yang tertarik bekerjasama dalam sebuah kelompok
Jenis
Kelompok Fungsi per desa Keanggotaan Jumlah
Cara Pemilihan
Anggota Kelompok
Tabungan sarana menabung secara teratur bagi anggotanya yang seringkali enggan terhadap risiko; setelah dewasa nanti, para anggota akan lulus untuk
membentuk Kelompokp Usaha sejak memasuki tahun II s/d III (Sub-Komponen 1.3) maks 4
kelompok 8 s/d10 rumah tangga/ kelompok rumah tangga yang diidentifikasi sebagai miskin dalam peringkat kemakmuran yang diikuti secara partisipatif
Kelompok Kerja Desa (VWG)
VWG ini terdiri dari seorang Ketua, seorang Sekretaris, dan 3 orang anggota biasa yang diharapkan 2 diantaranya adalah wanita. Para pejabat desa hanya dapat menjadi anggota VWG jika berasal dari rumah tangga yang aktif melaksanakan usaha ekonomi kelautan dan perikanan. Jika desa terdiri dari beberapa dusun atau desa kecil, maka setiap dusun akan diwakili oleh 1 orang yang duduk dalam keanggotaan VWG sehingga jumlah anggota VWG dapat melebihi lima orang. Anggota VWG diharapkan dapat bertindak sebagai 'motivator' dan mendorong masyarakat untuk mengambil peluang yang disediakan oleh Proyek PMP. Semua anggota VWG akan menerima pelatihan selama tiga hari mengenai Proyek ini oleh Konsultan dibantu Tim Pendamping Desa (TPD) kabupaten/kota.
Secara khusus, VWG akan bertanggung jawab untuk:
a. Komunikasi dengan pimpinan desa, TPD/fasilitator proyek, konsultan, PIU Proyek PMP kabupaten/kota, dan ketika diperlukan dapat berkomunikasi dengan desa tetangga, tim yang bertanggung jawab untuk proyek-proyek lain;
b. Pengawasan pelaksanaan kegiatan proyek tingkat desa/kelurahan terutama pelaksanaan kegiatan Kelompok Pengelola Sumberdaya Pesisir, Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat, dan Kelompok Usaha, serta Kelompok Tabungan;
c. Mengadakan rapat secara berkala untuk mengevaluasi pencapaian indikator keberhasilan dan kinerja kelompok; dan
d. Mendorong dan memotivasi masyarakat untuk mencapai semua indikator keberhasilan.
Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
VWG memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dibantu oleh konsultan PIU dan TPD, kelompok ini dibentuk melalui pendekatan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan (Marine Resource Co-management Group atau MRCG). MRCG mempersiapkan perencanaan awal desa dan pemetaan sumber daya pesisir, dengan mempertimbangkan pemetaan kemiskinan rumah tangga dan dusun (atau desa kecil), kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan desa, serta potensi desa. MRCG akan membangun konsensus dan kesadaran terhadap penggunaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, MRCG juga mengusulkan kegiatan dan investasi yang akan didanai oleh dana BLM. Usulan tersebut disetujui oleh pihak desa dalam hal ini VWG.
Selanjutnya PIU membuka rekening dana BLM untuk MRCG dengan tujuan menyelesaikan inventarisasi sumber daya pesisir, mengembangkan pengelolaan pesisir terpadu berbasis desa, mendorong dialog dan konsensus dengan desa-desa yang berdekatan serta pengguna sumber daya pesisir, termasuk penegakan hukum dan pengembangan peraturan yang mungkin diperlukan. Berdasarkan usulan program yang ada, dimungkinkan dibentuk kelompok kecil yang bertugas, misalnya untuk penegakan peraturan masyarakat. TPD memfasilitasi dalam rangka membantu keterlibatan bagi desa-desa yang berdekatan yang merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang sama dan memberi saran atas partisipasi mereka. TPD dan/atau konsultan juga dimungkinkan memfasilitasi isu-isu nasional dan atau lokal lainnya terkait dengan adaptasi perubahan iklim, keamanan di laut, kesadaran dan mitigasi bencana. TPD dan /atau konsultan juga akan memfasilitasi pelatihan kepemimpinan mengenai pengelolaan sumber daya pesisir, pelestariannya, mobilisasi masyarakat dan pembangunan kesadaran. TPD membantu meningkatkan kesadaran desa ke tingkat kabupaten/kota dan propinsi yang mungkin diperlukan, misalnya, terkait dengan akses ke daerah perlindungan laut (DPL), seperti terumbu karang, atau perairan yang masih di bawah kewenangan kabupaten/kota.
Gambar 2 Fase Mobilisasi, Proses Perencanaan dan Inventarisasi Sumber Daya Pesisir
Kelompok Pembangunan Prasarana
Setiap desa akan dibentuk 1 Kelompok Pembangunan Prasarana. Kelompok ini bertanggung jawab untuk penyelenggaraan kegiatan pembangunan prasarana yang konsisten dengan pagu anggaran yang tersedia dan komitmen untuk memberikan kontribusi inkind dalam bentuk barang, jasa, dan tenaga yang diperkirakan sebesar 20% dari perkiraan biaya pembangunan prasarana. Kelompok ini akan bekerja sama dengan TPD, konsultan, PIU, dan tenaga ahli teknis yang diperlukan untuk menilai kelayakan teknis proyek dan perkiraan biaya awal. Setelah pemilihan kebutuhan prasarana desa disepakati, maka kelompok ini akan bekerja sama dengan TPD, konsultan, dan PIU untuk menyusun rincian biaya, rancangan kegiatan, pengadaan barang, kontribusi barang dan jasa dan modalitas pemeliharaan. Kelompok ini akan berkoordinasi dengan VWG.
Fase 1 Mobilisasi: Persiapan
Menyelenggarakan Kemitraan Rapat dengan pelaku kelembagaan
dan pemangku kepentingan dari luar; mengusulkan cara dan prosedur untuk keterlibatan, termasuk pertimbangan keadilan Menentukan batasan daerah
pengelolaan bersama yang diusulkan, visi bersama dan pendekatan pengelolaan, dan peraturan negosiasi
Fase 2 Proses
Perencanaan: Penentuan
Sasaran
Menentukan sasaran biologis, ekologis, sosial dan ekonomi yang diperlukan untuk mencapai visi bersama Menentukan
langkah-langkah pengelolaan – tindakan yang akan diambil untuk mencapai sasaran Fase 3: Menegosiasikan Rencana dan Kesepakatan Pengelolaan Bersama termasuk:
Apa yang akan dilakukan oleh siapa dengan cara bagaimana; Mekanisme untuk
menengahi konflik dan berbagi fungsi pengelolaan sumber daya pesisir; Hak dan tanggung
jawab di antara para pemangku kepentingan; Kesepakatan mengenai protokol yang ditindak lanjuti. Inventaris Sumber Daya Masyarakat/Analisa Keadaan
Mengumpulkan informasi mengenai masalah ekologi dan sosial, termasuk peta, pencitraan satelit, dan lain-lain.
Analisa pemangku kepentingan
Penyediaan informasi pasar
Meninjau dan kecenderungan perubahan sosio-ekologis saat ini
Mendefinisikan masalah yang dihadapi oleh perikanan dan ekosistem pendukungnya
Mengidentifikasi faktor utama yang berdampak pada sumber daya pesisir dan penggunaannya oleh para pemangku kepentingan
Prasarana yang akan dipilih dan dibangun wajib mempertimbangkan (a) memberikan manfaat atau peran langsung maupun tidak langsung dalam penggunaan sumberdaya pesisir yang berkelanjutan di desa itu, atau (b) memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung atas meningkatnya pendapatan kelompok sasaran.
Contoh kegiatan pembangunan prasarana meliputi: pembangunan atau perbaikan dermaga; penyediaan air bersih (yang dapat mendukung pengolahan ikan); jalur sepeda motor yang menghubungkan ke jalan raya atau pasar; listrik tenaga surya untuk meningkatkan komunikasi (ramalan cuaca, informasi harga pasar, peringatan untuk penangkapan ikan yang merusak).
Proposal paket pembangunan prasarana ini diajukan kepada PIU. Kemudian PIU melakukan review terhadap proposal tersebut. PIU dapat menolak usulan tersebut karena: (a) alasan teknis, atau (b) dengan alasan bahwa proyek tersebut tidak memberikan kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan di masyarakat sasaran. Jika PIU menerima proposal tersebut, maka diajukan kepada Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir untuk direview apakah proposal tersebut layak untuk dibiayai. Jika Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dapat menyetujuinya maka direkomendasikan kepada PIU untuk dibiayai. Selanjutnya Ketua PIU akan menetapkan persetujuan kegiatan pembangunan prasarana masyarakat dan akan mentransfer dana ke rekening Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kelompok Usaha
Kelompok usaha akan dibentuk untuk kegiatan ekonomi tertentu misalnya budidaya laut, perikanan tangkap, pengolahan dan pemasaran oleh rumah tangga masyarakat pesisir yang berminat. Keanggotaan berdasarkan rumah tangga, dan satu Kelompok Usaha akan terdiri dari rata-rata 10 rumah tangga atau 8-12 rumah tangga per kelompok. Untuk menjaga dan mempertimbangkan rasa keadilan maka tidak boleh dalam 1 rumah tangga, lebih dari 1 orang tergabung dalam 1 Kelompok Usaha yang sama.
Proyek ini dapat bekerja sama dengan kelompok yang sudah ada dan bisa mengembangkan usaha yang sukses atau membentuk kelompok baru, selama kegiatan usaha yang diusulkan mereka layak dan konsisten dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan perencanaan pembangunan desa pesisir (VDP) yang masuk dalam koridor dokumen Proyek PMP. Pada tahun pertama, kelompok yang ada dengan kinerja dan prospek yang baik untuk beradaptasi sesuai dengan indikator keberhasilan Proyek akan menjadi fokus utama untuk didukung Proyek PMP. Pada tahun kedua akan lebih banyak kelompok usaha
yang muncul dari masyarakat setelah mendapat pengalaman dan pembelajaran dari Kelompok Usaha tahun pertama. Proyek ini akan membuka peluang baru untuk proses adopsi terakhir di tahun ketiga dari siklus pembangunan masyarakat desa pesisir.
Keterlibatan wanita dalam kegiatan usaha berorientasi pada produksi akan menjadi tantangan bagi beberapa Kelompok Usaha, terutama kelompok usaha yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan. Namun, wanita sangat didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha budidaya perikanan, pengolahan dan pemasaran, pembangunan prasarana masyarakat, dan penggalangan tabungan. Sebagai pedoman, dalam satu kelompok usaha, satu dari tiga anggota kelompok atau minimal 30% harus wanita. Jika pedoman ini tidak dapat dipenuhi maka pertimbangan mainstream gender gagal dilaksanakan dan konsekuensinya alokasi dana untuk desa tersebut dapat dikurangi.
Proses seleksi dan alokasi dana BLM akan mengikuti proses yang disebutkan di atas dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan kelompok usaha ini memiliki dimensi keuangan yang lebih besar dan keragaman pengeluaran, maka kelompok ini perlu diberikan perhatian dan pengawasan yang lebih besar. Contoh kegiatan Kelompok Usaha meliputi: budidaya rumput laut, tambak garam, rumpon, pengolahan ikan, penangkapan dan budidaya kepiting hijau/rajungan, keramba ikan.
Proses pembentukan Kelompok Usaha dan/atau seleksi anggota, sebagai berikut:
a. Proses revitalisasi kelompok yang sudah ada di desa dan dianggap sudah memenuhi persyaratan untuk mengembangkan usaha sesuai dengan dokumen Proyek PMP;
b. Jika dibentuk Kelompok Usaha baru maka VWG dibantu oleh TPD dan staf PIU teknis memberikan keterangan tentang dasar pemikiran, konsepsi Proyek, dan proses pembentukan Kelompok Usaha kepada masyarakat yang menjadi sasaran Proyek;
c. Rumah tangga pesisir yang memenuhi persyaratan difasilitasi oleh TPD dan staf PIU untuk membentuk kelompok. Kelompok Usaha yang dibentuk, diajukan secara resmi dan didaftarkan kepada pemerintahan desa/kelurahan untuk ditetapkan oleh kepala desa.
d. TPD dan anggota PIU memberikan pelatihan mengenai pengelolaan usaha kelompok, pengelolaan keuangan dan membantu Kelompok Usaha mempersiapkan proposal yang berisi rincian proyek termasuk spesifikasi teknis, biaya dan perkiraan modal, penentuan keberlanjutan sumberdaya pesisir bekerjasama dengan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir,
rincian kontribusi barang dan jasa, dan alokasi tanggung jawab kelompok. Project Implementation Manual akan memberikan contoh untuk informasi proyek dan proses kelompok yang terlibat;
e. TPD dan PIU akan memverifikasi kelayakan teknis dan finansial, mungkin dalam hubungannya dengan lembaga bank atau kredit mikro dan mencari sinergi antara kelompok-kelompok yang ada dalam satu desa;
f. Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (DOB) akan melakukan proses review proposal kelompok secara transparan dengan tujuan agar proses ini 'semi-kompetitif', di mana proyek yang lebih baik disetujui untuk tahap pertama, seleksi sementara proyek yang kurang menarik masih bisa dilakukan dalam tahap kedua;
g. Setelah proposal teknis direview oleh PIU dan rekomendasi dari DOB diberikan, maka Kelompok Usaha tersebut akan resmi terdaftar di desa dan ditetapkan di Dinas Kelautan dan Perikanan. Selanjutnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan prosedur keuangan PIU maka Kelompok Usaha tersebut akan membuka rekening atas nama kelompok dan PIU mengatur transfer dana BLM ke rekening kelompok;
h. PIU mungkin memerlukan revisi rincian teknis atau keuangan dari proposal untuk memenuhi kriteria yang jelas. Jika terjadi kegagalan dalam menyelesaikan masalah / keuangan, PMO dapat diminta untuk membuat penetapan terhadap pendanaan proyek.
Kelompok Tabungan
Anggota kelompok tabungan adalah rumah tangga miskin desa sasaran. Mereka adalah rumah tangga miskin yang kekurangan modal. Rumah tangga ini belum memenuhi persyaratan untuk membentuk Kelompok Usaha sebagaimana disebutkan di atas, akan tetapi mereka adalah kelompok marginal yang harus diperhatikan. Untuk itu dilakukan upaya persuasi dan pendekatan agar individu-individu yang belum memenuhi persyaratan ini mau bergabung dalam satu kelompok yang disebut Kelompok Tabungan. Kelompok Tabungan ini akan memungkinkan rumah tangga pesisir untuk mengembangkan budaya menabung dan mengumpulkan modal awal yang dapat digunakan sebagai kontribusi yang secara bertahap akan berevolusi membentuk Kelompok Usaha baru. Setidaknya satu dari empat Kelompok Tabungan wajib kelompok wanita, meskipun pengalaman menunjukkan bahwa wanita kemungkinan menjadi peserta aktif dalam kelompok tersebut.
Gambar 3. Struktur Kelembagaan VWG dan Kelompok lainnya
Dalam Proyek PMP ini kegiatan investasi dilaksanakan oleh Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat dan Kelompok Usaha dengan uraian sebagaimana tercantum pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Kelompok Usaha yang Mengembangkan Investasi Investasi Jenis Kelompok yang bertanggung jawab Tanggung jawab kelompok Rekening bank kelompok Kepemilikan aset tetap akibat Sumbangan penerima manfaat Kelompok Pembanguna n Prasarana (Infrastructur e Group atau IG): Prasarana ekonomi berskala kecil Kelompok pengguna prasarana 8 s/d 10 orang Pengelolaan konstruksi prasarana dan O & M Pengaturan O & M harus menjadi bagian dari proposal
proyek dan tidak dibiayai dari BLM Ya. Digunakan untuk anggaran pembangunan fisik, kemudian untuk biaya teknis dan O &
M
Berdasarkan kebijakan nasional. Jika aset ini
dimiliki masyarakat, maka aset ini
dimiliki dan dikelola kelompok atas nama masyarakat 20% barang dan jasa ataupun uang tunai dari
masyarakat. Pengaturan terhadap O & M
yang tengah berlangsung.
Investasi Jenis Kelompok yang bertanggung jawab Tanggung jawab
kelompok Rekening bank kelompok
Kepemilikan aset tetap akibat Sumbangan penerima manfaat Kelompok Usaha (Enterprise Groups atau EG) Kelompok Usaha Minimal 8 s/d 10 orang Pengelolaan penuh terhadap investasi awal dan kegiatan perusahaan yang tengah berlangsung Ya. Digunakan untuk hibah awal, kemudian untuk tabungan pendapatan lebih dari kelompok melalui skema tabungan kelompok oleh Kelompok Usaha 20% barang dan jasa ataupun uang tunai dari
anggota kelompok usaha
Rumah Tangga Masyarakat Pesisir yang menjadi anggota kelompok usaha Proyek PMP:
a. Rumah tangga masyarakat pesisir yang memiliki aset dan tenaga kerja yang sehari-hari mata pencaharian utamanya merupakan usaha perikanan tangkap, usaha perikanan budidaya, usaha pengolahan dan pemasaran dalam skala usaha kecil sampai menengah. Rumah tangga ini rentan terhadap perubahan status ekonomi, sebagian besar berada diatas garis kemiskinan namun pada musim tertentu berubah menjadi dibawah garis kemiskinan.
b. Rumah tangga masyarakat pesisir dengan aset yang terbatas, sehingga mempunyai akses yang terbatas untuk memanfaatkan sumber daya pesisir, seperti untuk perikanan tangkap, kelompok ini termasuk para pemilik perahu kecil/katinting dengan mesin tempel yang memiliki HP kecil, kru kecil (1-2 orang), dan peralatan jarak terbatas, serta untuk operator budidaya perikanan, dan pedagang ikan tibo-tibo/bakul/pengepul. Kategori ini termasuk rumah tangga dengan aset produksi terbatas yang membatasi investasi dan pengoperasian mereka. Secara umum mereka berada dalam batas-batas garis kemiskinan yang sangat rentan dan dapat berubah sewaktu-waktu status ekonominya menjadi dibawah garis kemiskinan. c. Rumah tangga masyarakat pesisir dengan aset produksi yang sangat dasar,
sumber daya pesisir yang tersedia untuk mereka terbatas, peluang lapangan kerja juga terbatas untuk meningkatkan pendapatan mereka – seperti nelayan dengan kapal tanpa motor misalnya cadik, sampan atau kano, semuanya memiliki modal, kemampuan dan kecepatan yang sangat terbatas, yang membatasi akses mereka dalam hal peralatan yang digunakan, kapasitas pengolahan hasil tangkapan, dan jarak dari pendaratan ke tempat penangkapan ikan. Hanya sedikit dari rumah tangga
ini yang terlibat dalam budidaya perikanan kecuali sebagai buruh nelayan. Secara umum mereka ini adalah kaum marginal yang berada dibawah garis kemiskinan.
d. Rumah tangga masyarakat pesisir tanpa aset yang memadai dan memiliki akses yang sangat terbatas untuk memanfaatkan sumberdaya pesisir. Mereka bekerja sebagai buruh yang tidak memiliki keterampilan, seperti nelayan muda yang bekerja untuk saudara mereka dan perempuan pengumpul kepiting dan spesies lain, yang berskala kecil bahkan seringkali hanya bersifat paruh waktu. Mereka ini adalah kaum marginal yang strata sosialnya berada dibawah garis kemiskinan atau the poorest of the poor, sering kurang berminat untuk membentuk kelompok usaha dan bersifat nrimo (hanya mengharapkan bantuan). Kelompok ini menjadi sasaran dari kelompok tabungan.
Kriteria Tenaga Pendamping Desa
Tenaga Pendamping Desa (TPD) akan secara kompetitif direkrut oleh PIU dan bekerja penuh waktu (full time) untuk proyek ini dan tinggal di desa/kelurahan. Awalnya dengan kontrak satu tahun yang dapat diperbarui setelah dilakukan evaluasi kinerja. Kerangka acuan dan kualifikasi untuk TPD tersedia di bawah ini. TPD akan menetap di desa/kelurahan sasaran yang dibina. Pada tahun pertama sepasang TPD (sebaiknya satu perempuan dan satu laki-laki) akan tinggal dan bekerja di masing-masing tiga desa. Dari tahun kedua dan seterusnya, masing-masing TPD akan mengambil tanggung jawab penuh terhadap satu desa baru di setiap tahun (satu desa baru di Tahun 2 dan satu lagi di Tahun 3) sambil terus melaksanakan tanggung jawab untuk desa/kelurahan awal. Proyek ini akan menyediakan tunjangan transportasi /dan atau penginapan untuk TPD untuk perjalanan mereka menuju desa-desa di luar tempat tinggal mereka saat itu dan menuju kabupaten/kota. Perpanjangan kontrak akan didasarkan pada kinerja, dan insentif berbasis kinerja tambahan dapat dipertimbangkan. TPD dibantu konsultan akan diawasi dan dievaluasi oleh staf Dinas/PIU Kabupaten/kota. Sasaran dari pelaksanaan Penyediaan Tenaga Pendamping Desa (TPD) Tahun 2013 untuk mendapat tenaga pendamping masyarakat pesisir dengan sistem kontrak selama jangka waktu 11 (sebelas) bulan. Semua kegiatan dipusatkan pada masyarakat sasaran dan didorong oleh proses partisipatif dan penentuan desa prioritas untuk pembangunan kelautan dan perikanan dan pengelolaan sumber daya pesisir.
1. Bersedia tinggal di tempat tugas atau masyarakat pesisir binaannya atau desa sasaran;
2. Pendidikan minimal lulusan D3 bidang kelautan dan perikanan lebih diprioritaskan yang sarjana;
3. Memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun, untuk kegiatan pembinaan masyarakat;
4. Bersedia membina satu sampai tiga desa pesisir sasaran;
5. Memahami tata nilai, adat istiadat, bahasa dan sosial budaya masyarakat setempat;
6. Bersedia melaksanakan tugas sesuai kontrak kerja selama 1 tahun, dan mau diperpanjang setiap tahunnya; dan
7. Tidak meninggalkan tempat tugas lebih dari 2 minggu secara berturut-turut tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, kecuali untuk melaksanakan tugas/dinas luar.
Prosedur Penyaluran Dana Ke Masyarakat
1. Penyusunan Proposal Rencana Usaha Bersama (RUB) Pokmas Pesisir
a. Pokmas Pesisir setelah ditetapkan dengan Keputusan Ketua PIU/Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai penerima BLM, menyusun proposal RUB sesuai dengan kebutuhan prasarana dan sarana untuk menunjang kegiatan usaha;
b. Proposal RUB disusun berdasarkan kebutuhan untuk peningkatan produksi usaha kelautan dan perikanan;
c. RUB dilengkapi dengan dokumen administrasi pendukung yang terdiri dari:
1) Data pengurus / anggota Pokmas Pesisir (nama ketua, sekretaris, bendahara dan anggota, umur, jenis kelamin, alamat) yang dilengkapi dengan fotokopi KTP/Kartu Keluarga/Surat Keterangan Domisili dari Desa/Kelurahan;
2) Surat keterangan sebagai nelayan / pembudidaya / pengolah / pemasar / petambak garam dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala desa/lurah setempat;
3) Baseline Data Pokmas Pesisir (nama Pokmas Pesisir, alamat, nama pengurus, pendapatan, pekerjaan, dll ); dan
4) Nomor rekening bank atas nama Pokmas Pesisir pada Bank Pemerintah terdekat.
d. Proposal RUB ditandatangani oleh ketua Pokmas Pesisir yang dilengkapi dengan dokumen administrasi untuk diusulkan kepada DOB.
2. Seleksi, verifikasi dan penetapan proposal Rencana Usaha Bersama (RUB) beserta dokumen administrasi Pokmas Pesisir.
a. Seleksi dan verifikasi proposal RUB beserta dokumen administrasi dilakukan bersama-sama Tenaga Pendamping dengan VWG sebagai berikut:
1) Proposal RUB dan dokumen administrasi Pokmas Pesisir ditandatangani oleh Ketua Pokmas Pesisir, disampaikan kepada PIU, untuk diseleksi dan diverifikasi oleh Tenaga teknis PIU dan DOB;
2) Proposal RUB dan dokumen administrasi yang diverifikasi oleh tenaga teknis PIU dan DOB dilengkapi dengan:
a) Berita Acara Hasil Seleksi dan Verifikasi Pokmas Pesisir (Calon Penerima BLM PMP);
b) Usulan Surat Perjanjian Kesepakatan tentang Penyaluran BLM PMP bermaterai secukupnya;
c) Usulan Berita Acara Hasil Serah Terima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PMP;
d) Usulan Kuitansi penerima BLM PMP;
e) Usulan Surat pernyataan tentang kelengkapan dokumen pendukung BLM PMP. Usulan Surat Perjanjian Kesepakatan tentang Penyaluran BLM PMP bermaterai secukupnya; dan f) Usulan Berita Acara Hasil Serah Terima Bantuan Langsung
Masyarakat (BLM) PMP.
b. Proposal RUB Pokmas Pesisir dan dokumen administrasi yang dianggap belum memenuhi persyaratan dikembalikan kepada Pokmas Pesisir melalui tenaga pendamping untuk diperbaiki dan dilengkapi serta diusulkan kembali kepada DOB untuk direkomendasikan kepada Ketua PIU/Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) PMP.
c. Proposal RUB Pokmas Pesisir dan dokumen administrasi yang dianggap belum memenuhi persyaratan dikembalikan kepada Tim Teknis untuk diperbaiki dan dilengkapi serta diusulkan kembali kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota untuk ditetapkan sebagai penerima BLM.
3. Tahapan Penyaluran Dana
Penyaluran dana BLM dilakukan dengan mekanisme Pembayaran Langsung (LS) kepada rekening Pokmas Pesisir tanpa potongan pajak, melalui tahapan sebagai berikut:
a. Kepala Dinas KP Kabupaten/Kota selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM) kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) setempat dilengkapi dengan lampiran: 1) Keputusan PIU/Kepala Dinas KP Kabupaten/Kota tentang penetapan
Pokmas Pesisir penerima BLM; 2) Data Pokmas Pesisir meliputi:
a) Nama Ketua; b) Nama Sekretaris; c) Nama Bendahara; d) Nama Anggota;
e) Nomor telepon / telepon genggam Ketua / Sekretaris / Bendahara; f) Umur;
g) Jenis kelamin; h) Alamat; dan
i) Fotokopi KTP/Kartu Keluarga atau Surat Keterangan Domisili dari Desa/Kelurahan setempat.
3) Surat keterangan sebagai nelayan/pembudidaya ikan/pengolah atau pemasar ikan/petambak atau pengolah garam yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala desa/lurah setempat
4) Nomor Rekening aktif atas nama Pokmas Pesisir;
5) Berita Acara Hasil Identifikasi, seleksi dan verifikasi Pokmas Pesisir Penerima BLM;
6) Pakta Integritas yang ditandatangani oleh Ketua Kelompok;
7) Surat Perintah Kerja antara PPK dengan Ketua Kelompok yang ditandatangani PPK dan Ketua Kelompok;
8) Berita Acara Serah Terima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) antara PPK, dengan Pokmas Pesisir diketahui KPA;
9) Berita Acara Pembayaran yang ditandatangani oleh PPK dan Ketua Kelompok;
10) Surat Perjanjian Kesepakatan Penyaluran BLM bermaterai secukupnya antara PPK dengan Pokmas Pesisir diketahui oleh KPA;
11) Kuitansi yang sudah ditandatangani oleh Ketua kelompok dan disetujui oleh PPK dengan materai Rp. 6000,- (enam ribu rupiah) dan diketahui KPA;
12) Ringkasan Surat Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh PPK; 13) Surat Perintah Kerja (SPK);
14) Surat Pernyataan Tanggungjawab Belanja (SPTB) yang ditandatangai oleh PPK; dan
15) Surat Perintah Membayar (SPM) yang ditandatangani oleh PP-SPM. b. Penyaluran BLM dari KPPN ke rekening Pokmas Pesisir dilakukan dengan
penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) melalui bank Pemerintah terdekat dengan lokasi Pokmas Pesisir.
c. BLM dicairkan oleh Ketua dan Bendahara, dan/atau Sekretaris Pokmas Pesisir yang diketahui dan didampingi oleh PIU/Dinas Kabupaten/Kota. d. Pokmas Pesisir dibantu oleh Tenaga Pendamping menyusun laporan
realisasi pemanfaatan BLM dan menyampaikannya kepada PIU/Kepala Dinas Kabupaten/Kota.
e. PIU/Kepala Dinas Kabupaten/Kota melaporkan hasil penyaluran BLM Proyek PMP kepada Direktur Jenderal KP3K dan Kepala Dinas Provinsi dengan tembusan kepada Sekretaris Direktorat Jenderal KP3K.
DIRJEN KP3K NATIONAL STEERING COMMITEE
DIREKTUR PMO Sekretariat PMO
DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN/KOTA
selaku Project Implementation Unit (PIU) KOMITE
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR (DOB)
KPPN
VILLAGE WORKING GROUP (VWG) KELOMPOK MASYARAKAT TENAGA PENDAMPING DESA/PENYULUH BANK OPERASIONAL BANK UNIT TERDEKAT Transfer BLM ke rekening kelompok SP2D Gambar 4. Prosedur Penyaluran Dana
2. Strategi Pencapaian Tujuan Dan Sasaran Proyek A. Pendampingan Kelompok
Dalam proses implementasi tersebut, salah satu faktor utama yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan dan pelaksanaan adalah pengembangan SDM, khususnya Tenaga Pendamping Desa (TPD) yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengisi serta menjawab tantangan yang dihadapi. Penyediaan TPD akan berjalan efisien dan optimal, jika Pemerintah mampu menyediakan sumber daya manusia dengan keahlian yang dibutuhkan. Tenaga Pendamping ini bisa berasal dari Penyuluh Perikanan PNS ataupun outsourcing/kontraktual, yang ditempatkan dan ditugaskan oleh Proyek PMP di 12 kabupaten/kota terpilih dalam mendampingi masyarakat pesisir (nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah ikan serta keluarganya) dalam meningkatkan usaha yang dilakukan dalam bidang kelautan dan perikanan. Tenaga pendamping ini penuh waktu (full time) sebanyak 3 orang, ditambah tiga orang tanaga penyuluh PNS dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, atau seluruhnya tenaga pendamping kontrak.
IV. CAPAIAN KEGIATAN
Capaian kegiatan terdiri atas capaian pelaksanaan kegiatan dan capaian pencairan dana. Hingga 29 Nopember 2013, kegiatan yang sudah terlaksana sekitar 90 %, sedangkan capaian serapan dana sekitar 80 %. Secara umum, semua kegiatan sudah terlaksana dan sebahagian besar sudah rampung 100 %. Kegiatan yang masih berjalan adalah inventory, penilaian desa dan pembangunan pondok informasi.
Secara detail capaian kegiatan hingga saat ini disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut :
Gambaran Pagu Anggaran Per Kategori
792,750,000 27% 1,054,370,000 , 35% 204,750,000 7% - ; 0% - ; 0% 819,000,000 28% - ; 0% 102,300,000 3%
Kategori I - Vehicles, Materials, and Equipment
Kategori II - Training and Workshop Kategori III - Studies and Surveys Kategori IV - Technical Assistent Kategori V - Consultancy Services Kategori VI- Community Enterprise and Infrastructure Fund
Kategori VII - District Fund for Supporting Small Scale Fisheries Non Kategori- Kegiatan Penunjang CCD-IFAD
Gambaran Alokasi dan prediksi Realisasi Anggaran per Kategori
Pagu Anggaran dan Prediksi Realisasi Berdasarkan Sumber Dana
792.750.000 1.054.370.000 204.750.000 - - 819.000.000 - 102.300.000 781.596.858 1.049.870.000 204.750.000 - - 818.948.000 - 101.758.400 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000
Kategori I Kategori II Kategori III Kategori IV Kategori V Kategori V Kategori VII Non KategorI
R
UP
IA
H
ALOKASI ANGGARAN DAN PREDIKSI REALISASI ANGGARAN PERKATEGORI IFAD 2013 PAGU ANGGARAN 1.611.750.000 1.259.120.000 102.300.000 1.600.544.858 1.254.620.000 101.758.400 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 1.400.000.000 1.600.000.000 1.800.000.000
IFAD Loan Spanish Trust Loan Rupiah Murni
PAGU ANGGARAN DAN PREDIKSI REALISASI BERDASARAN SUMBER DANA IFAD TAHUN 2013
Pagu Anggaran Realisasi
Tabel : Mata Anggaran, Pagu Anggaran dan Prediksi Realisasi Akhir
Mata Anggaran Pagu Anggaran Prediksi Realisasi Akhir
521211 132.100 132.100 100,00 521213 97.700 97.700 100,00 521219 427.410 427.111 99,93 522151 143.200 143.200 100,00 522191 363.750 363.750 100,00 524111 23.820 23.820 100,00 524113 15.840 15.840 100,00 524114 93.360 93.360 100,00 524119 64.240 59.497 92,62 526212 342.750 331.597 96,75 573111 1.269.000 1.268.948 99,99 2.973.170 2.956.923 99,45 5212 11 5212 13 5212 19 5221 51 5221 91 5241 11 5241 13 5241 14 5241 19 5262 12 5731 11 Pagu Anggaran 132.10097.700427.410143.200363.75023.820 15.840 93.360 64.240342.7501.269.0 Prediksi Realisasi Bulan Desember 7.500 6.900 13.000 - 279.750 4.620 15.840 - 8.800 - 300.000 Prediksi Realisasi s/d Bulan Desember 132.10097.700427.111143.200363.75023.820 15.840 93.360 59.497331.5971.268.9
200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 R u p ia h ( Dalam R ib u an ) Mata Anggaran
Pagu
Anggaran Realisasi Prediksi Akhir IFAD Loan 1.611.750.000 1.600.544.858 99,30 Spanish Trust Loan 1.259.120.000 1.254.620.000 99,64
Rupiah Murni 102.300.000 101.758.400 99,47
Gambaran Pagu Anggaran dan Realisasi Berdasarkan Sumber Dana
1.611.750.000 1.259.120.000 102.300.000 1.300.544.858 931.030.000 88.938.400 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 1.400.000.000 1.600.000.000 1.800.000.000
IFAD Loan Spanish Trust Loan
Rupiah Murni
Pagu Anggaran Realisasi
V. REKOMENDASI
1. POK dan Petunjuk Teknis Kegiatan perlu lebih teknis sehingga mudah diimplementasikan.
2. Sinkronisasi dengan bantuan/kegiatan lain yang terkait perlu lebih diperkuat.
3. Perlu adanya sekretariat tersendiri dengan luasan dan fasilitas yang memadai.
4. Rekruitmen TPD agar dipercepat, sehingga kegiatan lapangan dapat segera berjalan.
Lampiran :
No. Nama Kegiatan Output 1 Pembentukan Layanan
Fasilitator
Tersedianya layanan fasilitator berupa Tenaga Pendamping bagi kegiatan PMP/CCD-IFAD, yang terdiri dari 3 orang Tenaga Pendamping Desa (TPD) dengan kontrak penuh dan 3 orang Tenaga Pendamping yang berasal dari
Penyuluh/Pendamping.
2 Sosialisasi Desa Tersosialisasinya proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (CCD-IFAD)
3 Penilaian Desa Berbasis Masyarakat
Review hasil kegiatan di setiap Desa/Keluaran
4 Pertemuan Desa (Perencanaan, Pengawasan, dan Evaluasi)
Output yang dihasilkan adalah perencanaan pembangunan desa berbasis kelautan dan perikanan selama 3 tahun; daftar kegiatan yang diusulkan; berita acara pertemuan. 5 Pelatihan dan Peningkatan
Kapasitas Pokmas
Output kegiatan ini adalah Pokmas Pesisir diharapkan dapat menyelesaikan proposal rinci untuk kegiatan yang termasuk sub komponen 6 Inventori Sumberdaya Pesisir
Berbasis Masyarakat
Diperoleh data mengenai potensi dan
permasalahan sumberdaya disetiap keluraan 7 Pembangunan Pondok
Informasi
Terbangunnya fasilitas umum untuk mendukung program IFAD dan untuk kepentingan masyarakat pada umumnya 8 Pembentukan dan Pelatihan
Co-Management Group
Terbentuknya Kelompok Pengelola Sumberdaya di 3 Desa/Kelurahan Tahun 2013 yang terlatih 9 Persiapan Detail Village Coastal
Marine Co-Management Plan
Terfasilitasinya persiapan dalam rangka
perencanaan detail tentang pengelolaan pesisir di desa; fasilitasi pembuatan peraturan desa dll untuk 3 Desa/Kelurahan
10 Workshop Coastal Marine Resources Co-Management
Masukan bagi kebijakan dibidang pengelolaan sumberdaya kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil
11 Fasilitasi Pusat Pemberdayaan dan Pelayanan Masyarakat Pesisir (P3MP)
− Teridentifikasinya permasalahan sosial budaya masyarakat pesisir, dan potensi budaya, termasuk kearifan lokal; − Kajian-kajian sosial budaya masyarakat
pesisir dan langkah pemecahan masalah;
− Terfasilitasinya kelompok-kelompok usaha bidang kelautan dan perikanan; dan
− Terwujudnya pola pikir dan sikap mental yang peduli terhadap pengelolaan SDKP yang berkelanjutan.
12 Penyusunan dan Pelatihan Sistem Monitoring Sumberdaya Pesisir
terfasilitasinya bimbingan tehnik sistem monitoring sumberdaya pesisir bagi Pokmas Pengelola Sumberdaya Pesisir.
13 Pelatihan Market Awareness Meningkatnya kemampuan anggota kelompok dalam prospek pasar
14 Pengembangan Alternative Income Generating dan Jaringan Pemasaran
Terfasilitasinya temu usaha dalam rangka pengembangan alternatif usaha bagi masyarakat pesisir serta pengembangan jejaring pemasaran.
15 Sinkronisasi Perencanaan dan Koordinasi
Terfasilitasinya pertemuan dalam rangka sinkronisasi perencanaan dan koordinasi. 16 Pertemuan Tim Teknis Terfasilitasinya pertemuan Komite
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir proyek CCD-IFAD, untuk menghasilkan rekomendasi atas proposal Pokmas
LAMPIRAN-LAMPIRAN
NAMA-NAMA KELOMPOK MASYARAKAT (POKMAS) KOTA MAKASSAR, KECAMATAN TALLO, KELURAHAN LAKKANG- CCDP-IFAD KOTA MAKASSAR
1. Kelompok Bonto Perak
Jenis Kegiatan : Polikultur Ikan Bandeng dengan Udang
No Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Lakkang
Nama Kelompok : Bonto Perak
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Abd. Haris L
2. Sekertaris Hamiruddin L
3. Bendahara Hasan Dg. Mangitun L 4. Anggota H. Hanaping Dg. Ngambe L
5 Amgota Ramlia P 6 Anggota Harifuddin L 7 Anggota Harpiah P 8 Anggota H. Silele L 9 Anggota Dg. Bali L 10 Anggota Mariani P Jumlah 10 orang 70% 30 %
Jenis Kegiatan Usaha
2. Kelompok Sengka Padada
Jenis Kegiatan : Polikulture Ikan bandeng dengan Udang
No Item Informasi
1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tallo
3 Desa Lakkang
Nama Kelompok : Sengka Padada
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok H. Malingkai L
2. Sekertaris H. Bali L
3. Bendahara Baso Baris L
4. Anggota Dg. Manna L
5 Amgota Rahmatiah P
6 Anggota Nilawati P
7 Anggota Wali Rais L
8 Anggota M. Dg. Bonto L
9 Anggota Ramlah P
10. Anggota Dg. Baso L
Jumlah 10 orang 70 % 30%
Jenis Kegiatan Usaha
Polikulutre ikan Bandeng dan Udang
3. Kelompok : Bonto Perak III
Jenis Kegiatan : Polikutur Ikan Bandeng dengan Udang No Item Informasi
1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tallo
3 Desa Bonto Perak III Nama Kelompok : Bonto Perak III
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok H. Badorahim L
2. Sekertaris Mursila L 3. Bendahara Gusti L 4. Anggota Salasia L 5 Amgota Dg. Adam L 6 Anggota Sembang L 7 Anggota Batia L 8 Anggota Dg. Sissing L
9 Anggota Juma Dg. Unjung L
10 Anggota H. Sarialang L
Jumlah 10 orang 100% 0
Jenis Kegiatan Usaha
4.Kelompok : Cahaya Lakkang Jenis Kegiatan : No Item Informasi 1 Kota Makassar 2 Kecamatan Talla 3 Desa Lakkang
Nama Kelompok : Cahaya Lakkang
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Suttara P
2. Sekertaris Harianty P
3. Bendahara Risma P
4. Anggota Rosita P
5 Amgota Darlina P
6 Anggota Bungalia Sinyo P
7 Anggota Rahmatia P
8 Anggota Halwiah P
9 Anggota Karmila S P
10 Anggota Te’ne Dg. Bulan P
Jumlah 0 100%
Jenis Kegiatan Usaha
5. Kelompok : harapan Jaya
Jenis Kegiatan : Polikultur Udang dn Ikan Bandeng No Item Informasi
1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tallo
3 Desa Lakkang
Nama Kelompok : Harapan Jaya
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Abd. Rahim L
2. Sekertaris Sanuddin saing L
3. Bendahara Ibrahim HS L
4. Anggota Dg. Ngemba L
5 Amgota H. Dorahim L
6 Anggota Sukarno L
7 Anggota Hamsinah Hasan L
8 Anggota H. Rahman Tiro L
9 Anggota Rosida L
10 Anggota Marawiah L
Jumlah 10 orang 100% 0
Jenis Kegiatan : Plikulture Udang dan Ikan Bandeng
6. Kelompok Harapan Jaya II
Jenis Kegiatan : Polikulture Ikan Bandeng dan Udang No Item Informasi
1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tallo
3 Desa Lakkang
Nama Kelompok : Harapan Jaya II
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Ruslan L
2. Sekertaris M. Amir L
3. Bendahara H. Sulaeman Gora L
4. Anggota Nurhalis M.Dg Labbang L
5 Amgota Abdul Latif Gassing L
6 Anggota Dg. Talle L
7 Anggota H. Nompo L
8 Anggota Syamsia L
9 Anggota Mulfa L
10 Anggota Alimuddin Dg. Sirrang
Jumlah 10 orang 100% 0
Jenis Kegiatan Usaha
Polikulture Udang dengan Ikan Bandeng
7. Kelompok Bunga Tanjung
Jenis Kegiatan : Pengolahan Kerupuk
No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Bunga Tanjung
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Rismawati P
2. Sekertaris Hasma P
3. Bendahara Sangngung P
4. Anggota Murni P
5 Amgota Sitti Dg. Baji P
6 Anggota Jami P
7 Anggota Syamsia Dg. Suri P
8 Anggota Sri Bulan P
9 Anggota Irmawati Dg. Ngatung P
Jumlah 9 orang 0 100%
Jenis Kegiatan Usaha Pengolahan Kerupuk
Kelompok VWG (Village Work Group))
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Tallo
3 Kelurahan Lakkang
4 Nama TPD Muh. Taufiq Arifin, S.Pi 5 Nomor HP 085 342 4148 99 6 Nama Penyuluh Asniwati. M. A.Md 7 Nomor HP 081 343 8083 17
Nama Kelompok : VILLAGE WORKING GROUP (VWG) Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Ruslan L
2 Sekretaris H. Badorahim L
3 Bendahara Hariany P
4 Anggota Ummu Kalsum P
5 Anggota Syamsyu Alam L
Jumlah 3 2
Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Tallo
3 Kelurahan Lakkang
Nama Kelompok : BIRING JE'NE Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Asikin L
2 Sekretaris Ismail Patahuddin L
3 Bendahara A. Syamsul Rizal L
4 Anggota Dg. Sija L
5 Anggota Abd. Salim L
6 Anggota Bahrul L 7 Anggota Basri L 8 Anggota Japri L 9 Anggota Sabang L 10 Anggota Ahmad L Jumlah 100% 0
Jenis KegiatanPengelolaan Sumber Daya
Mooring Buoy
Rehab Mangrove √
Perahu kecil pengawasan √
Lain-lain / Restocking Kepiting √
Kelompok : Infrastruktur
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Tallo
3 Kelurahan Lakkang
Nama Kelompok : MINASA TE'NE Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok H. Muh. Yusuf L
2 Sekretaris Abd. Hazis L
3 Bendahara S. Dg. Manye L
4 Anggota H. Sangkala L
5 Anggota Herman L
6 Anggota Syamsuddin L
7 Anggota Manai Dg. Ngempo L
8 Anggota Ikram L 9 Anggota Haeruddin L 10 Anggota Dg. Bali L 11 Anggota Dg. Maing L 12 Jumlah 11 -
Jenis Kegiatan Infrastruktur
Pondok Informasi Desa 1 unit √
Tambat labuh perahu 1 unit √
Jalan setapak paving block 109 m √
NAMA KELOMPOK MASYARAKAT (POKMAS) KELURAHAN CAMBAYA KECAMATAN UJUNG TANAH (CCDP-IFAD) KOTA MAKASSAR
1. Nama Kelompok : Anugrah
Jenis Kegiatan : Pengolahan Ikan Asing Kering
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Anugrah Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Mantasia P
2 Sekretaris Hamdana P 3 Bendahara Hasmawati P 4 Anggota Aisya P 5 Anggota Norma P 6 Anggota Kasmawati P 7 Anggota Hasna P 8 Anggota Maryam P 9 Anggota Herniyanti P 10 Anggota Mantasia P Jumlah 100% Jenis Kegiatan
Pengolahan Ikan Asing
Kering
2. Kelompok : Bahari Lestari Jenis Kegiatan : Nelayan
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Bahari Lestari Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Rahim L P
2 Sekretaris Najamuddin L P
3 Bendahara Mamii L
4 Anggota Baido L
5 Anggota Amir L
6 Anggota Agussyam L
7 Anggota H.M. Haris Majid L
8 Anggota Ali L 9 Anggota Arsyad L 10 Anggota Junaedi L Jumlah 100% Jenis Kegiatan Nelayan Jumlah
3. Kelompok : Berlian
Jenis Kegiatan : Pengolahan Ikan Asing Kering
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Berlian Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Sinar P
2 Sekretaris Risma P 3 Bendahara Jumriana P 4 Anggota Dg. Baji P 5 Anggota Fatmah P 6 Anggota Hasniah P 7 Anggota Jumriah P 8 Anggota Maryam P
9 Anggota Ratnah Cicen P
10 Anggota Rosmiati P
Jumlah 100%
Jenis Kegiatan
Pengolahan Ikan Asin Kering
5. Kelompok : Putra Bagan Jenis Kegiatan : Nelayan
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Putra Bagan Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Burhan P
2 Sekretaris Husaen P
3 Bendahara Dg. Sangkala P
4 Anggota Dg. Rappe P
5 Anggota Tuo P
6 Anggota Bungsu P
7 Anggota Muh. Saleng P
8 Anggota Maule P 9 Anggota Kolleng P 10 Anggota Samaila P 100% Jenis Kegiatan I Nelayan Jumlah
6. Kelompok : Sinar Laut Jenis Kegiatan : Nelayan
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Sinar Laut Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Nawir L
2 Sekretaris Rudi L
3 Bendahara Baso Nuhung L
4 Anggota AcoGito L 5 Anggota Anwar L 6 Anggota Mustamin L 7 Anggota Seven L 8 Anggota Mustapa L 9 Anggota Fardi L
10 Anggota Ruma Dg. Sila L
100%
Jenis Kegiatan I
Nelayan
7. Kelompok : Sinar Nelayan Jenis Kegiatan : Nelayan
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Sinar Nelayan Jenis Kelamin
L
1 Ketua Kelompok Rudi L
2 Sekretaris Mansur Dg. Gassing L
3 Bendahara Nawir L
4 Anggota Ambo Aha L
5 Anggota Dg. Sere sabe L
6 Anggota Samad Nompo L
7 Anggota Sulaimana L
8 Anggota Dg. Limun L
9 Anggota Nurdin L
10 Anggota Abdul Latif L
100%
Jenis Kegiatan
Nelayan
NAMA KELOMPOK MASYARAKAT (POKMAS) KOTA MAKASSAR, KECAMATAN TAMALATE, KELURAHAN TANJUNG MERDEKA- CCDP-IFAD KOTA MAKASSAR
1. Nama Kelompok Jenber :
Jenis Kegiatan : Keramba Jaring Apung No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Jenber
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok Abd. Rahman L
2. Sekertaris Muh. Lukman Dj L
3. Bendahara Usman L
4. Anggota Aminuddin L
5 Amgota Mansyur Dg. Sese L
6 Anggota Hasan Dg. Lola L
7 Anggota Guneng Dg. Nyala L
8 Anggota Jumain Dg. Nyarrang L
9 Anggota Abd. Rahim Kadir L
10 Anggota Sulaiman Dg. Kiro L
Jumlah 10 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Kermba Jaring Apung 2.Kelompok Mangga Tiga Jenis Kegiatan Pengolhan Abon
No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Mangga Tiga
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Ratna Sari Dewi P
2. Sekertaris Emij P
3. Bendahara Dahlia Dg. Sugi P
4. Anggota Megawati P
5 Amgota Manikkang Dg. Caya P
6 Anggota Aminah Dg. Sanguging P
7 Anggota Sani Dg. Sunggu P
8 Anggota Dg. Sunggu P
Jumlah 8 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Pengolahan Abon
3. Kelompok : Karya Mandiri
Jenis Kegiatan : keramba Jaring Apung No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Karya Mandiri
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok Juming Dg. Lira L
2. Sekertaris Sukur Dg. Tula L
3. Bendahara Amir L
4. Anggota M.Dg. Massa L
5 Amgota Awaluddin Dg. Nyala L
6 Anggota Dg. Ngudding L
7 Anggota Mansur Dg. Rani L
8 Anggota Tangga Dg. Ngumba L
9 Anggota Angsa Dg. Raja L
10 Anggota Tallasa L
Jumlah 10 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Kermba Jaring Apung 4. Kelompok Truno 2
Jenis Kegiatan : Keramba Jaring Apung No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Truno 2
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok Thamrin Dg. Lulung L
2. Sekertaris Milku Indrawati L
3. Bendahara Tajuddin Dg. Tata L
4. Anggota T.Dg. Ilyas L
5 Amgota Jaharuddin L
6 Anggota Nuhun Dg. Kulle L
7 Anggota S. Dg Lira L
8 Anggota Anastasia L
9 Anggota Syamsuddin Dg. Nuru L
Jumlah 9 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Kermba Jaring Apung
5. Kelompok Infra (Muda Berkarya)
Jenis Kegiatan : Pondok Informasi Desa, MCK dan Jalan Setapak No Item Informasi
1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Infra (Muda Berkarya)
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Abdul Latif L
2. Sekertaris Nurdiansyah L
3. Bendahara Mansyur L
4. Anggota Majid Dg. Ngompo L
5 Amgota Anto L
6 Anggota Dg. Nuntung L
7 Anggota Syahril L
8 Anggota Hamzah Dg. Lola L
Jumlah 8 orang 100%
Jenis Kegiatan : Pondok informasi Desa MCK dan Jalan setapak
6. Kelompok Sinar Kehidupan
Jenis Kegiatan : Keramba Jaring Apung No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Sinar Kehidupan
Laki Perempuan 1. Ketua Kelompok Alimuddin Dg. Srrang L
2. Sekertaris Dg. Sila L
3. Bendahara Nurhayati L
4. Anggota Anwar dg. Bate L
5 Amgota J. Dg. Ngerang L
6 Anggota Ahmad Dg. Nai L
7 Anggota Mansur Dg. Rani L
8 Anggota Tangga Dg. Ngumba L
9 Anggota Angsa Dg. Raja L
10 Anggota Tallasa L
Jumlah 10 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Kermba Jaring Apung ‘
7. Kelompok Bunga Tanjung
Jenis Kegiatan : Pengolahan Kerupuk No Item Informasi 1 Kabupaten Makassar 2 Kecamatan Tamalate
3 Desa Tanjung Merdeka Nama Kelompok : Bunga Tanjung
Laki Perempuan
1. Ketua Kelompok Rismawati P
2. Sekertaris Hasma P
3. Bendahara Sangngung P
4. Anggota Murni P
5 Amgota Sitti Dg. Baji P
6 Anggota Jami P
7 Anggota Syamsia Dg. Suri P
8 Anggota Sri Bulan P
9 Anggota Irmawati Dg. Ngatung P
Jumlah 9 orang 100%
Jenis Kegiatan Usaha Pengolahan Kerupuk
7. Kelompok : Sinar Nelayan Jenis Kegiatan : Nelayan
No. Item Informasi
1 Kota Makassar
2 Kecamatan Ujung Tanah
3 Kelurahan Cambaya
Nama Kelompok : Sinar Nelayan Jenis Kelamin
L P
1 Ketua Kelompok Rudi L
2 Sekretaris Mansur Dg. Gassing L
3 Bendahara Nawir L
4 Anggota Ambo Aha L
5 Anggota Dg. Sere sabe L
6 Anggota Samad Nompo L
7 Anggota Sulaimana L
8 Anggota Dg. Limun L
9 Anggota Nurdin L
10 Anggota Abdul Latif L
100% 0
Jenis Kegiatan