• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG

TAHUN 2009

(Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Jurusan Manajemen Dakwah (MD)

DIMAS PRIYO SEMBODO 1 1 0 3 1 1 6

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

NOTA PEMBIMBING

Lamp. : 5 (lima) eksemplar

Hal : Persetujuan Naskah Skripsi

Kepada.

Yth. Bapak Dekan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang

di Semarang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah membaca, mengadakan koreksi dan perbaikan sebagaimana mestinya, maka kami menyatakan bahwa skripsi saudara/i :

Nama : DIMAS PRIYO SEMBODO

NIM : 1103116

Fak./Jur. : DAKWAH / MD

Judul Skripsi : PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang. No. 13 Tahun 2008)

Dengan ini telah saya setujui dan mohon agar segera diajukan. Demikian, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Semarang, Juli 2010 Pembimbing,

Bidang Substansi Materi Bidang Metodologi dan Tata Tulis

Hj. Yuyun Affandi, Lc., M. A. Ariana Suryorini, S.E, M.M.S.I. NIP. 19600603 199203 2 002 NIP. 19770930 200501 2 002 Tanggal : Juli 2010 Tanggal : Juli 2010

(3)

SKRIPSI

PELAYANAN JAMA'AH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009

(Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)

Disusun Oleh Dimas Priyo Sembodo

0313111116

telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 30 Juni 2010

dan dinyatakan telah lulus memenuhi syarat

Susunan Dewan Penguji

Ketua Dewan Penguji Sekretaris Dewan Penguji Dekan/Pembantu Dekan Pembimbing

DR. Hj. Yuyun Affandi, Lc, MA Ariana Suryorini, S.E, M.M.S.I. NIP. 19600603 199203 2 002 NIP. 19770930 200501 2 002

Penguji I Penguji II

DR. H. Awaludin Pimay, Lc, M.Ag Thohir Yuli Kusmanto, S.Sos., M.Si NIP. 19610727 200003 1 001 NIP. 19730710 199903 1 004

Pembimbing I Pembimbing II

DR. Hj. Yuyun Affandi, Lc, MA Ariana Suryorini, S.E, M.M.S.I. NIP. 19600603 199203 2 002 NIP. 19770930 200501 2 002

(4)

MOTTO

)

(

Artinya : “ Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.” (Mutafaqun Alaih)

(5)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil alamin. Penulis telah

menyelesaikan skripsi ini sebagai jawaban atas motivasi dan doa yang telah diberikan dan skripsi ini penulis persembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu tercinta (Bapak M. Agus Salim dan Ibu Sri Ratna Herwati) yang telah mencurahkan segenap kasih sayangnya kepada penulis dan telah menghabiskan waktu panjangnya dalam mengasuh dan mendidik penulis. Semuanya tidak lain hanyalah demi keberhasilan penulis dalam meraih cita-cita. 2. Kakakku (Andi Sastra) dan adik-adikku (M. Adi Kusuma dan Bagus Romadhon)

tercinta yang telah memberi motivasi, menghibur dan mendoakan penulis. Semoga kelak kalian mendapat kebahagiaan dan sukses dalam hidupnya.

3. Yang tercinta Romauly Am. Keb, orang yang telah sabar menunggu dan menemani penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(6)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri dan didalamnya tidak ada karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi di lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.

Semarang, Juni 2010 Penyusun

Dimas Priyo Sembodo 1 1 0 3 1 1 6

(7)

ABSTRAKSI

Dimas Priyo Sembodo : 1103116, Penelitian dengan judul “Pelayanan Jama’ah Haji Kota Semarang Tahun 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)”, bertujuan untuk mengetahui bagaimana muatan yang terkandung dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan Ibadah Haji,mengetahui bagaimana pelayanan Jama’ah Haji yang dilakukan oleh Kementerian Agama Kota Semarang dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008, mengetahui hambatan apa yang dihadapi oleh Kementerian Agama Kota Semarang dalam memberikan pelayanan Jama’ah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 dan untuk mengetahui hal-hal apa yang harus dilakukan oleh Kementerian Agama Kota Semarang dalam rangka memperbaiki pelayanan yang diberikan dilihat dari implementasi Undang-Undang No.13 Tahun 2008.

Dalam penelitian ini, penulis berusaha menggambarkan bagaimana kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Kementerian Agama khususnya Seksi Gara Haji dan Umroh dalam melayani Jama’ah Haji Kota Semarang tahun 2009. Pada tahun tersebut pemerintah memberlakukan peraturan baru yang mengatur penyelenggaraan Ibadah Haji yaitu Undang-Undang No. 13 Tahun 2008. Peraturan tersebut memuat beberapa perubahan dalam pelaksanaan Ibadah Haji.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengumpulan dokumen-dokumen Haji yang diperoleh, pelayanan Jama’ah Haji yang dilakukan oleh Kenmenag pada tahun 2009 tidak berbeda jauh dengan pelayanan tahun-tahun sebelumnya. Namun dalam pelayanan tahun 2009 terdapat beberapa perubahan, khususnya dalam pelayanan pengurusan paspor. Jika pada tahun-tahun sebelumnya paspor yang digunakan adalah paspor Haji, maka mulai tahun 2009 paspor yang digunakan adalah paspor Internasional. Hal itu sempat menjadi kendala bagi Kementerian Agama Kota Semarang. Namun itu semua bisa dilaksanakan dengan baik meski masih ada beberapa kekurangan.

Dengan demikian berdasarkan uraian diatas, maka dapat penulis katakan bahwa “Pelayanan Jama’ah Haji Kota Semarang Tahun 2009” yang dilaksanakan oleh

Kementerian Agama Kota Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 dengan perubahannya.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur al-hamdulillah penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kita dan telah menurukan Al-qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dan atas hidayah-Nya penulis dapat menyelesakan karya ilmiyah (Skripsi) yang berjudul “Pelayanan Jama’ah Haji Kota Semarang Tahun2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)”.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW, beserta keluarga dan para pengikutnya.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan yang harus dipenuhi guna memperoleh gelar strata I (S-I) di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

Sebagai insan yang penuh keterbatasan, penulis menyadari bahwa tersusunnya skripsi ini tidak terlepas dari limpahan rahmat-Nya, serta bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Abdul Jamil, M.A, selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.

2. Drs. H. M. Zain Yusuf, MM, selaku Dekan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, beserta stafnya yang telah memberikan ijin kepada penulis dalam penelitian skripsi ini.

3. DR. Hj. Yuyun Affandi, Lc; M.A selaku pembimbing I, dan Ibu Ariana Suryorini, S.E, M.M.S.I selaku pembimbing II, yang dengan sabar, membimbing, menasehati serta memotivasi, sehingga terselesaikannya skripsi ini.

4. Ayah, Ibu, kakakku dan adikku serta Romauly yang telah memberikan do’a, dorongan dan dukungan kepadaku, mereka adalah guru-guru terbaik bagiku.

(9)

5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah, khususnya jurusan Manajemen Dakwah (MD), yang telah berkenan memberikan ilmu dan pengalamannya selama dibangku perkuliahan. Semoga apa yang telah Bapak/Ibu berikan dapat bermanfaat dan menjadi bekal penulis dalam setiap pengabdian.

6. Seluruh pegawai Perpustakaan Institut dan pegawai perpustakaan Fakultas Dakwah yang dengan sabar telah melayani peminjaman buku, sehingga terselesaikannya skripsi ini berjalan dengan lancar.

7. H. Taufik Rahman, S.H, M.Hum selaku kepala dan seluruh staf Kantor Kementerian Agama Kota Semarang yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

8. Seluruh teman–teman mahasiswa Fakultas Dakwah, khususnya angkatan 2003 jurusan Manajemen Dakwah (MD) yang turut memberi motivasi, dan do'a, sehingga terselesaikannya skripsi ini.

9. Teman-temanku (Q-team) yang senantiasa memberikan dorongan meskipun dengan cara mereka yang aneh.

10. Sahabat-sahabat seperjuangan yang selalu memberi dukungan kepada penulis saat suka maupun duka.

Harapan penulis, semoga amal baik yang telah diberikan dapat menjadi amal jariyah dan sekaligus mendapatkan balasan sesuai dengan amalnya. Amin.

Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam penyusunan maupun bahasanya. Karena itu penulis mengharapkan sumbangan saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca yang budiman.

Dan hanya kepada Allah jualah penulis memohon petunjuk, semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi kita semua pada umumnya.

Semarang, Juni 2010 Penulis

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……… i PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….. ii MOTTO ………...……… iii ABSTRAKSI ……….………... iv PERSEMBAHAN ……… v PERNYATAAN ………... vi

KATA PENGANTAR ………. vii

DAFTAR ISI ……… ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………. 1

B. Rumusan Masalah ……… 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 7

D. Tinjauan Pustaka ………. 8

E. Kerangka Teoritik ……… 10 F. Metode Penelitian ……… 15 G. Sistematika Penulisan Skripsi ………. 19

BAB II : GAMBARAN UMUM KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA SEMARANG A. Sejarah Kementerian Agama Kota Semarang ……... 21 B. Visi Dan Misi Kementerian en Agama Kota Semarang ………... 23 C. Struktur Organisasi Kantor Kementerian Agama Kota Semarang .. 25

(11)

StrukturOrganisasi Gara Haji dan Umroh Kementerian Agama Kota

Semarang ...……… 26

D. Tugas Dan Fungsi Gara Haji dan Umroh ... 26 BAB III : PELAYANAN JAMA’AH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009 A. Persyaratan Haji ...……… 28

B. Pendaftaran Haji ...………….………... 29 C. Tata Cara Pengurusan Paspor ...………...….……….... 37

1. Pengertian Paspor ... 37

2. Jenis Paspor ... 37

3. Tata Cara Pengurusasn Paspor ... 38

4. Mekanisme Penyelesaian Paspor Bagi Jama’ah Haji Oleh Petugas Kementerian Agama Kab/Kota ... 39

D. Pembimbingan Jama’ah Haji ... 41

E. Pemberangkatan Jama’ah Haji ... 41

F. Kepulangan Jama’ah Haji ... 42

BAB IV : ANALISIS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2008 TERHADAP PELAYANAN JAMA’AH HAJI DI KENMENAG KOTA SEMARANG A. Muatan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 ..……….….... 44

B. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji ... 63

C. Pelayanan Jama’ah Haji Kenmenag Kota Semarang Tahun 2009 Dilihat Dari Implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 ... 65

(12)

D. Hambatan Dalam Memberikan Pelayanan Jama’ah Haji Dilihat Dari Implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 ... 68 E. Hal-hal Yang Harus Dilakukan Oleh Kementerian Agama Kota Semarang Dalam Memberikan Pelayanan Jama’ah Haji Dilihat Dari Implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 ... 70

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ………. 72 B. Saran ...……….. 75 C. Penutup ……… 77 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BIODATA

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam merupakan agama dakwah yang senantiasa berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunah. Dalam pengamalannya, Islam tidak pernah lepas dari dua hal, yaitu rukun islam dan rukun iman. Rukun islam ada lima, dan menunaikan ibadah haji adalah salah satu dari kelima rukun tersebut.

Haji merupakan kewajiban bagi umat islam, namun dalam hal ini wajib hanya dikenakan kepada hamba Allah yang mampu.

Dalam upaya untuk mencapai kata mampu, islam menganjurkan untuk bekerja. Pekerjaan manusia adalah tugas rasio (akal) dan fisik, jika manusia tidak bekerja maka ia tidak bisa memenuhi tugas hidupnya. Manusia harus menggunakan akalnya untuk berpikir dan manjadikan pemikiran sebagai pedoman dalam kehidupan. Pemikiran yang negatif mengakibatkan kerugian bagi dirinya dan orang lain. Pekerjaan merupakan sarana untuk memperoleh rezeki dan sumber penghidupan yang layak. Dapat pula dikatakan bahwa bekerja adalah kewajiban dan kehidupan (Mursi, 1997:8).

Setelah manusia memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, maka diwajibkan baginya untuk segera berhaji. Dalam pelaksanaan ibadah haji perlu adanya jaminan keamanan dan kenyamanan sehingga hikmah dan tujuan haji bisa tercapai.

(14)

Berkaitan dengan masalah keamanan dan kenyamanan ibadah haji, Kementerian Agama sebagai pihak penyelenggara harus mampu memberikan pelayanan yang baik.

Melayani atau menolong seseorang merupakan bentuk kesadaran dan kepeduliannya terhadap nilai kemanusiaan. Memberi pelayanan dan pertolongan merupakan investasi yang kelak akan dipetik keuntungannya, tidak hanya di akhirat, tetapi di duniapun juga akan merasakannya. Seseorang yang amanah adalah orang-orang yang menjadikan dirinya sibuk untuk memberikan pelayanan. Mereka merasa bahagia dan memiliki makna apabila hidupnya dipenuhi dengan pelayanan. Dalam pelayanan, harus ada kesadaran diri yang kuat bahwa dia ada karena dia melayani. Dia mempunyai harga karena mampu memberikan makna melalui pelayanannya tersebut. Karena itu, tidaklah mungkin seseorang melayani tanpa memperhatikan martabat dirinya dan orang lain karena justru dengan pelayanan itu manusia ingin meningkatkan kualitas dan derajat mereka satu sama lain. Seseorang menjadi profesional karena menyadari betapa berharganya ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka tidak terperosok ke dalam bentuk rendah diri karena manusia diciptakan secara unik.

Service (pelayanan) bukan hanya sebuah kata, melainkan memiliki makna

sebagaimana uraian berikut ini: Self Awarness and Self Esteem, menanamkan kesadaran diri bahwa melayani merupakan bagian dari misi seorang muslim dan karenanya harus selalu menjaga martabat diri sendiri dan orang lain. Empathy

(15)

yang penuh antusias akan memberikan efek batin bagi diri dan orang lain yang dilayani. Reform and Recover, berusaha untuk lebih baik dan lebih baik lagi, dan selalu memperbaiki dengan cepat setiap ada keluhan atau sesuatu yang bisa merusak pelayanan. Victory and Vision, melayani berarti ingin merebut hati dan membawa misi untuk membangun kebahagiaan dan kemenangan bersama. Dalam sikap melayani harus memiliki pandangan ke depan untuk melukan perbaikan dan peningkatan mutu. Impressive and Improvement, berikanlah pelayanan yang mengesankan dan berusahalah selalu untuk meningkatkan perbaikan pelayanan.

Care, Cooperativenss, and Communication, tunjukan perhatian yang sangat

mendalam dan kembangkanlah nilai-nilai yang mampu membuka kerja sama. Jalinlah komunikasi sebagai jembatan emas untuk menumbuhkan sinergi dan keterbukaan. Evaluation and Empowerment, lakukanlah penilaian, perenungan, dan upayakanlah selalu untuk memberdayakan aset yang ada (Tasmara, 2002:96-100).

Pribadi muslim yang profesional akan menjadikan setiap geraknya adalah pelayanan yang berkualitas sehingga orang yang ada disekitarnya merasakan kedamaian (Tasmara, 2002:100).

Kementerian Agama sebagai penanggung jawab penyelenggaraan haji telah melakukan kerja sama dengan pemerintah Arab Saudi yang dirumuskan dalam berbagai keputusan dan peraturan-peraturan pemerintah. Ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan pelayanan terhadap jamaah haji. Kementerian Agama sebagai penyelenggara haji telah berusaha dengan segala kemampuan dan fasilitas yang

(16)

dimiliki berupaya memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya agar jamaah haji Kota Semarang dapat menunaikan ibadah dengan tertib, lancar, mudah, baik, aman dan sempurna. Peningkatan mutu pembinaan, pelayanan dan perlindungan terhadap calon haji antara lain melalui penyempurnaan sistem dan manajemen penyelenggaraan haji semakin ditingkatkan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ada (Gara Haji&Umroh, 2007:2-3).

Indonesia yang merupakan Negara dengan jumlah jamaah haji terbesar memang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Karena permasalahan yang muncul dalam penyelenggaraan ibadah haji dapat menganggu jamaah untuk melaksanakan ibadahnya. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan kualitas pelayanan.

Dalam pelaksanaannya masih sering terdapat berbagai kekurangan, terutama pada waktu Jamaah Haji berada di Arab Saudi. Dari berbagai media masa memberitakan bahwa terjadi banyak ketidaknyamanan yang dapat mengganggu proses pelaksanaan ibadah Haji. Dimulai dari tragedi kelaparan Jamaah Haji Indonesia, robohnya penginapan atau pemondokan Jamaah, permasalahan transportasi hingga yang terbaru permasalahan penggunaan paspor hijau. Berbagai permasalahan tersebut ternyata mengganggu proses peribadatan hingga membuat Jamaah merasa tidak nyaman dan mengakibatkan tidak fokus dalam beribadah.

Untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang pernah muncul, pemerintah telah mengeluarkan peraturan dan perundang-undangan yang khusus

(17)

mengatur penyelenggaraan ibadah Haji. undang tersebut adalah Undang-undang No. 13 Tahun 2008. Undang-Undang-undang ini merupakan peraturan yang menyempurnakan peraturan yang telah dikeluarkan sebelumnya, yaitu Undang-undang No. 17 Tahun 1999.

Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun 2009 merupakan penyelenggaraan Ibadah Haji yang pertama kali menggunakan UU. No. 13 Tahun 2008 sebagai dasar pelaksanaan.

Dalam pelaksanaan pelayanan ibadah haji Kementerian Agama harus mengacu pada undang-undang terkait. Peraturan-peraturan yang mengatur segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Dimulai dari pendaftaran jamaah, pembimbingan manasik haji, pelayanan akomodasi, konsumsi, transportasi, dan pelayanan kesehatan yang memadai, hingga selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi. Hal-hal tersebut telah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008. Undang-undang ini khusus mengatur tentang penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia.

Kementerian Agama Kota Semarang sebagai penyelenggara ibadah haji khususnya di wilayah Kota Semarang telah melaksanakan penyelenggaraan Ibadah Haji tahun 2009. Dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan Undang-undang yang telah ditetapkan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian yang berjudul “Pelayanan Jamaah Haji Kota Semarang Tahun 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)”.

(18)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan inti permasalahan penelitian ini, yaitu :

1. Apa muatan yang terkandung dalam UU No. 13 Tahun 2008?

2. Bagaimanakah pelayanan Jamaah Haji Kenmenag Kota Semarang Tahun 2009 dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008? 3. Apa hambatan yang dihadapi Kenmenag Kota Semarang dalam

memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008?

4. Apa yang semestinya dilakukan oleh Kenmenag Kota Semarang dalam memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008?

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah :

a.Untuk mengetahui muatan yang terkandung dalam UU No. 13 Tahun 2008.

b. Untuk mengetahui pelayanan Jamaah Haji Kenmenag Kota Semarang Tahun 2009 dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008.

c.Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi Kenmenag Kota Semarang dalam memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari

(19)

implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008.

d. Untuk mengetahui yang semestinya dilakukan oleh Kenmenag Kota Semarang dalam memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008

2. Manfaat Penelitian

Manfaat Penelitian ini sebagai berikut : a. Manfaat Akademis

Penelitian ini dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang manajemen sumber daya manusia khususnya yang berhubungan dengan masalah pelayanan jamaah haji di wilayah Kenmenag Kota Semarang.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan masukan terhadap kebijakan yang akan diambil oleh Penyelenggara Haji dan Umroh Kota Semarang sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan haji.

D. Tinjauan Pustaka

Untuk menghindari kesamaan pembahasan karangan orang lain, maka penulis mencoba menampilkan beberapa skripsi yang telah dibuat oleh para penulis lain, yang berkaitan dengan judul skripsi :

.Achmad Nidjam (2004), “Manajemen Haji (Study kasus dan telaah

(20)

perhajian dengan menitik beratkan pada penerapan kualitas pelayanan prima yang seharusnya diberikan kepada masyarakat, lebih khusus lagi kepada masyarakat perhajian dengan mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki ilmu pengetahuan (knowledge workers). Disini pelayanan dijadikan prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji, sehingga memerlukan kualitas pelayanan yang memuaskan bagi jama’ah haji.

Kukuh Prasetyo (2008), Pengaruh Lokasi, Promosi dan Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Hotel Candi Baru Semarang . Penelitian ini

menjelaskan pengaruh lokasi, promosi dan pelayanan teradap kepuasan konsumen Hotel Candi Baru Semarang. Dalam penelitian ini peneliti berusaha menjelaskan pengaruh pelayanan sebagai salah satu indikator yang mempengaruhi kepuasan konsumen di Hotel Candi Baru Semarang.

Ludfi Maharani (2009), “Pengaruh Kualitas Pelayanan Haji Mandiri

Terhadap Kepuasan Jamaah Haji Tahun 2007 Kota Semarang”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan haji mandiri, mengetahui tingkat kepuasan jamaah haji mandiri tahun 2007, dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan haji mandiri terhadap kepuasan jamaah haji tahun 2007 Kota Semarang.

Sedangkan penelitian yang akan peneliti ajukan adalah “PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)”. Penelitian ini ingin menyampaikan apakah Kenmenag Kota Semarang dalam pelaksanaan pelayanan jamaah haji

(21)

sudah sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2008 sebagai dasar acuan ataukah masih ada hal-hal yang manjadi hambatan dalam menerapkan UU tersebut. Dari penelitian tersebut maka dapat dipastikan bahwa penelitian yang akan peneliti ajukan berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

E. Kerangka Teoritik PELAYANAN

Service (pelayanan) bukan hanya sebuah kata, melainkan memiliki makna

sebagaimana uraian berikut ini: Self Awarness and Self Esteem, menanamkan kesadaran diri bahwa melayani merupakan bagian dari misi seorang muslim dan karenanya harus selalu menjaga martabat diri sendiri dan orang lain. Empathy

and Enthusiasm, lakukanlah empati dan layanilah dengan penuh gairah. Sikap

yang penuh antusias akan memberikan efek batin bagi diri dan orang lain yang dilayani. Reform and Recover, berusaha untuk lebih baik dan lebih baik lagi, dan selalu memperbaiki dengan cepat setiap ada keluhan atau sesuatu yang bisa merusak pelayanan. Victory and Vision, melayani berarti ingin merebut hati dan membawa misi untuk membangun kebahagiaan dan kemenangan bersama. Dalam sikap melayani harus memiliki pandangan ke depan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan mutu. Impressive and Improvement, berikanlah pelayanan yang mengesankan dan berusahalah selalu untuk meningkatkan perbaikan pelayanan.

Care, Cooperativenss, and Communication, tunjukan perhatian yang sangat

mendalam dan kembangkanlah nilai-nilai yang mampu membuka kerja sama. Jalinlah komunikasi sebagai jembatan emas untuk menumbuhkan sinergi dan

(22)

keterbukaan. Evaluation and Empowerment, lakukanlah penilaian, perenungan, dan upayakanlah selalu untuk memberdayakan aset yang ada (Tasmara, 2002:96-100).

Secara umum pelayanan yang baik merupakan pelayanan yang cepat, jujur dan terbuka. Pelayanan yang secara umum didambakan oleh masyarakat adalah:

§ Kemudahan dalam pengurusan kepentingan § Mendapatkan pelayanan wajar

§ Mendapatkan perlakuan yang sama tanpa pilih kasih

§ Mendapatkan perlakuan yang jujur dan terus terang. (Moenir. 2006:47) Kualitas pelayanan mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan. Untuk menentukan kepuasan jamaah, kualitas pelayanan diperlukan karena jamaah akan merasa puas apabila mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan. Kepuasan jamaah akan terpenuhi apabila proses penyampaian jasa kepada jamaah sesuai dengan apa yang dipersepsikan jamaah (Umar, 2002:53).

Menurut Wyckof dalam Tjiptono (2004:59) kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen. Dengan demikian penyedia jasa dapat meningkatkan kepuasan konsumen dengan meminimkan atau meniadakan pengalaman konsumen yang kurang menyenangkan. Kepuasan konsumen dapat menciptakan kesetiaan dan loyalitas konsumen kepada penyedia jasa yang memberikan kualitas memuaskan (Tjiptono, 2002:54).

(23)

JAMAAH HAJI

Jamaah Haji merupakan peserta yang mengikuti pelaksanaan Ibadah Haji. Dalam Undang-undang No. 13 ahun 2008 pasal 1 menjelaskan bahwa Jamaah Haji adalah Warga Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan Ibadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

PELAYANAN JAMAAH HAJI KOTA SEMARANG TAHUN 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 Tahun 2008)

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelayanan Jamaah Haji Kota Semarang Tahun 2009 (Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No.13 tahun 2008) adalah suatu bentuk kegiatan melayani masyarakat dalam hal ini Jamaah Haji yang dilakukan oleh Kenmenag Kota Semarang sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan penyelenggaraan ibadah Haji khususnya tahun 2009 dengan didasarkan pada Undang-Undang No. 13 tahun 2008 sebagai pedoman dimulai dari pendaftaran hingga pemulangan Jamaah Haji kembali ke Tanah Air agar ibadah Haji dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan Haji tercapai.

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan diri dari orang-orang dan perilaku yang diamati. (Moleong, 1993: 3)

(24)

Dalam penelitian deskriptif kualitatif yaitu penulis melakukan penelitian dengan melakukan analisa hanya pada taraf deskripsi yaitu menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan, dan kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar faktanya sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data yang diperoleh dan data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis membuat prediksi, maupun mempelajari implikasinya. (Azwar, 1999: 5)

Dalam penelitian ini peneliti ingin menyampaikan bagaimana pelayanan jamaah haji yang dilakukan oleh Kenmenag Kota Semarang dimulai dari pendaftaran, bimbingan manasik haji, hingga proses pemberangkatan dan kepulangan Jama’ah apakah sudah sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2008 atau belum.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Adapun teknik yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung terhadap objek yang diteliti dan

(25)

mencatat dengan sistematis fenomena-fenomena yang diteliti (Koentjoroningrat, 1990: 173).

Dalam observasi ini peneliti menggunakan pendekatan alamiah, maksudnya observasi dilakukan tanpa adanya campur tangan sama sekali dari pihak peneliti. Peneliti tidak terlibat secara langsung dalam objek observasi. Objek observasi adalah fenomena-fenomena yang dibiarkan terjadi secara ilmiah (Azwar, 2009:19).

Teknik ini penulis gunakan untuk mengumpulkan data tentang kegiatan pelayanan jamaah haji di Kenmenag Kota Semarang.

b. Interview (wawancara)

Teknik Inteirview adalah teknik yang digunakan dengan cara bercakap cakap, berhadapan, tanya jawab untuk mendapatkan keterangan masalah penelitian. (Koentjoroningrat, 1994: 729)

Teknik interview yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin artinya memberikan pertanyaan menurut keinginan peneliti tetapi masih berpedoman pada ketentuan atau garis-garis yang menjadi pengontrol relevan atau tidaknya interview tersebut. (Arikunto, 1990:127).

Interview dilakukan kepada beberapa pihak, yang pertama adalah Kepala Gara Haji dan Umroh Kenmenag Kota Semarang, kedua adalah pegawai Gara Haji dan Umroh sebagai pelaksana pelayanan dan terakhir perwakilan Jamaah Haji.

(26)

c. Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data dari data-data tertulis yang dalam pelaksanaannya untuk menyelidiki tanda-tanda tertulis seperti: buku-buku, dokumen, majalah, satuan catatan harian, notulen rapat dan sebagainya. (Arikunto, 2002: 200)

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan suatu data yang tidak diperoleh dari data sebelumnya di Kantor Kenmenag Kota Semarang. 3. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah penyederhanaan data dalam bentuk lebih praktik untuk dibaca dan diinterprestasikan, yaitu diadakan pemisahan sesuai dengan jenis masing-masing data dan kemudian diupayakan analisisnya. Dengan menguraikan, menjelaskan sehingga data tersebut dapat diambil pengertian dan kesimpulan sebagai hasil penelitian. (Surahmat, 1904: 140)

Dalam menganalisa data, peneliti menggambarkan cara berpikir induktif yaitu cara berpikir yang berangkat dari peristiwa atau kejadian yang bersifat khusus kemudian ditarik suatu generalisasi yang bersifat umum.

Analisa kualitatif ini dilakukan dengan menempuh langkah yaitu mendiskripsikan bentuk pelayanan penyelenggaraan ibadah haji yang dilaksanakan oleh Kenmenag Kota Semarang.

Sedangkan untuk teknik dalam menganalisa data penulis berusaha menganalisa unsur-unsur yang ada dalam analisis SWOT. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) adalah suatu cara untuk

(27)

mempersiapkan sebuah kegiatan dengan memperkirakan dan menganalisa bagaimana Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (hambatan).

G. Sistematika Penulisan Skripsi

Dalam Penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab yang masing-masing bab memuat sub-sub sebagai berikut:

BAB I. Pendahuluan. Dalam bab ini membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, kerangka teoritik serta sistematika penulisan skripsi.

BAB II. Gambaran Umum Kementerian Agama Kota Semarang. Dalam bab ini membahas tentang sejarah Kementerian Agama, Visi dan Misi, struktur organisasi Kementerian Agama Kota Semarang, struktur Gara Haji dan Umroh Kenmenag Kota Semarang, serta tugas dan fungsi Gara Haji dan Umroh.

BAB III. Pelayanan Jamaah Haji Kota Semarang Tahun 2009. Dalam bab ini menjelaskan tentang deskripsi pelayanan Jamaah Haji Kenmenag Kota Semarang, Pelayanan yang dimaksud dimulai dari pendaftaran hingga pemulangan jamaah haji kembali ke tanah air.

BAB IV. Analisis Pelaksanaan Undang-Undang No. 13 tahun 2008 Terhadap Pelayanan Jamaah Haji di Kenmenag Kota Semarang. Dalam bab ini menjelaskan tentang muatan yang terkandung dalam Undang-undang No. 13 tahun 2008, pelayanan Jamaah Haji Kenmenag Kota Semarang Tahun 2009 dilihat dari implementasi Undang-undang No. 13 tahun 2008, hambatan dalam

(28)

memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 serta apa yang semestinya dilakukan oleh Kenmenag Kota Semarang dalam memberikan pelayanan Jamaah Haji dilihat dari implementasi Undang-Undang No. 13 tahun 2008.

Kemudian yang terakhir BAB V. Penutup. Dalam bab ini berisikan kesimpulan, saran dan lampiran.

(29)

BAB II

GAMBARAN UMUM KEMENTERIAN AGAMA

KOTA SEMARANG

A. Sejarah Kementerian Agama Kota Semarang

Kementerian Agama merupakan lembaga negara yang berada di bawah kementrian agama. Adanya Kementerian Agama sebagai bagian dari tata pemerintahan Negara Republik Indonesia terbentuk melalui sejarah perjuangan yang panjang.

Pada tanggal 19 Agustus 1945, dibicarakan jumlah kementrian yang akan dibentuk serta tugasnya masing-masing, yang disiapkan oleh sub panitia terdiri dari: Subarjo, Sutarjo, Kasman Singodimedjo. Dalam rapat ini Laturhari

keberatan dibentuknya kementrian agama, masalahnya siapa yang akan menjadi menteri agama yang akan diterima semua pihak. Saat itu disarankan agar masalah agama dipisahkan dari urusan kenegaraan dan Negara tidak mencampuri urusan agama.

Setelah 3 (tiga) bulan Badan Proklamasi Kemerdekaan Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) yang waktu itu merupakan parlemen

menyelenggarakan sidang plenonya di Jakarta bertempat di gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Salemba pada tanggal 24 s/d 28 Nopember 1945 yang dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden dan para menteri serta utusan KNI daerah seluruh Indonesia.

(30)

Setelah pemerintah menyampaikan keterangan dalam sidang tersebut maka disampaikan pandangan umum wakil-wakil KNI daerah, wakil KNI, karesidenan Banyumas yang terdiri dari KH. Abu Dardiri dan M. Soekoso Wiejo Saputro dengan juru bicara KH. Saleh Suaidi mengajukan usul: “Supaya dalam Negara Indonesia yang sudah merdeka ini hendaknya janganlah urusan agama hanya diambilkan kepada kementrian pendidikan dan kebudayaan saja, tetapi

hendaknya didirikan kementrian agama yang khusus dan tersendiri” (DEPAG RI, 2004: 15).

Usul tersebut mendapatkan sambutan dan dukungan secara aklamasi dari para anggota BpKNIP (semacam MPR saat itu) dan juga mendapatkan dukungan penuh dari utusan daerah, seperti utusan dari Bogor, yang terdiri dari Muh. Nasir, Dr. Mawardi, Dr. Marzuki Mahdi dan N. Kartosudarmo. Dengan diterimanya usul tersebut secara aklamasi oleh anggota BPKNIP tersebut merupaka suatu consensus yang membuktikan bahwa adanya Kementerian Agama di Negara Republik Indonesia adalah kesepakatan atas keinginan seluruh rakyat Indonesia.

Adanya Kementerian Agama RI merupakan bukti bahwa Indonesia bukanlah Negara sekuler dan sebagai pengejawantahan sila ke 1 Pancasila dan ketentuan pasal 29 UUD 1945 dan motivasi departemen agama selain merupakan ciri masyarakat Indonesia yang religius, juga untuk menampung, menyalurkan aspirasi keagamaan, mengembangkan sekaligus membina umat beragama di Indonesia.

(31)

Berdirinya kementrian agama lebih lanjut disyahkan berdasarkan penetapan pemerintah nomor: I/SD, tanggal, 3 Januari 1946 bertepatan tanggal, 24

Muharram 1364 H dan sebagai menteri agama yang pertama adalah H. Rosyidi, BA (Prof. Dr. KH. Rosyidi terakhir sampai meninggal dunia sebagai guru besar hukum islam pada Universitas Indonesia). Untuk pegangan lebih lanjut telah dikeluarkan oleh menteri agama nomor 6 tahun 1956, tanggal 1 Maret 1956, yang menetapkan bahwa tanggal 3 Januari 1946 sebagai hari ulang tahun Kementerian Agama RI, yang kemudian dalam rangka peringatan hari ulang tahun

Kementerian Agama yang ke 34 tanggal, 3 Januari 1980, peringatan tersebut diubah sebutannya menjadi “Hari Amal Bakti Departemen Agama” disingkat “HAB DEPAG”. Nilai kunjungan para pendiri departemen yang perlu terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi penerus adalah motto “Ikhlas Beramal” yang diabadikan dalam Departemen Agama. Motto tersebut

dilatarbelakangi oleh perilaku para pemimpin dan seluruh aparat departemen agama pada awal berdirinya yang memiliki watak, sifat dasar yang dipedomani sebagai sistem nilai yang dihayati dalam melaksanakan tugas pekerjaan yaitu “sederhana, ikhlas, berpandang jauh ke depan, populis dan sebagai pegawai pejuang serta mempunyai jiwa persatuan dan kesatuan”.

B. Visi dan Misi

Visi Kementerian Agama adalah:

“Menjadi nilai-nilai agama sebagai landasan moral spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.

(32)

Misi Kementerian Agama adalah: 1. Meningkatkan kualitas pendidikan agama 2. Meningkatkan kualitas pelayanan ibadah 3. Meningkatkan pelayanan peradilan 4. Meningkatkan lembaga keagamaan 5. Meningkatkan umat beragama

6. Meningkatkan penghayatan moral dan etika keagamaan 7. Penghargaan atas keanekaragaman keyakinan kenegaraan

(33)

C. Struktur Organisasi Kementerian Agama Kota Semarang

Kepala

KENMENAG KOTA SEMARANG

H. Taufik Rahman, SH, M. Hum

Kepala Sub Bag. TU H. Much. Sapari, S. Ag

1. Kasi Zakat Wakaf Dra. Chumairoh 2. Kasi Bimas Kristen

Tentrem, S. Th 3. Kasi Bimas Katolik

Emanuel Bambang Widyanarko, SS Kasi Penamas Drs. Ahmad Zainuddin Kasi Pekapontren H. Azhar Wibowo, SH, M.Pdi Kasi Mapenda

H. Imron Rosyadi, S. Pdi

Kasi Gara Haji&Umroh

H. Muchib Mustaqim, S. Ag Kasi Urais Drs. H. A. Syahrudin, M. Ag Analis Kepegawaian H. Rahmad Pamudji, SH, MM Perencana H. Aris Kurniansyah, SE Pranata Humas Arif Isdar Setiawan, S.

Pdi Ismiyati Farida

(34)

D. Struktur Organisasi Gara Haji dan Umroh

E. Tugas dan Fungsi Gara Haji dan Umroh 1. Staf Bagian Pengelola Dana DIPA

Bagian ini mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan masalah pembiayaan untuk kegiatan operasional Gara Haji dan Umroh.

2. Staf Bagian Pendaftaran Haji

Pada bagian ini melayani hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran Haji, meliputi segala informasi berkaitan dengan pendaftaran, pembayaran dan pelunasan haji.

3. Staf Bagian Bimbingan dan Penyuluhan Haji

Pada bagian ini melayani bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan kepada jama’ah sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah Haji.

Kasi Gara Haji & Umroh

H. Muchib Mustaqim, S. Ag Staf Bagian Administrasi, Mutasi dan Pembatalan Haji Joko Triyono Staf Bagian Bimbingan dan Penyuluhan Haji Drs. H. Abd.Ghofur Staf Bagian Pengelola Dana DIPA Ida Fatmawati Staf Bagian Dokumen dan SISKOHAT Muwardi Tantowi Jauhari Staf Bagian Pendaftaran Haji Diah Maharani

(35)

Bimbingan yang dilakukan sebelum ibadah haji meliputi manasik,

bimbingan kesehatan dan kewanitaan. Sedangkan penyuluhan yang dilakukan sesudah melaksanakan ibadah Haji meliputi kegiatan pengajian, dan

perkumpulan rutin Haji Kota Semarang.

4. Staf Bagian Administrasi, Mutasi dan Pembatalan Haji

Pada bagian ini melayani segala hal yang berkaitan dengan administrasi. Bagian ini juga melayani Mutasi atau perpindahan Jama’ah baik itu dari atau ke luar daerah Kota Semarang. Pada bagian ini juga melayani permasalahan yang berkaitan dengan pembatalan Haji.

5. Staf Bagian Dokumen dan Siskohat

Pada bagian ini melayani Jama’ah dalam hal dokumen. Hal-hal yang berkenaan dengan dokumentasi Haji semua dikerjakan oleh bidang ini.

(36)

BAB III

PELAYANAN JAMA’AH HAJI KOTA SEMARANG

TAHUN 2009

A. Persyaratan

Pelaksanaan ibadah haji yang diselenggarakan oleh Departemen Agama sering disebut sebagai haji mandiri. Pelayanan yang ada di dalam haji mandiri antara lain: (Depag RI, 2002: 100)

1. Persyaratan

Setiap Warga Negara Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Beragama Islam

b. Berdomisili di Indonesia c. Sehat jasmani dan rohani

d. Bagi calon jamaah haji wanita harus:

i Diikuti oleh suami atau mahrom yang sah ii Tidak dalam keadaan hamil

e. Bukti setor Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun yang bersangkutan.

(37)

B. Pendaftaran Haji

2.1 Prosedur pendaftaran calon jamaah haji dengan sistem tabungan. Yang akan melunasi BPIH adalah sebagai berikut:

a. Calon haji memeriksakan kesehatan ke Puskesmas domisili calon jamaah haji untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat.

b. Apabila calon jamaah haji pada waktu membuka tabungan haji belum mengisi SPPH, maka calon jamaah haji tersebut datang ke Kantor Kementerian Agama Kab/Kota domisili calon jamaah haji untuk mengisi SPPH dan ditandatangani oleh calon jamaah haji yang bersangkutan dan petugas Kantor Kementerian Agama Kab/Kota setempat.

c. Calon jamaah haji dengan membawa SPPH datang ke Kantor BPS (Bank Penerima Setoran) BPIH tempat menyetor semula dengan membawa buku tabungan haji dan foto berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 2 lembar untuk ditempel pada lembar bukti setor lunas BPIH.

d. Kantor BPS BPIH melakukan konfirmasi calon jamaah haji sesuai dengan data yang di entry pada saat pelunasan tabungan ke dalam SISKOHAT BPS BPIH.

e. Calon jamaah haji melunasi BPIH sesuai dengan Keputusan Presiden RI tantang BPIH.

(38)

lembar, meliputi:

i. Lembar pertama asli (warna putih) dibubuhi materai Rp. 6.000,-dan pasfoto berwarna ukuran 3 x 4 untuk calon jamaah haji. ii. Lembar kedua (warna merah muda) dibubuhi pasfoto berwarna

ukuran 3 x 4 untuk pemvisaan.

iii. Lembar ketiga (warna kuning) untuk Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.

iv. Lembar keempat (warna biru) untuk lampiran SPMA, diserahkan kepada PPIH embarkasi pada saat calon jamaah haji masuk asrama.

v. Lembar kelima (warna putih) untuk BPS BPIH.

g. Calon jamaah haji setelah menerima bukti setor BPIH lunas segera mendaftarkan diri kepada Kantor Kementerian Agama Kab/Kota domisili selambat-lambatnya 10 hari kerja setelah menerima lembar bukti setor lunas BPIH, dengan menyerahkan:

i. Surat keterangan kesehatan dari puskesmas domisili.

ii. Foto Copy KTP yang masih berlaku dengan memperlihatkan aslinya.

iii. Bukti setor BPIH lembar kedua (warna merah muda) dan ketiga (warna kuning).

iv. Pasfoto berwarna terbaru, tidak berpakaian dinas dan tidak berkaca mata hitam (boleh berjilbab bagi wanita dan berpeci

(39)

bagi pria) ukuran 3 x 4 sebanyak 16 lembar dan 4 x 6 sebanyak 2 lembar untuk paspor haji, SPMA dan tanda pengenal jamaah. v. SPPH lembar kedua (warna merah muda).

h. Petugas Kantor Kementerian Agama Kab/Kota setelah menerima kelengkapan persyaratan pendaftaran dari calon jamaah haji:

i. Meneliti kelengkapan pendaftaran calon jamaah haji.

ii. Mencatat nama dan identifikasi calon jamaah haji ke buku agenda pendaftaran dan memberikan tanda bukti pendaftaran yang telah ditandatangani petugas haji Kementerian Agama Kab/Kota.

iii. Membuat laporan pendaftaran calon jamaah haji ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi.

2.2 Prosedur pendaftaran calon jamaah haji dengan sistem lunas adalah sebagai berikut:

a. Calon haji memeriksakan kesehatan ke Puskesmas domisili calon jamaah haji untuk mendapatkan Surat Keterangan sehat.

b. Calon jamaah haji datang ke Kantor Kementerian Agama Kab/Kota domisili calon jamaah haji untuk mengisi formulir SPPH dan ditandatangani oleh calon jamaah haji yang bersangkutan dan petugas Kantor Kementerian Agama Kab/Kota setempat.

c. Calon jamaah haji dengan membawa SPPH datang ke BPS BPIH yang tersambung dengan SISKOHAT untuk menyetor BPIH dengan

(40)

membawa pasfoto berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 2 lembar untuk ditempel pada lembar bukti setor lunas BPIH.

d. Petugas BPS BPIH melakukann entry data calon jamaah haji ke SISKOHAT berdasarkan SPPH.

e. Petugas BPS BPIH mencetak bukti setor BPIH lunas sebanyak 5 (lima) lembar, meliputi:

i. Lembar pertama asli (warna putih) dibubuhi materai Rp.6.000,-dan pasfoto berwarna ukuran 3 x 4 untuk calon jamaah haji. ii. Lembar kedua (warna merah muda) dibubuhi pasfoto berwarna

ukuran 3 x 4 untuk pemvisaan.

iii. Lembar ketiga (warna kuning) untuk Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.

iv. Lembar keempat (warna biru) untuk lampiran SPMA, diserahkan kepada PPIH embarkasi pada saat calon jamaah haji masuk asrama.

v. Lembar kelima (warna putih) untuk BPS BPIH.

f. Calon jamaah haji setelah menerima bukti setor BPIH lunas segera mendaftarkan diri kepada Kantor Kementerian Agama Kab/Kota domisili selambat-lambatnya 10 hari kerja setelah menerima lembar bukti setor lunas BPIH, dengan menyerahkan:

i. Surat keterangan kesehatan dari Puskesmas domisili.

(41)

aslinya.

iii. Bukti setor BPIH lembar kedua (warna merah muda) dan ketiga (warna kuning).

iv. Pasfoto berwarna terbaru, tidak berpakaian dinas dan tidak berkaca mata hitam (boleh berjilbab bagi wanita dan berpeci bagi pria) ukuran 3 x 4 sebanyak 16 lembar dan 4 x 6 sebanyak 2 lembar untuk paspor haji, SPMA dan tanda pengenal jamaah. v. SPPH lembar kedua (warna merah muda).

g. Petugas Kantor Kementerian Agama Kab/Kota setelah menerima kelengkapan persyaratan pendaftaran dari calon jamaah haji:

i. Meneliti kelengkapan pendaftaran calon jamaah haji.

ii. Mencatat nama dan identifikasi calon jamaah haji ke buku agenda pendaftaran dan memberikan tanda bukti pendaftaran yang telah ditandatangani petugas haji Kementerian Agama Kab/Kota.

iii. Membuat laporan pendaftaran calon jamaah haji ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi.

2.3 Waktu pendaftaran

a. Waktu penyetoran atau pendaftaran haji dibuka setelah diumumkan keputusan Presiden RI tentang besarnya BPIH dilakukan pada setiap hari kerja, yang diatur sebagai berikut:

(42)

ii Indonesia Bagian Tengah pukul 08.30 - 17.00 WITA iii Indonesia Bagian Timur pukul 09.30 - 18.00 WIT

b. Waktu menabung menyetor BPIH dibuka sepanjang tahun setiap hari kerja sesuai dengan jam buka kas masing-masing BPS BPIH.

2.4 Mengirimkan bukti setor BPIH lembar kedua (warna merah muda) ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi (Depag RI, 2004: 5-7). 2.5 Menyusun pengelompokkan calon jamaah haji untuk dijadikan bahan

penyusunan praman kloter.

2.6 Menempelkan pasfoto calon jamaah haji pada paspor dengan ketentuan: a. Ukuran pasfoto sesuai dengan masing-masing halaman.

b. Satu lembar pasfoto ukuran 4 x 6 ditempelkan pada kulit belakang paspor dengan posisi sudut kanan atas.

c. Penempelan harus menggunakann lem yang kuat dan tidak diperkenankan menggunakan steples.

2.7 Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota atas nama Menteri Agama menandatangani paspor pada halaman 2 dan halaman A dengan ketentuan:

a. Halaman 2 ditandatangani dan dibubuhi stempel dinas pada sebelah kiri tanda tangan dan mencantumkan nama jabatan, nama penandatangan dan nomor induk pegawai (NIP).

b. Halaman lampiran A ditandatangani hanya mencantumkan nama jabatan tanpa nama penandatangan dan nomor induk pegawai (NIP),

(43)

sedangkan pembubuhan stempel dinas cukup satu kali yaitu mengenai pasfoto calon jamaah haji.

2.8 Pembubuhan cap dinas (stempel) pada paspor agar mengenai pasfoto dan pada halaman yang ditandatangani Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.

2.9 Meneliti dan mencocokan:

a. Data calon jamaah haji antara bukti setor BPIH lembar kedua (warna merah muda) dengan data paspor haji.

b. Pasfoto pada bukti setor BPIH lembar kedua (warna merah muda) dengan pasfoto pada paspor haji.

c. Kelengkapan halaman lembaran paspor haji yang terdiri dari 12 halaman dengan nomor halaman 1 sampai 12 serta 12 lembar lampiran dengan nomor halaman menggunakan alfabetis A sampai dengan L. 2.10Mengirimkan paspor kembali dan bukti setor BPIH lembar kedua (warna

merah muda) ke kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi (Depag RI, 2004: 5-7).

Berdasarkan data Kementerian Agama Kota Semarang, jumlah Jama’ah Haji Kota Semarang tahun 2009 M / 1430 H adalah 2.300 orang jama’ah. Jumlah ini terbagi atas 1.071 orang yang berjenis kelamin pria dan 1.229 orang yang berjenis kelamin wanita. Keseluruhan dari Jama’ah tersebut kemudian dibagi ke dalam 8 (delapan) kloter, yaitu kloter 37, 38, 46, 66, 75, 84, 87 dan 88.

(44)

adalah sebesar U$ 3,407 atau sebesar Rp. 34. 000. 000,- dengan kisaran U$ 1 sama dengan Rp. 10. 000,-.

C. Tata Cara Pengurusan Paspor 1. Pengertian Paspor

a. Surat Perjalanan Republik Indonesia (SPRI) adalah dokumen resmi yang bdikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara (Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992, Pasal 1 angka 3);

b. Paspor adalah identitas diri pribadi yang berlaku secara Internasional dan dipergunakan untuk perjalanan antar Negara (Departemen Agama RI, 2009:9).

2. Jenis Paspor a. Paspor Biasa b. Paspor Diplomatik c. Paspor Dinas

d. Paspor untuk orang asing

e. Surat Perjalanan Laksana Paspor untuk warga Negara Indonesia

f. Surat Perjalanan Laksana Paspor Dinas (Departemen Agama RI, 2009:9). 3. Tata Cara Pengurusan Paspor Jama’ah Haji

a. Jama’ah Haji datang ke kantor Imigrasi terdekat dengan membawa : i. Fotokopi KTP

(45)

iii. Fotokopi Akte Kelahiran/Surat Kenal Lahir/Surat Nikah/Ijazah; Ijazah tidak ada, maka dapat diganti dengan Surat Keterangan tambahan identitas dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota setempat.

b. Permintaan penerbitan paspor biasa bagi Jama’ah Haji dapat diajukan secara kolektif oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota domisili Jama’ah Haji kepada Kepala Kantor Imigrasi yang wilayah kerjanya.

c. Meliputi domisili Jama’ah Haji atau di Kantor Imigrasi terdekat.

d. Bagi pemegang paspor yang akan digunakan untuk keperluan Ibadah haji tidak dapat diambil untuk keperluan apapun.

e. Proses di Kantor Imigrasi :

i. Mengisi Formulir SPRI (PERDIM 11), nama terdiri dari 3 kata contoh “Evi Alhudari Arbani” bila nama Jama’ah Haji tidak memiliki 3 kata, maka dapat ditambah nama ayah dan atau kakek;

ii. Menyerahkan Surat Pengantar penerbitan paspor Jama’ah Haji dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan berkas nomor 1 s.d. 6 pada huruf A kepada Petugas Imigrasi di Loket Khusus untuk pelayanan Haji;

iii. Pengambilan foto, sidik jari dan tandatangan.

iv. Paspor yang sudah diterbitkan dan diterapkan cap “Jama’ah Haji Indonesia (Indonesian Haji)” oleh Imigrasi, kemudian diserahkan

(46)

kepada petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai domisili.

v. Biaya pembuatan paspor Jama’ah Haji dan petugas haji dibebankan kepada Kementerian Agama.

vi. Bagi Jama’ah Haji yang telah memiliki paspor, dapat digunakan apabila masa berlaku paspor tersebut sekurang-kurangnya 6 bulan terhitung sejak keberangkatan Jama’ah Haji terakhir. Paspor tersebut diserahkan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai domosili.

f. Proses di Kantor Embarkasi :

Paspor yang sudah divisa diserahkan kepada Jama’ah Haji di Embarkasi (Departemen Agama RI, 2009:13).

4. Mekanisme Penyelesaian Paspor bagi Jama’ah Haji oleh Petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota

a. Database Siskohat menjadi acuan pengendalian pengurusan paspor.

b. Melakukan koordinasi dengan Kantor Imigrasi terdekat untuk menyusun jadwal pengurusan paspor biasa untuk Jama’ah Haji dan petugas Haji dari wilayah kerjanya.

c. Mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi untuk penempatan petugas pada Kantor Imigrasi dan pengambilan paspor.

(47)

terlebih dahulu meneliti kebenarannya.

e. Membuat surat pengantar penerbitan paspor Jama’ah Haji.

f. Memverifikasi data antara paspor dengan bukti setor lunas, apabila terdapat ketidaksesuaian data yang tidak merubah makna keaslian identitas yang bersangkutan maka segera dilakukan perbaikan melalui Siskohat sesuai aturan yang berlaku. Adapun data dasar yang berbeda sama sekali dengan keaslian identitas (nama, nama orang tua, tempat lahir, tanggal, bulan dan tahun kelahiran) maka akan dilakukan proses lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

g. Menceklis persyaratan pada lembar pengantar penerbitan paspor Jama’ah Haji (Departemen Agama RI, 2009:17).

D. Pembimbingan Jama’ah Haji

Setelah menyelesaikan proses pendaftaran, kemudian Jama’ah Haji dibagi ke dalam beberapa kelompok atau rombongan. Kelompok inilah yang kemudian dijadikan sebagai kelompok bimbingan.

Kelompok bimbingan atau rombongan biasanya dipimpin oleh 1 (satu) orang ketua rombongan (karom), 1 (satu) orang pembimbing dan 1 (satu) orang tenaga kesehatan.

Kementerian Agama Kota Semarang melakukan bimbingan sebanyak 10 kali. Dalam tiap pertemuan bimbingan, Jama’ah memperoleh beberapa materi diantaranya bimbingan manasik haji, bimbingan peribadatan yang dilakukan selama haji, cara-cara yang dapat memeperlancar atau mempermudah

(48)

pelaksanaan ibadah haji, bimbingan tentang kesehatan dan kewanitaan serta bimbingan-bimbingan lain yang berkaitan dengan ibadah haji.

E. Pemberangkatan Jama’ah Haji

Pada uraian awal telah kami sampaikan bahwa Jama’ah Haji Kota Semarang terbagi ke dalam 8 (delapan) kloter. Kloter merupakan kelompok terbang. Kedelapan kloter tersebut adalah Kloter 37, 38, 46, 66, 75, 84, 87 dan 88.

Berikut ini adalah jadwal pemberangkatan Jama’ah Haji Kota Semarang tahun 2009 :

i. Kloter 37 berangkat tanggal 3 November 2009 ii. Kloter 38 berangkat tanggal 4 November 2009 iii. Kloter 46 berangkat tanggal 7 November 2009 iv. Kloter 66 berangkat tanggal 14 November 2009 v. Kloter 75 berangkat tanggal 16 November 2009 vi. Kloter 84 berangkat tanggal 19 November 2009

vii. Kloter 87 dan 88 berangkat tanggal 20 November 2009.

Kedelapan kloter tersebut diberangkatkan dari Islamic Center Semarang untuk kemudian langsung menuju Asrama Haji Dono Hudan Solo.

F. Kepulangan Jama’ah Haji

Setelah Jama’ah Haji selesai melaksanakan Ibadah Haji maka proses pelayanan yang terakhir adalah pemulangan Jama’ah Haji kembali ke Kota Semarang. Dari delapan kloter yang telah kami sampaikan di atas, kepulangan Jama’ah Haji Kota Semarang juga didasarakan kepada Kloter. Berikut jadwal

(49)

kepulangan Jama’ah Haji Kota Semarang tahun 2009 :

i. Kepulangan kloter 37 berlangsung tanggal 14 Desember 2009 ii. Kepulangan kloter 38 berlangsung tanggal 14 Desember 2009 iii. Kepulangan kloter 46 berlangsung tanggal 18 Desember 2009 iv. Kepulangan kloter 66 berlangsung tanggal 25 Desember 2009 v. Kepulangan kloter 75 berlangsung tanggal 27 Desember 2009 vi. Kepulangan kloter 84 berlangsung tanggal 30 Desember 2009

(50)

BAB IV

ANALISIS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN

2008 TERHADAP PELAYANAN JAMA’AH HAJI

DI KENMENAG KOTA SEMARANG

A. Muatan UU. No. 13 Tahun 2008

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2008

TENTANG

PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang:

a. bahwa negara Republik Indonesia menjamin kemerdekaan warga negaranya untuk beribadah menurut agamanya masing-masing; b. bahwa ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib

dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang mampu menunaikannya;

c. bahwa upaya penyempurnaan sistem dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji perlu terus dilakukan agar pelaksanaan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan lancar dengan menjunjung tinggi semangat keadilan, transparansi, dan akuntabilitas publik;

d. bahwa Undang-Undang Nomor Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan tuntutan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru;

(51)

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;

Mengingat Pasal 20, Pasal 20 A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 29 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1 . Ibadah Haji adalah rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap orang Islam yang mampu menunaikannya.

2. Penyelenggaraan lbadah Haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan pelaksanaan lbadah Haji yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan pedindungan Jemaah Haji. 3. Jemaah Haji adalah Warga Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah

mendaftarkan diri untuk menunaikan fbadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

(52)

5. Pemerintah adalah Pemerintah Republik Indonesia.

6. Dewan Perwakilan Rakyat Republik lndonesia yang selanjutnya disebut DPR, adalah Dewan Perwakdan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

7. Komisi Pengawas Haji Indonesia yang selanjutnya disebut KPHI, adalah lembaga mandiri yang dibentuk untuk melakukan pengawasan terhadap Penyelenggaraan lbadah Haji.

8. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, yang selanjutnya disebut BPIH, adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan Ibadah Haji.

9. Pembinaan lbadah Haji adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan dan pembimbingan bagi Jemaah Haji.

10. Pelayanan Kesehatan adalah pemeriksaan, perawatan, dan pemeliharaan kesehatan Jemaah Haji.

11. Paspor Haji adalah dokumen perjalanan resmi yang diberikan kepada Jemaah Haji untuk menunaikan Ibadah Haji.

12. Akomodasi adalah perumahan atau pemondokan yang disediakan bagi Jemaah Haji selama di embarkasi atau di debarkasi dan di Arab Saudi.

13. Transportasi adalah pengangkutan yang disediakan bagi Jemaah Haji selama Penyelenggaraan Ibadah Haji.

14. Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus adalah Penyelenggaraan Ibadah Haji yang pengelolaan, pembiayaan, dan pelayanannya bersifat khusus.

I 5. Penyelenggara Ibadah Haji Khusus adalah pihak yang menyelenggarakan Ibadah Haji yang pengelolaan, pembiayaan, dan pelayanannya bersifat khusus. 16. Ibadah Umrah adalah umrah yang diaksanakan di luar musim Haji.

17. Dana Abadi Umat, yang selanjutnya disebut DAU, adalah sejumlah dana yang diperoleh dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat dan/atau sisa biaya

(53)

operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji serta sumber lain yang halal dan tidak mengikat

18. Badan Pengeloa Dana Abadi Umat yang selanjutnya disebut BP DAU, adalah badan untuk menghimpun, mengeloa, dan mengembangkan Dana Abadi Umat. I 9. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di

bidang agama.

BAB II

ASAS DAN TUJUAN Pasal 2

Penyelenggaraan Ibadah Haji dilaksanakan berdasarkan asas keadilan, profesionalitas, dan akuntablitas dengan prinsip nirlaba.

Pasal 3

Penyelenggaraan lbadah Haji bertujuan memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya,bagi Jemaah Haji sehingga Jemaah Haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam.

BAB III

HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu

Hak dan Kewajiban Warga Negara Pasal 4

(1) Setiap Warga Negara yang beragama Islam berhak untuk menunaikan Ibadah Haji dengan syarat:

a. berusia paling rendah 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah; dan b. mampu membayar BPIH.

(2) Ketentuan lebih tanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

(54)

Pasal 5

Setiap Warga Negara yang akan menunaikan lbadah Haji berkewajiban sebagai berikut

a. mendattarkan diri kepada Panitia Penyelenggara lbadah Haji kantor Departemen Agama kabupaten/kota setempat;

b. membayar BPIH yang disetorkan melalui bank penerima setoran; dan

c. memenuhi dan mematuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam Penyelenggaraan lbadah Haji.

Bagian Kedua Kewajiban Pemerintah

Pasal 6

Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dengan menyediakan layanan administrasi, bimbingan Ibadah Haji, Akomodasi, Transportasi, Pelayanan Kesehatan, keamanan, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh Jemaah Haji.

Bagian Ketiga Hak Jemaah Haji

Pasal 7

Jemaah Haji berhak memperoleh pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dalam menjalankan Ibadah Haji, yang meliputi:

a. pembimbingan manasik haji dan/atau materi lainnya, baik di tanah air, di perjalanan, maupun di Arab Saudi;

b. pelayanan Akomodasi, konsumsi, Transportasi, dan Pelayanan Kesehatan yang memadai, baik di tanah air, selama di perjalanan, maupun di Arab Saudi; c. perlindungan sebagai Warga Negara Indonesia;

(55)

d. penggunaan Paspor Haji dan dokumen lainnya yang diperlukan untuk pelaksanaan lbadah Haji; dan

e. pemberian kenyamanan Transportasi dan pemondokan selama di tanah air, di Arab Saudi, dan saat kepulangan ke tanah air.

BAB IV

PENGORGANISASIAN Bagian Kesatu

Umum Pasal 8

(1) Penyelenggaraan lbadah Haji meliputi unsur kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan.

(2) Kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan lbadah Haji merupakan tugas nasional dan menjadi tanggung jawab Pemerintah.

(3) Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri mengoordinasikannya dan/atau bekerja sama dengan masyarakat, departemen/instansi terkait, dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. (4) Pelaksanaan dalam Penyelenggaraan lbadah Haji sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat

(5) Dalam rangka pelaksanaan Penyelenggaraan lbadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pemerintah membentuk satuan keria di bawah Menteri. (6) Pengawasan Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas dan tanggung

jawab KPHI.

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 9 Penyelenggaraan Ibadah Haji dikoordinasi oleh:

(56)

a. Menteri di tingkat pusat b. Gubernur di tingkat provinsi;

c. Bupati/Wali Kota di tingkat kabupaten/kota dan

d. Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi.

Pasal 10

(1) Pemerintah sebagai penyelenggara lbadah Haji berkewajiban mengelola dan melaksanakan Penyelenggaraan lbadah Haji.

(2) Pelaksana Penyelenggaraan lbadah Haji berkewajiban menyiapkan dan menyediakan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan lbadah Haji sebagai berikut:

a. penetapan BPIH; b. pembinaan lbadah Haji;

c. penyediaan Akomodasi yang layak; d. penyediaan Transportasi;

e. penyediaan konsumsi;

f. Pelayanan Kesehatan; dan/atau g. pelayanan administrasi dan dokumen.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Penyelenggara Ibadah Haji diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Pasal 11

(1) Menteri membentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di tingkat pusat, di daerah yang memiliki embarkasi, dan di Arab Saudi.

(2) Dalam rangka Penyelenggaraan Ibadah Haji, Menteri menunjuk petugas yang menyertai Jemaah Haji, yang terdiri atas:

(57)

b. Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI); dan c. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

(3) Gubernur atau bupati/waii kota dapat mengangkat petugas yang menyertai Jemaah Haji, yang terdiri atas:

a. Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD); dan b. Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD).

(4) Biaya operasional Panitia Penyelenggara Ibadah Haji dan petugas operasional pusat dan daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan mekanisme pengangkatan petugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga

Komisi Pengawas Haji Indonesia Pasal 12

(1) KPHI dibentuk untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia.

(2) KPHI bertanggung jawab kepada Presiden.

(3) KPHI bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap Penyelenggaraan lbadah Haji serta memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan Penyelenggaraan lbadah Haji Indonesia.

(4) KPHI memiliki fungsi:

a. memantau dan menganalisis kebijakan operasional Penyelenggaraan lbadah Haji Indonesia;

b. menganalisis hasil pengawasan dari berbagai lembaga pengawas dan masyarakat;

c. menerima masukan dan saran masyarakat mengenai Penyelenggaraan Ibadah Haji; dan

(58)

d. merumuskan pertimbangan dan saran penyempurnaan kebijakan operasional Penyelenggaraan lbadah Haji.

(5) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KPHI dapat bekerja sama dengan pihak terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6) KPHI melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden dan DPR paling sedikit I (satu) kali dalam I (satu) tahun.

Pasal 13 KPHI dalam melaksanakan tugasnya bersifat mandiri.

Pasal 14 (1) KPHI terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota.

(2) Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur masyarakat 6 (enam) orang dan unsur Pemerintah 3 (tiga) orang.

(3) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat Islam, dan tokoh masyarakat Islam.

(4) Unsur Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditunjuk dari departemen/instansi yang berkaitan dengan Penyelenggaraan lbadah Haii. (5) KPHI dipimpin oleh seorang ketua dan seorang wakil ketua.

(6) Ketua dan Wakil Ketua KPHI dipilih dari dan oleh anggota Komisi.

PasaI 15

Masa kerja anggota KPHI dijabat selama 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

PasaI 16

Anggota KPHI diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri setelah mendapat pertimbangan DPR.

(59)

Pasal 17

Untuk dapat diangkat menjadi anggota KPHI, calon anggota harus memenuhi persyaratan:

a. Warga Negara Indonesia;

b. beruisia paling rendah 40 (empat puluh) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun;

c. mempunyai komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas Penyelenggaraan lbadah Haji;

d. mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas dan mendalam tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;

e. tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana kejahatan; f. mampu secara rohani dan jasmani; dan

. bersedia bekerja sepenuh waktu.

Pasal 18

Segala pembiayaan yang diperlukan untuk melaksanaan tugas KPHI dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Pasal 19

(1) Dalam melaksanakan tugasnya KPHI dibantu oleh sekretariat

(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atas pertimbangan KPHI.

(3) Sekretaris dalam melaksanakan tugasnya secara fungsional bertanggung jawab kepada pimpinan KPHI

(60)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota KPHI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 diatur dengan Peraturan Presiden.

BAB V

BIAYA PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI Pasal 21

(1) Besaran BPIH ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri setelah mendapat persetujuan DPR.

(2) BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk keperluan biaya Penyelenggaraan lbadah Haji.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan BPIH diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 22

(1) BPIH disetorkan ke rekening Menteri melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang ditunjuk oleh Menteri.

(2) Penerimaan setoran BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan ketentuan kuota yang telah ditetapkan.

Pasal 23

(1) BPIH yang disetor ke rekening Menteri melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dikeloia oleh Menteri dengan mempertimbangkan nilai manfaat

(2) Nilai manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan langsung untuk membiayai belanja operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Pasal 24

(1) Jemaah Haji menerima pengembalian BPIH dalam hal:

(61)

b. batal keberangkatannya karena alasan kesehatan atau alasan lain yang sah.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembalian dan jumlah BPIH yang dikembalikan diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 25

(1) Laporan keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji disampaikan kepada Presiden dan DPR paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Penyelenggaraan lbadah Haji selesai.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila terdapat sisa dimasukkan dalam DAU.

BAB VI

PENDAFTARAN DAN KUOTA Pasal 26

(1) Pendaftaran Jemaah Haji dilakukan di Panita Penyelenggara Ibadah Haji dengan mengikuti prosedur dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur dan persyaratan pendaftran diatur

dengan Peraturan Menteri.

Pasal 27

Ketentuan lebih lanjut mengenai Warga Negara di luar negeri yang akan menunaikan lbadah Haji diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 28

(1) Menteri menetapkan kuota nasional, kuota haji khusus, dan kuota provinsi dengan memperhatikan prinsip adil dan proporsional.

(2) Gubemur dapat menetapkan kuota provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam kuota kabupaten/kota.

(62)

(3) Dalam hal kuota nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi pada hari penutupan pendaftaran, Menteri dapat memperpanjang masa pendaftaran dengan menggunakan kuota bebas secara nasional.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kuota diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB VII PEMBINAAN

Pasal 29

(1) Dalam rangka Pembinaan Ibadah Haji, Menteri menetapkan: a. mekanisme dan prosedur Pembinaan Ibadah Haji; dan

b. pedoman pembinaan, tuntunan manasik, dan panduan perjalanan Ibadah Haji.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa memungut biaya tambahan dari Jemaah Haji di luar BPIH yang telah ditetapkan.

Pasal 30

(1) Dalam rangka Pembinaan lbadah Haji, masyarakat dapat memberikan bimbingan lbadah Haji, baik dilakukan secara perseorangan maupun dengan membentuk kelompok bimbingan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bimbingan Ibadah Haji oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB VIII KESEHATAN

Pasal 31

(1) Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Ibadah Haji, baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji, dilakukan oleh menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: (1) perkembangan usaha kelompok baik dari segi usaha maupun dari aspek finansial kelompok usaha; (2) produktivitas

PROGRAM STUDI MANAJEMEN INFORMATIKA (D3) DAN KOMPUTERISASI AKUNTANSI (D3) KELAS

Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dalam pelaksanaan DAK Nonfisik BOP PAUD, masing-masing pengelola program di pemerintah pusat, pemerintah daerah, Satuan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan, Yayasan Atikan Sunda Bandung telah berupayamelestarikan kesenian karawitan, melalui ekstrakurikuler kesenian

This indicated that the alternative hypothesis stating that using Realia Media gives effect toward student s’ writing Procedure Text at ninth grade in MTs Islamiyah

jaringan sosial dapat dibangun dari interaksi yang berbeda, WBSN adalah lebih dari sekedar potensi sumber data jaringan sosial, yang merupakan situs web atau kerangka

Sebagai seorang sekretaris kantor harus menghormati para tamu yang berkunjung di kantor, serta dengan senang hati melayaninya. Untuk itu sekretaris perlu mempelajari