• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kesehatan STIKes IMC Bintaro Volume III, Nomor 2 Juli 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Kesehatan STIKes IMC Bintaro Volume III, Nomor 2 Juli 2020"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

90

HUBUNGAN KEBUTUHAN SPIRITUAL DENGAN KUALITAS HIDUP

LANSIA KOMUNITAS MUSLIM RW 006 KELURAHAN PONDOK

KACANG TIMUR KECAMATAN PONDOK AREN TANGERANG

SELATAN TAHUN 2020

Vebry Haryati Lubis1 ,Novianti2,Peters Martungkar Simanjuntak3

Program Studi S1-Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ichsan Medical Centre Bintaro Email : [email protected], [email protected], [email protected]

Abstract

Spiritual needs in old age are the need to fulfill comfort, maintain bodily functions and help to deal with death calmly and peacefully. Quality of life is an individual's perception of their benefits in life. This study aims to determine the relationship between spiritual needs and the quality of life of the elderly Muslim community RW 006, Pondok Kacang Timur Village, South Tangerang. The research used is quantitative non-experimental. This research method uses a cross sectional approach. The sample in this study amounted to 60 people with quota sampling technique. Data analysis techniques using univariate and bivariate analysis. Statistical tests using the Chi Square test. The results showed that respondents with spiritual needs were met and had a good quality of life for the elderly were 22 respondents (73.3%) and 8 respondents (26.7%) showed the quality of life of the elderly was not good. The results for respondents who have spiritual needs are not met and the quality of life of the elderly is good as many as 12 respondents (40%) and 18 respondents (60%) indicate the quality of life of the elderly is not good. The results of this study indicate that there is a significant relationship between spiritual needs with the quality of life of the elderly by showing the p value is 0.009 or p <0.05. In conclusion the elderly are advised to participate actively in religious activities and health service activities in order to be able to maintain their physical health conditions so that the quality of life improves.

Keywords: Elderly, Spiritual Needs, Elderly Quality of Life.

Abstrak

Kebutuhan spiritual pada usia lanjut adalah kebutuhan untuk memenuhi kenyamanan, mempertahankan fungsi tubuh dan membantu untuk menghadapi kematian dengan tenang dan damai. Kualitas hidup merupakan persepsi individu mengenai manfaat mereka dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia komunitas muslim RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tangerang Selatan. Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 60 orang dengan teknik quota sampling. Teknik analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Uji statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kebutuhan spiritual terpenuhi dan memiliki kualitas hidup lansia baik andalah 22 responden (73,3%) dan 8 responden (26,7%) menunjukkan kualitas hidup lansia kurang baik. Hasilnya untuk responden yang memiliki kebutuhan spiritual tidak terpenuhi dan kualitas hidup lansia baik sebanyak 12 responden (40%) dan 18 responden (60%) menunjukkan kualitas hidup lansia kurang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia dengan menunjukan p value adalah 0,009 atau p < 0,05. Kesimpulannya Lansia disarankan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan maupun kegiatan pelayanan kesehatan agar mampu menjaga kondisi kesehatan fisiknya sehingga kualitas hidupnya meningkat.

(2)

91

PENDAHULUAN

Manusia secara alamiah akan mengalami proses penuaan atau menjadi tua. Menua

(menjadi tua) adalah proses kehilangan

perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri. Manusia yang menjadi tua akan mengalami kemunduran fisik, psikologis dan sosial. (Dian Kusumawardani, 2018).

Populasi lansia mencapai 962 juta orang pada tahun 2017, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 1980 yaitu hanya 382 juta lansia di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2050 yang prediksinya akan mencapai sekitar 2,1 miliar lansia di seluruh dunia. (Badan Pusat Statistik, 2018). Jumlah populasi penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang akan mencapai angka 11,34 % atau tercatat 28,8 juta orang. Menurut WHO dalam Health in South East-Asia, proporsi penduduk tua dalam populasi mengalami perkembangan yang sangat cepat terlebih pada negara di kawasan Asia Tenggara

Dari hasil studi pendahuluan yang

dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan didapatkan data jumlah populasi lansia pada tahun 2018 sebanyak 94.849 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini akan membawa dampak terhadap berbagai kehidupan

Dampak utama peningkatan lansia ini adalah peningkatan ketergantungan lansia.

Ketergantungan ini disebabkan oleh

kemunduran fisik, psikis dan sosial lansia yang dapat digambarkan melalui empat tahap, yaitu

kelemahan, keterbatasan fungsional,

ketidakmampuan dan keterhambatan yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran akibat proses menua (Maryam, 2009).

Dampak dari berbagai penyakit akibat proses menua tersebut akan mengakibatkan lansia mengalami gangguan mobilisasi, sehingga lansia yang mengalami gangguan mobilisasi tersebut akan membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari/activity daily

living (ADL). Selain berbagai penyakit kronis,

lansia juga mengalami masalah psikososial

diantaranya adalah ketidakmampuan fisik,

seperti depresi, cemas akan kematian dan bunuh diri (Stanley & Beare, 2012).

Permasalahan psikososial pada lansia dapat dinetralisir atau dihilangkan dengan kehidupan spiritualitas yang kuat. Spiritualitas mengatasi kehilangan yang terjadi sepanjang hidup dengan

harapan (Stanley&Beare,2012). Spiritual

merupakan dimensi kesejahteraan bagi lansia serta dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempertahankan keberadaan diri sendiri dan tujuan hidup. Spiritual secara signifikan dapat membantu lansia dan memberi layanan untuk

beradaptasi terhadap perubahan yang

diakibatkan oleh penyakit kronis. Lansia yang memiliki pemahaman spiritual akan merasakan hubungan yang baik dengan orang lain sehingga dapat menemukan arti dan tujuan hidup, hal ini dapat membantu lansia mencapai potensi dan

peningkatan kualitas hidupnya Menurut

Adegbola (Dalam Yuzefo, Sabrian, &

Novayelinda, 2015). Perkembangan spiritual yang baik akan membantu lansia untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan, maupun merumuskan arti dan tujuan keberadaannya dalam kehidupan. Perubahan spiritual pada lansia ditandai dengan semakin matangnya lansia dalam kehidupan keagamaan dan kepercayaan yang terintegrasi dalam kehidupan dan terlihat dalam pola berfikir dan

bertindak sehari-hari. Perubahan dalam

kebutuhan spiritual merupakan salah satu parameter yang mempengaruhi kualitas hidup lansia. (Sudaryanto A. 2013). Kualitas hidup

yang baik ditandai dengan kondisi fungsional lansia yang optimal, sehingga mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan dan berguna. Menurut WHO (2004) kualitas hidup terdiri dari empat dimensi yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis,

hubungan sosial dan hubungan dengan

lingkungan. (Sutikno, 2011).

Dari hasil studi pendahuluan yang

dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan didapatkan data jumlah populasi lansia pada tahun 2018 sebanyak 94.849 jiwa. Hasil studi pendahuluan didapatkan juga di Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan didapatkan populasi lansia sejumlah 739 jiwa dan mayoritas penduduk lansia perempuan sebanyak 51%. Di RW 006 Kelurahan Pondok

(3)

92 Kacang Timur, populasi lansia sebanyak 93

lansia. Peneliti melakukan studi pendahuluan

melalui metode wawancara

.

Pada tanggal 18 Juli 2019. Di dapatkan hasil dari 10 orang lansia, 5 orang lansia mengatakan bahwa rutin melakukan ibadah shalat lima waktu dan selalu ikut serta dalam mengikuti acara pengajian rutin di Masjid. Dan 5 diantaranya mengaku jarang mengikuti kegiatan pengajian rutin. Kemudian didapatkan data yaitu 8 dari 10 lansia mengatakan ketika sakit lansia sadar bahwa itu kesalahannya sendiri karena tidak mampu menjaga kesehatan nya dengan baik bukan karena dihukum Tuhan.

Hasil wawancara mengenai kualitas hidup lansia didapatkan bahwa 3 dari 10 lansia

memerlukan bantuan keluarga dalam

beraktivitas sehari-hari seperti makan dan

mandi, karena ketidaknyamanan akibat

penyakit yang diderita, 6 dari 10 lansia memiliki hubungan sosial yang baik dengan warga sekitar. Berdasarkan fenomena dan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan Kebutuhan Spiritual Dengan Kualitas Hidup Lansia Komunitas Muslim RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan”.

TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan umum penelitian ini adalah

untuk mengetahui Hubungan Kebutuhan

Spiritual Dengan Kualitas Hidup Lansia

Komunitas Muslim RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan.

MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan

memberikan pengetahuan baru dalam

melakukan penelitian serta dapat

mengetahui hubungan kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia komunitas muslim di RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan.

2. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini merupakan salah satu penerapan ilmu pengetahuan yang

telah di dapat selama pendidikan

khususnya dibidang Keperawatan

Gerontik.

3. Manfaat Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini di harapkan dapat di gunakan sebagai media informasi bagi masyarakat khususnya lansia komunitas muslim RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan. Tentang pemenuhan kebutuhan spiritual agar lansia lansia komunitas muslim mampu berperan aktif serta dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah

kuantitatif non-eksperimental. Metode

penelitian ini bersifat deskriptif korelasional

dengan menggunakan pendekatan cross

sectional. Rancangan deskriptif korelasional

ini mengidentifikasi hubungan antara variabel penelitian pada satu waktu tertentu. ( Hidayat,A. 2009). Penelitian ini ditujukan untuk lansia yang berusia 60-80 tahun, yang dilakukan di Wilayah RW 006 Kelurahan

Pondok Kacang Timur Pondok Aren

Tangerang Selatan.

Teknik pengambilan sampel dalam

penelitian ini adalah quota sampling dimana menyataan bahwa quota sampling adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri – ciri tertentu sampai jumlah quota yang diinginkan. Sugiyono (2012).

Instrumen dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 macam kuisioner, yaitu kuesioner data demografi, kuesioner kebutuhan spiritual dan kuesioner kualitas hidup lansia oleh (World Health Organization Quality of

Life-BREF,1994)

Analisa data pada penelitian ini adalah univariat dan bivariat. Analisa univariat dilakukan untuk melihat karakteristik demografi responden meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan dan pendidikan terakhir. Analisa bivariat menggunakan chi

(4)

93

variabel dependen dengan variabel

independen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian yang telah dilakukan bulan Maret tahun 2020 didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Analisa Univariat

Analisa Univariat pada penelitian ini

memaparkan mengenai karakteristik

demografi responden (Umur, jenis kelamin, status perkawinan dan pendidikan terakhir) dengan sampel yang di teliti sebanyak 60 responden.

Tabel 1

Distribusi dan Frekuensi Usia,Jenis Kelamin, Status Perkawinan, Dan Pendidikan Terakhir Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur

Tahun 2020

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang berusia 60-74 Tahun, yaitu sebanyak 46 orang (76,7%), sementara responden yang berumur >74 Tahun, yaitu sebanyak 14 orang (23,3%), sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 49 orang (81,7%).

Dan berjenis kelamin laki-laki- yaitu

sebanyak 11 orang (18,3%).

Pada status Perkawinan sebagian besar responden bestatus menikah yaitu sebanyak 49 orang (21,7%), berstatus janda dan duda yaitu sebanyak 11 orang (18,3%). Pada Pendidikan terakhir sebagian besar responden yaitu berpendidikan sangat rendah tidak tamat SD/tamat SD sebanyak 47 orang (78,3%).

Serta berpendidikan rendah SMP/SMA yaitu sebanyak 13 orang (21,7%).

Tabel 2

Gambaran Kebutuhan Spiritiual Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren Tangerang Selatan Tahun 2020

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 60 responden diperoleh responden yang memiliki kebutuhan spiritual terpenuhi sebanyak 30 orang (50%). Dan responden yang memiliki kebutuhan spiritual tidak terpenuhi sebanyak 30 orang (50%).

Tabel 3

Gambaran Kualitas Hidup Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Pondok Aren

Tangerang Selatan Tahun 2020

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 60 responden diperoleh responden yang memiliki kualitas hidup lansia kurang baik sebanyak 26 orang (43,3%). Dan responden yang memiliki kualitas hidup lansia baik sebanyak 34 orang (56,7%).

Tabel 4

Distribusi Uji Chi Square Hubungan Antara Usia Dengan Kualitas Hidup Lansia RW 006 Kelurahan

Pondok Kacang Timur Tahun 2020

Jumlah Presentase Responden (%) 1 Umur Usia Lanjut 60-74 Tahun 46 76,7 Usia Tua >75 Tahun 14 23,3 2 Jenis Kelamin Laki-laki 11 18,3 Perempuan 49 81,7 3 Status Perkawinan Menikah 49 81,7 Janda/Duda 11 18,3 4 Pendidikan Terakhir Sangat Rendah (Tidak

Tamat SD/Tamat SD) 47 78,3 Rendah (SMP/SMA) 13 21,7

Total 60 100

Karakteristik No.

1 Kebutuhan Spiritual Tidak Terpenuhi 30 50

2 Kebutuhan Spiritual Terpenuhi 30 50

Total 60 100 Jumlah Responden Kebutuhan Spiritual No. Persentase % n % n % n %

Usia Lanjut 60-74 Tahun 16 34,8 30 65,2 46 100

Usia Tua > 74 Tahun 10 71,4 4 28,6 14 100

Total 26 43,3 34 56,7 60 100

Kualitas Hidup Lansia

0,015 P Value Kualitas Hidup

Lansia Kurang Baik

Kualitas Hidup Lansia Baik Total Usia

No. Kualitas Hidup Jumlah

RespondenPersentase % 1 Kualitas Hidup Lansia Kurang Baik 26 43,3

2 Kualitas Hidup Lansia Baik 34 56,7

(5)

94

n % n % n %

Menikah 25 51,0 24 49,0 49 100

Janda/Duda 1 9,1 10 90,9 11 100

Total 26 43,3 34 56,7 60 100

Kualitas Hidup Lansia Status

Perkawinan

Kualitas Hidup Lansia Kurang Baik

Kualitas Hidup

Lansia Baik Total P Value

0,016

Pada tabel 4 hubungan antara usia dengan kualitas hidup lansia di RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2020, menunjukan hasil p value adalah 0,015 atau p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan kualitas hidup lansia. Hasil analisis yang peneliti dapatkan bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini yaitu usia lansia kategori usia lanjut 60-74 Tahun. Kualitas hidup erat kaitannya dengan usia lanjut identik dengan penurunan fungsi fisiologis sama dengan pada penelitian ini kualitas hidup lansia baik terdapat di usia lanjut.

Tabel 5

Distribusi Uji Fisher Exact Test Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Kualitas

Hidup Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur

n % n % n %

Laki-Laki 1 9,1 10 90,9 11 100

Perempuan 25 51,0 24 49,0 49 100

Total 26 43,3 34 56,7 60 100

Kualitas Hidup Lansia Kurang Baik

Kualitas Hidup Lansia Jenis

Kelamin

Kualitas Hidup

Lansia Baik Total P Value

0,016

Pada tabel 5, berdasarkan hasil analisis dengan uji fisher exact test. Hal ini dikarenakan syarat minimal expected count tidak terpenuhi. Pada tabel 5 hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas hidup lansia di RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2020, hasil analisis dengan uji fisher exact test menunjukan hasil p value adalah 0,016 atau p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kualitas hidup lansia. Dalam hasil analisis yang peneliti dapatkan bahwa lansia perempuan mayoritas lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki.

Tabel 6

Distribusi Uji Fisher Exact Test Hubungan Antara Status Perkawinan Dengan Kualitas Hidup Lansia RW 006 Kelurahan Pondok

Kacang Timur

Pada tabel 6, berdasarkan hasil analisis dengan uji fisher exact test. Hal ini dikarenakan syarat minimal expected count tidak terpenuhi. Pada tabel 6 hubungan antara status perkawinan dengan kualitas hidup lansia di RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2020, hasil analisis dengan uji fisher exact test menunjukan hasil

p value adalah 0,016 atau p < 0,05. Hal ini

menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara status perkawinan dengan kualitas hidup lansia. Pada penelitian ini sebagian besar responden lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur berstatus menikah 81,7%. Hasil wawancara lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur, berpendapat bahwa Lansia yang masih memiliki suami mampu mengatasi kondisi hari nya baik dalam aktivitas sehari-hari maupun saat sedang sakit.

Tabel 7

Distribusi Uji Chi Square Hubungan Antara Pendidikan Terakhir Dengan Kualitas Hidup Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang

Berdasarkan pada tabel 7, hubungan antara pendidikan terakhir dengan kualitas hidup lansia di RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2020, menunjukan hasil

p value adalah 0,022 atau p < 0,05. Hal ini

menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir dengan kualitas hidup lansia. Hasil analisis yang

peneliti dapatkan menunjukkan pada

penelitian ini sebagian besar responden lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur adalah berpendidikan sangat rendah yaitu 78,3%.

Peneliti berasumsi, hal ini dikarenakan pada waktu mereka saat usia sekolah, mereka hidup dalam jaman perang atau penjajahan dan besar kemungkinan hanya sedikit dari mereka yang bersekolah, selain itu juga

n % n % n %

Sangat Rendah Tidak Tamat

SD/Tamat SD 24 51,1 23 48,9 47 100

Rendah SMP/SMA 2 15,4 11 94,6 13 100

Total 26 43,3 34 56,7 60 100

Kualitas Hidup Lansia

0,022 Pendidikan Terakhir

Kualitas Hidup Lansia Kurang Baik

Kualitas Hidup

(6)

95

sarana pendidikan sangat terbatas

dibandingkan sekarang. Padahal tingkat

pendidikan sangat berpengaruh pada

perubahan sikap dan perilaku hidup sehat.

Tabel 8

Distribusi Uji Chi Square Hubungan Kebutuhan Spiritual Dengan Kualitas Hidup Lansia RW 006 Kelurahan Pondok Kacang Timur

OR P Value

n % n % n %

Kebutuhan Spiritual Tidak Terpenuhi 18 60 12 40 30 100 4,125 Kebutuhan Spiritual Terpenuhi 8 26,7 22 73,3 30 100 1,3-12,2

Total 26 43,3 34 56,7 60 100

0,009 Kualitas Hidup Lansia

Kebutuhan Spiritual

Kualitas Hidup Lansia Kurang Baik

Kualitas Hidup Lansia Baik Total

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 8 hubungan kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia di RW 006 Kelurahan

Pondok Kacang Timur Tahun 2020

menunjukan hasil p value adalah 0,009 atau p < 0,05 dan nilai odds ratio = 4,12, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara status spiritual dengan kualitas hidup pada lansia, dimana lansia di RW 006

Kelurahan Pondok Kacang Timur yang

memiliki kebutuhan spiritual terpenuhi

berpeluang 4,12 kali lipat lebih besar memiliki kualitas hidup yang baik.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia. Dampak dari berbagai penyakit akibat proses menua tersebut akan mengakibatkan lansia mengalami gangguan mobilisasi, sehingga lansia yang mengalami gangguan mobilisasi tersebut akan

membutuhkan bantuan untuk melakukan

kegiatan sehari-hari/activity daily living (ADL). Selain berbagai penyakit kronis, lansia juga mengalami masalah psikososial

Spiritual merupakan dimensi kesejahteraan bagi lansia serta dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempertahankan keberadaan diri sendiri dan tujuan hidup. Spiritual secara signifikan dapat membantu lansia dan memberi layanan untuk beradaptasi terhadap perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis. Lansia yang memiliki pemahaman spiritual akan merasakan hubungan yang baik dengan orang

lain sehingga dapat menemukan arti dan tujuan hidup, hal ini dapat membantu lansia mencapai potensi dan peningkatan kualitas Hidupnya Menurut Adegbola (Dalam Yuzefo, Sabrian, &

Novayelinda, 2015). Hasil penelitian ini

sejalan dengan penelitian Athurrita Choiru Ummah dan Bambang (2016), dengan judul hubungan kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia di Panti Wredha Kota Semarang Tahun 2016. Hasil uji statitistik chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia di panti jompo Semarang, dengan nilai p 0,001 p < 0,05.

PENUTUP KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian

didapatkan karakteristik jenis kelamin

mayoritas adalah perempuan yaitu berjumlah 49 orang (81,7%). Mayoritas responden berada pada

usia (60-74 tahun) yaitu sebanyak 46 orang

(76,7%). Status perkawinan mayoritas

responden menikah yaitu sebanyak 49 orang (81,7%). Responden menurut pendidikan terakhit terbanyak yaitu pada pendidikan sangat rendah sebanyak 47 orang (78,3%).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30 orang responden yang memiliki kebutuhan spiritual terpenuhi dan memiliki kualitas hidup lansia baik adalah 22 responden (73,3%) dan 8 responden (26,7%) menunjukkan kualitas hidup lansia kurang baik. Hasilnya untuk responden yang memiliki kebutuhan spiritual tidak terpenuhi 30 orang responden dan kualitas hidup lansia baik sebanyak 12 responden (40%) dan 18 responden (60%) menunjukkan kualitas hidup lansia kurang baik.

SARAN

1. Bagi Institusi Pendidikan Dan Mahasiswa

Hasil penelitian ini merupakan salah satu penerapan ilmu pengetahuan dibidang Keperawatan Gerontik dan disarankan menjadi salah satu referensi tambahan bahan pustaka

mengenai hubungan kebutuhan spiritual

(7)

96 mampu berperan aktif dalam lingkungan

masyarakat agar mampu mengetahui kesehatan

lansia yang optimal maupun kualitas hidup nya.

2. Bagi Masyarakat Lansia

Lansia disarankan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelayanan kesehatan lansia pertama di lingkungan masyarakat yaitu (Posbindu Lansia), agar mampu menjaga kondisi kesehatan fisiknya sehingga kualitas hidupnya meningkat.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Disarankan lebih memperhatikan faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pada lansia seperti pada variabel di penelitian ini tidak diperhatikan kualitas hidup lansia yang berstatus janda dan duda. Kemudian antara agama, penghasilan, pekerjaan dengan kualitas

hidup lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Aman S. (2013.). Tren Spiritualitas

Milenium Ketiga. Tangerang: Ruhama.

Atthurita Choiru Ummah. (2016). Hubungan

Status Spiritual Dengan Kualitas Hidup Lansia Pada Lansia Di Panti Werdha Kota Semarang. Universitas

Diponegoro.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi

Banten, (2019). Provinsi Banten

Dalam Angka Badan Pusat Statistik

(BPS) Provinsi Banten

http://banten.bps.go.id/

Dian Kusumawardani. (2018). Peran

Posyandu Lansia Terhadap Kesehatan Lansia Kota Pekalongan.Jurnal Siklus Volume 7

Nomer 1 Januari 2018.

Hamid AYS (2019). Bunga Rampai Asuhan

Keperawatan Kesehatan Jiwa.

Jakarta: EGC.

Indrayani, Sudarto Ronoatmodjo. (2018).

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Lansia Di Desa Cipasung Kabupaten Kuningan Tahun 2017. Jurnal Kesehatan

Reproduksi, 9 (1),2018:69-78

Universitas Indonesia.

Kemenkes RI. (2013). Data dan informasi

kesehatan gambaran kesehatan lanjut usia di Indonesia, http://www.depkes.go.id/downloads/B uletin-lansia.

Kemenkes RI, Infodatin Lansia. (2016).

Situasi Lanjut Usia Di Indonesia.

Dibuka Notoadmodjo S. (2014).

Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.

Jakarta: Rineka Cipta dari

http://www.depkes.go.id

Mira Afnesta ,Yuzefo dkk.(2015). Hubungan

Status Spiritual Dengan Kualitas Hidup Pada Lansia. JOM Vol.2

No.2, Oktober 2015.

Nofitri. (2009). Gambaran Kualitas Hidup

Penduduk Dewasa pada Lima Wilayah di Jakarta. Universitas

Indonesia.

Notoadmodjo S. (2014). Pendidikan dan

Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka

Cipta Sekarwiri E. (2011).

Hubungan Antara Kualitas Hidup dan Sense Of Community pada Warga DKI Jakarta yang Tinggal di Daerah Rawan Banjir. Universitas

Indonesia.

Sudaryanto A. (2013). Spiritualitas Lanjut

Usia (Lansia) Di Unit Pelayanan Teknis Panti Sosial Lanjut Usia Magetan.

Sugiyono. (2012). Metode peneliian

kuantitatif kualitatif dan R&B Bandung : Alfabeta.

Stanley, M, Beare, Patricia. (2012). Buku

Ajar Keperawatan Gerontik (Edisi 2).

(8)

97

(The WHOQOL Group 1994). Develeopment of WHOQOL; ratinoale and current

status. 1994. 24-56 p.

(The World Health. The World Health

Organization Quality of Life

(WHOQOL)-BREF. 2004.

Viena Vicktoria Mengko, G.D Kandou. Dkk.

(2015). Pemanfaatan Posyandu

Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas Manado. Artikel Penelitian Vol. 5, No. 2b April 2015.

Widi. Laws of Spiritual. (2010). Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Young, Koopsen. (2017). Spritualitas,

sKesehatan dan Penyembuhan. Medan:

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengurangi kendala dalam proses pembelajaran juga telah dilakukan berbagai inisiatif, keleluasaan bagi satuan pendidikan untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan

Pada baris ke 6 bait ke dua puisi diatas terdapat gaya bahasa perulangan bentuk epizeuksis yaitu pada data (1.b) „selamat datang‟ diulang dua kali untuk menekankan

Krim dengan ekstrak etanol tongkol jagung pada konsentrasi ekstrak yang berbeda diduga memiliki aktivitas tabir surya dengan nilai SPF yang juga berbeda. Ekstrak

MRR adalah alat yang dapat mengukur distribusi butir hujan dari ketinggian 50m sampai lebih dari 7km pada 32 level ketinggian (efektif hanya 30 level karena level

Pada kawasan Kota Bunga kegiatan ini dilakukan oleh ibu- ibu yang pelaksanaannya dilakukan setiap hari, dimana dalam mencapai targetnya yaitu 1-2 rumah/hari/orang, kontraktor

Parameter yang divariasikan pada model yang digunakan adalah jarak antara silinder yang menggunakan helical strakes dengan splitter plate (G) dan lebar

Presbiakusis adalah tuli sensori neural pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara

Untuk merumuskan rencana pengembangan tata laksana, dengan mengacu pada analisis SWOT sebelumnya, antara lain diperlukan evaluasi tata laksana, pengembangan standar