PENYEDIAAN BENIH SUMBER PADI
MELALUI UNIT PENGELOLA BENIH SUMBER (UPBS) BPTP BALI Ni Putu Sutami1 dan I.B.K. Suastika2
1,2)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Jl. By Pass Ngurah Rai, Pesanggaran, Denpasar Selatan, Bali
E-mail : [email protected]
submitted date: 10 September 2019 approved date: 6 November 2019
ABSTRACT
Provision of Rice Seeds UPBS BPTP Bali
The need for certified superior rice seeds in Bali with a planting area of 151 thousand hectares is around 3,500 - 4,500 tons per year. Through the activity of producing seed sources, it is expected to be able to solve the problem of scarcity in the availability of quality superior seeds that always occur every year. Source seed production activities are carried out with the aim of producing rice seed sources to support the availability and need of seeds for user farmers. The activity was carried out in the paddy field in collaboration with the nursery group. Seeds to be developed through this activity include Ciherang BS/FS, Cigeulis BS/FS, Inpari 14 Pakuan BS/FS, Inpari 16 Pasundan BS/FS, Inpari 19 BS/FS, Inpari 20 BS/FS, Inpari 24 Gabusan BS/FS, Inpari 28 Kerinci BS, Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS/FS, Cibogo BS, Situbagendit FS, Towuti BS/F, Bondoyudo BS, Inpari 40 Tadah Hujan BS dan Inpari 43 BS. Activities carried out include pre-harvest and post-harvest. Pre-harvest activities include preparation of seed sources, site selection, certification requests to the BPSPTPH District, land preparation, seedling, planting, fertilizing, irrigation, weeding and pest control and rouging. While post-harvest activities include drying, seed processing, packaging, storage. Data in the form of seed production are tabulated and analyzed descriptively. From the assessment of seed production produced up to December 2017 covering an area of 47.60 ha with a production sharing system with breeder groups totaling 166,969 kg with details of 12,700 kg belonging to UPBS BPTP Bali and 154,269 kg belonging to partners (breeder groups). Seed production produced from 15 superior varieties of captive rice was dominated by superior varieties Cigeulis 41.32%, Ciherang 18.77% Inpari 30 Ciherang Sub-1 15.39%, Towuti 6.03% and Inpari 3 as many as 5.78. % Keywords: Seed production, paddy
ABSTRAK
Kebutuhan benih unggul padi bersertifikat di Bali dengan luas tanam 151 ribu hektar sekitar 3.500 - 4.500 ton per tahun. Melalui kegiatan produksi benih sumber diharapkan dapat memecahkan permasalahan kelangkaan ketersediaan benih unggul bermutu yang selalu terjadi setiap tahunnya. Kegiatan produksi benih sumber dilakukan dengan tujuan menghasilkan benih sumber padi untuk mendukung ketersediaan dan kebutuhan benih bagi petani pengguna. Kegiatan dilaksanakan di lahan sawah bekerjasama dengan kelompok penangkar. Benih yang akan dikembangkan melalui kegiatan ini meliputi Ciherang BS/FS, Cigeulis BS/FS, Inpari 14 Pakuan BS/FS, Inpari 16 Pasundan BS/FS, Inpari 19 BS/FS, Inpari 20 BS/FS, Inpari 24 Gabusan BS/ FS, Inpari 28 Kerinci BS, Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS/FS, Cibogo BS, Situbagendit FS, Towuti BS/F, Bondoyudo BS, Inpari 40 Tadah Hujan BS dan Inpari 43 BS. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi prapanen dan pasca panen. Kegiatan prapanen meliputi penyiapan benih sumber, pemilihan lokasi, permohonan sertifikasi ke BPSPTPH Kabupaten, persiapan lahan, pembuatan pesemaian, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pengendalian OPT serta rouging. Sedangkan kegiatan pasca panen meliputi pengeringan, pengolahan benih, pengemasan, penyimpanan. Data berupa produksi benih ditabulasi dan dianalisis secara deskriptip. Dari pengkajian produksi benih yang dihasilkan sampai bulan Desember 2017 seluas 47,60 ha dengan sistem bagi hasil dengan kelompok penangkar sebanyak 166.969 kg dengan rincian 12.700 kg menjadi milik UPBS BPTP Bali dan 154.269 kg menjadi milik mitra (kelompok penangkar). Produksi benih yang dihasilkan dari 15 varietas unggul padi yang ditangkarkan didominasi oleh varietas unggul Cigeulis 41,32%, Ciherang 18,77% Inpari 30 Ciherang Sub-1 15,39%, Towuti 6,03% dan Inpari 3 sebanyak 5,78.%
PENDAHULUAN
Benih yang berkualitas baik akan mampu menghasilkan produk yang tinggi berdasarkan karakter agronomi dan komponen hasil yang baik. Penyediaan benih berkualitas seperti varietas unggul bermutu melalui program revitalisasi perbenihan diharapkan mampu menunjang pencapaian empat sukses pembangunan pertanian seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen inovasi teknologi yang sangat penting artinya dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman padi (Darman dan Maesti, 2007), namun ketersediaan benih dengan kondisi enam tepat (varietas, jumlah, mutu, waktu, tempat dan harga) masih belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat petani/pengguna lainnya.
Keberadaan kelembagaan produsen/ penangkar benih di Bali yang relatif masih sedikit serta produksi benih yang dihasilkan masih rendah dibandingkan potensi luas tanam yang tersedia, dukungan program penyediaan dan perbanyakan benih unggul sangat dibutuhkan guna membantu memenuhi ketersediaan benih unggul bermutu secara berkelanjutan. Sertifikasi benih di Provinsi Bali baru mencapai 43,55% dari kebutuhan benih berkualitas sebanyak 3.775 ton per tahun Hal ini menggambarkan sebanyak 56,45% kebutuhan benih di Provinsi Bali belum bisa dipenuhi oleh penangkar yang ada di Bali (BPSTPH Bali, 2012).
Melalui kegiatan produksi benih sumber bekerjasama dengan subak/kelompok tani penangkar yang ada di Bali dikembangkan beberapa VUB. Tujuan pengkajian adalah menghasilkan benih sumber padi dari berbagai jenis VUB untuk mendukung ketersediaan dan kebutuhan benih bagi petani/pengguna.
METODOLOGI
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di lahan sa-wah miliki petani bekerjasama dengan kelompok penangkar yang ada di masing-masing wilayah
penangkaran. Kegiatan dilaksanakan dari bulan Januari-Desember 2017 dengan luasan 47,6 hektar. Ruang lingkup kegiatan meliputi sosialisasi/koordinasi, demplot produksi benih sumber, fasilitasi proses sertifikasi benih hasil penangkaran dan temu lapang.
Data yang dikumpulkan meliputi keragaan tanaman (tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun), komponen hasil (panjang malai, jumlah gabah/malai, jumlah gabah isi/malai) dan produksi Data produksi benih dicatat setelah sampel benih dinyatakan lulus uji dari laboratorium BPSBTPH.
Data yang terkumpul berupa keragaan tanaman dan komponen hasil varietas antar lokasi di analisis secara statistik dengan uji BNT taraf 5%. Sedangkan produksi benih, distribusi, dan stok benih ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan produksi benih sumber dimulai dari penyiapan lahan, pesemaian, penanaman, pe-mupukan, pengairan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, rouging/seleksi, persiapan panen, panen, proses panen, pengeringan benih (penjemuran, pengeringan dengan alat penge-ring), prosesing, pengemasan, dan penyimpanan mengacu pada pedoman umum produksi benih sumber padi (Badan Litbang Pertanian, 2007 dan 2013 terlampir) serta mengacu pada petunjuk pelaksanaan unit pengelola benih sumber tanaman lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (Badan Litbang, 2011). Benih sumber padi yang digunakan pada kegiatan ini berasal dari BB Padi di Sukamandi atau benih sumber dari hasil penangkaran kelompok tani penangkar yang ada di Bali. Lokasi penanaman produksi benih sumber Tahun 2017 disajikan pada Tabel 1
Luas tanam dan jadwal penanaman padi pada kegiatan produksi benih sumber bekerjasama dengan kelompok penangkar di beberapa Kabupaten/Kota di Bali disajikan pada Tabel 2.
Tabel 1. Lokasi kegiatan produksi benih sumber padi di Bali T.A. 2017. Lokasi Kegiatan
Kabupaten/Kota Subak/kelompok penangkar
Tabanan Subak Guama, desa Selanbawak, Kecamatan Marga
Badung Subak Delod Sema, desa Sading, Kecamatan Mengwi
Gianyar Subak Kumpul, Desa Bone, Kecamatan Blahbatuh
Buleleng Kelompok Tani Sarigopala, Desa Banyuning, Kecamatan Buleleng
Tabel 2. Realisasi tanam kegiatan produksi benih sumber padi di Bali T.A. 2017.
Varietas Kelas benih Luas tanam (ha) Waktu tanam Lokasi
MT I 2,4 Subak Guama
Cigeulis FS 1,0 Januari 2017
Inpari 30 Ciherang Sub-1 FS 1,0 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS 0,4 Idem
MT II 13,0
Ciherang FS 3,0 Juni-Juli 2017 Subak Guama
Cigeulis FS 4,0 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub-1 FS 4,0 Idem
Towuti FS 1,6 Idem
Cibogo BS 0,4 Idem
MT I 11,0 Subak Dlod Sema
Ciherang FS 1,0 Januari 2017
Ciherang BS 1,0 Idem
Cigeulis BS 1,0 Idem
Towuti FS 2,0 Idem
Situ Bagendit FS 1,0 Idem
Inpari 16 Pasundan FS 1,0 Idem
Inpari 24 Gabusan BS 1,0 Idem
Inpari 28 Kerinci BS 1,0 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS 0,6 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub-1 FS 1,4 Idem
MT II 9.0 Juni-Juli 2017 Subak Dlod Sema
Inpari 19 BS 0,4 Idem
Inpari 20 BS 0,4 Idem
Inpari 24 Gabusan FS 1,0 Idem
Inpari 28 Kerinci FS 1,0 Idem
Inpari 32 BS 0,4 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub 1 FS 1,0 Idem
Inpari 40 Tadah Hujan BS 2,0 Idem
Inpari 43 BS 0,4 Idem
Cigeulis FS 1,2 Idem
Ciherang FS 1,2 Idem
MT I 2,0 Maret 2017 Subak Kumpul
Cigeulis BS 2,0
MT II 1,0 September 2017 Subak Kumpul
Cigelis FS 1,0
MT I 1,6 April 2017 Subak Jagaraga
Inpari 30 Ciherang Sub-1 FS 1,6
MT I 1,6 Jan - Maret 2017 Kelompok tani Sari
Gopala
Bondoyudo BS 0,2 Idem
Ciherang BS 0,2 Idem
Towuti BS 0,2 Idem
Inpari 3 BS 0,2 Idem
Inpari 14 Pakuan BS 0,2 Idem
Inpari 16 Pasundan BS 0,2 Idem
Inpari 20 BS 0,2 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS 0,2 Idem
MT II 6.0 Juni-Juli 2017 Kelompok tani Sari
Gopala
Inpari 3 FS 2,0 Idem
Ciherang FS 2,0 Idem
Inpari 30 Ciherang Sub 1 FS 2,0 Idem
Tabel 3. Keragaan komponen hasil dan produksi benih sumber di Subak Guama tahun 2017 (Januari – Mei).
Parameter Inpari 30 Inpari 40 Cigeulis Ciherang BNT 5%
Ciherang Sub-1 (pembanding) (pembanding)
Tinggi tanaman (cm) 119,40 a 118,90 a 101,10 c 115,80 b 1,39
Jumlah anakan /rumpun 16,7 c 20,4 a 17,7 b 13,7 d 0,75
Gabah isi/malai (butir) 97,8 b 135,8 a 137,2 a 144,6 a 8,91
Gabah hampa/malai (butir) 31,1 a 21,0 b 25,7 a 13,7 c 0,07
Jumlah gabah/malai (butir) 128,90 a 156,60 a 162,90 a 158,30 a 8,51
Berat 1000 butir (g) 27,6 c 28,2 b 27,6 c 30,3 a 0,07
Hasil riil GKP (t/ha) 6,86 a 6,93 a 6,93 a 6,44 b 0,12
Keterangan: Angka dalam kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji BNT.
Tabel 4. Tingkat serangan pengganggu tanaman (OPT) pada kegiatan produksi benih sumber di Subak Guama tahun 2017 (Januari – Mei).
Tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)/% Varietas Unggul Baru
HDB Wereng coklat Tungro Penggerek
Inpari 30 Ciherang Sub-1 25,6 a 7,0 b 5,5 b 7,5 a
Inpari 40 tadah hujan 1,5 d 1,0 c 1,0 c 1,0 c
Cigeulis (pembanding) 16,5 c 16,5 a 6,5 a 3,6 b
Ciherang (pembanding) 20,0 b 6,5 b 6,0 ab 6,6 a
BNT 5% 0,799 0,57 0,52 1,46
Keterangan: Angka dalam kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji BNT.
Tabel 5. Keragaan tanaman beberapa VUB padi di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. MT I tahun 2017 (januari – April).
Varietas padi Tinggi tanaman (cm) Jumlah anakan
(batang/rumpun) Inpari 16 SS 107,20 de 22,10 ab Inpari 24 FS 103,90 e 21,00 abc Inpari 28 FS 109,10 cd 22,40 a Inpari 30 FS 118,00 ab 17,80 cd Inpari 30 SS 120,80 a 16,00 d Ciherang FS 112,60 bc 19,10 bcd Ciherang SS 116,00 b 22,30 ab Cigeulis FS 117,80 ab 21,80 ab Cigeulis SS 118,80 ab 21,80 ab Towuti SS 93,70 f 21,20 ab Situbagendit SS 105,60 de 16,10 d KK 4,56 18,39 BNT 5% 4,50 3,29
Keragaan Tanaman, Komponen Hasil dan Produksi GKP
Keragaan komponen agronomis (tabel 3) VUB padi Inpari 30 Ciherang sub-1 dan Inpari 40 tadah hujan lebih tinggi dan berbeda nyata dengan VUB pembanding Cigeulis dan Ciherang. Jumlah anakan per rumpun tertinggi dicapai varietas Inpari 40 tadah hujan. Persentase gabah isi/malai VUB Inpari 40 tadah hujan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Cigeulis dan Ciherang sedangkan jumlah gabah isi/malai
Inpari 30 Ciherang sub-1 lebih sedikit dan berbeda nyata dengan VUB Inpari 40 tadah hujan. Sedangkan bobot 1000 butir gabah varietas Inpari 40 tadah hujan lebih besar dan berbeda nyata dengan Cigeulis tetapi lebih kecil dan berbeda dengan Ciherang. Hal ini disebabkan karena tanaman padi yang di tanam pada MT I (Januari-Mei 2017) berkembang dalam kondisi kemarau yang diikuti dengan turun hujan membuat iklim mikro terutama suhu dan kelembaban menjadi tinggi.
Tabel 6. Keragaan komponen hasil dan produksi beberapa VUB padi di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. MT I tahun 2017 (januari – April).
Varietas Gabah isi/ Gabah hampa/ Jumlah gabah/ Berat1000 Produksi
malai(butir) malai(butir) malai (butir) Butir(g) GKP (t/ha)
Inpari 16 Pasundan SS 117,10 cd 34,8 bcd 151,90 27,50 d 4,58 bcd
Inpari 24 Gabusan FS 148,60 ab 19,6 f 168,30 27,50 d 3,17 e
Inpari 28 Kerinci FS 105,20 de 31,9 bcde 136,80 29,00 a 4,62 bcd
Inpari 30 Ciherang Sub-1 FS 128,90 bc 41,5 bc 170,30 27,50 d 6,08 a
Inpari 30 Ciherang Sub-1 SS 98,10 de 77,5 a 175,60 27,80 c 5,55 ab
Ciherang FS 162,40 a 26,6 de 189,00 27,50 d 4,35 cd Ciherang SS 111,70 cde 44,6 b 153,30 28,50 b 3,70 de Cigeulis FS 130,60 bc 29,1 cde 159,70 26,50 g 6,06 a Cigeulis SS 158,80 a 24,3 de 183,10 26,65 f 6,21 a Towuti SS 120,90 cd 48,2 ab 170,10 27,00 e 4,45 cd Situbagendit SS 89,70 e 19,9 e 108,00 27,00 e 4,75 bc KK 20,93 16,73 17,99 0,39 23,72 BNT 5 % 23,18 0,22 25,66 0,09 1,02
Keterangan: Angka dalam kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji BNT.
Tabel 7. Tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. MT I tahun 2017 (januari – April).
Tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)/% Varietas
Wereng Coklat Penggerek
Inpari 16 Pasundan SS 23,0 b 6,00 ef
Inpari 24 Gabusan FS 53,0 a 9,00 cd
Inpari 28 Kerinci FS 9,0 c 5,00 fg
Inpari 30 Ciherang sub-1 FS 10,5 cd 10,00 bc
Inpari 30 Ciherang Sub-1 SS 10,5 cd 8,50 cd
Ciherang FS 23,0 b 12,00 b Ciherang SS 18,0 b 14,50 a Cigeulis FS 21,5 b 3,00 gh Cigeulis SS 21,5 b 2,20 h Towuti SS 16,5 bc 7,50 de Situbagendit SS 1,0 e 3,60 gh KK 21,85 31,06 BNT 5 % 0,21 2,04
Tabel 8. Produksi benih dari kegiatan produksi benih sumber padi di Bali T.A. 2017
Subak/kelompok penangkar
KUAT Subak Guama/UPBS BPTP Bali
KUAT subak Guama/UPBS BPTP Bali
Subak Delod Sema/UPBS BPTP Bali
Subak Delod Sema/UPBS BPTP Bali
Kelompok tani Sarigopala, Buleleng
Kelompok tani Sarigopala, Buleleng
Subak Kumpul, Gianyar Subak Kumpul, Gianyar Subak Jagaraga, Jembrana TOTAL Luas panen (ha) 1,0 1,0 0,4 2,4 4,0 3,0 4,0 0,4 1,6 13,0 11,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 0,6 1,4 2,0 1,0 9.0 0,4 0,4 1,0 0,4 1,4 2,0 0,4 1,0 1,0 1,0 1,6 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 6,0 2,0 2,0 2,0 2,00 1,00 1,60 47,60 Varietas MT I Cigeulis
Inpari 30 Ciherang Sub-1 Inpari 30 Ciherang Sub-1 MT II Cigeulis Ciherang Inpari 30 Cibogo Towuti MT I Cigeulis Ciherang Ciherang Inpari 16 Pasundan Inpari 24 Gabusan Inpari 28 Kerinci
Inpari 30 Ciherang Sub-1 Inpari 30 Ciherang Sub-1 Towuti Situbagendit MT II Inpari 19 Inpari 20 Inpari 24 Gabusan Inpari 32
Inpari 30 Ciherang Sub-1 Inpari 40 Tadah Hujan Inpari 43 Ciherang Inpari 28 Kerinci Cigeulis MT I Ciherang Inpari 3 Towuti Inpari 14 Pakuan Inpari 16 Pasundan Inpari 20
Inpari 30 Ciherang Sub-1 Bondoyudo
MT-II Inpari 3 Ciherang
Inpari 30 Ciherang Sub-1 MT-I
Cigeulis MT-II Cigeulis MT-1
Inpari 30 Ciherang Sub-1
Kelas Benih SS SS FS SS SS SS FS SS FS FS SS SS FS FS FS SS SS SS FS FS SS FS SS FS FS SS SS SS FS FS FS FS FS FS FS FS SS SS SS FS SS SS UPBS 350 350 140 840 1500 1500 1500 500 -5.000 4.500 350 350 350 350 500 500 700 350 700 350 200 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 600 75 75 75 75 75 75 75 75 200 100 50 50 700 100 560 12.700 Mitra 5.370 5.430 1.440 12.240 49.962 14.817 1.760 593 -67.132 30.170 4.190 810 4.720 2.610 1.510 1.760 1.130 2.790 8.440 2.210 22.026 1.820 1.868 -1.286 1.485 5.439 1.760 3.872 1.706 2.790 5.890 820 1.805 845 565 1.055 435 -365 15.080 7.580 3.950 3.550 2.100 1.556 4.440 154.269 Produksi benih (kg)
Kondisi ini memicu perkembangan hama dan penyakit, dimana pertanaman padi terserang hama dan penyakit seperti terserang hama wereng coklat (W.C), hama peggerek, penyakit HDB dan terserang penyakit tungro. Sedangkan varietas Inpari 40 tadah hujan terserang hama dan penyakit utama lebih rendah dan berbeda nyata. Ini menunjukkan bahwa varietas Inpari 40 tadah hujan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama seperti hama W.C, hama penggerek batang, penyakit tungro dan penyakit HDB (Tabel 4). Peng et al. (2004) melaporkan bahwa setiap kenaikan suhu minimum 1oC akan menurunkan hasil tanaman padi sebesar 10%. Penurunan tersebut disebabkan berkurangnya pembentukan sink, lebih pendeknya periode pertumbuhan dan meningkatnya respirasi (Matthews dan Wassman 2003). Secara teknis, kerentanan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air dan tanaman, serta varietas tanaman (Las et al. 2008). Tiga faktor utama yang terkait dengan perubahan iklim global, yang berdampak terhadap sektor pertanian adalah (1) perubahan pola hujan, (2) meningkatnya kejadian iklim ekstrim (banjir dan kekeringan), (3) peningkatan suhu udara, dan (4) peningkatan muka laut (Las dan Surmaini, 2011). Keragaan tanaman di Subak Dlod Sema (Tabel 5) yang meliputi tinggi tanaman menunjukkan bahwa VUB Inpari 30 Ciherang sub-1 paling tinggi dan tidak berbeda nyata dengan VUB pembanding Cigeulis dan Ciherang, Inpari 28 Kerinci, Ipari 16 Pasundan, Situbagendit, Inpari 24 Gabusan dan Towuti. Jumlah anakani/rumpun tertinggi ditunjukkan oleh Inpari 28 Kerinci, Inpari 16 Pasundan, dan Inpari 24 Gabusan dibanding dengan pembanding Cigeulis dan Ciherang. Jumlah anakan per rumpun tertinggi dicapai varietas Inpari 28 Kerinci, Inpari 16 Pasundan, Inpari 24 Gabusan, Towuti, dan Situbagendit dan jumlah malai terkecil adalah Inpari 30 Ciherang sub-1
Komponen hasil (Tabel 6) berupa gabah isi/ malai VUB Inpari 24 Kerinci paling tinggi dan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Cigeulis dan Ciherang. Persentase gabah isi/ malai Inpari 30 Ciherang sub-1 lebih sedikit dan berbeda nyata dengan VUB Cigeulis dan Ciherang . Sedangkan bobot 1000 butir gabah varietas Inpari 28 Kerinci lebih besar dan berbeda nyata dengan Cigeulis dan Ciherang.
Komponen hasil (Tabel 6) berupa gabah isi/ malai VUB Inpari 24 Kerinci paling tinggi dan tidak
berbeda nyata dengan varietas pembanding Cigeulis dan Ciherang. Persentase gabah isi/ malai Inpari 30 Ciherang sub-1 lebih sedikit dan berbeda nyata dengan VUB Cigeulis dan Ciherang . Sedangkan bobot 1000 butir gabah varietas Inpari 28 Kerinci lebih besar dan berbeda nyata dengan Cigeulis dan Ciherang.
Perkembangan hama dan penyakit, Inpari 24 Gabusan, Inpari 16 Pasundan, Inpari 28 Kerinci, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Cigeulis, Ciherang dan Towuti terserang hama wereng coklat. Sedangkan VUB Situbagendit menunjukkan reaksi tahan terhadap serangan hama wereng coklat. Semua VUB yang ditanam di Subak Dlod Sema terserang hama peggerek batang. VUB Situbagendit lebih tahan terhadap hama wereng coklat dan hama penggerek (Tabel 7). Produksi GKP per hektar Inpari 30 Ciherang Sub-1 paling tinggi dan tidak berbeda nyata dibanding Cigeulis sedangkan produksi GKP terkecil diperlihatkan oleh VUB Inpari 24 Kerinci karena pada saat menjelang panen tanaman terserang wereng coklat sampai puso.
Produksi Benih yang dihasilkan unit pengelola benih sumber (UPBS) BPTP Bali seluas 47,6 ha dengan sistem bagi hasil dengan kelompok penangkar terealisasi sebanyak 166.969 kg dengan rincian 12.700 kg menjadi milik UPBS BPTP Bali dan 154.269 kg menjadi milik mitra (kelompok penangkar) disajikan pada Tabel 8.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari kegiatan produksi benih sumber bekerjasama dengan kelompok tani/kelompok penangkar T.A. 2017 dihasilkan benih sebanyak 166.969 kg dengan rincian 12.700 kg milik UPBS BPTP Balitbangtan Bali dan 154.269 kg milik mitra (kelompok tani penangkar).
Produksi benih sumber yang dihasilkan dari 15 varietas unggul padi yang ditangkarkan dido-minasi oleh varietas Cigeulis 41,32% (68.988 kg), Ciherang 18,77% (31.334 kg), Inpari 30 Ciherang Sub-1 15,39% (25.699 kg), Towuti 6,03% (10.060 kg), dan Inpari 3 5,78% (9.650 kg) sedangkan varietas unggul lainnya dibawah 5,00%.
Benih-benih padi VUB hasil kerjasama penangkaran seperti Inpari 3, Inpari 16 Pasundan, Inpari 43, Inpari 30 Ciherang Sub-1, dan VUB Inpari lainnya perlu dikembangkan dan disebarluaskan melalui kegiatan demplot dan display untuk mempercepat pengembangan dan
penyebarlusan VUB tersebut ke tingkat kelompok tani/pengguna lainnya. Sosialisasi dan koordinasi dengan stakeholder perlu dilakukan secara intensif melalui kegiatan temu usaha atau temu lapang untuk mempercepat pengenalan, pengembangan, dan penyebarluasan VUB ke tingkat kelompok tani/pengguna lainnya.
KONTRIBUSI PENULIS
Penulis 1 dan 2 merupakan kontributor utama dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan artikel ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adri, Kuntoro Boga. 2010. Pengkajian Sistem Penyediaan (>90%) Kebutuhan Benih Unggul Bermutu (Padi, Jagung, Kedelai) yang Lebih Murah (>20%) secara Berkelanjutan untuk Mendukung Program Strategis Peningkatan Produksi Padi (>10%), Jagung (>20%), dan Kedelai (>20%) di Wilayah Jawa Timur. Laporan Akhir. BPTP Jawa Timur. Malang..
Badan Litbang Pertanian, 2007. Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Litbang Pertanian. 2011. Petunjuk
Pelaksanaan Unit Pengelola Benih Sumber Tanaman Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.
Badan Litbang Pertanian, 2013. Petunjuk teknis unit pengelolaan benih sumber Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian.
BPSBTPH Provinsi Bali, 2012. Realisasi Sertifikasi Benih Padi Non Hibrida Tahun 2011. BPSBTPH Bali. Denpasar.
BPTP Bali, 2016. Laporan Akhir Produksi benih Sumber Padi di Bali. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.
Darman M. Arsyad dan Maesti M., 2007. Pemberdayaan kelompok tani sebagai penangkar benih padi dan palawija. Prosiding Lokakarya Regional Akselerasi Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Pembangunan berawal dari Desa. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Bogor. Kamarudin, N.St. 2011. “Membangun jejaring agribisnis perbenihan padi dan palawija berbasis gapoktan”. Buletin No 5 Tahun 2011. (internet) [Diunduh 25 Juni 2013]. Tersedia pada http://sulsel.litbang.deptan. go.id
Las, I., dan E. Surmaini, 2011. Variabilitas iklim dan perubahan iklim dalam sistem produksi pertanian nasional: dampak dan tantangan. Prosiding Seminar Ilmiah Penelitian Padi Nasional 2010. Variabilitas dan Perubahan iklim: Pengaruhnya terhadap Kemandirian Pangan Nasional. Buku 1. Editor: B. Suprihatno, A.A. Dradjat, Satoto, Baehaki, dan Sudir. BB Padi. hal. 11-22
Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini dan A.M. Fagi, 2008. Iklim dan tanaman padi: tantangan dan peluang. Dalam: Buku Padi: Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan. BB Padi.
Matthews, R.B. and Wassman. 2003. Modelling the impact of climate change and methane reduction on rice production: A Review Europian Journal of Agronomy 19: 573-598. Peng, S., J. Huang, J.E. Sheely, R.C. Laza, R.M. Visperas, X. Zhong, G.S. Centeno, G.S. Kush, and K.G. Cassman. 2004. Rice yields decline with higher night temperature from global warming. PANS 101: 9971-9975.
DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI PERBENIHAN KOPI ARABIKA DI TINGKAT PETANI
I Gusti Lanang Patra Adiwirawan1, M.A. Widyaningsih2
dan I Ketut Kariada3
1,2,3)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Jl. By Pass Ngurah Rai, Denpasar Bali
E-mail : [email protected]
submitted date: 14 Oktober 2019 approved date : 18 November 2019
ABSTRACT
Technology Innovation Dissemination of Arabica Coffee Seedling at Farmers Level GI (geographical indication) of Bali coffee is owned by arabica coffee farmers which covers Kintamani subdistrict of Bangli, Pelaga Village of Northern Badung and Sukasada subdistrict of Buleleng. Coffee development is focussed on arabicca organic. Research on production of coffee seedling was conducted in 2017 at Wanagiri village subdistrict of Sukasada Buleleng. Development of this seedlings will provide benefits to farmers by increasing population which is currently still low. Development of technology dissemination under the mentoring program coffee region will be able to provide good benefits for Wanagiri farmers and the model will provide knowledge to farmers to increase productivity, added value and income. Some components of the technology to be applied by BPTP Bali, among others: the introduction of handling seed to be producing seedling with the application of wet fertilizer wich is produced by farmers and compost for soil improvement. After seedling 4-5 months ages it will be certified by Provincial Estate Crops Services under DG Estate Crops, MOA. The seedling is then ready to distribute to farmers.
Keywords : Certified coffee seeds, seed growth, compost, liquid fertilizer, seed maintenance and distribution
.
ABSTRAK
Kopi dengan kriteria indikasi geografis merupakan salah satu kopi organik arabika di bali yang meliputi kawasan Kintamani Bangli, Petang Badung dan Sukasada Buleleng. Kajian pengembangan benih kopi dimulai pada tahun 2017, dilaksanakan di subak Wana Giri kecamatan Sukasada Buleleng. Diseminasi pengembangan benih kopi ini akan memberikan manfaat baik kepada petani dengan meningkatkan indeks pertanaman yang saat ini masih rendah. Pengembangan diseminasi teknologi Badan Litbang Pertanian di bawah program pendampingan kawasan kopi akan dapat memberikan manfaat yang baik bagi para petani. Tujuan umum dari pendampingan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan petani. Beberapa komponen teknologi yang diterapkan oleh BPTP Bali antara lain : penyerahan benih bersertifikat untuk ditumbuhkan, penanganan pembuatan benih kopi arabika dengan aplikasi pupuk cair dan kompos serta penyerahan benih untuk “pengutuhan” populasi.
Kata kunci: Benih kopi bersertifikat, penumbuhan benih, kompos, pupuk cair, pemeliharaan dan distribusi benih.
PENDAHULUAN
Bali sebagai pulau agraris akan tetap mengupayakan sektor pertanian sebagai salah satu sumber pendapatan daerah yang selalu bersinergi dengan pengembangan kawasan
wisata. Misalnya, secara kuantitatif sebagian besar wilayah pedesaan masih tetap menggantungkan kehidupannya pada kegiatan ekonomi yang masyarakatnya bekerja di sektor pertanian. Hal ini mengindikasikan bahwa pertanian diharapkan akan tetap berperan lebih
banyak khususnya sebagai poros tengah penggerak pembangunan dimana mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan sektor-sektor lainnya. Dalam era milleniual ini sector pertanian semakin didorong berkembang menuju pertanian modern yang berwawasan agribisnis yang berbasis ekonomi kerakyatan dengan pemberdayaan sumberdaya secara efisien yang mengakar di pedesaan. Dengan demikian maka pedesaan akan merupakan titik sentral pembangunan wilayah dimana sumberdaya berada di wilayah pedesaan dan sering digunakan istilah “rural resources based” (Zuhal, 2006). Dengan demikian, rangkaian kegiatan ekonomi masyarakat petani khususnya petani kopi terus mengedepankan keunggulan komparatif dan kompetititf yang memiliki nilai tambah tinggi.Disinilah peranan teknologi pertanian dalam meningkatkan nilai status suatu komoditas menjadi sangat penting.
Menurut Kariada, I.K.; Gusti Lanang P.W., dan M.A. Adi Wahyuni, (2019) komoditi pertanian khususnya tanaman kopi yang dalam era milenium ini semakin banyak dikenal oleh masyarakat umum merupakan komoditi yang memiliki banyak peran antara lain memiliki peran dalam aspek social maupun ekonomi. Pada aspek sosial di Bali kopi adalah minuman penerima tamu serta sebagai penutup acara hajatan. Bernilai ekonomi tinggi karena kopi adalah tanaman penyegar, beraroma kenikmatan, bergaya milenial, menyehatkan sehingga nilai tambahnya tinggi. Sementara dalam peran lingkungan hidup kopi merupakan tanaman hidroorologis berperan menjaga kelestarian sumberdaya lahan sebagai penyimpan air dan penyangga tanah agar tidak longsor serta sebagai konservasi sumberdaya.
Tanaman kopi khususnya kopi arabika berkembang di kawasan dataran tinggi beriklim basah dimana sampai dengan tahun 2007, sentra produksi kopi arabika di Bali terluas berada di Kabupaten Bangli dengan luas areal 3.935 ha dan produksi 1.661,328 ton dan sebagan besar (sekitar 92,52 %) produksi berasal dari Keca-matan Kintamani. Sedangkan sentra kopi robusta berada di Kabupaten Buleleng dengan luas areal 10.774 Ha dan produksi 5.902.949 ton (Anoni-mous, 2007; 2008). Dalam kawasan pengemba-ngan kopi organic di Bali maka peran SIMANTRI (sistim pertanian terintegrasi) antara kopi / tana-man dengan aspek ternak diperlukan untuk men-dukung pengembangan kopi organic terutama
dalam penyediaan kompos dan bio urine.Agar kualitas kopi tetap berkembang maka pendam-pingan teknologi kopi dan integrasinya sangat dibutuhkan yang menyangkut aspek inputan, budidaya, pasca panen, dan distribusi/pema-saran, serta penanganan limbah akibat dampak pengolahan kopi basah dan limbah ternak.
Pada tahun 2017, pendampingan pengembangan kawasan perkebunan nasional telah diinisiasi di subak Wanagiri Kecamatan Sukasada Buleleng (Kariada, I.K., I.B. Aribawa, M.A. Widyaningsih, 2018). Beberapa hasil atau program yang telah diaplikasikan di petani antara lain pemanfaatan pupuk organik cair dari olah limbah kopi olah basah yang berfungsi sebagai pupuk organic dan bio pestisida, serta pemanfaatan limbah padat untuk kompos dalam mendukung peningkatan produksi kopi organic. Dalam mendukung pengembangan pertanian organik maka juga telah dilakukan penguatan kapasitas edukasi petani melalui bintek pengembangan pertanian organic, teknologi olah limbah untuk produksi pupuk, teknologi pembuatan mikroba local (Cho, 2004; BBSDLP, 2008) dimana semua ini dirangkum yang disebut dengan sistim pertanian terintegrasi (Kariada, I.K., I.B. Aribawa, N. Duwijana, Sigma A. Dan M.A. Widyaningsih, 2014).Beberapa langkah perbaikan yang dibutuhkan dalam mengem-bangkan kopi yang memiliki daya saing dan mampu berproduksi tinggi di kecamatan Suka-sada Buleleng antara lain melalui pengadaan benih kopi unggul, pengutuhan / peremajaan dengan mengganti tanaman yang sudah tua dengan tanaman muda varietas unggul yang dianjurkan (Kariada, I.K.dan I.B. Aribawa, 2018), serta menerapkan teknik budidaya yang benar, baik mengenai sistem penanaman, pemang-kasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, maupun pengaturan naungannya; serta (d) menerapkan sistem pemanenan dan pengolahan yang benar, baik cara pemetikan, pengolahan, pengeringan maupun sortasi. Mengingat masih banyak ruang untuk melakukan pengutuhan populasi maka pembuatan benih tumbuh bermutu sangat penting untuk dilakukan sehingga dalam jangka panjang mutu dan produktivitas kopi dapat diperbaiki. Dengan demikian pengembangan agribisnis kopi sebagai sumber pendapatan petani menjadi sangat baik dimana kopi memiliki nilai kompetitif dan kom-paratif yang baik serta berbasis sumberdaya di tingkat petani (Badan Agribisnis, 1997).
METODOLOGI
Diseminasi teknologi perbenihan kopi dilaksanakan di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Lokasi dise-minasi pendampingan program pengembangan kopi ini merupakan zona farming systems lahan kering dataran tinggi beriklim basah. Mata pencaharian penduduk sebagian besar dari sektor pertanian khususnya perkebunan kopi arabika rakyat. Dalam mendukung pengem-bangan kopi arabika berkualitas maka ditempuh beberapa langkah yaitu :
• Pengadaan Benih Sumber yang Bermutu Pada tahap awal persiapan pengadaan benih wajib memperoleh benih yang bersertifikat dari instansi yang berwenang, atau dari kebun benih induk dinas perkebunan
• Penentuan tempat lokasi perbenihan yang benar dan persiapan lahan untuk perbenihan dalam rumah benih yang memenuhi syarat perbenihan
• Pendederan benih
• Penyiapan bedengan-bedengan benih agar benih dapat tumbuh dengan baik untuk benih cabut dan atau penyiapan polybag untuk perbenihan di polibag
• Pemindahan benih ke bedengan tanam atau ke polybag
• Perawatan benih sampai berdaun 6-8 sudah siap di sertifikasi
Dalam diseminasi ini juga diintroduksikan pembuatan instalasi bio urine untuk mendukung perbenihan kopi serta aplikasi pemupukan dengan menggunakan bio urine yang dicampur dengan pupuk cair dari olah limbah cair kopi dengan dosis 200 l / ha diencerkan 10 kali serta penggunaan kompos sebagai pupuk dasar dengan dosis 5 ton/ha.Pengukuran data dilakukan dengan melihat visual pertumbuhan saat kopi mulai berdaun 5 pasang saat benih tumbuh sudah siap disertifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tahap awal persiapan pengadaan benih wajib memperoleh benih yang bersertifikat dari instansi yang berwenang.Dengan sertifikasi dapat diketahui tingkat kemurnian varietas pada sumber benih maupun benih sumber, sehingga campuran varietas lain dapat ditekan bahkan
dihilangkan. Campuran varietas lain ini dapat menyebabkan potensi produksi yang diharapkan tidak tercapai. Sertifikasi juga merupakan kegiatan pengawasan terhadap mutu benih yaitu mutu genetis, dan mutu fisik. Disamping itu dengan sertifikasi , kondisi sumber benih terawasi sehingga benih yang dihasilkan adalah benih bermutu dari kebun yang terpelihara secara teknis. Sertifikasi yang diperoleh dari proses sertifikasi menunjukan jaminan kepada pengguna benih (konsumen) bahwa benih yang telah lulus sertifikasi merupakan benih yang jelas mutunya dan jelas varietasnya. Sertifikasi juga menunjukan bukti legal bahwa benih yang dihasilkan produsen dapat dipertanggung-jawabkan mutunya. Untuk itu dalam pelaksanaan sertifikasi benih unggul kopi arabika dilakukan tahapan-tahapan kegiatan mulai dari produksi benih sumber bersertifikat yang dihasilkan dari kebun bibit induk atau dari benih di lokasi lain yang telah ditetapkan sebagai benih bersertifikat. Selanjutnya dilakukan proses penyiapan sampai pembuatan benih sampai siap pindah ke kebun petani.
Tujuan dilakukannya pembuatan benih bermutu adalah untuk menghasilkan benih yang berkualitas dan konsisten dengan adaptasinya. Perbanyakan pada kopi arabika secara umum dilakukan dengan teknis perbanyakan generative.Kelebihan kopi arabika adalah kopi ini menyerbuk sendiri sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan, mutu dan produktivitas yang seragam.Di Indonesia pada saat ini telah memiliki 5 varietas unggul dengan kelebihannya. Kelima varietas tersebut adalah S795 tumbuh pada ketinggian >700 m dpl tingkat produksi 1-1,5 ton/ha, varietas Sigarar Utang berkembang pada ketinggian >1000m dpl dengan produktivitas 0,8-2.3 ton/ha, varietas Gayo 1 dan Gayo 2 adaptasi pada ketinggian >1000 m dpl dengan produktivitas sekitar 0.9-1,2 ton/ha serta varietas Kopyol Bali berkembang pada ketinggian >900 m dpl dengan produktivitas 2.2-2.5 ton/ha.
Di daerah Bali varietas kopi Lini S 795 dan Kopyol telah berkembang dan akhir-akhir ini varietas kopyol terus berkembang dengan baik karena memiliki kelebihan yaitu produksi lebih tinggi dan tahan karat daun, nematode dan PBKO. Untuk menghasilkan benih berkualitas maka diperlukan syarat-syarat yaitu harus memiliki viabilitas tinggi, daya kecambah tinggi, serta tahan hama dan penyakit. Untuk
menghasilkan benih bermutu maka kretirea penting adalah pada mutu genetis yaitu asal benih harus dari kebun benih sumber bersertifikat dan kemurnia benih yang 100 persen. Sementara kretirea mutu fisiologis maka daya kecambah benih minimal 80 persen, pada mutu fisik maka kisaran kadar air harus 35-45 persen, kemurnian fisik biji >80 persen dan bebas dari hama dan penyakit.
Dengan masih rendahnya tingkat per-saingan pasar kopi arabika Bali di tingkat domestik dan internasional, maka sangat dibutuhkan adanya pengembangan kopi melalui pembuatan benih bermutu.Selanjutnya sinergi dengan pengembangan TTG di petani adalah untuk mampu menghasilkan input-input organik agar kopi dapat berkembang dengan baik. Beberapa langkah perbaikan budidaya yang dibutuhkan adalah : (a) mengembangkan kopi yang memiliki daya saing dan mampu berproduksi tinggi pada lahan-lahan yang sesuai khususnya pada pengembangan kopi di kecamatan Sukasada Buleleng; (b) mengganti tanaman yang sudah tua dengan tanaman muda varietas unggul yang dianjurkan (peremajaan); (c) menerapkan teknik budidaya yang benar, baik mengenai sistem penanaman, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, maupun pengaturan naungannya; serta (d)
menerapkan sistem pemanenan dan pengolahan yang benar, baik cara pemetikan, pengolahan, pengeringan maupun sortasi. Dengan peran benih yang bermutu dan peran pemupukanmaka akan menghasilkan kualitas produksi kopi yang sangat baik dan konsisten.
Dalam pelaksanaan kegiatan perbenihan kopi maka telah dilakukan diseminasi inovasi mulai dari persiapan-persiapan dari tahap awal penetapan lokasi sampai benih tumbuh siap pindah. Secara detail langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Pembuatan Bedengan
• Lokasi memenuhi syarat datar atau dibuat teras-teras sehingga tetap datar dengan drainase yang baik, dan mudah di awasi. • lebar bedeng 80-120 cm (utara-selatan),
atau timur barat sesuai bentuk lahan dan panjangnya disesuaikan diberi naungan paranet tinggi sebelah barat 125 cm dan sebelah timur 180 cm.
• Tanah dicangkul ± 30 cm , diisi tanah yg sdh disaring dan pasir halus ± 20 cm
• Bedengan ditinggikan 20 cm, diberi penahan (disini digunakan bambu) agar tidak mudah longsor
Pendederan Benih / Penyemaian
Pada saat persiapan rumah bibit maka dilakukan juga perendaman benih kopi dengan air bersih selama 24-48 jam agar benih siap bertunas.Kemudian dilakukan pendedran benih sampai benih tumbuh disebut dengan istilah pasukan tentara.Dalam pendederan benih maka di atas tanah di taburi dengan penutup potongan jerami atau alang-alang atau daun pisang agar tidak kena sinar matahari langsung ataupun hantaman curah hujan.
Penanaman Benih Tumbuh
Pada saat pembuatan bedengan, maka disiapkan pula plastik hitam perak mengingat saat pesemaian benih curah hujan sangat tinggi sehingga dengan demikian benih yang sudah tumbuh dapat selamat dari hantaman hujan serta gulma tidak tumbuh cepat.Jarak tanam benih tumbuh di atur sedemikian rupa 2 cm x 5 cm sehingga tanaman dapat berkembang dengan baik. Dalam lahan telah dilakukan pemupukan organik / kompos dimana fermentornya menggunakan mikroba MOL dan EM4.Dalam kegiatan perbenihan ini model yang di terapkan yaitu dengan tanam langsung (benih cabut).Dan menggunakan polybag.
Pemeliharaan
Dalam pemeliharaan benih maka selalu dijaga agar benih dapat berkembang dengan baik yaitu tingkat kelembaban, penyiraman dan pemupukan.Mengingat BPTP telah mengha-silkan pupuk cair dan telah diteliti mampu memberi pertumbuhan baik maka selain pupuk organik pupuk cair ini juga diaplikasikan. Sementara intensitas cahaya akan terus ditingkatkan secara bertahap.
Dari sisi pertumbuhan tanaman maka dengan sistim cabut maupun sistim polybag tidak menunjukkan perbedaan pertumbuhan.Terdapat kelebihan dan kekurangan dari dua sistim yang digunakan ini. Pada perbenihan dengan sistim cabut maka pemeliharaan benih tumbuh memakan waktu yang lebih lama karena kebiasaan para petani kopi arabika di desa Wanagiri kecamatan Sukasada Buleleng ingin mempertahankan akar pancar yang tetap lurus serta menanam benih tumbuh yang sudah berumur sekitar setahun dan selalu dilakukan pada musim hujan. Sementara apabila dibandingkan dengan benih yang ditumbuhkan dalam polybag agar akar pancar dapat dipertahankan lurus maka harus ditanam saat tanaman sudah berdaun 4-5 pasang. Bila lewat dari umur ini maka akar pancar dalam polybag
akan melingkar. Pengalaman para petani apabila menanam dengan kondisi akar melingkar dalam polybag, maka saat tanaman berbuah dan bila terjadi angin keras / putting beliung maka tanaman ini roboh dan petani merasa rugi. Faktor lainnya adalah bila menanam dengan model polybag maka para petani akan sibuk memelihara tanaman karena tanaman masih kecil yang membutuhkan perawatan lebih banyak. Untuk mendukung berkembangnya tanaman dengan baik, maka diintroduksikan instalasi pengolah limbah urine ternak untuk difermentasi menjadi pupuk cair bio urine (Gambar 2).
Dalam aspek pemeliharaan maka pengaruh dari aplikasi pupuk cair dari limbah cair kopi dicampur dengan bio urine dan pupuk dasar kompos 5 ton/ha memberikan pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan hanya menggunakan kompos saja berdasarkan tampilan secara visual (Gambar 1).Dalam diseminasi ini kondisi tersebut berlaku untuk model penggunaan polybag maupun sistim benih cabut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam mendiseminasikan teknologi perbenihan kopi arabika maka tahapan-tahapan prosedur membuat benih tumbuh wajib dilakukan sejak mulai mendapatkan biji benih kopi. Dalam proses yang dilalui maka tetap penting melakukan perlakuan pemupukan sehingga pertumbuhan benih menjadi baik serta bila dipindahkan ke lahan kebun tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pertumbuhan yang baik akan memberikan potensi produksi yang baik. Dalam mendukung berkembangnya tanaman maka petani perlu melakukan pengolahan pupuk cair sendiri agar mandiri tidak tergantung dari input luar yaitu mengolah limbah cair kopi serta limbah urine ternak untuk pupuk cair. Dalam diseminasi ini maka aplikasi pemupukan bio urine di campur dengan pupuk cair dari limbah kopi dan pupuk dasar kompos memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibanding dengan hanya menggunakan kompos saja seperti kebiasaan para petani.
KONTRIBUSI PENULIS
Penulis 1,2 dan 3 merupakan kontributor utama dalam kegiatan penelitian dan penulisan artikel ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2007.Laporan Tahunan Dinas Perkebunan Provinsi Bali Tahun 2007. Denpasar: Dinas Perkebunan Provinsi Bali.
Anonimous, 2008.Persiapan Buku Spesifikasi Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Kintamani, 17 p.Dinas Perkebunan Provinsi Bali.
Badan Agribisnis, 1997. Master Plan Badan Agribisnis. Dep. Pertanian Jakarta.
BBSDLP, 2008. Laporan Pelatihan Olah Limbah di Kawasan Prima Tani Gianyar. Kerjasama dengan BPTP Bali.
Cho, KewHan. 2004. Book of Natural Farming.Korea.
Kariada, I.K.; Gusti Lanang P.W., dan M.A. Adi Wahyuni, (2019). The Third Bali International Tourism Conference. Udayana University Bali. 26-27 September 2019..
Kariada, I.K., I.B. Aribawa, N. Duwijana, Sigma A. Dan M.A. Widyaningsih, 2014. Laporan akhir m-P3MI Gianyar, 2014. BPTP Bali. Kariada, I.K., I.B. Aribawa, dan M.A.
Widyaningsih, 2018. Lap akhir Pendampingan Kawasan Perkebunan Kopi di Desa Wanagiri, Sukasada, Buleleng. BPTP Bali.
Kariada, I.K. dan I.B., 2018. Lap akhir Pengembangan Perbenihan Kopi Arabika di Desa Wanagiri, Sukasada, Buleleng. BPTP Bali.
Zuhal, 2006. Peran Teknologi Dalam Pembangunan. Koran Suara Merdeka.
POTENSI MINYAK ATSIRI Curcuma longa, C.zedoaria, DAN C.aeruginosa TERHADAP PENEKANAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI MERAH BESAR
Anella Retna Kumala Sari1, Firdaus Auliya Rahmah2,
Syamsuddin Djauhari3 dan Ni Wayan Trisnawati4
1,4) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali,
Jl. By Pass Ngurah Rai, Pesanggaran, Denpasar Selatan, Bali, 8022 E-mail : [email protected]
2, 3) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Malang
E-mail : [email protected]
submitted date: 2 Oktober 2019 approved date: 14 November 2019
ABSTRACT
Potential of Curcuma longa, C.zedoaria and C. Aeruginosa Essential Oils to Pressure Antraknosa Disease on Red Chillie
Anthracnose disease on chilies caused by the fungus Colletotrichum capsici. During this time, anthracnose disease is controlled by chemical fungicides, it is necessary changed to become alternatives control that are environmentally friendly. Vegetable fungicide derived from Curcuma contains sesquiterpene essential oils that act as anti-fungal. This study aims to determine the effectiveness concentration of essential oils from three kinds of Curcumas areCurcuma longa, C. zedoaria, and C. aeruginosato inhibite fungus C. capsici. Essential oilswere obtained from the rhizomes of C. longa, C. zedoaria, and C. aeruginosa. The chemical components of essential oil were identified by GC-MS.The study was conducted by usingin vitro and in vivo test. The design used was Factorial Complete Randomized Design (FCRD) with 16 treatment that replicated 3 times.The treatments tested were two factors, the first factor was the type of Curcuma, while the second factor was the concentration. The results of GC-MS analysis showed that the C. longa essential oil contained â–turmerone 40,89%, ar-turmerone 26,51%, and 1,6-Spiro(4,4) Nonodiene 21,97%. Then C. zedoaria essential oil contained â-myrcene 54,39%, â-Pinene 28,95%, and â-Ocimene 3,92%. And C. aeruginosa essential oil contained 1,8-cineole 39,62%, camphor 11,96%, dan â-pinene 7,1%.Essential oils from C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa capable to inhibit growth of C. capsici by both in vitro and in vivo. Essential oil from C.longa gave the best result at 32 ppm. Then, essential oils from C. aeruginosa and C. zedoaria had best result at 128 ppm.
Keywords: Curcuma, antrachnose, red chillie, essential oils
ABSTRAK
Penyakit antraknosa pada buah cabai disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici.Selama ini penyakit antraknosa dikendalikan dengan fungisida kimia, untuk itu diperlukan alternatif pengendalian yang bersifat ramah lingkungan.Fungisida nabati yang berasal dari Curcuma mengandung minyak atsiri seskuiterpen yang berperan sebagai anti jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas berbagai konsentrasi minyak atsiri 3 jenis Curcuma yaitu Curcuma longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa dalam menghambat jamur C.
capsici. Minyak atsiri diperoleh dari rimpang C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa.Komponen kimia minyak atsiri diidentifikasi menggunakan GC-MS. Penelitian dilakukan secara in vitro dan in vivo.Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan 16 perlakuan sebanyak 3 kali ulangan. Perlakuan yang diujikan ada dua faktor, faktor pertama yaitu jenis Curcumasedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi. Hasil analisis GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsiri C. longa mengandung â–turmerone 40,89%, ar-turmerone 26,51%, 1,6-Spiro(4,4)Nonodiene 21,97%. Kemudian C. zedoaria mengandung â-myrcene 54,39%, â-pinene 28,95%, â-ocimene 3,92%. Dan C. aeruginosa mengandung 1,8-cineole 39,62%, camphor 11,96%, dan â-pinene 7,1%. Minyak atsiri C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan jamur C. capsici baik secara in vitro maupun in vivo. Minyak atsiri C.longa memberikan pengaruh terbaik pada konsentrasi 32 ppm. Minyak atsiri C.aeruginosa dan C.zedoaria memberikan pengaruh terbaik pada konsentrasi 128 ppm.
PENDAHULUAN
Salah satu komoditas sayuran unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi serta daya adaptasi yang tinggi ialah Cabai merah (Capsicum annuum). Hal ini karena kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, sentra produksi cabai merah tersebar cukup luas di Indonesia baik di dataran rendah, medium maupun di dataran tinggi. Selain itu, cabai merah dapat ditanam pada musim penghujan maupun musim kemarau (Moekasan, 2010). Bedasarkan data yang dihasilkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2015), perkembangan produktivitas cabai di Indonesia baik cabai besar maupun cabai rawit sangat berfluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan pada pada tahun 1980-2014. Pada kurun waktu 2006 – 2015, produksi cabai merah besar di Indonesia mengalami rata-rata peningkatan sebesar 4,16% per tahun yang setara dengan 34.349 ton cabai besar per tahun (Kementerian Perdagangan, 2016). Sejalan dengan produksi cabai yang cenderung meningkat tiap tahunnya, maka kebutuhan konsumsi cabai merah besar juga cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Konsumsi cabai merah besar pada kurun waktu 2006-2015 secara berturut-turut yaitu sebesar 1,38 , 1,47 , 1,55 , 1,52 , 1,53 , 1,50 , 1,65 , 1,42 , 1,46 kg/kapita/tahun (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2015). Adanya fluktuasi perkembangan produksi cabai merah besar di Indonesia mengakibatkan terjadinya lonjakan harga cabai yang diakibatkan oleh adanya perubahan iklim dan meningkatnya serangan OPT serta gagalnya pengendalian secara konvensional. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya cabai merah ialah adanya serangan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama pada cabai yang seringkali menyerang pada bagian buah sehingga dapat menyebabkan penurunan dari segi kualitatif dan kuantitatif.
Penyakit antraknosa tergolong sangat berbahaya karena mampu menggagalkan panen hingga mencapai 100% (Semangun, 1994). Selama inidalam pengendalian penyakit C. capsici digunakan fungisida kimia. Penggunaan fungisida kimia sebagaiupaya pengendalian penyakit dapat berdampak negatif pada lingkungan, yang dapat meninggalkan residu
dan tidak dapat terdegradasi. Fungisida kimia dianggap solusi ampuh untuk pengendalian jamur patogen karena cara aplikasi yang praktis dan efektif. Namun, penggunaan fungisida secara terus-menerus dan dosis tidak sesuai aturan dapat menyebabkan resistensi jamur patogen. Dengan demikian, fungisida kimia yang dianggap cepat dalam mencegah serangan C.capsici akan berbalik mendukungpertumbuhan jamur patogen C.capsici. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif pengendalianyang ramah lingkungan.
Upaya pengendalian yang ramah ling-kungan, merupakan salah satu alternatif dalam pengendalian C. capsici karena tidak memiliki dampak negatif seperti pencemaran ling-kungan.Salah satu upaya tersebut yaitu peman-faatan fungisida nabati dalam pengendalian C. capsici.Saat ini telah banyak penelitian tentang pengendalian jamur patogen menggunakan fungisida nabati. Salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai fungisida nabati adalah tumbuhan genus Curcuma.Curcuma merupakan salah satu tanaman obat-obatan dari famili Zingiberaceae yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder dan dapat digunakan sebagai antimikroba dan fungisida alami (Nurhayati et al., 2008).
Tanaman yang digunakan untuk obat tradisional umumnya mengandung komponen alami yang potensial menjadi antimikroba, sebagai suatu alternatif yang efektif, murah, dan sebagai agen antimikrobia untuk perlakuan infeksi mikrobia (Masih, 2014).Salah satu jenis Curcuma yang biasa digunakan ekstraknya untuk fungisida nabati yaitu kunyit (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val).Kunyit dan jenis Curcuma lainnya mengandung minyak atsiri yang memiliki sifat antimikroba Banyak penelitian yang menjelaskan tentang pengaruh ekstrak kunyit dalam pengendalian jamur patogen. Namun belum banyak penelitian tentang pemanfaatan minyak atsiri dari rimpang Curcuma lainnya sebagai antifungi. Kementerian Perdagangan (2014) mengemukakan bahwa Indonesia menjadi salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia dimana 40 jenis minyak atsiri dari total 70 jenis yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional dapat diproduksi di Indonesia. Meskipun banyak jenis minyak atsiri yang bisa diproduksi di Indonesia, namun hanya sebagian kecil jenis minyak atsiri
yang diusahakan di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan minyak atsiri dari beberapa jenis Curcuma yang paling efektif menekan pertumbuhan C. capsici.Jenis Curcuma yang telah banyak diteliti dalam pengendalian penyakit yaitu kunyit (C. longa).Sedangkan jenis Curcuma seperti temu-temuan masih sedikit informasi yang dapat diperoleh dalam pengendalian terhadap jamur patogen. Sehingga untuk perbandingan dan mengetahui potensi dari jenis Curcuma lainnya, maka dalam penelitian ini digunakan 3 jenis Curcuma yaitu Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val., Curcuma zedoaria Rosc. (Temu Putih), dan Curcuma aeruginosa Roxb. (Temu Ireng). Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui jenis Curcuma yang memiliki potensi untuk mencegah dan menekan serangan penyakit antraknosa pada buah cabai merah besar.
METODOLOGI
Bahan dan Alat
Alat yang digunakan untuk penelitian yaitu kamera, alat tulis, kapas, tisu, timbangan digital, sprayer, cawan petri (diameter 9 cm), autoklaf, jarum ose, pinset, pisau scalpel, bunsen, kompor listrik, botol media, botol gelap, beaker glass (500 dan 1000 ml), gelas ukur, tabung reaksi, erlenmeyer, pipet, mikro pipet, haemocytometer, spatula, orbital shaker, Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), rotary vaccum evaporator, dan HP-LC. Bahan yang digunakan selama penelitian yaitu buah cabai merah besar, senyawa non atsiri 3 jenis Curcuma (C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa) yang didapatkan di Kebun Raya Purwodadi, media PDA (kentang, dextrose, agar), aquades, aquades steril, alkohol (70 dan 96%), khlorox (NaOCl 2%), HCl 10%, spirtus, chlorampenicol, metanol, dan jamur Colletotrichum capsici.
Penelitian dilakukan di laboratorium Mikologi dan Toksikologi Pestisida Jurusan Hama Penya-kit Tumbuhan (HPT) Fakultas Pertanian Univer-sitas Brawijaya Malang, dan Laboratorium Sen-tral Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.
Isolasi jamur C.capsici
Isolat jamur C.capsici berasal dari buah cabai merah yang terinfeksi penyakit antraknosa. Buah cabai merah yang terinfeksi tersebut dipotong seluas 1 cm dimana dibagi menjadi 0,5 cm untuk permukaan bagian buah yang sehat dan 0,5 cm untuk bagian permukaan buah yang terinfeksi. Buah yang telah dipotong tersebut disterilkan terlebih dahulu dengan cara direndam ke dalam larutan khlorox (NaOCL) 2%, alkohol 70% dan aquades steril masing-masing selama 1 menit. Selanjutnya, potongan permukaan buah yang disterilkan tersebut diinokulasikan atau ditanam pada cawan petri yang telah berisi media PDA, kemudian dipurifikasi ke dalam media tanam PDA (Potato Dextrose Agar) yang baru dan diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis yang meliputi bentuk, warna dan ukuran konidia sesuai studi pustaka yang menunjukkan ciri-ciri C.capsici
Proses Destilasi Minyak Atsiri
Penyulingan minyak atsiri yang berasal dari 3 jenis Curcuma yaitu Curcuma longa, C.zedoaria dan C.aeruginosa dilakukan di Laboratorium Toksikologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Tiap Curcuma dilakukan persiapan terlebih dahulu sebelum siap untuk disuling yaitu bahan-bahan tiap jenis Curcuma dipotong-potong menjadi berukuran sangat kecil agar minyak atsiri yang dihasilkan lebih banyak. Bahan-bahan tersebut dimasukkan di dalam ketel penyulingan sebanyak 2/3 bagian atau selisih dua ruas jari dari batas ketel. Pada ketel, sebelum dimasukkan bahan Curcuma, diberi kain saring terlebih dahulu. Kemudian, ketel yang telah diisi bahan ditutup secara rapat kemudian pendingin dan kompor dinyalakan. Waktu yang dibutuhkan untuk penyulingan potongan rimpang tiap jenis Curcuma yaitu selama 4 jam. Minyak atsiri yang terkandung pada tiap jenis Curcuma ikut bersama uap panas melalui pipa. Selan-jutnya, uap air dan minyak akan mengembun dan ditampung dalam pipa pemisah yang berisi air. Minyak atsiri yang telah diperoleh kemudian disimpan pada botol kaca. Setelah 1 jenis Curcuma selesai disuling, maka destilator dapat
digunakan kembali dengan cara mencuci ketel terlebih dahulu dan menuangkan alkohol pada pipa yang terkena hasil penyulingan rimpang Curcuma sebelumnya.
Pelaksanaan Penelitian
Uji Senyawa Menggunakan GC-MS
Pengujian senyawa yang terkandung dalam minyak atsiri tiap jenis Curcuma dilakukan dan dianalisis dengan menggunakan alat Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mengetahui komponen penyusun minyak atsiri rimpang Curcuma. Spektrum massa yang diperoleh dibandingkan dengan spektrum senyawa standar yang telah diketahui dalam database yang telah terprogram pada alat GC-MS.
Pengujian Minyak Atsiri 3 Jenis Curcuma secara in vitro metode peracunan makananTerhadap Pertumbuhan Jamur C. Capsici
Isolat C.capsici yang telah dikembang-biakkan diambil menggunakan corkborrer untuk diinokulasikan atau ditanam di bagian tengah cawan petri yang telah berisi media PDA baik tanpa maupun dengan campuran minyak atsiri tiap jenis Curcuma sesuai perlakuan. Minyak atsiri tersebut ditambahkan pada saat proses pembuatan media PDA. Pengamatan dilakukan setiap hari hingga cawan petri perlakuan kontrol telah memenuhi permukaan.
Rancangan Penelitian
Buah cabai merah yang sehat disterilkan dahulu dengan cara dicuci menggunakan sabun dan disemprot alkohol 70% dan direndam ke dalam aquadest steril. Selanjutnya, buah cabai merah tersebut ditiriskan terlebih dahulu sebelum direndam ke dalam larutan minyak atsiri selama 5 menit sesuai perlakuan. Kemudian, buah cabai merah dikeringanginkan selama 12 jam pada kotak atau wadah terbuka. Selanjutnya, buah cabai merah tersebut diinokulasikan jamur C.capsici dengan metode penusukan pada permukaan buah cabai merah. Suspensi inokulum C.capsici diteteskan diatas permukaan buah cabai merah yang telah ditusuk tersebut.
Pengujian secarain vitro dan in vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) 20 taraf perlakuan dengan
masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali yaitu faktor pertama adalah perlakuan minyak atsiri Curcumadan faktor kedua yaitu perlakuan konsentrasi yang digunakan dalam pengujian C0 = Tanpa minyak atsiri Curcuma
C1 = Minyak atsiri C. longa C2 = Minyak atsiri C. zedoaria C3 = Minyak atsiri C. aeruginosa K1 = Konsentrasi 0,5 ppm K2 = Konsentrasi 2 ppm K3 = Konsentrasi 8 ppm K4 = Konsentrasi 32 ppm K5 = Konsentrasi 128 ppm Parameter Pengamatan
Penghambatan Pertumbuhan Koloni C.capsici secara in vitro dan in vivo
Daya hambat minyak atsiri 3 jenis Curcuma terhadap pertumbuhan jamur C.capsici dihitung berdasarkan hasil pengukuran diameter koloni jamur di cawan petri (in vitro) dan diameter panjang gejala penyakit antraknosa yang mucul di buah cabai merah (in vivo )dengan rumus :
Keterangan : D = diameter koloni jamur, d1 = diameter vertikal koloni jamur dan atau gejalaantraknosa yang diamati, d2 = diameter horizontal koloni jamur dan atau gejala antraknosa yang diamati.
Berat Kering (Biomassa) Misellium C.capsici
Menghitung berat kering (biomassa) miselium jamur digunakan untuk mengetahui terhambatnya pertumbuhan jamur C. capsici oleh minyak atsiri Curcuma melalui bobotnya. Rumus berat kering (biomassa) yaitu (Kurniasih, 2014):
M = m1 – m0
Keterangan : M = massa miselium C. capsici, m0 = berat kertas saring kosong, m1 = berat kertas saring + miselia C. capsici.
Rumus Pengenceran Minyak Atsiri
Dalam pembuatan formulasi konsentrasi larutan minyak atsiri, terlebih dahulu dilakukan
pembuatan larutan stok. Pembuatan larutak stok ini nantinya akan mempermudah dalam pembuatan larutan minyak atsiri 3 Jenis Curcuma yang sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Larutan stok minyak atsiri yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebesar 500ppm. Pembuatan formulasi untuk pengujian dilakukan dengan menggunakan rumus pengenceran yaitu V1 x M1 = V2 x M2. Dimana V1 = volume minyak atsiri yang dibutuhkan (ml), M1 = massa minyak atsiri (ppm), V2 = volume larutan yang dibutuhkan (1000 ml), M2 = formulasi 500 ppm. Selanjutnya, larutan stok 500ppm sebanyak 1000ml diencerkan sesuai perlakuan 0,5; 2; 8; 32; 128 ppm.Setelah volume minyak atsiri didapatkan kemudian larutan stok 500 ppm yang telah diencerkan dimasukkan, larutan PDA dimasukkan, dicampur dengan 0,1% tween 80 sebagai pengemulsi, kemudian diberi aquades steril hingga mencapai volume 1000 ml. Dalam pengujian secara in vitro, larutan ini langsung diaplikasikan dengan dicampur media PDA. Sedangkan pengujian secara in vivo, larutan digunakan dengan cara merendam cabai merah. Kebutuhan larutan stok minyak atsiri setiap perlakuan adalah 1000 ml.
Analisis Data
Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan uji F taraf 5% dan apabila dalam pengujian sidik ragam diperoleh pengaruh perlakuan berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Duncan 0,05 (DMRT 0,05).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komponen Minyak Atsiri 3 Jenis Curcuma Hasil analisis GC-MS dari minyak atsiri C.longa, C.aeruginosa dan C.zedoaria memiliki komponen senyawa dominan yang berbeda-beda. Tiga komponen senyawa dominan yang terkandung dalam minyak atsiri C.longa (kunyit)yaitu â-Turmerone (40,89%) (Gambar 1), Ar-Turmerone (26,51%), dan 1,6-Spiro(4,4)Nonodiene (21,97%). Wasilah et al. (2007), mengemukakan bahwa minyak atsiri yang berasal dari rimpang kunyit mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai senyawa antifungi dan
termasuk ke dalam golongan seskuiterpen yaitu turmerone, turmerol, arturmeron, curlon, ar-kurkumin dan senyawa turunan minyak atsiri lainnya yang diduga memiliki sifat antifungi.
Gambar 1. Analisis GC-MS Komponen Minyak Atsiri C. Longa
Selanjutnya, komponen senyawa kimia yang mendominasi dalam minyak atsiri yang berasal dari C.zedoaria (temu putih) ialah â-Myrcene (54,39%), â-Pinene (28,95%), dan â-Ocimene (3,92%) (Gambar 2). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Singh et al. (2003), menunjukkan bahwa minyak atsiri C.zedoaria mampu menghambat pertumbuhan miselium jamur Colletotrichum falcatum dengan konsentrasi minyak atsiri 4 μL/cawan Petri. Hasil analisis HPLC, GC dan GC-MS minyak atsiri C.zedoaria yang dilakukan oleh Singh et al.(2003), menunjukkan adanya senyawa 1,8-cineole (18,5%), o- dan p-cymene (18,42%), á-phellandrene (14,93%) sebagai komponen terbesar., diikuti terpinolene (4,11%), á-pinene (3,28%, â-Turmerone (3,1%), â-pinene (2,93%), â-phellandrene (2,0%), p-cymene-8-ol (1,84%), linalool (1,8%), dan myrcene (1,62%).
Gambar 2. Analisis GC-MS Komponen Minyak Atsiri C. zedoaria
Dalam minyak atsiri C.aeruginosa (temu ireng) terdapat 3 komponen senyawa dominan yaitu 1,8-Cineole (39,62%), Camphor (11,96%), dan â-Pinene (7,10%) (Gambar 3). Senyawa
1,8-Cineole telah dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus(Tripathi et al., 2013). Kemampuan sebagai antibakteri yang dimiliki oleh senyawa 1,8-Cineole diharapkan memiliki sifat antijamur. Hasil dari penelitian ini akan menunjukkan potensi C. aeruginosa dalam menekan pertumbuhan jamur C. capsici, dimana 1,8-Cineole merupakan komponen tertinggi minyak atsiri C. aeruginosa.
Gambar 3. Analisis GC-MS Komponen Minyak Atsiri C. aeruginosa
Minyak atsiri 3 jenis Curcuma ini terdiri dari minyak atsiri seskuiterpen dan monoterpen. Pada C. longa terdapat komponen seskuiterpen yang bersifat antifungi seperti Ar-Turmerone, sedangkan pada C. zedoaria dan C. aeruginosa banyak ditemukan senyawa monoterpen seperti
1,8-Cineole dan â-Myrcene. Damalas (2011), menyatakan bahwa komponen tertinggi dari senyawa seskuiterpenoid atau pengaruh kombinasi dari komposisi monoterpenoid dan seskuiterpenoid mampu menambah aktivitas antifungi.Berdasarkan hasil identifikasi kandungan minyak atsiri dari 3 jenis Curcuma, maka dapat dikatakan adanya kemungkinan potensi pemanfaatan minyak atsiri dari 3 jenis Curcuma tersebut sebagai antifungi untuk mengendalikan C.capsici pada cabai merah besar.
Diameter Pertumbuhan Jamur C.capsici secara in vitro
Minyak atsiri yang berasal dari rimpang C.longa, C.zedoaria dan C.aeruginosa memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jamur C.capsici secara in vitro yaitu dengan metode peracunan makanan. Pengaruh perlakuan minyak atsiri yang berasal dari 3 jenis Curcuma tersebut mampu menghambat pertumbuhan jamur C.capsici (Tabel 1). Perlakuan minyak atsiri C.longa memiliki pertumbuhan jamur terkecil yaitu dengan rata-rata diameter sebesar 3,87 cm, kemudian yang kedua yaitu C.zedoaria dengan rata-rata diameter 4,86 cm. Diameter koloni jamur Tabel 1. Rata-rata diameter pertumbuhan koloni jamur C.capsici uji in vitro metode peracunan
makanan setelah diinkubasi selama empat belas hari akibat perlakuan jenis Curcuma
Perlakuan Jenis Curcuma Diameter Koloni Jamur C.capsici (cm)
Kontrol (C0) 6,08 d
C. longa (C1) 3,87 a
C. zedoaria (C2) 4,86 b
C. aeruginosa (C3) 5,28 c
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda, berarti berbeda nyata pada uji Duncan 0,05
Tabel 2. Rata-rata diameter pertumbuhan koloni jamur C.capsici uji in vitro metode peracunan makanan setelah diinkubasi selama empat belas hari akibat perlakuan konsentrasi
Perlakuan Jenis Konsentrasi Diameter Koloni Jamur C.capsici (cm)
0,5 ppm (K1) 5,38 a
2 ppm (K2) 5,09 a
8 ppm(K3) 4,89 a
32 ppm(K4) 4,87 a
128 ppm(K5) 4,845 a
C.capsici dari perlakuan minyak atsiri C.aeruginosa sebesar 5,28 cm. Rata-rata diameter koloni jamur terbesar dimiliki oleh perlakuan kontrol yaitu sebesar 6,05 cm. Senyawa antifungi yang terkandung dalam masing-masing minyak atsiri tersebut mampu mempengaruhi pertumbuhan diameter jamur. C.longa (kunyit) memiliki kandungan senyawa ar-turmerone yang merupakan komponen tertinggi dan memiliki sifat antifungi yang tinggi (Wasilah et al., 2007). Sehingga dapat dilihat pada tabel 1 bahwa pengaruh minyak atsiri yang berasal dari C.longa menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan perlakuan minyak atsiri C.zedoaria, C. Aeruginosa dan kontrol.
Dalam jangka waktu 14 hari, minyak atsiri mampu mempengaruhi pertumbuhan C.capsici pada berbagai konsentrasi. Setelah diinkubasi selama empat belas hari setelah inokuasi, pengaruh berbagai konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (Tabel 2). Inkubasi C. capsici selama 14 hari didasarkan pada metode yang dilakukan oleh Suparman et al (2017), bahwa jangka waktu 14
hari merupakan waktu optimum bagi C. capsici untuk bersporulasi.
Konsentrasi 128 ppm menunjukkan diameter koloni C.capsici terkecil yaitu sebesar 4,845 cm. Konsentrasi terkecil yaitu 0,5 ppm menyebabkan pertumbuhan jamur lebih cepat dibandingkan perlakuan konsentrasi lainnya sehingga memberikan nilai diameter koloni terbesar yaitu 5,38 cm.
Menurut Tabassum dan Vidyasagar(2013), senyawa-senyawa antifungi mampumenurunkan angka penggunaan bahan kimia. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka diperlukan eksplorasi lebih mendalam mengenai potensi bahan-bahan yang berasal dari alam yang mengandung senyawa antifungi.Salah satunya yaitu menggunakan tanaman aromatik dan minyak atsiri yang memiliki kandungan senyawa antifungi didalamnya. Aktivitas antifungi ditunjukkan oleh beberapa komponen seperti carvacrol, á-terpinly acetate, cymene, thymol, pinene, linalool yang mana sudah diketahui dapat menghambat aktivitas antimikrobia.Hal ini sesuai dengan hasil GC-MS dari minyak atsiri 3 jenis Curcuma, Tabel 3. Pengaruh jenis dan konsentrasi minyak atsiri terhadap panjang gejala penyakit antraknosa
pada buah cabai merah besar secara in vivo
Konsentrasi Jenis Curcuma K1 K2 K3 K4 K5 C0 1,02 b 0,92 ab 0,75 ab 0,65 ab 0,85 ab C1 1,83 b 0,1 ab 0,77 ab 0,00 a 0,125 b C2 0,1 ab 0,4 ab 0,39 ab 0,53 ab 0,55 ab C3 0,43 ab 0,95 ab 0,5 ab 0,08 ab 0,13 ab
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata
pada uji Duncan 5%
Tabel 4.Pengaruh jenis dan konsentrasi minyak atsiri terhadap berat kering miselium C. Capsici Konsentrasi Jenis Curcuma K1 K2 K3 K4 K5 C0 225,27 c 207,5 c 200,57 c 211 c 225,17 c C1 106,13 ab 53,47 ab 47,6 ab 38,2 a 39,23 a C2 189,37 bc 184,9 bc 114,97 b 90,53 ab 56,9 ab C3 197,13 c 170,97 bc 159,67 bc 162,27 bc 59,23 ab
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%
dimana beberapa dari senyawa-senyawa tersebut terdapat didalam minyak atsiri C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa.Oleh karena itu minyak atsiri C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa berpotensi sebagai fungisida nabati, seperti daya hambat yang ditunjukkan terhadap pertumbuhan jamur C. capsici.
Pengaruh Minyak Atsiri 3 Jenis Curcuma Terhadap Penyakit Antraknosa pada Buah Cabai Merah Secara in vivo
Pengaruh jenis dan konsentrasi minyak atsiri 3 jenis Curcuma memberikan pengaruh yang berbeda nyata (Tabel 3) terhadap panjang gejala antraknosa pada buah cabai merah. Panjang gejala antraknosa tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol. Pemberian minyak atsiri C.longa pada konsentrasi 32 ppm mampu menekan serangan gejala penyakit antraknosa hingga tidak menimbulkan gejala.
Adanya perbedaan pengaruh yang nyata interaksi antara jenis Curcuma dan konsentrasi pada uji in vivo ini tidak selaras dengan interaksi antara jenis Curcuma dan konsentrasi pada uji in vitro yang tidak berbeda nyata. Nugraheni (2014), berpendapat bahwa perbedaan penga-ruh yang diberikan oleh uji in vivo dan in vitro pada perlakuan pengaruh minyak atsiri dapat disebab-kan karena adanya interaksi antara senyawa fe-nolik dan senyawa yang terkandung pada buah. Berat Kering Misellium
Berbeda dengan pengukuran diameter jamur C.capsici pada parameter sebelumnya yang bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan jamur, pengukuran berat kering misellium jamur bertujuan untuk mengetahui perkembangan jamur C.capsici. Hasil pengukuran berat kering misellium yang dilakukan pada 14 hari setelah inokulasi menunjukkan pengaruh yang signifikan atau nyata.
Pina-Vaz et al. (2004), menyatakan bahwa minyak atsiri dapat menyebabkan perubahan pada morfologi hifa. Hifa menjadi rusak, terpe-lintir, dan struktur permukaan berubah.Sehingga dapat disimpulkan jika minyak atsiri Curcuma tidak hanya mampu menghambat pertumbuhan C. capsici namun juga mempengaruhi morfologi miselium jamur.Pertumbuhan jamur yang terhambat dapat dilihat dari diameter yang semakin kecil sedangkan dari penimbangan
berat kering jamur pada 14 HSI dapat diketahui juga daya hambat terhadap perkembangan jamur selama 14 HSI. Selain itu, Rahmah dan Rahman (2010), mengemukakan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin ba-nyak pula kandungan senyawa aktif yang bersifat antifungi dalam menghambat pertumbuhan jamur.
KESIMPULAN
Hasil analisis GC-MS terhadap senyawa-senyawa antifungi yang terkandung dalam minyak atsiri yang berasal dari 3 jenis Curcuma menunjukkan bahwa minyak atsiri C. longa mengandung â–turmerone 40,89%, ar-turmerone 26,51%, nonodiene 21,97%. Kemudian C. zedoaria mengandung â-myrcene 54,39%, â-pinene 28,95%, â-ocimene 3,92%. Dan C. aeruginosa mengandung 1,8-cineole 39,62%, camphor 11,96%, dan â-pinene 7,1%.Minyak atsiri C. longa, C. zedoaria, dan C. aeruginosa mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan jamur C. capsici baik secara in vitro maupun in vivo. Minyak atsiri C.longa memberikan pengaruh terbaik pada konsentrasi 32 ppm. Minyak atsiri C.aeruginosa dan C.zedoaria memberikan pengaruh terbaik pada konsentrasi 128 ppm.
KONTRIBUSI PENULIS
Penulis 1, 2 dan 3 merupakan kontributor utama dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan artikel ilmiah ini. Penulis 4 merupakan pembimbing dalam kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Damalas, A. C. 2011. Potential Uses of Turmeric (Curcuma longa) Products as Alternative Means of Pest Management in Crop Production. Department of Agricultural Development; Democritus University of Thrace. Plant Omics J. POJ. Vol 4(3):136-141.
Kementerian Perdagangan. 2016. Profil Komoditas Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Komoditas Cabai. Cetakan 2016