PEMANFAATAN PROTEIN PADA SAPI JANTAN
PERANAKAN ONGOLE DAN PERANAKAN FRIESIAN
HOLSTEIN YANG MENDAPAT PAKAN RUMPUT GAJAH,
AMPAS TAHU DAN SINGKONG
(Dietary Protein Utilization in Ongole Cross and Friesian Holstein
Cross Bulls Fed Napier Grass (Pennisetum purpureum),
Tofu By-Product and Cassava)
EDY RIANTO,MARIANA WULANDARI danRETNO ADIWINARTI
Fakultas Peternakan Unversitas Diponegoro, Semarang
ABSTRACT
An experiment was carried out to study protein utilization in Ongole Cross (OC) and Friesian Holstein Cross (FHC) bulls fed Napier grass and concentrate consisting tofu by-product and cassava. This experiment was done using 4 OC bulls and 4 FHC bulls weighing 195.9 and 198.64 kg, respectively. Feed was offered at the amount of 3% of live weight. The ratio of grass to concentrate was 30 : 70. Parameters observed were: dry matter (DM) intake, live weight gain (LWG), protein intake, protein deposition and protein conversion. The results showed that OC and FHC bulls were not significantly different (P > 0.05) in parameters observed. Protein intake and digestibility in OC were 603 g/day and 63.41%, while those in FHC were 638 g/day and 65.19%. Protein retention in OC and FHC were 61.54% and 61.44%, respectively. Live weight gain of OG and FHC were 1.09 and 1.14 kg/day, respectively. The conversion of retained protein to live weight gain in OC and FHC bulls was the same, i.e. 0.34. It was concluded that OC and FHC had similar ability in utilizing dietary protein.
Key Words: Ongole Cross, Friesian Holstein Cross, Protein Utilization
ABSTRAK
Suatu penelitian telah dilaksanakan dengan tujuan untuk membandingkan pemanfaatan protein pada sapi jantan PO dan PFH yang mendapat pakan berupa rumput Gajah dan konsentrat yang terdiri atas ampas tahu dan singkong. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 ekor sapi PO dan 4 ekor sapi PFH dengan rata-rata bobot badan masing-masing 195,9 dan 198,64 kg. Pakan diberikan sebanyak 3% dari bobot badan, dengan perbandingan pemberian hijauan dan konsentrat 30 : 70%. Parameter yang diamati meliputi konsumsi bahan kering (BK) pakan, pertambahan bobot badan harian, jumlah protein yang dikonsumsi, retensi protein dan konversi protein. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sapi PO dan sapi PFH tidak berbeda nyata (P > 0,05) dalam parameter yang diamati. Rata-rata konsumsi protein sapi PO 603 g/hari dan sapi PFH 638 g/hari. Kecernaan protein pada sapi PO dan sapi PFH masing-masing 63,41% dan 65,19%. Retensi protein pada sapi PO 61,54% dan pada sapi PFH 61,44%. PBBH pada sapi PO 1,09 kg dan pada sapi PFH 1,14 kg. Konversi protein teretensi pada sapi PO 0,34 dan pada sapi PFH 0,34. Simpulan yang diperoleh adalah bahwa sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang sama dalam memanfaatkan protein pakan.
Kata Kunci: Sapi PO, Sapi PFH, pemanfaatan protein
PENDAHULUAN
Protein merupakan zat pakan yang dibutuhkan dalam jumlah relatif besar, terutama pada ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Protein dibutuhkan ternak untuk
memperbaiki jaringan dan pertumbuhan jaringan baru. Protein pakan diserap di dalam saluran pencernaan dalam bentuk asam amino, tetapi tidak semua asam amino yang terserap dapat dimanfaatkan untuk metabolisme tubuh; sebagian terbuang lewat urin. Protein yang
tertinggal (teretensi) dideposisikan di dalam jaringan tubuh (RANJHAN, 1977; BOORMAN, 1980) untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan untuk produksi.
Usaha penggemukan sapi potong banyak menggunakan bakalan sapi Peranakan Ongole (PO), namun dalam perkembangannya sekarang ini sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) jantan juga dimanfaatkan sebagai penghasil daging. Sapi PO merupakan sapi tropis, sedangkan sapi PFH merupakan keturunan sapi subtropis. Kedua sapi ini memiliki perbedaan karakteristik karena kedua sapi ini berasal dari bangsa yang berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut misalnya kemampuan memanfaatkan pakan, laju pertumbuhan dan ukuran tubuh.
Bangsa sapi yang berbeda juga akan mempengaruhi kemampuan sapi dalam mendeposisikan protein pakan. Deposisi protein pakan mempengaruhi produktivitas sapi, jika protein banyak yang terdeposisi dalam tubuh maka produktivitas sapi akan baik. Sekarang ini belum diketahui secara pasti kemampuan sapi PO dan sapi PFH dalam mendeposisikan protein pakan. Khususnya protein pakan dari rumput Gajah, ampas tahu dan singkong.
Rumput Gajah, ampas tahu dan singkong merupakan pakan lokal yang banyak digunakan oleh peternak karena ketersediaannya cukup banyak, murah harganya dan memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Rumput Gajah adalah salah satu jenis rumput unggul yang sekarang banyak ditanam oleh para peternak. Rumput ini memiliki kandungan bahan kering (BK) 21%, protein kasar (PK) 9,6%, lemak kasar (LK) 1,9%, Total Digestible Nutrients (TDN) 52,4% (SIREGAR, 2003). Ampas tahu merupakan limbah industri pembuatan tahu yang memiliki kandungan protein cukup tinggi, yaitu 23,7%
(SIREGAR, 2003). Singkong merupakan bahan pakan sumber energi yang relatif murah dan ketersediaanya cukup berlimpah. Singkong memiliki kandungan TDN sebesar 81,8% (SIREGAR, 2003).
Tujuan penelitian ini adalah membandingkan retensi protein pada sapi jantan PO dan PFH yang mendapatkan pakan rumput Gajah, ampas tahu dan singkong. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kemampuan sapi PO dan sapi PFH dalam memanfaatkan protein pakan dan produktivitas sapi PO dan sapi PFH yang digemukkan dengan pakan rumput Gajah, ampas tahu dan singkong.
MATERI DAN METODE
Penelitian tentang retensi protein pada sapi PO dan sapi FH yang mendapat pakan ampas tahu, singkong dan rumput Gajah, dilakukan bulan September 2004 sampai Januari 2005, di kandang Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.
Penelitian ini menggunakan 4 ekor sapi PO dan 4 ekor sapi PFH jantan yeng berumur sekitar 1,5 tahun. Rata-rata bobot hidup sapi PO adalah 195,9 ± 11,38 kg (CV = 5,18%), sedangkan rata-rata bobot hidup sapi PFH adalah 198,64 ± 3,14 kg (CV = 1,58%). Sapi-sapi tersebut ditempatkan di dalam kandang individual yang dilengkapi dengan palung pakan dan palung minum.
Pakan yang diberikan terdiri atas hijauan. (hay rumput Gajah) dan konsentrat (berupa campuran antara ampas tahu dan ubi kayu dengan perbandingan 50 : 50). Kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan nutrisi bahan pakan penelitian
Bahan pakan BK PK Abu LK BETN SK
--- % ---
Hay rumput Gajah 84,88 13,04 15,14 2,13 27,93 36,79
Ampas tahu 11,63 21,39 3,40 7,70 39,56 27,95 Ubi kayu 35,82 2,49 1,55 0,39 90,94 4,63
BK = bahan kering; PK = protein kasar; LK = lemak kasar; BETN = bahan ekstrak tanpa nitrogen; SK = serat kasar
Percobaan ini menggunakan metode Independent Sample Comparison (STEEL dan TORRIE, 1984), yaitu suatu metode yang dapat digunakan untuk membandingkan 2 kelompok materi penelitian yang berbeda. Pada penelitian ini, kelompok materi yang diperbandingkan adalah bangsa sapi PO dan sapi FPH.
Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap adaptasi (3 minggu), tahap pendahuluan (2 minggu) dan tahap perlakuan (7 minggu). Pada periode adaptasi, ternak diberi bahan pakan yang akan digunakan saat penelitian untuk membiasakan ternak dalam mengkonsumsi bahan pakan dan untuk mengetahui kemampuan ternak dalam mengkonsumsi bahan kering pakan. Pada periode pendahuluan ternak percobaan diberi pakan sesuai dengan perlakuan, yaitu sebanyak 3% bobot hidup, terdiri atas hay rumput Gajah (30% dari kebutuhan bahan kering) dan konsentrat (70% dari kebutuhan bahan kering, terdiri dari ampas tahu dan singkong, dengan perbadingan 50 : 50). Ampas tahu dan singkong diberikan dalam keadaan tercampur. Pemberian pakan ini bertujuan untuk menghilangkan pengaruh pakan sebelumnya.
Pada awal periode perlakuan dilakukan penimbangan bobot hidup ternak untuk mengetahui bobot hidup awal sapi. Penimbangan selanjutnya dilakukan satu minggu sekali pada pagi hari sebelum diberi pakan untuk menyesuaikan jumlah pakan yang diberikan.
Pakan diberikan berdasarkan kebutuhan bahan kering (BK), yaitu sebanyak 3% bobot hidup. Rumput Gajah sebelum diberikan dikering-udarakan terlebih dahulu. Ampas tahu dan singkong diberikan dalam keadaan tercampur. Singkong diberikan dalam potongan-potongan kecil yang sudah dicuci terlebih dahulu. Konsentrat diberikan 3 kali sehari, yaitu pada pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB dan 17.00 WIB, sedangkan rumput Gajah disediakan secara bertahap, yaitu 2 jam setelah pemberian konsentrat. Air minum diberikan secara ad libitum.
Pengumpulan feses dan urin dilakukan pada minggu ke 4 dari periode perlakuan, selama 5 hari berturut-turut. Sampel feses diambil secara proposional (5%) setiap hari. Hasil total koleksi feses selama 5 hari dicampur hingga homogen, kemudian dikeringkan. Sampel yang sudah kering
kemudian diambil sub sampel sebanyak 10% dan disimpan sebelum dianalisis. Pengambilan sampel urin juga dilakukan secara proposional (5%) setiap hari. Hasil total urin selama 5 hari dicampur hingga homogen, kemudian diambil subsampel sebanyak 10% untuk dianalisis.
Parameter yang diamati dalam penelitian adalah konsumsi bahan kering (BK) pakan, pertambahan bobot hidup, konsumsi protein, retensi protein dan konversi protein. Pakan yang dikonsumsi diukur dengan menghitung selisih antara pakan yang diberikan dengan pakan yang tersisa. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji – t (t-test) menurut petunjuk STEEL dan TORRIE (1984).
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi dan kecernaan pakan
Rata-rata konsumsi BK pakan, konsumsi BK dapat dicerna dan kecernaan BK dapat dilihat pada Tabel 2. Konsumsi BK pada kedua bangsa sapi lebih rendah daripada yang direncanakan semula (3% BB). Konsumsi BK pada sapi PO dan sapi PFH masing-masing 2,01% dan 2,08% dari bobot hidup. Konsumsi tersebut lebih rendah dari yang disarankan oleh KEARL (1982), yaitu bahwa sapi dengan bobot hidup 200 kg dengan target pertambahan bobot hidup harian 1 kg membutuhkan BK 2,80% bobot hidup. Tinggi rendahnya konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh potensi genetik ternak, keadaan ransum pakan dan bobot hidup sapi (MCDONAL et al., 1988; PARAKKASI, 1999).
Konsumsi BK total antara sapi PO dan PFH relatif sama (Tabel 2), masing-masing sebesar 5.005 g/hari dan 5.300 g/hari. Konsumsi BK rumput Gajah pada sapi PO sebesar 1.208 g/hari dan pada sapi PFH sebesar 1.055 g/hari. Konsumsi BK ampas tahu pada sapi PO sebanyak 1.858 g/hari dan pada sapi PFH 2.088 g/hari, sedangkan konsumsi BK singkong pada sapi PO sebanyak 1.940 g/hari dan pada sapi PFH sebanyak 2.157 g/hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi tidak berbeda nyata (P > 0,05) dalam hal parameter tersebut diatas. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi ini memiliki kemampuan yang sama dalam mengkonsumsi bahan kering. Keadaan tersebut
Tabel 2. Rata-rata konsumsi BK total, konsumsi BK rumput Gajah, konsumsi BK ampas tahu, konsumsi BK singkong, konsumsi BK tercerna dan kecernaan BK
Bangsa sapi Parameter
PO PFH Perbedaan
Konsumsi BK total (g/hari) 5.005 5.300 tn Konsumsi BK rumput Gajah (g/hari) 1.208 1.055 tn Konsumsi BK ampas tahu (g/hari) 1.858 2.088 tn Konsumsi BK singkong (g/hari) 1.940 2.158 tn Konsumsi BK tercerna (g/hari) 3.647 3.823 tn
Kecernaan BK (%) 72,99 72,20 tn
tn = tidak berbeda nyata (P > 0,05)
dapat disebabkan sapi PFH yang digunakan merupakan hasil persilangan antara sapi FH dengan PO, sehingga kedua sapi ini memiliki kesamaan genetik. Selain hal tersebut sapi PO dan PFH yang digunakan memiliki bobot hidup yang hampir sama, sehingga kedua sapi ini mempunyai kemampuan yang hampir sama juga untuk mengkonsumsi bahan kering. Hal ini sesuai dengan pendapat SOEBARINOTO et al. (1991), yang menyatakan bahwa perbedaan kemampuan ternak dalam mengkonsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan.
Sebagaimana tercantum pada Tabel 2, kecernaan BK pada sapi PO adalah 72,99% dan pada sapi PFH adalah 72,20%, sedangkan konsumsi BK tercerna pada sapi PO dan PFH masing-masing adalah 3.647 g/hari dan 3.823 g/hari. Hasil uji statistik terhadap kecernaan BK dan besarnya BK yang tercerna tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P > 0,005). Hal tersebut menunjukkan bahwa antara sapi PO dan PFH memiliki kemampuan menampung digesta yang hampir sama dan laju pakan dalam saluran pencernaan juga tidak berbeda. Selain hal tersebut mungkin juga dapat disebabkan lamanya pakan di dalam rumen kedua bangsa hampir sama. Hal ini sesuai dengan pendapat MCDONALD et al. (1998), bahwa kecernaan pakan antara lain ditentukan oleh lamanya pakan berada di dalam saluran, semakin lama pakan berada di dalam saluran pencernaan semakin tinggi pula kecernaannya. Lama waktu tinggal pakan di dalam saluran pencernaan antara lain dipengaruhi oleh jumlah konsumsinya (CAMPBELL dan LASLEY, 1985).
Persentase kecernaan BK lebih tinggi daripada hasil penelitian MAHESTI et al. (2004) yang mendapatkan kecernaan BK pada sapi PO sebesar 50,98% dan pada sapi Peranakan Limousin (PL) sebesar 45,76%. Perbedaan persentase kecernaan BK ini mungkin disebabkan oleh pakan yang digunakan berbeda. Pakan yang digunakan oleh MAHESTI et al. (2004) adalah rumput raja dan ampas bir. Kecernaan pakan antara lain dipengaruhi oleh kandungan serat kasar (SK) dan komposisi ransum (MCDONALD et al., 1988). Semakin tinggi kandungan SK semakin rendah kecernaan. Serat kasar akan melindungi nutrisi lain dari serangan enzim pencernaan. Kecernaan pakan yang diberikan secara tunggal bisa jadi berbeda dengan apabila diberikan bersama-sama dengan bahan pakan lain, dalam hal ini lazim disebut associative effect (MCDONALD et al., 1988).
Retensi protein
Rata-rata konsumsi protein, pengeluaran protein lewat feses dan urin, konsumsi protein tercerna, kecernaan protein, konsumsi protein teretensi, retensi protein dan PBHH dapat dilihat pada Tabel 3. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa konsumsi protein total pada sapi PO (603 g/hari) dan pada sapi PFH (638 g/hari) tidak berbeda nyata (P > 0,05). Tidak adanya perbedaan dalam konsumsi protein disebabkan oleh tidak adanya perbedaan antara kedua bangsa sapi tersebut dalam hal konsumsi BK, sementara ransum yang diberikan kepada keduanya juga sama.
Tabel 3. Rata-rata konsumsi protein, pengeluaran protein, konsumsi protein tercerna, kecernaan protein, konsumsi protein teretensi, retensi protein dan PBHH
Bangsa sapi Perbedaan Parameter
PO PFH Konsumsi protein total (g/hari) 603 638 tn Pengeluaran protein (g/hari)
Feses (g/hari) 216 222 tn
Urin (g/hari) 16 24 tn
Konsumsi protein tercerna (g/hari) 387 416 tn Kecernaan protein (%) 63,41 65,19 tn
Protein teretensi (g/hari) 371 392 tn
Retensi protein (%) 61,54 61,44 tn PBHH (kg/hari) 1,09 1,14 tn
tn = tidak berbeda nyata (P > 0,05)
Konsumsi protein tercerna pada sapi PO sebesar 387 g/hari dan pada sapi PFH sebesar 416 g/hari, kecernaan protein pada sapi PO adalah 63,41% dan pada sapi PFH adalah 65,19%. Rata-rata konsumsi protein tercerna sapi penelitian adalah 401 g/hari dan kecernaan 64,40%. Hasil uji statistik konsumsi protein tercerna dan kecernaan sapi PO dan PFH menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P > 0,005). Hal ini didukung dengan pengeluaran protein feses (Tabel 3) juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hasil yang tidak berbeda nyata tersebut menunjukkan bahwa antara sapi PO dan PFH memiliki kemampuan mencerna protein dan laju kecernaan protein yang hampir sama.
Retensi protein sapi PO dan PFH masing-masing sebesar 61,54% dan 61,44% sedangkan jumlah protein teretensi pada sapi PO sebesar 371 g/hari dan pada sapi PFH sebesar 392 g/hari. Berdasarkan uji statistik, retensi protein dan jumlah protein teretensi pada kedua bangsa tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang sama dalam meretensikan protein pakan. Retensi protein menurut MONTGOMERY et al. (1993) antara lain dipengaruhi oleh hormon tiroksin. Hormon ini dipengaruhi oleh genetik dan suhu lingkungan. Menurut ORSKOV (1992), salah satu faktor yang dapat mempengaruhi retensi protein adalah faktor genetik.
Jumlah protein yang teretensi dapat dipengaruhi oleh kualitas protein pakan yang dikonsumsi. Kualitas protein merupakan faktor penting yang menentukan efisiensi retensi protein tubuh (BOORMAN, 1980), dimana retensi protein akan menentukan produksi dan pertumbuhan ternak. Semakin tinggi retensi protein maka pertumbuhan akan semakin baik.
Hasil penelitian menunjukkan nilai retensi protein positif, artinya sebagian protein pakan yang dikonsumsi disimpan dalam tubuh. Protein yang teretensi tersebut menyebabkan terjadinya pertambahan jaringan daging, dan pada akhirnya menyebabkan peningkatan bobot hidup ternak percobaan selama penelitian (MAYNARD dan LOOSLI, 1969; CRAMPTON dan HARRIS, 1969).
Pertambahan bobot hidup harian yang dihasilkan oleh sapi PO dan PFH dalam penelitian ini masing-masing 1,09 kg/hari dan 1,14 kg/hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa PBHH kedua bangsa tidak berbeda nyata (P > 0,05). Tidak adanya perbedaan yang nyata antara kedua bangsa dalam PBHH ini sejalan dengan kenyataan bahwa jumlah protein yang teretensi juga tidak berbeda nyata. Menurut TILLMAN et al. (1991), pakan merupakan faktor yang sangat penting, apabila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah cukup, maka pertumbuhannya akan terjadi cepat, demikian pula sebaliknya.
Pertambahan bobot hidup harian yang dicapai oleh sapi PO pada penelitian ini (1,09
kg) lebih tinggi daripada yang dikemukakan oleh WILLIAMSON dan PAYNE (1993), yang menyatakan bahwa PBHH PO adalah 0,50 kg. Hasil penelitian ini juga lebih tinggi daripada
temuan PRAMONO et al. (2004) yang
melaporkan bahwa PBHH sapi PO adalah 0,69 kg.
Sementara itu, pertambahan bobot hidup harian sapi PFH dalam penelitian ini sebesar 1,14 kg. Hasil ini sesuai dengan pendapat ABIDIN (2002) yang menyatakan pertambahan bobot hidup harian sapi PFH jantan dapat mencapai 1,10 kg. Hasil penelitian NUSCHATI (2000) yang disitasi oleh PRAMONO et al. (2004) menunjukkan bahwa dengan pemberian pakan lokal berupa singkong, konsentrat pabrik, dan dedak padi pertambahan bobot hidup sapi PO mencapai 0,70 – 0,77 kg/hari dan sapi PFH mencapai PBHH 1,32 kg. Perbedaan pertambahan bobot hidup harian hasil penelitian ini dengan penelitian yang lain disebabkan oleh pakan, umur sapi dan bobot hidup awal sapi yang digunakan berbeda.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sapi PO dan PFH yang diberi pakan rumput Gajah, ampas tahu dan singkong, dapat disimpulkan bahwa sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang sama dalam meretensikan protein. Sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang setara mencerna bahan kering, mencerna protein kasar, mengkonversi protein, dan meningkatkan bobot hidup harian.
Usaha penggemukaan sapi potong yang menggunakan pakan berupa rumput Gajah, ampas tahu dan singkong dapat menggunakan bakalan sapi PO atau sapi PFH, karena kedua bangsa sapi ini memiliki kemmpuan yang sama dalam meretensikan protein.
DAFTAR PUSTAKA
ABIDIN,Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.
BOORMAN, K.N. 1980. Dietary Constraints on Nitrogen Retention. In: Protein Deposition in Animals, 1st Ed. BUTTERY, P.J. and D.B. LINDSAY (Eds.). Butterworths, London.
CAMPBELL,J.R. dan J.F.LASLEY. 1985. The Science of Animal that Serve Mankind, 2nd Ed. Tata McGraw- Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.
CRAMPTON, C.W. dan L. HARRIS. 1969. Applied Animal Nutrition, 2nd Ed. W. H. Freeman and Company, San Francisco.
KEARL, L.C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. International Feedstuffs Institute, Utah Agricultural Experiment Station University, Logan.
LUBIS,D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-3. PT Pembangunan, Jakarta.
MAHESTI, G., E. RIANTO, J.A. PRAWOTO dan A. PURNOMOADI. 2004. Pemanfaatan protein pada sapi Peranakan Ongole dan sapi Peranakan Limousin yang mendapat pakan rumput raja dan ampas bir. J. Pengembangan Peternakan Tropis. Special Edition October 2004: 91 – 95.
MAYNARD, L.A. dan J.K. LOOSLI. 1969. Animal Nutrition. Edisi ke-6. McGraw Hill Book Company, New Delhi.
MCDONALD, P., R.A. EDWARDS dan J.F.D. GREENHALGH.1988. Animal Nutrition. 4th Ed. Longman Scientific and Technical, Harlow. MONTGOMERY,R.,R.L.DRYER,T.W.CONWAY dan
A.A.SPECTOR. 1993. Biokimia Jilid 2. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: ISMADI). ORSKOV,E.R. 1992. Protein Nutrition in Ruminants.
2nd. Harcount Brace Jovanovich, Publishers, London.
PARAKKASI, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Edisi ke-2. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
PRAMONO, D. SUBIHARTA dan MUDJIONO. 2004. Respon pertumbuhan sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Simental terhadap pemberian pakan konsentrat. J. Pengembangan Peternakan Tropis. Special Edition October 2004: 1 – 4. RANJHAN, S.K. 1977. Animal Nutrition. 3rd Ed.
Vikas Publishing House, New Delhi.
SIREGAR, S.B. 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
SOEBARINOTO, S. CHUZAEMI dan MASHUDI. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijaya, Malang.
STEEL,R.G.D. dan J.H.TORRIE. 1984. Principles and Procedures of Statistics, Biometrical Approach. 2nd Ed. McGraw-Hill International Book Company, Singapura.
SUGIYONO. 2002. Statistika untuk Penelitian. Cetakan ke-4. CV Alfabeta, Bandung.
TILLMAN.A.,H.HARTADI,S.REKSOHADIPRODJO,S. PRAWIROKUSUMO dan S.LEBDOSOEKOJO. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University press, Yogyakarta. WILLIAMSON,G. dan W.J.A.PAYNE. 1993. Pengantar
Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan