BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Strategi pembangunan yang menitikberatkan kepada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat melalui pemacuan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci (dominan). Peningkatan output sektor kunci tersebut
akan
ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses penggandaan (multiplier) dan keterkaitan (linkages) antar sektor. Peningkatan output berbagai sektor perekonomian, kemudian, melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down efect)akan
menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.Namun, berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli (seperti Adelman dan Moms, 1973; Wie, 1983), pada satu sisi strategi pertumbuhan ekonomi memang memberikan dampak peningkatan pendapatan per kapita, tetapi pada sisi yang lain ternyata meninggalkan masalah yang lain, seperti, kemiskinan. Dan juga, pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh suatu negara atau wilayah menyembunyikan adanya sekelompok masyarakat yang menjadi bertambah buruk (worse
OB
dalam ha1 kondisi sosial ekonomi secara relatif dibandingkan dengan kelompok yang lain; dan bahwa terdapat perbedaan pendapatan yang semakin melebar antar kelompok atau golongan masyarakat. Dan dengan demikian, prestasi pembangunan suatu negara atau suatu wilayah belum cukup diukur oleh peningkatan pendapatan per kapita saja tetapi perlu juga untuk mengetahui bagaimana pendapatan nasional (regional) didistribusikan kepada berbagai golongan rnasyarakat:Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang telah berhasil meningkatkan pendapatan nasionai melalui pembangunan ekonomi. Berdasarkan data BPS (1978, 1991a dan 1992b), Indonesia telah berhasil meningkatkan pendapatan
nasional per kapita melalui pertumbuhan ekonomi, yaitu meningkat dari Rp 26 ribu (atas dasar harga berlaku) pa& tahun 1971 menjadi Rp 545 ribu per tahun (atas dasar
harga berlaku) pada tahun 1990 dengan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 1970an mencapai rata-rata 7,s persen per tahun. Bahkan pada tahun 1980an, meskipun situasi perekonomian dunia dalam keadaan tidak menentu, Indonesia masih mampu mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,2 persen per tahun. Sedangkan pada awal tahun 1990an pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tercatat tinggi, yaitu 7,4 persen per tahun.
Walaupun pada satu sisi perekonomian Indonesia telah meningkat relatif baik, tetapi masalah kemiskinan baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat regional (wilayah atau propinsi) masih dijumpai. BPS (1992b) memperkirakan bahwa pada tahun 1990 masih terdapat sekitar 27,2 juta penduduk Indonesia yang tergolong sebagai penduduk miskin; dan jumlah penduduk miskin tersebut secara relatif lebih banyak berada di propinsi-propinsi Indonesia kawasan timur (IKT) dibandingkan di propinsi-propinsi Indonesia kawasan barat (IKB) (lihat lampiran tabel 1). Dan pendapatan per kapita propinsi-propinsi di IKT secara relatif lebih rendah dari pada di
IKB
(lihat lampiran tabel 2).Dari penjelasan di atas dapat ditunjukkan bahwa permasalahan
yang
perlu memperoleh perhatian dalam pembangunan ekonomi Indonesia, antara lain, adalah masalah kemiskinan, terutama di wilayah-wilayah (propinsi-propinsi) di IKT. Hal ini perlu dilakukan karena hasil-hasil pembangunan ekonomi dimaksudkan tidak hanya untuk mensejahterakan sebagian penduduk Indonesia saja atau untuk sebagian wilayah (propinsi) saja tetapi dimaksudkan untuk seluruh rakyat Indonesia.Tujuan dan makna pembangunan nasional sedemikian tersurat pada Garis- Garis Besar Haluan Negara
(GBHN)
1993:. . .
.
.
.
agar pembangunan nasional dilaksanakan merata di seluruh tanah air dan tidak hanya untuk satu golongan atau sebagian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat, serta harus benar-benardapat dirasakan oleh seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup yang berkeadilan sosid, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia (dikutip kembali dari Depertemen Penerangan, 1994).
Atau juga sebagaimana tersurat pada Delapan Jalur Pemerataan (DJP), terutama pada butir 3, seperti yang telah digariskan oleh pemerintah:
a. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya makanan, pakaian, dan perumahan;
b. Pernerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan; c. Pemerataan pembagian pendapatan;
d. Pemerataan kesempatan memperoleh pekerjaan; e. Pemerataan kesempatan berusaha;
f. Pemerataan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan wanita;
g. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air; h. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Dan juga Salim (1980) menyatakan bahwa:
Pembangunan tidak
hanya
mengejar kemajuan lahiriah seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan dsb, atau kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung-jawab, rasa keadilan dsb, melainkan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan merata di seluruh tanah air, bahwa bukan hanya untuk sesuatu golongan atau sebagian masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat dan harus benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup, yang berkeadilan sosial, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan kita.Perurnusan Permasalahan
Masalah kemiskinan merupakan suatu fenomena masyarakat yang sudah lama te rjadi. Dari dahulu sampai sekarang, masalah kemiskinan telah te rjadi, tidak saja di
negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara rnaju. Orang miskin tidak saja terdapat, misalnya, di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di dunia. Hal ini disebabkan karena permasalahan kemiskinan m e ~ p ~ k a n suatu permasalahan yang global yang dapat terjadi di mana saja, tanpa memperhatikan lokasi, tetapi tergantung kepada berbagai faktor sosialekonomi dan faktor-faktor lainnya yang memungkinkan
te rjadinya kemiskinan.
Oleh karena itu, dalam suatu penelitian mengenai kemiskinan masalah utarna yang perlu diperhatikan adalah mencari pengetahuan mengenai faktor-faktor penyebab timbulnya kemiskinan dalam suatu masyarakat. Disamping itu, untuk dapat membantu dalam mengentaskan kemiskinan perlu juga untuk mengetahui siapa atau golongan wmahtangga mana yang miskin. Hal ini diperlukan agar kelompok sasaran (target groups) yang akan dientaskan kemiskinannya dapat diketahui dengan jelas sehingga dengan demikian solusi pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan tepat.
Kemiskinan yang terjadi di suatu wilayah juga mempunyai hubungan dengan kondisi wilayah dan pembangunan ekonomi wilayah. Suatu wilayah terbentuk karena proses alam. Ada suatu wilayah yang terbentuk dengan sumberdaya dam yang subur. Dan oleh karena itu, penduduk yang tinggal di sekitar wilayah tersebut dapat menggunakan sumberdaya alam yang ada untuk memperoleh atau untuk meningkatkan penghasilan atau pendapatan. Sebaliknya, ada suatu wilayah yang m e ~ p a k a n kawasan yang kurang subur sehingga tidak memungkinkan masyarakat di sekitar kawasan tersebut untuk dapat menggunakan sumberdaya alam yang ada untuk memperoleh apalagi untuk meningkatkan pendapatan mereka sehingga mereka menjadi miskin. Oleh karena itu, pada satu sisi, dapat dikatakan bahwa kemiskinan dapat disebabkan karena kondisi suatu wilayah secara p i ~ i k (kondisi alam). Tetapi dapat juga te jadi bahwa di sekitar suatu wilayah yang subur ternyata terdapat penduduk yang miskin. Keadaan itu dapat berarti:
setempat secara optimal;
b. Penduduk di sekitar wilayah tersebut tidak mempunyai kemampuan yang cukup
(seperti keterampilan, modal dsb) untuk dapat mengolah sumberdaya alam untuk menghasilkan pendapatan
dan
meningkatkan kesejahteraan mereka;c.
Sumberdaya dam yang diolah di wilayah tersebut tidak dapat dinikmati oleh penduduk atau masyarakat setempat karena adanya kebocoran regional(regional
leakages).Dari sisi yang lain, distribusi pendapatan atau kemiskinan antar wilayah dapat disebabkan oleh karena adanya perbedaan intensitas pembangunan di masing-masing wilayah yang tergantung kepada kepemilikan sumberdaya ekonomi wilayah bersangkutan, seperti tenagakerja, modal. Dalam proses pembangunan, terdapat beberapa wilayah (propinsi) yang dapat secara cepat mengikuti irama pertumbuhan ekonomi karena memiliki kemampuan sumberdaya ekonomi yang cukup; dan sebalikn ya terdapat beberapa wilayah (propinsi) yang tidak dapat secara sama mengikuti irama tersebut karena tidak memiliki kemampuan sumberdaya ekonomi yang cukup. Akibatnya, terdapat beberapa wilayah (propinsi) yang dapat berkembang menjadi suatu wilayah yang maju, sedang berkembang, dan yang kurang maju. Dengan perkembangan sedemikian, permasalahan kesenjangan pendapatan
(income
disparity) antar wilayah menjadi muncul.Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa masalah kemiskinan perlu juga dihubungkan dengan kondisi wilayah dan hasil-hasil pembangunan ekonomi wilayah karena kemiskinan, kondisi wilayah, dan pembangunan ekonomi wilayah mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Pendekatan Metode Analisis
Untuk menunjang keberhasilan suatu penelitian mengenai kemiskinan, dibutuhkan suatu kerangka ke rja yang dapat memberikan tolok ukur dan analisis yang jelas mengenai permasalahan kemiskinan. Hal ini diperlukan agar dapat mengetahui
dan memahami permasalahan kemiskinan yang dihadapi oleh penduduk atau N mahtangga dengan jelas. Disamping itu, dibutuhkan pula suatu orientasi metodologi yang bersifat eklektik (eclectic) yang dapat memanfaatkan keunggulan berbagai metodologi yang ada, seperti positivisme, normativisme, dan pragmatisme. Kerangka kerja sedemikian diperlukan agar penelitian mengenai kemiskinan menjadi suatu penelitian yang bersifat workable, sehingga hasil-hasil yang diperoleh dapat dilaksanakan atau diimplementasikan sesuai dengan solusi atau pemecahan permasalahan yang disarankan (lihat Djojohadikusumo, 1989; Pakpahan clan
Hermanto, 1992). Dalam disertasi ini, kerangka kerja yang disebut sebagai Social Accounting Matrix (SAM) atau yang dikenal juga sebagai Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) akan digunakan karena kerangka SNSE merupakan suatu kerangka ke rja yang dapat menunjukkan, misalnya, siapa yang termasuk dalam kelompok ~mahtangga miskin, keterkaitan pendapatan mmahtangga dengan hasil-hasil pembangunan ekonomi wilayah.
Pendekatan metode analisis yang dig unakan dalam disertasi ini mencakup pendekatan metode analisis positif, normatif, dan pragmatis. Pendekatan metode analisis positif digunakan untuk memperoleh fakta mengenai kemiskinan clan pembangunan ekonomi wilayah. Hal ini ditunjukkan melalui hasil-hasil yang diberikan oleh kerangka SNSE regional melalui analisis deskriptif, analisis pengganda, analisis keterkaitan, atau pun analisis ekonomi. Sedangkan pendekatan metode analisis normatif dan pragmatis digunakan untuk mencari pengetahuan mengenai alasan-alasan, latar belakang, dan penyebab terjadinya kemiskinan yang dihubungkan dengan pembangunan ekonomi wilayah bersangkutan, sehingga dengan pengetahuan ini pemecahan permasalahan atau perskripsi (perscription) dapat
-
diberikan atau disarankan dalam upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi. Hal ini ditunjukkan oleh implikasi dari hasil-hasil analisis yang diperoleh berdasarkan pendekatan metode positif.Ruang Lingkup dan Metodologi 1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian kemiskinan yang dicakup oleh disertasi ini merupakan suatu studi kasus yang memilih propinsi
Nusa
Tenggara Timur0
dan propinsi Riau sebagai propinsi-propinsi kasus. Pemilihan propinsi NTT sebagai propinsi kasus dilakukan karena propinsi tersebut merupakan propinsi termiskin berdasarkan PDRB per kapita pada tahun 1990 (lihat kembali tabel 1). Sedangkan propinsi Riau, walaupun bukan merupakan propinsi dengan PDRB yang rendah, dipilih sebagai propinsi kasus karena propinsi ini akan digunakan sebagai pembanding terhadap kinerja atau keragaan propinsi N l T . Propinsi N'IT mewakili Indonesia kawasan timur(IKT);
sedangkan propinsi Riau mewakili Indonesia kawasan barat (IKB).2. Tahun 1990 Sebagai Tahun Referensi
Kerangka SNSE regional yang akan disusun dalam disertasi ini menggunakan tahun referensi 1990 yang menggambarkan keadaan wilayah penelitian pada tahun tersebut. Tahun 1990 dipilih karena kerangka SNSE regional kedua wilayah kasus belum tersedia untuk tahun referensi tersebut.'
3. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam disertasi ini adalah:
a. Analisis Deskriptif. Analisis ini digunakan untuk dapat menjelaskan permasalahan kemiskinan dan pembangunan ekonomi di wilayah kasus secara
deskriptif. Analisis ini mencakup, misalnya, analisis persentase, ratio atau perbandingan.
b. Analisis Pengganda. Analisis ini merupakan suatu analisis dampak dengan sol usi bu kan-opti ma1 (non-optimalizasion solurion).
'radii waktu penelitian ini dilakukan, kerangka SNSE nasional untuk tahun 1990 belum tersedia. Publikasi terakhir kerangka SNSE nasional blah untuk tahun 1985. Kerangka SNSE regional, .wpzrti SNSE propinsi NIT atau SNSE propinsi Riau, belum pernah disusun.
c. Analisis Ekonomi. Analisis ekonomi yang digunakan dalam disertasi ini dimaksudkan untuk menunjang atau memperkuat hasil-hasil yang diperoleh baik berdasarkan analisis deskriptif atau pun analisis pengganda seperti yang telah dijelaskan di atas. Analisis ekonomi yang digunakan tergantung kepada perrnasalahan yang dihadapi. Salah satu contoh mengenai analisis ekonomi yang digunakan dalam disertasi ini adalah analisis kontribusi faktor-faktor produksi W t o r shares).
Tuiuan
Dengan latar belakang dan permasalahan seperti yang telah dijelaskan di atas, maka disertasi ini secara garis besar bertujuan untuk menganalisa masalah kemiskinan pada tingkat wilayah Qxopinsi). Penelitian ini juga menghubungkan kemiskinan dengan pembangunan ekonomi wilayah karena kemiskinan dianggap mempunyai kai tan dengan hasil-hasil pembangunan ekonomi wilayah. Kemudian, dengan pemahaman tersebut, penelitian ini berupaya untuk memberikan pemecahan terhadap permasalahan kemiskinan yang dihadapi.
Untuk dapat melakukan tujuan tersebut, secara khusus disertasi ini bermaksud untuk:
a. Menyusun kerangka SNSE regional propinsi Riau dan propinsi N?T;
b. Melakukan analisis terhadap hasil-hasil yang diperoleh berdasarkan kerangka SNSE regional;
c. Mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan di kedua propinsi kasus; d. Memberikan solusi pemecahan.
Tahao-tahao Pembahasan .
Pembahasan masalah kemiskinan dan pembangunan ekonomi wiiayah dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut:
metodologi, serta tujuan penelitian;
b. Bab I1 menjelaskan mengenai kerangka pemikiran dan metode analisis;
c. Bab I11 menyajikan SNSE regional dan hail-hailnya;
d. Bab IV men yaj i kan pembahasan termasuk implikasi kebijakan;