ABSTRAK
Fadil, Umar. 2014. Sistem Pakar Pembagian Waris Berbasis Web. Tugas UAS Jurusan Teknik Informatika. Fakultas Teknik.
Universitas Islam Madura Pamekasan. Kata kunci: Sistem Pakar, Kecerdasan buatan, Waris
Kemajuan teknologi komputer yang pesat dapat membantu kehidupan manusia bahkan di dalam bidang-bidang di luar disiplin ilmu komputer.
Sistem pakar merupakan salah satu cabang kecerdasan buatan yang mempelajari bagaimana meniru cara berpikir seorang pakar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, membuat keputusan maupun mengambil kesimpulan sejumlah fakta. Kajian pokok dalam sistem pakar adalah bagaimana mentransfer pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pakar ke dalam komputer, dan bagaimana membuat keputusan atau mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan itu. Dengan menyimpan informasi dan digabungkan dengan himpunan aturan penalaran yang memadai memungkinkan komputer memberikan kesimpulan atau mengambil keputusan seperti seorang pakar.
Sistem Pakar Waris berbasis Web ini merupakan aplikasi web (menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL) yang membantu masyarakat untuk membagikan harta waris mereka. Dalam aplikasi ini masyarakat bisa menghitung pembagian waris dengan melihat dalilnya secara langsung. selain itu masyarakat juga bisa menghitung bagian harta dari pembagian yang dilakukan dan melihat hasil pembagian dalam bentuk diagram lingkaran. Proses-proses di atas dilakukan berdasarkan aturan-aturan(rule) yang berdasarkan Al-Qur’an, hadist dan ijma ’ ulama yang merupakan dasar dari hukum Islam.
Sistem Pakar ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan pembagian waris menurut syari’at Islam. Karena pembagian waris ini merupakan salah satu hukum yang diterangkan secara jelas dalam Al-Qur’an.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Kemajuan teknologi komputer yang pesat dapat membantu kehidupan manusia bahkan di dalam bidang-bidang di luar disiplin ilmu komputer.
Sistem pakar merupakan salah satu cabang kecerdasan buatan yang mempelajari bagaimana meniru cara berpikir seorang pakar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, membuat keputusan maupun mengambil kesimpulan sejumlah fakta. Kajian pokok dalam sistem pakar adalah bagaimana mentransfer pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pakar ke dalam komputer, dan bagaimana membuat keputusan atau mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan itu. Dengan menyimpan informasi dan digabungkan dengan himpunan aturan penalaran yang memadai memungkinkan komputer memberikan kesimpulan atau mengambil keputusan seperti seorang pakar.
Sistem Pakar Waris berbasis Web ini merupakan aplikasi web (menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL) yang membantu masyarakat untuk membagikan harta waris mereka. Dalam aplikasi ini masyarakat bisa menghitung pembagian waris dengan melihat dalilnya secara langsung. selain itu masyarakat juga bisa menghitung bagian harta dari pembagian yang dilakukan dan melihat hasil pembagian dalam bentuk diagram lingkaran. Proses-proses di atas dilakukan berdasarkan aturan-aturan(rule) yang berdasarkan Al-Qur’an, hadist dan ijma ’ ulama yang merupakan dasar dari hukum Islam.
Sistem Pakar ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan pembagian waris menurut syari ’ at Islam. Karena pembagian waris ini merupakan salah satu hukum yang diterangkan secara jelas dalam
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an), maka mereka itu adalah oran-orang yang fasik” (QS. Al-Maidah : 47)
Banyak sekali alasan mengapa orang Islam enggan memberikan harta warian mereka dengan cara yang telah ditentukan oleh syari’at Islam diantaranya
Kabanyakan orang Isla tidak memahami bagaimana cara pembagian warisan menurut islam
Cara pembagian harta waris menurut islam yang cukup rumit. Jarang para ahli ilmu faraidh.
Dengan latar belakang diatas, diharapkan program ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya umat islam dalam pembagian harta waris yang sesuai dengan syari’at islam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Bagaimana sistem pembagian harta waris menurut islam?
2) Bagaimana mengaplikasikanpembagian harta waris kedalam sebuah sistem pakar berbasis web?
1.3. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, pembahasan akan dibatasi dalam ruang lingkup Sebagai berikut :
1) Dalam pembuatan sistem ini Penulis menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL..
2) Output yang dihasilkan berupa bagian-bagian tiap ahli waris, bagian harta yang didapatkan, diagram dan dasar hukum (dalil) yang mendasarinya.
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membuat sebuah Aplikasi sistem pakar waris berbasis web. Sehingga dihasilkan out put berupa bagian-bagian tiap ahli waris, jumlah harta yang didapat serta dalil-dalil yang sesuai dengannya.
Dalam penelitian ini juga diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat, diantaranya :
1) Bagi Masyarakat
Sistem pakar ini nantinya di tujukan untuk masyarakat umum, khususnya umat Islam. Sistem ini bertujuan untuk menentukan pembagian harta waris, maka program ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat untuk menentukan pembagian harta waris mereka sesuai dengan syari’at / hukum Islam.
2) Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan, khususnya mengenai pembuatan sebuah sistem pakar dengan berbasis Web.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1. Konsep Sistem Pakar
Sistem Pakar (Expert System) merupakan sistem yang menggunakan pengetahuan manusis yang direpresentasikan dalam komputer yang kemudian dipergunakan untuk memecahkan masalah yang biasanya menggunakan kepakaran seseorang.
Kepakaran merupakan suatu kebiasaan, pekerjaan spesifik yang menggunakan pengetahuan yang didapat dari pelatihan, membaca dan pengalaman. Pengetahuan yang dipergunakan sebagai kepakaran seseorang terdiri dari beberapa tipe :
a) Pengetahuan tentang kenyataan dalam area permasalahan tertentu. b) Pengetahuan tentang teori sebuah permasalahan tertentu.
c) Pengetahuan tentang aturan dan prosedur untuk area permasalahan secara umum.
d) Pengetahuan tentang aturan dalam situasi khusus
e) Pengetahuan tentang strategi global untuk memecahkan masalah. 2.1.1. Latar Belakang Sistem Pakar
Sistem pakar mempunyai beberapa latar belakang yang mempengarihinya. Latar belakang tersebut adalah :
a) Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan orang tidak mampu lagi menguasai banyak hal, sehingga kebutuhan terhadap orang yang ahli dibidangnya semakin meningkat.
b) Para pakar biasanya jumlahnya sedikit dan terkonsentrasi di kota-kota besar oleh karena itu biasanya pakar mahal.
c) Umur pakar terbatas sehingga jika palar tersebut tidak tersedia lagi (meninggal) maka kepakarannya pu ikut hilanga dan diperlukan waktu bertahun-tahun dengan biaya yang besar untuk menghasilkan pakar bidang tersebut.
2.1.2. Lingkungan Operasional Sistem Pakar a) On-Line
Sistem pakar dapat langsung mengambil data dari sistem yang sedang didiagnosis. Sebagai contoh sistem pakar mendeteksi kerusakan pada komponen pada mobil atau komputer.
b) Off-Line
Sistem pakar dalam memperoleh informasi dilakukan melalui layar monitor dengan cara melakukan tanya jawab dengan user (client).
2.1.3. Definisi Sistem Pakar
Sistem pakar merupakan program komputer yang menggunakan strategi intelegensia buatan seperti srpresentasi simbolik, inferensi dan pencarian syaraf (Buchanna, 1995) untuk menjalankan tugas yang hanya mungkin dilakukan oleh pakar.
2.2. Definisi Waris
Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah “berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain”, atau dari suatu kaum ke kaum lain. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan non harta benda.
Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari seorang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang hak milik legal secara syar’i.
2.3. Pengertian peninggalan
Pengertian peninggalan yang dikenal dengan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris, baik berupa harta (uang) atau lainnya. Jadi, pada prinsipnya segala yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Termasuk didalamnya bersangkutan dengan hutang piutang. Baik piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya, atau
piutang yang berkaitan dengan pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya).
2.4. Derajat Ahli Waris
Antara ahli waris yang satu dengan yang lainnya ternyata mempunyai perbedaan deraja urutan. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutran dan derajatnya :
a) Ashabul furudh. Golongan inilah yang pertama diberi harta warisan. Mereka ialah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’.
b) Ashabah nasabiyah. Setelah ashabul furudh, barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat pewaris yang menerima siswa harta warisan yang telah dibagikan. Bahkan, jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya, ia berhak mengambil seluruh hartapeninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris, cucu dari anak laki-laki pewaris, sanudara kandung pewaris, paman kandung, dan seterusnya.
c) penambahan bagi ashabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Apabila ahta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa, maka hendaknya dibagikan kepada ashabul furudh masing-msing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Adapun suami atau istri tidak berhak mendapatkan tambahan bagian karena dihalangi oleh ikatan pernikahan.
d) Mewariskan kepda kerabat. Yang dimaksud dengan kerabat disini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim dan tidak termasuk dalam ashabul furudh juga ashabah. Misalnya paman (saudara ibu), bibi (saudara ibu) dan sebagainya. Jadi jika pewaris mempunyai kerabat yang tidak termasuke ke dalam ashabul furudh dan tidak pula ashabah, maka mereka berhak mendapatkan warisan.
e) Tambahan hak waris bagi suami atau istri. bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk dalam ashabul furudh dan ashabah, juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim, maka harta
warisan tersebut seluruhnya menjadi hak suami atau istri.
f) Ashabah karena sebab. yang dimaksud para ashabah karena sebab ialah orang yang memerdekakan budak. Misalnya, seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan, maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya, dan sebagai ashabah.
g) Orang yang diberi wasiat lebih sepertiga harta waris. Yang dimaksud disini ialah orang lain, artinya bukan salah seorang dari ahli waris. Misalnya seseorang maninggal dan mempunyai 4 anak, namun sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberikan wasiat kepada semua anaknya untuk memberikan sejumlah hartanya kepada seorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya.
h) Baitul maal. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat maka seluruh hartanya diserahkan kepada baitulmaal untuk kemaslahatan umat.
2.5. Rukun Waris
Rukun waris ada tiga, yaitu :
a) Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi pwninggalannya.
b) Ahli Waris, yaitu mereka yang berhak menerima peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan, pernikahan atau lainnya.
c) Harta Warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang atau peninggalan lainnya.
2.6. Syarat Waris
a) Meninggalnya seseorang pewaris baik secara hakiki maupun secara hukum (misalkan dianggap sudah dianggap meninggal).
Maksudnya meninggalnya pewaris -- baik secara hakiki ataupun secara hukum-- ialah bahwa seseorang telah meningal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka, atau vonis yang ditetapkan oleh hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaanya.
Hal ini harus diketahui pasti, karena bagaimanapun keberadaannya. Manusia yang masih hidup tetap dianggap mempu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, kecuali setelah ia meninggal.
b) Adanya ahliwaris yang hidup secara hakiki pada wktu pewaris meninggal dunia.
Maksudnya, pemindahanhak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak unti mewarisi.
c) Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah dan bagiannya masing- masing.
Dalam hal ini posisi ahli waris hendaklah diketahui secara pasti, misalnya suami, istri, kerabat, dan sebaginya. Sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris.
2.7. Ahli Waris Dari Golongan Laki-laki
Ahli waris dari kaum laki-laki ada lima belas : 1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki (dari anak laki-laki) 3. Bapak
4. Kakek (dari pihak bapak) 5. Saudara kandung laki-laki 6. Saudara laki-laki seayah 7. Saudara laki-laki seibu
8. Anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki 9. Anak laki-laki dari saudara kandung seibu 10. Paman (saudara kandung ayah)
11. Paman (saudara bapak seayah)
12. Anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah) 13. Anak laki-laki paman seayah
15. Laki-laki yang memerdekakan budak.
Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris didalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya, yang pentng laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek, dan seterusnya. 2.8. Ahli Waris dari Golongan Wanita
Adapun ahli waris dari kau wanita ada sepuluh : 1. Anak perempuan
2. Ibu
3. Anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki) 4. Nenek (ibu dari ibu)]
5. Nenek (ibu dari bapak) 6. Saudara kandung perempuan 7. Saudara perempuan seayah 8. Saudara perempuan seibu 9. Istri
10. Perempuan yang memerdekakan budak. 2.9. Pembagian Waris Menurut Islam
Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an ada enam, yaitu setengah (1/2), seperempat (1/4), seperdelapan (1/8), dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seper enam (1/6).
2.9.1. Ashabul Furudh yang berhak mendapat setengah
Ashabul Furudh yang mendapatkan separuh dari harta waris peninggalan pewaris ada lima, satu golongan laku-laki dan empat dari golongan perempuan. Kelima Ashabul Furudh tersebut ialah suami, anak perempuan, cucu perempuan keturunan akan laki-laki, saudara kandung perempuan, saudara perempuan seayah.
a) Seorang suami berhak mendapat separuh dari harta warisan, dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak keturunan itu dari suami tersebut atau bukan.
b) Anak perempuan kandung mendapat bagian separuh dengan syarat :
Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki
Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal.
c) Cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian setengah dengan tiga syarat :
Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (cucu laki-laki dari anak laki-laki)
Apabila hanya seorang (cucu tunggal)
Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.
d) Sudara kandung perempuan akan mendapaktah setengah dari harta warisan denga tiga syarat :
Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki Ia hanya seorang diri
Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek, dan tidak mempunyai keturunan, baik keturunan laki-laki atau perempuan
e) Saudara perempuan seayah akan mendaparkan bagian setengah dari pewaris dengan syarat :
Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki Apabila ia hanya seorang diri
Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak, dan pula anak,
baik laki-laki maupun perempuan.
2.9.2. Ashabul Furudh yang berhak mendapat seperempat
a) Seorang suami berhak mendapatkan bagian seperempat dari harta peninggalan istrinya denga satu syarat, yaitu jika sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya, baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya
atau denga suami lain (sebelumnya).
b) Seorang istri akan mendapatkan bagian seperempat dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat, yatu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu, baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri laninnya.
2.9.3. Ashabul Furudh yang berhak mendapat seperdelapan
Dari sederetah Ashabul Furudh memperoleh bagian seperdelapan yaitu istri. Istri, baik seorang ataupun lebih akan mendapatkan seperdelapan bagian dari harta suaminya, bila suami mempunyai anak atau cucu, baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain.
2.9.4. Ashabul Furudh yang berhak mendapat dua per tiga
Ashabul Furudh yang mendapat bagia dua per tiga dari harta peninggalan pewaris ada empat, dan semuanya terdiri dari wanita :
a) Dua anak perempuan (kandung) atau lebih
b) Dua orang cucu perempuan keturunan laki-laki atau lebih c) Dua orang saudara perempuan kandung atau lebih
d) Dua orang saudara perempuan seayah atau seibu. Ketentuan tersebut terikat oleh syarat-syarat seperti berikut :
a) Dua anak perempuan kandng atau lebih tidak mempunyai saudra laki-laki, yakni anak laki-laki dari pewaris.
b) Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki mendapatkan 2/3 dengan persyaratan berikut :
Pewaris tidak mempunyai anak kandung, baik laki-laki atau perempuan
Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan
Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudar laki-laki. c) Dua saudara kandung perempuan atau lebih akan mendapat
bagian 2/3 dengan persyaratan sebagai berikut :
Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik anak laki-laki atau perempuan), juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Dua saudara kandung perempuan (ata lebih) itu tidak
mempunyai saudara laki-laki sebagai ashabah.
Pewaris tidak mempunyai anak perempuan, atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.
d) Dua saudara perempuan seayah atau lebih akan mendapatkan bagian 2/3 dengan syarat :
Bila pewaris tidak mempunyai anak, ayah atau kakek. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai
sadara laki-laki.
Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki, atau saudara kandung (baik laki-laki atau perempuan).
Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seaayah untuk mendapatkan bagian 2/3 hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan, hanya disini (saudara seayah) ditambah dengan keharsan adanya saudara kandung (baik laki-laki atau perempuan)
2.9.5. Ashabul Furudh yang berhak mendapat sepertiga
Adapun Ashabul Furudh yang mendapatkan bagian sepertiga hanya dua bagian, yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki atau perempuan) yang seibu. Seorang ibu berhak mendapatan bagian sepertiga dengan syarat :
a) Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki
b) Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan), baik saudara kandung atau seayah ataupun seibu.
2.9.6. Ashabul Furudh yang berhak mendapat seperenam
Adapun Ashabul Furudh yang berhak mendapatkan bagian 1/6 ada tujuh orang. Ayah, kakek asli (bapak dari ayah), ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara perempuan seayah, nenek asli, saudara perempuan seibu.
a) Seorang ayah akan mendapatkan bagian 1/6 bila pewaris mempunyai anak, baik laki-laki atau perempuan.
b) Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapatkan 1/6 bila pewaris mempunyak anak laik-laki atau perempuan atau cucu laki laki dari keturunan anak -- dengan syarat pewaris tidak ada. c) Ibu akan memperoleh bagian 1/6 denga 2 syarat :
Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.
Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih, baik laki-laki atau perempuan, baik kandung, seayah atau seibu. d) Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau
lebih akan mendapat bagian 1/6, apabila pewaris mempunyai satu anak perempuan. Dalam keadaan demikian, anak perempuan tersebut mendapat bagian 1/2, dan cucu perempuan dari keturunan laki-laki pewaris mendapat 1/6, sebagai pelengkap 2/3.
e) Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapatkan bagian 1/6, apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Hal ini hukumnya sama dengan keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. Jadi, bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih, maka saudara perempuan seayah mendapat bagian 1/6 sebagai penyempurna dari 2/3. Sebab jika saudara perempuan kandung memperoleh 1/2 bagian, maka tidak ada sisa kecuali 1/6 yang
memang merupakan hak saudara perempuan seayah.
f) Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing 1/6 bila mewarisi sendirian
g) Nenek asli mendapat bagian 1/6 ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. Ketentuan demikian baiknenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur aygh maupun ibu) yang jelas 1/6 itu dibagikan secara rata kepada mereka.
BAB III
PERANCANGAN SISTEM 3.1. Desain Tampilan
Gambar 3.1 Desain Tampilan Sistem Dalam tamplan website diatas ada beberapa bagian yaitu : 3.1.1. Header
Header merupakan judul dari website ini. 3.1.2. Menu Atas
Di menu atas berisikan beberapa link, diantaranya : Menu Home
Menu Tentang Waris Menu Hitung Waris
Menu Permasalahan Waris, dan Menu Tentang Saya
3.1.3. Menu Navigasi Samping
pada menu atas, jadi pada menu atas dan samping itu isin ya sama. 3.1.4. Footer
Pada bagian ini terdapat keterangan tentang siapa si pengembang software di website ini.
3.2. Desain Sistem Pakar
Gambar 3.2 Desain Sistem Pakar Waris
Desain sistem diatas merupakan desain sistem secara kaseluruhan. Dalam desain sistem pakar diatas interaksi yang terjadi hanyalah user dengan sistem. Proses yang dilakukan oleh user sebagai pengguna antara lain: menginputkan tirkah, input tanggungan pewaris seperti hutang dan wasiatnya, kemudian menginputkan para ahli waris.
Selain proses tersebut, pada desain sistem ini juga diatur apa saja yang diberikan sistem kepada user. Diantaranya hasil pembagian, laopram bagian harta, pengertian dari waris serta dalilnya, permasalahan-permasalahan dalam waris.
Gambar 3.3 DFD Level 1 Proses User. 3.3. Flowchart
Dari flowchart diatas proses perhitungan bagian dilakukan dengan pertama menginputkan jumlah harta (tirkah), kemudian menginputkan tanggungan si mayit (meliputi tanggungan yang berkaitan dengan hartanya, seperti hutang, biaya pemakaman, serta wasiat dari si mayit jika ada). Setelah itu menginputkan para ahli waris yang masih hidup yang ada, setelah semua ahli waris diinputkan maka proses perhitungan berjalan. Setelah proses perhitungan selesai maka ditampilkan bagian tiap-tiap ahli waris beserta warisan yang didapatnya.
3.4. Perancangan Rule
Rule-rule ini digunakan untuk memperoleh hasil akhir (goal) dari data-data yang telah dimasukkan kedalam sistem. Goal-goal yang dituju terdapat sembilan. Yaitu
3.4.1. Yang mendapat bagian 1/2 : suami, anak perempuan, anak
perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan seibu-sebapak, dan asudara perempuan sebapak
3.4.2. Yang mendapat bagian 1/4 : suami dan istri 3.4.3. Yang mendapat bagian 1/8 : istri
3.4.4. Yang mendapat bagian 2/3 : anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan), saudara perempuan seibu-sebapak, dan saudara perempuan sebapak
3.4.5. Yang mendapat bagian 1/3 : saudara laki-laki seibu (lebih dari 1) dan saudara perempuan seibu (lebih dari 1)
3.4.6. Yang mendapat bagian 1/6 : bapak, kakek dari pihak bapak, ibu, anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan), saudara perempuan sebagak (1 orang) dan nenek dari pihak bapak.
3.4.7. Ashabah bin al-nafsi (ABN) yaitu mengambill pembagian seorang diri saja. Diantaranya : anak laki-laki, cucu laki-laki, bapak, kakek, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki saudara laki-laki kandung, anak laki-laki saudara leki-laki sebapak, paman sekandung bapak, paman sebapak bapakanak laki-laki dari paman sekandung bapak dan anak laelaki dari paman sebapak bapak.
3.4.8. Ashabah bil ghair (ABG) yaitu mengambil sisa pembagian karena ia bersama ahli waris yang sederajat dan berbeda jenis : anak
perempuan jika bersama anak laki-laki, cucu perempuan jika bersama cucu laki-laki, saudara perempuan kandung, jika ada saudara laki-laki kandung, saudara perempuan sebapak, jika ada saudara laki-laki kandung, serta saudara perempuan sebapak, jikaada saudara laki-laki.
3.4.9. Ashabah ma’al ghair yaitu mengambil sisa pembagian karena dia bersama ahli waris yang sederajat dan sejenis, meliputi dua saudara perempuan atau lebih yang sekandung, dua saudara perempuan atau lebih yang sebapak, dan dua saudara perempuan atau lebih yang seibu.
BAB IV IMPLEMENTASI 4.1. Lingkungan Implementasi
Lingkungan implementasi meliputi lingkungan perangketa keras dan lingkungan perangkat lunak.
4.1.1. Lingkungan Perangkat Keras
Spesifikasi hardware minimal yang diperlukan saat implementasi adalah :
Komputer Pentium 4
Spesifikasi harddisk minimal 1 GB Ram minimal 512 MB
Monitor 800 x 600 pixel 4.1.2. Lingkungan Perangkat Lunak
Spesifikasi software yang digunakan untuk membangun sistem ini : Sistem operasi Ubuntu 12.04 LTS
Lampp server (linux apache2, mysql, php5 and phpmyadmin) Geany, atau gedit untuk text editor.
4.2. Implementasi Database
Pada sistem pakar pendukung keputusan ppembagian warisan ini, digunakan satu database dengan tiga tabel.
4.2.1. tb_ahli
Tabel ini berisikan kode ahli waris (kd_ahli), dantabel ahli waris (ahli_waris)
Gambar 4.1 Tabel Ahli Waris 4.2.2. tb_hak
yang diperoleh (jml_hak)
Gambar 4.2 Tebel Hak Waris 4.2.3. tb_relasi
Tabel ini berisikan kode ahli waris (kd_ahli), kode hak ahli waris (kd_hak) dan syarat mendapatkan warisan (syarat)
Gambar4.3 Tabelo Relasi
Dari ketiga tabel tersebut terdapat relasi antar tabel yang digunakan pada saat menampilkan data ahli waris di sistem yang dibuat.
Gambar 4.4 Relasi Antar Tabel 4.3. Struktur Program
4.3.1. Halaman Home
Halaman ini adalah halaman uatama, halaman yang pertama kali akan dibuka ketika aplikasi dijalankan. Pada halaman ini tidak terjadi proses, hanya menampilkan sedikit ulasan tentang program dan cara keterangan mengenai menu.
4.3.2. Menu Tentang Waris
Pada menu tentang waris ini berisi sub menu lagi dimana submenu tersebut berisi : pengertian tentang waris (baik menurut bahasa maupun istilah), berisi dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits mengenai waris, terdapar link pohon hubungan keluarga serta para ahli waris yang berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan si pewaris.
4.3.3. Halaman Hitung Waris
Halaman ini adalah halaman utama sistem pakar. Pada halaman ini terdapat form inputan jumlah tarikah (harta peninggalan) yang akan diinputkan oleh user. Selai itu user juga diminta menginputkan tanggungan yang masih belum sempat dibayar oleh si pewaris semasa hidupnya serta user diminta untuk mengisi para ahli waris yang ada.
Setelah user menginputkan yang diminta oleh sistem maka akan ditampilkan bagian perbagiann harta yang diperoleh para ahli waris. 4.3.4. Halaman Permasalahan Waris
Pada halaman permasalahan waris ini juga masih dibagi menjadi beberapa sub menu, diantaranya permasalahan waris bagi seorang banci, bagi orang yang hilang, jann dalam kandungan, dzawil arham, nakak hasil zina dan li’an, orang yang mati bersama serta masalah waris bagi saudara sesusu.
4.3.5. Halaman Tentang Saya
Adapun pada bagian halaman tentang saya berisi sedikit tentang orang yang mengembangkan sistem ini,
BAB V
PENGUJIAN SISTEM
Berdasarkan perancangan dan pengimplementasian yang telah dibahas pada bab sebelumnya berikut adalah pengujian terhadap sistem. Pengujian dimulai dari halaman home yang merupakan halaman utama, dan kemudian dilanjutkan ke balaman berikutnya.
5.1. Halaman Home
Halaman home ini merupakan halaman pertama yang akan dibuka ketika membuka website ini. Halaman ini berisi ucapan selamat datang dan sedkiit penjelasan tentang website ini dan penjelasan mengenai menu-menu yang ada.
Gambar 5.1 Halaman Home 5.2. Halaman Definisi
Halaman defini waris ini berisi pengertia mengenai waris menurut bahasa dan istilah,
Gambar 5.2 Halaman Definisi Waris 5.3. Halaman Dalil Waris dan Pohon Hubungan Keluarga
Pada halaman dalil waris ini dijelaskan mengenai dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan hadits mengenai waris ini, serta pada pohon hubungan eluarga adalah pohon keluarga ahli waris.
Gambar 5.4 halaman Pohon Hubungan Keluarga 5.4. Halaman Tabel Ahli Waris
Pada halaman ini ditampilken para ahli waris yang berhak mendapatkan bagian dari peninggalan si pewaris,
Gambar 5.5 Tabel Para Ahli Waris 5.5. Halaman Hitung Waris
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa halaman ini adalah halaman utama setelah home, karena pada halaman ini proses perhitungan warisan dilakukan. User diminta untuk menginputkan tarikah (harta peninggalan pewaris), jijka ada hutang yang berkaitan dengan harta
atau non harta dan wasiat hendaknya ditunaikan te3rlebih dahulu sebelum tarikah dibagikan. Setelah itu user diminta untuk menginputkan data para ahli waris yang ada dan berhak mendapatkan warisan. Setelah semua inputan sudah diinputan semua maka klik tombol hitung dan hasilnya akan ditampilkan dibawah.
Gamber 5.6 Halaman Perhitungan Waris. Masukkan
Harta Peninggalan
Jika mempunyai hutang (baik harta / non harta)
Silahkan diisi disini
Inputkan data para Ahli waris.
Hasil Perhitungan waris
5.6. Halaman Permasalahan Waris
Pada halaman permasalahan waris ini dipaparkan para ahli waris yang bermasalah dengan ketentuan yang ada. Misalnya banci, orang yang hilang, janin yang masih ada di dalam kandungan, dzawil arham, anak dari hasil zine dan li’an, orang yang mati bersama, serta saudara sesusu.
Gambar 5.7 Halaman permasalahan waris 5.7. Halaman Tentang Saya
Pada halaman ini berisi tentang pengembang dari software ini.
BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan perancangan Sistem Pakar Pembagian Waris Berbasis Web ini maka dapat ditarik kesimpulan :
Sistem Pakar Pembagian Waris Berbasis Web ini dapat mempermudah orang-orang dalam melakukan pembagian harta warisan dengan menggunakan tatacara islam ddengan cepat dan tepat.
Sistem pakar ini sebagai implementasi dari pembangnunan sistem pakar untuk pendukunf keputusanharta waris dengan menggunakan hukum islam
Tingkat kesulitan pengembangan sistem pakar ini menggunakan bahasa prosedural (php) ini cukup tinggi dibandingkan dengan bahasa intelegen. Namun rancangan yang telah dibuat ini mempunyai interface yang user friendly.
6.2. Saran
Bahasa pemrograman yang digunakan untuk pengembangan sistem pakar ini masih menggunakan pemrograman prosedural, oleh karena itu untuk engembangan lebih lanjut diharapkan menggunakan bahasa pemrograman yang non prosedural (OOP)
Untuk pengguna sistem yang masih kurang mengerti atau masih kurang mengetahui istilah-istilah dalam pembagian waris berdasarkan hukum Islam, diharapkan ditambahkan fasilitas yang menjelaskan teori pembagian waris secara terperinci..
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Idris. (1904). Fiqih Islam Menurut Madzhab Syafi’i. Bandung : Karya Indah.
Deef, Diggy, (2005). Laporan Tugas Akhir : Implementasi Sistem Pakar pada Undang-undang Pepublik Indonesia No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Bandung : Universitas Widyatama.
Kusrini, M.Kom. (2006). Sistem Pakar Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Andi Publisher.
Rasjid, Sulaiman. H. (2007). Fiqih Islam. Bandung : Sinar Baru Algesindo. Setiawan, Ridwan. (2012). Modul Pelatihan Aplikasi Waris Islam (Faraid).
http://faraid-system.co.cc/. Diakses tanggal 12 Desember 2013.
_____________. (2014). Bagian-bagian Ahli Waris.
http://www.faroidh.webs.com/Bagian%20Ahli%20Waris.pdf. Diakses tanggal 11 Januari 2014.
_____________. (2013). Kalkulator Cerdas dengan PHP.
http://kubaat.wordpress.com/2010/04/27/aplikasi-kalkulator-cerdas-denga n-php/. Diakses tanggal 22 Desember 2013.