• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAGIAN HARTA WARISAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBAGIAN HARTA WARISAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAGIAN HARTA WARISAN

OLEH :

ERNA YULIANDARI, S.H,M.A

(2)

HUKUM WARIS YANG BERLAKU DI INDONESIA HUKUM WARIS di INDONESIA MASIH B ELUM

DIKODIFIKASIKAN ADA 3 HUKUM WARIS YANG BERLAKU DI INDONESIA YAITU :

1 .HUKUM WARIS ADAT 2. HUKUM WARIS ISLAM

3. HUKUM WARIS BARAT PERDATA DI DALAM

KUH PERDATA HK, WARIS DIATUR BERSAMA-

SAMA DENGAN HUKUM BENDA

(3)

HUKUM WARIS PERDATA

 Sesuai dengan isi Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), hukum waris

perdata barat, ditegaskan bahwa pembagian harta warisan baru bisa dilakukan kalau terjadi

kematian. Jadi kalau pemilik harta masih hidup, harta yang dimilikinya tidak dapat dialihkan

melalui pengesahan prosedur atau ketentuan

warisan

(4)

AHLI WARIS MENURUT KUHPERDATA

Siapa aja yang berhak menjadi ahli waris menurut KUHPerdata?

Pasal 832 menyebutkan orang-orang yang berhak menjadi ahli waris, yaitu: 

Golongan I: keluarga yang berada pada garis lurus ke bawah, yaitu suami atau istri yang ditinggalkan, anak-anak, dan keturunan beserta suami atau istri yang hidup lebih lama.

Golongan II: keluarga yang berada pada garis lurus ke atas, seperti orang tua dan saudara beserta keturunannya.

Golongan III: terdiri dari kakek, nenek, dan leluhur.

Golongan IV: anggota keluarga yang berada pada garis ke samping dan keluarga lainnya hingga derajat keenam.

(5)

PEMBAGIAN WARISAN MENURUT KUHPERDATA

Suami atau istri dan anak-anak yang ditinggal mati pewaris mendapat seperempat bagian.

Kalau pewaris belum punya suami atau istri dan anak, hasil pembagian warisan diberi ke orang tua, saudara, dan keturunan saudara pewaris sebesar seperempat bagian.

Kalau pewaris gak punya saudara kandung, harta warisan dibagi ke garis ayah sebesar setengah bagian dan garis ibu sebesar setengah bagian.

Keluarga sedarah dalam garis atas yang masih hidup berhak menerima warisan sesuai dengan ketentuan yang besarannya setengah bagian.

Dengan kata lain, urutan ahli waris ini dibuat berdasarkan asas prioritas. Selama Golongan I masih hidup, maka Golongan II gak sah untuk menerima warisan di mata hukum. Begitu juga selanjutnya, baru setelah Golongan I dan II gak ada, maka

Golongan III yang berhak menerima warisan.

(6)

PARA PIHAK YANG DAPAT MEWARIS

 Pihak yang menjadi ahli waris secara alami.

Mereka yang ditunjuk sesuai undang-undang, antara lain suami/istri, anak, kakek/nenek, dan lainnya sebagaimana termasuk dalam

Golongan I hingga Golongan IV. Hak ini disebut dengan ab intestato.

Pihak yang ditunjuk secara khusus sebagai ahli waris sesuai isi wasiat milik pewaris. Umumnya disebut surat wasiat, surat ini tetap perlu disahkan oleh notaris. Hak ini disebut dengan testamenter.

Anak yang masih berada di dalam kandungan. Walau belum

dilahirkan, statusnya bisa disahkan langsung sebagai ahli waris jika diperlukan. Hak ini diperkuat oleh ketentuan Pasal 2 KUHPerdata.

(7)

PIHAK- PIHAK YANG DICORET DARI AHLI WARIS

 Pasal 838 KUHPerdata menyatakan pihak-pihak yang akan dicoret sebagai ahli waris jika melakukan tindakan kriminal seperti berikut.

Melakukan pencegahan untuk mengesahkan atau mencabut surat wasiat.

Memalsukan, merusak, atau menggelapkan keberadaan surat wasiat.

Berupaya membunuh atau telah membunuh pewaris.

Terbukti bersalah berusaha merusak nama baik pewaris.

(8)

HAK- HAK AHLI WARIS

Setelah keberadaan ahli waris dapat dipastikan dan disahkan, maka timbullah hak-hak bagi para ahli waris tersebut, yaitu:

Para ahli waris dapat mengusulkan pemisahan harta warisan yang telah dibagikan. Berdasarkan Pasal 1066 KUHPerdata, hal ini dapat direalisasikan lima tahun setelah harta waris dibagikan. Namun, hal ini gak wajib dan hanya bersifat kesepakatan internal di antara para ahli waris dengan mengikuti ketentuan hukum yang sah.

Suatu pihak dinyatakan secara alami sebagai ahli waris yang sah yang mana berhak menerima semua hak warisan berupa harta benda dan piutang dari pewaris. Namun, sesuai Pasal 833 KUHPerdata, ahli waris tersebut memiliki hak saisine, yaitu hak untuk mempertimbangkan atau menolak menerima warisan.

(9)

 Ahli waris berhak meminta penjelasan atau rincian terkait warisan yang diterimanya. Bentuknya bisa dalam pembukuan yang berisi jenis-jenis hak,

kewajiban, utang, dan/atau piutang dari pewaris.

Permintaan ini adalah bagian dari hak beneficiary sesuai Pasal 1023 KUHPerdata. 

 Ahli waris pertama berhak untuk menggugat ahli waris kedua atau pihak terkait lainnya yang menguasai

harta warisan yang menjadi bagian dari hak ahli waris

pertama. Hal ini disebut dengan hak hereditas petitio

yang diperkuat oleh Pasal 834 KUHPerdata.

(10)

HUKUM WARIS ADAT

hukum waris adat di Indonesia terbagi dalam tiga bagian menurut sistem kekerabatannya, yaitu:

Sistem patrilineal, yang didasarkan pada garis keturunan laki-laki atau ayah.

Hukum adat berdasar sistem patrilineal ini terdapat dalam masyarakat Tanah Gayo, Alas, Batak, Bali, Papua, dan Timor.

Sistem matrilineal, yang didasarkan pada garis keturunan perempuan atau ibu. Hukum adat berdasar sistem matrilineal terdapat dalam masyarakat Minangkabau.

Sistem parental atau bilateral, yang didasarkan pada garis keturunan ayah dan ibu. Hukum adat berdasar sistem ini terdapat pada masyarakat Jawa, Madura, Sumatra, Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan, Ternate, dan Lombok.

(11)

HUKUM WARIS ISLAM

 Di Indonesia pembagian harta warisan menurut agama Islam diatur

berdasarkan surat An-Nisa ayat 11 – 12 dalam Al-Quran dan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi

Hukum Islam.

(12)

 Menurut hubungan darah, ahli waris dari

golongan laki-laki meliputi ayah, anak laki- laki, saudara laki-laki, paman, dan kakek.

Sementara dari golongan perempuan

meliputi ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

 Kalau semua ahli waris masih ada, yang

berhak mendapat warisan cuma anak,

ayah, ibu, janda, atau duda.

(13)

Anak perempuan yang cuma seorang diri berhak dapat warisan separuh bagian.

Anak perempuan berjumlah dua atau lebih berhak dapat dua pertiga bagian.

Anak perempuan bersama anak laki-laki maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.

Ayah mendapat sepertiga bagi kalau pewaris gak meninggalkan anak. Kalau ada anak, ayah mendapat seperenam bagian.

Ibu mendapat seperenam bagian kalau ada anak atau dua saudara atau

lebih. Kalau gak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, ia mendapat sepertiga bagian.

Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisi sesudah diambil janda atau duda

kalau bersama-sama dengan ayah.

(14)

Duda mendapat separuh bagian kalau pewaris gak meninggalkan anak dan kalau pewaris meninggalkan anak, duda mendapat seperempat bagian.

Janda mendapat seperempat bagian kalau pewaris gak meninggalkan anak dan kalau pewaris meninggalkan anak, janda mendapat seperdelapan bagian.

Kalau seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dn ayah, saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian.

Kalau mereka itu dua orang atau lebih, mereka bersama-sama dapat sepertiga bagian.

Kalau seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah yang mana ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, ia mendapat separuh bagian.

Kalau saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, mereka bersama-sama mendapat dua pertiga

bagian.

Kalau saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

(15)

Selain ketentuan di atas, ada beberapa ketentuan lain yang harus diperhatikan, seperti:

 Ahli waris yang belum dewasa atau gak mampu melaksanakan hak dan kewajiban maka buatnya diangkat wali menurut

keputusan Hakim atas usul anggota keluarga.

 Ahli waris yang msseninggal lebih dulu dapat digantikan anaknya.

 Bagian ahli waris pengganti gak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

 Anak yang lahir di luar perkawinan cuma mempunyai

hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari

pihak ibunya.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan konsentrasi nitrogen dan fosfor dalam proses reduksi lumpur dengan cacing akuatik.. Penelitian

Berdasarkan hasil analisis data observasi, mengacu pada ciri-ciri sikap bahasa yang diungkapkan oleh Garvin Mathiot, dapat dikatakan bahwa sikap bahasa mahasiswa

PERILAKU SOSIAL REMAJA TUNAGRAHITA RINGAN DI SPLB-C YPLB CIPAGANTI Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

FORMULIR DAYA TERIMA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT KARDIOVASKULAR TERHADAP MAKANAN YANG DISAJIKAN RSUP H?. ADAM

Keberadaan Rencana Strategis menjadi penting untuk memberikan arah yang jelas agar selama lima tahun ke depan UIN Sunan Gunung Djati Bandung mempunyai daya saing yang kuat

dalam anggaran belanja rutin. Pengukuran kinerja pada Dinas PU. Bina Marga Kabupaten Muara Enim.. hanya membandingkan anggaran belanja dan realisasinya,

'^R Aclimad S Soemadipradja, Hukum Pidana Dalam Yurisprudensi, Armico, Bandung, 1990.. Yesmil Anwar diin

(2001), e-procurement adalah aplikasi sistem informasi untuk mengkoordinasikan proses pembelian, pengiriman, pengelolaan inventory, pemilihan supplier dan proses persetujuan