• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL TELAAH YURISPRODENSI INQUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS V SD NO 1 KAMPUNG BUGIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL TELAAH YURISPRODENSI INQUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS V SD NO 1 KAMPUNG BUGIS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL TELAAH YURISPRODENSI INQUIRI

TERHADAP HASIL BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS V

SD NO 1 KAMPUNG BUGIS

Purwanti

1

, Nyoman Murda

2

, I G. N. Japa

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

Email: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi hasil belajar PKn siswa yang mengikuti model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri, (2) deskripsi hasil belajar PKn siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, (3) perbedaan hasil belajar PKn antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dan model pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di SD No 1 Kampung Bugis, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Sebanyak 60 orang siswa dipilih sebagai sampel. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah skor hasil belajar PKn ranah kognitif yang dikumpulkan melalui tes objektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar PKn antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, hal ini dilihat dari perbedaan rata-rata skor siswa antara kelompok eksperimen (20,30) dan kelompok kontrol (16,30). Dengan demikian, model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri berpengaruh positif terhadap hasil belajar PKn dibandingkan dengan model konvensional.

Kata kunci: Telaah Yurisprodensi Inquiri, konvensional, hasil belajar PKn

Abstract

The aims of study were to (1) describe civics learning outcomes of students who follow learning model of Jurisprudential Inquiry, (2) describe civics learning outcomes of students who follow conventional learning model, and (3) determine significant differences of civics learning outcomes between the students who follow learning model with Jurisprudential Inquiry with students who follow conventional learning model.The study was quasi-experimental. The population was all fifth grade students of elementary school in SD No 1 Kampung Bugis Beleleng regency academic year 2013/2014. There were 60 students as samples of study. The data were analyzed cognitively by using objectif tests. The data collected were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics (t-test). The result of study showed that there are significant differences between civic learning outcomes between the students who follow learning model with Jurisprudential Inquiry with students who follow conventional learning model, it saw average score of experimental group (20, 30) and the average score of control group is (16, 30). From the results of study conducted, it can be concluded that using review Jurisprudential Inquiry model has positive influence of civics learning outcomes PKn rather than using conventional learning model.

.

(2)

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu, peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas perlu dilakukan untuk menunjang pembangunan nasional serta mengimbangi kemajuan IPTEK. Selain itu, berbagai inovasi pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, seperti adanya perbaikan pada kualitas pengajaran, diadakannya penyempurnaan kurikulum, penyediaan fasilitas pembelajaran dan pengadaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, menengah maupun jenjang pendidikan tinggi.

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama sembilan tahun yang melandasi jenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD), telah dirancang berbagai mata pelajaran yang wajib diberikan kepada siswa seperti yang telah diatur dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dimana disebutkan bahwa kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran inti. Salah satu mata pelajaran yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Menurut Lutfi (2012) pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu pelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan cenderung pada pendidikan afektif. Dalam hal ini, pendidikan kewarganegaraan merupakan program pendidikan berdasarkan nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa yang diharapkan menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Mulyasa (dalam Ruminiati, 2008:1.26) menyatakan, tujuan

pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu: a) mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan di negaranya, b) mau berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan, secara aktif dan bertanggung jawab, sehingga bisa bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan, c) bisa berkembang secara positif dan demokratis, sehingga mampu hidup bersama dengan bangsa lain di dunia dan maupun berinteraksi, serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik. Namun Pendidikan Kewarganegaraan lebih dikenal sebagai mata pelajaran yang membosankan dan tidak menarik bagi peserta didik. Akibatnya peserta didik akan semakin tidak serius dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa yang menjadi tidak optimal. Hal ini terjadi, karena pembelajaran PKn selama ini masih menggunakan model pembelajaran konvensional.

Model pembelajaran konvensional lebih menekankan pada fungsi guru sebagai pemberi informasi, sedangkan peserta didik lebih diposisikan sebagai pendengar dan mencatat penjelasan guru, sehingga interaksi terjadi hanya satu arah dari guru ke siswa. Menurut Putrayasa (dalam Rasana, 2009:20) pembelajaran konvensional yang diawali dengan pemberian informasi oleh guru, tanya jawab, pemberian tugas, pelaksanaan tugas oleh siswa sampai pada akhirnya guru merasa bahwa materi yang diajarkan telah dimengerti oleh siswa. Pada pembelajaran, ini guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa mengemukakan gagasannya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Hal tersebut mengakibatkan beberapa siswa yang mengalami remidi atau belum mampu untuk memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam mata pelajaran PKn. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar PKn siswa kelas V SD No 1 Kampung Bugis Kecamatan Buleleng

(3)

Kabupaten Buleleng masih belum memenuhi kriteria yang diharapkan.

Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan salah seorang guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SD No 1 Kampung Bugis, sekolah ini memiliki siswa yang majemuk dengan kemampuan yang berbeda-beda. Selain itu sekolah ini memiliki berbagai potensi yang harus dikembangkan. Salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah kemampuan siswa dalam berargumentasi. Selama ini siswa selalu enggan ketika diminta guru untuk mengemukakan gagasannya, namun pada saat diluar kelas pada saat bermain dan bercakap-cakap dengan temannya siswa memiliki kemampuan dalam berargumentasi untuk mempertahankan pendapatnya.

Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya keberanian siswa dalam mengemukakan argumentasinya pada saat pembelajaran di kelas dan pola pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SD No 1 Kampung Bugis yang kurang bervariasi. Selain itu, penyampaian materi pelajaran di kelas lebih banyak terpaku pada guru dan kurang mengkaitkan dengan situasi nyata dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, rendahnya hasil belajar PKn siswa di SD No 1 Kampung Bugis dalam disebabkan oleh siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran dan model serta metode guru yang kurang bervariasi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai alternatif dalam mengaktifkan siswa dan memperbaiki metode mengajar guru yang kurang bervariasi adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif. Salah satu model inovatif tersebut adalah model Telaah Yurisprodensi Inquiri. Ruminiati (2008:5.18) menyatakan bahwa “model telaah yurisprudensi inquiri adalah model pembelajaran untuk membantu siswa agar mampu berpikir secara sistematis tentang asal-usul di masyarakat khususnya di lingkungan pendidikan”. Sejalan dengan hal tersebut menurut B. Uno (2009:31)

model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk peka terhadap permasalahan sosial, mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap dengan argumentasi yang relevan dan valid. Menurut Ruminati (2008:5.19) manfaat model Telaah Yurisprodensi Inquiri adalah “untuk melatih agar siswa peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial, sehingga bisa mengambil sikap terhadap permasalahan yang dihadapi”.

Model Telaah Yurisprodensi Inquiri sangat cocok diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, karena Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu pelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan bertujuan untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. Selain itu model Telaah Yurisprodensi inquiri ini dapat melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dalam mengemukakan gagasannya, yaitu dapat menerima dan menghargai sikap terhadap orang lain walaupun bertentangan dengan dirinya dan peka terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Keunggulan dari penggunaan model Telaah Yurisprodensi Inquiri yaitu dapat melatih siswa berfikir kritis, rasional, belajar berorganisasi, mau mengakui kelebihan orang lain jika ternyata dirinya kalah, dan mau menghargai orang lain walaupun dirinya yang menang. Jadi dengan penerapan model Telaah Yurisprodensi Inquiri diharapkan dapat memperdalam pemahaman siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga diharapkan nantinya akan mengarah pada optimalnya hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa.

Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, bahwa model Telaah Yurisprodensi Inquiri dapat memberikan pengaruh yang sangat beragam terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan seperti membantu siswa untuk belajar berfikir sistematis mengenai masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, mengambil posisi (sikap) terhadap

(4)

permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap dengan argumentasi yang relevan dan valid. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Telaah Yurisprodensi Inquiri Terhadap Hasil

belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas V SD No 1 Kampung Bugis Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.”

METODE

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SD No 01 Kampung Bugis. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas V SD No 1 Kampung Bugis Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik sampel jenuh. Cara penarikan sampel menggunakan sistem undian. Untuk mengetahui kesetaraan

kemampuan akademik pada populasi penelitian maka dilakukan uji-t .

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji-t diperoleh sampel yaitu, siswa kelas VB SD No. 1 Kampung Bugis sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VA SD No. 1 Kampung Bugis sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dan kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan model konvensional. Desain Penelitian yang digunakan adalah post-test only control group design yang dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Non EquivalentPost-Test Only Control Group Design

Kelas Treatment Post-test

E X1 O1

K - O2

(Sugiyono, 2010: 116) Metode pengumpulan data yang

digunakan adalah metode tes. Agung (2011:66) menyatakan, metode tes adalah cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dites (testee), dan dari tes tersebut dapat menghasilkan suatu data berupa skor (data interval)”. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hasil belajar PKn ranah kognitif yang dikumpulkan melalui tes objektif. Koyan (2011:48) menyatakan bahwa “tes objektif merupakan seperangkat tes atau alat ukur yang setiap butirnya menuntut jawaban memilih, yang terdiri dari butir tes jawaban singkat, benar salah, menjodohkan, dan pilihan ganda”. Dalam penelitian ini, bentuk tes objektif yang digunakan adalah tes pilihan ganda. Tes tersebut telah di uji coba lapangan, sehingga teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil tes uji lapangan tersebut selanjutnya

diberikan kepada siswa kelas eksperimen dan kontrol sebagai post-test.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif dan uji prasyarat analisis. Teknik analisis statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya hasil belajar PKn siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada analisis statistik deskriptif, data dianalisis dengan menghitung modus, median, mean, skor minimum, skor maksimum, standar deviasi, dan varian. Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk grafik poligon. Tujuan penyajian data ini adalah untuk menafsirkan sebaran data hasil belajar PKn siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol.

Pada uji prasyarat analisis dilakukan uji normalitas sebaran data, uji homogenitas varians, dan uji hipotesis. Uji normalitas sebaran data dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa sampel benar-benar

(5)

berasal dari sampel yang berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk mencari tingkat kehomogenan secara dua pihak yang diambil dari kelompok-kelompok terpisah dari satu populasi yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah uji-t. Sebelum melakukan uji hipotesis, ada

beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlu dibuktikan. Persyaratan yang dimaksud yaitu: (1) data yang dianalisis harus berdistribusi normal, (2) mengetahui data yang dianalisis bersifat homogen atau tidak. Untuk memenuhi persyaratan tersebut maka dilakukan uji prasyarat analisis dengan uji normalitas dan uji homogenitas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Untuk memperoleh gambaran tentang hasil belajar PKn, data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif. Teknik analisis statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya hasil belajar PKn pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan analisis statistik deskriptif yang telah dilakukan, diketahui bahwa mean kelompok eksperimen lebih besar daripada mean kelompok kontrol. Dalam kelompok eksperimen memiliki skor rata-rata 20,30, sedangkan pada kelompok kontrol memiliki skor rata-rata sebesar 16,30. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar PKn yang dicapai siswa pada kelompok eksperimen berbeda dengan kelompok kontrol. Untuk menafsirkan sebaran data hasil belajar PKn siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol, data hasil belajar PKn dapat disajikan ke dalam bentuk grafik poligon seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Poligon Data Hasil Belajar PKn Kelompok Eksperimen

Mean (M), Median (Md), Modus (Mo) digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa sebaran data kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri Inquiri merupakan juling negatif karena Mo > Me > M (20,75 > 20,60 > 20,30). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok eksperimen cenderung tinggi. Jika nilai rata-rata dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) Skala Lima berada pada kategori sangat tinggi. Distribusi frekuensi data hasil belajar PKn kelompok kontrol yang telah mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Poligon Data Hasil Belajar PKn Kelompok Kontrol

Mean (M), Median (Me), Modus (Mo) digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa sebaran data kelompok siswa yang

(6)

mengikuti model pembelajaran konvensional merupakan juling positif karena Mo < Me < M (15,79 < 16 < 16,30). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok kontrol cenderung rendah. Jika nilai rata-rata dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) Skala Lima berada pada kategori tinggi.

Setelah mengetahui hasil analisis statistik deskriptif, kemudian dilakukan uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Uji normalitas dilakukan untuk membuktikan bahwa kedua sampel tersebut bedistribusi normal. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh

2hit hasil

belajar PKn siswa kelompok eksperimen lebih kecil dari

2tab (

2hit

2tab)

sehingga data hasil belajar PKn siswa kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan,

2hit hasil belajar PKn siswa

kelompok kontrol lebih kecil dari

2tab

(

2hit

2tab) sehingga data hasil belajar

PKn siswa kelompok kontrol berdistribusi normal.

Setelah melakukan uji normalitas, selanjutnya dilakukan uji homogenitas varians. Uji homogenitas varians data hasil belajar PKn dianalisis menggunakan uji F dengan kriteria kedua kelompok memiliki varians homogen jika Fhitung < Ftabel . Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas didapatkan varians data hasil belajar PKn siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.

Berdasarkan hasil analisis uji prasyarat hipotesis, diperoleh bahwa data hasil belajar PKn siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen, sehingga pengujian hipotesis penelitian dengan uji-t dapat dilakukan. Hipotesis penelitian yang diuji adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar PKn antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan statistik uji-t dengan rumus polled varians. Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thitung > ttabel. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kekebasab (dk) = n1 + n2 – 2. Hasil perhitungn uji-t dapat dilihat dalam Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis Hasil Belajar Varians N Db t

hitung ttabel Kesimpulan Kelompok Eksperimen 15,27 30 58 3,88 2,001 thitung > ttabel (H0 ditolak) Kelompok Kontrol 16,6 30

Berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh thit sebesar 3,88. Sedangkan, ttab dengan db = dan taraf signifikansi 5% adalah 2,001. Hal ini berarti, thit lebih besar dari ttab (thit > ttab) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan

Pendekatan Konvensional pada siswa kelas V SD No.1 Kampung Bugis Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.

Pembahasan hasil-hasil penelitian dan pengujian hipotesis menyangkut tentang hasil belajar PKn siswa khususnya pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hasil belajar PKn siswa yang dimaksud adalah hasil belajar PKn siswa pada kelompok eksperimen dengan

(7)

menggunakan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dan kelompok kontrol dengan menggunakan model konvensional.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar PKn yang dicapai siswa pada kelompok eksperimen berbeda dengan kelompok kontrol. Secara deskriptif, kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri memiliki skor rata-rata 20,30, sedangkan kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional memiliki skor rata-rata sebesar 16,30. Hal ini menunjukan hasil belajar PKn siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri lebih tinggi dari pada siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Berdasarkan analisis data menggunakan uji-t yang ditunjukkan pada Tabel 4.7 bahwa thit lebih besar dari ttab (thit > ttab) sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn siswa antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dengan siswa yang mengikuti pembelajaran model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD No 1 Kampung Bugis

Dari hasil analisis tersebut, terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan hasil belajar PKn yang signifikan antara siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dan siswa yang belajar dengan menggunakan model konvensional. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan perlakuan pada langkah-langkah pembelajaran. Dalam pembelajaran model konvensional ditandai dengan ceramah, tanya jawab, pembagian tugas dan latihan. Dalam penelitian ini, guru lebih banyak mendominasi kegiatan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pendengar yang baik dan mengerjakan apa yang ditugaskan guru serta melakukannya sesuai dengan arahan guru. Interaksi antar siswa yang satu dengan siswa yang lainnya jarang terjadi. Selain itu, dalam pembelajaran dengan pembelajaran

konvensional, siswa kurang diberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi terhadap suatu permasalahan yang dikaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran seperti ini dapat membuat siswa tidak terlatih untuk mengostruksi pengetahuannya dan siswa akan mengalami kesulitan dalam mengingat materi yang yang telah dijelaskan guru.

Berbeda dengan model Telaah Yurisprodensi Inquiri, dalam pembelajaran dengan menggunakan model Telaah Yurisprodensi Inquiri menekankan pada aktivitas siswa, yaitu siswa berkesempatan untuk lebih berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam hal ini, siswa diberikan kesempatan mengemukakan argumentasinya dalan kegiatan diskusi di kelas, siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari tanpa harus selalu tergantung pada guru, siswa mampu memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari, serta bekerja sama dengan siswa lain untuk saling bertukar pikiran. Selain itu, siswa menjadi lebih tertantang untuk belajar dan berusaha menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya dan pengetahuan yang diperoleh akan lebih mudah diingat oleh siswa.

Model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri merupakan salah satu model pembelajaran yang membantu siswa untuk belajar berfikir sistematis mengenai masalah-masalah yang dihadapinya. Dalam model Telaah Yurisprodensi Inquiri diawali dengan orientasi kasus yaitu guru memperkenalkan berbagai materi kasus yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kemudian siswa mengidentifikasi beberapa kasus yang berkaitan dengan materi dengan mendiskusikan permasahan bersama kelompoknya. Dalam tahap ini antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya saling bertukar informasi. Selanjutnya dilanjutkan dengan pengambilan posisi yaitu dalam langkah ini siswa Siswa mengemukakan pendapatnya terkait dengan permasalahan yang telah diberikan. Kemudian guru menggali pemahaman siswa secara lebih dalam

(8)

terhadap permasalahan maupun kasus yang diperbincangkan, dan menguji konsistensi siswa dalam mempertahankan sikap dan argumentasinya. Melalui tahap ini siswa akan memiliki kesempatan yang besar untuk dapat mengeksplorasi pengetahuannya. Langkah selanjutnya yaitu penentuan ulang dan memperkuat posisi (sikap). Dalam langkah ini, Siswa bersama kelompok menentukan posisi (sikap) terkait dengan permasalahan. Kemudian dilakukannya pengujian asumsi,dalam hal ini guru menilai apakah argumentasi yang digunakan untuk mendukung pernyataan siswa tersebut relevan dan memberikan penegasan mengenai permasalahan yang telah diperbincangkan.

Pembelajaran dengan menerapkan model Telaah Yurisprodensi Inquiri memiliki tahapan-tahapan yang sistematis, sehingga siswa lebih banyak terlibat aktif dalam pembelajaran serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Selain itu siswa lebih leluasa dalam mengemukakan pendapatnya yang berimplikasi pada tingkat pemahaman siswa, dan pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional pada kelas V SD No 1 Kampung Bugis.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan sejumlah hasil penelitian yang sudah dilakukan Husin (2011) yang menerapkan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas V di SD Negeri Sukoharjo 2 Kota Malang, dengan penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dapat meningkatkan hasil belajar IPS karena model Telaah

Yurisprodensi Inquiri memiliki langkah-langkah pembelajaran yang tersesusun secara sistematis yang dapat membantu siswa untuk dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya dan

mempermudah siswa dalam

mengemukakan pendapatnya terkait dengan permasalahan yang dihadapinya. Dengan memperhatikan hal tersebut, model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri diyakini dapat memperkuat ingatan siswa dalam materi yang telah dijelaskan oleh guru.

Penelitian yang dilakukan Nelma Voth (2010) yang meneliti tentang penggunaan model pembelajaran Telaah Yurisprudensi Inquiri untuk meningkatkan prestasi belajar PKn. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan prestasi belajar PKn. Peningkatan presentasi prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn ini terjadi karena diterapkannya model Telaah Yurisprodensi Inquiri, dimana dalam model ini siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran di kelas. Selain itu model ini juga melatih siswa berfikir kritis untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa, siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari serta bekerja sama dengan siswa lain untuk saling bertukar pikiran. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dapat meningkat setelah penerapan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri.

Berdasarkan uraian diatas, maka secara umum penelitian ini telah mampu menjawab permasalahan penelitian sebagaimana yang telah dirumuskan pada rumusan masalah. Dengan diterapkannya model Telaah Yurisprodensi Inquiri memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD No 1 Kampung Bugis Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut. (1) hasil belajar PKn siswa kelompok eksperimen yang mengikuti pembelajaran dengan

(9)

model Telaah Yurisprodensi Inquiri berada pada kategori sangat tinggi dengan rata-rata 20,3. (2) hasil belajar PKn siswa kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 16,3. (3) terdapat perbedaan hasil belajar PKn yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Telaah Yurisprodensi Inquiri dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Adanya perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa penerapan model Telaah Yurisprodensi Inquiri berpengaruh positif terhadap hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan konvensional.

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut. (1) bagi siswa-siswa di sekolah dasar agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan terus mengembangkan pemahamannya dengan berfikir secara sistematis untuk memecahkan masalah yang dihadapi serta selalu bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, (2) bagi para guru, agar selalu menggunakan model pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran. Dalam hal ini adalah menggunakan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri sebagai salah satu alternatif model pembelajaran di kelas, sehingga dapat meningkatkan profesionalisme guru, (3) bagi Kepala Sekolah, agar memberikan informasi dan memfasilitasi para guru agar mampu menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa sehingga mutu pendidikan sekolah dapat meningkat, (4) bagi peneliti lain yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dalam bidang ilmu PKn maupun bidang ilmu lainnya, agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN

Agung, A. A. Gede. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

BNSP. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta: Depdiknas. B.Uno Hamzah. 2009. Model Pembelajaran

(Menciptakan proses belajar mengajar yang kreatif dan Efektif). Jakarta: Bumi Aksara.

Husin, Voth. 2011. Penerapan model pembelajaran telaah yurisprudensi inquiri untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan S1 PGSD, Universitas Negeri Malang.

Koyan, 2011.

Asesmen Dalam Pendidikan.

Singaraja: Universitas Pendidikan

Ganesha Press.

Lutfi Ansori, 2012. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan. Tersedia pada http://lutfiansori05.blogspot.com. Diakses tanggal 3 Mei 2012.

Nelma, Voth. 2010. Penerapan model pembelajaran telaah yurisprudensi inquiri untuk meningkatkan prestasil belajar PKn siswa kelas V SDN Beji II Pasuruan. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan S1 PGSD, Universitas Negeri Malang.

Rasana, Raka. 2009. Laporan Sabbatical Leave Model-model Pembelajaran. Undiksha Singaraja.

Ruminiati. 2008. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Depdiknas

(10)

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R n D. Bandung: Alfabeta.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta.

Gambar

Gambar  1.  Grafik  Poligon  Data  Hasil  Belajar  PKn  Kelompok  Eksperimen

Referensi

Dokumen terkait

Proses interpretasi dalam al-Qur’an pembahasannya tidak terbatas pada analisis sinkronis, melainkan mengutamakan analisis diakronis, dan itu pun bukan hanya dalam bentuk semiotika

Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut: (1) Batik Majapahit adalah batik yang dikerjakan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah bekas kerajaan Majapahit

Industri kecil batik bapak Halil dan bapak Fadhali ini adalah industri keluarga yang menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitarnya. Bapak Halil selain sebagai

The Directorate of High Schools Development of the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia is honoured to be hosting the World Schools Debating

Suhu dan Kalor 3.4.12 Menganalisis pengaruh kalor terhadap perubahan wujud benda (C4)HOTS 3.4.13 Menghitung besar kalor yang diperlukan dalam proses perubahan wujud

[r]

Bentuk perlindungan yang diberikan kepada anak salah satunya ialah bentuk perlindungan hukum terhadap anak yang melakukan tindak pidana, dimana pemerintah mengatur dengan

JABATAN FUNGSIONAL PENELITI DARI KEMENTERIAN/LEMBAGA PEMERINTAH NON KEMENTERIAN DAFTAR NAMA UNTUK DINILAI OLEH PENILAI I DAN II.. SIDANG TANGGAL: 27