BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangMerokok. Sejauh ini kita telah mengetahui bahwa rokok adalah barang kecil yang membawa dampak berbahaya bagi kesehatan tubuh kita pada umumnya. Tidak dipungkiri lagi bahwa rokok sudah menelan banyak korban. Jika tidak di hindari, bahkan kita yang tidak ikut merokok akan ikut terkena dampaknya. Perokok dibagi menjadi 2, yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif akan mendapatkan dampak langsung. Karena dia menghisap asap yang membawa lebih dari 2000 racun masuk ke dalam tubuhnya. Sedangkan perokok pasif tidak ikut melakukan kegiatan merokok tapi juga mendapatkan asap dari si perokok aktif. Jadi, kesimpulannya dua perokok ini sama-sama merasakan dampak racun dari putung rokok tersebut.
Jika kita sudah mengetahui apa bahaya dari rokok sendiri, mengapa masih saja ada yang merokok ? Bahkan, saat ini bukan hanya remaja atau orang dewasa yang mengkonsumsinya. Anak dibawah umur bahkan balita pun ikut merokok. Betapa tidak masuk akalnya. Ini membuktikan rokok sudah merajalela. Lingkungan zaman sekarang bisa dikatakan tidak mendidik. Tidak memberikan pengetahuan yang baik untuk pertumbuhan para anak-anak. Apa jadinya jika sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan rokok ? Padahal mereka adalah bibit-bibit yang harusnya dijaga untuk masa depan negeri ini.
Lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan diri seseorang. Terutama lingkungan vital, yaitu keluarga. Bagaimana cara orang tua mendidik anaknya ? Bagaimana perkembangan si anak selama masa pertumbuhan ? Dilihat dari setting teori psikologi perkembangan sendiri, bisa dianalisis dari proses dia tumbuh – cara dia berpikir (pola pikir) – proses belajar sosial.
Kasus yang kita bahas disini adalah seorang balita berumur 26 bulan asal Pasuruan dan kecanduan rokok. Kronologi awal dia merokok adalah pengaruh dari keluarganya. Sang kakek yang memang gemar sekali merokok meninggalkan putung rokok di depan kamar mandi. Saat itu dia masih berumur 4 bulan langsung menghisap putung rokok itu. Dari peristiwa itu kebiasaan merokoknya muncul. Dalam sehari dia bisa menghabiskan 3 putung rokok bahkan lebih. Pihak keluarganya sudah membawanya ke puskesmas dan memeriksanya. Dengan saran dari pihak puskesmas untuk mengalihkan rokok dengan memberikan makanan atau permen tetap tidak berhasil. Karena setelah menelan permen, dia
kembali menagih jatah rokok kepada kakeknya. Jika tidak dituruti, maka dia akan marah-marah dan bertindak anarkis. Sekali waktu, sang kakek pernah memaksa balita ini untuk berhenti merokok dan tidak menuruti permintaannya. Alhasil, balita ini malah mengambil sebilah pisau daging dan menusukkannya ke arah tangan sang kakek.
Jika dilihat dari kasus diatas, terlihat sekali pengaruh lingkungan keluarganya yang salah. Mungkin, dengan membiasakan diri untuk tidak merokok di depan anak kecil atau berhenti merokok untuk memberi contoh baik bagi anak akan menciptakan pertumbuhan anak yang tidak nyeleneh dan bahkan membahayakan diri si anak.
Selain kasus di atas, terdapat kasus lain mengenai balita merokok. AR, balita berusia 18 bulan asal Malang ini dalam sehari dapat menghisap 40 batang rokok. Sang ibu khawatir bahwa rokok dapat mempengaruhi kesehatan Ardi, namun ayahnya berkeras bahwa anaknya baik-baik saja dan tetap sehat sekalipun merokok. Orang tua Ardi akan diselidiki demikian menurut Heru Kasidi dari Departemen Perlindungan Anak. Kasus serupa di banyak negara termasuk dalam kategori penganiayaan anak, namun untuk di Indonesia sepertinya belum ada kejelasan dengan tindakan pembiaran dari orang tua sehingga anaknya yang masih balita bisa menjadi kecanduan rokok. Bila dilogika hal ini sangat tidak wajar. Sebagai orang tua seharusnya mereka memperhatikan dan mengawasi anak mereka, bukan malah memfasilitasi anak mereka dalam merokok. Karena hal ini akan berdampak pada kesehatan anak mereka sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian rokok dan macam-macam kandungannya ? 1.2.2 Apa bahaya yang ditimbulkan rokok ?
1.2.3 Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perokok untuk merokok ?
1.2.4 Apa landasan teori-teori dari setting psikologi perkembangan sendiri dan kaitannya dengan kasus merokok ini (analisis kasus) ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian dari rokok dan kandungannya.
1.3.2 Mengerti apa saja bahaya yang ditimbulkan rokok bagi tubuh kita. 1.3.3 Mengetahui faktor-faktor penyebab perokok untuk merokok.
1.4 Manfaat
1.4.1 Dapat menjelaskan apa itu rokok dan kandungan-kandungannya. 1.4.2 Dapat meyebutkan apa bahaya rokok bagi tubuh kita.
1.4.3 Dapat mengetahui apa faktor-faktor yang menyebabkan perokok untuk merokok. 1.4.4 Dapat menyebutkan landasan teori psikologi perkembangan dan kaitannya dengan
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian rokok beserta kandungannyaRokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Ada dua jenis rokok, rokok yang berfilter dan tidak berfilter. Filter pada rokok terbuat dari bahan busa serabut sintetis yang berfungsi menyaring nikotin.
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung.
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.
Sekali lagi, sebuah studi memperlihatkan bahwa merokok tidak hanya berbahaya bagi diri sendiri namun juga bagi lingkungan sekitar mereka. Laporan dari Dr Paolo Vineis seperti yang dilansir oleh The British Medical Journal menyatakan anak-anak memiliki resiko paling besar dari para orangtua perokok.
Kandungan rokok antara lain yang paling membahayakan :
• Tar mengandung sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanker (karsinogen). Bahan seperti benzopyrene yaitu sejenis policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai penyebab kanker.
• Nikotin, seperti najis dadah heroin, amfetamin dan kokain, bertindak balas di dalam otak dan mempunyai kesan kepada sistem mesolimbik yang menjadi penyebab utama
ketagihan. Nikotin turut menjadi punca utama risiko serangan penyakit jantung dan strok. Hampir satu perempat pasien penyakit jantung adalah karena kebiasaan merokok.
• Karbon Monoksida pula adalah gas beracun yang biasanya dikeluarkan oleh knalpot kendaraan.
Apabila racun rokok itu memasuki tubuh manusia , akan membawa kerusakkan pada setiap organ yang dilaluinya, bermula dari hidung, mulut, tenggorokan, saluran pernafasan, paru-paru, saluran darah, jantung, organ reproduksi, sehinggalah ke saluran kencing dan kandung kemih , yaitu apabila sebahagian dari racun-racun itu dikeluarkan dari badan dalam bentuk air seni.
2.2 Bahaya yang ditimbulkan rokok bagi tubuh
Dampak yang ditimbulkan dengan merokok sangat beresiko besar. Sebagaimana kita bisa melihat penyakit-penyakit yang muncul karena merokok. Berikut adalah sebagian dampak bagi kita yang timbul karena merokok, antara lain :
2.2.1 Dampak pada paru-paru
Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.
Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma.
Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4-5 dekade terakhir ini. Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret, dengan timbulnya kanker paru-paru. Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya kanker paru-paru.
Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Juga tar berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandingkan
dengan bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering.
2.2.2 Dampak pada jantung
Banyak penelitian telah membuktikan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, WHO melaporkan lebih dari setengah (6 juta) disebabkan gangguan sirkulasi darah, di mana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992, mendapatkan peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 persen (peringkat ketiga) menjadi 16 persen (peringkat pertama).
Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung tersebut. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer.
Asap yang diembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif.
Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini lebih banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan-bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti.
Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja miokard.
Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah.
Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan
tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah.
Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah. Di samping itu, asap rokok mempengaruhi profil lemak. Dibandingkan dengan bukan perokok, kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi, sedangkan kolesterol HDL lebih rendah.
2.2.3 Dampak pada pembuluh darah
Stroke. Penyakit yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah pada otak secara mendadak. Karena rokok membawa banyak sekali bahan-bahan kimia yang seharusnya tidak diterima oleh tubuh dan peredarannya liar didalam tubuh. Termasuk akan menyumbat pembuluh darah kita. Jika penyumbatan itu terjadi di otak, maka penyakit ini akan muncul dan mengganggu.
2.2.4 Dampak pada sistem reproduksi
Studi tentang rokok dan reproduksi yang dilakukan sepanjang 2 dekade itu berkesimpulan bahwa merokok dapat menyebabkan rusaknya sistim reproduksi seseorang mulai dari masa pubertas sampai usia dewasa
Pada penelitian yang dilakukan Dr. Sinead Jones, direktur The British Medical Assosiation’s Tobacco Control Resource Centre, ditemukan bahwa wanita yang merokok memiliki kemungkinan relatif lebih kecil untuk mendapatkan keturunan. Pria akan mengalami 2 kali resiko terjadi infertil (tidak subur) serta mengalami resiko kerusakan DNA pada sel spermanya. Sedangkan hasil penelitian pada wanita hamil terjadi peningkatan insiden keguguran. Penelitian tersebut mengatakan dari 3000 sampai 5000 kejadian keguguran per tahun di Inggris, berhubungan erat dengan merokok.
120.000 pria di Inggris yang berusia antara 30 sampai50 tahun mengalami impotensi akibat merokok. Lebih buruk lagi, rokok berimplikasi terhadap 1200 kasus kanker rahim per tahunnya.
Merokok berkaitan erat dengan disabilitas dan penurunan kualitas hidup. Dalam sebuah penelitian di Jerman sejak tahun 1997-1999 yang melibatkan 4.181 responden, disimpulkan bahwa responden yang memilki ketergantungan nikotin memiliki kualitas hidup yang lebih buruk, dan hampir 50% dari responden perokok memiliki setidaknya satu jenis gangguan kejiwaan. Selain itu diketahui pula bahwa pasien gangguan jiwa cenderung lebih sering menjadi perokok, yaitu pada 50% penderita gangguan jiwa, 70% pasien maniakal yang berobat rawat jalan dan 90% dari pasien-pasien skizrofen yang berobat jalan.
Berdasaran penelitian dari CASA (Columbian University`s National Center On Addiction and Substance Abuse), remaja perokok memiliki risiko dua kali lipat mengalami gejala-gejala depresi dibandingkan remaja yang tidak merokok. Para perokok aktif pun tampaknya lebih sering mengalami serangan panik dari pada mereka yang tidak merokok Banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok dan depresi merupakan suatu hubungan yang saling berkaitan. Depresi menyebabkan seseorang merokok dan para perokok biasanya memiliki gejala-gejala depresi dan kecemasan (ansietas).
Sebagian besar penderita depresi mengaku pernah merokok di dalam hidupnya. Riwayat adanya depresi pun berkaitan dengan ada tidaknya gejala putus obat (withdrawal) terhadap nikotin saat seseorang memutuskan berhenti merokok. Sebanyak 75% penderita depresi yang mencoba berhenti merokok mengalami gejala putus obat tersebut. Hal ini tentunya berkaitan dengan meningkatnya angka kegagalan usaha berhenti merokok dan relaps pada penderita depresi.
Selain itu, gejala putus zat nikotin mirip dengan gejala depresi. Namun, dilaporkan bahwa gejala putus obat yang dialami oleh pasien depresi lebih bersifat gejala fisik misalnya berkurangnya konsentrasi, gangguan tidur, rasa lelah dan peningkatan berat badan).
Nikotin sebagai obat gangguan kejiwaan Merokok sebagai salah satu bentuk terapi untuk gangguan kejiwaan masih menjadi perdebatan yang kontroversial. Gangguan kejiwaan dapat menyebabkan seseorang untuk merokok dan merokok dapat menyebabkan gangguan kejiwaan, walau jumlahnya sangat sedikit, sekitar 70% perokok tidak memiliki gejala gangguan jiwa.
Secara umum merokok dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi, menekan rasa lapar, menekan kecemasan, dan depresi. Dalam beberapa penelitian nikotin terbukti efektif untuk pengobatan depresi. Pada dasarnya nikotin memberikan peluang yang menjanjikan untuk digunakan sebagai obat psikoaktif. Namun nikotin memiliki terapheutic index yang
sangat sempit, sehingga rentang antara dosis yang tepat untuk terapi dan dosis yang bersifat toksis sangatlah sempit.
Sehingga dipikirkan suatu bentuk pemberian nikotin tidak dalam bentuk murni tetapi dalam bentuk analognya. Namun, kerangka pemikiran pemberian nikotin sebagai obat tidaklah dalam bentuk kebiasaan merokok. Seperti halnya morfin yang digunakan sebagai obat analgesik kuat (penahan rasa sakit), pemberiannya harus dalam pengawasan dokter. Gawatnya, saat ini nikotin bisa didapatkan dengan bebas dan mudah dalam sebatang rokok, hal ini perlu diwaspadai karena kebiasaan merokok tidak lantas menjadi sebuah pembenaran untuk pengobatan gejala gangguan kejiwaan.
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perokok
Ada berbagai faktor yang memicu seseorang menjadi perokok. Faktor-faktor tersebut antara lain :
• Faktor Sosial
Faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan, dimana karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik dari keluarga, tetangga, ataupun teman pergaulannya. Bersosialisasi merupakan cara utama pada anak-anak dan remaja untuk mencari jati diri mereka. Dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan kadang kala mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang lain. Hal itu merupakan suatu proses yang terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup bersosial. Namun sangat disayangkan, tidak hanya kebiasaan yang baik saja yang ditiru melainkan juga kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kebiasaan-kebiasaan merokok. Jika seseorang yang bukan perokok, hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai mencoba merokok, mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi rokok. Baik disadari maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di lingkungan sosial-nya.
• Kebutuhan Menghisap Dan Mengunyah
angsur berkurang dan hilang, tetapi pada beberapa orang masih ada sampai dewasa. Beberapa orang menggunakan rokok atau perangkat merokok dan asap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ini. Ada hipotesis bahwa kebutuhan ini lebih besar oleh beberapa orang dewasa kemudian oleh orang lain karena kebutuhan ini atau beberapa kebutuhan dasar serupa lainnya, belum sepenuhnya puas pada masa anak-anak.
Jika anda ingin berhenti merokok, maka ganti kebutuhan menghisap rokok dengan cara lain. Misal, diganti dengan permen, atau makanan-makanan ringan untuk dikunyah, ketika keingin merokok muncul. Memang, terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan merupakan salah satu penyebab obesitas. Namun untuk proses awal, cara ini dinilai efektif.
• Respon Mengulang Otomatis
Ketika seseorang telah melakukan sesuatu berkali-kali dan cukup sering, maka akan tercipta pola pengulangan perilaku tertentu secara otomatis. Hal ini terutama berlaku jika tindakan tertentu dilakukan dalam situasi yang tidak menyenangkan, yang memberikan efek membuat seseorang merasa lebih aman dalam kehidupan sehari-hari dan rutinitas. Seperti pola pengulangan otomatis selalu menjadi komponen dalam kebiasaan merokok. Kalau anda ingin berhenti merokok, anda harus mencari tahu di mana situasi dan lingkungan anda yang biasanya mengambil sebatang rokok. Kemudian cobalah untuk menghindari situasi-situasi atau lingkungan tersebut.
• Faktor Genetik
Tidak semua orang sangat tergantung pada nikotin. Ada beberapa orang yang lebih mudah kecanduan nikotin daripada yang lain, dengan alasan yang masih susah untuk dipahami. Dan alasan-alasan tersebut diyakini diwariskan dalam kode genetik. • Kecanduan Pada Sel Syaraf
Otak secara normal memiliki substansi-substansi yang memberikan efek penenang dan efek rangsangan pada sel-sel saraf, dimana substansi-substansi tersebut bekerja dengan cara menempel pada reseptor-reseptor sel-sel saraf. Dan nikotin memiliki efek yang sama dengan substansi-substansi tersebut terhadap saraf, ketika nikotin menempel pada reseptor-reseptor di sel-sel saraf. Dengan menempelnya nikotin pada reseptor, maka otak memproduksidopamin. Dopamin inilah yang memberikan efek menenangkan dan merangsang organ-organ lain, yang
memberikan efek menyenangkan dari merokok. Namun, ketika nikotin terus menginduksi pelepasan dopamin, otak secara bertahap mengurangi produksi dopamin ketika nikotin tidak ada, dan otak akan merasakan kebutuhan yang lebih besar terhadapnikotin untuk tetap bekerja normal dan merasa nyaman.
2.4 Landasan Teori Psikologi Perkembangan dan Analisis Kasus 2.4.1 Landasan Teori Psikologi Perkembangan
Psikologi Perkembangan adalah bagian dari ilmu psikologi yang khusus mempelajari pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik, psikososial manusia sejak masa konsepsi sampai masa usia lanjut bahkan sampai saat kematiannya.
1.) Teori Psikoseksual atau Psikoanalisa
Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Bahasan utama untuk teori ini adalah ketidaksadaran. Asumsinya adalah ketidaksadaran atau alam bawah sadar sangat mempengaruhi perilaku manusia. Dan faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah dorongan seksual atau libido. Berikut adalah tahapan perkembangan menurut teori psikoseksual ini, antara lain :
Oral (0 - 18 bulan) Anal (18 - 36 tahun) Falik (3 - 6 tahun)
Latensi (6 - masa pubertas) Genital (masa pubertas - . . .) Analisis kasus :
Jika dilihat dari tahap perkembangan Teori Psikoseksual atau Psikoanalisa ini, menurut kami adalah karena saat pertama kali si balita ini mencicipi rokok pada umur 4 bulan dan itu masuk dalam masa oral dimana pada masa ini adalah masa tumbuh kembang seorang anak yang fokus dengan indera perasa yaitu mulut. Dia akan merasakan sensasi pertama dari cicipan putung rokok tersebut dan cenderung akan mengulanginya lagi. Karena rokok mengandung zat adiktif dan memberi dampak ketagihan bagi pengguna. 2.) Teori Psikososial
Teori ini dikembangkan oleh Erik Erikson. Perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial dan hubungan dengan orang lain. Selain itu, perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan
seseorang mengatasi krisis yang terjadi pada setiap tahapan sepanjang rentang kehidupannya.
Analisis kasus :
Menurut kami, jika dilihat dari teori psikososial yang mana perkembangan inividu dipengaruhi oleh interaksinya dengan orang lain dan lingkungan hidupnya. Dengan kata lain, fokus dari teori ini adalah lingkungannya. Kasus yang kami bahas adalah dimana seorang balita kecanduan rokok karena pernah mencicipinya pada saat masih sangat kecil. Ini dimulai dari rokok yang ditinggalkan kakeknya saat akan mandi. Kami yakin, bukan karena hanya kebetulan si balita ini datang dan mengambil putung rokok tersebut. Tetapi karena dia telah sering melihat lingkungannya terbiasa dengan rokok. Contoh saja, kakeknya. Jika tidak perokok berat, tidak mungkin dia merokok disepanjang kegiatannya, bahkan saat akan mandi. Dari sisi psikososial, lingkungan balita ini mendukung untuk dia meniru merokok.
3.) Teori-teori Belajar
a) Tokoh dari teori ini adalah Ivan Petrovich Pavlov, John B. Watson, Albert Bandura dan B.F Skinner. Menurut teori ini, perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan belajar dan pengalamannya. Dari Ivan P. Pavlov dan John B. Watson, perkembangan hasil belajar muncul karena adanya stimulus. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh Ivan Pavlov. Anjing akan mengeluarkan air liurnya saat di beri sepotong daging dengan memunculkan bunyi lonceng sebagai tanda. Tanpa diberi daging terlebih dahulu, air liur dari anjing ini akan keluar jika ada bunyi lonceng. Disini si anjing telah mengetahui jika ada bunyi lonceng maka itu adalah waktu untuk makan. Dan menurut Skinner, perkembangan ditentukan oleh reinforcement atau penguat. Disini keberadaan reward atau punishment sangat penting. Sedangkan menurut Albert Bandura, Perkembangan manusia ditentukan oleh interaksi dinamis antara personal, perilaku, dan lingkungan.
Analisis Kasus :
Menurut kelompok kami, dari teori ini pendapat dari Ivan Pavlov dan John B. Watson tentang classical conditioning lebih dapat menggambarkan kasus yang kami bahas. Berdasarkan artikel kasus yang kami baca, si balita ini selalu menagih jatah rokok ketika melihat kakeknya. Sama halnya dengan anjing gambaran Ivan Pavlov bahwa si
perespon tidak perlu lagi melihat objek yang membuatnya tertarik. Cukup dengan simbol dia sudah akan mengerti. Jika anjing sudah mengeluarkan air liurnya saat ada bunyi lonceng, sama halnya dengan si balita ini. Dia akan merengek menagih rokok pada saat melihat kakeknya.
4.) Teori Biologis
Perilaku manusia dan hewan harus dipandang dari perspektif fungsi biologis yaitu bagaimana sel syaraf tunggal tergabung, bagaimana karakteristik tertentu yang diwariskan dari orangtua dan leluhur lain, mempengaruhi perilaku, bagaimana fungsi tubuh mempengaruhi harapan dan ketakutan, dsb.
Analisis Kasus :
Menurut kelompok kami, hubungan dari kasus yang kami bahas dengan teori biologis adalah bagaimana nikotin telah menempel pada reseptor sel saraf dan menyebabkan kecanduan (zat adiktif).
5.) Teori Psikodinamika
Memandang bahwa perilaku dimotivasi oleh kekuatan internal (inner forces), individu hanya memiliki sedikit kontrol terhadapnya, misal mimpi, slip of tongue.
Analisis Kasus :
Dari kecanduan rokok tersebut menyebabkan kebutuhan dari dalam dirinya. Jadi, saat dia tidak merokok, akan merasa ada yang hilang. Bahkan si perokok ini akan merasa kesakitan. Kecuali, jika si balita ini bisa dibujuk untuk mengalihkan ke sesuatu yang lebih aman seperti mainan atau permen.
BAB 3
PENUTUP
3.1 SimpulanPerkembangan individu sebagian besar di pengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Seperti halnya dengan bahasan kasus yang kelompok kami analisis. Kebiasaan merokok yang terjadi pada balita di Pasuruan ini dimulai dari saat dia mencicipi rokok milik kakeknya. Zat adiktif yang terkandung dalam rokok membuat ia ketagihan dan selalu mengulanginya. Selain pengaruh dari zat yang terkandung didalam rokok, kakeknya yang biasa merokok pasti juga mempengaruhi perkembangannya. Alhasil, saat dia melihat kakeknya dia akan merengek dan menagih jatah rokok. Jika tidak dia akan marah dan tidak segan untuk menyakiti.
3.2 Saran
Saran untuk semuanya saja, kita harus memberikan pendidikan yang baik pada seorang anak. Lingkungan sangat berpengaruh untuk perkembangan seorang anak. Apalagi
lingkungan paling vital yaitu keluarga. Halnya sifat anak-anak adalah meniru. Jika lingkungan hidupnya tidak memberikan teladan yang baik, apa jadinya anak tersebut