• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN - IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN ISOLAT WK45 MELALUI ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK DENGAN METODE FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) - repository perpustakaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN - IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN ISOLAT WK45 MELALUI ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK DENGAN METODE FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) - repository perpustakaan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah analisis menggunakan

spectroscopy fourier transform infrared (FTIR) dapat digunakan untuk melakukan identifikasi bakteri melalui spektra FTIR asam lemak yang terdapat pada bakteri.

Analisis kandungan asam lemak bakteri dalam penelitian ini menggunakan

kombinasi metode FTIR dengan principle component analysis (PCA) secara kualitatif, yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan metode tersebut dalam

menganalisis kandungan asam lemak bakteri, sehingga dapat digunakan untuk

identifikasi bakteri secara cepat.

Analisis asam lemak dalam bakteri menggunakan kombinasi antara FTIR

dengan PCA karena metode tersebut memiliki keuntungan berupa sensitifitas

yang tinggi, waktu analisis cepat, akurasi dan reprodusibilitas frekuensi yang baik.

Dengan menggunakan spektroskopi inframerah untuk mengukur getaran ikatan

gugus fungsional dalam asam lemak yang diperoleh dari sel-sel bakteri maka

diperoleh spektrum inframerah pada daerah sidik jari yang digunakan untuk

identifikasi. Untuk mengekstrak dan menganalisis informasi yang khas dari

kompleks asam lemak bakteri tertentu dari spektrum inframerah. metode statistik

juga diperlukan, algoritma yang tersedia secara komersial berbasis komputer

statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Principal component analysis (PCA). PCA pada dasarnya adalah teknik reduksi data multivariat, ketika antar variabel terjadi korelasi. Sampel dengan komponen utama yang hampir

sama mempunyai sifat fisika-kimia yang hampir sama, sehingga PCA dapat

digunakan untuk pengelompokan. Oleh karena itu, PCA sering disebut juga

sebagai variabel tersembunyi (latent variables) karena kemampuannya sebagai teknik untuk melakukan pengelompokan.

Penelitian sebelumnya pada isolat WK45 telah diuji biokimia yang

(2)

1. Uji Katalase

Isolat WK45 negatif mengandung H2O2. uji katalase untuk mengetahui

bakteri tersebut aerob atau tidak yang ditandai dengan ada tidaknya gas H2O2,

dengan adanya gas tersebut bakteri bersifat aerob yang dapat menghasilkan

enzim katalase.

2. Uji Oksidase

Isolat WK45 negatif mengandung enzim sitokrom C oksidase. Enzim

sitokrom C oksidase berperan penting dalam transport elektron selama respirasi

aerob. Enzim tersebut dihasilkan oleh bakteri aerob, fakultatif anaerob dan

mikroaerofilik.

3. Uji Methyl Red

Isolat WK45 terbentuk cincin berwarna merah maka bakteri tersebut

positif dapat memfermentasikan glukosa untuk menghasilkan asam.

4. Uji Voges Proskauer

Isolat WK45 positif menghasilkan asetimetil karbinol dan fermentasi

glukosa karena larutan berubah menjadi merah. Asetilmetil karbinol dalam

lingkungan yang mengandung potasium hidroksida dan udara, teroksidasi

menjadi senyawa diasetil. Senyawa ini dengan alfa-naftol dan inti guanidine

serta asam-aminoorgania (dari pepton) menghasilkan warna merah.

Identifikasi bakteri isolat WK45 dilakukan berdasarkan buku identifikasi

bakteri dari Holt dkk (1994) dalam Bergey’s Manual Of Determinative

Bacteriology 9th. Identifikasi diawali dengan mengamati hasil uji katalase dan

oksidase dalam buku experimental mikrobiology. Bakteri negatif oksidase yaitu

bakteri streptococcus, leuconostoc, lactobacillus dan clostridium. Dengan demikian bakteri isolat WK45 termasuk dalam genus Streptococcus.

Kemudian penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Hendri pada tahun

(3)

dengan maker yaitu 1600bp (1,6 kbp). Yang kemudian dibandingkan dengan

genus streptococcus kemudian spesies bakteri yang dipilih sebagai pembanding

adalah Streptococcus pneumonia 102642 teramplifikasi pada ukuran 1,5Kbp dan

Streptococcus pneumonia 1055 teramplifikasi pada ukuran 1,4 Kbp. Hasil penelitian menunjukan bahwa enzim hindIII tidak berhasil memotong produk PCR dari 16S rRNA dari bakteri isolat WK45.

A. Ekstraksi Lemak Bakteri

Ekstraksi asam lemak bakteri menggunakan metode saponifikasi.

Saponifikasi adalah proses hidrolisis ester dengan alkali pada lemak, biasanya

dengan penambahan basa kuat hal ini sesuai dengan metode yang dilakukan

oleh Sasser (1990). Saponifikasi pada penelitian ini menggunakan larutan

NaOH 3,75N yang dilarutkan dalam metanol-air hal ini bertujuan untuk

melisiskan sel bakteri. Bakteri yang sudah ditumbuhkan pada media nutrient borth yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu optimal pertumbuhan bakteri tersebut pada suhu 37oC sambil dishaker. kemudian dipanen dengan cara bakteri yang sudah tumbuh pada media cair dimasukkan dalam tabung flakon

clonikal yang sudah steril lalu disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm

selama 15 menit maka bakteri akan mengendap. Endapan bakteri dimasukan

dalam mikrotube dan ditimbang antara 140-150 mg lalu ditambahkan dengan

cairan saponikasi sebanyak 1,0 ml kemudian divortex sebentar lalu

dimasukkan kedalam wadah yang berisi air mendidih selama ±5 menit.

Vortex kembali selama 5-10 detik kemudian masukan kembali kedalam

wadah berisi air mendidih untuk menyelesaikan pemanasan 30 menit.

B. Analisis lemak dengan FTIR

FTIR memiliki prinsip spektroskopi, yaitu memanfaatkan sinar cahaya

untuk analisis. Prinsip analisis FTIR adalah menggunakan sinar radiasi

inframerah. Signal yang ditangkap oleh detektor dikonversi menggunakan

(4)

merupakan spetra sidik jari yang berarti bahwa tidak ada 2 molekul yang

mempunyai spektrum IR yang sama, baik dari jumlah puncak, intensitas, atau

frekuensi eksak untuk tiap puncak.

Analisis spektroskopi FTIR didasarkan pada karakterisasi gugus

fungsi yang terdapat pada asam lemak bakteri. Data spektra IR

masing-masing sampel diperoleh dari hasil scanning dengan alat FTIR dengan asesoris ATR (Attenuated Total Reflectance) kemudian discaning 32 kali pada rentang bilangan gelombang 4.000-600 cm-1 dengan resolusi 16 cm-1

dan direkam dalam bentuk absorbansi. Keuntungan menggunakan ATR

adalah dapat digunakan untuk sampel yang mengandung air atau yang

bersifat asam di alam dengan data spektra inframerah yang optimal pada

rentang frekuensi antara 4000 cm-1 sampai 400cm-1, dan cara pengerjaan yang

mudah dengan cara meneteskan sampel diatas kristal ATR.

Asam lemak dari setiap bakteri dibaca dengan spektrokopi FTIR

menggunakan teknik penanganan ATR yang dilakukan dengan cara

meneteskan larutan hasil ekstraksi pada kristal ZnSe. Merupakan kristal yang

memiliki indeks bias yang tinggi. Spektroskopi inframerah ATR

menggunakan fenomena pemantulan internal total. Berkas radiasi yang

memasuki kristal akan mengalami pemantulan internal total ketika sudut

datang pada permukaan antara sampel dan kristal lebih besar dari sudut

kritisnya. Sudut kritis merupakan fungsi indeks bias dua permukaan. Berkas

sinar akan mempenetrasikan sebagian panjang gelombang di luar permukaan

yang memantul, dan ketika sesuatu bahan yang secara selektif mampu

menyerap radiasi berada di atas permukaan kristal ATR, maka berkas sinar

akan kehilangan energi pada panjang gelombang yang mana bahan (sampel)

menyerap pada panjang gelombang tersebut kemudian akan dibaca oleh

detektor dan diterjemahkan sebagai spektra FTIR.

Untuk menghindari adanya variasi spektra antara sampel yang satu

dengan yang lainnya, maka spektrum dasar (background) diukur setiap kali sebelum pengukuran dimulai. Pembacaan spektrum dasar dilakukan karena

(5)

dilakukan satu persatu. Pengukuran background ini merupakan pengukuran spektrum lingkungan, yang terdiri dari gas dan uap air yang dapat

mengabsorpsi sinar inframerah. Pada saat analisis sampel spektrum yang

diperoleh merupakan hasil rasio/pengurangan spektra sampel dikurangkan

dengan background udara secara otomatis untuk menghasilkan spektra sampel yang dianalisis. Pengukuran resolusi 16 cm-1 menunjukan setiap jarak

ukur 16cm-1 terdapat satu titik pengukuran intensitas. Resolusi akan

mempengaruhi pola pita yang terjadi, sehingga pemilihan resolusi yang kecil

bertujuan agar puncak terlihat jelas, karena semakin kecil resolusi maka

puncak akan semakin terlihat jelas dan memudahkan pengamatan.

Ada tiga teknik utama untuk identifikasi bakteri yaitu tes biokimia,

profil asam lemak, dan sekuensing DNA. Dalam MIDI Sherlock® digunakan

untuk identifikasi mikroba. Sherlock Sistem mengidentifikasi

mikroorganisme berdasarkan analisis kromatografi gas (GC) dengan

mengekstraksi asam lemak mikroba dalam bentuk metil esternya. Profil asam

lemak mikroba yang unik dari satu spesies ke spesies lain, dan ini telah

memungkinkan untuk melakukan identifikasi dan pembuatan data library

spesies mikroba. Saat ini Sherlock Sistem memiliki data library lebih dari 1.500 spesies bakteri dan 200 spesies ragi. Lebih dari 300 asam lemak dan

senyawa terkait ditemukan pada bakteri. Kekayaan informasi yang

terkandung dalam senyawa ini adalah baik dalam perbedaan kualitatif

(biasanya di tingkat genus) dan perbedaan kuantitatif (biasanya di tingkat

spesies).

Dengan demikian Spekra FTIR asam lemak dari setiap bakteri

(Gambar 1) dapat digunakan untuk melakukan identifikasi mikroba. Jika

diamati secara visual terlihat mirip namun tetap ada perbedaan antara

intensitas dan absorbansi maksimum antar spektra selain itu juga ada

peak-peak tertentu yang khas muncul pada spektrum FTIR asam lemak bakteri

tertentu. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan komposisi asam lemak

pada bakteri. Kebanyakan asam lemak ditemukan dalam bentuk esterifikasi

(6)

lanjutan dalam sintesis triacylglycesol atau glycerophospholipid. Itu dibentuk

dari pemindahan gugus acyl dari molekul lemak acyl CoA pada atom C-1 dan

C-2 dari senyawa glycerol-3-phosphate. (Horton, 2006)

Gambar 1. Spektra FTIR asam lemak 1 (S. mutan), 2 (S. pneumonia), 3

(isolat WK 45), 4 (E. coli) pada bilangan gelombang 4000-600 cm-1.

Secara visual perbedaan spektrum FTIR asam lemak tiap bakteri yaitu

pada peak a yang khas dibilangan gelombang 2300-2337 cm-1 merupakan

Vibrasi P–H ulur,. Gugus pospat pada bakteri banyak terdapat pada bakteri

gram positif karena pada bakteri gram positif, pada dinding sel bakteri terdiri

atas beberapa lapis peptidoglikan dan senyawa nonpeptidoglikan. Senyawa

nonpeptidoglikan tersebut adalah asam teikoat, asam teikuronat, polisakarida,

asam lipotekoat, glikolipid, dan asam mikolat. Asam teikoat merupakan

polimer robitol fosfat atau gliserol fosfat. Fungsi utama asam teikoat adalah

memberikan bentuk sel bakteri. Polisakarida merupakan senyawa penting

dalam klasifikasi streptococcus spp yaitu untuk membedakan kelompok serologisnya. Asam lipoteikoat (LTA) merupakan polimer gliserol fosfat dan

lemak yang terikat secara kovalen. (Purwoko, 2009). Kemudian pada peak

bilangan gelombang 1735 cm-1 merupakan vibrasi ulur C=O, kemudian pada

peak bilangan gelombang 771 cm-1 merupakan pita karakteristik untuk

(7)

pada spektrum FTIR asam lemak bakteri dijadikan dasar untuk melakukan

identifikasi bakteri.

Adapun peak-peak yang lain muncul pada Spektrum FTIR asam lemak antara lain Vibrasi ulur –OH pada asam lemak yang muncul sebagai

serangkaian pita yang terdistribusi pada kisaran yang sangat lebar yaitu di

antara 3300-2500cm-1. Meskipun pita ulur OH cukup lebar, vibrasi ulur CH

alifatik yang karakteristik akan muncul di sekitar 2915cm-1. Vibrasi ulur C=C

diketahui pada bilangan 1600–1475 cm-1. Pita yang kuat di sekitar 706–771

cm-1 merupakan pita karakteristik untuk senyawa aromatik tersubtitusi mono.

Vibrasi P–H ulur terjadi di daerah 2320-2270 cm-1. Senyawa-senyawa fosfor

alifatik yang mengandung ikatan P–O–C menunjukan pita kuat antara

1050-950 cm-1 disebabkan oleh vibrasi asimetrik ulur. Dua buah pita yang

ditimbulkan oleh uluran C–O dan tekukan O–H dalam spektrum asam lemak

muncul di dekat 1320-1210cm-1 dan didekat 1440-1395 cm-1 berturut-turut.

Kedua buah pita tersebut melibatkan antaraksi-antaraksi antara uluran C–O

dan tekukan C–O–H pada bidang. Asam-asam lemak berantai panjang

biasanya muncul sebagai dwikembar. Pita tekukan C–O–H di dekat

1440-1395 cm-1 mempunyai kekuatan sedang dan terletak di daerah yang sama

dengan getaran gunting CH2 yang dilakukan oleh gugus CH2 tetangga

karbonil.

C. Analisis kualitatif asam lemak dengan principle component analysis

(PCA)

Peak dari spektrum FTIR yang diperoleh tersebut dimasukan ke

multivariat statistik Program MINITAB 16 dengan analisis menggunakan

teknik principle component analysis (PCA) merupakan teknik yang digunankan untuk mengklasifikasikam sampel berdasarkan kemiripan yang

terjadi diantara sampel, sehingga dapat digunakan untuk mengklasifikasi

antara setiap asam lemak bakteri menggunakan variabel intensitas puncak

(absorbansi) yang sesuai dengan hukum lamber beer hasil spektra FTIR.

(8)

terdapat pada setiap bakteri. Dengan dipilihnya daerah yang spesifik

bertujuan untuk mengurangi variabel data dan mempermudah pengelompokan

bakteri.

Nilai absorbansi pada daerah sidik jari berasal dari vibrasi-vibrasi

yang tidak sempurna, sehingga perubahan sterik atau elektrolik yang kecil

dapat mengakibatkan pergeseran intensitas puncak. Sehingga daerah ini

dipakai untuk klasifikasi dengan PCA karena pergeseran speksifik. PC1 yang

merupakan variabel terbesar untuk lemak dan PC2 yang merupakan variabel

terbesar kedua adalah lemak sampel.

Principal component analysis (PCA) pada dasarnya adalah teknik reduksi data multivariat, ketika antar variabel terjadi korelasi. Objek (sampel)

dengan komponen utama komponen utama (principle components, PCs) yang hampir sama mempunyai sifat fisika-kimia yang hampir sama, sehingga PCA

dapat digunakan untuk pengelompokkan. Oleh karena itu, PCA sering disebut

juga sebagai variabel tersembunyi (latent variables) karena kemampuannya

sebagai tetknik untuk melakukan pengelompokkan.

Dari spektrum FTIR terlihat bahwa secara umum sampel memiliki

puncak-puncak serapan pada bilangan gelombang yang hampir identik,

namun jika dibandingkan lebih rinci, diantara puncak-puncak serapan yang

dihasilkan (absorbansi) pada masing-masing bilangan gelombang secara

kualitatif relatif berbeda.

Berdasarkan kontribusi PC1 dan PC2 maka dapat dibuat kurva score plot. Kurva score plot digunakan untuk menaksir struktur data yaitu sebagai dasar perbedaan lemak pada setiap bakteri. Semakin dekat letak antara sampel

pada score plot, maka semakin besar pula kemiripannya atau sampel merupakan kelompok yang sama. Sampel dengan nilai score plot yang

hampir sama mempunyai sifat fisika kimia yang hampir sama.

(9)

Gambar 2. Hasil analisis score plot asam lemak bakteri secara kualitatif dengan menggunakan PCA

Bedasarkan hasil kurva score plot diatas bakteri dibagi menjadi 4 kuadran. Semakin dekat jarak antara titik maka semakin dekat dengan pula

hubungan yang dimiliki oleh antara sampel yang dianalisis nampak bahwa S. pneumonia dan isolat WK45 terletak pada kuadran yang sama hal ini menunjukan bahwa isolat WK45 memiliki sifat fisika dan kimia asam lemak

yang hampir sama. Sedangkan E. coli dan S. mutan terletak pada kuadran yang berbeda hal ini menunjukan bahwa E. coli dan S. mutan meliki sifat fisika dan kimia asam lemak yang berbeda dari sempel bakteri yang lain.

Gambar

Gambar 1. Spektra FTIR asam lemak 1 (S. mutan), 2 (S. pneumonia), 3
Gambar 2. Hasil analisis score plot asam lemak bakteri secara kualitatif

Referensi

Dokumen terkait

Kandungan asam lemak tidak jenuh atau ikatan rangkap pada asam lemak oleat dan linoleat pada minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan pembuatan

Salah satu metode untuk menganalisis kandungan lemak babi dalam bakso yaitu Spektroskopi Inframerah Transformasi Fourier (FTIR) dan kemometrik yang berupa PCA ( Principle

Metode analisis untuk identifikasi alkohol dalam hand sanitizer dengan menggunakan spektrometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan kemometrik dapat digunakan dengan

This research was designed to determine the ability of Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) and Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) for halal

Fourier Transform Infrared (FTIR) ………. Komponen Penyusun FTIR dan Cara Kerja Alat ………. METODE PENELITIAN ……….. Penentuan Fase dalam Siklus Estrus ……….

Deteksi Gelatin Babi pada Sampel Permen Lunak Jelly Menggunakan Metode Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Kemometrik; Annisa Rahmawati, 102210101050; 2014; 53

Adapun perbedaan hasil spektra untuk lemak babi biasanya terdapat overlaping atau tumpang tindih dari dua puncak serapan pada bilangan gelombang antara 1118 – 1098 cm-1, sedangkan

Hasil Fourier Transform Infrared FTIR Hasil FTIR dari pengujian yang telah dilakukan pada sampel adsorben karbon aktif kulit jagung di identifikasi gugus fungsinya dengan alat FTIR