ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
ANALISA PERHITUNGAN, PENCATATAN, DAN PENYETORAN PPH PASAL 21 ATAS KARYAWAN PADA
AIRNAV CABANG MAKASSAR
Oleh: Angel Cristy Email: [email protected] Pembimbing I: Muhtar Sapiri Email: [email protected] Pembimbing II: Ripa Fajarina Email: [email protected]
Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Bosowa Makassar
ABSTRACT
ANGEL CRISTY. 2020. Scription. Analysis of Calculation, Recording, and deposit of Income Tax Article 21 on Employees at Airnav Makassar Branch supervised by Dr. Muhtar Sapiri, S.E., M.M.,M.Kes and Ripa Fajarina Laming, S.E., Ak., M.Si., CA.
The purpose of this study was to determine whether the process of calculating, recording, and depositing PPh Article 21 for employees at Airnav Makassar branch was in accordance with the Taxation Law Number 36 of 2008. The object of this research is Airnav Makassar Branch. The analysis method used is descriptive comparatif.
The result of this research is that the process of calculating and recording PPh 21 carried out by Airnav is in accordance with the rules stipulated in the Taxation Law No.36 of 2008. However, the process of depositing PPh 21 carried out by Airnav is not in accordance with the rules stipulated in the Taxation Law number 36 of 2008
---
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
PENDAHULUAN
Salah satu sumber pendapatan negara yang terbesar adalah pajak. Peran masyarakat sebagai wajib pajak perlu ditingkatkan dengan cara mendorong kesadaran masyarakat dan memahami bahwa pajak adalah sumber utama penghasilan negara. Undang Undang Nomor 28 tahun 2007 dijelaskan bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negara. Pajak ini bersifat memaksa dan terutang baik oleh orang pribadi maupun badan.
Salah satu dari berbagai jenis ajak yaitu pajak penghasilan (PPh) memberikan kontribusi besar bagi negara. Sistem yang digunakan dalam pemungutan dan pemotongan PPh ini adalah Self Assesment System dan With
Holding System. Self assesment system mengharuskan wajib pajak untuk
menghitung, menyetor dan melaporkan pajak sendiri. With Holding System, kewenangan diberikan kepada pihak ketiga memungut dan memotong pajak terutang berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku.
Pajak Penghasilan di Indonesia diatur dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008. Pasal 21 ayat (1) huruf a UU Nomor 36 Tahun 2008 mengatur pemotongan penghasilan dan disebut besarnya potongan pajak dari penghasilan atas pekerjaan, kegiatan dan atau jasa atas orang yang menerima imbalan atau upah (wajib pajak). Pemotongan pajak penghasilan ini dilakukan pemberi kerja (Pembayar gaji, pemberi upah, pemberi honorarium, pemberi tunjangan maupun pembayaran lainnya yang diperoleh wajib pajak sehubungan dengan pekerjaan.
Pegawai merupakan salah satu subjek pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 sebagaimana yang diatur dalam UU No. 36 Tahun 2008. Perusahaan memberikan kesejahtaraan untuk meningkatkan kualitas kerja pegawai dengan tujuan agar pegawai tersebut menjadi loyal dan maksimal dalam melaksanakan pekerjaannya. Kesejahteraan yang diberikan ini berupa tunjangan kesehatan, bonus, tunjangan hari raya dan lain-lain. Sebagai timbal balik dari perhatian perusahaan tersebut, pekerja atau wajib pajak diwajibkan memberikan pajak penghasilan yang dipotong dan dilaporkan kepada negara oleh pihak perusahaan pemberi pekerjaan berdasarkan ketentuan perundagan yang berlaku.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Airnav adalah salah satu BUMN dengan focus pelayanan pada navigasi penerbangan di Indonesia. Airnav didirikan dengan tujuan untuk melaksanakan penyediaan jasa pelayanan navigasi penerbangan berstandar international dalam rangka memaksimalkan aktifitas penerbangan di Indonesia baik domestik maupun luar negari. Airnav Cabang Makassar dengan jumlah karyawan 478 (Data tahun 2020) dipimpin oleh General Manager, dibantu oleh beberapa Manager antara lain Manager Administrasi dan Keuangan yang dibantu oleh 2 orang Junior Manager yaitu Divisi Personalia & Umum dan Divisi Keuangan. Adapun Divisi Keuangan dijabat oleh Junior Manager dengan tugas antara lain melakukan pemotongan PPh 21 atas karyawan.
Airnav Cabang Makassar setiap tahun melakukan perhitungan, pencatatan, dan penyetoran PPh 21 atas karyawannya. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti apakah perhitungan, pencatatan, dan penyetoran PPh 21 atas karyawan yang dilakukan oleh Airnav Cabang Makassar telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis mengajukan penelitian dengan judul
“Analisa Perhitungan, Pencatatan, dan Penyetoran PPh Pasal 21 atas Karyawan pada Airnav Cabang Makassar”.
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Pajak
Pengertian pajak dikemukakan oleh Prof. Dr. Rocmat Soemitro dan Mardiasmo (2009:1): “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditujukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Fungsi Pajak
Menurut Dirjen Pajak (2020), ada 4 fungsi pajak yaitu:
1. Fungsi anggaran; Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Pemerintah berupaya memperoleh uang sebanyak-banyaknya untuk dimasukkan kas negara.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
2. Fungsi Regulerend; Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
3. Fungsi Stabilitas; Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan.
4. Fungsi Redistribusi Pendapatan; Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum.
Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Mardiasmo (2009, hal 7) sistem pemungutan Pajak dapat dibagi menjadi tiga system sebagai berikut:
1. Official Assessment System; Sistem pemungutan pajak yang memberi
wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
2. Self Assesment System; Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi
wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang
3. With Holding System; Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang
kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Pengertian PPh 21
Menurut Mardiasmo (2009: 162) pajak penghasilan pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi, subjek dalam negri sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 undang-undang pajak penghasilan. Dasar pengenaan pajak penghasilan Pasal 21 diatur dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008. Dalam UU Nomor 36 Tahun 2008.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Subjek Pajak Penghasilan
Menurut Waluyo dan Wirawan B. Ilyas (2009:14) penerimaan penghasilan yang dipotong pajak penghasilan Pasal 21 adalah:
1. Pegawai
2. Penerima uang pensiun 3. Penerima honorarium 4. Penerima upah
5. Orang pribadi lainnya yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan dari pemotong pajak.
Objek Pajak Penghasilan
Undang Undang No 36 Tahun 2008 disebutkan tentang apa saja yang menjadi objek Pajak penghasilan. Objek pajak penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.
Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Penghasilan kena pajak PPh 21 adalah penghasilan yang menjadi dasar dalam menghitung PPh pasal 21 terutang. Jumlah penghasilan kena pajak PPh 21 tentu berbeda-beda. Salah satu faktor pembedanya adalah status kepegawaian. Penghasilan kena pajak adalah pegawai tetap. Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 bahwa besarnya penghasilan neto bagi pegawai tetap adalah penghasilan bruto dikurangi:
1. Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto.
2. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun atau jaminan hari tua yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Berikut rincian besaran PTKP sesuai dengan status pajak Wajib Pajak:
Golongan Kode Tarif PTKP
Tidak Kawin (TK) TK/0 Rp 54.000.000,00 TK/1 Rp 58.500.000,00 TK/2 Rp 63.000.000,00 TK/3 Rp 67.500.000,00 Kawin (K) K/0 Rp 58.500.00,00 K/1 Rp 63.000.000,00 K/2 Rp 67.500.000,00 K/3 Rp 72.000.000,00 Kawin dengan penghasilan istri digabung (K/I) K/I/0 Rp 108.000.000,00 K/I/1 Rp 112.500.000,00 K/I/2 Rp 117.000.000,00 K/I/3 Rp 121.500.000,00
Sumber: UU No. 36 Tahun 2008 Tarif Pajak Penghasilan
Berdasarkan Pasal 17 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2008, berikut ini tarif PPh 21 untuk Wajib Pajak:
Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 5% Diatas Rp 50.000.000,00 sampai Rp 250.000.000,00 15% Diatas Rp 250.000.000,00 sampai Rp 500.000.000,00 25% Diatas Rp 500.000.000,00 30%
Sumber: UU No. 36 Tahun 2008 Biaya Jabatan
Besarnya biaya jabatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pegawai tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008 ditetapkan 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp6.000.000 setahun atau Rp500.000 sebulan.
Surat Setoran Pajak (SSP)
Surat setoran pajak (SSP) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas Negara atau ketempat pembayaran lain yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Pembayaran masa untuk PPh Pasal 21 selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak berakhir.
Surat Pemberitahuan (SPT)
Surat Pemberitahuan (SPT) adalah laporan pajak yang disampaikan kepada pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak. Jenis surat pemberitahuan ada 2, yaitu:
1. Surat Pemberitahuan Masa adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk memberitahukan pajak yang terutang dalam suatu masa pajak atau pada suatu saat.
2. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk memberitahukan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak.
Batas Waktu Surat Pemberitahuan (SPT):
1. Untuk Surat Pemberitahuan Masa, selambat-selambatnya dua puluh hari setelah akhir masa pajak.
2. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan, selambat -lambatnya Tiga bulan setelah akhir tahun pajak.
METODE PENELITIAN
Metode analisis data digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif komparatif. Penelitian deskriptif untuk mengetahui bagaimana proses perhitungan, pencatatan, dan penyetoran PPh 21 atas karyawan pada Airnav Cabang Makassar. Penelitian komparatif untuk membandingkan sistem perhitungan, pencatatan, dan penyetoran PPh 21 yang diterapkan oleh Airnav Cabang Makassar dengan yang diatur dalam UU No. 36 Tahun 2008.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisa Perhitungan PPh Pasal 21 pada Airnav Cabang Makassar
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis, data yang diambil adalah 10 karyawan dengan SPT Tahunan Formulir 1721-A1. Dalam melakukan penghitungan PPh Pasal 21 untuk karyawan tetap, penulis terlebih dahulu mengumpulkan data mengenai karyawan tetap dan penghasilan yang diperolehnya.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
1. Jenis penghasilan Karyawan Airnav: a. Gaji pokok
b. Tunjangan c. Honorarium
d. Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja e. Bonus
2. Jenis-jenis pengurangan yang ditetapkan oleh Airnav Cabang Makassar, yaitu: a. Biaya jabatan
b. Iuran JHT yang menjadi potongan tetap dalam setiap bulan c. Penghasilan tidak kena pajak.
Prosedur perhitungan PPh Pasal 21 di Airnav Makassar adalah:
1. Penghasilan bruto dalam setahun (Gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan). 2. Pengurangan penghasilan bruto (Biaya jabatan ditambah iuran JHT)
3. Penghasilan netto
4. Penghasilan tidak kena pajak (Airnav Cabang Makassar menggunakan UU Perpajakan No.36 Tahun 2008)
5. Penghasilan Kena Pajak (PKP)
6. PKP dikali tarif pajak penghasilan (sesuai golongan).
Hasil Analisa Perhitungan PPh 21 menurut Airnav Cabang Makassar dan UU N0. 36 Tahun 2008 No. Nama PPh 21 menurut Airnav PPh 21 menurut UU No. 36 Tahun 2008 Keterangan 1. Machmud Rp 161,987,000 Rp 161,987,000 Sesuai 2. Marsudin Rp 120,214,100 Rp 120,214,100 Sesuai 3. Hendrik Rp 90,964,750 Rp 90,964,750 Sesuai 4. Firdaus Rp 16,199,050 Rp 16,199,050 Sesuai 5. Akhmad Rp 158,299,400 Rp 158,299,400 Sesuai 6. Abidin Rp 165,639,800 Rp 165,639,800 Sesuai 7. Amir Rp 158,773,400 Rp 158,773,400 Sesuai 8. Gatut Rp 133,190,900 Rp 133,190,900 Sesuai 9. Yohanes Rp 106,658,600 Rp 106,658,600 Sesuai 10. Rozeldy Rp 112,409,900 Rp 112,409,900 Sesuai
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Dari tabel di atas menunjukkan tidak ada perbedaan dari perhitungan PPh Pasal 21 oleh Airnav Cabang Makassar dengan UU No. 36 tahun 2008. Untuk itu, penulis menyimpulkan bahwa Perhitungan PPh Pasal 21 pada Airnav Cabang Makassar telah sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Pencatatan PPh Pasal 21
Berikut adalah jurnal pencatatan PPh 21:
Pencatatan PPh 21 Pada Airnav Cabang Makassar Pada Saat Membayar Gaji
Keterangan Debit Kredit
Beban gaji Rp 13.575.486.434
Utang PPh Pasal 21 Rp 3.325.570.234
Kas Rp 10.249.916.200
Pencatatan PPh Pasal 21 Pada Airnav Cabang Makassar Pada Saat Penyetoran PPh Pasal 21
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa proses pencatatan PPh 21 yang
dilakukan oleh Airnav sudah sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam UU No. 36 Tahun 2008.
Penyetoran PPh Pasal 21
Untuk menentukan bahwa penyetoran PPh 21 Airnav telah sesuai dengan aturan perpajakan. Sampel yang digunakan oleh penulis adalah data dari laporan SPT Masa PPh 21 Tahun 2019. Berikut ini adalah tabel yang menyajikan penyetoran PPh 21 sesuai SSP dan SPT Airnav Cabang Makassar:
Keterangan Debit Kredit
Utang PPh Pasal 21 Rp 3.325.570.234
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Masa Pajak Tahun 2019 Airnav Cabang Makassar UU No. 36 Tahun 2008 Keterangan
Tanggal Penyetoran Tanggal Penyetoran
Januari 15 Februari 2019 10 Februari 2019 Belum Sesuai
Februari 09 Maret 2019 10 Maret 2019 Sesuai
Maret 09 April 2019 10 April 2019 Sesuai
April 12 Mei 2019 10 Mei 2019 Belum Sesuai
Mei 21 Juni 2019 10 Juni 2019 Belum Sesuai
Juni 09 Juli 2019 10 Juli 2019 Sesuai
Juli 20 Agustus 2019 10 Agustus 2019 Belum Sesuai
Agustus 20 September 2019 10 September 2019 Belum Sesuai
September 09 Oktober 2019 10 Oktober 2019 Sesuai
Oktober 21 November 2019 10 November 2019 Belum Sesuai
November 09 Desember 2019 10 Desember 2019 Sesuai
Desember 09 Januari 2020 10 Januari 2020 Sesuai
Berdasarkan UU Perpajakan No. 36 Tahun 2008, penyetoran PPh 21 selambat–lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya menggunakan SSP. Penyetoran ke kas negara dapat disetor melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi. Hasil penelitian penulis berdasarkan tabel 4.25 menyimpulkan bahwa penyetoran PPh 21 yang dilakukan oleh Airnav Cabang Makassar masa pajak tahun 2019 belum sesuai dengan UU Perpajakan No. 36 Tahun 2008. Penyetoran yang dilakukan oleh Pihak Airnav Cabang Makassar masih terdapat beberapa bulan yang tidak sesuai dengan batas penyetoran sebagaimana diatur berdasarkan pertaturan undang – undang yang berlaku. Meskipun demikian, Pihak Airnav Cabang Makassar tetap melakukan pembayaran PPh 21 sesuai dengan jumlah pajak yang terutang.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan Analisa penulis, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Data yang diperoleh dari analisa perhitungan PPh Pasal 21 yang dilakukan oleh
Airnav Cabang Makassar telah sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam UU Perpajakan No. 36 Tahun 2008.
2. Proses pencatatan PPh Pasal 21 yang dilakukan oleh Airnav Cabang Makassar berbentuk jurnal keuangan sesuai dengan UU No.36 Tahun 2008 tentang Perpajakan.
3. Proses penyetoran yang dilakukan oleh Pihak Airnav Cabang Makassar masih terdapat beberapa bulan yang tidak sesuai dengan batas penyetoran sebagaimana diatur berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 yaitu batas waktu penyetoran PPh 21 paling lambat tanggal 10 di bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Supomo dan Nur Indriantoro. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis, Cetakan Kedua. Yogyakara. BFEE UGM.
Bambang Supomo dan Nur Indriantoro. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis Akuntansi dan Manajemen.Yogyakarta. Edisi Pertama BPFE.
Kuncoro dan Mudrajad. 2003. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Mardiasmo dan Rachmat Soemitro. 2009. Perpajakan. Jakarta. Edisi Revisi Ravika Aditama.
Risky Wahyuning Putri. 2016. Analisis Perhitungan dan Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas gaji Pegawai Negeri Sipil pada Politeknik Kesehatan Kemenkes. Malang.
Renald Runtuwarow dan Inggriani Elim. 2016. Analisis Penerapan Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Gaji Pegawai Negeri Sipil pada Dinas perkebunan Provinsi Sulawesi Utara. JURNAL RISET EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS DAN AKUNTANSI Vol 4 No 1. Sam Ratulangi Manado.
Siti Resmi. 2013. Perpajakan. Jakarta Selatan. Salemba Empat. S. Munawir. 2000. Analisa Laporan Keuangan. Yoyakarta. Liberty Suandy. 2011. Akuntansi Perpajakan. Semarang. Graha Ilmu.
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. ALFABETA. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung. Alfabeta.
Suparmono, T.W Damayanti, 2010. Perpajakan Indonesia. Mekanisme dan Perhitungan, Edisi Revisi 2009. Yogyakarta. Cv. Andi Offset.
Waluyo dan Wirawan B. Ilyas. 2009.Perpajakan Indonesia. Jakarta. Salemba Empat.
Waluyo. 2010. Perpajakan Indonesia. Jakarta. Salemba Empat.
Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 “Perubahan Keempat Atas Undang – Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan”
ECONOMIC BOSOWA JOURNAL
EDISI XXXVI JULI S/D SEPTEMBER 2020
Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 tentang ”Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ”.
Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 tentang ”Petunjuk, Pelaksanaan Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi”.
Amir Hidayatulloh, 2019, Teori Pendukung Pemungutan Pajak
http://amirhidayatulloh.act.uad.ac.id/teori-pendukung-pemungutan-pajak/.
Diakses pada tanggal 19 Juli 2020.
Direktorat Jenderal Pajak, 2020, https://www.pajak.go.id/fungsi-pajak/. Diakses pada tanggal 19 Juli 2020.
Direktorat Jenderal Pajak, 2020, https://www.pajak.go.id/asas-pemungutan-pajak/. Diakses pada tanggal 19 Juli 2020.