• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TERHADAP PERHITUNGAN, PENCATATAN, PEMOTONGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PPh PASAL 23 ATAS JASA FREIGHT FORWARDING PADA PT X 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS TERHADAP PERHITUNGAN, PENCATATAN, PEMOTONGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PPh PASAL 23 ATAS JASA FREIGHT FORWARDING PADA PT X 2019"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TERHADAP PERHITUNGAN, PENCATATAN, PEMOTONGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PPh

PASAL 23 ATAS JASA FREIGHT FORWARDING PADA PT X 2019

SHERLINE LORENSIA MEINIE SUSANTY

STIE TRISAKTI [email protected]

Abstract: This study aims to determine to know and analysis whether the implementation of Income Tax Article 23 calculation, recording, cutting, payment, and reporting at PT X in 2019 is in accordance with applicable tax regulations in Indonesia. The data uses in this study obtained from PT X in 2019. The method of this study is descriptive analysis. The secondary data of this study directly obtained from PT X consists of tax invoice, evidence cut income tax article 23, list of evidence cut income tax article 23, SPT Masa income tax article 23, evidence state receipt, evidence electronic receipt, and journal entry during one period tax 2019.

The results of the study shows that the implementation of calculation, recording, and payment made by PT X in 2019 was in accordance with tax regulations, where as for reporting made by PT X in December 2019 did not have compliance with tax regulations.

Keywords: Calculation, Recording, Cutting, Payment, Reporting, Income Tax Article 23, Freight Forwarding Service.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah pelaksanaan perhitungan, pencatatan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan (PPh) 23 yang dilakukan PT X pada 2019 telah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia saat ini. Objek penelitian ini menggunakan data dari PT X 2019. Metode penelitian ini adalah analisis deskriptif.

Data sekunder dari penelitian ini diperoleh secara langsung dari PT X yang terdiri dari faktur pajak, bukti potong PPh Pasal 23, daftar bukti potong PPh Pasal 23, SPT Masa PPh pasal 23, bukti penerimaan negara, bukti penerimaan elektronik, dan ayat jurnal selama periode satu tahun pajak 2019. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perhitungan, pencatatan, dan penyetoran dari PT X selama 2019 sudah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku saat ini. Sementara pelaksanaan pelaporan dari PT X pada bulan Desember 2019 belum memiliki kesesuaian dengan peraturan perpajakan.

Kata kunci: Perhitungan, Pencatatan, Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan, PPh

Pasal 23, Jasa Freight Forwarding.

(2)

PENDAHULUAN

Sistem pemungutan pajak di Indonesia adalah sistem self assesment. Demikian juga pajak penghasilan (PPh) pasal 23, maka perhitungan, pencatatan, pemotongan, dan pelaporan dilakukan oleh wajib pajak yang bersangkutan baik wajib pajak orang pribadi maupun wajib pajak badan.

PMK No. 141/PMK.03/2015 menyatakan imbalan sehubungan dengan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21, dipotong pajak penghasilan sebesar dua persen dari jumlah bruto tidak termasuk pajak pertambahan nilai. Sesuai dengan PMK No.

141/PMK.03/2015 pasal 1 ayat 6 tentang pajak penghasilan, jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat 1 terdapat jasa freight forwarding.

Pajak merupakan salah satu sumber utama penerimaan negara yang digunakan untuk dana pembangunan negara, untuk keamanan negara, infrastruktur ekonomi, biaya operasional negara, dan lainnya. PPh pasal 23 merupakan salah satu pajak yang dibayar di Indonesia dan merupakan iuran wajib yang dibayarkan wajib pajak kepada negara sesuai dengan UU Pajak Penghasilan no.36 2008. Pemotongan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding dilakukan oleh penerima jasa kepada pemberi jasa sebesar nilai PPh yang sudah dihitung, dan memberikan bukti potong PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding.

Penelitian ini menganalisis salah satu dari objek PPh pasal 23 yaitu jasa freight forwarding, karena terdapat beberapa objek PPh pasal 23.

PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding merupakan objek pajak yang wajib dilaporkan wajib pajak karena PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding termasuk salah satu pajak di Indonesia yang merupakan sumber pendapatan negara.

KERANGKA TEORITIS

Teori Kepatuhan Pajak

Kepatuhan pajak adalah suatu keadaan saat wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar, dan membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya (Jotopurnomo et al. 2013).

Kepatuhan wajib pajak menurut UU No. 16 2009 dapat meliputi penyampaian SPT dan tidak mempunyai tunggakan pajak.

Menurut OECD kepatuhan perpajakan terdiri atas dua kategori, yaitu: kepatuhan administratif, yakni kepatuhan terhadap peraturan administrative yang diukur dengan kepatuhan dalam menyampaikan laporan dan membayar pajak;

kepatuhan teknis, yakni kepatuhan yang mengacu pada perhitungan jumlah beban pajak secara benar.

Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 23

PPh Pasal 23 adalah pajak yang dikenakan pada penghasilan atas modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21 (UU PPh no.

36 2008 pasal 23 ayat 1). Penghasilan

jenis ini terjadi saat adanya transaksi

antara pihak yang menerima

(3)

penghasilan. Pihak penerima jasa akan memotong dan melaporkan PPh pasal 23 tersebut kepada kantor pelayanan pajak.

Subjek Pajak Penghasilan Pasal 23

Mardiasmo (2019)

menyatakan pemotong PPh Pasal 23 adalah pihak-pihak yang membayarkan penghasilan, yang terdiri atas: badan pemerintah; subjek pajak badan dalam negeri;

penyelenggara kegiatan; bentuk usaha tetap; perwakilan perusahaan luar negeri lainnya; dan orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang telah mendapat penunjukkan dari Direktur Jenderal Pajak untuk memotong pajak PPh Pasal 23.

Objek Pajak Penghasilan Pasal 23 Objek PPh Pasal 23 yang tercantum dalam PMK no.

141/PMK.03/2015 sebanyak enam puluh dua (62) jenis jasa.

Jasa Freight Forwarding

Freight forwarding merupakan salah satu bidang usaha yang berkaitan dengan kegiatan impor. Jasa freight forwarding adalah jasa pengurusan transportasi untuk penerimaan dan pengiriman barang.

PMK no. 141/PMK.03/2015 menyatakan bahwa jasa freight forwarding adalah kegiatan usaha yang ditujukan untuk mewakili kepentingan pemilik untuk mengurus semua/sebagian kegiatan yang diperlukan bagi terlaksananya pengiriman dan penerimaan barang melalui transportasi darat, laut, dan/atau udara, yang dapat mencakup kegiatan penerimaan, penyimpanan, sortasi, pengepakan, penandaan, pengukuran, penimbangan,

pengurusan dan penyelesaian dokumen, penerbitan dokumen angkutan, perhitungan biaya angkutan, klaim, asuransi atas pengiriman barang serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya berkenaan dengan pengiriman barang-barang tersebut sampai dengan diterimanya barang oleh yang berhak menerimanya.

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 23

Tarif PPh pasal 23 dikenakan atas nilai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atau jumlah bruto dari penghasilan. Dua jenis tarif yang dikenakan pada penghasilan yaitu 15% dan 2% berdasarkan dari objek PPh pasal 23 tersebut. Tarif 15% dari jumlah bruto atas dividen, hadiah dan penghargaan. Tarif 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain yang berkaitan dengan penggunaan harta kecuali sewa tanah dan/atau bangunan, imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi dan jasa konsultan, imbalan jasa lainnya adalah yang diuraikan dalam PMK No. 141/PMK.03/2015. Bagi Wajib Pajak yang tidak ber-NPWP akan dipotong 100% lebih tinggi dari tarif PPh Pasal 23.

Metode Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 atas Jasa Freight Forwarding

Metode pemotongan PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding dibagi menjadi dua, yaitu (PMK no.

141/PMK.03/2015): metode

reimbursement dan metode

reinvoicing. Jika memilih metode

reimbursement, pemilik jasa dapat

menyediakan invoice dan bukti

pembayaran yang telah dibayarkan

(4)

penyedia jasa pada pihak ketiga. Jika menggunakan metode reinvoicing, pengguna jasa akan memotong PPh 23 dari jumlah tagihan.

Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 23 atas Jasa Freight Forwarding

Rumus penghitungan PPh 23 untuk jasa pengurusan transportasi adalah PPh 23 = Nilai Bruto x Tarif PPh 23. Jika pelaku jasa tidak memiliki NPWP, besaran tarif pajak penghasilan naik 100%.

Pencatatan Pajak Penghasilan Pasal 23

Jurnal PPh pasal 23 adalah pencatatan potongan pajak atas PPh pasal 23 yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri dan BUT yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. Jurnal PPh pasal 23 biasanya diterbitkan dalam bentuk faktur (invoice) setiap terjadi transaksi antara pihak penerima penghasilan (penjual atau pemberi jasa) dan pemberi penghasilan.

Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23

Pihak pemotong PPh Pasal 23 (Mardiasmo, 2019): badan pemerintah; subjek pajak badan dalam negeri; penyelenggara kegiatan; Bentuk Usaha Tetap;

perwakilan perusahaan luar negeri lainnya; dan wajib pajak orang pribadi dalam negeri tertentu yang ditunjuk Direktur Jenderal Pajak.

Bagi pihak penerima jasa freight forwarding maka akan memotong PPh Pasal 23 kepada pihak pemberi jasa freight forwarding.

Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 23

Penyetoran dilakukan oleh pihak pemotong dengan cara membuat ID billing melalui DJP Online terlebih dahulu, selanjutnya membayarkan melalui Bank Persepsi (ATM, teller bank persepsi, fitur bayar pajak online di OnlinePajak, dan lain - lain) yang telah disetujui oleh Kementerian Keuangan. Jatuh tempo pembayaran adalah tanggal sepuluh setiap masa, bulan berikut setelah bulan terutang PPh pasal 23.

Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 23

Setelah melakukan penyetoran PPh pasal 23, selanjutnya mengisi NTPN yang terdapat pada Bukti Penerimaan Negara (BPN), selanjutnya menarik CSV untuk dilaporkan secara online melalui djp online atau online pajak. Pelaporan PPh pasal 23 dan pelaporan dilakukan paling lambat tanggal 20 setiap masa.

METODE PENELITIAN

Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Bentuk penelitian ini merupakan bentuk penelitian dengan memfokuskan fakta-fakta yang terjadi dan bukti-bukti dari objek penelitian.

Dengan landasan teori maupun

peraturan yang ada, penelitian dapat

membandingkan dan melihat

kesesuaian kewajiban perpajakan

yang dilakukan oleh perusahaan

terkait dengan PPh Pasal 23 atas jasa

freight forwarding.

(5)

Objek Penelitian

Objek penelitian pada penelitian ini adalah PT X. PT X memiliki NPWP xx.xxx.xxx.x-x.xxx.

PT X terdaftar pada KPP Pratama Jakarta Tamansari Satu. Perusahaan berlokasi di Jakarta Barat, DKI Jakarta. PT X bergerak pada industri manufaktur yang juga menjual secara retail, dan import baut, mur dan sejenisnya.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data sekunder.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah teknik tinjauan kepustakaan, teknik observasi, dan teknik wawancara.

Metode Analisis Data

Berdasarkan tujuan penelitian yang ditetapkan, serta dengan data- data yang diperoleh maka analisis data dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Analisis pelaksanaan perhitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan yang dilakukan PT X selama 2019.

2. Menganalisis kesesuaian tata cara perhitungan dan pemotongan PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding PT X pada 2019 dengan UU Pajak Penghasilan no.36 2008 dan PMK no. 141/PMK.03/2015 tentang jenis jasa lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU no. 7 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU no. 36 2008.

3. Menganalisis kesesuaian tata cara pencatatan PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding di PT X pada 2019 dengan PSAK 46 Penyesuaian 2018) tentang akuntansi pajak penghasilan.

4. Menganalisis kesesuaian tata cara penyetoran PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding PT X pada 2019 dengan PMK no.

242/PMK.03/2014 tentang tata cara pembayaran dan penyetoran pajak

5. Menganalisis kesesuaian tata cara pelaporan PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding PT X pada 2019 dengan UU No. 16 2009 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang Republik Indonesia No. 5 2008 tentang perubahan keempat atas UU No.

6 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menjadi UU.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum PT X

PT X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur dan juga menjual secara retail, dan import baut, mur dan sejenisnya. PT X bertempat di daerah Jakarta Barat, DKI Jakarta. PT X didirikan sejak 1999. Tujuan PT X adalah menjadi pemimpin dalam industri baut mur dan sejenisnya yang memiliki kualitas tinggi, memberikan pelayanan kepada pelanggan yang baik, dapat dipercaya dan terus

berkembang dengan

mempertahankan kualitas produk,

pelayanan kepada konsumen, dan

terus meningkatkan kualitas produk

dan pelayanan konsumen.

(6)

Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa PT X sudah melakukan perhitungan PPh pasal 23 sesuai dengan tarif PPh pasal 23 yaitu 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas jasa freight forwarding setiap bulannya selama tahun 2019. PT X sudah melakukan kepatuhan pajak sesuai dengan kepatuhan teknis, yakni kepatuhan yang mengacu pada perhitungan jumlah beban pajak secara benar.

Pencatatan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019

1. Pencatatan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019

PT X telah melakukan pencatatan beban jasa freight forwarding dan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding sesuai dengan beban jasa freight forwarding dan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding yang diperhitungkan, disetor, dan dilapor perusahaan setiap bulannya.

2. Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa pada bulan Januari sampai Juli 2019 PT X sudah melakukan penyetoran PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding secara tepat yaitu selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.

Penyetoran bulan Agustus sampai Desember 2019 untuk SPT Masa

Normal dilakukan secara tepat waktu.

PT X sudah menjalankan teori kepatuhan pajak (Jotopurnomo et al.

2013) dengan menyetorkan PPh pasal 23 ke kas negara setiap bulannya.

3. Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X Tahun 2019

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa pada bulan Januari sampai Juli 2019 PT X telah melakukan pelaporan PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding secara tepat waktu yaitu selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya.

Pelaporan SPT Masa Normal PPh Pasal 23 atas jasa freight forwarding bulan Agustus sampai November 2019 telah dilakukan secara tepat waktu. Sedangkan pada bulan Desember 2019 PT X terlambat melakukan pelaporan. PT X sudah menjalankan teori kepatuhan pajak sesuai dengan UU no. 16 2009 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menjadi UU dengan melaporkan SPT Masa PPh pasal 23 setiap bulannya dengan tepat waktu kecuali bulan Desember 2019.

Kesesuaian Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019 dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 36 2008 Dan PMK No. 141/PMK.03/2015

Perhitungan PPh pasal 23

yang dilakukan oleh PT X telah sesuai

dengan Undang-Undang Pajak

Penghasilan No. 36 2008 dan PMK

No. 141/PMK.03/2015 tentang jasa

lain sebagimana dimaksud dalam

pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU

No. 7 1983 tentang PPh sebagaimana

(7)

telah diubah terakhir UU No. 36 2008. PT X telah mejalankan teori kepatuhan pajak yaitu kepatuhan teknis, yakni kepatuhan yang mengacu pada perhitungan jumlah beban pajak secara benar.

Kesesuaian Pencatatan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X Pada 2019 dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 46 (Penyesuaian 2018) Tentang Akuntansi Pajak Penghasilan PT X telah melakukan pencatatan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding secara sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 46 (Penyesuaian 2018) tentang akuntansi pajak penghasilan.

Kesesuaian Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X Pada 2019 dengan PMK No.

242/PMK.03/2014 Tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak

Pada bulan Januari sampai Agustus 2019 PT X telah menyetorkan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding sesuai dengan PMK No. 242/PMK.03/2014 tentang tata cara pembayaran dan penyetoran pajak, yaitu selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan terutang pajak. Berdasarkan UU No. 16 2009 tentang penetapan Perpu No. 5 2008 tentang perubahan keempat atas UU No. 6 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menjadi UU, PT X telah menjalankan teori kepatuhan pajak dengan melunasi utang pajak, dan PT X telah menjalankan kepatuhan administratif, yakni kepatuhan

terhadap peraturan administratif yang diukur dengan kepatuhan dalam menyampaikan laporan dan membayar pajak.

Kesesuaian Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 23 Atas Jasa Freight Forwarding PT X 2019 Dengan UU no. 16 2009 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi UU

Pada bulan Januari sampai November 2019 PT X telah melaporkan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding sesuai dengan UU No. 16 2009 tentang penetapan Perpu No. 5 2008 tentang perubahan keempat atas UU No. 6 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menjadi UU, yaitu selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan terutangnya pajak. Sedangkan pada bulan Desember 2019 PT X terlambat melakukan pelaporan SPT Masa PPh Pasal 23. PT X telah menjalankan teori kepatuhan pajak dengan melaporkan SPT Masa PPh Pasal 23 setiap bulannya secara tepat waktu kecuali bulan Desember 2019.

PENUTUP

Berdasarkan dari hasil

penelitian terhadap PT X mengenai

perhitungan, penyetoran, pelaporan,

dan pencatatan PPh pasal 23 atas jasa

freight forwarding 2019, PT X telah

melakukan perhitungan PPh pasal 23

atas jasa freight forwarding selama

2019 sudah sesuai dengan UU Pajak

Penghasilan No.36 2008 dan PMK

No. 141/PMK.03/2015 tentang jasa

lain sebagaimana dimaksud dalam

pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU

No. 7 1983 tentang PPh sebagaimana

telah diubah terakhir UU No. 36

(8)

2008. PT X telah melakukan pencatatan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding selama 2019 sudah sesuai dengan PSAK No. 46 (Penyesuaian 2018) tentang akuntansi pajak penghasilan. PT X telah melakukan penyetoran PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding selama 2019 sudah sesuai dengan PMK No.

242/PMK.03/2014 tentang tata cara pembayaran dan penyetoran pajak.

PT X telah melakukan pelaporan PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding selama 2019 sudah sesuai dengan UU No. 16 2009 tentang penetapan Perpu No. 5 2008 tentang perubahan keempat atas UU No. 6 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan menjadi UU, sedangkan pada bulan Desember 2019 PT X terlambat melakukan pelaporan.

Selama melakukan penelitian ini terdapat keterbatasan saat penulisan skripsi ini yaitu: penelitian ini hanya menguji PPh pasal 23 atas jasa freight forwarding dimana masih terdapat banyak objek PPh pasal 23 lain yang dapat di analisis; dan periode penelitian ini hanya menggunakan sampel tahun 2019 sehingga hasil penelitian belum dapat menggambarkan keseluruhan perhitungan, pencatatan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh pasal 23 yang dilakukan PT X.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa hal yang direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya yaitu: penelitian yang dilakukan selanjutnya diharapkan dapat menganalisis lebih banyak objek PPh pasal 23 lain tidak hanya jasa freight forwarding; dan Periode

penelitian yang dilakukan selanjutnya

diharapkan dapat menambah periode

tahun penelitian lebih panjang

sehingga dapat menggambarkan

perhitungan, pencatatan,

pemotongan, penyetoran, dan

pelaporan PPh pasal 23 yang

dilakukan PT X secara lebih

meyeluruh.

(9)

REFERENCES

Gunardi, Sugianto, Karsino, Wahyu Nuryanto, Meydawati, Imam Subekti, Subagio Effendi, dan Ahmad Komara. 2019. Pajak 4.0. Jakarta: KONTAN Publishing.

Jotopurnomo Cindy, Yenni Mangoting. 2013. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan, Lingkungan Wajib Pajak Berada terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Surabaya. Jurnal Akuntansi. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Lihin, Agus Susanto dan Hendra Wijana. 2019. Pajak Menjawab! Kupas Tuntas Persoalan Pajak di Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Mardiasmo.2019. Perpajakan, Edisi 2019. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Rahayu, Puji. 2019. Perpajakan Disesuaikan dengan Peraturan Perpajakan Terbaru, Edisi Pertama. Sidoarjo: Penerbit Indomedia Pustaka.

Rahayu, Siti Kurnia. 2020. Perpajakan Konsep, Sistem, dan Implementasi, Edisi Revisi. Bandung: Penerbit Rekayasa Sains.

Resmi, Siti. 2019. Perpajakan: Teori dan Kasus, Edisi 11-Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Subroto, Gatot. 2020. Pajak & Pendanaan Peradaban Indonesia. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Saputra, Mukhammad Kalle. 2020. Analisis Perencanaan Pajak Atas PPh Pasal 23 Dengan Metode Reimbursement dan Reinvoicing Pada PT. C. Jurnal Akuntansi. Surabaya: Universitas Airlangga.

TMBooks. 2019. Pajak Penghasilan – Peraturan, Penghitungan, dan Pelaporan.

Yogayakarta: Penerbit ANDI.

Waluyo. 2019. Perpajakan Indonesia, Edisi 12-Buku 2. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang- Undang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.

(10)

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 242/PMK.03/2014 Tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 141/PMK.03/2015

Tentang Jenis Jasa Lain Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1)

Huruf C Angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak

Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

Referensi

Dokumen terkait

berusaha untuk meninjau pelaksanaan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 26 terhadap pegawai atau pemberi jasa sebagai Wajib Pajak Luar Negeri

4.5 Pelaksanaan Perhitungan, Pe mungutan, Penyetoran Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 22 Atas Jasa Pengadaan Rambu-Rambu Lalu Lintas Pada Dinas Perhubungan Jembe r

Adapun judul yang diajukan oleh penulis yaitu “Analisis Penerapan Penghitungan, Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 Berdasarkan Undang –

Dalam prosedur pemotongan, penyetoran dan pelaporan ini dilakukan berdasarkan permohonan wajib pajak (perusahaan) kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang penghasilannya dipungut

Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Undang – Undang PPh

Menurut Madiasmo (2011: 235), ketentuan dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan Pasal 23 mengatur pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada PT CIMB Niaga Auto Finance mengenai pemotongan dan pemungutan serta pelaporan pajak penghasilan pasal 23 atas

Lukman Setiawan,S.Si.,S.Psi.,SE.,MM Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui apakah Perhitungan, Penyetoran, Pelaporan dan Pencatatan Pajak Penghasilan PPh