BAB XI
ANGGARAN MODAL
TIK (Tujuan Instruksional Khusus)Pada perkuliahan kesebelas ini mahasiswa diharapkan: 1. Mampu memahami manajemen aktiva modal 2. Mampu memahami pengeluaran modal
3. Mampu memahami konsep dasar penganggaran modal 4. Mampu memahami jenis peroyek
5. Mampu memahami pengeluaran investasi
6. Mampu memahami kriteria penilaian kelayakan investasi
A. Manajemen Aktiva Modal
Suatu hal yang membedakan antara perusahaan jasa dengan perusahan industri yaitu kondisi penyerapan dana invetasi. Perusahaan industri barang lebih besar dana investasi terserap pada aktiva lancar (surat berharga, piutang, persediaan, dll) dibanding investasi pada aktiva tetap. Sedangkan pada perusahaan jasa dana investasi terbesar terserap pada aktiva tetap (mesin, gedung, peralatan, kendaraan, dll). Keseluruhan macam aktiva tetap yang ada, sebagian merupakan keharusan bagi perusahaan industry, karena tanpa aktiva tetap tersebut aktivitas produksi tidak dapat berjalan. Dengan demikian maka manajer keuangan hendaknya memberi perhatian terhadap manjemen aktiva tetap, bukan hanya keputusan pengadaan aktiva tetap baru, melainkan juga persoalan yang berkaitan dengan pengeluaran selama masa penggunaan aktiva tetap. Berdasarkan usia teknis dan usia ekonomis aktiva mempunyai masa lebih dari satu tahun, sehingga investasi pada aktiva tetap merupakan investasi jangka panjang. Pada saat berakhirnya usia teknis, aktiva tetap tidak dapat digunakan lagi, kecuali memerlukan perbaikan atau penggantian dengan aktiva tetap baru. Oleh karena hal-hal tersebut di atas, maka keputusan pengeluaran investasi dana pada aktiva tetap memerlukan ketelitian.
B. Pengeluaran Modal
Pengeluaran modal (capital expenditure) merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan guna keperluan investasi untuk jangka waktu lebih dari satu tahun dengan harapan akan memberi manfaat atau hasil (benefit). Pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap merupakan expenditure, akan tetapi tidak semua capital expenditure akan di gunakan untuk pembelian atau pengadaan aktiva tetap. Terdapat beberapa tujuan perusahaan melakukan
capital expenditure : Untuk membeli aktiva tetap baru, untuk penggantian aktiva tetap lama,
C. Konsep Dasar Penganggaran Modal
Penganggaran modal merupakan keseluruhan aktivitas pengumpulan – pengevaluasi – penyeleksian dan penentuan alterative penanaman modal yang akan memberi penghasilan bagi perusahaan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Keterbatasan jumlah dana yang dimilki perusahaan seringkali menghambat proses capital budgeting. Perusahaan selanjutnya akan memisahkan antara penentuan besarnya pengeluaran investasi (cash outflow) dan pengembalian investasi (cash inflow) dengan diawali pembahasan tentang jenis proyek.
D. Jenis Peroyek
Pada umumnya jenis proyek yang dibiayai dalam suatu investasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis proyek berdasarkan ketersediaan dana yang dimiliki perusahaan yaitu : Independen
project. Merupakan proyek atau investasi yang tidak bergantung pada proyek lain, dalam arti
diterima atau ditolak suatu proyek tidak mempengaruhi maupun di pengaruhi oleh kesempatan diterimanya usulan proyek yang lain. Apabila perusahaan memilki dana yang cukup guna keperluan investasi, maka keseluruhan seluruh usulan independent yang memenuhi kreteria investasi dapat dibiayai., Mutually exclusive project Merupakan proyek atau investasi yang tidak bergantung pada proyek lain, dalam arti deterima atau di tolak suatu proyek tidak mempengaruhi atau tidak di pengaruhi oleh kesempatan diterimanya usulan proyek yang lain. Hal ini berlaku karena keterbatasan dana investasi yang dimiliki prusahaan hanya mampu membiayai usulan yang paling menguntungkan.
E. Pengeluaran Investasi
Pengeluaran untuk membiayai investasi merupakan permasalahan pertama yang harus di perhitungkan dalam pengambilan keputusan kelayakan investasi. Apabila perusahaan melakukan investasi baru (pembelian aktiva baru) maka net investment ditentukan sebagai berikut :
Ø Harga perolehan aktiva Rp XXX Ø Biaya intalasi Rp XXX Ø Biaya-biaya operasi lainnya Rp XXX +
Net investment Rp XXX
Apabila perusahaan melakukan penggantian aktiva tetap yang lama dengan aktiva tetab baru, maka net investment ditentukan sebagai berikut :
Ø Harga beli aktiva tetap Rp XXX Ø Biaya-biaya intalasi Rp XXX (+)
Rp XXX
Ø Proceeds aktiva tetap lama Rp XXX (-)
Rp XXX
Berdasarkan format perhitungan di atas, maka faktor-fakor yang perlu di pertimbangkan dalam bentuk menentukan cash outflow atau net initial investment suatu investasi adalah Harga beli aktiva tetap merupakan harga yang dibayar perusahaan terhadap aktiva yang dibelinya. Harga beli aktiva tetap merupakan net investment apabila perusahaan tidak mengeluarkan biaya investasi atau perusahaan mengganti aktiva tetap lama dengan aktiva tetap yang baru. Biaya-biaya instalasi merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan guna keperluan menginstalasi aktiva tetap yang baru dibeli hingga siap beroperasi. Berdasarkan fungsinya biaya instalasi harus diperhitungkan atau ditambah sebagai harga beli aktiva tetap. Proceeds aktiva tetap lama Apabila aktiva tetap baru dibeli untuk menggantikan aktiva tetap lama yang akan dijual, maka hasil penjualan aktiva tetap lama diperhitungkan sebagai proceeds atau cash inflow. Proceeds yang dihitung sebagai cash inflow merupakan net sales dalam arti harga jual setelah dikurangi dengan biaya-biaya penjualan. Pajak penjualan aktiva tetap lama apabila pengeluaran modal ditunjukan untuk menganti aktiva tetap lama dengan aktiva tetap baru maka pajak yang dibayarkan atas penjualan aktiva tetap lama akan menentukan besarnya net investment. Net investment akan lebih kecil dari nilai buku aktiva tetap (apabila mengalami kerugian).
Sebaliknya apabila hasil penjualan aktiva tetap lama lebih besar dari pada nilai buku aktiva tetap maka pajak yang di bayar akan memperbesar net investment (karena adanya keuntungan). Sehubungan dengan tingkat pajak ini, maka pajak atas penjualan diatas harga beli aktiva tetap (long term capital gain) lebih kecil dari pada pajak atas penjualan diatas nilai buku aktiva (ordinary gains) Contoh implikasi pajak terhadap proceeds aktiva tetap lama dan pengaruh terhadap net investment sebagai berikut.
PT Arinta membeli sebuah mesin tiga tahun yang lalu seharga RP 500.000.000. depresiasi menggunakan metode garis lurus (straight line method), usia ekonomis 10 tahun dan tidak memiliki nilai sisa (salvage value) pada akhir usia ekonomis. Dengan demikian nilai buku aktiva tetap lama (mesin) dapat dihitung sebagai berikut :
∑ Depresiasi = 3 [ 500.000.000 ] / 10 = 150.000.000
Nilai buku aktiva = 500.000.000-150.000.000 = 350.000.000
Apabila dimisalkan long term capital gains sebesar 25% dan ordinary gains sebesar 30% maka pengaruh terhadap net investment dapat dihitung berdasarkan harga jual aktiva tetap sebagai berikut ini :
a. Rp 600.000.000 b. Rp 400.000.000 c. Rp 350.000.000 d. Rp 200.000.000
Dengan mesin lama laku terjual seharga Rp. 600.000.000 berarti lebih besar dari pada harga beli yang berarti pula lebih besar dari pada nilai buku aktiva. Terhadap dua jenis pajak yang dikenakan terhadap hasil penjualan, yaitu long tern capital gains (25%) dikenakan pada selisih harga jual dengan harga beli aktiva dan ordinary gains (30%) dikenakan terhadap selisih harga beli dengan nilai buku aktiva. Dengan demikian jumlah pajak yang dibayar dapat dihitung sbb:
Long term capital gains = 25% X Rp. 100.000.000
= Rp 25.000.000 -
Ordinary gains = 30% X Rp 150.000.000
= Rp. 45.000.000 (+) Rp. 70.000.000
2) Apabila penjualan seharga Rp. 400.000.000
Dengan penjualan mesin lama seharga Rp 400.000.000 berarti perusahaan memperoleh keuntungan sebesar Rp 500.000.000 yaitu selisih harga jual Rp 400.000.000 dengan nilai buku Rp 350.000.000. pajak yang dikenakan hanyalah ordinary gains sebesar 30%X Rp 50.000.000 = Rp 15.000.000 yang akan menambah net investment atau mengurangi proceeds penjualan aktiva tetap.
3) Apabila penjualan seharga Rp 350.000.000
Pada penjualan sebesar Rp 350.000.000 sama dengan nilai buku berarti perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian. Dengan demikian penjualan diatas aktiva tetap lama tidak berimplikasi terhadap pajak atau perusahaan tidak membayar pajak atau hasil penjualan aktiva tetap lama. Contoh : PT. BARANUSA akan menentukan besar net investmen dalam penggantian mesin lama dengan mesin baru. Mesin baru dibeli seharga Rp 114.000.000 dan biaya intalasi sebesar Rp 6.000.000. usia ekonomis mesin baru selama 5 tahun dan depresiasi menggunakan metode garis lurus yang diperkirakan tidak memiliki nilai sisa pada akhir tahun ke 5. Mesin lama dibeli 3 tahun yang lalu seharga Rp 72.000.000 dan depresiasi menggunakan metode garis lurus. Usia ekonomis lama 8 tahun dan diperkirakan laku terjual seharga Rp 60.000.000 dengan tingkat pajak 35%. Hitung berapa net investment mesin baru ?.
Penyelesaian : Menghitung pajak atas proceeds mesin lama,
- Harga beli mesin Rp 72.000.000 - Akumulasi depresiasi 3 tahun Rp 27.000.000 (-) - Nilai buku mesin lama Rp 45.000.000 Keuntungan penjualan mesin lama
- Harga jual mesin Rp 60.000.000 - Nilai buku mesin Rp 45.000.000 (-) - Keuntungan penualan mesin Rp 15.000.000
- Pajak atas keuntungan 35% Rp 5.250.000 (-) - Net proceeds atas penjualan Rp 9.750.000
Dengan mengetahui besarnya pajak atas penjualan mesin lama, maka besar net investment mesin baru dapat dihitung sbb:
- Harga beli mesin baru Rp 114.000.000 - Biaya –biaya intalasi Rp 6.000.000
Rp 120.000.000 - Proceeds penjualan mesin lama Rp 120.000.000 - Net initial investment Rp 54.750.000
Pengembalian Investasi
Pengembalian investasi yang diharapkan karena adanya pengeluaran modal diukur dari tambahan aliran kas masuk (cash inflow sesudah pajak). Karena cash inilah yang mencerminkan jumlah sesungguhnya yang dapat digunakan oleh perusahaan, bukan laba bersih sebagaimana yang sering dijumpai dalam laporan laba rugi. Perhitungan cash inflow dapat dilakukan sebagaimana format perhitungan berikut ini :
Pendapatan sebelum depresiasi dan pajak Rp. xxxxxx Depresiasi Rp. xxxxxx (-) Proyeksi pendapatan sebelum pajak Rp. xxxxxx Pajak Rp. xxxxxx (-)
Proyeksi pendapatan sesudah pajak Rp. xxxxxx Depresiasi Rp. xxxxxx (-)
Proyeksi cash inflow Rp. xxxxxx
Berdasarkan format perhitungan di atas berikut ini contoh bagaimana manentukan proyeksi cash inflow sebuah perusahaan.
F. Kriteria Penilaian Kelayakan Investasi
Setelah mengetahui penentuan pembiayaan modal atau cash outflow dan pengembalian investasi (cash inflow) selanjutnya akan dibahas berbagai criteria yang digunakan dalam mengukur kelayakan suatu investasi dapat dibiayai atau ditolak. Masing-masing kriteria memiliki teknik perhitungan dan standar penilaian masing-masing. Walupun demikian diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi bukan berdasarkan ukuran parsial atau kriteria melainkan secara komprehensif seluruh kriteria yang ada. Adapun kriteria kelayakan usulan investasi dapat diukur dengan teknik pengukuran sebagai berikut :
1. Average rate of return
Berdasarkan kriteria ini kelayakan usulan investasi diukur dengan jalan membandingkan antara rata-rata keuntungan bersih yang dihasilkan dengan sejumlah investasi bersih yang dikeluarkan. Perhitungan rata-rata keutungan yang sering juga disebut dengan “Accounting
rate of return” didasarkan pada keuntungan bersih sesudah pajak yang tampak dalam
laporan laba-rugi. Adapun perhitungannya menggunakan formula sebagai berikut :
Average rate of return (ARR) =
Average earning after tax
Average investment Rata-rata keuntungan bersih setelah pajak
Average Earning After Tax dihitung dengan jalan menjumlah kan keseluruhan keuntungan bersih yang dihasilkan selama usia investasi (∑EAT) dibagi dengan usia investasi.
Average EAT = ∑ EAT / n Dimana :
Average EAT = rata-rata keuntungan bersih ∑ EAT = jumlah seluruh keuntungan bersih n = umur investasi / umur ekonomis aktiva tetap
Sedangkan rata-rata investasi (average investment) dihitung dengan jalan jumlah dana investasi dibagi 2 (dus).
Average investment = Net Initial Investment / 2
Net investment dibagi menjadi dua dengan asuransi bahwa perusahaan menggunakan metode garis lurus dan tidak ada nilai sisa pada akhir usia investasi.
Kebaikan dan Kelemahan Teknik AAR
Hal yang menguntungkan dengan menggunakan teknik AAR berkaitan dengan kemudahan dalam perannya dimana input data cukup menggunakan data net investment dan keuntungan bersih sesudah pajak. Data keutungan bersih setelah pajak dengan mudah diperoleh melalui laporan laba rugi. Sedangan kelemahan teknik AAR karena : teknik AAR dalam peranannya mengabaikan nilai waktu terhadap uang. Sebagaimana dibahas pada bagian terdahulu bahwa sejumlah uang yang dimiliki saat ini nilainya lebih besar dari pada jumlah yang sama pada apabila baru dimiliki waktu yang akan datang. Walaupun demikian teknik AAR tetap dibutuhkan dalam penilaian kelayakan investasi.
2. Payback Period.
Teknik lain yang dapat digunakan dalam penilaian kelayakan usulan investasi yaitu payback period. Dengan teknik ini, akan dapat diukur berapa lama waktu yang diperlukan guna menutup net investment melalui cash inflow yang dihasilkan melalui investasi/proyek tersebut. suatu investasi juga mengharapkan pengembalian investasi dalam jangka waktu yang lebih cepat. Maka semakin kecil payback period yang dihasilkan semakin cepat pengembalian investasi dan itulah yang dipilih antara usulan investasi. Dalam menghitung payback period suatu investasi akan menghasilkan antara pengembalian invstasi dimana
besar Dasar perhitungan pay back period adalah : Maka perhitungan payback period dapat melakukan dengan membagi net investment dengan rata-rata cash inflow.
Payback period = Net investment Rata-rata cash inflow. Cara menghitung payback period sebagai berikut : Payback period “X” = Rp 150.000.000 x 1 tahun Rp 50.000.000 = 3 tahun Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa dana yang diinvestasikan dalam / proyek X dapat menutup dalam waktu 3 tahun. Payback period dengan inflow yang tidak sama besar. Guna menghitung payback period dimana cash inflow tidak sama besar setiap tahun dapat dihitung dengan mengurut tahun demi tahun. Berikut dijelaskan kebaikan dan kelemahan payback period
Kebaikan :
Dalam pengambilan keputusan secara tidak langsung sudah mempertimbangkan factor likuiditas investasi.
Walaupun tidak sepenuhnya, namun payback period telah mempertimbangkan nilai waktu terhadap uang.
Kelemahan :
Tidak sepenuhnya mempertimbangkan waktu terhadap uang melainkan implicit dengan pertimbangan beberapa kecepatan atau waktu dana yang terinvestasikan dapat menutupi.
Tidak mempertimbangkan adanya cash inflow yang diterima setelah total cash inflow menutupi net investment.
3. Net present value (NPV)
Salah satu teknik pengukuran investasi yang mempertimbangkan nilai waktu terhadap uang. NPV dengan cash inflow yang sama besar. Karena cash inflow setiap tahun sama besar maka tidak perlu menghitung rata-rata cash inflow setiap tahun.
4. Internal rate of return (IRR)
Merupakan akan teknik menggunakan pengukuran kelayakan investasi yang banyak digunakan. IRR untuk cash inflow yang sama besar langkah perhitungan: Hitung besar payback period untuk usulan investasi yang sedang dievaluasi.
5. Indeks profitability Teknik atau kriteria penilaian usulan investasi yang terakhir disebut