• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MODEL BURIAL GEOHISTORY DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III MODEL BURIAL GEOHISTORY DAERAH PENELITIAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

MODEL BURIAL GEOHISTORY DAERAH PENELITIAN

3.1Model Burial Geohistory Satu Dimensi

Model burial geohistory 1-D (satu dimensi) merupakan gambaran perkembangan parameter tektonik sedimentasi di setiap sumur. Data yang dikaji berasal dari masing-masing sumur, sehingga sifatnya lokal. Kurva burial geohistory akan memberikan informasi mengenai perubahan ketebalan secara periodik sejak diendapkan sampai sekarang (gambar 13 sampai 15). Perubahan ketebalan tersebut ditunjukkan oleh variasi kecepatan akumulasi sedimen (gambar 3.16 sampai 18) dengan sendirinya berkaitan erat dengan kecepatan total penurunan cekungan (gambar 3.19 sampai 21) dan penurunan tektonik batuan dasar (gambar 3.22 sampai 24. Apabila dikaji lebih jauh, berdasarkan parameter-parameter tersebut akan dapat ditafsirkan bentuk ataupun sifat endapannya.

3.1.1 Sedimentasi Sebelum 19,6 jtl

Sedimentasi diawali dengan pengendapan Formasi Talangakar yang berlangsung sampai 19.6 jtl. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 49 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 100 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 89 ft. Sedimen yang lebih tebal di BUNGUR-1 mengindikasikan lingkungan pengendapan yang lebih dalam dibandingkan di ARAS-1 dan RENO-1. Secara umum kecepatan akumulasi sedimen lebih lambat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan terbentuknya sedimen transgresif.

3.1.2 Sedimentasi Antara 19,6 dan 16,7 jtl

Pada periode ini diendapkan Formasi Baturaja yang berlangsung sampai 16.7 jtl. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 607 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 637 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 212 ft. Sedimen yang lebih tipis di RENO-1 mengindikasikan lingkungan pengendapan yang lebih dangkal dibandingkan di ARAS-1 dan BUNGUR-1. Kecepatan akumulasi sedimen masih lebih lambat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan fase transgresif masih berlangsung.

(2)

26 

3.1.3 Sedimentasi Antara 16,7 dan 14.8 jtl

Pada periode ini diendapkan Formasi Gumai yang berlangsung sampai 14.8 jtl. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 355 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 335 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 462 ft. Sedimen yang lebih tebal di RENO-1 mengindikasikan lingkungan pengendapan yang lebih dalam dibandingkan di ARAS-1 dan BUNGUR-1. Kecepatan akumulasi sedimen di BUNGUR-1 lebih lambat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan fase transgresif masih berlangsung.

3.1.4 Sedimentasi Antara 14.8 dan 13 jtl

Pada periode ini diendapkan Formasi Airbenakat. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 1785 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 1087 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 1366 ft. Sedimen yang menebal dari BUNGUR-1 ke RENO-1, dan ke ARAS-1 mengindikasikan lingkungan pengendapan yang mendalam dari arah selatan ke utara. Kecepatan akumulasi sedimen lebih cepat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan terbentuknya endapan regresif.

3.1.5 Sedimentasi Antara 13 dan 11 jtl

Pada periode ini masih diendapkan Formasi Airbenakat dengan ketebalan 328 ft di BUNGUR-1 dan 428 ft di RENO-1. Kemudian antara 11 dan 10jtl, formasi ini mengalami erosi. Erosi ini tidak ditemukan di ARAS-1. Hal ini disebabkan di ARAS-1 tidak mengalami pengangkatan akibat pengangkat Bukit Barisan (fase tektonik miosen Tengah)

3.1.6 Sedimentasi Antara 10 dan 8,8 jtl

Pada periode ini diendapkan Formasi Muaraenim. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 670 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 276 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 488 ft. Sedimen yang menebal dari BUNGUR-1 ke RENO-1, dan ke ARAS-1 mengindikasikan lingkungan pengendapan yang mendalam dari arah selatan ke utara. Kecepatan akumulasi sedimen lebih cepat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan fase regresif masih berlangsung.

(3)

3.1.7 Sedimentasi Antara 8,8 dan 5,8jtl

Pada periode ini diendapkan Formasi Kasai. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 1951 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 1081 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 847 ft. Sedimen yang lebih tebal di ARAS-1 disebabkan lingkungan pengendapan di ARAS-1 lebih dalam dari BUNGUR-1 dan RENO-1. Kecepatan akumulasi Sedimen lebih cepat dari kecepatan total penurunan cekungan. Hal ini mengindikasikan fase regresif masih berlangsung. 3.1.8 Sedimentasi Antara 5,8 dan 4,3 jtl

Pada periode ini masih diendapkan Formasi Kasai. Formasi ini dijumpai di ARAS-1 dengan ketebalan 890 ft, di BUNGUR-1 dengan ketebalan 190 ft, dan di RENO-1 dengan ketebalan 490 ft. Kemudian antar 4,3 dan 2jtl terjadi erosi. Erosi ini disebabkan pengangkatan oleh pengangkatan Bukit Barisan (fase tektonik Miosen Tengah).

3.2Model Burial Geohistory Dua Dimensi

Model burial geohistory 2-D (dua dimensi) merupakan penggabungan model burial geohistory satu dimensi yang datanya diaplikasikan pada penampang geologi. Dasar yang dipakai dalam pembuatan runtutan penampang geologi adalah kondisi sekarang. Selain itu penarikan garis-garis batas formasi ditentukan oleh angka ketebalan atau kedalaman masing-masing formasi hasil perhitungan dekompaksi di setiap sumur.

Pada umur 19.6jtl terlihat tebal sedimen Fomasi Talangakar relatif sama. Hal ini disebabkan batuan dasarnya relatif datar.

Pada umur 16.7jtl terlihat tebal sedimen Formasi Baturaja relatif menebal dari arah barat ke timur. Hal ini disebabkan lingkungan pengendapannya lebih dalam ke arah timur.

Pada umur 14,8jtl terlihat tebal sedimen Formasi Gumai relatif sama. Hal ini disebabkan karena kedalaman lingkungan pengendapannya relatif sama.

Pada umur 13jtl terlihat tebal sedimen Formasi Airbenakat relatif menebal dari selatan ke utara. Hal ini disebabkan karena kedalaman lingkungan pengendapannya relatif mendalam ke utara.

(4)

28 

Pada umur 11jtl tebal erosi sedimen Airbenakat relatif menebal dari selatan ke utara dan menipis dari barat ke timur. Hal ini pengaruh posisi terhadap Bukit Barisan (sebelah barat daya daerah penelitian).

Pada umur 8,8jtl terlihat tebal sedimen Muaraenim relatif menebal dari barat ke timur dan dan menebal dari selatan ke utara. Hal ini disebakan lingkungan pengendapannya lebih mendalam di sebelah tenggara daerah penelitian.

Pada umur 5,8jtl terlihat tebal sedimen Kasai relatif menebal dari barat ke timur dan dan menebal dari selatan ke utara. Hal ini disebakan lingkungan pengendapannya lebih mendalam di sebelah tenggara daerah penelitian.

Pada umur 4,3jtl terlihat tebal erosi sedimen Kasai relatif menebal dari barat ke timur dan dan menebal dari selatan ke utara. Hal ini pengaruh pengangkatan fase tektonik Miosen Tengah.

(5)

Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Baturaja 0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 Umur(jtl) Ke d a la m a n (ft) ARAS-1 BUNGUR-1 RENO-1 Regresi Linier Power Law

Gambar 3.1. Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Baturaja

Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Gumai

0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 Porositas K e da la m a n( ft ) A RAS-1 B UNGUR-1 RENO-1 Regresi Linier Power Law

(6)

30 

Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Gumai Airbenakat

0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 Porositas Ked a la m a n (ft ) ARAS-1 BUNGUR-1 RENO-1 Regresi Linier Power Law

Gambar 3.3. Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Airbenakat

Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Muaraenim

0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 Porositas K e da la m a n( ft ) ARAS-1 BUNGUR-1 RENO-1 Regresi Linier Power Law

(7)

Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Kasai 0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 Porositas K e da la m a n( ft ) ARAS-1 BUNGUR-1 RENO-1 Regresi Linier Power Law

Gambar 3.5. Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Kasai

Kurva Umur-Kedalaman ARAS-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Muar aeni m

Puncak Fm. Ai r benakat

Puncak Fm. Gumai

Puncak Fm. Batur aj a Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Tal angakar Puncak Batuan Dasar

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Um ur(jtl) K e da la m a n( ft )

(8)

32 

Kurva Umur-Kedalaman BUNGUR-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Muar aeni m

Puncak Fm. Ai r benakat Ter er osi

Puncak Fm. Ai r benakat

Puncak Fm. Batur aj a Puncak Fm. Tal angakar

Puncak Batuan Dasar

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Um ur(jtl) K e da la m a n(ft)

Gambar 3.7. Kurva Umur-Kedalaman BUNGUR-1

Kurva Umur-Kedalaman RENO-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Muar aeni m

Puncak Fm. Ai r benakat Ter er osi

Puncak Fm. Ai r benakat

Puncak Fm. Batur aj a

Puncak Fm. Tal angakar

Puncak Batuan Dasar -1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Um ur(jtl) K e da la ma n( ft )

(9)

Kurva Paleobatim etri ARAS-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Muar aeni m

Puncak Fm. Ai r benakat Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Batur aj a

Puncak Fm. Tal angakar Puncak Batuan Dasar

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 50 100 150 200 250 300 Paleobatim etri(m ) K e da la m a n( ft )   Gambar 3.9. Kurva Paleobatimetri ARAS-1

Kurva Paleobatim etri BUNGUR-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Ai r benakat

Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Muar aeni m Puncak Fm. Ai r benakat Ter er osi

Puncak Fm. Batur aj a Puncak Fm. Tal angakar

Puncak Batuan Dasar

- 1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 50 100 150 200 250 300 Paleobatim etri(m ) K e da la m a n( ft )

(10)

34 

Kurva Paleobatim etri RENO-1

Puncak Fm. Kasai Ter er osi

Puncak Fm. Muar aeni m Puncak Fm. Ai r benakat

Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Kasai

Puncak Fm. Ai r benakat Ter er osi

Puncak Fm. Batur aj a Puncak Fm. Tal angakar

Puncak Batuan Dasar

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 0 50 100 150 200 250 300 Paleobatim etri(m ) K e da la m a n( ft )

Gambar 3.11. Kurva Paleobatimetri RENO-1

Kurva Eustasi Global(Vail, dkk, 1986)

Puncak Fm. Kasai Puncak Fm. M uaraenim

Puncak Fm. Airbenakat Puncak Fm. Gumai Puncak Fm. Bat uraja

Puncak Fm. Talangakar Puncak Bat uan Dasar

-60 -50 -40 -30 -20 -10 0 0 5 10 15 20 25 30 Um ur(jtl)

(11)

Kurva Burial Geohistory ARAS-1 (Terkoreksi Porositas, Paleobatimetri, dan Eustasi Global) -500.0 500.0 1500.0 2500.0 3500.0 4500.0 5500.0 6500.0 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) Ke d a la m a n (f t) Kasai Tererosi Kasai Muaraenim Airbenakat Gumai Bat ur aja Talangakar Bat uan Dasar Paleobat imet ri+Eust asi

Gambar 3.13. Model Burial Geohistory 1-D ARAS-1

Kurva Burial Geohistory BUNGUR-1 (Terkoreksi Porositas, Paleobatimetri, dan Eustasi Global) -500.0 500.0 1500.0 2500.0 3500.0 4500.0 5500.0 6500.0 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e da la ma n(f t) Kasai Tererosi Kasai Muaraenim Airbenakat Gumai Bat ur aja Talangakar Bat uan Dasar Airbenakat Tererosi Paleobat imet ri+Eust asi Global

(12)

36 

Kurva Burial Geohistory RENO-1 (Terkoreksi Porositas, Paleobatimetri, dan Eustasi Global) -500.0 500.0 1500.0 2500.0 3500.0 4500.0 5500.0 6500.0 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e d a la m a n( ft) Kasai Tererosi Kasai M uaraenim Airbenakat Gumai Baturaja Talangakar Batuan Dasar Airbenakat Tererosi Paleobat imet ri+Eustasi Global

Gambar 3.15. Model Burial Geohistory 1-D RENO-1

Kurva Kecepatan Akumulasi Sedimen ARAS-1 (Terkoreksi Porositas)

-600 -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e c e pa ta n A k um ul a s i S e di m e n (f t/ jt l)

Kasai M uaraenim Airbenakat

Gumai Bat uraja Talangakar

Kasai Tererosi

(13)

Kurva Kecepatan Akumulasi Sedimen BUNGUR-1 (Terkoreksi Porositas) -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e c e pa ta n A k umu la s i S e d ime n( ft /j tl ) Kasai M uaraenim Airbenakat Gumai

Bat uraja Talangakar

Airbenakat Tererosi Kasai Tererosi

Gambar 3.17. Kurva Kecepatan Akumulasi Sedimen BUNGUR-1

Kurva Kecepatan Akumulasi Sedimen RENO-1 (Terkoreksi Porositas)

-600 -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e cep at an A k u m u las i S e d im e n (f t/ jt l) Kasai M uaraenim Airbenakat Gumai Baturaja Talangakar

Airbenakat Tererosi Kasai Tererosi

(14)

38 

Kurva Kecepatan Total Penurunan Cekungan Terkoreksi Porositas, Paleobatimetri, dan Eustasi Global ARAS-1 (Terkoreksi Porositas)

-600 -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e c e pa ta n T ota l P e nur una n C e k unga n(f t/ jt l)

Kasai M uaraenim Airbenakat

Gumai Bat uraja Talangakar

Kasai Tererosi

Gambar 3.19. Kurva Kecepatan Total Penurunan Cekungan ARAS-1

Kurva Kecepatan Total Penurunan Cekungan BUNGUR-1 (Terkoreksi Porositas) -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e c e p a ta n Tota l P e nur una n C e k unga n( ft /j tl ) Kasai M uaraenim Airbenakat Gumai

Bat uraja Talangakar

Airbenakat Tererosi Kasai Tererosi

(15)

Kurva Kecepatan Total Penurunan Cekungan RENO-1 (Terkoreksi Porositas) -600 -400 -200 0 200 400 600 800 1000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K ecep at an T o tal P en u ru n an C e k unga n( ft /j tl ) Kasai M uaraenim Airbenakat Gumai

Bat uraja Talangakar

Airbenakat Tererosi Kasai Tererosi

Gambar 3.21. Kurva Kecepatan Total Penurunan Cekungan RENO-1

Kurva Penurunan Tektonik Batuan Dasar ARAS-1

-1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e da la ma n(f t)

P al eobat i met r i +E us t as i Gl obal T ot al P enur unan Cek ungan P enur unan T ek t oni k B at uan Dasar

(16)

40 

Kurva Penurunan Tektonik Batuan Dasar BUNGUR-1

-500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e da la ma n(f t)

Paleobat imet ri+Eust asi Global Tot al Penurunan Cekungan Penurunan Tekt onik Bat uan Dasar

Gambar 3.23. Kurva Penurunan Tektonik Batuan Dasar BUNGUR-1

Kurva Penurunan Tektonik Batuan Dasar RENO-1

-500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 0 5 10 15 20 Um ur(jtl) K e da la m a n( ft )

P al eobat i met r i +E us t asi Gl obal T ot al P enur unan Cek ungan P enur unan T ekt oni k B at uan Dasar

(17)

Gambar 3.25. Peta Ketebalan Formasi Kasai Tererosi SP-1 RENO-1 SP-2 SP-3 SP-4 BUNGUR-1 SP-5 SP-6 SP-7 SP-8 SP-9 SP-10 SP-11 SP-12 ARAS-1 312000 314000 316000 318000 320000 9612000 9614000 9616000 9618000 9620000 9622000 9624000 9626000 9628000 9630000 312000 314000 316000 318000 320000 9612000 9614000 9616000 9618000 9620000 9622000 9624000 9626000 9628000 9630000

(18)

42  SP-1 RENO-1 SP-2 SP-3 SP-4 BUNGUR-1 SP-5 SP-6 SP-7 SP-8 SP-9 SP-10 SP-11 SP-12 ARAS-1 312000 314000 316000 318000 320000 9612000 9614000 9616000 9618000 9620000 9622000 9624000 9626000 9628000 9630000 312000 314000 316000 318000 320000 9612000 9614000 9616000 9618000 9620000 9622000 9624000 9626000 9628000 9630000

(19)
(20)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m U 0 2000 4000 6000 8000 m

(21)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai 0 2000 4000 6000 8000 m

U

(22)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m U 0 2000 4000 6000 8000 m

(23)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m U 0 2000 4000 6000 8000 m

(24)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m

U

0 2000 4000 6000 8000 m

(25)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m

U

0 2000 4000 6000 8000 m

(26)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m

U

0 2000 4000 6000 8000 m

(27)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m

U

0 2000 4000 6000 8000 m

(28)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai Formasi Baturaja 0 2000 4000 6000 8000 m

U

0 2000 4000 6000 8000 m

(29)

Formasi Kasai Tererosi Legenda

Formasi Kasai Formasi Muaraenim Formasi Airbenakat Tererosi Formasi Airbenakat Formasi Gumai 0 2000 4000 6000 8000 m

U

Gambar

Gambar 3.1. Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Baturaja
Gambar 3.3. Kurva Porositas-Kedalaman Formasi Airbenakat
Gambar 3.6. Kurva Umur-Kedalaman ARAS-1
Gambar 3.8. Kurva Umur-Kedalaman RENO-1
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Distribusi variasi kecepatan angin surya yang di tinjau dari koordinat heliografis matahari. Dalam mengidentifikasi kecepatan angin surya yang menyebabkan badai

Kemudian dari data Lintasan K-L dan Penampang 1 dapat diambil kesimpulan bahwa bagian tengah dan selatan daerah penelitian terdiri dari satu satuan batuan dengan ciri

Sisa sampel yang belum disentrifugasi dimasukkan ke dalam filter column yang sama dan disentrifugasi dengan kecepatan 8.000 rpm selama 1 menit, filtrat yang

Berdasarkan hasil analisis citra DEMNAS dan peta aspek (Gambar III.1) serta penarikan batas satuan pada peta geologi (Lampiran III), satuan ini merupakan produk aliran

Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas pegawai di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Daerah Kabupaten Deli Serdang, menyatakan bahwa dengan sistem komputerisasi,

kemudian diambil dan dipindahkan pada tabung sentrifuga yang baru, kemudian ditambahkan 800 µ L larutan presipitasi lalu disentrifugasi pada kecepatan 10.000 rpm selama 1-2

Namun karena perhitungan dipakai untuk mendapatkan Debit pada saluran dengan menggunakan perbandingan kecepatan rata-rata yang variabelnya sama dari kecepatan permukaan yaitu

1) Efektivitas penggunaan teknik skimming dan scanning dalam membaca cepat mata pelajaran Bahasa Indonesia pada peserta didik kelas V MIN 8 Hulu Sungai Tengah. 2) Data