• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 3 Oktober 2017 ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 3 Oktober 2017 ISSN :"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MANARCHE DINI PADA REMAJA PUTRI DI SMP N. 10 KOTA MEDAN

RIZKY BAKKARA, LUKMAN HAKIM, SUPRAPTO

ABSTRACT

Menarche is the first menstrual period experienced by a fertile woman under 12 years old. Based on previous research, there was students in SMP Negeri 10 Medan who experienced early menarche. The purpose of this research was to determine what factors affect the occurrence of early menarche in SMP Negeri 10 Medan , using cross sectional design study, with the number of samples was 83 samples by using the method of Proportionate Stratified Random Sampling. Data analysis was done by univariate analysis, bivariate used chi-square test, and multivariate used logistic regression analyzed. Based on the result of analysis there is correlation between respondent's diet with the occurrence of Early Menarche with p value of significancy is 0,030 and PR is 2,933, there is correlation between Nutritional status of respondent with the occurrence of early Menarche with p value of significance is 0,004 and PR is 4,902, there is correlation between Heredity Factor of respondent with occurrence of early Menarche with p value of significancy is 0,004 and PR is 2,786 , there is a correlation between External Stimulus of respondent with the occurrence of early Menarche with p value of significancy is 0,019 and PR is 3,071, there is no correlation between Physical Activity of respondent with the occurrence of early Menarche with p value of significancy is 0,758 and PR is 0,833, no correlation between Economic Status of respondent and occurrence of early Menarche with p value of significancy value 0.711 is and PR is 0.833. The factors that are most associated with the "Early Menarche" occurrence in SMP Negeri 10 Medan is Heredity Factor. Therefore, we should provide continuous health education on reproductive health, especially on early menstruation of junior high school students by re-enabling adolescent reproductive health program by doing routine visit to schools

Keywords: Factors, Occurance of early Menarche PENDAHULUAN

Menurut World Health Organization (WHO) yang dikatakan remaja adalah pada rentang usia 12-24 tahun. Namun menurut Departemen Kesehatan Indonesia yang dikategorikan remaja adalah pada rentang usia 10-19 tahun. Masa remaja merupakan suatu periode terjadinya baik itu pertumbuhan dan perkembangan yang pesat secara fisik,psikologis maupun intelektual (Depkes, 2013). Masa ini merupakan periode yang sulit bagi remaja, hal ini disebabkan karena adanya perubahan fisik dan biologis serta perubahan tuntutan dari lingkungan sehingga diperlukan suatu proses penyusuaian diri dari temannya tersebut. Perubahan yang dialami oleh remaja putri meliputi perubahan secara sekunder seperti pertumbuhan payudara, rambut kemaluan, perubahan tinggi badan,dll maupun perubahan secara primer yaitu dengan menarche atau haid pertama (Zulkifli, 2015). Menarche dini merupakan menstruasi pertama yang dialami seorang wanita subur pada usia dibawah 12 tahun. Kondisi menarche dini karena mendapat produksi hormone esterogen lebih banyak dibanding wanita lain pada umumnya, itulah sebabnya menjadikan masalah ini menjadi penting (Rosental, 2009). Pendapat lainnya menyebutkan bahwa, menarche merupakan menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa awal reproduksi (Proverawati, 2009). Di Amerika Serikat, sekitar 95% wanita remaja mempunyai tanda-tanda pubertas dengan menarche pada umur 12 tahun dan umur rata-rata 12,5 tahun yang diiringi dengan pertumbuhan fisik saat menarche. Di Maharashtra, India rata-rata usia menarche pada anak perempuan adalah 12,5 tahun. 24,92% menarche dini (10-11 tahun , 64,77% menarche ideal (12-13 tahun) dan 10,30% menarche terlambat (14-15

(2)

tahun) (Rokade et al. 2009). Usia mendapat menarche tidak pasti atau bervariasi, akan tetapi terdapat kecenderungan bahwa dari tahun ke tahun wanita remaja mendapat haid pertama pada usia yang lebih muda (Lestari, 2011).

Lebih dari setengah abad, rata-rata usia menarche mengalami penurunan dari usia 16 tahun menjadi rata-rata 13 tahun (Pardede, 2002). Saat ini usia menarche telah bergeser ke usia yang lebih muda yang disebut menarche dini yaitu antara 10-11 tahun (Wiknjosastro, 2005). Penelitian Gudineau (2010) mendefinisikan bahwa fenomena menarche dini terjadi pada usia kurang dari 11 tahun. Remaja yang memiliki riwayat menarche yang terlalu dini menyebabkan remaja tersebut terpapar hormon esterogenyang lebih lama dibandingkan dengan remaja yang menarchenya normal. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas hormon-hormon reproduksi (Susanti, 2012).

Remaja yang sudah mengalami menarche secara dini apabila tidak dibekali dengan keimanan yang kuat dan pengawasan dari orangtua dapat menimbulkan masalah hamil diluar nikah, hamil muda dan terjadi aborsi karena ketidaksiapan remaja putri menerima kehamilan disaat yang belum tepat (Santrock,2003).

Indonesia mengalami angka penurunan menarche berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 terdapat 5,2% anak –anak di 17 provinsi di Indonesia telah memasuki usia menarche dibawah usia 12 tahun. Indonesia sendiri menempati urutan ke-15 dari 67 negara dengan penurunan usia menarche mencapai 0,145 Tahun per dekade. Di Jawa Timur Sebesar 74,8 % remaja putri mengalami menarche pada usia 11-12 tahun (Kemenkes RI, 2010). Membaiknya standar kehidupan berdampak pada penurunan usia menarche ke usia yang lebih muda (menarche dini). Hal ini dikaitkan dengan pubertas prekoks yang terjadi pada anak di usia kurang dari 12 tahun. Pergeseran usia menarche ke usia yang lebih muda, akan menyebabkan remaja putri mengalami dampak stress emosional. Penurunan usia menarche dihubungkan karena beberapa faktor yang meliputi keadaan gizi, genetik, konsumsi makanan, hormon, sosial ekonomi, keterpaparan media massa orang dewasa (pornografi) (Soetjiningsih, 2010). Kemajuan teknologi menyebabkan informasi yang makin cepat dalam berbagai hal. Kemajuan sistem informasi ini mempermudah remaja untuk menjangkau penerimaan informasi.

Media massa memberikan banyak informasi dan pengaruh terhadap remaja melalui pesan yang disampaikan. Mudahnya mengakses media massa dewasa seperti majalah bergambar seks, film-film yang bersifat dewasa dan kemudahan mengakses internet akan mempercepat pematangan hormon seksual sehingga menyebabkan menarche dini. Dari keseluruhan remaja sebanyak 2/3 remaja lebih menyukai informasi yang ada di media massa mengenai hal–hal yang berkaitan dengan seksualitas. Dalam hal ini pengawasan orang tua sangat diperlukan terhadap anak saat mengakses media (Syarif, 2010).

Remaja yang mengalami menarche dini lebih berisiko untuk mengalami kehamilan di bawah umur. Hal ini dapat dibuktikan melalui data Riskesdas 2013 sebanyak 2,6 % menikah pertama kali di usia kurang dari 15 tahun dan 23,9% menikah pada usia 15-19 tahun. Menikah pada usia dini merupakan masalah kesehatan reproduksi karena semakin muda usia menikah semakin panjang rentang waktu untuk bereproduksi. Angka kehamilan penduduk perempuan antara usia 15-54 tahun adalah 2,68%,dan kehamilan pada usia 15 tahun 0,02% meskipun sangat kecil juga memiliki resiko yang tinggi terhadap ibu dan bayi. Kehamilan pada umur remaja usia 15-19 tahun sebesar 1,97 %. Hal ini akan mempengaruhi tingkat fertilitas di Indonesia jika tidak dilakukan pengaturan kehamilan melalui prongram KB (Riskesdas,2013).

Menarche dini dikaitkan dengan faktor risiko beberapa penyakit keganasan. Di pandang dari segi klinis usia menarche dini merupakan faktor resiko terjadinya kanker ovarium, hyperplasia endometrium, dan kehamilan pada usia yang lebih muda. Insiden kanker uterus dan kanker payudara juga dihubungkan dengan usia menarche oleh alasan hormonal, yang lebih didominasi oleh estrogen (Althuis, MD. 2005). Berdasarkan data yang dipublikasikan WHO, kanker merupakan penyakit pembunuh nomor 2 di dunia setelah penyakit jantung. Di Kota Medan sendiri, jumlah penderita kanker pada Tahun 2014 mencapai 786 orang meliputi kanker payudara, kanker paru dan kanker leher rahim.

(3)

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Menarche

Menarche adalah menstruasi pertama yang menjadi pertanda kematangan seksual pada remaja wanita (Dariyo, 2012). Menarche merupakan menstruasi pertama yang terjadi pada masa awal remaja di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Seiring dengan perkembangan biologis maka pada usia tertentu seseorang mencapai tahap kematangan organ-organ seks yang ditandai dengan menstruasi pertama.

Menarche merupakan menstruasi yang pertama kali dialami oleh wanita, dimana secara fisik ditandai dengan keluarnya darah dari vagina akibat peluruhan lapisan endometrium. Menarche terjadi pada periode pertengahan pubertas atau yang biasa terjadi 6 bulan setelah mencapai pucak percepatan pertumbuhan (Gaudineau. 2013) Karakteristik Usia Menarche

Usia menarche bervariasi dari rentang umur 10-16 tahun akan tetapi usia menarche dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12-14 tahun. Usia menarche normalnya 12-14 tahun, sebagian perempuan mengalami lebih awal usia 11 tahun dan lebih lambat usia 15 sampai 18 tahun. Sekitar usia 40-45 tahun haid berhenti atau dinamakan menopause. Menarche dini merupakan menstruasi yang terjadi pada usia yang lebih muda yaitu usia < 12 tahun (Proverawati, 2009). Usia remaja yang mendapatkan menarche bervariasi yaitu : antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata 12,5 tahun (Wiknjosastro,2012). Usia menarche adalah menstruasi pertama yang biasanya terjadi pada perempuan umur 12-13 tahun dengan rentang umur 10-16 tahun. Menarche merupakan tanda diawalinya masa pubertas pada perempuan. (Waryana, 2008).

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Menarche

Menarche yaitu menstruasi yang biasanya terjadi pada usia 12- 13 tahun (Prince, 2006). Namun kenyataanya saat ini banyak ditemukan remaja perempuan yang mendapatkan menstruasi pertamanya di usia 10-11 tahun. Berikut faktor-faktor yang berhubungan dengan menarche dini :

1. Pola Makan 2. Status gizi

3. Faktor Keturunan/Genetik 4. Aktifitas Fisik

5.

Stimulasi Eksternal

6. Status Sosial Ekonomi

Dampak Menarche Dini Kanker Payudara

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain.

Kanker Ovarium

Paritas merupakan faktor resiko penting pada kasus kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat histiologis maupun biologis yang beragam. Resiko kanker ovarium meningkat pada wanita yang belum memiliki anak dan pada wanita yang mengalami menstruasi dini atau terlambat menopause

Mioma Uteri

Mioma uteri merupakan suatu pertumbuhan jinak (neoplasma) dari sel-sel otot polos rahim.Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma, leimioma, ataupun fibroid

(4)

Menopause

Menarche adalah umur pertama menstruasi sebaliknya makin lambatmenarche terjadi, makin cepat menopause timbul. Pada umumnya sekarang ini nampak bahwa menarche makin dini timbul dan menopause makin lambat terjadi, sehingga masa reproduksi menjadi lebih panjang (Siti, 2013)

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan bersifat analitik dengan menggunakan desain cross sectional study yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kejadian menarche dini pada Remaja Putri SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 kota Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2017.

Populasi dan Sampel

Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Remaja Putri SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017 yang berjumlah sebanyak 475 orang siswi,dimana kelas VII sebanyak 238 siswi dan kelas VIII sebanyak 237 orang siswi.

Sampel Penelitian

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin seperti berikut : n =

1

)

(

d

2

N

N

Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

= tingkat akurasi (d) Slovin sebesar 0.1

Sehingga dengan menggunakan rumus tersebut diatas, jumlah sampel dalam penelitian ini dapat dihitung sebagai berikut ; n =

1

)

1

.

0

(

475

475

2

n = 75 . 5 475 n = 82.60---- dibulatkan menjadi 83.

Setelah penentuan jumlah sampel sebesar 83 orang, maka pengambilan sampel sebanyak 83 dari 475 orang menggunakan metode Proportionate Stratified Random Sampling. Alasan menggunakan metode ini adalah karena populasinya tidak homogen, dimana populasi penelitian ini terdiri dari kelas VII dan kelas VIII sehingga tidak homogen dan berstarata secara proporsional. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2011) bahwa, “Proportionate Stratified Random Sampling digunakan apabila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Strata yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu kelas VII dan kelas VIII yang ada dan tersedia sesuai dengan kebutuhan peneliti dan kriteria inklusi yang ditetapkan antara lain :

1. Siswi yang hadir pada saat penelitian 2. Sudah mengalami menstruasi

(5)

3. Bersedia menjadi responden

Berdasarkan metode pengambilan sampel proportionate stratified random sampling tersebut di atas, maka pembagian sampel secara proporsional per kelas adalah sebagai berikut : Perhitungan Sampel Penelitian

No Kelas Jumlah Siswi Jumlah sampel Proporsional

1 Kelas VII 237 237/475 x 83 41

2 Kelas VIII 238 238/475 x 83 42

Jumlah 475 83

Sumber : Hasil penelitian 2017

Dengan demikian 41 orang sampel diambil dari kelas VII dan 42 orang dari kelas VIII.

Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari proses wawancara langsung kepada siswi dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh langsung dari pihak sekolah.

Tehnik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah : 1. Data primer

2. Data sekunder

Aspek Pengukuran

Pengukuran dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan data yang ingin diperoleh dari indikator variabel yang telah ditentukan. Bentuk pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran ordinal.

Aspek pengukuran variabel bebas

Aspek pengukuran untuk variabel bebas adalah usia menarche ibu (genetika), pola makan, status gizi, stimulasi eksternal,aktivitas fisik dan social ekonomi.

1. Variabel Faktor Keturunan

Umur menarche ibu adalah umur pertama menstruasi ibu yang masih hidup dari siswi kelas VII dan kelas VIII SMP negeri 10 tahun 2017, yang dapat dikategorikan sebagai:

Dini : < 12 tahun Normal : ≥ 12 tahun

2. Variabel Pola Makan

Pola makan adalah kebiasaan siswi dalam mengonsumsi makanan berdasarkan jenis makanan, frekuensi makan, dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap harioleh siswi dengan wawancara menggunakan tabel frekuensi makan, dengan kategori (Saragih, 2014).

Buruk : Bila skor yang diperoleh ≥72 Baik : Bila skor yang diperoleh <72 Pemberian Skor dilakukan dengan cara : Frekuensi makan ≥ 1 kali/hari diberi skor 3 Frekuensi makan 1 – 5 kali/minggu diberi skor 2 Frekuensi makan ≤ 2 kali/bulan diberi skor 1 Frekuensi makan tidak pernah diberi skor 0

3. Variabel status gizi

Status gizi adalah keadaan gizi individu pada siswi kelas VII dan kelas VIII SMP negeri 10 tahun 2017 yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan membandingkan berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2), dapat dikategorikan atas (Almatsier, 2010):

buruk Obesitas bila IMT > 25 kg/m2

(6)

4. Variabel stimulasi eksternal

Untuk mengetahui status stimulasi eksternal responden diukur dengan cara wawancara langsung pada responden dengan menggunakan kuesioner penelitian tentang paparan media dewasa dan keterpaparan terhadap lawan jenis.

Terpapar, bila responden menjawab ya walaupun satu saja dari seluruh pernyataan Tidak terpapar, bila responden menjawab tidak dari seluruh pernyataan

Variabel aktifitas fisik

Aktivitas fisik adalah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh siswi SMP Negeri 10 Kota Medan setiap hari dengan Wawancara terstruktur (Kuesioner) sumber FAO 2001, yang dapat dikategorikan sebagai (Riskesdas, 2013): Tidak Aktif (Ringan) jika PAL = <1.70

Aktif (Sedang dan Berat), jika PAL ≥1,70 PAL ditentukan dengan menggunakan rumus :

PAL = ∑

Pengolahan Data

Menurut Arikunto (2006) setelah dilakukan pengumpulan data, maka selanjutnya data tersebut diolah dengan cara : a. Editing b. Coding c. Transfering d. Tabulating Analisis Data Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan terhadap setiap variabel yang diteliti. Selanjutnya data yang telah diolah dari kuesioner dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi, kemudian di persentase ke tiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus sudijono (2005) sebagai berikut:

P = x100% Keterangan : P = persentase F = Frekuensi n = jumlah sampel Analisa Bivariat

Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan antar variabel independen dan dependen melalui uji Chi-Square Tes ( ), untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara 2 variabel digunakan batas kemaknaan 0,05% (95%) (p < 0,05), karena pada umumnya penelitian-penelitian dibidang pendidikan menggunakan taraf signifikan 0,05 (Arikunto, 2006).

Rumus : = Keterangan :

= Chi-Square test O = Frekuensi observasi E = Frekuensi harapan

Adapun ketentuan yang dipakai pada uji statistik ini adalah :

Ho diterima, jika x2 hitung < x2 (jika P value > 0,05) tabel artinya tidak ada hubungan antara variabel yang diteliti dengan kejadian menarche dini pada siswi

Ho ditolak, jika x2 hitung ≥ x2 tabel (jika P value < 0,05) artinya ada hubungan antara variabel yang diteliti dengan kejadian menarche dini pada siswi. Melalui perhitungan uji Chi-square test selanjutnya ditarik pada

(7)

kesimpulan bila nilai p lebih kecil dari alpha (<0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima,yang menunjukan ada pengaruh bermakna antara variabel bebas.

Bila pada tabel contingency 2x2 dijumpai nilai E (harapan) kurang dari 5, maka uji yang digunakan adalah Ficher exact test.

Bila pada tabel contingency 2x2, dan tidak dijumpai nilai E (harapan) kurang dari 5, maka uji yang digunakan adalah continuity correction.

Bila pada tabel-tabel contingency lebih dari 2x2, misalnya 2x3, 3x3, dan lain-lain , maka uji yang digunakan adalah uji person chi-square.

Analisis multivariat

Metode statistik yang memungkinkan kita melakukan penelitian terhadap lebih dari dua variabel secara bersamaan. Dengan menggunakan teknik analisis ini maka kita dapat menganalisis pengaruh beberapa variable terhadap variabel – (variabel) lainnya dalam waktu yang bersamaan (Sarwono, 2010). Analisis ini menggunakan uji regresi linear logistic untuk mengetahui faktor mana yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian menarche dini pada siswi SMP Negeri 10 Kota Medan.

HASIL PENELITIAN Analisis Data Univariat

Analisis Data univariat adalah analisis data yang dilakukan untuk satu variabel atau per variabel, pada penelitian ini analisis data univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi responden di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017’.

Deskripsi Distribusi Responden

Distribusi responden dalam penelitian ini meliputi: Distribusi Umur Responden, Distribusi Kelas Responden, Distribusi Pola Makan Responden, Distribusi Status Gizi Responden, Distribusi Faktor Keturunan Responden, Distribusi Aktifitas Fisik, Distribusi Stimulasi Eksternal, Distribusi Sosial Ekonomi. Adapun distribusi responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Distribusi Pola Makan Responden

Adapun distribusi Pola Makan responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat dilihat pada diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar responden memiliki pola makan yang buruk, yaitu sebanyak 59 responden atau 71,1 %, sedangkan responden lainnya memiliki pola makan yang baik yaitu sebanyak 24 responden atau 28,9 %.

Distribusi Status Gizi Responden

Adapun distribusi Status Gizi responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden,sebagian besar responden yang memiliki status gizi baik, yaitu sebanyak 67 responden atau 80,7 %, sedangkan responden lainnya memiliki status gizi buruk yaitu sebanyak 16 responden atau 19,3 %.

Distribusi Faktor Keturunan Responden

Adapun distribusi Faktor Keturunan responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar responden yang ada hubungannya dengan faktor keturunan usia menarche ibu, yaitu sebanyak 56 responden atau 67,5 %, sedangkan responden lainnya yang mengalami menarche tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan usia menarche ibu tidak yaitu sebanyak 27 responden atau 32,35%.

Distribusi Stimulasi Eksternal Responden

Adapun distribusi Stimulasi Eksternal responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar stimulasi eksternal responden terpapar, yaitu sebanyak 49 responden atau 59,0 %, sedangkan stimulasi eksternal responden yang tidak terpapar yaitu sebanyak 34 responden atau 41,0 %.

(8)

Distribusi Aktifitas Fisik Responden

Adapun distribusi Aktifitas Fisik responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar responden aktif dalam beraktifitas, yaitu sebanyak 66 responden atau 79,5 %, sedangkan responden yang kurang aktif dalam beraktifitas yaitu sebanyak 17 responden atau 20,5 %.

Distribusi Sosial Ekonomi Responden

Adapun distribusi Sosial Ekonomi responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar responden memiliki orangtua yang berpenghasilan > 2.100.000, yaitu sebanyak 63 responden atau 63,8 %, sedangkan responden yang memiliki orangtua yang berpenghasilan < 2.100.000 yaitu sebanyak 27 responden atau 36,2 %.

Distribusi Kejadian Menarche Dini Responden di SMP Negeri 10 Kota Medan

Adapun distribusi Kejadian Menarche responden di SMP Negeri 10 Kota Medan dapat diketahui bahwa dari 83 responden, sebagian besar responden mengalami menarche dini, yaitu sebanyak 56 responden atau 67,5 %, sedangkan responden yang lainnya mengalami menarche normal yaitu sebanyak 27 responden atau 32,5 %.

Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan variabel independen. Adapun hasil analis bivariat dalam penelitian ini mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian “Menarche” dini pada remaja putri di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, adalah sebagai berikut:

Hubungan Pola Makan Responden dengan Kejadian Menarche dini di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Untuk mengetahui hubungan antara Pola Makan responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori buruk - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 44 responden (53,0%), dengan kategori buruk – Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 15 responden (18,0%). Adapun hubungan antara pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori baik – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 12 responden (14,5 %), dengan kategori Baik- Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 12 responden (14,5 %). Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 2,933 (95%CI: 1,030– 7,908) yang artinya responden yang memiliki pola makan yang baik kemungkinan 2,933 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki pola makan yang buruk. Nilai p significancy yaitu 0,030 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan

Hubungan antara Status Gizi Responden dengan Kejadian Menarche di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Untuk mengetahui hubungan antara Status gizi responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara status gizi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori baik - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 50 responden (60,2%), dengan kategori baik-Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 17 responden (20,5 %). Adapun hubungan antara Status Gizi responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori buruk – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 6 responden (7,2 %), dengan kategori Buruk- Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 10 responden (12,1 %). Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 4,902 (95%CI: 1,549 – 7,329) yang artinya responden yang memiliki Status Gizi yang baik kemungkinan 4,902 lebih berhubungan dengan kejadian

(9)

menarche dari pada responden yang memiliki Status Gizi yang buruk. Nilai p significancy yaitu 0,004 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Status Gizi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Hubungan antara Faktor Keturunan Responden dengan Kejadian Menarche di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Untuk mengetahui hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori ada - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 42 responden (50,6 %), dengan kategori ada - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 14 responden (16,9 %). Adapun hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori tidak – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 14 responden (16,9 %), dengan kategori tidak - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 13 responden (15,7 %).

Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 2,786 (95%CI: 1,059 – 7,239) yang artinya responden yang berpengaruh dari Faktor Keturunan kemungkinan 2,786 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang tidak memiliki pengaruh. Nilai p significancy yaitu 0,035 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Hubungan Stimulus Eksternal Responden dengan Kejadian Menarche di SMP N 10 Kota Medan

Untuk mengetahui hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori Terpapar - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 38 responden (45,8 %), dengan kategori Terpapar - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 11 responden (13,2 %). Adapun hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori Tidak Terpapar – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 18 responden (21,7 %), dengan kategori Tidak Terpapar - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 16 responden (19,3 %).Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 3,071 (95%CI: 1,187 – 7,945) yang artinya responden yang Stimulus Eksternal terpapar kemungkinan 3,071 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang Stimulus Ekternal tidak terpapar. Nilai p significancy yaitu 0,019 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Hubungan Antara Aktifitas Fisik Responden dengan Kejadian Menarche Dini di SMP N 10 Kota Medan

Untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara Aktifitas Fisik responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori Aktif - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 44 responden (26,5 %), dengan kategori Aktif - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 22 responden (14,6 %). Adapun hubungan antara Aktifitas Fisik responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori Kurang aktif – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 12 responden (14,6 %), dengan kategori Kurang Aktif - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 5 responden (6,0 %). Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris Pr yaitu 0,833 (95%CI: 0,261 – 2,664) yang artinya responden yang memiliki aktifitas Fisik aktif kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang kurang melakukan aktifitas . Nilai p tidak significancy yaitu 0,758 sehingga p > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Aktifitas Fisik responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

(10)

Hubungan antara Status Ekonomi Responden dengan Kejadian Menarche di SMP N 10 Kota Medan

Untuk mengetahui hubungan antara Status Ekonomi responden dengan Kejadian Menarche dini yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, diketahui bahwa hubungan antara Status Ekonomi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan, dengan kategori Cukup (>2.100.000) - Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 35 responden (42,2 %), dengan - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 18 responden ( 21,7 %). Adapun hubungan antara Status Ekonomi responden dengan kejadian Menarche Dini dengan kategori kategori Cukup (>2.100.000) – Normal (>12 tahun) yaitu sebanyak 21 responden (25,3 %), dengan kategori kategori Kurang (< 2.100.000) - Dini (<12 tahun) yaitu sebanyak 9 responden (10,8 %). Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 0,833 (95%CI: 0,317 – 2,189) yang artinya responden yang memiliki Status Ekonomi Cukup (>2.100.000) kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki Status Ekonomi Kurang (<2.100.000). Nilai p tidak significancy yaitu 0,711 sehingga p > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Status Ekonomi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Analisis Multivariat

Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini pada Remaja Putri di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017, yang diolah dengan logistic regression dapat diketahui bahwa terdapat Hubungan antara Faktor Pola Makan Responden, Faktor Status Gizi, Faktor Keturunan, Faktor Stimulasi Eksternal, Faktor dengan Kejadian “Menarche” Dini pada Remaja Putri di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017. Faktor pola makan tidak memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017, yaitu dengan p value 0,335 sehingga p > 0,05, dengan nilai PR 1,721 (95 % CI : 0,544 – 5,439) yang bermakna bahwa responden yang memiliki pola makan yang baik 1,721 kali lebih cenderung mengalami kejadian “menarche” dini dibandingkan responden yang memiliki pola makan buruk pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017. Faktor status gizi memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017 yaitu dengan p value 0,035 sehingga p < 0,05, dengan nilai PR 4,004 (95 % CI : 1,102- 14,542) yang bermakna bahwa responden yang memiliki status gizi baik 4,004 kali lebih cenderung mengalami kejadian “menarche” dini dibandingkan yang memiliki status gizi buruk pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017. Faktor keturunan memiliki memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017, yaitu dengan p value 0,231 sehingga p > 0,05, dengan nilai PR 1,972 (95 % CI : 0,649-5,987) yang bermakna bahwa responden yang memiliki faktor keturunan yang mendukung 1,972 kali lebih memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini dibandingkan dengan yang tidak memiliki faktor keturunan pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017. Faktor stimulasi eksternal tidak memiliki memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017, yaitu dengan p value 0,087 sehingga p > 0,05, dengan nilai PR 2,523 (95 % CI : -0,876-7,270) yang bermakna bahwa responden yang memiliki stimulasi eksternal terpapar 2,523 kali lebih cenderung memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini dibandingkan dengan yang memiliki stimulasi eksternal tidak terpapar pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017. Dengan overall precentage 75,9.

Pada pengolahan data logistic regresion tahap 2 (Metode Forward : Conditional) untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh, maka faktor yang paling berpengaruh adalah faktor status gizi. Faktor statatus gizi memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017, yaitu dengan p value 0,010 sehingga p < 0,05, dengan nilai PR 4,831 (95 % CI : 1,463 – 15,957) yang bermakna bahwa responden yang memiliki faktor status gizi yang baik 4,831 kali lebih memiliki hubungan dengan kejadian “menarche” dini dibandingkan dengan yang tidak memiliki faktor keturunan pada remaja putri di smp negeri 10 kota medan tahun 2017. Dengan overall precentage 72,3.

(11)

JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 3 Oktober 2017

ISSN : 2579-5872

PEMBAHASAN

Hubungan Pola Makan Responden dengan Kejadian Menarche dini di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Pola makan seorang remaja dapat dilihat dari jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsinya. Semakin banyak seorang remaja mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani, makanan berlemak, makanan cepat saji, dan minuman yang menggadung soft drink maka akan semakin cepat seorang remaja mendapatkan menarche. Pola makan yang buruk bagi seorang remaja menjadi faktor resiko terjadinya menarche dini.(Kartini, 2014) Pola konsumsi remaja dewasa ini kaya akan makanan olahan, susu, daging olahan serta makanan cepat saji yang dapat mengganggu proses perkembangan tubuh serta menyebabkan pubertas yang lebih awal. Konsumsi junk food pada remaja berpengaruh terhadap peningkatan gizi remaja. Umumnya makanan cepat saji mengandung kalori, kadar lemak, gula dan sodium yang tinggi tetapi rendah serat, vitamin A, asam korbat, kalsium, dam folat (Khomsan, 2013).

Nutrisi mempunyai pengaruh terhadap kematangan seksual manusia, karena gizi mempengaruhi sekresi hormon gondotropin dan respon terhadap Luetinizing Hormone (LH), hormon ini berfungsi untuk sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium sehingga tanda – tanda seks sekunder akan cepat muncul dibanding remaja putri yang kekurangan nutrisi. Remaja putri dengan kelebihan nutrisi (kelebihan lemak dan berat badan), menarche juga terjadi lebih dini.

Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 2,933 (95%CI: 1,088 – 7,908) yang artinya responden yang memiliki pola makan yang baik kemungkinan 2,933 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki pola makan yang buruk. Nilai p t significancy yaitu 0,030 sehingga p > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan. Siswa SMP Negeri 10 Kota Medan tersebut memiliki tingkat keseringan mengkonsumsi junkfood yang tinggi pada meliputi konsumsi makanan-makanan seperti mie instans, sosis, fried chicken, dan makanan cepat saji lainnya. Tingginya pola konsumsi junk food pada remaja Siswa SMP Negeri 10 Kota Medan tersebut dipengaruhi pula oleh pola perilaku masyarakat tempat mereka tinggal yang memilih makanan praktis, mudah didapat dan siap saji. Kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dikarenakan pesatnya perdagangan, industri pengolahan pangan, jasa dan informasi yang mengubah gaya hidup dan pola konsumsi makan masyarakat, terutama di daerah perkotaan.

Hubungan antara Status Gizi Responden dengan Kejadian Menarche di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Masa remaja adalah suatu masa terjadinya peningkatan kebutuhan energi dan nutrien yang berarti. Remaja menjadi tanda periode siklus kehidupan yang mempunyai kebutuhan nutrisi total tertinggi dan periode pertumbuhan fisik kedua selama tahun pertama kehidupan. Nutrisi memengaruhi dan dipengaruhi oleh siklus menstruasi (Mulastin. 2013).

Gizi merupakan suatu proses organisme makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ-organ, serta menghasilkan energi. Status Gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, 2013).

Status gizi berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan fungsi organ reproduksi. Pada wanita dengan usia subur diperlukan status gizi baik dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang karena sangan dibutuhkan pada saat menstruasi. Wanita dengan status gizi kurang memiliki risiko terjadinya gangguan menstruasi yang diakibatkan oleh terganggunya pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi (Dieny, 2014)

Status gizi perlu diperhatikan karena status gizi yang kurang dapat mengakibatkan menstruasi lebih lambat dibandingkan remaja putri yang bergizi baik mempunyai cepatan pertumbuhan yang lebih tinggi pada

(12)

masa sebelum pubertas. Pada periode pubertas inilah akan terjadi percepatan pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mengalami kematangan organ reproduksi. Salah satu tanda seorang perempuan telah memasuki usia pubertas adalah terjadinya menarche. Pada umumnya, remaja yang lebih tinggi dan lebih berat dengan massa lemak tubuh yang lebih besar cenderung mencapai menarche di usia muda. Faktor ukuran tubuh termasuk tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh dan persentase lemak tubuh telah lama dibuktikan berasosiasi kuat dengan mulainya menarche (Pulungan, 2009).

Kenaikan berat badan merupakan faktor yang berkait secara konsisten dengan awalnya kematangan seksual pada dewasa muda dan remaja. Beberapa kajian retrospektif telah menunjukkan bahawa remaja yang mengalami menarche sebelum usia 12 tahun adalah lebih berat dan gemuk berbanding dengan remaja yang mengalami menarche normal. Status gizi mempengaruhi usia menarche terkait dengan jumlah lemak dalam tubuh. Jaringan lemak menghasilkan hormon leptin. Hormon leptin, yakni satu hormon yang menimbulkan rasa kenyang dan dihasilkan oleh sel lemak yang merupakan penghubung antara berat badan dan pubertas. Kadar leptin dalam darah juga berkait dengan gluteofemoral menunjukkan bahwa leptin menyampaikan informasi tentang distribusi lemak ke hipotalamus semasa pubertas dan mempengaruhi usia awal menarche. Peningkatan kronis kadar leptin dalam darah dapat menyebabkan peningkatan kadar LH. Peningkatan LH berhubungan dengan peningkatan estrogen dan awal menarche (Edward et al, 2015).

Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian pada bab sebelumnya, diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 4,902 (95%CI: 1,549 – 15,329) yang artinya responden yang memiliki Status Gizi yang baik kemungkinan 4,902 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki Status Gizi yang buruk. Nilai p significancy yaitu 0,004 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Status Gizi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Menarche pada remaja Siswa SMP Negeri 10 Kota Medan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi menarche adalah status gizi dan persen lemak tubuh

Hubungan antara Faktor Keturunan Responden dengan Kejadian Menarche di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017

Menarche merupakan kejadian awal perempuan mendapatkan menstruasi yang ditandai dengan pendarahan pada vagina dan terjadi sekali seumur hidup. Menarche sama dengan menstruasi yang terjadi setiap bulannya secara normal dan berlangsung selama 3 – 7 hari, namun yang membedakan pemahamannya adalah waktu terjadinya. Menarche merupakan awal mula perempuan mengalami kesuburan secara biologisnya dan dianggap telah siap untuk menjadi ibu. Menarche identik dengan usia perempuan di mana masa tersebut menjadi acuan pematangan seksual, pertumbuhan dan perkembangan, kesehatan perempuan, hingga kapasitas dalam bereproduksi. Usia saat menarche dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor genetika, etnis, tinggi, berat, indeks massa tubuh (BMI), dan lingkungan (keadaan sosial ekonomi) (Talma dkk, 2013).

Tingginya kejadian menarche dalam penelitian ini adalah akibat sebagian besar ibu mengalami usia menarche dini. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa umur menarche ibu dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan badan anak sehingga mempengaruhi waktu menarche nya (Luigi, 2010).Penelitian yang dilakukan Putri (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan umur menarche ibu (umur menstruasi pertama ibu) dengan umur menarche pada anak.

Berdasarkan hasil perhitungan pada bab sebelumnya diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 2,786 (95%CI: 1,059 – 7,329) yang artinya responden yang berpengaruh dari Faktor Keturunan kemungkinan 2,786 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang tidak memiliki pengaruh. Nilai p significancy yaitu 0,035 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Berdasarkan hasil tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa usia menarche ibu sangat berperan penting sebagai faktor penentu usia menarche remaja putri. Menurunnya usia menarche menandakan adanya

(13)

perbaikan faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan dimana kondisi ini tampak pada usia menarche anak yang lebih cepat dari ibunya. Usia menarche ibu dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan badan anak sehingga mempengaruhi waktu menarchenya (Luigi, 2013).

Hubungan Stimulus Eksternal Responden dengan Kejadian Menarche di SMP N 10 Kota Medan

Remaja saat ini cenderung mudah terpengaruh oleh media informasi. Media informasi merupakan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual. Menurut Kartono (2014) salah satu faktor yang mempengaruhi menarche dini pada remaja putri adalah rangsangan-rangsangan kuat dari luar, salah satunya melalui keterpaparan media informasi, baik cetak maupun elektronik. Keterpaparan media informasi dengan kecepatan usia pubertas remaja yang secara tidak langsung menyebabkan percepatan usia menarche remaja putri. Para perempuan atau remaja putri yang mengalami menarche dini memperlihatkan minat yang lebih kuat ketika menonton tayangan yang mengandung unsur-unsur seksual di film, televisi, dan majalah dibandingkan dengan para remaja yang menarche dalam rentang usia normal. (Santrock, 2013)

Berdasarkan hasil perhitungan data pada bab sebelumnya dengan menggunakan uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 3,071 (95%CI: 1,187 – 7,945) yang artinya responden yang Stimulus Eksternal terpapar kemungkinan 3,071 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang Stimulus Ekternal tidak terpapar. Nilai p significancy yaitu 0,019 sehingga p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Berdasarkan lembar jawaban Siswa SMP Negeri 10 Kota Medan pada kuesioner penelitian menunjukkan bahwa informasi yang mereka terima khususnya tentang perilaku orang-orang dewasa yang ada disekitar mereka, mereka selalu diberikan gambar-gambar artis idola mereka yang sebagian besar sedang melakukan adegan ciuman dengan artis lainnya. selain itu siswa SMP Negeri 10 Kota Medan sering juga menonton film-film dewasa. Hal tersebut merupakan rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, misalnya berupa tayangan tayangan sinetron yang menampilkan anak-anak berperan sebagai orang dewasa, film-film seks (blue films), buku-buku bacaan dan majalah-majalah bergambar seks, godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan seksual atau coitus masuk ke pusat pancaindera diteruskan melalui striae terminalis menuju pusat yang disebut pubertas inhibitor.

Rangsangan yang terus menerus, kemudian menuju hipotalamus dan selanjutnya menuju hipofisis pars anterior, melalui sistem portal. Hipofisis anterior mengeluarkan hormon yang merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifik. Kelenjar indung telur memproduksi hormon estrogen dan progesteron.Hormon spesifik yan dikeluarkan kelenjar indung telur memberikan umpan balik ke pusat pancaindera dan otak serta kelenjar induk hipotalamus dan hipofisis, sehingga mengeluarkan hormon berfluktuasi.Dengan dikeluarkannya hormon tersebut mempengaruhi kematangan organ-organ reproduksi.

Paparan media pada remaja akan meningkatkan banyak aspek yang berhubungan dengan pematangan seksual anak-anak gadis. Rangsangan-rangsangan kuat dari luar yang berupa film-film seks (blue film), buku-buku atau majalah yang bergambar tidak senonoh (porno), godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan seksual, masuk ke pusat pancaindera diteruskan melalui striae terminalis menuju pusat yang disebut pubertas inhibitor. Rangsangan yang terus menerus, kemudian menuju hipotalamus dan selanjutnya menuju hipofise pars anterior, melalui sistem portal. Hipofise anterior mengeluarkan hormon yang merangsang kelenjar indung telur untuk mengeluarkan hormon spesifik, yaitu hormon estrogen dan progesteron. Hormon yang dikeluarkan kelenjar indung telur tersebut memberikan umpan balik ke pusat pancaindera dan otak serta kelenjar induk hipotalamus dan hipofise, sehingga mengeluarkan hormon berfluktuasi. Dengan dikeluarkannya hormon tersebut mempengaruhi kematangan organ-organ reproduksi, sehingga semua hal tersebut mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak (Santrock, 2014).

(14)

Hubungan Antara Aktifitas Fisik Responden dengan Kejadian Menarche Dini di SMP N 10 Kota Medan

Tingkat aktivitas fisik yang sedang dan berat dapat mempengaruhi fungsi menstruasi. Atlet wanita seperti pelari, senam balet memiliki risiko untuk mengalami amenorrhea, anovulasi, dan defek pada fase luteal. Aktivitas fisik yang berat menyebabkan disfungsi hipotalamus yang menyebabkan gangguan pada sekresi GnRH sehingga menurunkan level estrogen (Ganong,2015).

Berdasarkan hasil perhitungan data pada bab sebelumnya dengan menggunakan uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 0,833 (95%CI: 0,261 – 2,189) yang artinya responden yang memiliki aktifitas Fisik aktif kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang kurang melakukan aktifitas . Nilai p tidak significancy yaitu 0,758 sehingga p > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Aktifitas Fisik responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

Tingginya kejadian menarche dini dalam penelitian ini dikaitkan penundaan sekresi dari hormon-hormon spesifik yang ada dalam tubuh terhadap kematangan seksualitas pada remaja putri. Diperkirakan bahwa aktivitas fisik berat akan menunda usia menarche melalui mekanisme hormonal karena telah menurunkan produksi progesteron sehingga menunda kematangan endometrium. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa aktivitas fisik yang kurang akan mempercepat terjadinya menarche. Penurunan usia menarche yang terjadi saat ini sangat berkaitan dengan aktifitas fisik. Penelitian di Iran yang menunjukkan penurunan usia menarche dibandingkan usia menarche ibu sebesar 3-4 bulan. Penurunan tersebut dikarenakan sejak usia 10,8 tahun melakukan latihan dengan rata-rata waktu 6,5 jam (aktifitas ringan dan sedang) (Matondang, 2006)

Aktivitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga secara sederhana yang sangat penting bagi pemeliharaan fisik, mental dan kualitas hidup sehat. Dari beberapa pengertian yang dikemukakan aktivitas fisik merupakan suatu kondisi yang memerlukan tingkatan gerakan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan energi yang dikeluarkan, sehingga kalori per jam akan berkurang tergantung tingkat aktivitasnya.

Ativitas fisik memerlukan energi di luar kebutuhan untuk metabolisme basal.Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya.Selama aktivitas fisik, otot membutuhkan energi di luar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh.Banyaknya energi yang dibutuhkan bergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan. Seorang yang gemuk menggunakan lebih banyak energi untuk melakukan suatu pekerjaan daripada seorang yang kurus, karena orang gemuk membutuhkan usaha lebih besar untuk menggerakkan berat badan tambahan (Almatsier, 2004)

Hubungan antara Status Ekonomi Responden dengan Kejadian Menarche di SMP N 10 Kota Medan

Usia menarche menggambarkan berbagai kerakteristik-karakteristik kesehatan

dari suatu populasi, termasuk kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan (Kalichman, et al., 2006). Status ekonomi keluarga mempunyai peran yang cukup penting dalam percepatan usia menarche saat ini. Tingkat sosial ekonomi dikaitkan dengan kemampuan keluarga dalam hal kecukupan gizi keluarga terutama gizi anak perempuannya, kemampuan anak menikmati media cetak maupun media elektronik serta mengakses informasi budaya luar dan tingkat rangsangan psikis yang akhirnya akan berhubungan dengan usia menarche.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai pada baris PR yaitu 0,833 (95%CI: 0,317 – 2,189) yang artinya responden yang memiliki Status Ekonomi Cukup (>2.100.000) kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki Status Ekonomi Kurang (<2.100.000). Nilai p tidak significancy yaitu 0,758 sehingga p > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Status Ekonomi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan.

(15)

Tingkat ekonomi berperan dalam mempengaruhi menstruasi. Tingkat sosial ekonomi ini berkaitan erat dengan kemampuan daya beli seseorang terhadap beraneka ragam pangan. Jika seseorang dapat menjangkau berbagai macam pangan yang kaya dengan nilai gizi yang kemudian berpengaruh pada pembentukan gizinya. Apabila status gizinya baik maka proses pertumbuhan dan perkembangan organ, termasuk organ reproduksi akan berjalan dengan baik (Proverawati, 2015).

Usia saat seorang anak perempuan mulai mendapat menstruasi sangat bervariasi. Terdapat kecenderungan bahwa saat ini anak mendapat menstruasi yang pertama kali pada usia yang lebih muda. Ada yang berusia 12 tahun saat ia mendapat menstruasi pertama kali, tapi ada juga yang 8 tahun sudah memulai siklusnya. Bila usia 16 tahun baru mendapat menstruasipun dapat terjadi. Usia untuk mencapai fase terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor sosial ekonomi (Proverawati, 2014).

Faktor yang paling berpengaruh terhadap Kejadian Menarche di SMP N 10 Kota Medan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat Hubungan antara Faktor Pola Makan Responden, Faktor Status Gizi, Faktor Keturunan, Faktor Stimulasi Eksternal, Faktor Aktifitas Fisik dan Faktor Status Ekonomi dengan Kejadian “Menarche” Dini pada Remaja Putri di SMP Negeri 10 Kota Medan Tahun 2017. Faktor status gizi memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,030 < 0,05. Faktor Status Gizi memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,004 < 0,05. Faktor Keturunan memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,035 < 0,05. Faktor Stimulasi Eksternal memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,019 < 0,05. Faktor Aktifitas Fisik memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,758 > 0,05. Faktor Status Ekonomi memiliki hubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini yaitu dengan p value 0,711 > 0,05. Dari data diatas dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang disebutkan diatas memiliki hubungan yang signifikan. Adapun faktor yang paling berhubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan yaitu status gizi dengan p value 0,004 < 0,05. Namun setelah dilakukan penganalisis data dengan regresi logistik berganda maka diketahui faktor yang paling berpengaruh yaitu faktor status gizi, dengan p value 0,004 < 0,05.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Terdapat hubungan antara pola makan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p significancy yaitu 0,030 sehingga p < 0,05 dan nilai pada baris PR yaitu 2,933 (95%CI: 1,933 – 7,908) yang artinya responden yang memiliki pola makan yang baik kemungkinan 2,933 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki pola makan yang buruk. Nilai p significancy yaitu 0,030 sehingga p < 0,05.

2. Terdapat hubungan antara Status Gizi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p significancy yaitu 0,004 sehingga p < 0,05 dan nilai pada baris PR yaitu 4,902 (95%CI: 1,549 – 15,513) yang artinya responden yang memiliki Status Gizi yang baik kemungkinan 4,902 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki Status Gizi yang buruk. Nilai p significancy yaitu 0,004 sehingga p < 0,05.

3. Terdapat hubungan antara Faktor Keturunan responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p significancy yaitu 0,004 sehingga p < 0,05 dan nilai pada baris PR yaitu 2,786 (95%CI: 1,059 – 7,329) yang artinya responden yang berpengaruh dari Faktor Keturunan kemungkinan 2,786 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang tidak memiliki pengaruh.

4. Terdapat hubungan antara Stimulus Eksternal responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p significancy yaitu 0,019 sehingga p < 0,05 DAN nilai pada baris PR yaitu 3,071 (95%CI: 1,187 – 7,945) yang artinya responden yang Stimulus Eksternal terpapar kemungkinan 3,071lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang Stimulus Ekternal tidak terpapar.

(16)

5. Tidak terdapat hubungan antara Aktifitas Fisik responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p tidak significancy yaitu 0,758 sehingga p > 0,05 dan nilai pada baris PR yaitu 0,833 (95%CI: 0,261 – 2,664) yang artinya responden yang memiliki aktifitas Fisik aktif kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang kurang melakukan aktifitas .

6. Tidak terdapat hubungan antara Status Ekonomi responden dengan kejadian Menarche Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan dengan nilai p tidak significancy yaitu 0,711 sehingga p > 0,05 dan nilai pada baris PR yaitu 0,833 (95%CI: 0,317 – 2,189) yang artinya responden yang memiliki Status Ekonomi Cukup (>2.100.000) kemungkinan 0,833 lebih berhubungan dengan kejadian menarche dari pada responden yang memiliki Status Ekonomi Kurang (<2.100.000).

7. Adapun faktor yang paling berhubungan dengan Kejadian “Menarche” Dini di SMP Negeri 10 Kota Medan yaitu Faktor status gizi dengan p value 0,004 < 0,05.

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada: 1. Lokasi Penelitian

Guru dan pihak sekolah hendaknya turut memperhatikan pergaulan siswi-siswi yang sudah mengalami menarche dan mengontrol penggunaan media-media informasi terutama media elektronik.

2. Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan seharusnya memberikan pendidikan kesehatan secara berkesinambungan tentang kesehatan reproduksi khususnya mengenai menstruasi dini pada siswi SMP dengan cara mengangktifkan kembali program kesehatan reproduksi remaja dengan melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah

3. Peneliti selanjutnya

Peneliti yang akan datang hendaknya meningkatkan variabel penelitian dengan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan usia menarche dini, misalnya faktor genetik, faktor dukungan keluarga,dengan cara menggunakan metode lain seperti case control.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Ruslam, 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : Ar-Ruzz Media American Cancer Cociety, 2012. Global Cancer Fact and Figures Third Edition. Atlanta

Aminati, 2015. Cara Bijak Menghadapi dan Mencegah kanker Leher Rahim (Serviks)> Yogyakarta : Briliant Book

Anggraini, Fitria Dewi, 2014. Faktor yang Memperngaruhi Implementasi Program Deteksi Dini kanker Serviks melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) di Puskesemas Wilayah Kota Surabaya. Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia.

Balitbangkes, 2016. Deteksi Dini Langkah Awal Cegah Kanker

Depkes RI, 2015. Panduan Nasional Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini kanker leher Rahim dan Kanker Payudara

Dinkes Medan, 2015. Profil Kesehatan Kota Medan 2015. Medan

(17)

Emilia, Ova, 2014. Bebas Ancaman Kanker Serviks. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Media Pressindo.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo, 2016. Peran Tenaga kesehatan masyarakat dalam mengubah Perilaku Masyarakat Menuju Hidup Bersih dan Sehat. Jurnal FKM-UG http//: fkk.unigo.ac.id/berita-156-masyarakatmenuju-hidup-bersih-dan-sehat-html.

Finaninda, dkk, 2016. Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Kanker Serviks terhadap Keikutsertaan Pemeriksaan IVA pada WUS di Puskesmas karya Mulia Kota Pontianak Tahun 2016. www.jurnal.untan.ac.id

Fitriyani, Indah. 2016. Pengaruh Penyuluhan Kanker Serviks terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Melakukan Pemeriksaan IVA di Dusun Samben Argomulyo Sedayu Bantul. Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Kemenkes RI, 2013. Panduan Penatalaksanaan kanker Serviks

Lailawati, Armi, 2016. Hubungan Dukungan Petugas kesehatan dengan Kunjugan PUS dalam Melakukan Skrining Kanker Serviks Menggunakan Metode IVA di Desa Bojonglor Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan. STIKes Muhammadiyah Pkealongan.

Leatari, Ayu Mustika, 2016. Hungan Pengtahuan dan Sikap dengan Perilaku Melakukan Pemeriksaan IVA di Kelurahan Kota Baru Wilayah Kerja Puskesmas Gondokusuman II Yogyakarta. Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Moleong, Lexy J, 2012. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya Notoatmodjo, 2012. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta

Novel, Sinta, et al, 2014. Kanker Serviks dan Infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Jakarta : Javamedia Network

Pratiwi, Arantika Meiydia, 2016. Riwayat Mendapat Konseling tentang IVA Berhubungan dengan Keiikutsertaan IVA pada Wanita Usia Subur di Puskesmas Sedayu I dan Sedayu II Bantul.

Rasjidi, M, 2016. Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker pada Wanita. Jakarta : Sagung Seto Riskesdas 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013,

Scielo Public Health, 2005. Visual Inspection with acetic acid for cervical cancer screening outside of low-resource setting http://dx.doi.org/10.1590/S1020-49892005000100001

Scielo Public Health, 2005. Concurrent Evaluation of Visual, Cytological and HPV testing as screening methods for the early detection of cervical neoplasia in Mumbai, India. http://dx.doi.org/10.1590/S0042-96862005000300011

(18)

Sulistiowati, E, 2014. Pengetahuan tentang Faktor Resiko, Perilaku dan Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) pada Wanita di Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor. Jakrat : Badan Penelitan dan Pengambangan Kesehatan Kementerian kesehatan RI

Susilo Wihelmus Hary, et al, 2014. Riset Kualitatif dan Aplikasi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media

Tilong, Adi, 2012. Bebas dari Ancaman Kanker Serviks. Jakarta : Salemba Medika

Uno, HB, 2012. Teori Motivasi dan pengukurannya : analisis di bidanf pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Urban M, Banks E, et al, 2012. Infectable and Oral Contraceptive Use and Cancer of The Breast, Cervix, and

Endometirum in Black Afrikan Women. Plos Med

Wijana, I Dewa Putu dkk, 2012. Kajian Teori dan Analisa Teori. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Wijaya D, 2012. Pembunuh ganas Itu Bernama Kanker Serviks. Sihar Kejora, Yogyakarta

Yuliwati, 2012. Factor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Metode IVA di Wilayah Pusekesmas Prembun kabupaten Kebumen Tahun 2012.

Referensi

Dokumen terkait

4) Apabila contoh diambil dari beberapa titik, maka volume contoh yang diambil dari setiap titik yang sama. Pengambilan Contoh untuk Pemeriksaan Oksigen Terlarut Pengambilan

Tersusunnya Rincian Kewenangan Klinis untuk tiap perawat sesuai jenjang kariernya oleh sub komite kredensial di tahun 2016 h.. Tersusunnya rekomendasi

Pada subbab 2.2 telah dibahas megenai peringatan Sumpah Pemuda tahun Pada subbab 2.2 telah dibahas megenai peringatan Sumpah Pemuda tahun 2013 yang dilakukan oleh organisasi

Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh cerobong asap dengan kejadian ISPA dengan p value 0,033 dan OR 2,682 artinya responden yang memiliki cerobong asap

Disimpulkan dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat konsumsi yang terjadi pada karyawan

penelitian dari Kaya dan Dharmawan meyimpulkan bahwa situasi bencana nasional ini tidak secara otomatis menghapus tanggung jawab para pihak dalam perjanjian komersial berdasarkan

Misalnya minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dapat dipisahkan secara pendinginan (winterisasi) antara bagian yang banyak mengandung asam lemak jenuh (stearat) yaitu yang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengembangan karier dengan kinerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Samarinda.Pada penelitian ini penulis