• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Perawatan (Maintenance)

Menurut Assauri (1999, p95) perawatan merupakan kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas dan peralatan pabrik, dan mengadakan perbaikan, penyesuaian, atau penggantian yang diperlukan untuk mendapatkan suatu kondisi operasi produksi yang memuaskan, sesuai dengan yang direncanakan. Dengan adanya perawatan diharapkan semua fasilitas dan mesin yang dimiliki oleh perusahaan dapat dioperasikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Perawatan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam kegiatan produksi dari suatu perusahaan yang menyangkut kelancaran atau kemacetan produksi, kelambatan dan volume produksi. Dengan demikian, perawatan memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan fungsi-fungsi lain dari suatu perusahaan.

Karena pentingnya aktivitas perawatan maka diperlukan perencanaan yang matang untuk menjalankannya, sehingga terhentinya proses produksi akibat mesin rusak dapat dikurangi seminimum mungkin. Aktivitas perawatan yang benar-benar baik dapat mengurangi biaya untuk merawat mesin.

(2)

2.2 Tujuan Perawatan

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan utama dilakukannya aktivitas perawatan mesin, yaitu (Assauri, 1999, p95):

o Menjaga agar kualitas produk berada pada tingkat yang diharapkan

guna memenuhi apa yang dibutuhkan produk itu sendiri dan menjaga agar kegiatan produksi tidak mengalami gangguan.

o Mempertahankan kemampuan alat atau fasilitas produksi guna

memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan target serta rencana produksi.

o Mengurangi pemakaian dan penyimpangan diluar batas dan

menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama jangka waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan.

o Memperhatikan dan menghindari kegiatan – kegiatan operasi

mesin serta peralatan yang dapat membahayakan keselamatan kerja.

o Mengadakan suatu kerjasama yang erat dengan fungsi – fungsi

utama lainnya dari suatu perusahaan, dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu tingkat keuntungan atau return investment yang sebaik mungkin dan total biaya serendah mungkin.

(3)

o Mencapai tingkat biaya serendah mungkin, dengan melaksanakan

kegiatan maintenance secara efektif dan efisien untuk

keseluruhannya.

2.3 Jenis - Jenis Perawatan

Aktivitas perawatan (maintenance) dapat dibedakan dalam dua jenis

yaitu preventive maintenance (pencegahan) dan corrective maintenance

(perbaikan). (Assauri, 1999, p99).

2.3.1 Preventive Maintenance

Preventive maintenance adalah kegiatan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan dan menemukan kondisi yang dapat menyebabkan fasilitas atau mesin produksi mengalami keruskan pada waktu melakukan kegiatan produksi. (Assauri, 1999, p102).

Semua fasilitas atau mesin yang mendapat tindakan preventive akan terjamin kelancaran kerjanya dan selalu dalam keadaan optimal untuk melakukan kegiatan proses produksi.

Preventive maintenance dapat dibedakan atas routine mantenance dan periodic maintenance. (Assauri, 1999, p102).

(4)

Routine maintenance adalah kegiatan perawatan yang dilakukan secara rutin. Contohnya yaitu pelumasan, pengecekan isi bahan bakar.

Periodic maintenance adalah kegiatan perawatan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka waktu tertentu.

2.3.2 Corrective Maintenance

Corrective maintenance merupakan kegiatan perawatan yang dilakukan setelah mesin atau fasilitas mengalami kerusakan atau gangguan. Dalam hal ini kegiatan corrective maintenance bersifat perbaikan yaitu menunggu sampai kerusakan terjadi terlebih dahulu, kemudian baru diperbaiki agar dapat beroperasi kembali. (Assauri, 1999, p104).

Tindakan corrective ini dapat memakan biaya perawatan yang lebih

murah dari pada tindakan preventive. Hal tersebut dapat terjadi apabila kerusakan terjdi disaat mesin atau fasilitas tidak melakukan proses produksi. Namun saat kerusakan terjadi selama proses produksi berlangsung maka biaya perawatan akan mengalami peningkatan akibat terhentinya proses produksi.

Dengan demikian dapat disimpulkan dahwa tindakan corrective memusatkan permasalahan setelah permasalahan itu terjadi, bukan menganalisa masalah untuk mencegahnya agar tidak terjadi.

(5)

2.4 Keandalan (Reliability)

Yang dimaksud dengan keandalan (reliability) adalah probabilitas sebuah komponen atau sistem untuk adapat beroperasi sesuai dengan fungsi yang diinginkan untuk suatu periode waktu tertentu ketika digunakan dibawah kondisi yang telah ditetapkan. (Ebeling, 1997, p5)

Empat elemen yang signifikan dengan konsep reliability adalah probability, performance, waktu dan kondisi.

Probability (peluang) memiliki arti bahwa setiap item memiliki umur berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini memungkinkan untuk mengidentifikasi distribusi dari kerusakan item untuk mengetahui umur pakai dari item tersebut.

Performance (kinerja) mendifinisikan bahwa kehandalan merupakan

suatu karakteristik performansi sistem dimana suatu sistem yang andal harus dapat menunjukkan performansi yang memuaskan jika dioperasikan.

Waktu. Reliability dinyatakan dalam suatu periode waktu. Peluang

suatu item untuk digunakan selama setahun akan berbeda dengan peluang item untuk digunakan dalam sepuluh tahun.

Kondisi menjelaskan bahwa perlakuan yang diterima oleh suatu system akan memberikan pengaruh terhadap tingakat reliability.

(6)

2.5 Distribusi Kerusakan

Distribusi yang digunakan untuk mengetahui pola data yang terbentuk dibagi dalam empat macam yaitu: distribusi Weibull, Eksponential, Normal dan Lognormal.

2.5.1 Distribusi Weibull

Distribusi Weibull merupakan distribusi yang paling banyak digunakan untuk waktu kerusakan karena distribusi ini baik digunakan untuk laju kerusakan yang meningkat maupun laju kerusakan yang menurun. Dua

parameter yang digunakan dalam distribusi ini adalah θ yang disebut dengan

parameter skala (scale parameter) dan β yang disebut dengan parameter

bentuk (shape parameter). Fungsi reliability yang terdapat dalam distribusi Weibull yaitu (Ebeling, 1997, p59) :

Reliability function : β θ) ( ) ( t e t R = ….(2.1) dimana θ > 0, β > 0, dan t > 0

Dalam distribusi Weibull yang menentukan tingkat kerusakan dari

pola data yang terbentuk adalah parameter β. Nilai-nilai β yang menunjukkan

(7)

Tabel 2.1 Nilai-Nilai Parameter β

Nilai Laju Kerusakan

0 < β <1 Pengurangan laju kerusakan (DFR)

β = 1 Distribusi Eksponensial

1 < β < 2 Peningkatan laju kerusakan (IFR), Konkaf

β = 2 Distribusi Rayleigh

β > 2 Peningkatan laju kerusakan (IFR), Konveks

3 ≤β Peningkatan laju kerusakan (IFR), mendekati kurva normal

Jika parameter β mempengaruhi laju kerusakan maka parameter θ

mempengruhi nilai tengah dari pola data.

2.5.2 Distribusi Eksponential

Distribusi Eksponential digunakan untuk menghitung keandalan dari distribusi kerusakan yang memiliki laju kerusakan konstan. Distribusi ini mempunyai laju kerusakan yang tetap terhadap waktu, dengan kata lain probabilitas terjadinya kerusakan tidak tergantung pada umur alat. Distribusi ini merupakan distribusi yang paling mudah untuk dianalisa. Parameter yang

digunakan dalam distribusi Eksponential adalah λ, yang menunjukkan rata –

rata kedatangn kerusakn yang terjadi. Fungsi reliability yang terdapat dalam distribusi eksponential yaitu (Ebeling, 1997, p41) :

(8)

Reliability function : R(t)=e−λt …(2.2)

dimana t > 0, λ > 0

2.5.3 Distribusi Normal

Distribusi Normal cocok untuk digunakan dalam memodelkan

fenomena keausan. Parameter yang digunakan adalah μ (nilai tengah) dan σ

(standar deviasi). Karena hubungannya dengan distribusi Lognormal, distribusi ini dapat juga digunakan untuk menganalisa probabilitas

Lognormal. Fungsi reliability yang terdapat dalam distribusi Normal yaitu

(Ebeling, 1997, p69) : Reliability function : ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − Φ = σ μ t t R( ) …(2.3) dimana μ > 0, σ > 0 dan t > 0 2.5.4 Distribusi Lognormal

Distribusi Lognormal menggunakan dua parameter yaitu s yang

merupakan parameter bentuk (shape parameter) dan tmed sebagai parameter

lokasi (location parameter) yang merupakan nilai tengah dari suatu distribusi kerusakan. Distribusi ini dapat memiliki berbagai macam bentuk, sehingga sering dijumpai bahwa data yang sesuai dengan distribusi Weibull juga sesuai

(9)

dengan distribusi Lognormal. Fungsi reliability yang terdapat pada distribusi Lognormal yaitu (Ebeling, 1997, p73) :

Reliability function : ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ Φ − = med t t s t R( ) 1 1ln …(2.4) dimana s > 0, tmed > 0 da t > 0 2.6 Identifikasi Distribusi

Identifikasi distribusi dilakukan memlalui dua tahap yaitu Least Square Curve dan Goodness of Fit Test.

2.6.1 Least Square Curve Fitting

Metode ini digunakan untuk mengitung nilai index of fit (r). Distribusi dengan nilai r yang terbesar akan dipilih untuk diuji dengan menggunakan Goodness of Fit Test.

Rumus umum yang terdapat dalam metode Least Square Curve Fitting adalah: 4 . 0 3 . 0 ) ( + − = n i t F i …(2.5)

(10)

Dimana : i = data waktu ke-t

n = jumlah data kerusakan

Index of Fit (r) = ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ −

= = = = = = = n i n i i i n i n i i i n i n i i n i i i i y y n x x n y x y x n 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1

= = = = = ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − = n i n i i i n i n i i n i i i i x x n y x y x n b 1 2 1 2

1 1 1 untuk Weibull, Normal, Lognormal

= = = n i i n i i i x y x b 1 2 1 untuk Eksponential x b y a= −

Rumus yang dimiliki masing – masing distribusi adalah:

o Distribusi Weibull

xi = ln ti dimana ti adalah data waktu ke-i

yi = ln ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ − ( ) 1 1 ln i t F Parameter : β = b dan θ = ⎟⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − b a e

(11)

o Distribusi Eksponential

xi = ti dimana ti adalah data waktu ke-i

yi = ln ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ − ( ) 1 1 i t F Parameter : λ = b o Distribusi Normal

xi = ti dimana ti adalah data waktu ke-i

yi = zi = Φ-1[F(ti)] Parameter : σ = b 1 dan μ = ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − b a o Distribusi Lognormal

xi = ln ti dimana ti adalah data waktu ke-i

yi = zi = Φ-1[F(ti)]

Parameter : s =

b

1

dan tmed = e-sa

2.6.2 Goodness of Fit Test

Tahap selanjutnya setelah perhitungan index of fit dilakukan maka dilakukan pengujian Goodness of Fit untuk nilai index of fit yang terbesar. Uji

(12)

menyatakan bahwa data kerusakan mengikuti distribusi pilihan dan hipotesis

alternative (H1) yang menyatakan bahwa data kerusakan tidak mengikuti

distribusi pilihan. (Ebeling, (1997, p206)

Pengujian yang dilakukan dalam Goodness of Fit ada tiga macam

yaitu Mann’s Test untuk distribusi Weibull, Bartlett’s Test untuk distribusi

Eksponential dan Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi Normal dan

Lognormal.

2.6.2.1 Mann’s Test

Menurut Ebeling, (1997, p400) hipotesa untuk melakukan uji ini adalah:

H0 : Data kerusakan berdistribusi Weibull

H1 : Data kerusakan tidak berdistribusi Weibull

Uji statistiknya adalah :

(

)

(

)

= + − + = + ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ − ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ − = 1 1 1 2 1 1 1 1 1 ln ln ln ln k i i i i r k i i i i M t t k M t t k M …(2.6) Dimana : k1 = 2 r k2 = 2 1 − r Mi = Zi+1 - Zi

(13)

Zi = ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ + − − − 25 . 0 5 . 0 1 ln ln n i

Jika nilai M < Mcrit maka H0 diterima. Nilai Mcrit diperoleh dari table

distribusi F dengan v1 = k1 dan v2 = k2.

2.6.2.2 Bartlett’s Test

Menurut Ebeling, (1997, p399) Hipotesa untuk melakukan uji ini adalah :

H0 : Data kerusakan berdistribusi Eksponential

H1 : Data kerusakan tidak berdistribusi Eksponential

Uji statistiknya adalah :

r r t R t R r B r i i r i i 6 ) 1 ( 1 ln 1 1 ln 2 1 1 + + ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ =

=

= …(2.7) dimana :

ti adalah data waktu kerusakan ke-i

r adalah jumlah kerusakan

B adalah nilai uji statistic untuk uji Bartlett’s Test

H0 diterima jika : 2 1 , 2 2 1 , 2 1− < < r r B X X α α

(14)

2.6.2.3 Kolmogorov-Smirnov Test

Menurut Ebeling, (1997, p402) Hipotesa untuk melakukan uji ini adalah :

H0 : Data kerusakan berdistribusi Normal atau Lognormal

H1 : Data kerusakan tidak berdistribusi Normal dan Lognormal

Uji statistiknya adalah : Dn = max{D1,D2}

dimana : ⎪⎭ ⎪ ⎬ ⎫ ⎪⎩ ⎪ ⎨ ⎧ − ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ − Φ = ≤ ≤ n i s t t D i n i 1 max 1 1 …(2.8) ⎪⎭ ⎪ ⎬ ⎫ ⎪⎩ ⎪ ⎨ ⎧ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ − Φ − = ≤ ≤ s t t n i D i n i 1 2 max …(2.9)

= = n i i n t t 1 1 ) ( 2 2 − − =

n t t s i

ti adalah waktu kerusakan ke-i

s adalah stndar deviasi

Jika Dn < Dcrit maka terima H0. Nilai Dcrit diperoleh dari table critical

(15)

2.7 Mean Time To Failure (MTTF)

Mean time to failure merupakan rata – rata selang waktu kerusakan dari suatu distribusi kerusakan. Perhitungan nilai MTTF untuk masing – masing distribusi adalah :

o Distribusi Weibull MTTF = ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ + Γ β θ. 1 1 o Distribusi Eksponential MTTF = λ 1 o Distribusi Normal MTTF = μ o Distribusi Lognormal MTTF = 2 2 . s med e t

2.8 Mean Time To Repair (MTTR)

Untuk dapat menghitung nilai rata – rata perbaikan , distribusi data untuk waktu perbaikan perlu diketahui terlebih dahulu. Pengujian untuk menentukan distribusi data dilakukan dengan cara seperti yang telah dijelaskan. Rumus yang digunakan untuk masing – masing distribusi adalah :

(16)

o Distribusi Weibull MTTR = ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ + Γ β θ. 1 1 o Distribusi Eksponential MTTR = λ 1

o Distribusi Normal dan Lognormal

MTTR = 2 2 . s med e t

2.9 Reliability dengan Preventive Maintenance

Peningkatan keandalan dapat ditempuh dengan cara preventive maintenance. Dengan preventive maintenance maka pengaruh wear out mesin atau komponen dapat dikurangi. Model keandalan berikut mengasumsikan system kembali ke kondisi baru setelah menjalani preventive maintenance. Keandalan pada saat t dinyatakan sebagai berikut (Ebeling, 1997, p204) :

Rm(t) = R(t) untuk 0 ≤ t < T

(17)

Secara umum persamaannya adalah :

Rm(t) = R(T)n.R(t-nT) untuk nT ≤ t < (n+1)T dan n = 1,2,3,…

dimana :

T adalah selang waktu preventive maintenance T adalah waktu operasional mesin

n jumlah perawatan

Rm(t) adalah reliability dengan preventive maintenance

R(T)n adalah probabilitas kehandalan hingga n selang waktu

perawatan

R(t-nT) adalah probabilitas kehandalan untuk waktu t-nT dari tindakan reventive yang terakhir.

2.10 Perhitungan Biaya

Untuk menghitung total biaya saat failure dan preventive rumus yang digunakan adalah : o Failure tf Cf tf Tc( )= …(2.10)

(18)

dimana :

Cf merupakan biaya failure Tf merupakan nilai MTTF o Preventive ) 1 ( * ) 1 ( * ) ( R tf R tp R Cf R Cp tp Tc − + − + = …(2.11)

Cp merupakan biaya preventive Cf merupakan biaya failure

tp interval waktu preventive tp merupakan nilai MTTF

Gambar

Tabel 2.1 Nilai-Nilai Parameter β

Referensi

Dokumen terkait

Tetapi konsep tentang listrik dinamis (dalam hal ini hukum Ohm) lebih dikenal daripada konsep konduksi termal. Karena itu, dalam Model ADA-Glynn, konsep-konsep

Kedua situs berita ini memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyeleksi suatu isu dan menulis berita – berita mengenai pernyataan Majelis Ulama Indonesia yang

29 Th 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Orang [3] dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek dengan Peraturan Menteri Perhubungan Republik

3.9.5 Walaupun perisian GSP 4.06 boleh digunakan dalam pelbagai topik, tapi untuk kajian ini kami memfokuskan kepada hasil pembelajaran yang ditetapkan dalam

Di kota Banjarmasin ini ada tiga Madrasah Aliyah yang berstatus negeri dibawah naungan Departemen Agama, yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Banjarmasin, Madrasah

Pengelasan bahaya : Tidak dikelaskan sebagai bahan atau campuran yang berbahaya Piktogram : Tidak dikelaskan sebagai bahan atau campuran yang berbahaya Kata isyarat :

Pemanfaatannya secara umum adalah sebagai pemberi cita rasa pada masakan, seperti urab (kluban) dan pecel, sedangkan batangnya dipakai sebagai pemberi cita rasa

siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita serta masalah yang.. berbentuk gambar yang berhubungan dengan keliling dan