• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1: Peta Jawa Tengah. Sumber: (2019)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1: Peta Jawa Tengah. Sumber: (2019)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Boyolali punya julukan, New Zealand Van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Keduanya sama-sama menjadi produsen susu. Jika New Zealand dikenal sebagai negara produsen susu dan daging sapi, begitupula dengan Boyolali yang merupakan daerah produsen susu terbesar di Pulau Jawa. Bukan hanya sebagai daerah produsen susu, Boyolali juga menjadi salah satu pemasok daging sapi lokal di Jawa. Di Kecamatan Ampel banyak ditemui pemotongan hewan serta pusat produsen berbagai macam abon sapi.

Julukan New Zealand Van Java karena menjadi daerah penghasil susu, menjadikan Boyolali juga disebut sebagai Kota Susu. Boyolali juga memiliki identitas berupa fauna yaitu sapi lokal dan flora yang disebut Mawar Pager. Letak geografis Kabupaten Bayolali sangat strategis. Terletak di 110o22’–110o50’ Bujur Timur dan 7o36’–7o71’ Lintang Selatan.

Gambar 1.1: Peta Jawa Tengah

Sumber:www.wikipedia.org (2019)

Secara administratif Boyolali berbatasan dengan; sebelah utara: Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang. Sebelah timur Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Sukoharjo. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta serta sebelah barat berbatasan

(2)

2 dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah 101.510,20 Ha Secara topografi wilayah Kabupaten Boyolali merupakan wilayah dataran rendah dengan perbukitan dan pegunungan.

Kabupaten Boyolali merupakan kabupaten dengan hasil pertaian yang baik har ini dibuktikan dengan hasil survei KSA, bahwa luas panen padi di Boyolali periode Januari-Desember 2018 sebesar 44.757 Ha. Luas panen tertinggi terjadi pada periode Mei-Agustus 2018 yaitu sebesar 19.328 Ha. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Boyolali 2017 atas dasar harga berlaku pada mencapai Rp 28,5 triliun serta perekonomian Boyolali pada 2017 tumbuh 5,52% dibanding tahun sebelumnya. Angka kemiskinan Boyolali pada 2017 sebesar 11,96% dari total populasi 975 ribu jiwa.

Angka tersebut merupakan yang terendah sejak krisis finansial

1998. (www.boyolalikab.bps.go.id)

Kabupaten Boyolali terdiri atas 19 kecamatan dan 267 desa/kelurahan merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kecamatan di Boyolali terdiri Kecamatan Ampel, Andong, Banyudono, Boyolali, Cepogo, Juwangi, Karanggede, Kemusu, Klego, Mojosongo, Musuk, Ngemplak, Nogosari, Sambi, Sawit, Selo, Simo, Teras dan Kecamatan Wonosegoro. Gunung Merbabu dan Gunung Merapi menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur. Hal ini menjadikan Boyolali menjadi salah satu lumbung pangan bagi Provinsi JawaTengah. Selain potensi bidang pertanian dan peternakan, potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Boyolali adalah kawasan industri. Sebagai daerah yang menjadi jalur transportasi nasional dan regional yang menghubungkan Kota Surakarta – Semarang – dan Surakata - Yogyakarta, Kabupaten Boyolali menjadi daerah yang sangat strategis dalam roda perekonomian di Jawa Tengah (www.boyolali.go.id).

(3)

3 Gambar 1.2: PDRB dan Angka Kemiskinan Boyolali 2010-2019

Sumber:www.databoks.co.id (2019)

Kemajuan demi kemajuan dicapai Kabupaten Boyolali salah satu contohnya adalah digalakkannya pembangunan infrastruktur yang akan menunjang kinerja

pemerintahan. Kabupaten Boyolali membangun gedung-gedung kantor

pemerintahan kabupaten yang ter-integrasi menjadi satu dalam satu Kompleks Perkantoran Terpadu Kabupaten Boyolali yang mempermudah pemerintah dalam menjalankan tugas dan mempercepat kinerja pemerintah dalam menjalankan tugasnya.

(4)

4 Sumber: www.instagram.com (2018)

Gambar 1.4: Gedung Kantor Bupati Boyolali

Sumber: foto yang diambil penulis (2019)

Gambar 1.5: Pendopo Alun Alun Kidul Boyolali

Sumber: foto yang diambil penulis (2019)

Di tengah pembangunan yang terus dilakukan dan kemajuan yang sedikit demi sedikit terealisasi, Kabupaten Boyolali mendapat kepercayaan menjadi salah satu dari seratus kota/ kabupaten yang terdaftar dalam program smart city Indonesia. Boyolali siap menuju smart city hal ini ditandai dengan adanya launching gedung Boyolali Smart City Center pada tanggal 14 Februari 2018 dan telah diresmikan oleh bupati Boyolali Bapak Seno Samodro.

(5)

5 Gambar 1.6: Gedung Boyolali Smart City Center

Sumber: www.boyolali.go.id (2018)

Tidak hanya berhenti disitu saja, Diskominfo Kabupaten Boyolali juga menyediakan layanan Wi-Fi di Kompleks Perkantoran Terpadu Kabupaten Boyolali. Hal tersebut dilakukan untuk menunjang akan terwujudnya e-government yang merupakan salah satu bagian dari Boyolali smart city.

Selain gedung dan pembangunan infrastruktur pendukung yang telah diresmikan dalam rangka penerapan Boyolali smart city, Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali juga mulai untuk menerapkan digitalisasi dalam proses pemerintahan seperti pajak, permohonan informasi publik, pelayanan terpadu satu pintu, PPID, dan kesehatan. Hal hal tersebut dapat diakses melalui web resmi Pemeritah Kabupaten Boyolali dan aplikasi Boyolali Smart City.

Gambar 1.7: Tampilan Web Boyolali

(6)

6 Gambar 1.8: Tampilan Web DPMPTSP

Sumber: http://dpmptsp.boyolali.go.id (2019) Gambar 1.9 Tampilan Layanan Online Tata Ruang

Sumber:www.boyolali.go.id (2019) 1.1.1 Visi Kabupaten Boyolali

"Pro Investasi Mewujudkan Boyolali Yang Maju dan Lebih Sejahtera" 1.1.2 Misi Kabupaten Boyolali

i. Boyolali, melanjutkan semangat pro investasi

ii. Boyolali membangun untuk perubahan.

iii. Boyolali, bersih, berintegritas, sejahtera. iv. Boyolali, Sehat, Produktif dan Berdaya Saing.

v. Boyolali, lumbung padi dan pangan nasional.

vi. Boyolali kota susu, produsen daging dan hasil ternak/perikanan. vii. Boyolali, lebih maju dan berteknologi

(7)

7 1.2 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan teknologi dan komunikasi pada era sekarang ini semakin meningkat pesat. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini beriringan dengan bertambahnya pengguna internet. Diambil dari hasil survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), pada setiap tahunnya pengguna internet Indonesia semakin naik hingga pada tahun 2018 mencapai 123 juta pengguna. Sekarang ini internet merupakan salah satu unsur penting bagi masyarakat dan segala mafaat yang ditawarkan.

Adanya perkembangan teknologi dan pemanfaatan tersebut membawa dampak pada gaya hidup masyarakat untuk mengikutsertakan digitalisasi dalam kehidupan sehari hari sehingga muncul pola pikir masyarakat yang menuntut kecepatan dalam setiap hal. Dengan adanya pola pikir masyarakat yang seperti itu mengharuskan pemerintahan untuk memperbaiki layanannya. Menurut Susanto (2017), masyarakat yang melek teknologi memiliki ekspetasi tinggi terhadap layanan publik yang lebih praktis dan mudah didapat. Salah satu cara pemerintah dalam perbaikan layanan adalah dengan ikut andil dalam digitalisasi agar informasi yang diberikan dapat dengan cepat, tepat dan baik diterima oleh masyarakat.

Dapat kita lihat beberapa waktu belakangan ini pemanfaatan teknologi dan internet oleh masyarakan serta pemerintah terus digalakkan. Hal tersebut dilakukan untuk menunjang kebuhutah akan informasi baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Maka dari itu pada tahun 2017 pemerintah meluncurkan program 100 smart city. Program 100 smart city adalah program pemerintah yang bekerja sama dengan pihak swasta untuk pengembangan 100 kota di Indonesia yang berbasis teknologi dan informasi serta melalui beberapa assessment.

Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengan yang masuk dalam daftar 100 smart city. Boyolali adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang beberapa tahun belakang ini mengalami perkembangan baik di bidang infrasturktu, ekonomi kesejahteraan dll. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya riset dari BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyatakan bahwa pada tahun 2015, 2016, dan 2017 IPM (indeks perkembangan manusia) Kabupaten Boyolali mengalami peningkatan yaitu 71.74, 72.18, dan 72.64. Selain itu Kabupaten Boyolali dapat mengalahkan kota kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya dan Semarang dalam hal

(8)

8 perkembangan ekonomi, perekonomian Kabupaten Boyolali meningkat sebesar 6,08% dimana kota kota besar lain hanya 5% (Seno, 2016). Pemerintah daerah Boyolali juga menyambut baik adanya program smart city tersebut. Visi dan misi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali yang mengarah pada mewujudkan Boyolali smart city terus dikembangkan salah satunya dengan diselenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk menindaklanjuti penyusunan roadmap smart city Boyolali.

Penjelasan dari Boyd dalam Suryantono (2018), smart city terbagi dalam enam dimensi yaitu smart environment, smart mobility, smart government, smart economy, smart people dan smart living. Anthopoulos (2016) menjelaskan bahwa smart government tidak sama dengan smart city, smart government merupakan bagian utama yang membentuk smart city karena semua regulasi akan berakar pada pemerintahan dan pemerintahanlah yang akan mengatur sebuah wilayah. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa smart government merupakan salah satu faktor terbentuknya smart city.

Di dalam smart government terdapat beberapa faktor seperti yang dijelaskan oleh Scholl and Magit (2014) bahwa dalam smart government terdiri dari beberapa faktor yaitu pembiayaan/pengendalian/evaluasi, e-government, keamanan dan aman, infrastruktur dan ubiquitous high-speed connectivity, mobilitas elektrik, partisipasi dan kolaborasi, data yang terbuka, pemerintahan yang transparan dan dipercaya.

Dari beberapa faktor pembentuk smart government tersebut, E-government merupakan salah satu faktor penting karena untuk meningkatkan layanan dalam memenuhi kebutuhan masyarakan pada era sekarang ini. Menurut Imam (2018), penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) atau e-government akan meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan publik. Disisi lain

Tampubolon (2016), membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi dalam

e-government sangat penting karena pengguna internet semakin banyak dan adanya hubungan yang positif antara pemanfaatan teknologi dalam e-government terhadap kinerja pemerintah dalam mewujudkan smart city.

E-government terbagi menjadi tiga tipe yaitu government to citizen (G2C), government to business (G2B) dan government to government (G2G).Untuk

(9)

9

mendukung program smart government khusunya dalam government to

government (G2G) dan government to citizen (G2C) Pemerintah Kabupaten Boyolali menyediakan layanan (VOIP) voice of internet protocol yaitu layanan telepon secara gratis, tidak hanya itu saja masih ada beberapa layanan online untuk masyarakat seperti pajak, pelayanan terpadu satu pintu, pengaduan, pencatatan sipil dll. Layanan dengan memanfaatan media online seperti itu harus didukung dengan adanya layanan untuk mengakses internet maka dari itu penyediaan layanan Wi-Fi di tempat publik dan Kompleks Pemerintahan Terpadu yang berada di Kabupaten Boyolali dilakukan sebagai sarana dan memfasilitasi dalam meng-akses internet. Akan tetapi terdapat masalah yang muncul seperti yang diungkapkan oleh Wiwis (2016), bandwidth yang masih harus terus dikembangkan serta jaringan internet yang tidak lancar. Masalah tersebut dapat menjadi salah satu hal yang menghambat dalam penerapan Boyolali smart city. Permasalahan tesebut harus menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Boyolali karena sebagaimana yang digambarkan oleh Pereira et al (2018), bahwa dasar dari terbentuknya e-government dalam smart city adalah ketersediaan teknologi yang memadai.

Ketersediaan layanan Wi-Fi di Kabupaten Boyolali merupakan salah satu layanan yang mendukung e-government dan telah terwujud walaupun masih ada masalah yang dihadapi. Layanan tersebut harus selalu diamati kualitasnya dan menjadi perhatian utama dalam rangka mewujudkan kota smart city yang baik. Seperti masalah masalah lain, kualitas layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali harus selalu dipantau karena dapat mempengaruhi dari kepuasan pengguna layanan. Kepuasan pengguna merupakan cerminan dari kinerja sebuah layanan sehingga akan muncul suatu nilai dari pengguna layanan tersebut. Hal itu dijelaskan oleh Fikri et. al (2016), bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas layanaan terhadap kepuasan pengguna.

Kepuasan pengguna menjadi penting untuk menjadi perhatian karena dari kepuasan pengguna tersebut lahir gagasan gagasan baru dari pengguna untuk kemajuan organisasi atau penyedia layanan tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh Kolter (2003), bahwa individu yang puas dapat memberikan gagasan baru untuk organisasi. Berdasarkan dari kondisi yang telah dijabarkan tersebut. Dalam penelitian ini organisasi atau penyedia layanan yang dimaksud

(10)

10 adalah Pemerintah Kabupaten Boyolali dan pengguna dari layanan ini adalah masyarakat Kabupaten Boyolali sehingga penulis tertarik untuk meneliti mengenai analisis pengaruh kualitas layanan Wi-Fi terhadap kepuasan pengguna untuk mendukung Boyolali smart city.

1.3 Perumusan Masalah

Dalam menerapkan smart city terdapat smart government didalamnya. Untuk meningkatkan layanan, mempermudah dan mempercepat komukasi antar kecamatan yang berada di Boyolali, pemerinah daerah memasangkan wifi di setiap kantor kecamatan. Hal tersebut merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan Boyolali smart city. Dengan semua pontensi untuk menjadi kabupaten yang maju dalam bidang ekonomi, pertanian dan teknologi yang dimiliki Kabupaten Boyolali sebagai smart city menjadikan alasan utama untuk menjadikan Kabupaten Boyolali sebagai objek penelitian.

Akan tetapi, dalam setiap penerapan hal baru terdapat masalah baik dari individu, organisani maupun lingkungan. Seperti halnya Kabupaten Boyolali yang baru dalam penerapan smart city dibandingkan kota lain utamanya kota kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Permasalahan yang muncul di Kabupaten Boyolali merupakan bagian kualitas layanan yang ada untuk menunjang program smart city yaitu sarana untuk akses internet atau layanan Wi-Fi pada Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali,bandwidth yang masih dalam proses pengembangan dan kecepatan internet yang masih kurang.

Adanya permasalahan dalam layanan Wi-Fi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi pada kepuasan pengguna. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh kualitas layanan Wi-Fi terhadap kepuasan pengguna untuk mendukung Boyolali smart city (studi kasus Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali).

(11)

11 1.4 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas muncul beberapa pertanyaan dari penelitian “analisis pengaruh kualitas layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali terhadap kepuasan pengguna dalam penerapan Boyolali smart city” sebagai berikut

1. Bagaimana kualitas layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali dalam penerapan Boyolali smat city?

2. Bagaimana kepuasan pengguna layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali?

3. Bagaimana pengaruh kualitas layanan Wi-Fi terhadap kepuasan pengguna?

1.5 Tujuan Penelitian

Dalam penelilitian ini penulis memiliki tujuan dan maksud sebagai berikut:

1. Dapat mengetahuidan menganalisis bagaimana kualitas layanan Wi-Fi

Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali dalam penerapan Boyolali smart city.

2. Dapat mengetahui dan menganalisis bagaimana kepuasan pengguna layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali.

3. Dapat mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaruh kualitas layanan Wi-Fi terhadap kepuasan pengguna dalam penerapan Boyolali smart city.

1.6 Manfaat Penelitian

Penulis melakukan penelitian berdasarkan teori yang telah dipelajari dan fakta yang terjadi di lapangan, diharapkan dapat memberi manfaat, yaitu:

1.6.1 Aspek Teoritis

Penelitian ini diharapkan meningkatkan wawasan penulis mengenai pemanfaatan teknologi informasi, komunikasi dan peningkatan layanan publik. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian dimasa yang akan datang yang berkaitan dengan penelitian ini.

(12)

12 1.6.2 Aspek Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi untuk

pemerintah untuk mengambil keputusan dalam pengembangan smart city

Kabupaten Boyolali.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian membahas mengenai analisis kepuasan pengguna terhadap layanan Wi-Fi Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali sehingga penelitian ini dibatasi oleh subjek dan objek yang diperlukan dalam penelitian. 1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Sistematika penulisan menjelaskan secara garis besar mengenai gambaran penelitian yang dilakukan oleh penulis dan menguraikan hasil penelitian secara sistematik. Adapun sistematika yang digunakan adalah sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan gambaran umum objek penelitian, latar belakangdilakukannya penelitian, perumusan masalah, pertanyaan masalah, tujuanpenelitian, serta manfaat penelitian, dari penelitian yang dilakukan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

Menjelaskan teori dan metode yang digunakan untuk menjelaskan masalah dalampenelitian yang meliputi penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan ruanglingkup penelitian yang digunakan.

BAB III: METODE PENELITIAN

Membahas mengenai metode yang digunakan, jenis dari penelitian, variabel penelitian, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data, dan teknik analisis yang digunakan untuk dapat menjawab permasalahan dalam penelitian. BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Menjelaskan dan membahas mengenai hasil pengolahan analisa data yang telah didapatkan menggunakan metode yang telah ditetapkan pada bab sebelumnya. BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan akhir yang diperoleh dari penelitian, saran-saran untuk objek penelitian ataupun pihak lainnya agar dapat memperoleh manfaat dari penelitian ini.

Gambar

Gambar 1.1: Peta Jawa Tengah
Gambar 1.3: Kompleks Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali
Gambar 1.4: Gedung Kantor Bupati Boyolali
Gambar 1.7:  Tampilan Web Boyolali
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk mengambil judul untuk laporan Tugas Akhir ini adalah “pengaruh promosi melalui media

Berdasarkan latar belakang di atas, selanjutnya dibuat rumusan masalah.Rumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian, yang jawabannya dicari melalui penelitian.Jadi

Di bab ini berisi tentang latar belakang masalah yang berfungsi untuk memberikan gambaran tentang masalah yang akan diteliti, rumusan masalah yang menjadi pertanyaan yang harus

Dari hasil latar belakang dan identifikasi masalah yang diuraikan, maka objek perancangan yang menjadi rumusan masalah yaitu bagaimana memberi tahu pemain gitar

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, permasalahan yang ingin diangkat dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan sebuah pertanyaan yaitu “Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Trimester III dengan Hipertensi dalam

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan beberapa masalah penelitian yaitu : Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan