KARIER WANITA DALAM ISLAM

19 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SYARI’AH

Journal of Indonesian Comparative of Syari’ah Law

KARIER WANITA DALAM ISLAM

(Kritik atas Pemikiran Feminisme &

Gender)

Firda Inayah

firda.inayah@unida.gontor.ac.id Universitas Darussalam Gontor

Abstract

One of the problems facing Muslims today is the development of feminism and gender issues. This issue is globalizing among Muslims, even the virus has been spreading in various areas of life, one of which is in the world of career. Where, careers are used by feminism as a place of emancipation of women from the dominance of patriarchy, by forcing women to play a role in and outside the home quantitatively. This kind of experience is certainly contradictive to Islam. From the existing problems, this paper aims

to examine women’s careers in Islam as an answer to the challenges of contemporary

thinking discourse of feminism and gender thought studies. In this study, researchers used qualitative research with descriptive methods of analysis. Based on existing research, that the role of a man or woman inside and outside the home is governed by revelation. As will be proven later that in a career, a woman cannot be equal to man equally. Islam does not forbid woman in careers except by the sharia. Even the empowerment of woman in

the history of Islamic civilization has been exemplified by the Ummahāt al-Mu’minīn as

well as the S}ah}ābiyyah. Thus, it is naive that there is still a Muslim who thinks feminism

can provide a solution to the problems of woman in the world.

Kata kunci:Feminism, Gender, Woman’s Position, Career, Career Law.

Abstrak

Salah satu problem westerinasi yang dihadapi umat Islam saat ini ialah berkembangnya isu feminisme dan gender. Isu ini tengah mengglobal di kalangan umat Islam, bahkan virusnya telah menggejala di berbagai ranah kehidupan, salah satunya dalam dunia karier. Dimana, karier dimanfaatkan oleh kaum feminisme sebagai ajang emansipasi wanita dari dominasi kaum patriarki, dengan cara memaksa wanita untuk berperan di dalam maupun di luar rumah secara kuantitatif. Pengalaman seperti ini

(2)

tentu bertolak belakang dengan Islam. Dari permasalahan yang ada, tulisan ini bertujuan mengkaji tentang karier wanita dalam Islam sebagai jawaban atas tantangan pemikiran kontemporer diskursus studi pemikiran feminisme dan gender. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Berdasarkan penelitian yang ada, bahwa peran seorang lelaki maupun wanita dalam Islam telah diatur berdasarkan wahyu. Seperti yang akan dibuktikan nanti, bahwa dalam dunia karier, seorang wanita tidak bisa disetarakan dengan kaum lelaki secara sama. Islam memang tidak melarang wanita dalam berkarier, kecuali dengan ketentuan dan

syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syari’at. Bahkan pemberdayaan wanita dalam

sejarah peradaban Islam telah dicontohkan oleh para Ummahat Mukminin maupun para Shahabiyyah. Dengan demikian, sungguh naif jika masih ada seorang Muslim yang masih menganggap feminisme dapat memberikan solusi bagi permasalahan wanita di dunia.

Kata kunci:Feminisme, Gender, Kedudukan Wanita, Karier, Hukum Karier.

Pendahuluan

Perbincangan mengenai karier dalam tatanan kehidupan tidak dapat dipisahkan dari peranan seseorang. Dalam Islam, peran seorang lelaki maupun

wanita dalam Islam, baik di keluarga (domestik) maupun di masyarakat (ruang publik)

telah diatur berdasarkan wahyu.1 Sebagai contoh, di sepanjang sejarah Islam,

di belahan dunia mana saja, tanggungjawab seorang lelaki sebagai pemimpin

keluarga adalah perkara yang lazim dalam agama Islam (ma’lūm min ad-dīn bi

adz-dzarūrah).2 Artinya, konsep Islam tentang pembagian peran lelaki dan perempuan

itu bersifat universal dan final.

Namun, konsep final tersebut kini mengalami distorsi akibat westernisasi,

dimana peranan lelaki dan wanita mulai dirusak oleh kaum feminisme. Seperti

yang diketahui, bahwa kaum feminisme dengan semangat gender equality

memandang peranan seorang lelaki maupun wanita sebagai produk budaya

yang sifatnya tidak tetap dan bisa dipelajari serta dipertukarkan.3 Dalam masalah

karier, kaum feminisme memaksakan kaum wanita untuk berkarier dan berperan di sektor publik demi mewujudkan kesetaraan gender secara kuantitatif yaitu

lelaki maupun wanita harus sama-sama (fifty-fifty). Bahkan untuk mewujudkan

agenda tersebut, mereka berupaya mengubah image wanita yang berkaitan dengan

sifat-sifat feminine, yaitu pengasuh, keibuan, lembut, dan sebagainya.4 Tentu

1Lihat; Qs. an-Nisa’ (4); 34

2Baca; Adian Husaini, Seputar Paham Kesetaraan Gender, Kerancuan, Kekeliruan, dan Dampaknya,

(t.p.,t.t.), p. 12

3Baca; Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, (CIOS: Unida Ponorogo, Cet.2, 2015), p. vi

(3)

pandangan seperti ini telah menyalahi fitrah dan kodrat wanita.

Lebih jauh, dalam program pembangunan nasional, kaum feminisme berupaya meminjam kuasa Undang-Undang untuk mensukseskan misi kesetaraan gender. Bukti nyata dari agenda tersebut ialah pembentukan Rancangan Undang- Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG), yang berambisi meminta jatah untuk wanita minimal 30% posisi di semua lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Sebagaimana yang tertulis dalam Pasal IV;

“… perempuan berhak memperoleh tindakan khusus sementara paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dalam hal keterwakilan di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan berbagai lembaga pemerintahan non-kementerian, lembaga politik, dan lembaga non-pemerintah, lembaga masyarakat di tingkat daerah, nasional, regional dan internasional.” (pasal 4, ayat 2).5

Pernyataan di atas menunjukkan kesalahan berpikir perumus naskah RUU KKG. Dimana menikmati dan berpartisipasi dalam pembangunan mengharuskan partisipasi wanita di luar rumah. Ini artinya, pegiat KKG memaksa wanita untuk aktif di ruang publik. Padahal tidak semua wanita setuju dengan pola pikir dan pemaksaan seperti itu. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan aktivitas wanita sebagai istri pendamping suami dan pendidik anak-anaknya di rumah, tidak dianggap sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan. Pemaksaan seperti ini menunjukkan bahwa perancang RUU KKG terpengaruh oleh gagasan kaum Marxian dalam memandang keluarga, dimana laki-laki sebagai pemimpinnya adalah bentuk penindasan terhadap kaum wanita. Tidak ada di benak kaum Marxis ini, bahwa ketaatan seorang istri terhadap suami adalah suatu bentuk

ibadah kepada Allah Subh}ānahu wa Ta’ālā. Tidak terlintas di benak mereka, betapa

bahagianya seorang Muslimah saat mentaati suami, sebagai bentuk ketaatan

kepada Allah Subh}ānahu wa Ta’ālā.6

Dari penjabaran yang ada, secara umum nampak bahwa sebuah paksaan yang dilakukan oleh kaum feminisme atas peranan wanita di publik tidak lain juga merupakan sebuah penilaian materialistik tentang kebermaknaan seorang berusaha menghancurkan institusi keluarga. Menganggap keluarga sebagai musuh, bahkan cikal bakal segala ketimpangan sosial, terutama hubungan yang timpang antara suami dan istri. Sehingga bahasa yang dipakai dalam gerakan feminism mainstream adalah bahasa baku yang mirip dengan gerakan lainnya yang kekiri-kirian. Yaitu bagaimana mewujudkan kesetaraan gender melalui proses penyadaran bagi yang tertindas, pemberdayaan kaum tertindas, perubahan struktural atau revolusi, penyebaran

isu antikemampuan atau antikaum borjuis. Baca; Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?, (Bandung:

Mizan, 1999), p. 11

5Adian Husaini, Seputar Paham Kesetaraan Gender…, p. 5

(4)

wanita. Sehingga yang terjadi, wanita dikatakan mulia ketika mampu menghasilkan uang dan memiliki jabatan tinggi. Sementara keikhlasan dan kesabaran seorang wanita sebagai ibu rumahtangga sebagai sumbangan non material dianggap tidak

penting dan tidak berarti.7 Akibatnya, kaum wanita cenderung meremehkan

tanggungjawabnya, menganggap peran seorang Ibu rumah tangga yang merupakan karier universal sebagai pekerjaan rendahan, bahkan musuh yang harus dihilangkan atau diperkecil peranannya.

Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa gerakan feminisme berupaya menjauhkan wanita dari nilai-nilai aqidah dan keimanan. Mereka ingin umat

Islam untuk meniggalkan ajaran Islam sebagai way of life yang haq. Menyikapi

problem yang ada, maka diperlukan penyadaran kembali akan tugas, peran, dan tanggungjawab wanita dalam Islam. Maka seperti apakah konsep karier wanita dalam Islam? jawaban atas pertanyaan inilah yang menjadi tujuan utama makalah ini untuk tidak bias dilewatkan begitu saja.

Pengertian Wanita Karier

Dari segi bahasa, istilah “karier” merupakan sebuah kata dari bahasa

Belanda; carrier adalah perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan seseorang.

Karier dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai

perkembangan dan kemajuan baik pada kehidupan, pekerjaan atau jabatan; pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Sementara kalimat “wanita

karier” dalam KBBI dimaknai sebagai wanita yang berkecimpung dalam kegiatan

profesi (usaha, perkatoran).

Pengertian singkat di atas kilas menunjukkan bahwa wanita karier tidak jauh berbeda dengan wanita pekerja. Beberapa cendekiawan memiliki perbedaan pendapat dalam memahami istilah wanita karier dan wanita pekerja. Sebagaimana

pendapat A. Hafiz Anshary A.Z., ia membedakan pengertian dua kategori

tersebut. Menurutnya, mereka disebut sebagai wanita karier ialah wanita-wanita yang menekuni profesi atau pekerjaannya dan melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan hasil dan prestasinya. Lebih lanjut, wanita karir adalah wanita sibuk, wanita kerja, yang waktunya di luar rumah lebih banyak daripada di

dalam rumah.Sementara wanita bekerja ialah mereka yang hasil karyanya dapat

7Sebagaimana pendapat feminisme Muslim seperti Aminah Wadud menganggap bahwa tugas

child bearing (mengurus anak) dan domestic housework (tugas rumah tangga) adalah tugas hina dan tidak

bermakna (demeaning and meaningless). Baca; Amina Wadud, Qur’an and Woman, (Kuala Lumpur: Penerbit

(5)

menghasilkan imbalan keuangan. 8

Menyoal wanita bekerja dapat dikelompokkan menjadi dua bagian; pertama, bekerja sebagai sarana hobby, pengembangan bakat dan karier; kedua, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kelompok pertama lebih condong pada pengembangan bakat, dan perumusan materi bukanlah hal yang diutamakan. Sementara kelompok kedua, lebih mengutamakan pekerjaan untuk kebutuhan

materi.9 Dari uraian yang ada, nampak bahwa istilah wanita karier dan wanita

pekerja memiliki perbedaan tipis. Diantara perbedaannya terletak pada motivasi utamanya, dalam berkarier seseorang cenderung memprioritaskan status sosial atau jabatannya bukan status ekonomi, sementara bekerja lebih tertuju kepada pemenuhunan kebutuhan ekonomi. Walau demikian, tidak dipungkiri bahwa keduanya sama-sama berorientasi menghasilkan uang dan peranan di publik untuk memperoleh kemajuan.

Fitrah Wanita Dalam Berkarier

Pada bagian pendahuluan disebutkan bahwa kaum feminisme mainstream berusaha mewujudkan kesetaraan gender secara kuantitatif, yaitu lelaki dan

wanita harus sama-sama (fifty-fifty) berperan baik di luar maupun di dalam rumah.

Pertanyaannya; Mungkinkah hal tersebut disetarakan? Bisakah wanita berperan di luar rumah (berkarier) secara setara dengan laki-laki?

Sebagai jawaban serta bantahan atas pendapat kaum feminis, umat Islam harus paham bahwa tugas, peran dan tanggungjawab lelaki dan wanita dalam keluarga maupun di masyarakat telah diatur berdasarkan pada wahyu Allah, dan tidak semuanya merupakan produk budaya. Ada peran yang berubah, dan ada yang tidak berubah. Yang menentukan peran bukanlah budaya, tetapi wahyu

Allah, yang telah dicontohkan pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad S}allallāhu

‘alayhi wa Sallam. Ini karena memang Islam adalah agama wahyu, yang ajaran-ajarannya ditentukan berdasarkan wahyu Allah, bukan berdasarkan konsensus

sosial atau budaya masyarakat tertentu.10

Dalam Islam, secara fitrah peran dan kedudukan wanita telah di tetapkan

8Baca; A. Hafiz Anshary A.Z. dan Huzaimah T. Yanggo (ed.), Ihdad Wanita Karir, dalam

Problematika Hukum Islam Kontemporer (II), (Jakarta : Pustaka Firdaus, Cet. III, 2002), p. 11-12; Juga; Tapi

Omas Ihromi, Wanita Bekerja dan Masalah-Masalahnya, (Jakarta : Pusat Pengembangan Sumber Daya

Wanita, 1990), p. 38

9Hartini, Peranan Wanita Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Keluarga Melalui Usaha

Ekonomi Produktif, (Yogyakarta : Departemen Sosial RI, 1989), p. 9

(6)

dan dimuliakan oleh Allah dalam tiga hal.11 Pertama, wanita dimuliakan sebagai

seorang Ibu, dimana seorang anak diperintahkan Allah untuk berbakti kepadanya.12

Kedua, wanita dimuliakan sebagai anak dan suadara perempuan, dimana seseorang

diperintahkan untuk berbuat baik kepadanya.13Ketiga, wanita dimuliakan sebagai

seorang istri,14 dimana seorang suami harus memperlakukannya dengan baik serta

diwajibkan untuk menafkahinya.15 Semua kemuliaan ini hanya ada dalam Islam, dan

tidak terdapat pada peradaban-peradaban lain, sekalipun peradaban Barat. Sehingga wanita Muslimah tidak seharusnya merasa silau dengan pemikiran-pemikiran kaum feminisme. Sebab isu tentang hak dan kesetaraan yang digaungkan-gaungkan oleh Barat tidak lain disebabkan oleh penolakan wanita Barat terhadap doktrin gereja yang memarginalkan kaum wanita selama berabad-abad. Dimana doktrin gereja telah mengekang hak-hak wanita dan menganggap mereka sebagai masyarakat

kelas dua.16 Dengan demikian mustahil apabila umat Islam memandang bahwa

kaum feminisme dapat memberi solusi bagi perasalahan wanita di dunia Islam. Di luar peranan yang telah disebutkan di atas, perlu diketahui bahwa secara

fitrah wanita juga sama dengan lelaki yang diciptakan Allah sebagai khalifah

di bumi.17 Dimana seorang khalifatullah terbebani oleh tiga tugas; pertama,

tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, yaitu menuntut ilmu dan berakhlak

mulia; kedua, tugas kekhalifahan dalam rumah tangga, yaitu membentuk rumah

tangga yang Sakinah mawaddah wa rahmah; dan ketiga, tugas kekhalifahan

dalam masyarakat, yaitu menegakkan kesatuan, amar ma’ruf nahy munkar, dan

menolong orang yang lemah.18

11‘Adnān ayfullāh ‘Abdullāh, ukmu ‘Amal al-Mar’ah fī al-Fiqh al-Islāmī, ( Oman- Yordania: Dār

al-Atsariyyah, cet. 1, 2007), p. 28-30

12Lihat; Qs. Ahqaf (46); 15. Lihat juga hadits; Muhammad Ibn Ismā’īl Ibn Ibrāhīm Ibn

al-Mughīrah al-Bukhārī, al-Jāmi’ al Musnad aṣ-Ṣaḥīh al-Mukhtaṣar min Umūr Rasūlulāh Ṣallallāhu ‘Alayhi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyāmihi(Ṣaḥīh al-Bukhārī), Kitab Adab, no. 5971, (Beirut: al-Maktabah al-‘Uṣriyyah, 2001), yang berbunyi;

.كوبأ لاق ؟نم ث ؛لاق ،كمأ« لاق ؟نم ث ؛لاق ،»كمأ« ؛لاق ؛نم ث ؛لاق »كمأ« لاق ؟ةباحصلا نسحس قحأ سانلا يا ؛ملسو هيلع الله ىلص بينلا لأس لاجر نأ ؛هنع الله يضر ةريره بيأ نع

13Lihat dalil hadits dalam; al-Bukhārī, al-Jāmi’ al Musnad as}-S}ah}īh.., Kitab Zakat, no. 1418; Lihat

juga; Muslim Ibn al-H{ujaj an-Nīsābūrī, al Musnad as}-S}ah}īh al Mukhtas}ar min as-Sunanni bi Naqli al-‘Adl

‘An al-‘Adl ‘An Rasūlillāh Rasūlulāh S}allallāhu ‘Alayhi wa Sallam (S}ah}īh Muslim), Kitab al-Bir wa as}-S}alāh, no. 2637, (Beirut: Dār Ih}yā’ at-Turāts al-‘Aroby,tt)

14Lihat; Qs. ar-Rum (30); 21; Qs. An-Nisa (4); 19

15Lihat; Qs. at-Talaq (65); 7

16Baca; McKay, John P. Bannet D. Hill and John Buckler, A History of Western Society, Second

Edition, (Boston: Houghton Mifflin Company, 1983), p. 437-541; Baca juga; Dinar Dewi Kania, Isu

Gender; Sejarah dan Perkembangannya dalam Jurnal Islamia,Vol III, No. 5, (Jakarta: Khayrul Bayaan

Press, 2010), p. 27-30

17Lihat; QS. Al-Baqarah (2): 30; QS. Shaad (38): 26; Qs. An-Naml (27): 62

18Baca; Abu Bakar Muhammad, Membangun Manusia Indonesia seutuhnya Menurut AlQur’an,

(7)

Karena dicipatakan sebagai khalifah maka lelaki maupun wanita membawa

beberapa konsekuensi. Diantaranya; pertama, sebagai manusia harus senantiasa

mengembangkan diri untuk mendapatkan manfaat dari pengelolaan alam; kedua,

perbedaan kodrati antara lelaki dan wanita akan menuai peran yang berbeda; ketiga,

hakikat manusia menyebabkan adanya hak asasi yang menjadi hak manusia;19

keempat, wanita sebagai manusia memiliki hak-hak khusus disamping hak manusia secara umum, karena mereka mengemban peran-peran tertentu yang tidak bisa

digantikan oleh kaum lelaki.20

Dari penjabaran di atas, nampak bahwa wanita memiliki amanah ganda, karena diluar amanahnya sebagai khalifah ia masih menerima sebuah konsekuensi khusus yang tidak bisa digantikan oleh lelaki. Amanah tersebut ialah amanah

reproduksi yang telah menjadi fitrah alami seorang wanita, dimana ia harus

mengandung, melahirkan, dan menyusui.21 Karena pengkhususan amanah inilah,

maka dapat dipastikan bahwa hanya wanita yang dapat menjalankan tugas keibuan

dengan baik. Pengkhususan ini menujukkan bahwa memang secara fitrah wanita diciptakan berbeda dengan laki-laki dari segi biologi-fisiologi, mental dan emosi.22

Lebih jauh, perbedaan tersebut sangat berpengaruh terhadap peranan wanita dalam menjalani kehidupan sosial, termasuk dalam berkarier. Bahwa seoarang wanita tidak dapat dipaksakan untuk bertindak seperti laki-laki yang

cenderung bebas dan aktif di ranah publik. Karena secara fitrah wanita berbeda

dengan laki-laki dalam beberapa hal. Diantara perbedaan tersebut ialah; pertama,

perbedaan fisik. Dalam hal ini, laki-laki dikaruniai fisik yang lebih kuat sehingga

mampu menerima tantangan keras untuk bekerja di luar rumah. Sementara wanita dengan segala kelemah lembutannya diciptakan untuk tetap berada di

rumah untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Kedua, perbedaan

hormon. Ketiga, perbedaan kondisi fisik dan psikis, diantaranya wanita cenderung

mudah tersinggung, temperamental, terlebih pada masa haidh. Keempat, perbedaan

susunan otak. Otak laki-laki lebih unggul dibanding otak wanita, itulah sebabnya

19Secara umum terdapat tiga hak manusia baik untuk lelaki maupun wanita ialah; (1) hak untuk

hidup, (2) hak untuk bebas dalam; berfikir, berpolitik, beragama, bekerja, dan lain sebagainya, dan (3)

hak sebagai warga masyarakat. Lihat; Muh}ammad ‘Umar al-H}ājī, An-Nisā’ Syaqā’iq ar-Rijāl, (t.k.p: Dār

al-Maktabī, t.t), p. 149-50

20Baca; Lily Zakiyah Munir, Memposisikan Kodrat Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam,

(Bandung: Mizan, 1999), p. 54-55

21Istiadah, Pembagian Kerja Rumah Tangga, (Jakarta: Lembaga Kajian Agama &

Jender, 1999), p. 45-46

22Baca; Khalif Muammar, Wacana Kesetaraan Gender: Islamis Versus Veminis Muslim dalam

(8)

laki-laki cenderung mendominasi aktifitas publik.23

Dari penjabaran yang ada, secara tidak langsung menunjukkan bahwa

perbedaan antara lelaki dan wanita secara biologis maupun fisiologis akan

berpengaruh pada pola tingkah laku. Sehingga wajar apabila didapati perbedaan perlakuan antara lelaki dan wanita. Sebagai contoh, dalam dunia karier, perbedaan perlakuan antara tenaga kerja wanita dengan tenaga kerja lelaki sangat diperlukan, seperti pemberian cuti hamil, cuti haid, jam kerja malam, dan sebagainya. Perbedaan inilah yang sejatinya menjadi alasan mengapa kaum feminisme selalu gagal dalam mewujudkan misi keseteraan gender dengan memaksa kaum wanita

untuk berperan setara dengan kaum lelaki di publik secara fifty-fifty. Karena

apa yang mereka agendakan telah melampaui batas fitrah dan kemampuan

wanita. Maka dilain sisi, tidak mengherankan jika kaum feminisme sendiri merasa ambivalensi dengan keputusan dan aturan yang mereka buat. Sehingga asumsi kaum feminisme yang mengatakan perbedaan jenis kelamin tidak perlu mengakibatkan perbedaan peran dan perilaku gender dalam tataran sosial telah terpatahkan.

Hukum Wanita Karir

Tidak dipungkiri bahwa berpikir dan bekerja adalah tabiat manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa wanita juga memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan laki-laki untuk terlibat dalam kehidupan sosial. Artinya wanita juga harus ikut serta untuk berkontribusi dalam pembangunan negara, baik dalam bidang pendidikan, dakwah, ekonomi, politik, dst. Namun hal ini juga akan menjadi konsekuensi tersendiri bagi wanita, melihat tugas dan

tanggungjawabnya dalam rumah tangga adalah yang utama.24 Dalam hal ini, para

ulama bersepakat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada larangan bagi wanita

untuk berkarier, namun perlu adanya sebuah aturan dan batasan sesuai syari’at

yang harus dijalankannya, agar wanita mampu menjalankan tugasnya sesuai

23Baca; Muammad ‘Aly al-Bār, ‘Amal al-Mar’ah fī al-Mīzān, (t.k.p: Dār as-Su’ūdiyyah li an-Nasyri

wa at-Tawzī’, t.t), p. 44-50. Lihat juga; ‘Adnān Ḍayfullāh ‘Abdullāh, Ḥukmu ‘Amal al-Mar’ah…, p. 35-40

24Sebagaimana yang dijelaskan oleh Maisar Yasin bahwa seorang wanita dalam segala lapisan

pekerjaan maupun profesinya untuk tetap mengutamakan tugas dan kewajibannya, yaitu; pertama,

menuntut ilmu. Ilmu disini dimaksudkan ilmu tabiat yang berkaitan dengan wanita, serta disiplin

ilmu-ilmu agama (ilmu fardhu ‘ain) sebagai bekal dalam menjalankan tugas seorang ibu untuk kemaslahatan

hidup di dunia dan akhirat; kedua, menjalankan tugas dan kewajibannya dalam keluarga, yaitu menjalankan

kewajibannya atas suami, anak, dan keluarga dengan baik; ketiga, memberikan sebaik-baik pendidikan

untuk anak-anaknya, baik dari segi akhlak, jasmani, dan akal. Lihat; Maysar Bintu Yāsīn, Makānaki

(9)

dengan fitrah dan tidak melampaui batas kemampuannya.25

Detailnya, para ulama menjelaskan bahwa kewajiban wanita di luar rumah berkaitan dengan hukum keluarnya wanita dari rumah. Sementara penjelasan tentang hukum keluar rumah tidak lepas dari hukum ketatapan wanita di dalam rumah. Dari sini seorang wanita Muslimah hendaknya memahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah rumahnya. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Qs. al-Ahzab (33); 33. Menurut pendapat para Mufassir sebagaimana

yang dikutip oleh Ibn Jazari bahwa ayat yang berbunyi “ ”, lafadz “

“ mencakup dua bacaan; pertama, huruf “qaf berkasrah” ( ), dan kedua,

huruf “qaf berfathah” ( ).26 Menurut al-Qurthubi, bacaan pertama membawa

dua maksud; pertama, dimaksudkan sebagai “ ” yakni wibawa atau martabat.

Dikatakan “ ” yang berarti “ ” atau menempati/mendiami. Sementara

kata perintah untuk mudzakkar “ ” berdiamlah, dan bagi muannas “ ”. Artinya,

maksud dari lafadz tersebut ialah perintah untuk berdiam atau menetap di rumah

akan menjadikan wanita lebih berwibawa atau bermartabat. Kedua, dimaksudkan

sebagai “ ”; dikatakan yakni menetap. Dimaksudkan bahwa wanita untuk

menetap di rumahnya.27 Sementara Ibn Katsir mengatakan bahwa ayat tersebut

dimaksudkan agar wanita menetap di rumah kecuali ada kebutuhan.28 Secara

keseluruhan pendapat para mufassir tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian “ ” dalam ayat tersebut tidak lain ialah; pertama, menetap di tempat; dan kedua,

wibawa. Sehingga ayat tersebut dimaksukan “menetaplah kalian para wanita di

rumah kalian, niscaya kalian akan menjadi wanita yang berwibawa”.29

Lebih lanjut, para Ulama berbeda pendapat tentang hukum ketetapan wanita untuk menetap di rumah. Diantara perbedaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua; kelompok pertama adalah pendapat para Jumhur

Mufassir, yang mewajibkan wanita untuk menetap di rumahnya.30 Pendapat

25Hak untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini tetap disesuaikan dengan kodrat masing-masing.

Allah telah menjelaskan hal ini dalam; QS. An-Nisa’(4): 124; Qs. Ali-Imron(3): 195; Qs. An-Nisa’ (4): 32, dan Qs. At-Taubah (9): 71-72

26Muh}ammad Ibn Muh}ammad ad-Damasyqī Ibn al-Jazarī, An-Nasyru fī al-Qirā’āt al-‘Asyri, Juz

II, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet, 1, 1998), p. 261

27Lihat; Muh}ammad Ibn Ah}mad al-Ans}ārī al-Qurt}ūbī, al-Jāmi’ li Ah}kām al-Qur’ān, Juz 14, (Beirut:

Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.1, 2000), p. 116. Baca juga; Muh}ammad Ibn ‘Aly Muh}ammad as-Syawkānī,

Fathu al-Qadīr, Juz IV, (Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Araby, t.t), p. 277

28Lihat; ‘Imāduddīn Abī al Fidā’ Ismā’īl al-Qursyī Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Adzīm, Juz III,

(Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 2001), p. 631

29Lihat penjelasan tentang pengertian qarār dalam; Adnān D}ayfullāh ‘Abdullāh, H}ukmu ‘Amal

al-Mar’ah…, p. 42-43

30Baca; al-Qurt}ūbī, al-Jāmi’ li Ah}kām al-Qur’ān, Juz 14,…, p.116; as-Syawkānī, Fathu al-Qadīr, Juz

(10)

ini dikuatkan dengan dua dalil; pertama, merujuk pada dalil naqli; Qs. al-Ahzab (33); 33, yang menjelaskan tentang perintah bagi kaum wanita untuk menetap

di rumahnya kecuali ada kebutuhan; kedua merujuk pada dalil ’aqli; sebaik-baik

tempat bagi wanita adalah rumahnya, dengan alasan menjaga wanita dari fitnah,

karena wanita adalah aurat. Selain itu juga sebagai bentuk ketaatan wanita terhadap

suami,31 serta peranan penting bagi wanita dalam mengasuh anak dan mengurus

rumah tangga.32 Hal ini merupakan bab saddu dzarāi’. 33

Sementara kelompok kedua adalah pendapat para s}ah}abah yang mengatakan

bahwa hukum menetapnya wanita di dalam rumah ialah mustahab. Sebagaimana

diikuti oleh para sahabat; Umar dan Utsman Radhiyallāhu ‘anhumā. Menurut

Ibn H}ajar al-‘Asqalānī, pendapat ini berdasarkan dalil dari al-Qur’an, Hadits,

dan Ijma’,34 dengan rincian berikut; pertama, berdasarkan dalil al-Qur’an, yaitu

Qs. an-Nisa (4); 15, yang menjelaskan tentang perintah untuk mengurung

wanita yang berbuat keji.35 Artinya, larangan untuk keluar rumah bagi wanita

disebabkan adanya perbuatan keji. Maka keluar rumah bagi wanita yang tidak sedang melakukan perbuatan keji diperbolehkan. Adapun dalil lain dari Qs. an-Nur (24); 30-31, tentang perintah agar lelaki dan wanita saling menundukkan pandangannya. Artinya, perintah menundukkan pandangan ini dibutuhkan ketika lelaki dan wanita berada dalam kerumunan. Maka hal ini menunjukkan kebolehan wanita keluar rumah, karena hal ini merupakan sebab adanya kebutuhan penjagaan pandangan.

Kedua, berdasarkan dalil hadits, yaitu hadits yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.”36 Hadits ini adalah anjuran bagi wanita untuk mencintai keadaanya

31Sebagaiamana sabda Rasūlullāh allallāhu ‘alayhi wasallam;

»تئش ةنلجا باوبأ يأ نم ةنلجا ليخدا ؛اله ليق ،اهجوز تعاطأو ،اهجرف تنصحو ،اهرهش تماصو ،اهسخم ةأرلما تلص اذإ«

Lihat; ‘Abdul ‘Adzīm Ibn ‘Abd al-Qawī al-Mundzirī Abū Muḥammad al-Mundzirī, At-Targhīb

wa At-Tarhīb min al-Ḥadīts asy-Syarīf, Taḥqīq; Ibrāhīm Syamsuddīn, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. 1, 1417), p. 2970

32Sebagaiamana sabda Rasūlullāh S}allallāhu ‘alayhi wasallam;

»اهتيعر نع ةلوؤسم هيو اهجوز تيب في ةيعار ةأرلماو ...هتيعر نع لوؤسم مككلو عار مككل«

Lihat; Muslim, Ṣaḥīh Muslim…, Kitāb Imārah, No. 1829; al-Bukhārī, al-Jāmi’ al Musnad aṣ-Ṣaḥīh..,

Kitab al-Jum’ah, No. 893

33Adnān D}ayfullāh ‘Abdullāh, H}ukmu ‘Amal al-Mar’ah…, p. 43

34Ah}mad Ibn ‘Aly Abū al-Fadhl al-‘Asqalānī asy-Syāfi’ī Ibn Hajar, Fathul Bārī Syarhu S}ah}īh Bukhārī,

Juz IV (Beirut: Dār al-Ma’rifah, 1379), p.2313-1314

35Menurut sebagian pendapat Mufassir, perbuatan keji tersebut dimaksudkan ialah perbuatan

zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum.

(11)

di dalam rumah. Artinya, anjuran ini tidak akan ada kecuali disebabkan oleh kecintaan wanita untuk pergi meninggalkan rumah. Selain itu, adanya hadits

tentang larangan seorang laki-laki melarang wanita untuk pergi ke masjid.37

Artinya, wanita diperbolehkan sholat di masjid jika mereka menginginkan. Sehingga perintah tentang ketetapan wanita di dalam rumah adalah mustahab. Meskipun pada kenyataannya, hukum kewajiban bagi wanita untuk menetap di rumah menjadikan sholatnya di rumah lebih afdhol daripada di masjid.

Sementara ketiga, berdasarkan dalil ijma’, sebagaimana yang telah

diriwayatkan oleh Umar Radhiyallāhu, bahwa Rasulullāh S}allallāhu ‘alayhi

wasallam mengizinkan istri-istrinya untuk melaksanakan haji dan umroh,

kemudian diikuti oleh Utsman, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Mughirah Bin Syu’bah, Mu’awiyah, dan sahabat lainnya tanpa ada pengingkaran terhadapnya.38

Dari seluruh pendapat para Ulama yang ada, menurut sebagian Ulama pendapat yang paling arjah ialah pendapat kelompok kedua, bahwa perintah

menetapnya (qarār) wanita dalam rumah ialah mustahab. Hal ini berdasarkan

kaidah us}uliyyah yang mengatakan bahwa asal dari perintah adalah wajib selama

tidak ada perubahan yang menyertainya (al ‘amru li al wujūb mā lam ta’ti qarīnatan

tus}arrifuhu lighayrihi).39Sementara yang terjadi bahwa perintah ketetapan wanita di

dalam rumah ini disebabkan oleh adanya tindakan, yaitu tindakan akan kepergian seorang wanita dari rumahnya. Hal ini sebagaimana yang telah disebuktkan oleh kelompok kedua tentang kebolehan wanita sholat di masjid.

Syarat & Ketentuan Wanita Karier

Setelah mengetahui hukum tentang kebolehan wanita untuk keluar rumah,

seorang wanita harus tetap memperhatikan aturan-aturan syari’at yang telah di tentukan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Abu ‘Ubaydah dalam kitabnya

yang berjudul “H}ukmu ‘Amal al Mar’ah fī al Fiqh al-Islāmī” terdapat empat syarat

utama yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak keluar rumah,40 yaitu;

Syaybah, al-Mus}naf fī al-Ah}ādīts wa al-Ātsār, tahqīq. Kamāl al-H}ūt, no. 2 (Riyad: Maktabah Ar-Rusydi,

1409), p. 157; Muh}ammad Ibn ‘Īsā Abū ‘Īsā at-Tirmidzī, Al- Jāmi’ al-Mukhtas}ar min as-Sunan an Rasūlillāh

S}allallāhu ‘alayhi wasallam wa ma’rifatu as-S}as}īh wa al-Ma’lūl wa mā ‘alayhi al-‘amal, (al-Jāmi’ as}-S}ahīh -Sunan at-Tirmdzī), Kitab Rid}ā’, bab 18 no. 1173, (Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī, t.t)

37Sebagaimana sabda Rasūlullāh S}allallāhu ‘alayhi wasallam; « » Lihat;

al-Bukhārī, al-Jāmi’ al Musnad as}-S}as}īh.., Kitab al-Jum’ah, Bab 13, No. 900; Muslim, S}ah}īh Muslim…,

Kitab Shalat, No. 42

38Lihat; Ibn Hajar, Fathul Bārī…, Juz IV, p. 2413

39Najmu Ad-Dīn Abī ar-Rabī’ Sulaymān Ibn ‘Abdi al-Qawī At-T}ūfī, Syarh Mukhtas}ar ar-Rawdhah,

Tahqīq. ‘Abdullāh at-Turkī, Juz 2, (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, Cet. 1, 1410), 365

(12)

pertama, mendapatkan izin dari wali;41 kedua, mengenakan pakaian syar’i, yaitu

dengan menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (Qs. An-Nur; 31), tebal dan tidak transparan, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok,

tidak memakai wewangian; ketiga; aman dari fitnah, maksudnya seorang wanita

yang keluar rumah senantiasa menjaga agama, kehormatan dan kesuciannya, sampai kembali ke rumahnya dengan keadaan aman. Dalam hal ini, Islam

memerintahkan wanita untuk menghindari khalwat (berduaan dengan laki-laki

yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya), ikhtilath (campur baur antara

laki-laki dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir), menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan sewajarnya,

tidak berlenggak lenggok); dan keempat; adanya mahram,42 hal ini sesuai dengan

hadits tentang larangan wanita keluar rumah tanpa mahramnya.43

Adapun pendapat ulama lain seperti Syekh S}ālih Fawzān dalam kitabnya

“Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi al-Mu’minat” yang mengatakan bahwa tiada larangan untuk wanita karier maupun wanita pekerja diluar rumah asalkan

memenuhi aturan-aturan syari’at, yaitu; pertama, pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat yang

tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki; kedua; pekerjaan boleh dilakukan

setelah pekerjaan pokok rumah terselesaikan, ketiga; pekerjaan dilakukan di

lingkungan wanita, seperti mengajar siswi dan merawat pasien wanita. Lebih jauh, beliau menyarankan bahwa wanita wajib menuntut ilmu, sehingga keluar rumah bukanlah sebuah larangan baginya, termasuk mengikuti majlis keilmuan

41Wali adalah kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyyah (garis keturunan), sisi

sababiyyah (tali pernikahan, yaitu suami), sisi ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan sisi pemimpin, yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim. Jika wanita tersebut sudah menikah,

maka harus mendapat izin dari suaminya. Baca; Abdul Karim Zidan, al Mufas}s}ol fi Ah}kām al Mar’ah wa

al Bayt al Muslim fī as-Syarī’ah al-Islāmiyyah, Juz 6, (Beirut: Mu’assasah Risalah, 1993, cet. 3), p. 363-365

42Mahram disini dimaksudkan ialah seorang suami, dan juga semua orang yang haram untuk

dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syari’at Islam. Lihat;

Adnān D{ayfullāh ‘Abdullāh, H{ukmu ‘Amal al-Mar’ah…, p. 58

43Sebagaimana sabda Rasūlullāh Sallallāhu ‘alayhi wasallam; } « Lihat;

al-Bukhārī, al-Jāmi’ al Musnad as-S} }ahīh.., } Kitab Jazā’ as}-S}haydi, Bab Haj an-Nisā’ No. 1862; Muslim, S{ahīh Muslim…, }

Kitab Haji, No. 1341. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat antar Fuqahā tentang kepergian seorang

wanita tanpa mahram. Diantaranya terdapat dua pendapat; pertama, larangan bagi wanita keluar rumah

sendirian tanpa adanya suami ataupun mahromnya yang menemaninya. Pendapat ini adalah pendapat Jumhur Fuqahā baik dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali; kedua, pendapat madzhab Syafi’i yang membolehkan wanita pergi tanpa mahram, melainkan bersama rekan atau kawannya yang dapat dipercaya jika tidak ada mahram. Namun pendapat yang paling arjah ialah pendapat pertama, bahwa

seorang wanita tidak boleh bepergian tanpa mahramnya. Baca; Sa’dī Abū H{abīb, Mawsu’ah al-Ijmā’, Juz

1, (Qatar: Dār Ih}yā’ at-Turāts al-Islāmī, t.t), p. 293; Juga; Muh}yiddīn Ibn Syaraf An-Nawawī, al-Majmū’, Tah}qīq; Mah}mūd Mut}rah}ī, Juz 8, (Beirut: Dār al-Fikri, 1417), p. 243

(13)

di masjid-masjid dengan batasan tidak bercampur dengan laki-laki.44

Dari penjelasan yang ada dapat disimpulkan bahwa Islam membolehkan wanita karier maupun wanita bekerja di luar rumah selama hajat dan tujuannya

jelas. Dengan syarat mengikuti aturan-aturan syari’at dan tidak melampaui batas fitrahnya. Melihat peranan wanita yang sangat penting dalam rumah, maka

hendaknya seorang wanita tidak melupakan tujuan pokok dan fungsinya sebagai Ibu rumah tangga apabila wanita tersebut sudah menikah. Sehingga sudah menjadi konsekuensi bagi wanita karier atas pekerjaannya di luar rumah sebagai beban tambahan yang harus ia tunaikan. Itulah mengapa, menjadi wanita karier tanpa tujuan dan maslahat adalah sebuah kerugian yang nyata bagi dirinya dan keluarganya.

Kiprah Wanita Muslimah dalam Sejarah

Memang tidak diragukan bahwa karier utama seorang wanita berada di dalam rumahnya, namun adalah menyesatkan jika ada yang mengatakan bahwa karier yang mulia hanya menyangkut soal memasak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga saja. Karena karier bersangkutan dengan tugas merawat manusia, tua dan muda; dan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah. Ia membutuhkan kebijaksanaan yang matang, kecerdasan, seni, kreativitas,

ketrampilan, dan pengalaman.45 Itulah mengapa, seorang wanita hendaknya

berkarier sesuai dengan fitrah dan bidang keahliannya, dan bukan semata-mata

berkarier untuk menuruti hawa nafsunya. Karena karier adalah bagian daripada ibadah kepada Allah, sebagaimana seorang wanita adalah patner seorang laki-laki

dalam mengemban amanah khalīfatullāh di muka bumi.

Lebih jauh, diantara perjuangan Rasulullāh S{allallāhu ‘Alayhi wa Sallam ialah mengangkat harkat martabat wanita, bukan saja menjadikan wanita sebagai sosok Ibu yang harus dihormati, melainkan juga memberi peluang kepada para wanita untuk berpartisipasi dalam dunia publik. Sehingga sangat salah apabila ada yang mengira bahwa umat Islam tidak memberdayakan kaum wanita. Padahal sejarah membuktikan banyak tokoh Muslimah yang memiliki peran dan posisi strategis

dalam perkembangan Islam. Bahkan para wanita di zaman Nabi Sallallāhu ‘Alayhi }

wa Sallam dan para sahabat telah memiliki posisi yang cukup diperhitungkan

44Baca; S}ālih Ibn Fawzān Ibn ‘Abdullāh al-Fawzān, Tanbīhāt ‘Alā Ah}kām Takhtas}s}u bi al Mukmināt,

(Beirut: Dār Ibn Hazam, Cet. 1, 1999), p. 13

45Baca; Ismail Raji al-Faruqi, Tawhid: It’s Implications for Thought and Life, (Kuala Lumpur: IIIT,

(14)

dalam mengukir sejarah.46 Diantaranya sebagai berikut;

Muslimah dalam bidang dakwah. Dalam hal ini tentu wanita Muslimah

tidak asing dengan sosok istri Nabi yaitu Sayyidah Khadījah, sosok wanita yang

pertama kali masuk Islam, dan termasuk golongan As-Sābiqūna al-Awwalūn.

Adapun beberapa wanita lain yang masuk Islam mendahului kaum lelaki karena

kesadaran akalnya, yaitu; Ummu H{abībah, Ummu Fadhl, Lubābah binti Hārits

al-Hilaliyah, Amīnah binti Khalaf bin As’ad, Asma’ binti Abū Bakar, Sayyidah ‘Aisyah, Sayyidah Ummu Habibah binti Abu S}ufyān al-Umawiyah, ‘Asmā’ binti

Umays, Fat}īmah binti S}afwān, Ramlah binti ‘Awf dan lain sebagainya. Bahkan

ada juga kaum wanita dari kalangan budak yang dengan penuh keikhlasan masuk

Islam, seperti; Sumayyah ibu ‘Ammar, Ummu Ubays, Zanīrah, Nahdiyah dan

Hamāmah ibu Bilal. Bahkan orang yang syahid pertama kali adalah Sumayyah

ibu Ammar.

Adapun gerakan dakwah wanita Muslimah di zaman modern yang diwujudkan dalam bentuk organisasi. Hal ini menunjukkan kesadaran kaum wanita akan pentingnya peranan dan kontribusi mereka dalam dakwah

menegakkan perjuangan umat Islam. Misalnya, Jamaah Sayyidāt Muslimāt yang

didirikan oleh Zaynab Al-Ghazālī pada tahun 1936 M / 1357 H di Mesir. Ia

lahir di wilayah Al-Bukhayra, Mesir pada tahun 1917. Sosok Muslimah yang aktif dalam memperjuangkan hak kaum wanita yang sesuai dengan ajaran Islam.

Gerakan ini berjalan bersamaan dengan gerakan Ikhwān al-Muslimīn yang berupaya

mengembalikan kejayaan Islam.47

Muslimah dalam bidang politik. Sejak awal berdirinya Islam, wanita

telah berperan dalam dunia perpolitikan. Lebih jauh, wanita telah menjadi bagian

rombongan pasukan Madinah yang turut serta dalam bay’ah ‘aqabah kedua.

Diantara wanita yang berkiprah dalam sector politik ialah; Sayyidah Fāt}imah putri

Nabi S}allallāhu ‘Alayhi wa Sallam, dimana ia ikut serta dalam menyumbangkan

ide dan gagasannya pasa masa kekhalifahan Abū Bakar As}-S}iddīq; begitu juga

dengan Sayyidah ‘Āisyah, sosok wanita yang memimpin pasukan besar, yang di dalamnya terdiri dari para sahabat dan tabi’in dalam perang Jamal; Naylah Binti Al-Farafishah, sosok istri Umar bin Khattab yang senantiasa mendampingi,

memotivasi, dan menyumbangkan ide kepada suami dalam banyak hal. Dan masih

46Untuk mengetahui tokoh-tokoh wanita Muslimah pada masa Nabi, baca; Muh}ammad Ibrāhīm

Salīm, Nisā Hawla ar-Rasūl; al-Qudwah al-H}asanah wa al-Uswah at}-T}ayyibah li Nisā’I al-Usrah al-Muslimah, (t.k.p;t.p, t.t.)

47Baca; Shalah Qazan, Membangun Gerakan Menuju Pembebasan Perempuan terj. Khazin Abu Fakih

(15)

banyak lagi tokoh-tokoh wanita yang berpengaruh seperti Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid, Syajaratud Ad-Dūr, Ummu Salāmah istri As}-S}afah, Qathrunnada ibu

khalifah Al-Muqtadir serta enam ratu dalam daulah Fathimiyyah. Bahkan dalam dunia modern juga tidak sedikit nama-nama pemimpin wanita yang boleh dibilang sukses, seperti Indira Gandhi, Margaret Tatcher, Srimavo Bandaranaeke, Benazir

Buttho dan Syaikh Hasina Zia.48

Muslimah dalam bidang keilmuan. Tak lain ialah sosok wanita cerdas

istri Nabi S{allallāhu ‘Alayhi wa Sallam yaitu Sayyidah ‘Āisyah. Sosok wanita yang

memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pada masa sahabat, diantaranya ahli dalam bidang ilmu Tafsir, ilmu Hadits, dan ilmu Fiqh, ilmu

pengobatan, ilmu sastra, dan lain sebagainya. Menurut Syekh Sa’id diantara

faktor yang melatar belakangi ketokohan Aisyah tak lain ialah ia dibesarkan dalam lingkungan yang mulia, sosok pendamping Nabi dalam perjuangan dakwah, serta

keluasan pengetahuannya terkait sejarah bangsa Arab.49 Lebih dari itu, beberapa

Ulama terdahulu memberikan kesaksian tentang tingginya keilmuan’Āisyah; Syekh Imam az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu ‘Āishah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahāt al-Mu’minīn, dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu ‘Āishah lebih utama (lebih unggul).” Bahkan Syekh Ibnu Kathir menyatakan bahwasanya ia tidak pernah mendapati seseorang seperti ‘Āishah dalam kekuatan

daya ingatnya, kapasitas keilmuannya, kefasihan, dan kecerdasan akalnya. 50

Adapun tokoh muslimah lain, seperti Hafs}ah binti Sirin, sang hafidzah

al-Qur’an dan ahli dalam ilmu Faroidh, ilmu Nahwu, ilmu Fiqh madzhab Syafi’i dan cabang-cabang ilmu lain. Selain itu Maulah binti Umāmāh, Robi’ah al-Adawiyah, Ummu ‘Isa binti Ibrahim al-Harby, Ruqoyyah binti Afif ‘Abdussalam, Ummu ‘Isa Maryam binti Ahmad, Fatimah al-Baghdadiyah, Zaynab binti Al-Kamāl, Nasywan al-Kināniyah dan lain sebagainya.51

Muslimah dalam bidang seni. Dalam hal ini, terdapat Muslimah yang ahli

dalam bersya’ir, diantaranya; al-Khansa binti Amru, Fathimah az-Zahra, Shofiyah binti ‘Abdul Mutholib, Sayyidah ‘Āisyah, ‘Atikah istri ‘Umar bin Khat}t}āb, ‘Āisyah

binti Ah}mad al-Qurt}ubiyah, Ummu ‘Āisyah al-Ba’uniyah dan Maryam binti Abi

48Baca; Asma’ Muhammad Ziyadah, Peran Politik Wanita Dalam Sejarah Islam terj. Kathur Suhadi

(Jakarta: Pustaka Kautsar, 2001), p. 11-16

49Baca; Sa’īd Fayāz ad-Dakhīl, Mawsū’atu Fiqhi ‘Āisyah Ummu al-Mukminīn Hayātuhā wa Fiqhuhā,

(Beirut: Daar an-Nafais, 1989), p. 57-80

50Lihat; Sāmiyah Manisī, Silsilat Nisā’ Mu’mināt; Ummahāt al-Mu’minīn, Umm al-Mu’minīn ‘Āishah

binti Abī Bakr ra, (Kairo: Al-Majlis al-A‘lā li al-Shu’ūn al-Islāmiyyah, t.t.), p.40; Abdul Mun’im Al-Hifnī,

Mawsū‘ah Umm al-Mu’minīn ‘Āishah Binti Abī Bakr, (Kairo: Madbūlī, 2003), p. 27; ‘Āishah ‘Abd al-Rah}mān Bintu Shāt}i’, Nisā’ An-Nabī S}allallāhu ‘Alayhi wa Sallam, (Maroko: Dār al-Hilāl, 1971), p. 103

(16)

Ya’qub al-Anshori. Sedangkan orator muslimah diantaranya adalah Fathimah Az-Zahra, Hafshah binti Umar dan Sakinah binti al-Husain.52

Demikianlah kiprah beberapa tokoh wanita Muslimah dan kontribusinya dalam peradaban Islam. Dari sini nampak bahwa peranan seorang wanita ideal

telah dicontohkan oleh ummahāt al mukminīn, para S}ahābiyyah, dan lainnya.

Sehingga wanita Muslimah zaman sekarang ini mengambil pelajaran serta

menjadikannya fiqur dalam menjalani kehidupannya. Terlebih dalam bidang

keilmuan, seorang wanita hendaknya menuntut ilmu sebagai bekal dalam

menjalankan perannya sebagai Ibu. Karena Ibu adalah sosok madrasah al-Ūlā bagi

anak-anaknya. Dimana ia berperan dan bertanggungjawab besar dalam mencetak generasi umat mendatang. Itulah mengapa terdapat syair yang mengatakan “Ibu bagaikan sekolah, bila anda mempersiapkannya secara baik, berarti anda telah mempersiapkan generasi bangsa dengan integritas kepribadian yang baik.”

Penutup

Pada akhirnya, terbukti bahwa karier wanita dalam pandangan hidup Islam berbeda dengan pandangan hidup di Barat. Karier wanita dalam Islam bukanlah semata-mata dipahami sebagai sebuah emansipasi yang harus diperjuangkan seorang wanita untuk menuntut hak dan kebebasan demi mengejar misi kesetaraan gender, melainkan adalah sebuah peranan yang telah di atur berdasarkan

nilai-nilai kewahyuan. Sebab secara fitrah, wanita diciptakan berbeda dengan lelaki, baik dari segi biologi, fisiologi, emosi, dan psikologi. Sehingga, wanita tidak

bisa dipaksakan untuk bertindak seperti kaum lelaki secara setara. Lebih jauh, pemberdayaan seorang wanita dalam Islam pada umumnya jelas merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya meningkatkan kualitas ketaqwaan, dan bukan atas dasar konsep gender sebagaimana yang dipahami oleh kaum feminisme.

Di luar itu, Islam telah membolehkan wanita untuk berkarier, selama

berada pada tujuan yang jelas serta memenuhi batasan dan ketentuan syari’at.

Diantaranya, seorang wanita tidak boleh mengabaikan tugas pokok dan fungsinya di dalam rumah. Selain itu, wanita juga dianjurkan untuk menjauhi pekerjaan

yang tidak sesuai dengan fitrahnya atau yang dapat merusak harga dirinya. Semua

ini telah diatur dalam Islam, sebagai bentuk penjagaan dan kemaslahatan bagi wanita, agar wanita tidak salah langkah dalam menjalani kehidupan dan tidak

melampaui kodrat dan fitrahnya. Wallāhua’lam bis}s}owāb……”

52Untuk penjelasan lebih detailnya,lihat; Muh}ammad ‘Umar al-H}ājī, An-Nisā’ Syaqā’iq…, p.

(17)

Referensi

Al-Qurān al-Karīm

‘Abdullāh, ‘Adnān D{ayfullāh. 2007. H}ukmu ‘Amal al-Mar’ah fī al-Fiqh al-Islāmī.

Oman Yordania: Dār al-Atsariyyah, cet. 1.

Abī Syaybah, Abū Bakar ‘Abdullāh Ibn Muh}ammad Ibn. 1409. al-Mus}naf fī al-Ah}

ādīts wa al-Ātsār, tahqīq. Kamāl al-H}ūt, no. 2. Riyad: Maktabah Ar-Rusydi.

ad-Dakhīl, Syeikh Sa’īd Fayāz. 1989. Mawsū’atu Fiqhi ‘Āisyah Ummu al-Mukminīn Hayātuhā wa Fiqhuhā. Beirut: Daar an-Nafais.

al-Bār, Muh}ammad ‘Aly. t.t. ‘Amal al-Mar’ah fī al-Mīzān. t.k.p: Dār as-Su’ūdiyyah

li an Nasyri wa at-Tawzī’.

Al-Bukhārī, Muhammad Ibn Ismā’īl Ibn Ibrāhīm Ibn al-Mughīrah. 2001. al-Jāmi’

al Musnad as} S}ah}īh al-Mukhtas}ar min Umūr Rasūlulāh S}allallāhu ‘Alayhi wa

Sallam wa Sunanihi wa Ayyāmihi(S}ah}īh al-Bukhārī), Kitab Adab, no. 5971.

Beirut: al-Maktabah al-‘Us}riyyah.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1982. Tawhid: It’s Implications for Thought and Life. Kuala

Lumpur: IIIT. Salīm, Muh}ammad Ibrāhīm. t.t. Nisā Hawla ar-Rasūl;

al-Qudwah al-H}asanah wa al-Uswah at}-T{ayyibah li Nisā’I al-Usrah al-Muslimah.

t.k.p;t.p.

Al-Fawzān, S}ālih Ibn Fawzān Ibn ‘Abdullāh. 1999. Tanbīhāt ‘Alā Ahkām Takhtas} }s}u

bi al Mukmināt. Beirut: Dār Ibn Hazam, Cet. 1.

Al-H}ājī, Muh}ammad ‘Umar. t.t. An-Nisā’ Syaqā’iq ar-Rijāl. t.k.p: Dār al-Maktabī.

Al-Hifnī, Abdul Mun’im. 2003. Mawsū‘ah Umm al-Mu’minīn ‘Āishah Binti Abī

Bakr. Kairo: Madbūlī.

Al-Jazarī, Muh}ammad Ibn Muh}ammad ad-Damasyqī Ibn. 1998. An-Nasyru fī

al-Qirā’āt al ‘Asyri, Juz II, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet.1.

Al-Mundzirī, ‘Abdul ‘Adzīm Ibn ‘Abd al-Qawī al-Mundzirī Abū Muh}ammad.

1417. At Targhīb wa At Tarhīb min al-H}adīts asy-Syarīf, Tah}qīq; Ibrāhīm

Syamsuddīn. Beirut: Dār al-Kutub al -‘Ilmiyyah, Cet. 1,

Al-Qurt}ūbī, Muh}ammad Ibn Ah}mad al-Ans}ārī. 2000. al-Jāmi’ li Ah}kām al-Qur’ān,

Juz 14. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet.1.

An-Nīsābūrī, Muslim Ibn al-H{ujaj.t.t. Al Musnad as}-S}ah}īh al Mukhtas}ar min

as-Sunanni bi Naql al‘Adl ‘An al-‘Adl ‘An Rasūlillāh Rasūlulāh S}allallāhu ‘Alayhi

wa Sallam (S}ah}īh Muslim), Kitab Al-Bir wa as}-S}alāh, no. 2637. Beirut:

(18)

Anshary A.Z., A. Hafiz dan Huzaimah T. Yanggo (ed.). 2002. Ihdad Wanita Karir, dalam Problematika Hukum Islam Kontemporer (II). Jakarta : Pustaka Firdaus, Cet. III.

As-Syawkānī, Muh}ammad Ibn ‘Aly Muh}ammad. t.t. Fathu al-Qadīr, Juz IV. Beirut:

Dār Ihyā’ at Turāts al-‘Araby.

At-Tirmidzī, Muh}ammad Ibn ‘Īsā Abū ‘Īsā. t.t. Al- Jāmi’ al-Mukhtas}ar min as-Sunan

an Rasūlillāh S}allallāhu ‘alayhi wasallam wa ma’rifatu as-S}ah}īh wa al-Ma’lūl wa

mā ‘alayhi al-‘amal, (al-Jāmi’ as}-S}ahīh -Sunan at-Tirmdzī), Kitab Rid}ā’, bab 18

no. 1173. Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabī.

At}-T}ūfī, Najmu Ad-Dīn Abī ar-Rabī’ Sulaymān Ibn ‘Abdi al-Qawī. 1410. Syarh

Mukhtas}ar ar Rawdhah, Tahqīq. ‘Abdullāh at-Turkī, Juz 2. Beirut: Mu’assasah

ar-Risālah, Cet. 1.

Bintu Shāt}i’, ‘Āishah ‘Abd al-Rah}mān. 1971. Nisā’ An--Nabī S}allallāhu ‘Alayhi

wa Sallam. Maroko: Dār al-Hilāl.

D. Hill, McKay, John P. Bannet and John Buckler. 1983. A History of Western

Society, Second Edition. Boston: Houghton Mifflin Company.

H{abīb, Sa’dī Abū. t.t. Mawsu’ah al-Ijmā’, Juz 1. Qatar: Dār Ih}yā’ at-Turāts al-Islāmī.

An Nawawī, Muh}yiddīn Ibn Syaraf. 1417. Al-Majmū’, Tah}qīq; Mah}mūd

Mut}rah}ī, Juz 8. Beirut: Dār al-Fikri.

Hartini. 1989. Peranan Wanita Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Sosial

Keluarga Melalui Usaha Ekonomi Produktif. Yogyakarta: Departemen Sosial RI.

Husaini, Adian. t.t. Seputar Paham Kesetaraan Gender, Kerancuan, Kekeliruan, dan

Dampaknya.

Ibn Hajar, Ahmad Ibn ‘Aly Abū al-Fadhl al-‘Asqalānī asy-Syāfi’ī. 1379. Fathul Bārī }

Syarhu S}ah}īh Bukhārī, Juz IV. Beirut: Dār al-Ma’rifah.

Ibn Katsīr, ‘Imāduddīn Abī al Fidā’ Ismā’īl Qursyī. 2001. Tafsīr Qur’ān al-‘Adzīm, Juz III. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah.

Ihromi, Tapi Omas. 1990. Wanita Bekerja dan Masalah-Masalahnya. Jakarta : Pusat

Pengembangan Sumber Daya Wanita.

Istiadah. 1999. Pembagian Kerja Rumah Tangga, (Jakarta: Lembaga Kajian Agama

& Jender.

Kania, Dinar Dewi. 2010. Isu Gender; Sejarah dan Perkembangannya dalam

(19)

Manisī, Sāmiyah. t.t. Silsilat Nisā’ Mu’mināt; Ummahāt Mu’minīn, Umm al-Mu’minīn ‘Āishah binti Abī Bakr ra. Kairo: Al-Majlis al-A‘lā li al-Shu’ūn al-Islāmiyyah.

Megawangi, Ratna. 1999. Membiarkan Berbeda?. Bandung: Mizan.

Muammar, Khalif. 2010. Wacana Kesetaraan Gender: Islamis Versus Veminis

Muslim dalam Jurnal Islamia,Vol III, No. 5. Jakarta: Khayrul Bayaan

Press.

Muhammad, Abu Bakar. t.t. Membangun Manusia Indonesia seutuhnya Menurut

AlQur’an. Surabaya: Al-Ikhlas.

Munir, Lily Zakiyah. 1999. Memposisikan Kodrat Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam. Bandung: Mizan.

Muslih, Mohammad. 2015. Bangunan Wacana Gender. CIOS: Unida Ponorogo,

Cet.2. Qazan, Shalah. 2001. Membangun Gerakan Menuju Pembebasan

Perempuan terj. Khazin Abu Fakih. Solo: Era Intermedia.

Wadud, Amina. 1992. Qur’an and Woman. Kuala Lumpur: Penerbit fajar Bakti.

Yāsīn, Maysar Bintu.t.t. Makānaki Tas’adī. t.k.p.; Dār Ibn Khuzamah.

Zidan, Abdul Karim. 1993. al Mufas}s}ol fi Ah}kām al Mar’ah wa al Bayt al Muslim fī

as-Syarī’ah al-Islāmiyyah, Juz 6. Beirut: Mu’assasah Risalah, Cet. 3.

Ziyadah, Asma’ Muhammad. 2001. Peran Politik Wanita Dalam Sejarah Islam terj. Kathur Suhadi. Jakarta: Pustaka Kautsar, 2001.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :