Siskom Makalah Flow Control Tinggal Dapus

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MAKALAH

FLOW CONTROL

Disusun oleh : Vini Meiriska (1515031101) TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMPUNG 2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan pengerjaan makalah yang berjudul ”Flow control”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem Komunikasi.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak

yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Kami sebagai penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Bandar Lampung, 28 November 2017

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI I PENDAHULUAN II ISI III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Pendahuluan

Dalam komunikasi data, flow control adalah proses mengelola laju transmisi data antara dua node untuk mencegah pengirim terlalu cepat kehabisan data dan penerima lambat dalam menerima data. Ini adalah mekanisme untuk pengirim dan penerima untuk mengontrol kecepatan transmisi, sehingga node penerima tidak kewalahan dengan data dari transmisi node. Flow control harus dibedakan dari kontrol kongesti, yang fungsinya digunakan untuk mengendalikan aliran data ketika kemacetan telah benar-benar terjadi.

Flow control ini penting karena computer pengirim mengirimkan informasi pada tingkat yang lebih cepat dari komputer tujuan untuk menerima dan memprosesnya. Hal ini dapat terjadi jika komputer penerima memiliki beban lalu lintas berat dibandingkan dengan komputer pengirim, atau jika komputer penerima memiliki lebih sedikit daya pemrosesan dari komputer pengirim.

1.2Tujuan

1. Memahami dan mengetahui flow control

1.3BatasanMasalah

1. Batasan masalah yang diambil oleh penulis hanya dalam parameter flow control

(5)

BAB II ISI

Flow-control adalah suatu teknik untuk menjamin bahwa entitas pengirim tidak akan membanjiri data kepada entitas penerima. Entitas penerima secara khusus mengalokasikan buffer dengan beberapa kali panjangnya transfer.

Ketika data diterima receiver harus mengerjakan sejumlah proses tertentu sebelum mengalirkan data ke software dengan level yang lebih tinggi. Dengan tidak adanya flow control maka buffer pada penerima dapat terisi penuh dan melebihi kapasitas, bersamaan pada saat penerima masih memproses data sebelumnya.

Sumbu keatas adalah urutan waktu yang akan mempermudah dalam mengambarkan hubungan kirim dan terima yang benar sebagai fungsi waktu. Masing-masing tanda panah menunjukkan satu frame data yang sedang transit (dalam perjalanan) diantara dua stasiun. Data dikirimkan dalam urutan frame yang masing-masing frame berisi bagian data dan sejumlah informasi pengontrol.

Dalam komunikasi data, flow control adalah proses pengelolaan laju transmisi data antara dua node untuk mencegah pengirim cepat dari receiver yang lamban. Flow

control menyediakan mekanisme bagi penerima untuk mengendalikan kecepatan

transmisi, sehingga node penerima tidak diliputi oleh data dari pemindahan simpul. Pengendalian aliran harus dibedakan dari pengendalian kemacetan, yang digunakan untuk mengendalikan arus data saat kemacetan benar-benar terjadi.

Mekanisme kontrol aliran dapat diklasifikasikan dengan apakah node penerima mengirim umpan balik ke node pengirim atau tidak. Flow control penting karena memungkinkan komputer pengirim mengirimkan informasi pada tingkat yang lebih cepat daripada komputer tujuan yang dapat menerima dan memprosesnya. Bisa terjadi jika komputer penerima memiliki beban lalu lintas yang padat dibandingkan dengan komputer pengirim, atau jika komputer penerima memiliki daya pemrosesan kurang dari pada komputer pengirim.

(6)

Gambar 2.1 Model transmisi frame

Gambar di sebelah kiri menunjukkan mekanisme flow control dengan tidak adanya error, sumbu keatas adalah urutan waktu yang akan mempermudah dalam mengambarkan hubungan kirim dan terima yang benar sebagai fungsi waktu. Masing-masing tanda panah menunjukkan satu frame data yang sedang dalam perjalanan diantara dua stasiun. Data dikirimkan dalam urutan frame yang masing-masing frame berisi bagian data dan sejumlah informasi pengontrol. Diasumsikan bahwa semua frame yang dikirimkan berhasil diterima dengan sukses, tidak ada frame yang hilang dan tidak ada frame yang datang mengalami error. Selanjutnya frame-frame tersebut tiba bersamaan dengan dikirimkannya frame, bagaimanapun juga masing-masing frame yang dikirimkan sebelum diterima akan mendapat delay pada saluran yang besarnya berubah-ubah.

Kontrol aliran stop-and-wait adalah bentuk flow control yang paling sederhana. Dalam metode ini, receiver menunjukkan kesiapannya untuk menerima data untuk setiap

(7)

(acknowledgement) setelah setiap frame untuk waktu tertentu (disebut time out). Ini dikirim untuk memastikan receiver menerima frame dengan benar. Kemudian akan mengirimkan frame berikutnya hanya setelah ACK diterima.

Operasi

1. Pengirim: Mengirim satu frame sekaligus.

2. Receiver: Mengirimkan acknowledgement (ACK) karena menerima frame.

3. Pengirim menerima ACK dalam waktu singkat.

4 Pergi ke langkah 1.

Jika frame atau ACK hilang saat transmisi maka harus ditransmisikan lagi oleh pengirim. Proses transmisi ulang ini dikenal dengan ARQ (automatic repeat request).

Masalah dengan stop and wait adalah hanya satu frame yang dapat ditransmisikan pada satu waktu, dan itu sering menyebabkan transmisi tidak efisien, karena sampai pengirim menerima ACK tidak dapat mentransmisikan paket baru apapun. Selama ini baik pengirim maupun salurannya tidak digunakan.

Kelebihan dari stop and wait adalah satu-satunya keuntungan dari metode flow control ini adalah kesederhanaannya. Kekurangan stop and wait adalah pengirim perlu menunggu ACK setelah setiap frame yang ditransmisikan. Ini adalah sumber inefisiensi, dan sangat buruk bila delay propagasi lebih lama daripada delay transmisi.

Stop and wait juga bisa menciptakan inefisiensi saat mengirim transmisi yang lebih lama. Bila transmisi yang lebih lama dikirim, ada kemungkinan kesalahan yang lebih besar dalam protokol ini. Jika pesan singkat kesalahannya lebih mungkin terdeteksi lebih awal. Inefisiensi yang lebih banyak tercipta saat satu pesan dipecah menjadi bingkai terpisah karena membuat transmisi lebih lama.

(8)

Gambar 2.2 stop and wait data link control

Sebuah metode kontrol aliran di mana penerima memberikan izin pemancar untuk mengirimkan data sampai sebuah jendela penuh. Saat jendela penuh, pemancar harus berhenti mentransmisikan sampai receiver mengiklankan jendela yang lebih besar.

Frame flow control geser paling baik digunakan bila ukuran penyangga terbatas dan sudah mapan. Selama komunikasi khas antara pengirim dan penerima, penerima mengalokasikan ruang penyangga untuk n frame (n adalah ukuran buffer dalam bingkai). Pengirim dapat mengirim dan penerima dapat menerima n frame tanpa harus menunggu pengakuan. Nomor urut ditugaskan ke frame untuk membantu melacak frame yang menerima pengakuan. Penerima mengenali bingkai dengan mengirimkan sebuah pengakuan yang mencakup urutan nomor dari frame berikutnya yang diharapkan. Pengakuan ini mengumumkan bahwa receiver siap menerima n frame, dimulai dengan nomor yang ditentukan. Baik pengirim dan penerima mempertahankan apa yang disebut jendela. Ukuran jendela kurang dari atau sama dengan ukuran buffer.

(9)

Frame flow control geser memiliki kinerja yang jauh lebih baik daripada kontrol aliran stop and wait. Misalnya, di lingkungan nirkabel jika kecepatan data rendah dan tingkat kebisingan sangat tinggi, menunggu pengakuan untuk setiap paket yang ditransfer tidak layak dilakukan. Oleh karena itu, mentransfer data sebagai bulk akan menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam hal throughput yang lebih tinggi.

Sliding window flow control adalah protokol point to point yang mengasumsikan bahwa tidak ada entitas lain yang mencoba berkomunikasi sampai transfer data saat ini selesai. Jendela yang dipelihara oleh pengirim menunjukkan frame mana yang bisa dia kirim. Pengirim mengirimkan semua frame di jendela dan menunggu pengakuan (berlawanan dengan pengakuan setiap frame). Pengirim kemudian menggeser jendela ke nomor urut yang sesuai, sehingga menunjukkan bahwa bingkai di dalam jendela mulai dari nomor urut saat ini dapat dikirim.

Algoritma repeat query otomatis (ARQ), yang digunakan untuk koreksi kesalahan, di mana pengakuan negatif (NAK) menyebabkan pengiriman ulang kata dalam kesalahan serta kata-kata N-1 sebelumnya. Nilai N biasanya dipilih sedemikian rupa sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mentransmisikan kata N kurang dari delay round trip dari transmitter ke receiver dan kembali lagi. Oleh karena itu, penyangga tidak diperlukan pada receiver.

Waktu propagasi yang dinormalisasi (a) = waktu propagasi (Tp) / waktu pengiriman (Tt), di mana Tp = Panjang (L) pada kecepatan propagasi (V) dan Tt = bitrate (r) pada Framerate (F). Sehingga a = LF/Vr. Untuk mendapatkan utilisasi harus menentukan ukuran jendela (N). Jika N lebih besar dari atau sama dengan 2a + 1 maka utilisasinya adalah 1 (utilisasi penuh) untuk saluran transmisi. Jika kurang dari 2a + 1 maka persamaan N/1 + 2a harus digunakan untuk menghitung utilisasi.

(10)

BAB III KESIMPULAN

Dalam memahami dan mengetahui pengkodean pada saat bursty error diperlukan parameter yang harus diketahui diantaranya

1. flow control adalah proses mengelola laju transmisi data antara dua node untuk mencegah pengirim terlalu cepat kehabisan data dan penerima lambat dalam menerima data.

2. Dengan tidak adanya flow control maka buffer pada penerima dapat terisi penuh dan melebihi kapasitas, bersamaan pada saat penerima masih memproses data sebelumnya.

3. Kekurangan stop and wait adalah pengirim perlu menunggu ACK setelah setiap frame yang ditransmisikan. Ini adalah sumber inefisiensi, dan sangat buruk bila delay propagasi lebih lama daripada delay transmisi.

4. Sliding window flow control adalah protokol point to point yang

mengasumsikan bahwa tidak ada entitas lain yang mencoba berkomunikasi sampai transfer data saat ini selesai.

5. Algoritma repeat query otomatis (ARQ), yang digunakan untuk koreksi kesalahan, di mana pengakuan negatif (NAK) menyebabkan pengiriman ulang kata dalam kesalahan serta kata-kata N-1 sebelumnya.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Skovgaard, Per. Journal from ATM Traffic Management by A Technology White Paper. GN Nettest

In X.Mazda, & F,F, Mazda. 1999. Go Back N ARQ. London, UK: Routledge. Focal Press

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :