• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN BAP (6-Benzyl Amino Purine) PADA MEDIA MULTIPLIKASI TUNAS Anthurium hookerii Kunth. Enum. SECARA IN VITRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PEMBERIAN BAP (6-Benzyl Amino Purine) PADA MEDIA MULTIPLIKASI TUNAS Anthurium hookerii Kunth. Enum. SECARA IN VITRO"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN BAP (6-

Benzyl Amino Purine

)

PADA MEDIA MULTIPLIKASI TUNAS

Anthurium hookerii

Kunth. Enum.

SECARA

IN VITRO

Rahayu Kurnianingsih1, Marfuah2, Ikhsan Matondang1

1 Fakultas Biologi Universitas Nasional ; 2 Dinas Pertamanan DKI Jakarta Raya

ABSTRACT

Anthurium hookerii Kunth. Enum. is a species of Anthurium which attract high interest from many people, because of its unique shape of leaves. Tissue culture or

in vitro culture is an alternative propagation method forAnthurium and it has high potential to be developed. In this experiment the axillary buds fromin vitroplants of

Anthurium hookerii Kunth. Enum. was used as explant. The experiment was conduted according to Completely Randomized Design with five replication each and five treatments of MS media added with varying concentrations of BAP ( 6-Benzyl Amino Purine) (0; 0.2; 0.4; 0.6 and 0.8 ppm). The result showed that addition of BAP in the MS media increased shoot formation and multiplication of

Anthurium hookeriiKunth. Enum. compared to MS media without BAP. Addition of 0.2 ppm BAP in the MS media was the best media for increased shoot formation and multiplication of Anthurium hookerii Kunth. Enum. with the most optimum number of shoot and leaves.

Key words:Anthurium hookerii, in vitro culture

PENDAHULUAN

Anthuriummerupakan tanaman hias komersial di Indonesia. Tanaman ini disukai oleh masyarakat karena keindahan warna, bentuk bunga dan daunnya yang beragam, diantaranya adalah bentuk jantung, lanset dan bulat telur. Anthurium dibedakan menjadi dua golongan yaitu Anthurium daun dan Anthurium bunga. Anthurium daun terkenal karena keindahan daunnya sehingga disebut sebagai tanaman hias berdaun indah, sedangkan Anthurium bunga terkenal dengan kesegaran bunganya yang dapat bertahan lama sehingga sering dimanfaatkan sebagai bunga potong (cutting flower) (Budhiprawira dan Saraswati, 2006).

Anthurium daun merupakan tanaman hias yang sangat populer dan diminati oleh masyarakat karena

mempunyai daun dengan bentuk yang unik dan bervariasi (Kadir, 2007). Henny dkk. (2007) menyebutkan Anthurium hookerii adalah salah satu jenis Anthurium daun yang diminati oleh masyarakat. Tanaman ini terkenal dengan namaAnthuriumsarang burung atau Bird’s Nest Anthurium. Daunnya yang berukuran besar dan berbentuk lanset dengan tepi daun bergelombang merupakan daya tarik tersendiri dari Anthurium hookerii (Budhiprawira dan Saraswati, 2006).

Anthuriummerupakan tanaman hias yang berpotensi untuk diekspor selain anggrek (Rukmana, 1997). Perkembangan ekspor tanaman Anthurium Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 ekspor tanaman Anthurium Indonesia mencapai 1.112.724 ton, tahun 2005 meningkat menjadi 2.615.999 ton (Departemen Pertanian,

(2)

2005; Dinas Pertanian dan Kehutanan Propinsi DKI Jakarta, 2006).

Permintaan konsumen yang

semakin meningkat terhadap tanaman hias Anthurium menyebabkan produsen

tanaman hias berusaha untuk

meningkatkan produksi tanaman tersebut dengan melakukan berbagai cara perbanyakan. Marlina (2004) menjelaskan bahwa secara konvensional, perbanyakan Anthurium dilakukan melalui biji dan pemisahan anakan, tetapi teknik ini tidak dapat diharapkan untuk memenuhi permintaan konsumen dalam skala besar karena memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan biji atau memisahkan anakan. Melalui biji diperlukan waktu kurang lebih 3 tahun, sejak penyerbukan, biji masak, hingga tanaman menjadi dewasa, sedangkan melalui pemisahan anakan memerlukan waktu antara 6 - 12 bulan untuk siap dipisahkan dan untuk pendewasaan hingga tanaman siap dijual memerlukan waktu sekitar 6 - 8 bulan.

Peningkatan produksi tanaman hias Anthurium hanya dapat dicapai dengan usaha perbanyakan tanaman yang efisien. Metode kultur jaringan atau kultur in vitro merupakan salah satu metode perbanyakan alternatif pada tanaman Anthurium (Lee-Espinosa dkk., 2003). Kultur in vitro

merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan maupun organ dalam kondisi aseptik secara

in vitro. Teknik ini mampu memperbanyak tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu perbanyakan Anthurium dengan teknik kultur in vitro memiliki potensi untuk dikembangkan (Marlina dan Rusnandi, 2007).

BAP (6-Benzyl Amino Purine) merupakan golongan sitokinin sintetik yang paling sering digunakan dalam perbanyakan tanaman secara kultur in vitro. Hal ini karena BAP mempunyai efektifitas yang cukup tinggi untuk

perbanyakan tunas, mudah didapat dan relatif lebih murah dibandingkan dengan kinetin (Krikorian, 1995; Yusnita, 2003).

Penggunaan BAP dalam

perbanyakan tanaman Anthurium secara kultur in vitrodilakukan oleh Puchooa dan Sookun (2003) yang menggunakan 0,5 mg/L BAP dalam media Nitsch untuk menginduksi multiplikasi tunas Anthurium andreanum. Penggunaan BAP 1 mg/L dalam media ½ MS dilakukan oleh Marlina (2004) untuk menginduksi pembentukan kalus dan bakal tunas padaAnthuriumhasil silangan Merah Filipina x Merah Belanda. Oleh karena itu penggunaan BAP dengan beragam konsentrasi diharapkan dapat meningkatkan multiplikasi tunas tanaman Anthurium hookerii Kunth. Enum. secara in vitro.

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi BAP yang terbaik untuk multiplikasi tunas tanaman Anthurium hookerii Kunth. Enum. secara in vitro.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Laborato-rium Kultur Jaringan Kebun Bibit Ciganjur Seksi Pembibitan Tanaman, Sub Dinas Budidaya Tanaman, Dinas Pertamanan DKI Jakarta pada bulan Maret - Agustus 2007.

Bahan tanaman yang digunakan sebagai sumber eksplan adalah tunas samping (tunas aksiler) dari biakan Anthurium hookerii Kunth. Enum. secara in vitro. Media dasar yang digunakan adalah media Murashige-Skoog (MS) dalam bentuk padat dengan penambahan agar swallow sebanyak 7 g/L.

Rancangan percobaan yang

digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan yaitu media MS padat dengan penambahan zat pengatur tumbuh sitokinin

(3)

berupa BAP (6-Benzyl Amino Purine) dengan beberapa konsentrasi yaitu 0 (tanpa BAP); 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 ppm.

Botol-botol kultur yang telah ditanam dengan eksplan diletakkan di atas rak-rak kultur secara acak. Kondisi ruangan kultur diatur pada suhu 21ºC, kelembaban 50 - 60% dengan lama penyinaran 11 jam terang dan 13 jam gelap. Pengamatan dilakukan pada minggu ke-8 setelah tanam dengan variabel-variabel pengamatan yaitu jumlah tunas, jumlah daun dan tinggi tunas (cm).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan secara visual selama 8 minggu menunjukkan bahwa secara umum eksplan yang ditanam pada media MS tanpa penambahan zat pengatur tumbuh BAP maupun pada media MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh BAP memperlihatkan pertumbuhan yang baik. Masing-masing perlakuan

menunjuk-kan pengaruh yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan dari eksplan. Pertumbuhan eksplan ditandai dengan eksplan terlihat membesar dan adanya nodul-nodul bakal tunas.

Eksplan yang ditanam pada media MS tanpa penambahan BAP menunjukkan adanya pertumbuhan yang ditandai dengan terjadinya pemanjangan sel, tetapi tidak terjadi perbanyakan atau multiplikasi tunas sehingga eksplan yang ditanam hanya terlihat bertambah tinggi. Selain itu, pada perlakuan ini juga terlihat adanya pembentukan akar (Gambar 1). Hal ini mungkin disebabkan eksplan tunas samping yang ditanam pada media kultur menghasilkan auksin endogen dengan konsentrasi yang cukup tinggi sehingga pertumbuhan eksplan lebih diarahkan pada pemanjangan sel dan pembentukan akar. Pendapat tersebut didukung oleh Widyastuti (2004) bahwa akar yang tumbuh pada media tanpa zat pengatur tumbuh kemungkinan diinduksi oleh auksin endogen.

Gambar 1. Pembentukan akar pada media MS tanpa penambahan BAP

Rahardja (1989) dan Cleland (1995) menyebutkan bahwa dalam kultur jaringan auksin merupakan zat pengatur

tumbuh yang dapat menyebabkan

terjadinya pemanjangan sel pada jaringan tunas muda dan merangsang pembentukan akar. Jika konsentrasi auksin dalam media

kultur tinggi maka akan menghambat pertumbuhan tunas (Jacobs, 1979).

Pada komposisi media perlakuan yaitu media MS yang ditambah zat pengatur tumbuh BAP dengan beragam konsentrasi (0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 ppm) menunjukkan terjadinya pembentukan dan multiplikasi tunas melalui organogenesis

(4)

secara langsung dari eksplan tunas samping (tunas aksiler) Anthurium hookerii Kunth. Enum. Komposisi media MS dengan penambahan BAP 0,2 ppm merupakan komposisi media perlakuan yang paling banyak merangsang pembentukan dan multiplikasi tunas dibandingkan dengan konsentrasi BAP yang lainnya.

Terjadinya pembentukan dan multiplikasi tunas pada media perlakuan diduga karena konsentrasi sitokinin eksogen yang ditambahkan ke dalam media kultur lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi auksin endogen yang dihasilkan oleh eksplan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gunawan (1992) bahwa interaksi antara zat pengatur tumbuh eksogen dan endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur. Jika dalam media kultur konsentrasi sitokinin lebih tinggi dibandingkan dengan auksin maka

akan merangsang pembentukan dan multiplikasi tunas (Hartmann dan Kester, 1959; Widiastoety dkk., 1997).

A. Jumlah Tunas

Hasil sidik ragam menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata (signifikan) antara beberapa perlakuan yang diberikan terhadap nilai rata-rata jumlah tunas (p = 0,000). Pemberian zat

pengatur tumbuh BAP beragam

konsentrasi dalam media MS mampu meningkatkan terjadinya pembentukan dan multiplikasi tunas Anthurium hookerii Kunth. Enum. bila dibandingkan dengan media MS tanpa penambahan BAP. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata jumlah tunas yang lebih banyak terdapat pada perlakuan pemberian BAP (Tabel 1).

Tabel 1. Ringkasan Statistik Deskriptif Jumlah Tunas.

Konsentrasi

BAP N Mean

Std.

Deviation Std. Error

95% Confidence Interval for Mean

Min Max Lower Bound Upper Bound 0 ppm 5 3.4 .894427 .400000 2.28942 4.51058 2 4 0,2 ppm 5 18.4 .894427 .400000 17.28942 19.51058 18 20 0,4 ppm 5 17.8 .447214 .200000 17.24471 18.35529 17 18 0,6 ppm 5 15.6 1.516575 .678233 13.71692 17.48308 14 17 0,8 ppm 5 15.2 1.303840 .583095 13.58107 16.81893 14 17 Total 25 14.08 5.678321 1.135664 11.73610 16.42390 2 20 Widiastoety dkk. (1991) melapor-kan bahwa pemberian BAP dalam media kultur dapat merangsang terjadinya pembentukan dan multiplikasi tunas dari eksplan (potongan jaringan). Hal ini terlihat dari nilai rata-rata jumlah tunas yang dihasilkan pada media dengan penambahan BAP lebih banyak dibanding-kan dengan media tanpa penambahan BAP. Menurut Utami (1998) sitokinin dalam hal ini BAP berperan memacu

terjadinya sintesis RNA dan protein pada berbagai jaringan yang selanjutnya dapat mendorong terjadinya pembelahan sel. Selain itu, BAP juga dapat memacu jaringan untuk menyerap air dari sekitarnya sehingga proses sintesis protein dan pembelahan sel dapat berjalan dengan baik. Chaerudin dkk. (1996) menambahkan BAP merupakan suatu zat pengatur tumbuh sintetik yang tidak mudah dirombak oleh

(5)

sistem enzim dari tanaman sehingga dapat memacu induksi dan multiplikasi tunas.

Pemberian BAP dengan konsentrasi 0,2 ppm ke dalam media dasar MS merupakan media yang paling baik untuk merangsang terjadinya pembentukan dan multiplikasi tunas melalui organogenesis secara langsung (Gambar 2). Kenyataan ini sesuai dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Lee-Espinosa dkk. (2003), yang dengan menggunakan BAP 0,2 mg/L dalam media MS padat dapat menginduksi tunas-tunas adventif dan meningkatkan kemampuan regenerasi yang tinggi melalui organogenesis secara langsung dari eksplan tunas aksiler pada tanaman Anthurium andreanum kultivar Midori dan Kalapana.

Gambar 2. Jumlah tunas dan daun terbanyak pada media MS dengan penambahan BAP 0,2 ppm.

B. Jumlah Daun

Hasil sidik ragam menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata (signifikan) antara beberapa perlakuan yang diberikan terhadap nilai rata-rata jumlah daun (p = 0,000). Pemberian BAP dengan beragam konsentrasi dalam media

MS mempunyai pengaruh merangsang pembentukan daun yang lebih baik bila dibandingkan dengan media MS tanpa penambahan BAP. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata jumlah daun yang lebih banyak terdapat pada perlakuan pemberian BAP (Tabel 2).

Tabel 2. Ringkasan Statistik Deskriptif Jumlah Daun

Konsentrasi BAP N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean

Min Max Lower Bound Upper Bound 0 ppm 5 4.6 .547723 .244949 3.91991 5.28009 4 5 0,2 ppm 5 16.8 1.303840 .583095 15.18107 18.41893 15 18 0,4 ppm 5 15.6 .547723 .244949 14.91991 16.28009 15 16 0,6 ppm 5 13.6 1.341641 .600000 11.93413 15.26587 12 15 0,8 ppm 5 13.2 .836660 .374166 12.16115 14.23885 12 14 Total 25 12.76 4.465423 .893085 10.91676 14.60324 4 18

(6)

Menurut Hess (1975) sitokinin

mempunyai kemampuan mendorong

terjadinya pembelahan sel dan diferensiasi jaringan terutama dalam pembentukan pucuk. Senyawa nitrogen yang terkandung dalam sitokinin berperan untuk proses sintesis asam-asam amino dan protein secara optimal yang selanjutnya digunakan

untuk proses pertumbuhan dan

perkembangan eksplan dalam hal ini pembentukan daun (Gardner dkk., 1991).

C. Tinggi Tunas

Hasil sidik ragam yang dilakukan menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata (signifikan) antara beberapa perlakuan yang diberikan terhadap nilai rata-rata tinggi tunas (p = 0,000).

Pemberian BAP dengan beragam

konsentrasi (0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 ppm) ternyata tidak berpengaruh terhadap tinggi tunas karena nilai rata-rata tinggi tunas yang dihasilkan terlihat lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa penambahan BAP (Tabel 3). Hal ini diduga pada perlakuan tanpa BAP eksplan yang ditanam menghasilkan auksin endogen dengan konsentrasi yang cukup tinggi sehingga menyebabkan terjadinya proses pemanjangan sel dan eksplan yang ditanam bertambah tinggi lebih cepat, sedangkan pada perlakuan dengan BAP, aktivitas dari auksin endogen terhambat karena adanya sitokinin eksogen (dalam hal ini BAP). Menurut Klerk (2006) zat pengatur tumbuh sitokinin dapat menghambat terjadinya pemanjangan sel sehingga eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi.

Tabel 3. Ringkasan Statistik Deskriptif Tinggi Tunas (cm)

Konsentrasi BAP N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean

Min Max Lower Bound Upper Bound 0 ppm 5 1.0634 .087022 .038917 .95535 1.17145 1.000 1.167 0,2 ppm 5 .6786 .002608 .001166 .67536 .68184 .676 .683 0,4 ppm 5 .6708 .008526 .003813 .66021 .68139 .662 .683 0,6 ppm 5 .5690 .006671 .002983 .56072 .57728 .562 .579 0,8 ppm 5 .5556 .012033 .005381 .54066 .57054 .535 .565 Total 25 .70748 .192233 .038447 .62813 .78683 .535 1.167

(7)

Menurut Gunawan (1992) bahwa level zat pengatur tumbuh endogen merupakan salah satu faktor yang mendorong proses pertumbuhan dan morfogenesis. Auksin yang terkandung dalam eksplan berperan dalam sintesis nukleotida DNA dan RNA serta sintesis protein dan enzim yang selanjutnya digunakan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. Pemanjangan sel terjadi karena adanya proses pembelahan, pemanjangan dan pembesaran sel-sel baru yang terjadi pada meristem ujung sehingga eksplan yang ditanam bertambah tinggi (Gardner dkk., 1991).

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pemberian zat pengatur tumbuh BAP dalam media MS dapat meningkatkan pembentukan dan multiplikasi tunas Anthurium hookerii Kunth. Enum. bila dibandingkan dengan media MS tanpa penambahan BAP.

2. Perlakuan penambahan BAP 0,2 ppm dalam media MS merupakan media yang terbaik untuk pembentukan dan multiplikasi tunas Anthurium hookerii Kunth. Enum terlihat dari nilai rata-rata jumlah tunas dan daun yang terbanyak. 3. Perlakuan MS tanpa penambahan BAP

berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya yaitu penambahan BAP beragam konsentrasi (0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 ppm) dalam media MS, terlihat dari nilai rata-rata tunas yang tertinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Budhiprawira S dan D Saraswati. Anthurium. Penebar Swadaya, Jakarta, 2006.

Chaerudin TS, T Supriatun dan A Bavadal. Multiplikasi Tunas Tanaman Mentha arvensis Melalui Kultur Jaringan.

Fakultas MIPA Universitas

Padjajaran, 1996.

Cleland RE. Auxin And Cell Elongation. In Davies PJ. Plant Hormones “Physiology, Biochemistry And Molecular Biology”. Kluwer Academic Publishers, London, 1995: 214-227.

Departemen Pertanian. Peluang Pasar

Tanaman Hias Ekspor Ke

Mancanegara. Ditjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta, 2005. Dinas Pertanian dan Kehutanan Propinsi

DKI Jakarta. Signifikan Peningkatan PDB Dari Tanaman Hias. Jakarta, 2006.

Gardner FP, RB Pearce and RL Mitchell. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta, 1991.

Gunawan LW. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor, Bogor, 1992.

Hartmann HT dan DE Kester. Plant Propagation Principles And Practices. Second Edition. Prentice-Hall Inc., New Jersey, 1959.

Henny RJ, AR Chase dan LS Osborne. Anthurium. CFREC-Apopka Foliage Plant Research Note RH-91-3,

University Of Florida.

http://mrec.ifas.ufl.edu/foliage/folnot es/anthurium.htm, 2007; 26 November.

(8)

Hess D. Plant Physiology. Springer-Verlag New York Inc., New York, 1975. Jacobs WP. Plant Hormones And Plant

Development. Cambridge University Press, USA, 1979.

Kadir A. Anthurium Daun. Penebar Swadaya, Jakarta, 2007.

Klerk GJ de. Plant Hormones In Tissue Culture. In Duchefa Biochemie. Biochemicals Plant Cell And Tissue Culture Phytopathology. Duchefa

Biochemie BV, Haarlem,

Netherlands, 2006.

Krikorian AD. Hormones In Tissue Culture And Micropropagation.In Davies PJ. Plant Hormones “Physiology, Biochemistry And Molecular

Biology”. Kluwer Academic

Publishers, London, 1995: 774-796. Lee-Espinosa HE, JG Cruz-Castillo dan B

Garcia-Rosas. Multiple Shoot Proliferation And Acclimation Of ‘Midori’ And ‘Kalapana’ Anthurium (Anthurium andreanum L.) Cultured In Vitro. Revista Fitotecnia Mexicana 2003; 26 (4): 301-307.

Marlina N. Teknik Perbanyakan

Anthurium Dengan Kultur Jaringan. Buletin Teknik Pertanian 2004; 9 (2): 73-75.

Marlina N dan D Rusnandi. Teknik AklimatisasiPlantlet AnthuriumPada Beberapa Media Tanam. Buletin Teknik Pertanian 2007; 12 (1): 38-40. Puchooa D dan D Sookun. Induced Mutation And In Vitro Culture Of Anthurium andreanum. Faculty Of

Agriculture, University Of Mauritius, Mauritius, 2003.

Rahardja PC. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Penebar Swadaya, Jakarta, 1989.

Rukmana R. Anthurium. Kanisius, Yogyakarta, 1997.

Utami ESW. Pengaruh Penambahan Ragi Roti Sebagai Alternatif Pengganti Zat

Pengatur Tumbuh BA Untuk

Diferensiasi Pada Kultur Jahe Merah (Zingiber officinale var. sunti val).

Fakultas MIPA Universitas

Airlangga, 1998.

Widiastoety D, Syafril dan B Haryanto. Kultur In VitroAnggrek Dendrobium

Dalam Medium Cair. Jurnal

Hortikultura 1991; 1 (3): 6-10.

Widiastoety D, S Kusumo dan Syafni. Pengaruh Tingkat Ketuaan Air Kelapa Dan Jenis Kelapa Terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium. Jurnal Hortikultura 1997; 7 (3): 768-772.

Widyastuti N. Abnormalitas Pertumbuhan dan Morfogenesis Pada Plantlet Krisan (Chrysanthemum morifolium) Dan Kalalili (Zantedeschia rehmannii) Dalam Kultur In Vitro. Pusat Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Bioindustri, Badan

Pengkajian Dan Penerapan

Teknologi, Jakarta, 2004.

Yusnita. Kultur Jaringan Cara

Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta, 2003.

Gambar

Gambar 1. Pembentukan akar pada media MS tanpa penambahan BAP
Tabel 1. Ringkasan Statistik Deskriptif Jumlah Tunas.
Gambar 2. Jumlah tunas dan daun terbanyak pada media MS dengan penambahan BAP 0,2 ppm.
Gambar 3. Tunas yang tertinggi pada media MS tanpa penambahan BAP

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian beberapa konsentrasi BAP tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah tunas, hal ini diduga karena interval konsentrasi BAP secara eksogen terlalu tinggi

mengetahui konsentrasi air kelapa yang paling efektif dalam multiplikasi krisan secara in vitro, sehingga dapat digunakan untuk mensubtitusi peran sitokinin dalam media...

Interaksi penggunaan media MS dan hormon BAP dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap multiplikasi tunas, tinggi tunas, jumlah buku,

Hal ini diduga karena rasio sitokinin (BAP) terhadap auksin (NAA) dalam media terlalu tinggi sehingga tidak mampu memacu pembentukan akar cengkeh. Dilihat dari

Banyak jumlah tunas yang terbentuk karena tercapainya antara zat pengatur tumbuh eksogen dengan eksplan untuk merangsang pemunculan tunas-tunas baru, karena untuk

Konsentrasi BAP berpengaruh sangat nyata terhadap peubah jumlah total tunas baru pada tiap minggu pengamatan.. Semakin tinggi konsentrasi BAP, akan semakin banyak

Peningkatan konsentrasi BAP dalam medium meningkatkan jumlah tunas yang terbentuk dibandingkan dengan medium dasar yang digunakan sebagai kontrol dan jumlah

Konsentrasi BAP berpengaruh sangat nyata terhadap peubah jumlah total tunas baru pada tiap minggu pengamatan.. Semakin tinggi konsentrasi BAP, akan semakin banyak