• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Intercultural Sensitivity

1. Pengertian Intercultural Sensitivity

Kajian terhadap konsep yang menyerupai intercultural sensitivity tidak hanya dapat dilakukan dengan perspektif ilmu psikologi, melainkan juga dari perspektif disiplin ilmu lainnya seperti antropologi, komunikasi, hubungan internasional dan sosiologi. Oleh sebab itulah dalam penelitian-penelitian ilmiah, lazim ditemukan beragam pengertian dan cara pengkategorian berbeda yang disematkan pada intercultural sensitivity.

Secara umum konsep intercultural sensitivity dikategorisasikan oleh bebrapa tokoh. Tipe pertama adalah tokoh yang mengkategorikan intercultural sensitivity sebagai salah satu dimensi yang menyusun suatu konsep yang lebih besar. Tokoh yang pandangannya termasuk ke dalam kategori ini antara lain Chen dan Starosta (Kashima, 2006) yang menyatakan bahwa intercultural sensitivity merupakan dimensi afektif dari variabel intercultural communication competence. Juga Cui dan Van den Berg (Panggabean, 2004) yang menyatakan bahwa cultural empathy adalah salah satu dimensi yang menyusun variabel intercultural effectiveness. Tipe kedua adalah tokoh yang menganggap bahwa intercultural sensitivity merupakan suatu variabel tunggal yang sifatnya mandiri dan bukan salah satu dari banyak dimensi yang menyusun sebuah konsep. Tokoh

(2)

yang pandangannya termasuk ke dalam tipe ini antara lain Bhawuk dan Brislin (1992) serta Bennett (1998, 2004).

Studi mengenai kepekaan interpersonal dilakukan oleh Bronfenbrener, Harding, dan Gallwey (1958) adalah salah satu studi awal yang membahas mengenai konsep sensitivitas ini. Mereka mencetuskan bahwa kepekaan secara umum dan kepekaan terhadap perbedaan individu adalah dua jenis kemampuan utama dalam persepsi sosial. Kepekaan terhadap orang lain secara umum adalah "semacam kepekaan terhadap norma sosial satu kelompok sendiri" (McClelland, 1958, hal. 241), dan sensitivitas interpersonal adalah kemampuan untuk membedakan bagaimana orang lain berbeda dalam perilaku, persepsi atau perasaan (Bronfenbrener , et al., 1958). Konsep kepekaan interpersonal ini secara lebih luas hampir sama dengan konsepIntercultural Sensitivity.

Hart Dan Burks (1972) Dan Hart, Carlson, dan Eadie (1980) juga mengatakan bahwa Intercultural Sensitivity sebagai pola pikir yang diterapkan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sehingga orang-orang yang sensitif harus mampu menerima kompleksitas pribadi, menghindari kekakuan komunikasi, sadar dalam interaksi, menghargai ide-ide yang dipertukarkan, dan memiliki toleransi. Dan elemen-elemen ini tampaknya tertanam dalam dimensi kognitif, afektif, dan perilaku interaksi antarbudaya.

Milton J. Bennett pada tahun (1986) juga menambahkan dengan mendefinisikan Intercultural Sensitivity sebagai kemampuan untuk mengubah diri dalam berinteraksi baik secara afektif,kognitif dan perilaku dari tahap penolakan ke tahap integrasi dalam proses pengembangan komunikasi antarbudaya.

(3)

Bennett (1984) memahami Intercultural Sensitivity sebagai proses perkembangan di mana seseorang memiliki kemampuan mengubah diri secara afektif, kognitif, dan perilaku dari tahap etnosentris ketahap ethnorelative. Rute proses transformasi ini dapat terpisah menjadi enam tahap yaitu:

(1) Penolakan -di mana salah satunya menyangkal perbedaan budaya dengan orang-orang lain

(2) Pertahanan - di mana salah satunya berupaya untuk melindungi cara pandangnya dengan melawan ancaman yang dirasakan.

(3) Minimisasi - di mana salah satu berupaya untuk melindungi inti dari satu pandangan secara umum dengan menyembunyikan perbedaan dalam bayangan kesamaan budaya.

(4) Penerimaan - di mana seseorang mulai menerima adanya perbedaan perilaku yang didasari oleh perbedaan budaya.

(5) Adaptasi - di mana seseorang menjadi empatik terhadap perbedaan budaya dan menjadi bicultural atau multikultural, dan

(6) Integrasi - di mana seseorang mampu menerapkan ethnorelativism identitas sendiri dan dapat memahami perbedaan sebagai aspek penting dan menyenangkan dari semua kehidupan.

Bhawuk dan Brislin (1992)menunjukkan, Intercultural Sensitivity merupakan reaksi individu untuk orang-orang dari budaya lain, yang dapat menentukan kemampuan kesuksesan seseorang untuk bekerja dan berkomunikasi dengan baik. Bhawuk dan Brislin (1992) juga mencoba untuk mengembangkan

(4)

sebuah alat untuk mengukur Intercultural Sensitivity dari perspektif individualisme vs kolektivisme. Mereka mengembangkan pengukuran Intercultural Sensitivity yang berdasarkan unsur-unsur dimensi afektif, kognitif, dan perilaku. Unsur-unsur yang digunakan antara lain:

(1) Pemahaman tentang cara berperilaku seseorang yang berbeda,

(2) Keterbukaan pikiran mengenai adanya perbedaan dan

(3) Tingkat fleksibilitas perilaku yang ditunjukkan dalam budaya baru.

Konsep yang lebih sederhana dikembangkan Chen dalam The Concept of Intercultural Sensitivity (1997) telah mendefinisikan "Intercultural Sensitivity" merupakan kemampuan individu untuk mengembangkan emosi positif terhadap pemahaman dan menghargai perbedaan budaya sehingga menampilkan perilaku yang tepat dan efektif dalam komunikasi antarbudaya. Dalam studinya Chen (1997) juga mengidentifikasi bahwa Interaction Engagement, Respect for Cultural Differences, Interaction Confidence, Interaction Enjoyment, Interaction Attentiveness merupakan komponen dasar Intercultural Sensitivity. Defenisi inilah yang akan digunakan lebih jauh dalam penelitian ini.

(5)

2. Komponen Intercultural Sensitivity

Chen dan Starosta (2000 ) berpendapat bahwa sensitivitas antar budaya merupakan salah satu faktor penting dalam komunikasi antar budaya yang terdiri dari lima kemampuan yang menjadi komponen pembentuk Intercultural Sensitivity, komponen tersebut antara lain:

a) Interaction Engagement.

Interaction Engangement merupakan keterlibatan interaksi yang menyangkut tentang perasaan peserta dalam proses komunikasi antarbudaya.

b) Respect for Cultural Differences

Dalam hal ini Respect for Cultural Differences mengacu pada bagaimana peserta mengarahkan atau mentolerir perbedaan budaya yang ada pada rekan-rekan mereka .

c) Interaction Confidence

Interaction Confidence ini mengacu pada tingkat kepercayaan dari seseorang selama interaksi antarbudaya berlangsung.

d) Interaction Enjoyment

Dalam interaksi yang terjadi, hal ini mengacu pada kenikmatan berinteraksi yang berhubungan dengan reaksi peserta komunikasi antar budaya.

e) Interaction Attentiveness

Perhatian terhadap interaksi yang terjadi mencerminkan upaya peserta untuk memahami apa yang terjadi di dalam komunikasi antarbudaya .

(6)

Studi yang dilakukan oleh Chen dan Starosta ' s (2000) mengindikasikan bahwa individu dengan sensitivitas antar budaya yang berkembang dengan baikakan menjadi lebih perhatian , lebih mampu bersosialisasi dengan baik, memiliki hubungan interpersonal yang baik sehingga dapat menyesuaikan perilaku mereka , dapat menunjukkan harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, lebih empatik , dan lebih efektif dalam interaksi antarbudaya .

B. Sekolah Homogen (Monokultural)

Grendi Hendrastomo mengatakandalam “Homogenisasi pendidikan: Potret Eksklusifitas Pendidikan Modern” (2012) bahwa sekolah homogenmerupakan suatu sekolah yang memiliki ciri kesamaan karakteristik peserta didik baik secara persamaan ekonomi,golongan,agama,maupun etnisitas.

Grendi Hendrastomo (2012) berkesimpulan bahwa homogenitas pendidikan tampak nyata dalam pendidikan,ditengah banyaknya sekolah yang menawarkan keragaman,sekolah homogen menciptakan suatu pandangan sama yang memunculkan realitas yang tidak sesuai dengan keadaan di dalam lingkungan nyata di tengah masyarakat yang cenderung heterogen. Pendidikan homogen ini dianggap berbahaya karena tidak membiasakan siswa dengan lingkungan dengan tantangan yang beragam.

Aris Saefulloh (2009) dalam “Paradigma pendidikan dalam bingkai Multicultural” juga menambahkan Sekolah negeri atau swasta yang berbasis Islam menjadi identik bagi sekolah kaum pribumi. Sedangkan sekolah-sekolah yang berbasis Kristen menjadi identik dengan sekolah bagi anak-anak keturunan China. Kondisi dan realitas ini melahirkan segregasi yang membentuk sikap

(7)

eksklusivisme dan dapat melahirkan sikap anti toleran terhadap kemajemukan. Aris Saefulloh (2009) juga menambahkan bahwa pada sekolah yang berbasis homogen (monokultural) akan cenderung memiliki budaya yang sama didalam lingkungan sekolah dan akan menciptakan budaya yang homogen di lingkungan sekolah dan dalam diri para siswa dan siswi.

Homogenitas pendidikan kemudian diartikan sebagai keseragaman, harmonisasi yang “dipaksakan”, kesamaan, kesebandingan, sesuatu hal yang dibuat sama dan seragam dalam dunia pendidikan, termasuk didalamnya kesamaan status sosial, kesamaan agama, hingga etnis para peserta didiknya. Homogenitas disini secara tidak langsung sama artinya dengan diskriminasi terhadap siswa yang berbeda dalam hal status sosial, agama atau etnis. Anwar Effendi (2012)

C. Sekolah Heterogen (Multikultural)

Secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefenisikan sebagai “pendidikan tentang keberagaman budaya yang ada didalam lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan lingkungan umum secara keselurahan”. Dimana hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Paulo freire (effendi, A., 2012) bahwa pendidikan harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan secara luas kepada setiap warga negara. Anderson dan Custer (1994) berpendapat bahwa pendidikan multicultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Sekolah yang berbasis pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.

(8)

(Hilliard 1992). Banks (1993) menyatakan bahwa pengertian pendidikan multicultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengekplorasi perbedaan sebagai keniscayaan, kemudian memberi apresiasi perbedaan itu dengan semangat egaliter dan toleran.

Multikulturalisme dipahami sebagai konsep yang berkaitan dengan aspek sosial, politik,ekonomi, dan budaya. Aspek-aspek tersebut memberikan relasi baru dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis dan terintegrasi. Secara sederhana, multikulturalisme didefinisikan sebagai suatu pemahaman dalam peningkatan drajat manusia dan kemanusiaannya yang mencakup, keyakinan, keberagamaan, kebersamaan dalam perbedaaan yang sederajat,kesukubangsaan, kebersamaan perolehan pendidikan, dsb (Yuni Widia Bella dalam jurnal Studi Deskriptif SekolahMulticultural Di SMA Sultan Iskandar Muda)

Menurut Fay (1996) multikulturalisme sebagai suatu ideologi yang akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara kebudayaan individu maupun secara kolektivitas. Dengan demikian mulitikulturalisme dapat mewujudkan masyarakat yang rukun dan menjunjung nilai-nilai kesederajatan. Dalam konteks pendidikan, multikulturalisme sangat penting diajarkan di sekolah-sekolah. Hal ini berkenaan dengan Indonesia sebagai bangsa yang besar yang terdiri dari keanekaragaman masyarakat dan budaya. Kemajemukan itu harus di internalisasi dalam muatan pendidikan yang menekankan pada aspek kesederajatan dalam pemenuhan hak - hak bagi warga negara, sehingga benturan-benturan sosial dan politik dapat diminimalisasikan.

(9)

Menurut James A. Banks (1997) pendidikan multikultural adalah konsep, ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set of believe) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara.

Pendidikan multikultural dapat dipahami sebagai proses atau strategi pendidikan yang melibatkan lebih dari satu budaya yang ditunjukkan melalui kebangsaan, bahasa, etnik, dan lain-lain. Pendidikan multikultural diarahkan untuk mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan cultural dan juga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan kosep, nilai, dankeyakinan serta sikap (Lawrence J. Saha, 1997:348).

Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multicultural, sikap dan pemikiran siswa akan lebih terbuka dalam memahami dan menghargai keberagaman yang ada sehingga menjadi salah satu metode efektif dalam meredam konflik yang ditimbulkan oleh keberagaman yang ada. Semua diarahkan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, masyarakat Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berbudi pekerti luhur, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UUSPN Bab II, Pasal 4)

(10)

D. Perbedaan Intercultural Sensitivity pada siswa-siswi sekolah yang homogen (monokultural) dengan sekolah yang heterogen (multikultural)

Sekolah berbasis pendidikan homogen (monokultural) merupakan sekolah yang memiliki karakteristik yang sama pada peserta didiknya baik dalam hal suku, agama,ras,golongan maupun etnisitas (Grendi Hendrastomo 2012). Aris Saefulloh (2009) juga menambahkan bahwa sekolah negeri atau swasta yang berbasis Islam menjadi identik bagi sekolah kaum pribumi. Sedangkan sekolah-sekolah yang berbasis Kristen menjadi identik dengan sekolah-sekolah bagi anak-anak keturunan China. Kondisi dan realitas ini melahirkan segregasi yang membentuk sikap eksklusivisme dan dapat melahirkan sikap anti toleran terhadap kemajemukan.

Sekolah berbasis pendidikan heterogen (multikultural) merupakan sekolah yang memiliki proses atau strategi pendidikan yangmelibatkan lebih dari satu budaya yang ditunjukkan melalui kebangsaan, bahasa, etnik,dan lain-lain. Pendidikan multikultural diarahkan untuk mewujudkan kesadaran,toleransi, pemahaman dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan cultural danjuga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan kosep, nilai, dan keyakinan serta sikap (Lawrence J. Saha, 1997:348). Multikulturalisme pada saat ini sangat penting bagi masyarakat-masyarakat luas,umumnya bagi

(11)

masyarakat yang memiliki berbagai macam karakteristik identitas, sepertiagama, sosial, budaya dan bahasa. Dengan memahami konsep multikulturalisme ini maka akan terciptalah rasa toleransi dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama yang berbedadengan kita.

Uraian diatas menunjukkan bahwa pendidikan berbasis homogen (monokultural) cenderung melemahkan kesadaran akan pentingnya nilai kebersamaan, sikap toleransi,dan perilaku yang mampu menghargai, memahami, serta peka terhadap potensi kemajemukan, pluralitas bangsa, dalam bidang etnik, agama, dan budaya yang ada. Sementara pendidikan berbasis heterogen (multikultural) diarahkan untuk mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan dan persamaan antar budaya yang berkaitan dengan kosep, nilai, keyakinan serta sikap yang ada (Lawrence J. Saha, 1997). Menurut Ekstrand, L.H. dalam Saha, Lawrence J. 1997, kesadaran, toleransi, pemahaman dan pengetahuan tentang pendidikan menjadi suatu alat yang memainkan peranan penting dalam pembelajaran tentang kemajemukan perbedaan dan persamaan antar budaya yang dikaitkan dengan konsep, nilai,keyakinan dan sikap ini akan diajarkan, dipelajari, diarahkan dan diwujudkan didalam proses pendidikan.

Chen (1997) telah mendefinisikan bahwa "Intericultural Sensitivity" adalahsalah satu kemampuan mengembangkan emosi positif terhadap pemahaman perbedaan budaya dan menghargai perbedaan budaya yang ada sehingga kita dapat menampilkan perilaku yang tepat dan efektif dalam komunikasi antarbudaya. Dalam studinya Chen (1997) juga mengidentifikasi Interaction Engagement, Respect for Cultural Differences, Interaction

(12)

Confidence, Interaction Enjoyment, Interaction Attentivenesssebagai komponen dasar Intercultural Sensitivity. Zhao (2002) mendefinisikan Intercultural Sensitivity sebagai kemampuan kunci untuk hidup dan bekerja sama secara efektif dengan orang-orang dari budaya yang berbeda.

Intercultural Sensitivity merupakan suatu kemampuan mengembangkan emosi positif terhadap pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan budaya sehingga dapat memunculkan prilaku yang tepat dan efektif dalam komunikasi antar budaya. Dengan Intercultural Sensitivity ini kita dapat menjadi masyarakat yang multikuturalisme,menikmati perbedaan, hidup rukun berdampingan dan bekerja sama secara efektif dengan orang-orang dari budaya yang berbeda.

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan Intercultural Sensitivity pada sekolah homogen (monocultural) dan sekolah heterogen (multicultural)

E. HIPOTESA PENELITIAN

Berdasarkan pemaparan diatas, maka hipotesa yang di ajukan dalam penelitian ini adalah “ Ada Perbedaan Intercultural Sensitivity pada siswa sekolah homogen (monocultural) dan sekolah heterogen (multicultural)

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi dan Sewa Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah

Ambang Laut adalah bagian dasar laut dangkal yang memisahkan dua buah laut yang

Metode yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan dengan mengacu pada kerangka pemecahan masalah adalah sebagai berikut: (1) Berkomunikasi dengan Kepala Desa

Dalam membelajarkan matematika diperlukan suatu metode pelajaran yang dapat mengubah persepsi matematika yang sulit menjadi matematika yang menyenangkan. Metode mathmaster

hal, yaitu: 1) Sampah dapat didaur ulang menjadi barang kerajinan tangan yang lebih bermanfaat. 2) Sebanyak tiga barang kerajinan tangan dapat dibuat dari sampah anorganik

Sebagai gambaran, kita bisa melihat bagaimana wajah sang idola, penampilan dia di video tersebut, cerita dalam video musik tersebut (pelibatan musisi dalam pertunjukan

Kondisi SM Rimbang Baling sangat memprihatinkan saat ini, dan sangat disayangkan jika pada akhirnya, pemasalahan yang terjadi di kawasan konservasi menyebabkan

Selisih tersebut masih dapat diterima karena dari hasil penghitungan prosentase selisih penyesuaian fiskal, prosentase selisih penyesuaian fiskal yang dilakukan PT Madu