• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum KoperasiUKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum KoperasiUKM"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V I I I

PROGRAM PEN U M BU H AN LI N GK U N GAN U SAH A

Y AN G K ON DU SI F

A. T U J UAN PEN U M BU H AN LI N GK U N GAN U SAH A

YAN G KON DU SI F BAGI K U M K M

Pengembangan lingkungan usaha yang kondusif bagi Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing KUMKM dengan menciptakan peluang usaha seluas-luasnya, serta menjamin adanya mekanisme pasar yang sehat. Dalam rangka penumbuhan lingkungan usaha yang kondusif bagi KUMKM, maka diperlukankan serangkaian kebijakan ekonomi makro, kebijakan sektoral dan kebijakan pembangunan daerah yang saling melengkapi, selaras dan sinergi dalam rangka memberdayakan KUMKM.

Kebijakan pengembangan lingkungan usaha yang kondusif bagi KUMKM tidak berada pada suatu instansi tertentu, dan cenderung tersebar pada berbagai instansi. Untuk itu, diperlukan kemampuan advokasi, persuasi dan koordinasi dengan instansi lain untuk menumbuhkan iklim berusaha yang kondusif bagi KUMKM.

Kementerian Koperasi dan UKM memfokuskan pada upaya mengkoordinasikan kebijakan pembangunan yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya koperasi dan UMKM dengan daya saing yang tinggi. Program ini bertujuan memberikan kesempatan berusaha yang sama bagi koperasi dan UMKM dengan pelaku usaha lainnya, meningkatkan mobilitas sumberdaya KUMKM, mengurangi biaya transaksi bagi KUMKM, menghilangkan biaya ekonomi tinggi bagi KUMKM, serta mencabut berbagai peraturan dan kebijakan yang menghambat pemberdayaan KUMKM di Indonesia.

Adapun sasaran program penumbuhan lingkungan usaha yang kondusif bagi KUMKM pada periode tahun 2005 - 2009, antara lain:

1. Setiap kebijakan terkoordinasi dengan baik pada tataran nasional, propinsi, dan kabupaten/kota.

2. Setiap kebijakan dapat diakses secara transparan oleh semua pihak

3. Setiap peraturan perundang-undangan yang mendukung pemberdayaan KUMKM dilaksanakan dengan konsisten

4. Setiap peraturan perundang-undangan yang tidak mendukung/menghambat pemberdayaan KUMKM dikaji ulang dan dicabut

(2)

5. RUU Koperasi dan RUU UMKM menjadi undang-undang beserta peraturan pelaksanaannya

6. Setiap pengkajian harus ada aplikasi yang jelas dan bermanfaat bagi pemberdayaan KUMKM

B. PROGRAM PEN I N GK ATAN KOORDI N ASI

K EBI JAK AN

Program peningkatan koordinasi kebijakan antar instansi dan lintas pelaku pada tataran nasional, propinsi dan kabupaten/kota dimaksudkan untuk menghasilkan kebijakan yang bersinergi dalam rangka pemberdayaan KUMKM di Indonesia. Program ini mencakup rangkaian kebijakan dan aktivitas sebagai berikut:

1. Mengembangkan sistem koordinasi yang solid di lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM.

2. Mengembangkan sistem koordinasi pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia melalui penerbitan Keppres tentang Sistem Koordinasi Kebijakan Pemberdayaan KUMKM.

3. Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian kegiatan koordinasi pemberdayaan KUMKM

4. Mengembangkan forum lintas pelaku di seluruh Indonesia, baik pada tataran nasional, propinsi dan kabupaten/kota.

5. Melaksanakan perencanaan partisipatif.

C. PROGRAM PEN I N GK ATAN T RAN SPARAN SI

K EBI JAK AN

Program ini bertujuan meningkatkan transparansi kebijakan pemberdayaan KUMKM dan meningkatkan kemudahan masyarakat mengakses kebijakan dan informasi pemberdayaan KUMKM di Indonesia, dengan harapan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan KUMKM. Program peningkatan transparansi kebijakan pemberdayaan KUMKM, antara lain mencakup:

1. Mengembangkan sistem informasi nasional pemberdayaan KUMKM melalui penerbitan Kepres tentang Sistem Informasi Pemberdayaan KUMKM.

2. Menginventarisasi peraturan perundang-undangan yang relevan dengan pemberdayaan KUMKM

3. Menginventarisasi program pemberdayaan KUMKM di pusat, propinsi dan kabupaten/kota, serta pelaksanaannya

4. Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian kegiatan dokumentasi dan publikasi pemberdayaan KUMKM

(3)

5. Mengembangkan sistem informasi kebijakan dan program pemberdayaan KUMKM yang terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat

D. PROGRAM K AJ I U LAN G PERAT U RAN

PERU N DAN G-U N DAN GAN K U M K M

Program ini bertujuan mendorong pengembangan dan pelaksanaan kebijakan peraturan perundang-undangan yang mendukung pemberdayaan KUMKM secara konsisten dan berkelanjutan, serta mencabut kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang menghambat pemberdayaan KUMKM di Indonesia. Program kaji ulang peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemberdayaan KUMKM, antara lain mencakup:

1. Mengembangkan sistem pengawasan, pemantauan dan evaluasi kebijakan pemberdayaan KUMKM pada tataran nasional, propinsi dan kabupaten/kota. 2. Menyusun dan melaksanakan Kepmen tentang Tim Penilaian Dampak

Kebijakan Pemberdayaan KUMKM

3. Melaksanakan pengawasan terhadap program pemberdayaan KUMKM (dekonsentrasi) dan bantuan perkuatan kepada KUMKM

4. Mengidentifikasi dan menginventarisasi peraturan perundang-undangan yang menghambat pemberdayaan KUMKM di Indonesia

5. Melaksanakan koordinasi dengan Mendagri dan Menteri terkait untuk mecabut kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang menghambat pemberdayaan KUMKM di Indonesia.

6. Melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian kegiatan pemberdayaan KUMKM.

E. PROGRAM PEN Y EM PU RN AAN U N DAN

G-U N DAN G KOPERASI DAN G-U SAH A K ECI L

Program ini bertujuan menyempurnakan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil agar mampu mendukung dinamika pemberdayaan KUMKM di Indonesia pada masa mendatang. Program penyempurnaan Undang-undang Koperasi dan Usaha Kecil, antara lain mencakup:

1. Melakukan inventarisasi masalah untuk menyempurnakan RUU Koperasi dan RUU UMKM.

2. Melaksanakan pembahasan dengan intansi terkait dan DPR-RI untuk mewujudkan RUU Koperasi dan RUU UMKM menjadi Undang-undang Koperasi dan Undang-undang UMKM.

(4)

3. Melaksanakan sosialisasi Undang-undang Koperasi dan UMKM yang telah disahkan oleh DPR dan Pemerintah kepada stakeholders di seluruh Indonesia. 4. Memfasilitasi gerakan koperasi dan UMKM menyesesuaikan dengan

Undang-undang Koperasi dan Undang-Undang-undang UMKM yang baru.

5. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Undang-undang Koperasi dan Undang-undang UMKM yang telah disahkan

F. PROGRAM PEN I N GK ATAN APLI K ASI H ASI L

K AJ I AN

Program ini bertujuan meningkatkan aplikasi hasil kajian pemberdayaan KUMKM untuk perumusan kebijakan, serta perbaikan dan pengembangan program pemberdayaan KUMKM. Program peningkatan aplikasi hasil kajian pemberdayaan KUMKM, antara lain mencakup:

1. Menginventarisasi dan mengevaluasi hasil pengkajian kebijakan pemberdayaan KUMKM pada berbagai instansi pusat, propinsi, kabupaten/kota, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat.

2. Mensosialisasikan hasil pengkajian yang bermanfaat untuk pemberdayaan KUMKM.

3. Mengembangkan sistem penyusunan kebijakan yang didasarkan pada hasil kajian pemberdayaan KUMKM

4. Memfasilitasi pemanfaatan hasil pengkajian untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pemberdayaan KUMKM di seluruh Indonesia.

5. Mendorong institusi pendidikan tinggi, lembaga donor dan lembaga-lembaga kajian melaksanakan kajian kebijakan pemberdayaan KUMKM di Indonesia.

Matrik Program Penumbuhan Lingkungan Usaha Yang Kondusif Bagi KUMKM dapat diikuti pada lampiran 2.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, umur simpan fish snack dengan metode kadar air kritis melalui pendekatan kurva sorpsi isotermis berkisar 2,9-4,3 bulan untuk snack TF

Tidak adanya variabel yang mempengaruhi status gizi berdasarkan indeks PB/U dapat dijelaskan oleh nilai Nagelkerke R Square yaitu 0.595 pada uji regresi logistik, yang

“UJI TOKSISITAS EKSTRAK BIJI PAPAYA (C arica papaya. L) PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR DAN DIKEMBANGKAN MENJADI.. POSTER

Anomali gravitasi tinggi (132-140 mgal) yang berada di Utara daerah penelitian diduga disebabkan oleh batuan Tersier dengan densitas (2,65-2,75) g/cm3 yang disebut sebagai kerak

Pada perancangan mobil listrik dibagi 3 konsep perancangan yaitu perancangan rear part pada sistem suspensi belakang dan sistem penggerak, perancangan front part

Sehingga dosis maksimal pada manusia yang dikonversikan menjadi 0,01287 mg/KgBB pada mencit, di mana dosis tersebut tidak menimbulkan kematian pada seluruh hewan

Kerangka Kerja yang Digunakan Sesuai dengan metodologi RMBA, kerangka kerja yang digunakan dalam melaksanakan risk assessment adalah antara lain kerangka analisis operasi,