2
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik“Sebagai bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Pusat Penelitian Politik merupakan institusi penelitian bidang politik
dan hubungan internasional yang utama dan terpercaya di Indonesia.
Status sebagai Aparatur Sipil Negara tidak menghalangi para peneliti
untuk menjaga independensi dan integritas, dalam rangka menghasilkan
karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi serta kajian-kajian kebijakan
yang kritis dan bermanfaat bagi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.”
-2017-Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 3
Sekilas P2 Politik ... 4
Pengantar Kepala P2 Politik ... 6
Kelti Lokal ... 7
Kelti Nasional ... 8
Kelti Internasional ... 9
Analisis P2 Politik Sengketa Laut China Selatan ... 10
Pemilu Serentak 2019 ... 11
Pilkada Langsung dan Masa Depan Demokrasi Lokal ... 12
Prestasi dan Kontribusi 2014-2017 ... 13
Potensi dan Kepakaran Peneliti P2 Politik ... 14
Mitra Kerjasama di Tingkat Nasional ... 15
Mitra Kerjasama di Tingkat Internasional ... 16
Testimoni Kerjasama dan Quote ... 17
Kontak P2 Politik ... 18
Daftar Isi
4
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikSekilas P2 Politik
Pusat Penelitian Politik
Flourishing with Integrity
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 5
P
usat Penelitian Politik-LIPI(P2 Politik-LIPI) merupakan satuan kerja di lingkungan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPSK-LIPI) yang terdiri dari Kelompok Peneliti Politik Lokal, Nasional, dan Internasional. P2 Politik memiliki visi, menjadi rujukan ilmiah dan acuan dalam perumusan kebijakan politik baik di level nasional
maupun internasional, yang independen dan terpercaya. Adapun misi P2 Politik adalah mendorong proses demokratisasi ke arah terbentuknya sistem politik nasional yang rasional serta kondusif bagi terwujudnya cita-cita kedaulatan rakyat, pluralitas, supremasi hukum, keberadaban dan tegaknya hak-hak asasi manusia (HAM), perbaikan kesejahteraan rakyat dan pemenuhan rasa keadilan untuk semua unsur bangsa.
6
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikPengantar Kepala P2 Politik
P
usat Penelitian Politik diawali dengan berdirinya Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) tahun 1981, kemudian berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Politik dan Kewilayahan (PPW) tahun 1987 dan berubah lagi menjadi Pusat Penelitian Politik (P2 Politik) tahun 2001 sampai saat ini.Sebagai lembaga think thank P2 Politik melakukan penelitian dan kajian dalam kerangka science for science, science for community dan science for stakeholder. Sejalan dengan itu P2 Politik melakukan penelitian dan kajian terkait isu politik strategis terkini dan relevan dimasa depan yang bersifat akademik maupun kebijakan.
Secara akademik P2 Politik dituntut menghasilkan kajian-kajian unggulan yang dapat bersaing dan menjadi rujukan ilmiah pada tingkat nasional maupun internasional. Adapun secara praktis dan etis P2 Politik dituntut untuk memberikan arah dan pencerahan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka membentuk fondasi yang kokoh bagi Penguatan Demokrasi dan Peran internasional Indonesia untuk Kemandirian dan Kedaulatan bangsa.
Proil P2 Politik ini diharapkan dapat memberi
informasi sebagai langkah awal untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan antara P2 Politik dengan pemangku kepentingan dan masyarakat umum.
Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc.Sc
Kepala Pusat Penelitian Politik - LIPI
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 7
Kelti Lokal
K
elompok Penelitian Perkembangan Politik Lokal mempunyai tanggungjawab untuk melakukan penelitian dan kajian yang sifatnya memperkuat institusi demokrasi lokal. Kajian ini meliputi isu-isu sebagaiberikut: Otonomi daerah dan desentralisasi; Konlik dan
Rekonsiliasi; Gender dan Politik. Hasil-hasil penelitian dan kajian ini diharapkan menjadi rujukan ilmiah baik nasional maupun internasional.
Hasil-hasil kajian Kelompok Penelitian Perkembangan Politik Lokal menjadi sejumlah outcome berupa buku sebagai laporan kegiatan, policy paper, policy recomendation, dan policy brief. Hasil penelitian dan kajian ini merupakan bagian penting dari penguatan demokrasi lokal yang sejalan dengan program pemerintah terkait Prioritas Nasional (PN) bidang Polhukam khususnya dalam konteks konsolidasi demokrasi. Dalam kegiatannya, para peneliti yang tergabung dalam Kelompok Penelitian Politik Lokal juga mengembangkan jaringan dengan berbagai mitra strategis, dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun pemerintah di level nasional dan internasional.
Gambar Kantor Bupati Manokwari sebagai Objek Penelitian Otonomi Daerah
Sumber: Dokumentasi Peneliti P2 Politik
Gambar wawancara Tim Peneliti Gender dan Politik dengan Ibu Sri Sumarni, Bupati Grobogan, Jawa Tengah, 20 April 2017
Sumber: Dokumentasi Peneliti P2 Politik
Gambar wawancara Tim Peneliti Sumber Daya Alam dengan buruh perempuan di tempat pelelangan ikan Belawan, Medan
8
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikDalam kegiatannya, para peneliti yang tergabung dalam Kelompok Penelitian Politik nasional sudah
mengembangkan jaringan dengan berbagai mitra strategis, dari kalangan LSM maupun pemerintah di level nasional dan internasional.
Kelti Nasional
K
elompok Penelitian Perkembangan Politik Nasional mempunyai tugas melakukan penelitian dan kajian tentang Reformasi Sistem Politik dan Sektor Keamanan. Kajian ini meliputi isu-isu sebagai berikut: Sistem Kepartaian, Sistem Pemilihan Umum dan Sistem Perwakilan; Reformasi Sektor Keamanan; Masalah-masalah Demokrasi, Kebangsaan dan Globalisasi.Hasil-hasil kajian Kelompok Penelitian Perkembangan Politik Nasional ditindaklanjuti menjadi sejumlah outcome
berupa buku sebagai laporan kegiatan, policy paper, policy recomendation, dan policy brief. Hasil kajian tersebut merupakan bagian penting dari Reformasi Sistem Politik dan Sektor Keamanan yang juga sejalan dengan program Prioritas Nasional (PN) bidang Polhukam.
Gambar calon Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 di depan Kantor KPUD Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah
Sumber: Dokumentasi Peneliti P2 Politik
Gambar diskusi Analisis Pilkada DKI Tahun 2017 di Pusat Penelitian Politik-LIPI
Sumber: Dokumentasi Peneliti P2 Politik
Gambar peserta pemilu di Jakarta Selatan
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 9
Kelti Internasional
K
elompok Penelitian Perkembangan Politik Internasional melakukan penelitian dan kajian mengenai Penguatan Peran Indonesia dalamDinamika Politik Regional dan Global. Penelitian dan kajian ini meliputi isu-isu strategsi sebagai berikut: ASEAN dan
Asia-Pasiik; Konlik dan kerjasama di Perbatasan; Politik
luar negeri, Agama dan Politik.
Laporan penelitian dan kajian Kelompok Penelitian Perkembangan Politik Internasional dilanjutkan menjadi sejumlah keluaran dalam bentuk buku, policy paper, policy recomendation, dan policy brief. Laporan penelitian dan kajian tersebut adalah bagian penting dari penguatan peran Indonesia dalam dinamika politik regional dan global yang juga sejalan dengan program Prioritas Nasional (PN) bidang Polhukam. Dalam kegiatannya, para peneliti yang tergabung dalam Kelompok Penelitian Politik internasional sudah menjalin kerjasama dan membangun jaringan dengan berbagai mitra strategis, dari kalangan LSM maupun pemerintah di level nasional dan internasional. Gambar Pos Perbatasan RI - Papua Nugini di Skouw, Papua
Sumber: Dokumentasi Peneliti P2 Politik
Gambar Kantor Sekretariat ASEAN di Jakarta
Sumber: dari berbagai sumber
Gambar Seminar Internasional mengenai Politik Luar Negeri Indonesia Bebas Aktif, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
Sumber: website Kementerian Luar Negeri
10
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikGambar KRI Imam Bonjol 383 saat berlayar di perairan Natuna, Kepulauan Riau
Sumber: dari berbagai sumber
Analisis P2 Politik
Sengketa Laut China Selatan
K
onlik Laut China Selatan telah melibatkan sejumlahnegara ASEAN yaitu Brunei, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan negara-negara non ASEAN yaitu Tiongkok, Taiwan dan Amerika Serikat.
Negara-negara tersebut memiliki pendekatan berbeda sesuai kepentingan masing-masing. Malaysia dan Brunei, misalnya, tidak menunjukan sikap yang agresif. Sedangkan Tiongkok bersikap agresif dengan cara membangun pulau di gugusan kepulauan Spratly, dan Vietnam memprotes hal itu. Sementara itu, Filipina sikapnya langsung mengajukan gugatan hukum ke Mahkamah Arbitrase, dan berakhir dengan kemenangan Filipina. Amerika berkepentingan di Laut China Selatan karena menginginkan kawasan tersebut sebagai jalur perairan laut internasional, dengan mengirimkan kekuatan angkatan lautnya ke kawasan ini. Taiwan sebagai negara yang berada di kawasan Laut China Selatan memperkuat posisinya dikawasan ini dengan cara melakukan latihan perang.
Di internal ASEAN, sengketa ini telah memunculkan kesenjangan sikap
ASEAN–Tiongkok. Namun, Tiongkok hanya menginginkan penyelesaian bilateral dengan claimant states. Penyelesaian
versi ini dinilai akan menyudutkan negara-negara anggota ASEAN karena mereka harus berhadapan dengan Tiongkok yang memiliki kapasitas ekonomi dan militer lebih besar.
Padahal upaya penyelesaian sengketa sudah disepakati ASEAN–Tiongkok sejak tahun 1997 dalam “1997 Joint
“Salah satunya adalah dengan meluncurkan
peta baru Indonesia, yang antara lain mengubah
nama Laut Natuna menjadi Laut Natuna Utara
pada Juli 2017.”
Statement of the Meeting of the Heads of State/Government of the Member States of ASEAN and President of the
People’s Republic South China Sea”, yang sedianya melahirkan sebuah code of conduct yang lebih mengikat claimant states dalam bersikap demi keamanan dan stabilitas kawasan. Namun hingga kini, perwujudan code of conduct belum terlaksana.
Tiongkok nampak kurang kooperatif dalam penyelesaian
konlik Laut China Selatan yang sudah disepakati dengan
ASEAN. Kurang kooperatifnya Tiongkok ini telah menciptakan sebuah dinamika politik dan keamanan tersendiri. Klaim Tiongkok di Laut China Selatan yang dibatasi “nine-dashed line” menimbulkan tumpang tindih dengan batas laut Indonesia (ZEEI) di wilayah kepulauan Natuna. Pada 14 Juli 2014 Kemenko Bidang Kemaritiman meluncurkan peta NKRI sebagai tindak lanjut dari perjanjian batas maritim yang telah disepakati antara Indonesia dan Singapura, Indonesia dan Filipina serta Keputusan Mahkamah Internasional melalui Mahkamah Arbitrase tentang Laut China Selatan antara Filipina dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam peta itu, Pemerintah Indonesia memberi nama Laut Natuna Utara di wilayah yuridiksi laut Indonesia, bukan di wilayah Laut China Selatan secara keseluruhan, sebagai salah satu upaya Indonesia untuk mempertegas kedaulatan atas wilayah laut di utara Natuna. (AI)
Peta baru Indonesia di Kawasan Natuna
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 11
Analisis P2 Politik
Pemilu Serentak 2019
P
ada tahun 2014, P2 Politik LIPI bekerjasama dengan Australian Electoral Commision (AEC) melakukan kajian tentang Pemilu Serentak 2019. Tujuan dari kajian ini adalah membuat Disain tentang Pemilu Serentak sebagai respon atas keputusan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 23 Januari 2014 yang mengakibatkan perubahan pola penyelenggaraan pemilu menjadi Pemilu Serentak dan akan diselenggarakan mulai tahun 2019.Beberapa rekomendasi yang dihasilkan dalam kajian ini diantaranya: Pertama, keserentakan pemilu nasional
yang terpisah dari pemilu lokal akan menciptakan eisiensi
anggaran dan waktu. Hal ini didasari asumsi bahwa pemerintahan yang dihasilkan melalui keserentakan pemilu presiden dan pemilu legislatif lebih stabil sebagai akibat coattail effect, yakni keterpilihan calon presiden yang dari parpol atau koalisi parpol tertentu akan mempengaruhi keterpilihan anggota legislatif dari parpol atau koalisi parpol tertentu pula.
Kedua, pembentukan koalisi politik yang harus dilakukan
sebelum pemilu legislatif diharapkan dapat memaksa parpol mengubah orientasi koalisi dari yang bersifat jangka pendek dan cenderung oportunistik menjadi koalisi berbasis kesamaan ideologi, visi, dan platform politik.
Ketiga, pemisahan pemilu nasional serentak dan pemilu lokal serentak diharapkan berdampak positif pada tiga hal: (1) ada jeda waktu bagi rakyat menilai kinerja
“Pemerintahan yang dihasilkan melalui pemilu
serentak menjadi lebih stabil”
pemerintahan hasil pemilu serentak nasional; (2) terbuka peluang yang besar bagi terangkatnya isu lokal ke tingkat nasional yang selama ini cenderung tenggelam oleh
isu nasional; (3) semakin besarnya peluang elite politik lokal yang kepemimpinannya berhasil untuk bersaing menjadi elite politik di tingkat nasional.
Keempat, pemilu serentak nasional yang dipisahkan dari pemilu serentak lokal diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pilihan masyarakat karena perhatian pemilih tidak harus terpecah pada pilihan yang terlampau banyak sekaligus di saat yang sangat terbatas di dalam bilik suara. Karena jumlah surat suara relatif terbatas dalam masing-masing pemilu serentak, nasional dan lokal, maka para pemilih memiliki waktu yang sedikit lebih luang untuk memutuskan pilihan secara matang sebelum mencoblos atau menandai pilihan mereka. (SY)
Gambar penggunaan hak suara dalam Pemilu
Sumber: Dokumentasi Pegawai P2 Politik
Gambar logo Komisi Pemilihan Umum
12
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikAnalisis P2 Politik
Pilkada Langsung dan Masa Depan Demokrasi Lokal
P
ilkada langsung pertama kali dilaksanakan pada tahun 2005, disusul dengan penyelenggaran Pilkada langsung serentak pada Desember 2015. Pilkada langsung serentak akan kembali digelar pada tahun 2018 di 171 daerah yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Banyak sekali tantangan yang dihadapi baik oleh pemerintah, penyelenggara maupun peserta, dalam penyelenggaraan Pilkada langsung. Dari segi pemerintah, pembiayaan penyelenggaraan Pilkada langsung yang bersumber pada APBD akan menjadi beban pemerintah daerah masing-masing yang menyelenggarakan Pilkada Langsung.Penyelenggaran Pilkada langsung juga banyak menghadapi
Undang penyelenggara Pemilu. Perlu diketahui menurut undang-undang terdahulu, tahapan penyelenggaraan pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD dimulai satu tahun sebelum penyelenggaraan pemungutan suara pemilu
Serentak 2019. Dengan demikian, Badan Penyelenggara Ad hoc untuk Pilkada Langsung harus memulai bekerja menyelenggarakan tahapan Pilkada Langsung 2018 pada bulan Agustus 2017, sementara tahapan pemilu serentak 2019 setidaknya akan dimulai pada bulan April 2018. Hal ini akan menjadi kompleksitas teknis dari segi anggaran karena sumber anggaran Pilkada Langsung adalah APBD
sementara anggaran Pemilu Serentak adalah APBN.
Belum lagi ketentuan mengenai pembuatan Daftar Pemilih Tetap yang akan dipergunakan pada Pemilu Serentak tahun 2019. Penyelenggaraan Pilkada Langsung juga mendapatkan tantangan untuk sedapat mungkin mengeliminasi praktek politik uang, penggunaan isu SARA, pembuatan model kampanye yang lebih mengusung program, menjaga keamanan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam prosesi demokrasi di tingkat lokal. Dengan demikian, berbagai pemikiran mengenai penyelenggaraan Pilkada Langsung ini perlu mendapatkan perhatian.
Tantangan juga dialami oleh peserta Pilkada Langsung seperti persoalan keterpilihan kandidat. Di beberapa daerah petahana masih dimungkinkan maju sebagai kontestan. Belum lagi soal calon yang direstui oleh pimpinan pusat partai politik, pengemasan tantangan pengembangan daerah, elektabilitas dan proyeksi kinerja calon/pasangan calon yang akan diusung oleh partai tersebut. Tiga tantangan tersebut akan mewarnai penyelenggaraan Pilkada Langsung dan kehidupan demokrasi lokal ke depan. (SN)
“Tiga tantangan akan mewarnai penyelenggaraan
Pilkada langsung dan kehidupan demokrasi lokal
ke depan.”
Gambar diatas merupakan proses pemilihan presiden tahun 2009
Sumber: dari berbagai sumber
Gambar diatas merupakan dukungan masyarakat dalam Pilkada langsung serentak yang damai
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 13
Prestasi dan Kontribusi P2 Politik
2014 - 2017
1. P2 Politik menjadi focal point
dari kegiatan IORAG yang beranggotakan 21 negara. Kegiatan Indian Ocean Rim Association Group (IORAG) difokuskan pada isu isu kemaritiman, kebudayaan, keamanan dan ekonomi yang berkaitan dengan negara-negara di kawasan Samudera Hindia, dengan kegiatan antara lain: penelitian, seminar, workshop, FGD, pertemuan kepala pemerintahan di kawasan Samudera Hindia dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kawasan Samudera Hindia berlangsung pada tahun 2014-2017.
2. Kerjasama P2 Politik dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK-RI) yang menghasilkan (1) Naskah Kode Etik Politisi & Partai Politik (2) Panduan Rekruitmen & Kaderisasi Partai Politik Ideal di Indonesia pada tahun 2016.
3. Kerjasama P2 Politik dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU-RI) yang menghasilkan buku Tingkat Ketidakhadiran Pemilih Dalam Pemilu : Studi Kasus Kota Medan dan Batam pada tahun 2016
4. P2 Politik dengan Jaringan Damai Papua (JDP) juga membuat Policy Brief “Dialog Nasional Membangun Papua Damai” dan Updating
Papua Road Map: Proses Perdamaian Politik Kaum Muda dan Dispora Papua pada tahun 2016.
5. P2 Politik mengadakan seminar 3 (tiga) rangkaian Seminar Tema Maritim tahun 2017, seminar [1] mengangkat tema “Maritime Diplomacy” ; Seminar [2] : “Regional Maritime Security”; Seminar [3] :
“Maritime Border
6. Workshop Asia Dialogue on Forced Migration (ADFM) 2017 merupakan pertemuan ke-4 dari 6 rangkaian pertemuan ADFM yang awalnya diinisiasi oleh Centre for Policy Development (CPD), Australia. Bekerja sama dengan CPD dan juga Kementerian Luar Negeri RI, LIPI melalui Pusat Penelitian Politik (P2 Politik) menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan kegiatan pada tahun 2016 ini.
14
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikPotensi dan Kepakaran Peneliti P2 Politik
P
2 Politik pada 2017 memiliki 83 orang pegawai, terdiri atas 63 orang peneliti dan 20 orang staf pendukung, meliputi 16 orang doktor (S3), 30 orang master (S2), dan 19 orang sarjana (S1). Kompetensi para peneliti P2 Politik yang berpendidikan S3 dengan kepakaran di antaranya antara lain:Dr. Adriana Elisabeth., M.Soc.Sc.
Pembangunan Regional ASEAN dan Papua
Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar ASEAN dan Politik Internasional
Dra. Sri Yanuarti
Studi Pertahanan, Konlik dan Politik
Dr. Sri Nuryanti, MA Pemilu dan Kepartaian
Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti Politik Domestik dan Internasional
Prof. Dr. Syamsuddin Haris Sistem Perwakilan, Pemilu, Kepartaian dan Demokratisasi di Indonesia
Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA Desentralisasi, Otonomi Daerah, Birokrasi dan Pilkada Langsung Politik dan Pemerintahan di Indonesia
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 15
16
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikProil Organisasi Pusat Penelitian Politik 17
Testimoni kerjasama dan Quote
Kerjasama bersama Tim P2
Politik LIPI sangat mendukung
kerja Pencegahan KPK
terutama di sektor politik. Timnya sangat profesional dan suportif.
(Sujanarko - Direktur Dikyanmas KPK)
Kerjasama dengan P2 Politik sangat produktif
dalam membahas isu-isu komprehensif yang
memerlukan kebijakan politik negara yang melibatkan
cabang kekuasaan pemerintah dan parlemen,
salah satunya penyelesaian konflik di Papua.
(Mahfuz Sidik - Anggota DPR-RI)
Kerjasama antara P2 Politik dengan Dewan Kehormatan
Penyelengaraan Pemilu (DKPP) RI selama ini terbukti
telah memperkuat kualitas pelaksanaan pemilu, terutama
dalam membangun masyarakat yang beretika dan
18
Proil Organisasi Pusat Penelitian PolitikPusat Penelitian Politik
Flourishing with Integrity
Alamat:
Gedung Widya Graha LIPI, Lantai III dan XI, Jl. Jend. Gatot Subroto, Kav.10, Jakarta Selatan 12710
Telp: (021) 5251542 Ext: 2069 || Telp/Fax: (021) 5207118
Website: http://politik.lipi.go.id || Email: [email protected]
Twitter: @PolitikLIPI || Facebook: Pusat Penelitian Politik-LIPI
Proil Organisasi Pusat Penelitian Politik 19
Coordinator:
Adriana Elisabeth Siswanto
Team:
Kurniawati Hastuti Dewi Tri Lestari Dini Rahmiati Eko Heryati Sutaningtyas
Yusuf Maulana Ika Aristiowati
Contributor:
Dewi Fortuna Anwar Syamsuddin Haris
Awani Irewati Sri Yanuarti Sri Nuryanti
Design and Layouter:
Anggih Tangkas Wibowo Fatmawati Fitri Mulyadi
Photographer:
Fatmawati Fitri Mulyadi Adri Bintara Putra - BIT LIPI
Publisher:
Research Center for Politics Indonesian Institute of Sciences
Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710 Website: http://politik.lipi.go.id