• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penasehat: Dr. H. Aceng hasani, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Atin Fatimah, M.Pd.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penasehat: Dr. H. Aceng hasani, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Atin Fatimah, M.Pd."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PG PAUD UNTIRTA 2017

KETAHANAN PANGAN KELUARGA DALAM RANGKA

PEMENUHAN GIZI DAN OPTIMALISASI PERKEMBANGAN

OTAK ANAK USIA DINI

Penasehat: Dr. H. Aceng hasani, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Atin Fatimah, M.Pd. Tim Prosiding: 1. Dr. Isti Rusdiyani, M.Pd. 2. Ratih Kusumawardhani, M.Pd. 3. Erin Sabrina 4. Annisa Qur’ani Sekretariat: 1. Wulan Nurrohmah

2. Sri Astuti febriani Cover dan Tata Letak: Desma Yuliadi Saputra, S.Pd.

JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(3)

PENINGKATAN KREATIVITAS MENGGAMBAR ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI TEKNIK ARSIR (Penelitian Tindakan di TK Negeri Pembina Kota Serang 2016)

Ade Ika Nopiani

PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B (Penelitian Tindakan Kelas di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang)

Amsanah

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SAINS PERMULAAN MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA AR-ROHMAH CILEGON Anissa Sekar Violita

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN NILAI -NILAI MORAL ANAK USIA 5-6 TAHUN

Balqis Gusetiarini

PENGARUH ALAT PERMAINAN EDUKATIF SI “BAM” TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK

Citra Hapsari dan Mila Karmila

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI BERMAIN PAPAN FLANEL DI TK IZZATI KAMPUNG HIDEUNG KECAMATAN BAROS SERANG BANTEN

Dede Nurhasanah

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN MONTASE (Penelitian Tindakan pada Kelompok B Di PAUD Al-Kautsar Kota Cilegon) Dian Maryati, Atin Fatimah, dan Tricahyani E.Y

PENINGKATAN KECERDASAN KINESTETIK ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI GERAK TARI KREASI (Penelitian Tindakan Kelas di TK Islam Citra Mandiri Serang-Banten) Dinda Nuryuliani

DAFTAR ISI

1

11

23

33

41

51

57

65

(4)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/

MENANAMKAN AKHLAQ PADA ANAK USIA DINI DALAM BERBICARA BAIK DAN SOPAN MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL (Penelitian Tindakan, Di TK Pertiwi Kelompok B Kabupaten Kuningan, Tahun 2017)

Erna Juherna

PERKEMBANGAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Fadlullah

PENINGKATAN KEMAMPUANMOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN KOLASE ANAK USIA 4-5 TAHUN (Penelitian Tindakan di TK IT SEMUT, Cilegon-Banten)

Fitriani

MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Iin Inratyani

KECERDASAN SPIRITUAL ANAK USIA 5-6 TAHUN DALAM PENGEMBANGAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM

Khairunnisa

MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FUN COOKING PADA ANAK KELOMPOK B MADINAH

Lela Nurlaela, Ratih Kusumawardani, dan Tri Sayekti

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA HURUF HIJAIYAH ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KARTU HURUF HIJAIYAH

Nur Intan Pratiwi

MENINGKATKANKETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENDONGENG DI PAUD DARUL MA’ARIF CILEGON-BANTEN

Nurul Anggraeni Hidayah

PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI PENERAPAN METODE PROYEK (Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak Kelompok A di TK Bangun Cita Insani-Serang)

Opah Musaropah

PERKEMBANGAN MORFOLOGI ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK

Pupung Puspa Ardini

73

79

91

97

105

115

125

133

143

155

(5)

MENINGKATKAN KECERDASAN VERBAL-LINGUISTIK MELALUI KEGIATAN BERNYANYI

Rani Sofia Ardiyani

MENINGKATKAN KEMAMPUAN DISIPLIN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN

Ratih Chandraningsih

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP ANGKA MELALUI MEDIA FLIP CHART PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA TARBIYATUL AULAD Ria Anggun Kusuma

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI LEGO KONSTRUKTIF

Rina Damayanti dan Atin Fatimah

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF MAKE A MATCH PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN

Rosita Sari

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAKUSIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN TARI KREASI (Penelitian Kualitatif di TK B, Kemala Bhayangkari 2 Pandeglang-Banten)

Siti Magfiroh

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP GEOMETRI ANAK KELOMPOK B MELALUI BERMAIN KONSTRUKTIF (Penelitian Tindakan Kelas di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangsel)

Siti Rohmah

MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK TUNAS MERAK PANDEGLANG

Upiah

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENJAHIT (Penelitian Tindakan Kelas di TK Kartika Siliwangi 39 Kota Serang-Banten)

Usi Rizanti

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BONEKA JARI (Penelitian Tindakan Kelas pada Anak TK B di TK Tunas Bangsa Jatiuwung Tangerang Tahun Pembelajaran 2015/2016) Waras Vivi Afiati

167

175

183

193

205

211

219

231

239

245

(6)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/

PENINGKATAN KEMAMPUAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN SIRKUIT BOLA (Penelitian Tindakan Pada Kelompok B Paud Al-Furqon Desa Salareuma Kecamatan Cipicung Kabupaten Kuningan, Tahun 2017) Yenti Juniarti dan Gilang Ramadan

PENINGKATAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK B USIA 5-6 TAHUN RA AL-JAUHAROTUNNAQIYAH SERANG BANTEN

Yuliani Oktavia

2ϱ5

261

(7)

PERKEMBANGAN MORFOLOGI ANAK USIA 5-6 TAHUN

DI TAMAN KANAK-KANAK

Pupung Puspa Ardini

Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Gorontalo [email protected]

ABSTRACT

Scientific study was conducted with the aim to know the development of mor-phology, especially the development of infections of children aged 5-6 years in kindergarten. The research method used is qualitative logitudinal. Based on speech table, five inflexions are obtained. Inflammation with a slight inflection appears in every conversation. Thus the subject of the study produces little speech by using inflection or has not appeared.

(8)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/

ABSTRAK

Studi ilmiah ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi khususnya perkembangan infleksi anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif logitudinal. Berdasarkan tabel ujaran, diperoleh lima ujaran infleksi. Ujaran dengan infleksi sedikit muncul di setiap percakapan. Dengan demikian subjek penelitian sedikit memproduksi ujaran dengan menggunakan infleksi atau belum muncul.

Kata kunci: perkembangan morfologi; taman kanan-kanak.

A. Pendahuluan

Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi antar individu. Melalui bahasa setiap individu dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. T idak hanya orang dewasa, anak pun melakukan kegiatan berbahasa. Sejak lahir anak sudah mulai dapat berkomunikasi. Kegiatan komunikasi demikian itulah yang merupakan proses awal dari pemrolehan bahasa pada anak usia dini. Pada usia dini pemrolehan bahasa masih berupa pemrolehan per-bendaharaan kata maupun tata bahasa sederhana. Pemrolehan bahasa anak sejak dini ini merupakan fondasi dasar sebagai awal perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak.

Namun pada kenyataannya, masa ini masih sering terabaikan. Seperti beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini me-ngenai seorang anak yang memperoleh perbendaharaan kata yang kurang baik di usia dini. hal ini dikarenakan lingkungan yang membentuknya (Kompas.com, 2 Juni 2010). Dan terdapat juga beberapa kasus di mana anak sedikit memperoleh model berbahasa sehingga perbendaharaan kata anak tidak berkembang (Urabningsun, 2015: 2).

Anak adalah penerus bangsa, namun masih saja terdapat orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak sejak dini. Menurut data dari lembaga peneliti-an dpeneliti-an pengembpeneliti-angpeneliti-an kementeripeneliti-an Pen-didikan dan kebudayaan, terdapat 28 juta

anak usia 0 sampai 6 tahun yang belum memperoleh pendidikan sebagai fondasi awal perkembangan anak ke tahap se-lanjutnya. Khususnya dalam hal pemper-olehan bahasa (Anwar, 2015:5).

Pemrolehan bahasa atau akuisisi bahasa merupakan proses yang berlang-sung di dalam otak anak-anak ketika anak memeroleh bahasa pertama atau bahasa ibu. Pemerolehan bahasa pada anak ter-jadi secara alamiah tanpa disadari anak sedang memperoleh bahasa. Hasil dari pemrolehan bahasa adalah kompetensi alamiah dari lingkungan tanpa proses bel-ajar secara formal di lembaga sekolah. Pemerolehan bahasa diperoleh sesuai dengan perkembangan kognitif serta fisik dari anak itu sendiri. Anak memiliki po-tensi dasar atau piranti pemrolehan bahasa yang disebut language acquisition device (LAD). Potensi ini akan berkembang secara maksimal setelah mendapat stimulus dari lingkungan (Chomsky dan Crain, 2007:520). Perkembangan bahasa adalah per-ubahan individu secara kumulatif dari segi kualitas potensi pengorganisasian sistem simbol-simbol bunyi berdasarkan kese-pakatan bersama antar anggota pengguna bahasa tersebut sebagai sarana pemer-satu untuk berkomunikasi dan meng-ekspresikan diri. Dalam mini reaserch ini yang akan dibahas adalah perkembangan bahasa dengan fokus pemerolehan morphologi anak. Morphologi terdiri dari dua sub bidang, diantaranya infleksi dan

(9)

derivasi. Derivasi menghasilkan kata baru atau golongan kata yang terdiri dari bentuk-bentuk kata yang tidak sama, contohnya mengajar dan pengajar. Infleksi menghasilkan bentuk kata atau golongan kata yang terdiri dari bentuk-bentuk kata yang sama, contohnya baca dan membaca (Matthews dalam Ermanto, 2014:16). Pada usia lima tahun infleksi kata sudah digunakan oleh anak, namun ter-kadang oleh orang tua kurang diperhati-kan. Kata-kata infleksi mulai digunakan oleh anak. Namun terkadang oleh orang tua atau orang dewasa kurang mendapat-kan stimulasi sehingga jarang digunamendapat-kan oleh anak dengan tepat, Sebagai contoh kata: tulisi, tuangi (Wahyuni, 2009).

Penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh pemahaman yang men-dalam tentang perkembangan morfologi Najla terutama pada subfokus perkem-bangan infleksi. Dengan demikian sangat menarik untuk dilakukan penelitian per-kembangan bahasa dalam tataran morfo-logi dengan subfokus infleksi pada anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak.

B. Kajian Pustaka 1. Kajian Morfologi

dalam Bahasa Indonesia

Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji kata atau leksikon suatu bahasa. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis, yakni kemungkin-an-kemungkinanyang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata kata lain dalam kelompok (Gibon, 1998:68). Terdapat latar belakang teoritis mengapa perhatian baru terhadap morfologi diperhatikan lagi, yaitu setidak-tidaknya terdapat tiga sumber utama. Pertama adanya studi filologis ter-hadap tata bahasa pada akhir abad 19 dan tahun-tahun pertama abad 20. Kedua, studi bahasa yang bermacam-macam yang

di-pengaruhi oleh aliran struktural, khusus-nya aliran struktural Amerika yang dipelo-pori oleh Bloomfield. Ketiga, munculnya aliran transformasional yang dikembang-kan oleh Noam Chomsky.

Menurut Bauer (2003: 80), dalam buku Introducing Linguistic Morphology, dinyatakan bahwa morfologi akan dipilah atas morfologi derivasional dan morfologi infleksional. Infleksi merupakan bagian dalam sintaksis karena bersifat meleng-kapi bentuk-bentuk leksem dan derivasi menjadi bagian dari leksis karena me-nyediakan leksem-leksem baru.

Morfologi leksikal mengkaji kaidah-kaidah pembentukan kata yang meng-hasilkan kata-kata baru yang secara leksikal berbeda (beridentitas baru) dari kata yang menjadi dasarnya. Hal ini ber-beda dengan morfologi infleksional yang mengkaji hasil-hasil pembentukan kata yang berasal dari leksem yang sama. Pe-milahan seperti itu akan membawa konse-kuensi bahwa pembahasan utamanya adalah masalah derivasi dan infleksi. Deri-vasi adalah proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru (meng-hasilkan kata-kata yang berbeda dari para-digma yang berbeda); sedangkan infleksi pembentukan kata yang menghasilkan bentukan kata-kata yang berbeda dengan paradigma yang sama. Pembentukan deri-vasi bersifat tidak dapat diramalkan, sedang-kan pembentusedang-kan infleksi bersifat teramal-kan (predictable). Contohnya verba work, otomatis akan dikenali works, worked, working atau worker workers (bentukan infleksional yang teramalkan); berbeda dengan WORK WORKER:

AGREE *AGRRER.

Salah satu perbedaan fundamental antara afiks derivasional dan afiks inflek-sional adalah parameter produktivitas. Selain itu, istilah pembentukan kata tidak digunakan secara sembarangan karena

(10)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ berkaitan dengan pembentukan leksem baru (derivasi leksikal) dan untuk mem-buat analisis terhadap derivasi inflek-sional dengan prinsip konkordansi dan aggrement.

Samsuri (1982: 198) di dalam buku Analisis Bahasa mengungkapkan pen-dapatnya tentang derivasi dan infleksi, yaitu bahwa derivasi ialah konstruksi yang berbeda distribusinya daripada dasarnya, sedangkan infleksi adalah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya.

Samsuri menyatakan bahwa di dalam bahasa-bahasa Eropa, utamanya Inggris, pengertian derivasi dan infleksi dapat dikenakan secara konsisten. Misalnya: books (dari book), stop, stopped, stopping (stop); prettier, prettiest (pretty); sebagai contoh infleksi. Sedangkan derivasi di-contohkan: runner (run), beautify (beauty). Semua bentuk seperti book, jika mendapat sufiks -s (plural), merupakan infleksi, seperti 140 Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 136-152 wall-walls, chair-chairs, dsb. Namun, di dalam bahasa Indo-nesia tidaklah demikian, karena sistem afiks bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Contohnya, menggunting termasuk derivasi, sedangkan membaca dan mendengar adalah infleksi. Oleh sebab itu masih merupakan persoalan, apakah pengertian infleksi dan derivasi dapat diterapkan secara konsisten di dalam bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan pendapat Subroto (1985:268) yang juga mengungkapkan bahwa ihwal pe-misahan antara derivasi dan infleksi memang sudah merupakan persoalan klasik untuk bahasa-bahasa Indo-Eropa yang tergolong bahasa fleksi atau infleksi; namun hal itu tampaknya masih meragu-kan untuk diterapmeragu-kan pada bahasa Indo-nesia yang tergolong bahasa aglutinasi.

Sementara itu, Verhaar (1996:118 dan 121) mengungkapkan bahwa dua golongan

bawahan yang terpenting dalam para-digma morfemis adalah golongan yang berdasarkan “fleksi” dan golongan yang berdasarkan “derivasi”. Golongan “fleksi” atau “infleksional” adalah daftar para-digmatik yang terdiri atas bentuk-bentuk dari kata yang sama, sedangkan golongan derivasi adalah daftar yang terdiri atas bentuk-bentuk kata-kata yang tidak sama. Misalnya saja, bentuk mengajar dan diajar adalah dua bentuk (“aktif” dan “pasif”) dari kata yang sama, yaitu meng-ajar, sedangkan mengajar dan pengajar merupakan dua kata yang berbeda (verba dan nomina). Dengan kata lain, fleksi atau morfologi infleksional, adalah proses morfemis yang diterapkan pada kata se-bagai unsur leksikal yang sama, sedang-kan derivasi, atau morfologi derivasional adalah proses morfemis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu men-jadi unsur leksikal yang lain.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa infleksi adalah perubahan yang tidak merubah bentuk kata. Infleksi ter-jadi karena proses pembentukan kata, sebagai contoh: tulis, menulis, ditulis.

2. Teori Perkembangan yang berkaitan dengan perkembangan Morfologi a. Teori Perkembangan Kognitif

Menurut teori kognitif, bahasa bukan-lah, suatu ciri alamiah yang terpisah me-lainkan salah satu diantara beberapa ke-mampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa disertukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandas-kan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif mementukan perkembangan bahasa. Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa meka-nisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu

(11)

juga dengan slingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkem-bangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara lang-sung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai mengguna-kan simbol untuk mempresentasimengguna-kan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

Pendekatan kognivistik yang dipelo-pori oleh Louis Bloom memandang bahwa pemerolehan bahasa anak-anak harus di-lihat dari fungsi bahasa sebagai alat komu-nikasi. Itulah sebabnya penganut aliran ini membantah bahwa kalimat dua kata (pivot grammar) yang dikemukakan kaum mentalis, mungkin saja mengandung tafsiran yang lebih dari satu, karena me-nurut pandangan kognitivistik anak-anak bukan belajar struktur luar (surface struc-ture ) tetapi mempelajari struktur dalam (deep structure) dari bahasa itu.

Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan (1) memisahkan kenyata-an ykenyata-ang sebenarnya dengkenyata-an fkenyata-antasi,(2) menjelajah kenyataan dan menemukan hukum-hukumnya, (3) memilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan. (4) menentukan kenyataan yang sesung-guhnya di balik sesuatu yang nampak.

Seorang pakar yang banyak memberi-kan kontribusi bagi pengkajian perkem-bangan kognitif ialah Jean Piaget, seorang pakar biologi dari Swiss. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses di mana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kualitatif ber-beda dalam berpikir. Hal yang diperoleh

dalam satu peringkat akan merupakan dasar bagi peringkat selanjutnya. Piaget memandang bahwa kognitif merupakan hasil dari pembentukan adaptasi biologis. Perkembangan kognitif terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkung-an melalui dua proses yaitu orglingkung-anisasi dlingkung-an adaptasi. Organisasi ialah proses penata-an segala sesuatu ypenata-ang ada di lingkungpenata-an, sehingga menjadi dikenal oleh individu. Adaptasi ialah proses terjadinya penye-suaian antara individu dengan lingkung-an. Adaptasi terjadi dalam dua bentuk, yaitu Asimilasi dan Akomodasi. Asimilisasi ialah proses menerima dan mengubah apa yang diterima dari lingkungan agar bersesuaian dengan dirinya. Akomodasi ialah proses individu mengubah dirinya sendiri agar bersesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya. Di samping itu, interaksi dengan lingkungan diken-dalikan oleh adanya prinsip keseimbang-an yaitu upaya individu agar memperoleh keadaan yang seimbang antara keadaan dirinya dengan tuntunan yang dating dari lingkungan.

Piaget membagi skema perkembang-an kognitif yperkembang-ang digunakperkembang-an perkembang-anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama (1990:32). Pada tahap masa awal anak, seorang anak telah memasuki perkembangan kognitif tahap

pra-operasional. Menurut piaget, tahap ini

terjadi pada usia anak mencapai 2 hingga 7 tahun. Pada tahap inilah konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan ke-mudian melemah, serta keyakinan pada hal hal yang magis terbentuk. Pemikiran Praoperasional dapat dibagi menjadi dua tahapan yaitu: Sub tahap fungsi simbolik

dan sub tahap pemikiran intuitif. Usia 5-6

tahun masuk pada sub tahap pemikiran intuitif.

(12)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ Sub tahap pemikiran intuitif adalah sub tahap pemikiran praoperasional yang kedua, dimulai sekitar usia 4 tahun dan berlangsung hingga usia 7 tahun. Pada subtahap ini anak-anak mulai mengguna-kan pemikiran primitive dan ingin mengetahui jawaban untuk semua jenis pertanyaan. Piaget menyebut subtahap ini “intuitif” karena anak-anak tampak sangat yakin tentang pengetahuan dan pemahaman mereka, namun tidak sadar bagaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui. Artinya mereka me-ngatakan meraka mengetahui sesuatu tetapi mengetahuinya tanpa mengguna-kan pemikiran rasional. Karakteristik

sentrasi sangat jelas terlihat pada

kurang-nya konservasi pada anak-anak pra-operasional, ide bahwa beberapa karak-teristik dari satu objek tetap sama, meski-pun penampilannya mungkin berubah. Sebagai contoh: Dua gelas kimia yang sama diberikan kepada si anak. Kemudian cairan dituang dari B ke Cm yang lebih tinggi dan lebih ramping dari A atau B. Kemudian si anak akan ditanya apakah gelas-gelas kimia ini (A dan C) mempunyai jumlah cairan yang sama. Anak praoperasional menjawab tidak. Ketika diminta untuk me-nunjuk gelas kimia yang berisi cairan lebih banyak, anak praoperasional menunjuk pada gelas yang tinggi dan ramping.

Menurut Piaget bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang dibangun secara personal, sedangkan Vigotsky me-mandang bahwa kognisi itu merupakan suatu fenomena sosial atau sesuatu yang dibangun secara sosial. Pengalaman sosial membentuk cara berfikir dan cara menginterpretasikan lingkungan. Jadi berpikir tidak hanya dibatasi oleh otak idividu semata, tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran orang lain.

Lev Vigotsky dikenal sebagai a social kultural contstructivist berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara

dialihkan dari orang lain, melainkan me-rupakan sesuatu yang dibangun dan di-ciptakan oleh anak (Brodova & Leong dalam Sujiono, 2009:60) dan V igotsky yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang me-ngendalikan perilaku belajarnya. Melalui teori revolusi sosio-kulturalnya, Vigotsky mengemukakan bahwa manusia memiliki alat berfikir (tool of mind) yang dapat di-pergunakan untuk membantu memecah-kan masalah, memudahmemecah-kan dalam tindak-an, memperluas kemamputindak-an, melakukan sesuatu sesuai kapasitas alami. Konsep dasar teori V igotsky bahwa anak me-lakukan proses ko-konstruksi membangun berbagai pengetahuannya tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial di mana anak tersebut berada.

Berhubungan dengan proses pem-bentukan pengetahuan, Vigotsky menge-mukakan konsep zone of proximal deve-lopment (ZPD) sebagai kapasitas potensial belajar yang dapat berwujud melalui bantuan orang dewasa atau orang yang lebih terampil. Vigotsky dalam Sujiono (2009:61) mendifinisikan ZPD sebagai jarak/kesenjangan antara level perkem-bangan yang aktual yang ditunjukkan dengan pemecahan masalah secara man-diri dan level perkembangan potensial yang ditunjukkan dengan pemecahan dengan bimbingan orang dewasa ataupun kerjasama dengan para teman sebaya yang lebih mampu.

Stuyf dalam Sujiono (2009:61) me-ngatakan bahwa strategi pembelajaran pentahapan (scaffolding) memberikan bantuan secara perorangan berdasarkan ZPD pebelajar. Scaffold memfasilitasi kemampuan anak untuk membangun pengetahuan sebelumnya dan men-internalisasi informasi baru. Aktivitas-aktivitas yang diberikan dalam

(13)

pembel-ajaran scaffolding hanya melewati tingkat-an ytingkat-ang pebelajar dapat lakuktingkat-an sendiri.

V igotsky mendefinisikan pembel-ajaran scaffolding sebagai tugas guru-guru dan yang lainya dalam mendukung per-kembangan pebelajar dengan menyedia-kan struktur bantuan untuk mencapai tahapan atau tingkatan berikutnya dan aspek penting dari pembelajaran scaf-folding adalah bantuan bersifat semen-tara. Penggunaan pembelajaran scaffold-ing dengan tujuan agar anak menjadi pembelajar yang mandiri dan mampu mengatur sendiri sertra sebagai pemecah masalah, jadi setelah kompetensi/penge-tahuan anak bertambah, maka pendidik secara berangsur-angsur mengurangi penyediaan bantuan (Sujiono, 2009:61).

b. Teori Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan sebuah sarana komunikasi yang berupa lisan, tulisan, dan isyarat-isyarat yang didasarkan pada suatu sistem dari simbol-simbol. Perkembangan bahasa anak meliputi: kemampuan ber-bicara, membaca, dan menulis. Perkem-bangan bahasa sebagai serangkaian per-ubahan yang kompleks dari penguasaan sarana komunikasi yang menarik, Vygotsky lebih mengutamakan peran penting inter-aksi sosial dan budaya dalam aspek perkem-bangan kognitif anak, karena Vygotsky per-caya perkembangan bahasa didukung oleh perkembangan kognitif anak dengan teori yang dikenal adalah teori sosial budaya.

Konsep pemrosesan informasi, di mana individu memanipulasi informasi, memantaunya, dan menggunakan strategi terhadapnya dimana ingatan dan berpikir menjadi tema sentral. Anak pada usia ini biasanya lebih cenderung banyak ber-tanya dengan kata “kenapa?” untuk mengetahui sesuatu dengan diucapkan berulang-ulang, karena pada anak usia tahun tahapan bicara anak pada bentuk tanya dan ingkar dalam kontruksi yang

dapat dimengerti orang lain. Pada tahap ini anak telah mempunyai kosa kata yang lumanyan meningkat. Anak akan mem-proses informasi yang didapatkan kemu-dian dapat dituangkan pada kata-kata maupun symbol, anak amat tertarik dengan buku bergambar, anak akan men-ceritakan setiap gambar yang ada dibuku dangan kata-katanya sendiri.

Dapat dikatakan bahwa kemampuan berbahasa anak usia prasekolah begitu berkembang pesat, kosakata dan jumlah kata yang diketahui anak terus menerus menguasai sintaksis dan tata bahasa. Anak belajar secara intuitif, tanpa banyak instruksi Kita ketahui bahwa perkem-bangan bahasa dimulai dengan tangisan kelahiran, diikuti perkembangan ber-tahap-tahap yang ditandai kemampuan-kemampuan tertentu. Piaget mengajukan pola perkembangan bahasa sebagai berikut (Jamaris, 2013: 10):

Tahap Pra operasional (usia 2 – 7 tahun) dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap yaitu sebagai berikut:1) Masa 2,0-2,6 tahun yang bercirikan: Anak sudah mulai menyusun kalimat tunggal yang sempurna, Anak sudah mampu mema-hami tentang perbandingan. Misalnya, anjing lebih besar dari kucing. Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana, dan dari mana., Anak sudah banyak mengunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran. 2) Masa 2,6-6,0 tahun yang bercirikan: Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya, Tingkat berfikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu, sebab-akibat melalui pertanyaan-pertanyaan: kapan, ke mana, mengapa, dan bagaimana.

Pola perkembangan kemampuan berbahasa tampak pula pada tipe bicara. Menurut Piaget ada tiga tipe bicara ego-centric sejak masa bayi dan anak sebagai berikut:

(14)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ a) Mengulang-ulang (repetion) sambil meniru ucapan termasuk gaya orang lain

b) Berbicara sendiri (individual mono-logue)

c) Bercakap-cakap sendiri di tengah sesama (collective monologue)

c. Pengaruh Kebudayaan

Kebudayaan terdiri dari kepercayaan, sikap, asunsi, aturan sikap dan harapan tentang orang dan kejadian yang mem-pengaruhi bagaimana menginterpretasi-kan pengalaman dan menghubungmenginterpretasi-kannya dengan yang lain. Kebudayaan merupakan sebuah kesatuan dalam kehidupan anak, hal ini juga dijadikan kesatuan dalam kuri-kulum secara baik. Salah satu cara yang dilakukan untuk membuat lingkungan dan kurikulum yang merefleksikan latar belakang anak dan pengalamannya. Pem-belajaran yang bermakna dimulai dengan pengalaman yang diperoleh siswa per-tama kali dan memperluas apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat di-ketahui oleh anak.

3. Pemrolehan Bahasa

Proses anak mulai mengenal dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan peme-rolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya. Pemeroleh-an bahasa Pemeroleh-anak-Pemeroleh-anak dapat dikatakPemeroleh-an mempunyai ciri kesinambungan, me-miliki suatu rangkaian kesatuan, yang ber-gerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Ada dua pengertian mengenai pe-merolehan bahasa. Pertama, pemeroleh-an mempunyai permulapemeroleh-an ypemeroleh-ang men-dadak tiba-tiba. Kedua, pemerolehan

bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. Pemerolehan bahasa pertama sangat erat hubungannya dengan perkembang-an kognitif yakni pertama, jika perkembang-anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang ber-dasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasi-kan bahwa anak telah menguasai bahasa anak yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh ‘kategori-kategori kognitif’ yang men-dasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa ilmiah, seperti kata, ruang, modali-tas. Kasualitas, dan sebagainya. Persyarat-an-persyaratan kognitif terhadap pengua-saan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua dari pada dalam pemerolehan bahasa pertama.

Bahasa bersifat universal. Pemer-olehan bahasa pertama erat kaitannya dengan permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. Pemero-lehan bahasa pertama erat sekali kaitan-nya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya denganpembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Sejak dari bayi telah ber-interaksi di dalam lingkungan sosialnya. Seorang ibu seringkali memberi kesem-patan kepada bayi untuk ikut dalam komunikasi sosial dengannya. Kala itulah bayi pertama kali mengenal sosialisasi, bahwa dunia adalah tempat orang saling berbagi rasa

Melalui bahasa khusus bahasa per-tama, seorang anak belajar untuk menjadi anggota masyarakat. Bahasa pertama menjadi salah satu sarana untuk meng-ungkapkan perasaan, keinginan, dan pen-dirian, dalam bentuk-bentuk yang tidak

(15)

dapat diterima anggota masyarakatnya, ia tidak selalu boleh mengungkapkan pe-rasaannya secara gamblang. Apabila se-orang anak menggunakan ujaran-ujaran yang bentuknya benar atau gramatikal, belum berarti bahwa ia telah menguasai bahasa pertama. Agar seorang anak dapat dianggap telah menguasai bahasa pertama ada beberapa unsur yang penting yang berkaitan dengan perkembangan jiowa dan kognitif anak itu. Perkembangan nosi-nosi (notion) atau pemahaman seperti waktu, ruang, modalitas, sebab akibat, dan deiktis merupakan bagian yang penting dalam perkembangan kognitif penguasaan bahasa pertama seorang anak.

C. Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Raudhatul Atfal Nuurus Sa’adah, Taman Wisma Asri Blok 14 RW 20,Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara. dengan fokus pene-litian adalah Perkembangan morfologi anak usia 5-6 tahun di Taman kanak-kanak, subfokus perkembangan infleksi. Yang menjadi latar dalam penelitian ini adalah siswa di RA Nuurus Sa’adah pada semes-ter I. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif longitudinal, hal ini dimaksudkan agar mudah meng-ungkapkan apabila berhadapan dengan

kenyataan jamak, dapat menemukan masalah dan menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan informan. Melalui penelitian ini diharap-kan peneliti lebih peka dan dapat menye-suaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

Penelitian longitudinal merupakan salah satu penelitian yang dikelompokkan berdasarkan dimensi waktu. Ada dua pe-nelitan yang di kelompokkan berdasarkan dimensi waktu yaitu Cross-Sectional dan penelitian Longitudinal. Penelitian Longi-tudinal (LongiLongi-tudinal Research) adalah salah satu jenis peneltian sosial yang membandingkan perubahan subjek pe-nelitian setelah periode waktu tertentu. Penelitian jenis ini sengaja digunakan untuk penelitian jangka panjang, karena memakan waktu yang lama.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Deskripsi data penelitian dilakukan dengan memaparkan beberapa data yang diperoleh dari rekaman ujaran. Keseluruh-an data di rekap untuk kemudiKeseluruh-an di Keseluruh-analisis seberapa banyak subjek penelitian meng-ucapkan kata yang berinfleksi. Berikut adalah tabel rekap keseluruhan data per-kembangan infleksi anak usia 5-6 tahun.

NO Rekaman Nomor Ujaran Jumlah ujaran Infleksi

1. Observasi 1 4 dan 9 2 2. Observasi 2 3 1 3. Observasi 3 - 0 - 4. Observasi 4 - 0 - 5. Observasi 5 - 0 - 6. Observasi 6 - 0 - 7. Observasi 7 2 1 8. Observasi 8 - 0 - 9. Observasi 9 7 1 10. Observasi 10 - 0 - TOTAL 5

(16)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ Berdasarkan tabel tersebut diperoleh lima ujaran infleksi, yakni ujaran pada observasi 1 sebanyak dua ujaran pada nomor 4 dan 9, yaitu kata tulisi dan dikerjai. Observasi 2 sebanyak satu ujaran pada nomor 3, yaitu kata baliki. Observasi 7 sebanyak satu ujaranpada nomor 2 yaitu kata berdiri. Observasi 9 sebanyak satu ujaran pada nomor 7, yaitu bikinin. Ternyata ujaran dengan infleksi sedikit muncul di setiap percakapan. Dengan demikian dapat diartikan Subjek penelitian sedikit mem-produksi ujaran menggunakan infleksi.

Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu: perkembangan prasekolah, kembangan ujaran kombinatori, dan per-kembangan masa sekolah. Perkembang-an pemerolehPerkembang-an bahasa pertama Perkembang-anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permula-an. Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tjndakan pada tahap satu kata, anak terus menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai.

Kata-kata yang pertama diperoleh-nya tahap ini lazimdiperoleh-nya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian. Dilihat dari unsur dasar pembentukannya kombinasi yang dibuat anak pada periode ini meng-ekspresikan dua unsur deretan dasar pelaku (agen) + tindakan (aksi) + ob jek. Semua kombinasi dua unsur terjadi, misal-nya Agen + Aksi + Objek, Agen + Objek. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat

membuat kalimat-kalimat mereka men-jadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfim gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan. Perkem-bangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu perkembangan-negatif/penyangkalan, perkembangan interogatif/pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi (Gleason dan Bernstein,1998:180-181).

E. SIMPULAN

Berdasarkan hasil rekaman kemudian dianalisis menggunakan tabel analisa dapat disimpulkan bahwa perkembangan morfologi infleksi subjek penelitian belum muncul. Dari 10 rekaman data hasil pengamatan hanya muncul 5 ujaran infleksi. Hal ini disebabkan karena keter-batasan waktu peneliti ketika melakukan pengamatan. Terdapat pula beberapa faktor yang menyebabkan sedikitnya ujar-an infleksi muncul, di ujar-antarujar-anya (1) ter-kadang mengalami suasana hati yang kurang bagus di sekolah sehingga ter-kadang tidak mau berbicara, (2) Guru kurang menstimulasi karena lebih banyak hanya memberikan instruksi di kelas dan kurang melakukan percakapan yang komu-nikatif dengan anak, (3) di rumah lebih banyak dengan kakek yang sedikit meng-ajaknya berbicara.

Berdasarkan temuan-temuan pene-litian ini dikemukakan saran-saran berikut: 1. Bagi Guru, agar dapat memperhatikan perkembangan pemerolehan bahasa anak terutama morfologi infleksional sehingga dapat terstimulasi dan berkembang dengan optimal pada usia 5-6 tahun.

2. Bagi pembaca untuk memberikan pemahaman mengenai

(17)

perkembang-an bahasa Anak Usia dini terutama morfologi infleksional pada anak usia 5-6 tahun sehingga terimplementasi sesuai untuk anak usia dini.

3. Bagi penelitian lanjutan sebagai Sum-bangan pemikiran berkenaan dengan Perkembangan morfologi infleksio-nak pada Ainfleksio-nak usia dini ini sehingga menjadi bahan acuan untuk melaku-kan inovasi dalam proses penelitian selanjutnya.

Daftar Pustaka

Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia (Jakarta; Yayasan Obor Indo-nesia, 2010)

Bahaya di balik Bahasa Pengantar (Kompas.com,2 juni 2010)diunduh 2 januari 2015

H,Urabningsun, Pola Asuh orang tua dan

pengembangan keberagaman

anak(academia.edu) diunduh pada 2 januari 2015

Muhamad Saiful Anwar, Memajukan Karakter Anak dengan Pengarahan dan Pendidikan sejak dini (Universi-tas Negeri Yogyakarta)diunduh pada 2 Januari 2015

William Crain, Teori Perkembangan (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2007) Martini Jamaris, Kesulitan Belajar,

Per-spektif, Assesmen, dan Penang-gulangannya (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2009)

John W. Santrock, Psikologi Pendidikan (Educational Psychology) (Jakarta: Salemba Humanika, 2009)

Matthews dalam Ermanto, Fungsi dan makna afiks Infleksi pada verba afiksasi Bahasa Indonesia (Universi-tas Negeri Padang)

Yuniar Siti Wahyuni, Tahap Perkembang-an Bahasa pada Perkembang-anak usia dini , (malaikatberduka.blogspot.com, 29 Juni 2009)diunduh 2 Januari 2015

Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkem-bangan Anak (Jakarta: PT. Grasindo, 2001)

Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h. 20

Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT. Indeks, 2009)

Fitri Ariyanti, dkk, Diary Tumbuh Kembang Anak (Bandung: Mizan Media Utama, 2006)

Dworetzky, Jauh F. (1990). Introduction to Child Development. New York: West Publishing Company

John W Santrock. (2007). Perkembangan Anak Jilid 2. Terjemaha Suci Roma-dhona & Apri Widiastuti. Jakarta: Erlangga

Claudia Eliason dan Loa Jenkins, A Pratical Guide to Early Childhood Curriculum, (New Jearsey: Pearson Education, Inc, 2008)

Martini Jamaris. (2013). Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Bogor: Gahlia Indonesia.

Sue Bredekamp dan Carol Copple, Develo-pmentally Apropriate Practice in Early Childhood Programs (Washington D.C.: NAEYC, 1997)

Diane Trister Dodge and Laura J. Colker, The Creative Curriculum for Early Childhood, (Washington D.C.: Teach-ing Strategies, Inc, 2001)

Zulkifli, Psikologi Perkembangan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001)

Martini Jamaris, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, (Jakarta: PPS UNJ, 2003) Jean Berko Gleason dan Nan Bernstein Ratner, Psycholinguistic (orlando: Harcourt Brace College Publisher, 1998)

Jean Berko Gleason, The Development of Language (Pearson Education Com-pany, 2001)

(18)

p-ISSN 2615-5532

http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ Dardjowijojo, Soenjono.. Psiko Linguistik. Pengantar pemahaman Bahasa Manusia. (Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2005)

Fromkin Victoria dan Robert Rodman.. An Introduction to Language, (Florida: Harcout Brace Jovanovich Collage. 1993) Mansoer Pateda. Aspek-Aspek Psiko-linguistik,(Jogjakarta: Nusa Indah. 1990) h.43

Henry Guntur Tarigan. Psikolinguistik, (Bandung: Angkasa1986)

Bolinger, Dwight. Aspect of Language, (New York: Harcout Brace Jovanovich, Inc. 1975)

Dafydd Gibon, Handbook of standard and resources for spoken language (New york: Mouton de Gruyter, 1998) Trevor A. Haley, The Psychology of

Lan-guage (Canada: Psychology Press, 2008) Robert Beard, Lexeme-Morphem based Morphology (New york: State Univer-sity of New York, 1995)

Lauri Bauer, Introducing Linguistic

Morpho-logy (Edinburg University Press, 2003) Ermanto, Fungsi dan makna afiks infkeksi pada verba afiksasi Bahasa Indonesia, Penelitian (Universitas Negeri Padang) Kadek Ary Kunti Putri, dkk, Pemerolehan Bahasa Indonesia Pada Anak Usia dini di desa Beraban, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan,Bali (Undiksa. ac.id, diunduh 2 Januari 2015)

http//id.wikipedia.org/wiki/Penelitian-longitudinal diakses pada tanggal 20 Oktober 2012 jam 09.55

Syukur Kholil, Metodologi Penelitian, Bandung: Citapustaka Media, 2006 http//puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.

php/ars/article/viewFile/16457/ 16449 (Cross-Sectional vs Longitudinal Research). Diakses pada tanggal 2 Januari 2015

http://vivixtopz.wordpress.com/modul-k ul i ah / me t od o lo g i -pe ne l it i an / sistematika-metodologi-penelitian/ diakses pada tanggal 2Januari 2015 jam 09.35

Gambar

Tabel Rekap keseluruhan data

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH CURAH HUJAN HARIAN MAKSIMUM BULANAN TERHADAP STABILITAS LERENG STUDI KASUS DESA MANGUNHARJO KECAMATAN.. JATIPURNO

Dalam pembuatan film animasi 3D khususnya untuk pembuatan model karakter tiga dimensi dapat menggunakan Editable Poly yang berfungsi untuk mempermudah seorang artis model

memberikan peluang untuk munculnya calon perseorangan melalui Putusan MK Nomor 54/PUU-XIV/2016. Pada level masyarakat, secara umum partai politik memiliki fungsi

Penelitian mengenai Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Return On Assets telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, akan tetapi hasil

Chamber failure adalah suatu keadaan dimana magma chamber tidak mampu lagi menahan tekanan baik dari luar, maupun dari dalam (dari magma), sehingga kemudian magma chamber akan

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perilaku pemeliharaan kesehatan gigi yang meliputi cara menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi, waktu menyikat gigi,

Hubungan antara laju endapan sedimen dan struktur komunitas lamun di Perairan Sebauk terdapat hubungan korelasi negative dan positif, korelasi negative kuat pada

Pada saat menjalankan latihan, pelatih memiliki beberapa metode yang digunakan untuk menunjang program latihan yang telah dibuat. Salah satu metode yang digunakan