of Education Social and Development
P-ISSN: ……-…….; E-ISSN: ……….-………..
Volume 1, Issue Volume: 1, Number: 1 Desember 2022, Page No. 40-49
40 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Stratifikasi Sosial dalam Upacara Rambu Solo’
Kec. Tallunglipu Kab. Toraja Utara
1Riska Milenia Muchtar*, 2Nurdin, 3Lukman Ismail
1, 2, 3
Universitas Muhammadiyah Makassar
*Email: [email protected]
Abstrack. Social stratification is the division of society into classes vertically (tiered) which is manifested by the existence of levels of society from the highest to the lowest. In social stratification there are three social classes, namely society consisting of the upper class, society consisting of the middle class and the lower class. People who are in the lower class are usually more than the middle class, especially in the upper class.
The purpose of this study was to determine the social stratification in the rambu solo’ ceremony in Tallunglipu sub-district, North Toraja district and to describe the implications of the rambu solo ceremony on social stratification in society. This study uses a qualitative descriptive method, which is a study that seeks to provide an overview of the object under study which aims to make a descriptive or systematic and actual description through the existing facts. The selection of informants was carried out by means of purpose sampling, namely the withdrawal of informants which was carried out intentionally with certain criteria. There are 5 informants, and 1 key informant. The data collection of this research used interviews, documentation, and analyzed descriptively qualitatively.
The results showed that social stratification in the rambu solo' ceremony in Tallunglipu sub- district could be seen from the type of death party, how long the rambu solo' ceremony lasted, how many animals were sacrificed to the symbols used in the ceremony that could indicate the status of a person who death and the implications that exist in the rambu solo' ceremony on social stratification in society, namely the implementation of the rambu solo' ceremony which is currently undergoing a change in value, is no longer purely carried out in accordance with applicable customary rules but whoever has a lot of money can carry it out. the rambu solo' ceremony is as lively as possible and most Toraja people carry out the rambu solo' ceremony excessively and tend to be based on prestige alone to increase self-esteem, causing extravagance.
Keywords: Social Stratification, Rambu Solo’ Ceremony
41 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Abstrak. Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertical (bertingkat) yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Dalam stratifikasi sosial terdapat tiga kelas sosial yaitu masyarakat yang terdiri dari kelas atas, masyarakat yang terdiri dari kelas menengah dan kelas bawah.
Orang-orang yang berada pada kelas bawah biasanya lebih banyak daripada kelas menengah apalagi pada kelas atas.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’ di kecamatan Tallunglipu kabupaten Toraja Utara dan untuk mendeskripsikan implikasi yang ada dalam upacara rambu solo’ terhadap stratifikasi sosial di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu sebuah penelitian yang berusaha memberikan gambaran mengenai objek yang diteliti yang bertujuan membuat deskriptif atau gambaran secara sistematis dan aktual melaui fakta-fakta yang ada. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purpose sampling yaitu dengan penarikan informan yang dilakukan dengan sengaja dengan kriteria tertentu. Informan tersebut berjumlah 5 orang, dan 1 informan kunci. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode wawancara, dokumentasi, dan dianalisa secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’ di kecamatan Tallunglipu dapat dilihat dari jenis pesta kematian, berapa lama pelaksanaan upacara rambu solo’ berlangsung, berapa jumlah hewan yang dikurbankan sampai pada simbol-simbol yang digunakan dalam upacara yang dapat menunjukkan status seseorang yang meninggal dan bentuk implikasi yang ada dalam upacara rambu solo’ terhadap startifikasi sosial di masyarakat yaitu pelaksanaan upacara rambu solo’ yang terjadi saat ini sudah mengalami perubahan nilai, tidak lagi murni dilakukan sesuai dengan aturan adat yang berlaku tetapi siapa yang memiliki banyak uang ia dapat melaksanakan upacara rambu solo’ semeriah mungkin dan kebanyakan masyarakat Toraja melaksanakan upacara rambu solo’ secara berlebihan dan cenderung berdasarkan prestise saja untuk menaikkan harga diri sehingga menimbulkan pemborosan.
Kata Kunci: Stratifikasi Sosial, Upacara Rambu Solo’
42 | https://etdci.org/journal/ijesd/index PENDAHULUAN
Stratifikasi sosial didefinisikan Pitirim Sorokin sebagai pengklasifikasian penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah (Narwoko dan Bagong, 2006). Dalam masyarakat adat tradisional sendiri pelapisan sosial seperti ini masih ada dan sangat mengikat dalam setiap lini kehidupan anggotanya bahkan dapat dilihat dalam prosesi pemakaman seperti yang terjadi dalam masyarakat suku Toraja.
Perbedaan stratifikasi tersebut dapat kita lihat dengan jelas dalam prosesi pemakaman (rambu solo’). Pesta biasanya hanya dilakukan dengan besar-besaran oleh kelas atas atau bangsawan dikarenakan secara materi dan status mereka lebih mapan. Maka dari itu status sosial keluarga yang meninggal dapat diukur dari kemeriahan upacara rambu solo’, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah hewan yang dikurbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Prosesi upacara rambo solo’ sendiri sudah ditentukan dalam aluk todolo yang dibagi menjadi empat tingkatan dan disesuaikan dengan kondisi serta kedudukan masyarakatnya diantaranya yaitu Upacara Disilli’ yang merupakan upacara paling rendah dalam alu todolo yang diperuntuhkan bagi strata paling rendah serta anak-anak yang belum tumbuh gigi, Upacara Dipasambongi yang diadakan hanya satu malam, upacara ini diperuntuhkan untuk kasta Tana Karurung, Upacara Dibatang atau Digoya tedong, selama upacara ini berlangsung setiap hari ada pemotongan satu ekor kerbau. Upacara ini diperuntuhkan untuk bangsawan menengah Tana Bassi’, Upacara Rapasang yang diperuntuhkan untuk orang-orang atau kaum bangsawan atas (Tana Bulaan).
Di tengah-tengah fungsinya sebagai aktifitas sosial yang turut membentuk integrasi dalam stratifikasi masyarakat Toraja rambu solo’ saat ini seolah mengalami banyak pergeseran, tatanan kelas sosial sebagai salah satu fungsi mengatur pelaksanaan rambu solo’ terlihat tidak memiliki kuasa untuk mengatur hal tersebut. kebudayaan berubah seirama perubahan hidup masyarakat, pengalaman itu berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, dan teknologi baru dan akibatnya dalam penyesuaian cara hidup dan penyesuainya dalam situasi baru sikap mental dan budaya. Dimana pola stratifikasi yang sudah ditetapkan dalam aluk todolo menjadi kabur karena hal tersebut yang mana biasanya upacara meriah hanya diperuntukkan dan dilaksanakan oleh kalangan bangsawan, kini juga dapat dilakukan oleh kasta dibawahnya sesuai dengan kemampuan ekonomi yang dimiliki masing-masing keluarga.
Stratifikasi sosial dalam budaya masyarakat Toraja sendiri memiliki empat tingkatan.
Pertama adalah Tana’ Bulaan/Toparengnge’. Pada umumnya, kasta tersebut merupakan kasta bangsawan yang memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat dan kasta tersebut juga menguasai tanah persawahan di Toraja. Kedua yaitu Tana’ Bassi’/Tomakaka. Kasta ini merupakan bangsawan menengah yang sangat erat hubungannya dengan kasta Tana’
Bulaan/Toparengnge’. Kasta ini merupakan golongan bebas, mereka memiliki tanah persawahan tetapi tidak sebanyak yang dimiliki oleh kasta bangsawan yaitu Tana’ Bulaan/Toparengnge’.
Kasta ini merupakan para tokoh masyarakat, orang-orang terpelajar dan lain-lain. Ketiga yaitu Tana’ Karurung/To. Kasta ini merupakan masyarakat biasa yang dikenal dengan sebutan pa’tondokan. Kasta ini tidak memiliki kuasa apapun tetapi menjadi tulang punggung bagi masyarakat Toraja. Dan yang keempat yaitu Tana’ Kua-Kua/Kaunan. Kasta ini merupakan pengabdi bagi kasta bangsawan atau Tana’ Bulaan. Bisa dikatakan kasta ini merupakan kasta hamba sahaya. Kasta ini sangat dipercaya oleh kasta bangsawan karena nenek moyang mereka telah bersumpah turun-temurun akan mengabdikan dirinya.
43 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Rambu Solo’ sebagai prosesi pemakaman menjadi aktifitas yang kompleks dimana dalam pelaksanaanya memiliki proses panjang dimulai dari persiapan pemakaman, pelaksanaan upacara, sampai pada kegiatan pasca upacara pemakaman. Dalam proses yang panjang tersebut setiap lapisan strata masyarakat Toraja turut ambil bagian didalamnya sesuai dengan hak dan kewajiban mereka dalam satu kesatuan keluarga besar (suku) yang mana hal ini sejalan dengan teori structural fungsional Talcott Parson, Parson sendiri mengambarkan kultur sebagai kekuatan utama yang mengikat berbagai unsur dunia sosial atau dapat dikatakan kultur adalah kekuatan yang mengikat sistem tindakan.
Berdasarkan dengan kompleksnya kebudayaan adat yang ada dalam masyarakat Toraja menarik minat peneliti untuk mengetahui bagaimana bentuk stratifikasi sosial yang ada dalam prosesi upacara pemakaman jenazah rambu solo’. Apakah dalam prosesnya stratifikasi sosial tersebut masih mengambil aluk todolo sebagai acuan dalam pelaksanaanya ataukah sudah tergeser dengan adanya pengalaman dan pengetahuan baru dari moderenisasi yang menyebabkan pelapisan sosial yang ditentukan aluk todolo menjadi kabur. Peneliti juga tertarik mengetahui penyebab sehingga adat upacara pemakaman rambo’ solo ini bisa bertahan di tengah gempuran moderenisasi.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti merumuskan pertanyaan sebagai acuan pengumpulan data dalam penelitian yaitu: (1) Bagaimana stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’ di kecamatan Tallunglipu kabupaten Toraja Utara? (2) Bagaiamana implikasi upacara rambu solo’ terhadap stratifikasi sosial di kecamatan Tallunglipu kabupaten Toraja Utara? Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian dalam penelitian ini yaitu : (1) Untuk mengetahui stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’ di kecamatan Tallunglipu kabupaten Toraja Utara. (2) Untuk mendeskripsikan implikasi yang ada dalam upacara rambu solo’ terhadap stratifikasi sosial di kecamatan Tallunglipu kabupaten Toraja Utara.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian Stratifikasi Sosial dalam Upacara Rambu Solo’ Kecamatan Tallunglipu Kabupaten Toraja Utara adalah penelitian kualitatif. Metode kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang menghasilkan deskripsi dari orang-orang dalam bentuk kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah bersifat deskripstif, dimana data dikumpulkam dalam bentu kata-kata, gambar dan bukan angka- angka.
Pemilihan informan dilakukan dengan cara purpose sampling yaitu dengan penarikan informan yang dilakukan dengan sengaja dengan kriteria tertentu. Informan tersebut berjumlah 5 orang, dan 1 informan kunci.
Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui pengumpulan dokumen-dokumen lokasi penelitian dan informan. Sementara pengumpulan data sekunder dilakukan melalui wawancara secara langsung. Data akan dianalisis menggunakan teknik wawancara, serta dokumentasi dengan cara menuliskan data-data atau informasi yang diperoleh, mengedit, mengklasifikasi kemudian menguraikan dalam bentuk penjelasan untuk mendapatkan kesimpulan akhir sehingga mudah dipahami dan dapat memberikan gambaran yang jelas terhadap masalah yang telah dipecahkan. Sementara itu teknik keabsahan data dilakukan menggunakan triangulasi teknik/metode.
44 | https://etdci.org/journal/ijesd/index HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’
Dalam kebudayaan masyarakat Toraja terdapat perbedaan status sosial yang berbeda-beda, mulai dari yang tinggi, sedang dan rendah. Stratifikasi tersebut dikenal dengan tingkatan sebagai berikut:
1) Tana’ Bulaan/Toparengnge’
Tana’ Bulaan/To’ Parengnge’ merupakan kasta tertinggi. Pada umumnya golongan bangsawan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat karena mereka bertugas menciptakan aturan-aturan yang kemudian menjadi ketua pemerintahan adat tertinggi dalam masing-masing adat/kelompok adat, misalnya raja dan kaum bangsawan. Mereka juga menguasai tanah persawahan di Toraja
2) Tana’ Bassi/Tomakaka
Tana’Bassi/Tomakaka adalah bangsawan menengah yang erat hubungannya dengan Tana’ Bulaan. Mereka adalah golongan bebas dan juga memiliki tanah persawahan tetapi tidak sebanyak yang dimiliki oleh kaum Tana’ Bulaan dan golongan ini adalah para tokoh masyarakat dan orang-orang terpelajar.
3) Tana’ Karurung
Tana’ Karurung merupakan masyarakat biasa yang dikenal dengan sebutan pa’tondokan. Kasta ini tidak memiliki kuasa apapun tetapi menjadi tulang punggung bagi masyarakat Toraja.
4) Tana’ Kua-Kua/Kaunan
Tana’ Kua-Kua/Kaunan merupakan hamba bagi Tana’ Bulaan denga tugas-tugas tertentu. Mereka sangat dipercaya karena nenek moyang mereka telah bersumpah turun-temurun akan mengabdikan dirinya, akan tetapi atasannya juga mempunyai kewajiban untuk membantu mereka dalam kesulitan hidupnya. (Ellyn Patadungan, 2020).
Status sosial itu merupakan tatanan yang mengatur perilaku para anggota kelompoknya termasuk memberi ciri-ciri yang khas dalam melaksanakan upacara rambu solo’. Jadi dalam masyarakat Toraja, pelaksanaan upacara rambu solo’ juga harus didasarkan pada tana’. Ini berarti tingkatan upacara untuk tana’ kua-kua tidak boleh sama dengan upacara untuk tana’
karurung dan sebagainya meskipun seorang mampu dari segi ekonomi. Dengan demikian upacara rambu solo’ mencerminkan martabat atau harga diri dari diri suatu keluarga khususnya golongan bangsawan. Keberhasilan atau kemeriahan penyelenggaraan upacara akan mempunyai nilai sosial yang tinggi dan sekaligus menambah gengsi suatu keluarga. Dulunya, pesta meriah hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan saja tetapi saat ini sudah mulai bergeser, siapa yang kaya itulah yang pestanya meriah. Kemeriahan upacara rambu solo’ ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal dan juga diukur dari jumlah hewan yang dikurbankan. Dengan kata lain keberhasilan atau kemeriahan pelaksanaan upacara rambu solo’ akan mempunyai nilai sosial yang tinggi dan sekaligus menambah gengsi suatu keluarga. Sebaliknya keluarga akan merasa sangat malu jika tidak dapat mengupacarakan orang yang telah meninggal tersebut sebagaimana mestinya.
Seperti yang dijelaskan oleh Talcott Parson dalam teori fungsionalisme struktural (dalam Nasikun, 2004:10) menganggap bahwa disfungsi, ketegangan-ketegangan dan penyimpangan- penyimpangan sosial yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan kemasyarakatan dalam bentuk tumbuhnya diferensiasi sosial yang semakin kompleks adalah akibat daripada
45 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
pengaruh dan faktor yang datang dari luar. Perubahan yang terjadi pada umumnya hanya mengenai bentuk luarnya saja sedangkan unsur sosial budaya yang menjadi bangunan tidak seberapa mengalami perubahan. Begitupun yang terjadi pada masyarakat Toraja dalam pelaksanaan upacara rambu solo’, banyak dari masyarakat telah keluar dari aturan-aturan dan nilai-nilai adat karena terpengaruh oleh faktor-faktor yang datang dari luar sehingga masyarakat berpendapat bahwa jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan serta kepemilikan harta benda dapat mempengaruhi strata sosial seseorang dalam pelaksanaan upacara rambu solo’, padahal jelas bahwa strata sosial dari masyarakat Toraja didapatkan dari garis keturunan dan bukan melalui usaha-usaha yang disengaja seperti yang dipahami oleh sebagian masyarakat Toraja saat ini. Selain itu, sebagian masyarakat Toraja berpandangan bahwa strata sosial dapat dilihat saat pelaksanaan upacara rambu solo’ berlangsung sehingga ketika melaksanakan upacara banyak yang lebih memilih untuk keluar dari aturan-aturan dan nilai-nilai tersebut karena adanya sifat malu/siri’.
2. Implikasi upacara rambu solo’ terhadap stratifikasi sosial
Pandangan masyarakat terhadap strata sosial dalam pelaksanaan upacara rambu solo’ sangat berdampak dan mempengaruhi pelaksanaan upacara tersebut di dalam masyarakat Toraja saat ini karena masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan serta kepemilikan harta benda dapat mempengaruhi strata sosial seseorang dalam pelaksanaan upacara rambu solo’, padahal jelas bahwa strata sosial dari masyarakat Tojara didapatkan dari garis keturunan atau ascribed status dan bukan berupa achived status seperti yang dipahami oleh sebagian masyarakat Toraja saat ini. Selain itu sebagian masyarakat Toraja berpandangan bahwa strata sosial dapat dilihat saat pelaksanaan upacara rambu solo’
berlangsung. Oleh karena itu, sebagian dari masyarakat Toraja ketika melaksanakan kegiatan upacara lebih memilih untuk keluar dari aturan-aturan dan nilai-nilai tersebut karena adanya sifat malu/siri’.
Hal ini sangat tidak sesuai dengan peraturan adat yang sesungguhnya karena status sosial seseorang tidak akan berubah saat melaksanakan upacara rambu solo’ seperti kaum hamba berubah menjadi bangsawan ketika melaksanakan upacara rambu solo’. Pelaksanaan upacara rambu solo’ secara mewah dan meriah juga tidak akan meningkatkan atau merubah status sosial seseorang. Namun, sebagian masyarakat Toraja berpandangan bahwa kalangan kelas sosial bawah yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik dapat melaksanakan kegiatan upacara rambu solo’ seperti pelaksanaan upacara rambu solo’ kelas sosial atas (bangsawan) padahal hal tersebut sebenarnya tidak diperbolehkan karena kelas sosial kalangan bawah tidak memiliki landasan adat yang kuat seperti tongkonan dan kombongan yang menaungi karena hal tersebut hanya bersifat mengejar prestise dan pemborosan saja.
Menurut teori Max Weber, kategori dasar untuk membedakan kelas ialah kekayaan yang dimiliki dan faktor yang menciptakan kelas ialah kepentingan ekonomi dan dimensi lain yang digunakan orang untuk membeda-bedakan anggota masyarakat ialah dimensi kehormatan dan kekuasaan yang dimiliki.
Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan termasuk kedalam kelas sosial atas, yang tidak memiliki salah satu kriteria penentu lapisan tersebut akan menduduki kelas sosial menengah dan yang hanya memiliki salah satu saja atau tidak memiliki kriteria semuanya termasuk pada kelas sosial bawah. Masyarakat yang berada dikelas sosial atas dan menengah akan dihormati dan lebih dihargai daripada masyarakat yang berada dikelas sosial bawah.
46 | https://etdci.org/journal/ijesd/index KESIMPULAN
Secara umum stratifikasi sosial yang berlaku di masyarakat Toraja digariskan pada keturunan yang terbagi dalam beberapa stratifikasi sosial yang mana masyarakat Toraja menyebutnya dengan tana’ yang terbagi atas empat yaitu tana’ bulawan, tana’ bassi, tana’ karurung dan tana’
kua-kua. Status sosial seseorang dalam upacara rambu solo’ dapat dilihat dari jenis pesta kematian yaitu seberapa lama pelaksanaan upacara berlangsung, berapa jumlah hewan yang dikurbankan sampai pada simbol-simbol yang digunakan dalam upacara yang dapat menunjukkan status seseorang yang meninggal.
Prosesi upacara rambo solo’ sudah ditentukan dalam aluk todolo yang dibagi menjadi empat tingkatan dan disesuaikan dengan kondisi serta kedudukan masyarakat tetapi pelaksanaan upacara rambu solo’ yang terjadi saat ini sudah mengalami perubahan nilai. Kebanyakan masyarakat Toraja melaksanakan upacara rambu solo’ secara berlebihan dan cenderung berdasarkan prestise saja dan untuk menaikkan harga diri sehingga menimbulkan pemborosan sehingga tidak lagi murni dilakukan sesuai dengan aturan adat yang berlaku tetapi siapa yang memiliki banyak uang ia dapat melaksanakan upacara rambu solo’ semeriah mungkin, padahal kita telah mengetahui bahwa status ekonomi, status pendidikan, tingkat pendapatan serta kepemilikan harta benda seseorang tidak dapat merubah status sosialnya dalam hukum adat.
Tetapi dibalik itu semua dengan adanya upacara rambu solo’ ada makna sosial yang diperoleh yaitu kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, toleransi, kepedulian dan mengenang kasih dan sayang oleh mending yang telah pergi.
REFERENSI
Anggreani, Sri, Anggun. 2020. Makna Upacara Adat Pemakaman Rambu Solo’ di Tana Toraja.
Skripsi Universitas Indraprasta.
Arief, A., 1995. Kamus Makassar Indonesia. Ujung Pandang: Kapita DDI Ujung Pandang.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/. Diakses pada Maret 2022.
Bagong, Dwi Narwoko, J. 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Media Group.
Berger, Peter L. 1963. Invintation to Sociology: A Humanistic Perspective. New York:
Doubleday. Br. Brahmana, Lorensia Berliana.
Bigalke, W. Terrance. 2016. Sejarah Sosial Tana Toraja. Yogyakarta: Ombak.
Creswell, John. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kumulatif, dan Mixed.
Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar.
Doyle, Paul, Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia.
Grave, Anita, DE. 2019. Menguak Praktik Akuntansi Pada Pelaksanaan Upacara Adat Rambu Solo’ Masyarakat Toraja. Tesis Universitas Hasanuddin.
http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/5693/. Diakses pada Mei 2022.
47 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Islamiah, Dina. 2017. Budaya Selawat Sebagai Fenomena Religiositas pada Grup Rebana Abu Nawas Dusun Tegalrejo Plemahan Kediri (Studi Living Hadis). Skripsi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri. http://etheses.iainkediri.ac.id/78/. Diakses pada Juni 2022.
Jeffries, Vincent dan H. Edward Ransford. 1980. Social Startification: A Multiple Hierarchy Approach. Boston: Allyn and Bacon.
Juwita, Firman, Rusdinal, Aliman. 2020. Meta Analisis Perkembangan Teori Struktural Fungsional dalam Sosiologi Pendidikan. Jurnal Universitas Negeri Padang.
http://perspektif.ppj.unp.ac.id/index.php/perspektif/article/view/168. Diakses pada September 2022.
Keesing, R.M. 1974. Teori-Teori tentang Budaya. Jurnal Antropologi Universitas Indonesia Keragaman Budaya Indonesia https://www.gramedia.com/literasi/keragaman-budaya-indonesia/
Diakses pada April 2022.
Kobong, Th. 1992. Aluk, Adat dan Kebudayaan Toraja. Jakarta: Institut Theologia Indonesia Kondongan, Sri. 2019. Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Rambu Solo’ Berdasarkan
Tingkatan Masyarakat (Studi Kasus Makale Kabupaten Tana Toraja). Skripsi Universitas Muhammadiyah Makassar.
Limbong, Intan. Pengaruh Salah Satu Budaya (Rambu Solo’) Terhadap Perekonomian Masyarakat di Toraja Utara. Jurnal Institut Agama Kristen Negeri Toraja.
https://osf.io/umn6e. Diakses pada Mei 2022.
Lubis, Yusuf A. 2016. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Moleong, Lexy J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Muktamar Shaff, 2007. Masa Depan Warisan Luhur Kebudayaan Sulsel. Makassar; PT Pustaka
Refleksi.
Narboko, Cholid dan Achmadi, Abu. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Nasikun. 2004. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nursalam dan Suardi. 2016. Sosiologi Pengantar Masyarakat Indonesia. Yokyakarta: Wraiting Revolution.
Nursalam, DKK. 2016. Teori Sosiologi Klasik, Modern, Postmodern, Saintifik, Hermeneutik, Kritis, Evaluatif dan Integratif. Yogyakarta; Writing Revolution.
Palebangan B Frans. 2007. Aluk, Adat, dan Adat-Istiadat Toraja, Toraja; PT Sulo.
Paranoan, Marrang. 1990. Upacara Kematian Orang Toraja. Rantepao: Percetakan Sulo.
48 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Patadungan, Ellyn. 2020. Dampak Perubahan Status Sosial Terhadap Upacara Rambu Solo’ di Kelurahan Tondon Mamullu Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja. Skripsi
Universitas Sam Ratulangi.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/download/29317/28455. Diakses pada Mei 2022.
Pengertian Keberagaman dan Beberapa Faktor Pembentuk keberagaman https://www.gramedia.com/literasi/keragaman-budaya-indonesia/ Diakses pada Mei 2022.
Rambu Solo’ Sebagai Upacara Pemakaman Jenazah di Tana Toraja (Tinjauan Wujud dan Unsur
Kebudayaan). https://www.researchgate.net/profile/Muh-
Mukminin/publication/350262395_RAMBU_SOLO'_SEBAGAI_UPACARA_PEMAK AMAN_JENAZAH_DI_TANA_TORAJA_Tinjauan_Wujud_dan_Unsur_Kebudayaan/li nks/6058107692851cd8ce5a350d/RAMBU-SOLO-SEBAGAI-UPACARA-
PEMAKAMAN-JENAZAH-DI-TANA-TORAJA-Tinjauan-Wujud-dan-Unsur- Kebudayaan.pdf. Diakses pada Juni 2022.
Rahim, Abd, Rahman. 2017. Mengenal Lebih Dekat Tana Toraja. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Rahmatiah. 2020. Kearifan Lokal Upacara Rambu Solo’ Berdasarkan Stratifikasi Sosial di Desa Poton Kecamatan Bonggakaradeng Kabupaten Tana Toraja. Skripsi Universitas Muhammadiyah Makassar. https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/9814- Full_Text.pdf. Diakses pada Maret 2022
Rima, Grace. Persepsi Masyarakat Toraja pada Upacara Adat Rambu Solo’ dan Implikasinya Terhadap Kekerabatan Masyarakat di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja. Jurnal Universitas Negeri Makassar. https://ojs.unm.ac.id/pir/article/view/10000. Diakses pada Mei 2022.
Ritzer, George. 2004. Teori Sosisologi (Edisi Terbaru). Yogyakarat: Kreasi Wacana.
Salim, Agus. 2005. Teori Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sarwiji, Suwandi, DKK. 2013. Pendidikan Multikultural dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Siswa di Kota Surakarta dalam Pendidikan Bahasa dan Sastra. Vol.1 No. 1 Hal. 108-124
Scot, John. 2012. Teori Sosial Masalah-Masalah Pokok dalam Sosiologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Setiadi, M. Elly. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Setyarum, Ariesman. 2016. Stratifikasi Sosial dalam Novel Orang Miskin dilarang Sekolah Karya Wiwid Prasetyo. Pena Jurnal Ilmu Pengetahan dan Teknologi Universitas Pekalongan. https://jurnal.unikal.ac.id/index.php/pena/article/view/496/0. Diakses pada September 2022.
49 | https://etdci.org/journal/ijesd/index
Soekanto, Soerjono. 2015. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rajawali Pers.
Soemardjan, Selo dan Soelaeman Soemardi (Ed). 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta:
Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sorokin, Pitrim A. 1959. Social and Cultural Mobility. Collier-Macmillan Limited, London: The Free Press of Glencoe
Struktural Fungsional Robert K. Merton: Aplikasinya dalam Kehidupan Berkeluarga. Jurnal Adibah. 2017. https://www.google.com/search?client=firefox-b- d&q=Adibah.+%282017%29.+Struktural+Fungsional+Robert+K.+Merton%3A+Aplikasi nya+dalam+Kehidupan+Berkeluarga.+INSPIRASI%3A+1%281%29.+171-184 Diakses pada Juni 2022.
Sumule, Erikius. 2021. Perilaku Ma’ Pasilaga Tedong dalam Pelaksanaan Tradisi Upacara Rambu Solo’ di Kabupaten Toraja Utara. Skripsi Universitas Hasanuddin.
http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/6605. Diakses pada Juli 2022.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Syamsiyah, Nur. 2018. Multikulturalisme Masyarakat Perkotaan (Studi Tentang Integrasi Sosial Antar Etnis di Kelurahan Nyamplungan Kecamatan Pabean Cantikan Kota Surabaya).
Jurnal Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/75084/. Diakses pada Juli 2022.
Tangdilintin, L.T. 1975. Upacara Pemakaman Adat Toraja, Toraja; Yayasan Lepongan Bulan.
Teori Agil Talcott Parsons dan Perubahan Sosial Sebagai Alat Analisa. Jurnal UIN Sunan Ampel Surabaya. http://digilib.uinsby.ac.id/13591/5/Bab%202.pdf Diakses pada September 2022 Tim Penyusun. 2019. Pedoman Penulisan Skripsi. Jalan Sultan Alauddin No.259 Makassar.
Wellek, Rene dan Austin Werren. 1988. Theory of Literature. New York: Harcoutr, Brace &
World, Inc. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh Melani Budiyanto. 1988. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia).
Weber, Max. 1946. From Max Weber: Essay in Sociology. Translated, edited, an With an Introduction By H. H. Gerth and C. Wright Mills. 1977. New York: Oxford University Press.