• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Motivasi

2.1.1. Pengertian Motivasi

Beberapa pengertian motivasi adalah sebagai berikut:

a. Menurut Baum (2007), motivasi adalah penggerak/pendorong penting yang mengarahkan tindakan seseorang terhadap tujuan tertentu, dan dengan demikian memfokuskan perhatian seseorang dan mendukung tindakan yang diambil (dalam Leon, dkk, 2008).

b. Menurut Hasibuan (2007), motivasi adalah daya penggerak yang memunculkan kegairahan kerja pada seseorang untuk dapat efektif, terintegrasi, bekerjasama dengan segala upaya mencapai kepuasan.

c. Koontz (dalam Hasibuan, 2007) mengatakan bahwa motivasi mengarah pada dorongan untuk memuaskan kebutuhan.

d. Wayne (dalam Hasibuan, 2007) mengatakan bahwa motivasi adalah kekuatan yang muncul dari keinginan seseorang untuk memenuhi kebutuhan.

e. Motivasi merupakan motif seseorang yang ada dalam dirinya yang membangkitkan, mengarahkan, menyalurkan tindakan menuju pencapaian terhadap tujuan (Amirullah, 2005).

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan dalam diri individu yang mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu.

2.1.2. Jenis-Jenis Motivasi

Handoko (1994) membagi jenis motivasi menjadi dua bagian (dalam Sulastri, 2007), yaitu :

a. Motivasi intrinsik

Motivasi yang muncul dari dalam, sehingga tindakan yang dilakukan benar-benar untuk mencapai tujuan yang bersumber dari dirinya. Contoh motivasi intrinsik, yaitu ingin memiliki pendapatan, ingin dihargai.

(2)

b. Motivasi ekstrinsik

Motivasi yang muncul dari luar, sehingga tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mencapai sesuatu yang berada diluar dirinya. Contoh motivasi ekstrinsik, yaitu gaji, lingkungan atau kondisi kerja.

Persamaan dalam jenis motivasi diatas adalah keduanya didasarkan pada suatu kebutuhan akan dirinya.

2.2. Berwirausaha

2.2.1. Pengertian Berwirausaha

Beberapa pengertian berwirausaha, antara lain:

a. Menurut Drucker (2002), berwirausaha merupakan kegiatan dalam menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berpikir secara kreatif dan bertindak inovatif dalam mencapai peluang yang ada (dalam Sya'roni dan Sudirham, 2012).

b. Menurut Kao (1993), berwirausaha adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan peluang bisnis, manajemen pengambilan resiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk menggerakkan sumber daya (dalam Nitisusastro, 2010).

c. Menurut Hisrich, dkk (2005), berwirausaha merupakan proses yang dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan, yang diciptakan oleh individu yang berani dalam mengambil resiko dengan syarat-syarat kewajaran, seperti waktu, komitmen karir dan penyediaan nilai terhadap berbagai barang dan jasa (dalam Nitisusastro, 2010).

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa berwirausaha merupakan kegiatan dalam menggapai peluang yang ada, dengan keberanian mengambil resiko, melakukan kegiatan yang inovatif, dan memiliki orientasi terhadap laba.

2.3. Motivasi Berwirausaha

Berdasarkan pengertian diatas mengenai motivasi dan berwirausaha, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi berwirausaha merupakan daya penggerak/

pendorong dalam diri yang menimbulkan semangat untuk menciptakan suatu

(3)

kegiatan/pekerjaan dengan melihat peluang yang ada, dengan melakukan tindakan yang berani mengambil resiko, melakukan kegiatan yang inovatif, serta memiliki orientasi terhadap laba. Motivasi berwirausaha yang ditunjukkan oleh Shane, dkk (2003), adalah sebagai berikut:

a. Need for achievement (nAch)

Need for achievement merupakan kebutuhan yang paling menonjol dari teori kebutuhan McClelland lainnya. McClelland (1961) menyatakan bahwa individu dengan nAch tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melaksanakan aktivitas atau tugas dengan tingkatan tanggung jawab, kemampuan (skill), upaya (effort), dan risiko yang cukup tinggi agar dapat mencapai hasil yang diharapkan, termasuk umpan balik yang jelas atas kinerjanya (dalam Shane, dkk, 2003).

b. Locus of Control

Locus of control merupakan bentuk pengendalian diri, yaitu sejauh mana seseorang yakin bahwa mereka menguasai nasibnya, atau keyakinan seseorang dapat mengendalikan diri sendiri atas peristiwa, kejadian yang dihadapi atau yang mempengaruhi dirinya. Seseorang yang memiliki internal locus of control, maka individu tersebut memiliki keyakinan akan dirinya bahwa mereka dapat mengendalikan apa yang terjadi pada diri mereka, dapat mengatur, mengarahkan hidupnya serta bertanggung jawab terhadap pencapaian apapun yang akan diterima. Sedangkan seseorang yang lebih dominan dengan eksternal locus of control, maka didalam dirinya akan memiliki keyakinan bahwa pengendali dari segala aspek di dalam kehidupannya dan apapun yang diterimanya adalah berasal dari kekuatan luar, berasal dari nasib seperti kemujuran/keberuntungan, dan peluang (Robbins, 2001).

c. Vision

Mekanisme untuk mewujudkan peluang biasanya terlintas dalam pikiran wirausaha, dimana wirausaha membuat gagasan/cita-cita untuk dapat menembus peluang tersebut. Gagasan/cita-cita ini secara mendasar yang disebut sebagai visi (Shane, dkk, 2003). Visi membangkitkan motivasi melalui harapan hasil masa depan yang diinginkan (Leon, dkk, 2008).

(4)

d. Desire Independence

Desire Independence adalah keinginan individu mendapatkan kebebasan.

Banyak investigator yang telah melakukan observasi terhadap peran wirausaha yang membutuhkan kebebasan. Dari segi owner, banyak dari mereka yang menikmati menjadi bos dalam bisnisnya dikarenakan mereka menginginkan kebebasan untuk melakukan hal-hal sesuai dengan cara mereka (Kuratko dan Hornsby, 2009)

e. Egoistic passion

Egoistic passion dapat diartikan sebagai keantusiasan, keegoisan dalam bekerja. Egois disini maksudnya adalah bersemangat/bergairah tinggi dalam bekerja, menyukai proses membangun organisasi dan menghasilkan keuntungan. Mereka termotivasi untuk melakukan apa yang benar-benar menjadi kepentingan mereka sendiri, yaitu untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan.

f. Drive

Drive pada dasarnya mengacu pada keinginan untuk berupaya, baik dalam berpikir serta membawa ide menjadi nyata. Ketika wirausaha mengejar peluang maka mereka akan melakukan tindakan untuk merealisasikannya menjadi nyata.

g. Goal Setting

Teori penetapan sasaran (goal-setting) menyatakan bahwa semakin banyak tantangan dalam pencapaian sasaran yang mengarahkan pada kinerja yang lebih baik akan menghasilkan motivasi yang lebih, dalam memprediksi perilaku yang sesuai dan meningkatkan kemungkinan dalam pencapaian sasaran tersebut (Leon, dkk, 2008).

h. Self-efficacy

Menurut Bandura (1977), self-efficacy merupakan keyakinan dalam diri seseorang akan kemampuan dirinya dalam mengatur dan menjalani tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu pencapaian.

Self-efficacy yang tinggi dalam diri seseorang, membuat orang tersebut menyukai hal-hal yang menantang dan tentunya kesukaan akan hal-hal yang menantang ini diimbangi dengan daya tahan yang tinggi pula agar

(5)

sampai pada tujuan yang diinginkan. Oleh karenanya individu dengan tingkat self-efficacy yang tinggi akan memberikan yang terbaik dari diri mereka demi tercapainya hal-hal yang mereka inginkan (dalam Barbosa, 2007).

2.4. Inovasi Produk

2.4.1. Pengertian Inovasi Produk

Beberapa pengertian inovasi produk adalah sebagai berikut:

1. Menurut Thompson, definisi inovasi produk secara klasik adalah konsep luas, yang mencakup ide-ide dan pelaksanaan/implementasi ide terhadap suatu produk baru (dalam Indriani dan Prasetyowati, 2008)

2. Menurut Amabile, dkk (1973), inovasi produk sebagai implementasi sukses dari sebuah ide kreatif mengenai produk baru dalam sebuah perusahaan (dalam Indriani dan Prasetyowati, 2008)

3. Menurut Johne (1999), inovasi produk adalah terkait dengan pengembangan desain produk, tambahan fitur, segala atribut produk sehingga menghasilkan produk yang unik dan berbeda dengan produk pesaing lainnya yang telah ada sebelumnya (dalam Nursiah dan Radhi, 2009)

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa inovasi produk merupakan implementasi ide kreatif terhadap suatu produk baru, yang dapat dilakukan dengan melakukan pengembangan produk sehingga berbeda dari sebelumnya.

2.4.2. Jenis Inovasi Produk

Menurut Sya'roni dan Sudirham (2012), inovasi produk dibagi menjadi dua macam/jenis jika dilihat dari kecepatan perubahannya, yaitu:

a. Inovasi radikal

Inovasi yang dilakukan secara besar-besaran terhadap perubahan suatu produk yang biasanya dilakukan oleh para ahli dalam bidangnya dan dikelola oleh departemen penelitian dan pengembangan..

(6)

b. Inovasi Inkremental

Inovasi dengan cara melakukan perbaikan dalam skala kecil terhadap perubahan suatu produk.

2.4.3. Atribut Produk

Atribut produk merupakan pengembangan produk dan jasa yang melibatkan penentuan manfaat yang akan ditawarkan. Manfaat-manfaat tersebut kemudian dikomunikasikan dan disampaikan melalui atribut-atribut produk, yang terdiri dari (Kotler dan Amstrong, 2004):

a. Kualitas Produk

Kemampuan suatu produk dalam melakukan fungsi-fungsinya, yang meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan. Daya tahan yang dimaksud mencerminkan umur ekonomis dari produk tersebut.

Kehandalan merupakan konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Kualitas produk berarti kualitas kesesuaian, yaitu bebas dari kecacatan dan kekonsistenan dalam memberikan kualitas yang tinggi.

b. Fitur Produk

Fitur produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk satu dengan yang lain, atau antara produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Fitur produk identik dengan sifat dan sesuatu yang unik, khas dan istimewa yang tidak dimiliki oleh produk lainnya.

c. Gaya dan Desain Produk

Gaya dan desain produk merupakan cara lain dalam menambah nilai bagi pelanggan. Gaya semata-mata hanya menjelaskan penampilan produk tertentu, sedangkan desain memiliki konsep yang lebih dari gaya, dimana desain berkontribusi tidak hanya pada penampilan, namun juga pada kegunaan produk. Gaya dan desain yang baik dapat menarik perhatian, meningkatkan kinerja produk, memotong biaya produksi, dan memberikan keunggulan bersaing.

(7)

2.5. Pertumbuhan Usaha

Pertumbuhan usaha merupakan salah satu indikator dari perkembangan usaha (Handrimurtjahyo, Suliso, dan Soeroso, 2007). Menurut Juniarti dan Limanjaya (2005), pertumbuhan (growth) usaha merupakan tahapan kedua dalam perkembangan (development) usaha, setelah start up. Pada tahap ini, perusahaan mengalami peningkatan penjualan, laba, likuiditas, serta mulai melakukan diversifikasi dalam lini produk. Pendapatan yang diperoleh perusahaan akan lebih besar dari tahapan sebelumnya, yaitu tahapan start up. Walaupun terkadang terhitung belum balik modal, namun setidaknya kerugian yang dialami menjadi lebih sedikit, atau dengan kata lain kerugian yang diderita menurun. Hal ini terjadi karena perusahaan telah memiliki pangsa pasar dan telah menghasilkan arus kas operasional yang positif. Dengan adanya pertumbuhan pendapatan ini, otomatis mempengaruhi laba yang didapat. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Davidsson, dkk (2002), bahwa pertumbuhan usaha dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah produksi, penjualan, pendapatan, dan laba (dalam Handrimurtjahyo, Suliso, dan Soeroso, 2007).

2.6. Keterkaitan Antar Konsep

2.6.1. Hubungan antara Motivasi Berwirausaha dengan Pertumbuhan Usaha

Menurut Dutta,dkk (2008), pertumbuhan usaha merupakan proses dinamis, yang tidak terjadi secara instan, memiliki keterkaitan dengan motivasi yang mendasari pribadi seseorang, karena motivasi akan menimbulkan perilaku yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan usaha di masa yang akan datang (dalam Inggarwati dan Kaudin, 2010). Amirullah (2005) menyatakan bahwa motivasi yang mendasari seseorang berwirausaha penting dipertimbangkan sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan wirausaha, termasuk didalamnya keberhasilan dalam pertumbuhan usaha. Berbagai motivasi berwirausaha individu akan mempengaruhi tindakan dan mendorong mereka mencapai keberhasilan tersebut. Lebih lanjut hubungan antara motivasi dan pertumbuhan usaha ini dapat dilihat dari pernyataan bahwa motivasi tinggi yang timbul dari seorang

(8)

pewirausaha akan memberikan dampak yang tinggi dalam melakukan kegiatan usaha, memacu dan mengembangkan usaha (Irawati ,n.d.).

Dari pernyataan-pernyataan diatas didapatkan keterkaitan antara motivasi berwirausaha dengan pertumbuhan usaha. Motivasi berwirausaha dapat membentuk dan mempengaruhi kondisi perusahaan kedepannya.

2.6.2. Hubungan antara Motivasi Berwirausaha dengan Inovasi Produk Dari model penelitian Shane dapat dilihat bahwa motivasi berwirausaha memiliki dampak atau pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengembangan produk. Pengembangan produk yang merupakan inovasi, dimana pengembangan produk dapat dilakukan perusahaan dengan melakukan inovasi (Shane, dkk, 2003). Chen, dkk (2010) juga dalam penelitiannya menyatakan bahwa motivasi menghasilkan pengaruh dalam berbagai tahap perilaku. Motivasi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku inovatif seseorang, faktor promosi yang inovatif, dan ide pelaksanaan perilaku inovatif. Disimpulkan bahwa motivasi yang tinggi akan menghasilkan perilaku inovatif yang lebih.

2.6.3. Hubungan antara Inovasi Produk dengan Pertumbuhan Usaha

Kewirausahaan sering dikaitkan dengan tindakan inovatif, yang nantinya berujung juga terhadap keberhasilan perusahaan, termasuk pertumbuhan usaha.

Menurut Baldacchino (2009), kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar dan kiat untuk mencapai kesuksesan usaha (dalam Hadiyati, 2011). Keeh, dkk (2007) menjelaskan bahwa inovasi sangat penting dengan beberapa alasan, salah satu contohnya adalah bahwa inovasi dapat menghasilkan pertumbuhan perusahaan yang lebih cepat, meningkatkan segmen pasar, dan menciptakan posisi perusahaan menjadi lebih baik (dalam Hadiyati, 2011). Dari salah satu hasil kesimpulan penelitian Sya'roni dan Sudirham (2012) adalah bahwa inovasi dapat diaktualisasikan akan meningkatkan kompetensi kewirausahaan seseorang yang pada akhirnya berkontribusi dalam mempertahankan dan mengembangkan usaha. Selain itu, hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ellitan (2006) didapatkan juga bahwa strategi inovasi, yang didalamnya terdapat inovasi produk, memiliki pengaruh terhadap kinerja

(9)

keuangan perusahaan, dimana kinerja keuangan ini juga dapat mencerminkan pertumbuhan usaha.

2.6.4. Hubungan antara Motivasi Berwirausaha terhadap Pertumbuhan Usaha melalui Inovasi Produk.

Berdasarkan penelitian terdahulu (khususnya Shane, dan Ellitan) dan hubungan antar variabel yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat ditarik suatu benang merah/kesimpulan bahwa motivasi berwirausaha memiliki pengaruh pada inovasi produk, yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan usaha. Keterkaitan hubungan antar variabel ini juga dapat dilihat dari pengertian kewirausahaan menurut Sya'roni dan Sudirham (2012), dimana dinyatakan bahwa kewirausahaan terkait dengan proses, pembentukan dan pertumbuhan bisnis baru yang berorientasi memperoleh keuntungan, dengan penciptaan nilai dan pembentukan produk atau jasa yang inovatif. Proses dan pembentukan bisnis merupakan hal yang terkait dengan motivasi seseorang dalam berwirausaha. Sehingga terlihat hubungan ketiga variabel tersebut. Hubungan ini juga dapat dilihat dalam realita bisnis, dimana seseorang yang memiliki motivasi berwirausaha biasanya akan melakukan suatu tindakan, contohnya seperti inovasi produk, sehingga menghasilkan suatu pertumbuhan pada bisnisnya. Dengan motivasi berwirausaha tinggi, maka kecenderungan wirausaha dalam melakukan tindakan untuk menciptakan suatu proses bisnis akan lebih baik, sehingga orientasi terhadap labanya dapat tercapai dengan baik.

2.7. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Penelitian yang dilakukan oleh Scott Shane, Edwin A. Locke, Christopher J. Collins (2003), dengan judul penelitian “Entrepreneurial Motivation”.

Penelitian ini menggunakan metode meta-analysis, yang mengacu pada penggabungan hasil dari berbagai studi. Penelitian ini memberikan solusi pada peneliti yang tertarik dalam area ini dimasa depan. Model yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

Gambar 2.1. Model motivasi berwirausaha dan proses berwirausaha Sumber: Shane, dkk (2003)

Dari model tersebut, dapat dilihat bahwa motivasi berwirausaha memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pengembangan produk, yang dimana merupakan bentuk inovasi produk. Motivasi berwirausaha dijabarkan secara umum dan spesifik. Secara umum yang terdiri dari need for achievement, locus of control, vision, desire for independence, passion, drive, dan yang secara spesifik terdiri dari dua hal, yaitu goal setting, self-efficacy.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Lena Ellitan (2006), dengan judul penelitian “Strategi Inovasi dan Kinerja Perusahaan Manufaktur di Indonesia:

Pendekatan Model Simultan dan Model Sekuensial”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variabel dimensi strategi inovasi secara simultan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan untuk mengetahui hubungan diantara variabel dimensi strategi inovasi terhadap kinerja keuangan, baik hubungan langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif, dengan teknik sampling yaitu random sampling.

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda (multiple regression model).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa:

 Strategi inovasi yang tepat sangat diperlukan dalam meningkatkan kinerja finansial perusahaan dan kinerja keseluruhan

(11)

 Inovasi produk, penggunaan sumber inovasi eksternal dan investasi teknologi berperan dalam meningkatkan net profit margin

 Untuk memperbaiki pertumbuhan penjualan diperlukan investasi teknologi lebih besar

 Proses inovasi dan investasi diperlukan dalam meningkatkan return on asset

3. Penelitian yang dilakukan oleh Rina Irawati (n.d.), dengan judul penelitian

“Pengaruh Kemampuan Manajerial dan Motivasi terhadap Kinerja Pewirausaha Kecil/Mikro melalui Kepuasan Kerja”. Lokasi penelitian diwilayah Kedawung jalan Kalpataru Blimbing Kabupaten Malang, dengan tujuan penelitian adalah untuk menguji pengaruh variabel langsung dan tidak langsung antara kemampuan manajerial dan motivasi terhadap pewirausaha kecil/mikro melalui kepuasan kerja. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif, dengan teknik sampling yaitu simple random sampling. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi dengan analisis jalur (path-analysis).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa:

 Secara simultan terdapat pengaruh langsung antara kemampuan manajerial dan motivasi terhadap kinerja pewirausaha kecil/mikro.

 Secara parsial, kemampuan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pewirausaha, sedangkan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pewirausaha

 Tidak terdapat pengaruh tidak langsung antara kemampuan manajerial dan motivasi terhadap kinerja pewirausaha melalui kepuasan kerja

4. Penelitian yang dilakukan oleh Amirullah (2005), dengan judul penelitian

“Pengaruh Sifat dan Motivasi Usaha dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Usaha”. Lokasi penelitian di Malang dan Pasuruan, dengan tujuan penelitian adalah untuk menganalisa pengaruh variabel berbagai karakteristik pengusaha dan motivasi bisnis terhadap pertumbuhan bisnis di Usaha Kecil dan Menengah.

Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif, dengan teknik sampling yaitu purposive sampling, kriterianya adalah kalangan pengusaha kecil yang termasuk kriteria pelaku wirausaha, dimana usaha yang dijalankannya merupakan usaha

(12)

kecil mandiri dan berada diwilayah Kabupaten Malang dan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan alat analisis SEM (Structural Equation Modelling).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa:

 Swakendali, inovasi dan kesukaan bergaul menentukan sifat wirausaha pada usaha kecil di Malang dan Pasuruan

 Kesukaan bergaul merupakan faktor pembentuk sifat wirausaha yang paling dominan

 Kebutuhan prestasi dan kebutuhan untuk berkembang merupakan faktor pembentuk motivasi usaha yang kuat pada pelaku wirausaha yang berhasil

 Sifat wirausaha dan motivasi bisnis berpengaruh terhadap pertumbuhan usaha

5. Penelitian yang dilakukan oleh Stenly Salenussa (2008), dengan judul penelitian “Pengaruh Strategi Inovasi terhadap Kinerja Operasional Perusahaan (Studi Kasus pada PT. AOI Wisarissa)”. Lokasi penelitian di Malang Sulawesi, dengan tujuan penelitian adalah untuk menganalisa pengaruh dimensi-dimensi strategi inovasi terhadap kinerja operasional PT. AOI. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif, dengan teknik sampling yaitu convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linear berganda.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa:

 Dimensi strategi inovasi yang terdiri dari inovasi proses, inovasi produk, implementasi inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja operasional perusahaan.

 Orientasi kepemimpinan yang juga termasuk dalam strategi inovasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja operasional perusahaan.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sebagai berikut:

 Penelitian yang dilakukan oleh Scott Shane, dkk merupakan penelitian dengan metode meta-analysis yang mengacu pada penggabungan hasil dari berbagai studi mengenai motivasi berwirausaha. Model penelitian yang digunakan/diajukan menggunakan banyak variabel lain dengan menggunakan motivasi berwirausaha sekaligus menunjukkan proses

(13)

berwirausahanya, sedangkan dalam penelitian ini hanya fokus pada motivasi berwirausaha saja dan mengambil satu indikator yaitu perkembangan produk sebagai variabel intervening.

 Penelitian yang dilakukan Lena Ellitan, menggunakan alat analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung secara simultan dan parsial antara variabel bebas dan terikatnya.

Sedangkan dalam penelitian ini hanya mengukur pengaruh secara parsial.

 Penelitian yang dilakukan oleh Rina Irawati menggunakan dua variabel independen yaitu kemampuan dan motivasi, sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan satu varibel motivasi saja. Variabel dependen penelitian terdahulu dengan sekarang juga berbeda, dimana penelitian tersebut menggunakan kinerja, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan pertumbuhan usaha, yang lebih spesifik.

 Penelitian yang dilakukan Amirullah, menggunakan teknik purposive sampling, dengan alat anailsis SEM, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling, dengan path analysis dengan cara meregresikan seluruh variabelnya.

 Penelitian yang dilakukan oleh Stenly Salenussa, dalam pengukuran kinerjanya tidak dengan berdasarkan pada pertumbuhan kinerja yang diukur tidak dengan menggunakan data keuangan perusahaan, namun dalam penelitian ini menggunakan data keuangan sebagai indikator dari variable dependen yaitu pertumbuhan usaha. Penelitian tersebut menggunakan teknik convenience sampling dengan alat analisis berganda.

Sedangkan penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan path analysis secara regresi.

(14)

2.8. Kerangka Konseptual

Gambar 2.2. Kerangka konseptual.

2.9. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Diduga bahwa terdapat pengaruh langsung antara motivasi berwirausaha terhadap pertumbuhan usaha kerajinan di Lombok Barat

2. Diduga bahwa terdapat pengaruh tidak langsung antara motivasi berwirausaha terhadap pertumbuhan usaha melalui inovasi produk pada kerajinan gerabah Lombok Barat

Pertumbuhan Usaha (Y2) Motivasi

Berwirausaha (X)

Inovasi Produk (Y1)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Veronika Whardana (2009, p. 3), “display merupakan fasilitas untuk memamerkan sebuah produk atau tampilan yang dipamerkan dalam toko untuk membuat suatu ruangan

Sengketa pajak dapat berupa sengketa pajak formal maupun sengketa pajak material, yang dimaksud dengan sengketa pajak formal yaitu sengketa yang timbul apabila Wajib Pajak

Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan Terhadap Motivasi Berwirausaha Dan Keterampilan Berwirausaha Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.. Universitas

Keputusan disetujui oleh pemegang saham seri A Dwiwarna dan para pemegang saham lainnya dan/atau wakil mereka yang sah yang bersama- sama mewakili lebih dari 1/2 (satu

Uji coba nuklir dan rudal yang dilakukan oleh Korea Utara juga memperkeruh suasana pengupayaan perdamaian karena menimbulkan kekhawatiran di pihak Korea Selatan maupun negara

Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu apakah pemberitaan konflik di Lampung Selatan dalam media online Tribun Lampung pada bulan Oktober 2012 sampai November 2012

Isochrone dapat digunakan untuk mengetahui usia gugus bintang dikarenakan anggota gugus memiliki usia yang hampir sama.Perbandingan beberapa usia isochrone dengan HR diagram

Madcoms mengemukakan bahwa PHP (Hypertext Preprocessor), merupakan bahasa pemrograman pada sisi server yang memperbolehkan programmer menyisipkan perintah-perintah