• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NATHAN ALGRENT DALAM FILM EDWARD ZWICK NO SAKUHIN NO "THE LAST SAMURAI" TO IU EIGA NI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NATHAN ALGRENT DALAM FILM EDWARD ZWICK NO SAKUHIN NO "THE LAST SAMURAI" TO IU EIGA NI"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NATHAN ALGRENT DALAM FILM

“THE LAST SAMURAI” KARYA EDWARD ZWICK

“EDWARD ZWICK NO SAKUHIN NO "THE LAST SAMURAI" TO IU EIGA NI OKERU NATHAN ALGRENT NO SHUJINKO NO SHINRI BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah satu Syarat

Ujian Sarjana Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang

Oleh:

Arief Adianshar

NIM :140708044

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Analisis Psikologis Tokoh Utama Nathan Algrent Dalam Film The Last Samurai” Tujuan dari penyusunan skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan Program Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari skripsi ini belum seperti yang diharapkan baik penyusunan kalimatnya maupun pemecahan masalahnya, untuk itu penulis mengharapkan saran yang membangun.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih, penghargaan, dan penghormatan kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.d selaku Ketua jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Adriana Hasibuan S.S, M.Hum selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memberikan masukan, bimbingan, dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

4. Para Dosen dan Staf Pegawai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, khususnya para Dosen dan Staf Pegawai di Jurusan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.

5. Keluarga penulis, Ayahanda Anshari dan Ibunda Cut yang selalu mendoakan penulis agar selalu sehat, memberikan nasehat, dukungan moral dan material yang tak terhingga. Serta tak lupa pula untuk Adik

(6)

tercinta Alya dan Abang Aqsha, Akbar dan Ammar yang memberikan doa sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini

6. Sahabat-sahabat tercinta Yajed, Jaya, Selvi, Acid, Zura, dan teman- teman yang terus memberikan bantuan, semangat dan keceriaan kepada penulis.

7. Teman-teman mahasiswa sastra Jepang Aotake 2014 yang telah banyak membantu dan membawa keceriaan selama menempuh pendidikan secara bersama-sama.

8. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dalam susunan kalimatnya maupun proses anlisisnya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini agar dapat menjadi skripsi yang lebih bermanfaat dan lebih sempurna.

Akhir kata, penulis berharap semoga kiranya skripsi ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca. Semoga Allah yang Maha Segalanya membalas kebaikan kalian semua dan melimpahkan berkah dan anugerah kepada kita semua. Amin

Medan, 07 February 2019 Penulis

Arief Adianshar NIM: 130708096

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Rumusan Masalah 6

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan 6

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 7

1.4.1 Tinjauan Pustaka 7

1.4.2 Kerangka Teori 7

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 14

1.5.1 Tujuan Penelitian 14

1.5.2 Manfaat Penelitian 14

1.6 Metode Penelitian 15

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP FILM THE LAST SAMURAI ANALISA PSIKOLOGI PSIKODINAMIKA

DAN BEHAVIORISTIK 16

2.1 Defenisi Film 16

2.2 Unsur Interinsik Film The Last Samurai 19

2.2.1 Tema 19

2.2.2 Alur 20

2.2.3 Latar 22

2.2.4 Penokohan 22

2.2.5 Sudut Pandang 24

2.3 Psikologi Secara Umum 38

(8)

2.4 Hubungan Sastra Dan Psikologis 39

2.5 Psikologi Behaviorisme 40

2.6 Psikologi Psikodinamika 45

2.7 Sinopsis Cerita Film The Last Samurai 50

BAB III ANALISIS PSIKOLOGIS PADA TOKOH UTAMA DALAM FILM THE LAST SAMURAI 51

3.1 Analisis Psikologis Tokoh Utama Film The Last Samurai 51 3.2 Analisis Usaha Pada Tokoh Utama Film The Last Samurai 53

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 54

4.1 Kesimpulan 54

4.2 Saran 57

DAFTAR PUSTAKA ABSTRAK

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sastra berasal dari bahasa sanskerta , yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Sastra Tulisan (Sulastin Sutrisno, 1985:6) menjelaskan bahwa sastra tulisan adalah sastra yang menggunakan media tulisan atau literal, sedangkan Sastra Lisan adalah kesusastraan warga suatu kebudayaan yang di sebarkan dan di tutur – temurunkan secara lisan dari mulut ke mulut (Hutomo, 1991: 1).

Berbicara mengenai sastra, ada banyak contoh karya sastra yang dapat di kaji. Salah satu di antaranya adalah film. Film juga di kenal sebagai movie, gambar hidup, film theater atau foto bergerak, merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika di tampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak.

Ketka menganalisis sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan berbagai metode ataupun pendekatan kritik sastra, salah satunya adalah dengan pendekatan psikologis. Psikologis adalah salah satu bidang ilmu yang mempelajari mengenai perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia secara ilmiah. Para praktisi dalam bidang psikologis disebut psikolog. Para psikolog berusaha juga mempelajari peran fungsi mental dalam perilaku, individu, maupun kelompok, selain juga

(10)

mempelajari tentang proses fisiolgi dan neurobiologisyang mendasari perilaku. Jadi pendekatan psikologis ini adalah analisis atau kritik terhadap suatu karya sastra yang berfokus pada keadaan jiwa seseorang, baik terhadap pengarang, karya sastra, maupun pembaca.

Adapun penelitian yang akan di bahas adalah sastra yang bersifat nonfiksi yang mencerminkan kondisi kehidupan yang dituangkan dalam film “The Last Samurai”. Film ini bukanlah sejarah, melainkan Myths atau Legend. Film ini ditampakkan sesuai dengan ajaran Bushido. Disiplin, setia pada pimpinan dan negara, menolong yang lemah, dan murni dalam pikiran maupun tindakan. konflik yang ada di film ini dikarenakan kaisar meluncurkan program yang disebut restorasi Meiji pada akhir abad ke 19. Ini setelah barat melalui renassaince dan enlightenment serta maju dalam revolusi industri. Salah satu programnya adalah pembaratan atau westernisasi, termasuk pemuthakiran persenjataan angkatan bersenjata Jepang dengan produksi barat. Kekuasaan pada Shogun juga dilucuti.

Strata mulai dihapus dan dilarang. Sebagai akibatnya banyak samurai yang ditangkap dan dibunuh. Dan disini terjadi pertentangan antara satu Daimyo yang tersisa dengan sang kaisar, yang ingin menentang adanya westernisasi terhadap Jepang dan menghilangkan budaya asli mereka sekaligus pejuang dimasa tempo dulu.

Adapun sisi lain dalam cerita ini, disini saya memfokuskan pada tokoh utama dalam film “The Last Samurai” ini menceritakan tentang seorang veteran Amerika yang bernama Nathan Algrent yang berpangkat kapten. Meski berprestasi, Algrent di hantui rasa bersalah karena sebuah pertempuran yang melawan penduduk asli benua Amerika yaitu perang melawan suku Indian. Dibalik pertempuran itu terjadi pembunuhan masal terhadap anak – anak dan wanita suku

(11)

Indian yang tidak bersalah, dengan gejolak batin sang kapten yang tidak ingin membunuh para penduduk suku Indian yang tersisa, Algrentpun terpaksa melakukan pembunuhan karena perintah dari atasannya yaitu Colonel Bagley.

Didasari dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya, Algrent mengundurkan diri dari pekerjaannya yaitu sebagai veteran Amerika. Sering berjalannya waktu, Algrent menjadi seorang yang bertempramen tinggi atau bisa di katakan pemarah, arogan dan kasar. Dan di tambah lagi Algrent menjadi pemabuk berat dengan usaha untuk menghilangkan masalah yang di alaminya pada peristiwa pertempuran melawan suku Indian. Berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya saat Algrent masih menjadi kapten, sekarang Algrent mendapatkan pekerjaan sebagai sales senjata di perusahaan senjata Winchester Company. Di pekerjaan ini Algrent menjadi lebih tertekan dan merasa jenuh, selama bekerja di perusahaan senjata tersebut, ia seperti di kucilkan dan tidak di hormati layaknya pensiunan tentara yang berpangkat kapten dan mendapat bayaran yang sedikit. Pada suatu saat, Algrent bertemu dengan rekan seperjuangannya yaitu kapten Gant, ia menawarkan suatu pekerjaan.

Yang tak lain adalah pekerjaan yang akan melibatkan ia dengan peperangan lagi, di pertemukan lagi dengan atasannya saat beperang mealwan suku Indian, yaitu Colonel Bagley. Disini Bagley pun memperkenalkan Algrent dengan perdana menteri Jepang yaitu Omura, kali ini Algrent di tawarkan untuk melatih pasukan Jepang yang sebagian besar adalah petani agar hebat seperti pasukan Barat. Dengan keterpurukan dan tekanan yang di alaminya selama ia bekerja menjadi sales senjata, ia menerima pekerjaan itu. Ini seperti ke ironisan dalam kehidupannya.

Singkat cerita, sesampainya di Jepang, Algrent melatih pasukan Jepang dengan tujuan untuk melawan samurai (pejuang Jepang pada masa lampau). Omura

(12)

mengangap bahwa samurai terlalu kuno dan tidak dapat mengikuti jaman, di sini Algrent di janjikan imbalan besar jika berhasil melenyapkan para samurai di negeri Jepang. Belum lama melatih pasukan barunya, kapten Algrent di hadapkan pada perlawanan yang di lakuka para samurai pimpinan Kastumoto. Pasukan yang belum mahir terpaksa di turunkan untuk melawan samurai, pertempuran terjadi di hutan belantara.

Pasukan yang belum dispilin tampak merasa panic dan tak tahu harus berbuat apa. Kekalahan pasukan tak membuat Algrent menyerah begitu saja, ia terusw melawan para samurai meski terjatuh berkali – kali. Akhirnya kehabisan tenaga, Algrent melemah sehingga Katsmuto memutuskan untuk membawa dan menawan kapten. Di perkampungan, Algrent di rawat dan di obati lukanya oleh Taka (istri yang suaminya terbunuh oleh Algrent di medan perang ). Kapten merasa kagum karena taka tidak membencinya sama sekali. Di perkampungan yang sangat sederhana tersebut Algrent belajar banyak hal – hal. Ternyata para samurai hidup penuh dengan kedisiplinan dan jauh dari kata kuno seperti yang di katakan Omura.

Algrent akhirnya mulai belajar pedang, belajar bahasa Jepang dan pendiriannya mulai luntur mengenai tugasnya untuk melenyapkan samurai.

Ternyata budaya jepang sangat luhur dan tinggi. Dan hanya kebudayaannya saja, ia melihat kesetiaan yang begitu luar biasa, dan di desa inilah Algrent mulai menemukan kedamaian sekaligus jalan keluar dari masa lalunya yang terus meghantuinya. Hal inilah penulis tertarik untuk meneliti kondisi psikologis Nathan Algrent, loyalitas, kesetiaan dan kedisiplinan mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Berdasarkan alasan di atas penulis mengambil judul Analisis Psikologis Tokoh Utama Nathan Algrent Dalam Film The Last Samurai.

(13)

1.2. Rumusan Masalah

Setiap manusia akan mengalami kondisi yang berbeda – beda dalam menjalankan kehidupannya. Akan tetapi tidak semua manusia bisa mengambil pelajaran positif dari pengalaman hidup yang mereka alami, tak sedikit dari kita bahkan mengalami stress dan depresi sehingga menimbulkan anggapan bahwa masalah kehidpan suatu tekanan yang berat sama halnya seperti yang di hadapi oleh Nathan Algrent yang menjadi tokoh utama dalam film ini.

Semasa karir Nathan Algren yang beprofesi sebagai tentara Amreika, Algrent di kenal sebagai tentara yang berprestasi karena ia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan terencana, setelah mengalami peperangan terus – menerus, Algrent mendapatkan tugas yaitu berperang melawan penduduk asli benua Amerika yaitu suku Indian. Di dalam peperangan tersebut, Algrent mendapatkan perintah untuk menghabisi suku Indian yang tersisa yaitu anak – anak dan wanita.

Dengan terpaksa Algrentpun membunuh suku Indian yang tersisa,setelah berhasil melakukan tugas tersebut, didasari dengan rasa bersalah yang membuatnya tertekan Algrent mengundurkan diri dari pekerjaannya. Terus di hantui dengan rasa bersalahnya Algrent menjadi seseorang yang bertempramen tinggi, arogan dan kasar. Untuk melupakan masa lalunya ia menjadi seorang pemabuk berat dan mencari pekerjaan kecil sebagai sales senjata. Semua usaha yang di lakukan untuk melupakan masa lalunya itu sia – sia dan semakin membuat Algrent tertekan.

Seiring berjalannya waktu, ia di tawarkan pekerjaaa yaitu melatih tentara Jepang agar tentara Jepang mampu seperti tentara Amerika, Algrent menerima pekrjaan itu karena ia tidak sanggup lagi dengan keterpurukan kehidupannya yang sekarang di alaminya dan membuatnya semakin jenuh.

(14)

Tiba terjadinya perang antara pasukan yang di latihnya melawan samurai yang di pimpin Katsumoto, pasukan yang belum mahir tersebut kalah dalam peperangan dan membuat Algrent menjadi tawanan para samurai itu. Seiring berjalannya waktu selama ia menjadi tawanan di desa para samurai tersebut, Algren merasa kagum dengan kehidupan yang ada di dalam desa samurai, karena tidak satu orang warga di desa tersebut membencinya dan tidak menganggap Algrent seperti tawanan pada umumnya dan Algrent mulai belajar banyak hal seperti belajar menggunakan katana dan belajar bahasa Jepang.

Dan yang membuatnya semakin kagum ialah budaya mereka yang menjunjung tinggi kesetiaan dan kedisiplinan yang ada di dalam desa tersebut, yang tak pernah ia temukan semasa ia tinggal di tempat asalnyasehingga pendiriannya yang ingin menghabisi para samuraipun luntur. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengangkat permasalahan yang di bahas dalam penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana kondisi Psikologis yang di alami tokoh utama pada film The Last Samurai

2. Bagaimana usaha tokoh utama mendapatkan kedamainnya pada film The Last Samurai dalam tekanan psikologisnya

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

Dalam penelitian ini, agar pembahasan tidak meluas maka permasalahan dibatasi dengan data dan memfokuskan pada analisis penokohan Nathan Algrent yang di tinjau dari sudut psikologisnya dan kondisinya yang mengalami tekanan batin. Melalui pendekatan psikologis, akan dilihat kekuatan jiwa dari Nathan Algrent dalam mengatasi dan menjalani permasalahan dalam hidupnya. Dalam film

(15)

The Last Samurai ini, menunjukkan bagaimana peranan lingkungan sosial umumnya dan subjek sendiri tentunya dalam membentuk pribadi seorang individu dimana dalam hal ini adalah Nathan Algrent sendiri. Film The Last Samurai merupakan gambaran faktor lingkugan paling mempegaruhi dalam hidup kita.

1.4. Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Teori

1.4.1 Tinjauan Pustaka

Tinjuan pustaka berupa tulisan penelitian terdahulu sangat di butuhkan agar penelitian menjadi relavan. Adapun beberapa kajian yang berkaitan dengan penelitian ini salah satunya yaitu skripsi dari Harry Eka Pratama USU (2006) , yang berjudul Analisis Psikologis Tokoh Utama Dalam Novel “1 Liter Of Tears” karya Aya Kito. Perbedaan dengan penelitian ini, peneliti terdahulu membahas tentang kondisi pada tokoh utama “ Aya Kito” ketika ia di hadapkan dengan penyakit yang di deritanya yang membuatnya tidak mempunyai semangat hidup dan tidak percaya diri yang di ceritakan dalam novel “ 1 Liter Of Tears” .

Tetapi, dengan kebaikan hati dan kasih sayang. Kebaikan hati orang tua ke anaknya, kebaikan hati teman, kakak-adik, guru, pengurus Aya-chan di rumah sakit, orang-orang di sekitar Aya-chan. Juga kepekaan Aya-chan merasakan dan memberi kembali kasih sayang ke orang-orang di sekelilingnya. Dan pada akhirnya Aya mampu mendapat kepercayaan dalam dirinya kembali dan menjadi panutan bagi orang-orang disekitarnya.

Yang menjadikan perbedaan mendasar pada “Analisis Psikologis Pada Tokoh Utama Nathan Algrent Dalam Film The Last Samurai” adalah refrensi pada penelitian ini. Penelitian ini membahas kondisi psikologis tokoh utama “Nathan Algrent” yang dihadapkan dengan masa lalunya yang membuat dia tertekan dan

(16)

depresi. Adapun persamaan pada penelitian yang penulis lakukan yaitu, pada metode penyediaan data yang di gunakan adalah metode catat, dan pada metode peyajian data menggunakan metode informal menurut Sudryanto (2006:120) , yaitu perumusan dengan kata – kata biasa.

1.4.2 Kerangka Teori

Menurut ensiklopedi Nasional (1990:13) Psikologi berasal dari bahasa latin, yaitu psyche berarti jiwa dan logos yang artinya ilmu. Secara harfiah psikologi di artikan sebagai sebagai ilmu jiwa. Istilah psyche masih sulit di defenisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya. Meskipun tidak dapat dipungkiri keberadaanya dalam beberapa dasawarsa ini, istilah jiwa sudah jarang di gunakan dan diganti dengan istilah psikis.

Dalam pembahasa ini penulis memakai teori psikologis Psikodinamika. Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian menurut Freud dalam jurnal teori Psikoanalisis (2006:2). Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori psikodinamika ini banyak di pengaruhi oleh pandangan Sigmund Freud. Pandangan Freud didasarkan dari suatu keyakinan bahwa dalam diri individu terdapat energi psikis yang dinamis. Freud beranggapan bahwa energi psikis memiliki sifat kekal dan tidak dapat dihilangkan. Jika energi dihambat, maka ia akan mencari saluran lainnya. Berdasarkan pandangan psikoanalisa terdapat tiga fungsi psikis, yaitu: Id, Ego dan Superego.

Bagian paling primitif dari kepribadian disebut Id. ld menjadi sumber energi utama. Ini memungkinkan manusia untuk dapat bertahan hidup. Ego dan superego berkembang dari Id. Id meliputi berbagai dorongan biologis dasar contohnya

(17)

kebutuhan fisik. Semakin individu berkembang, dorongan untuk memenuhi kebutuhan semakin kuat. Hal ini membuat individu semakin realistis untuk berhubungan dengan lingkungan.

Kemudian. individu dituntut untuk membedakan objek yang sebenamya dengan objek imajiner dengan dalam lingkungan. Energi psikis baru yang dihasilkan dari kebutuhan disebut sebagai ego. Internalisasi dari nilai dan norma masyarakat disebut sebagai super ego. Super ego dapat dikatakan sebagai hati nurani (concience) dari individu. Superego menilai dan menganalisis benar atau salah dari suatu tindakan. Super ego menjadi representasi dari nilai-nilai ideal dan cenderung berorientasi pada kesempurnaan.

Dalam pembahasan dipakai pendekatan tekstual yang pernah di bahas menurut Roekhan dalam jurnal Kajian Tekstual Dalam Psikologi Sastra(1990:88-105). Dia mengungkapkan bahwa pendekatan tekstual adalah segi psikologis yang ada di dalam karya sastra tersebut. Pendekatan tekstual adalah salah satu metode pendekatan yang di kaji dalam sastra dimana pendekatan ini berawal dari tumpuan pendekatan psikologis dalam yang di kemkakan oleh Sigmund Freud (2006: 32- 33). Sekarang pendekatan tekstual tidak hanya bertumpu pada analisis psikologis, tetapi juga pendekatan psikolgis lain seperti pendekatan psikolgi kognitif, behavioral dan pendekatan ekstensial.

Menurut pandangan Yusuf dalam jurnal Psikologi Kognitif (1990:42) pendekatan psikologis kognitif beranggapan bahwa manusia di bentuk dari faktor agen atau pembawaan, pendekatan psikologis behavioral beranggapan bahwa manusia adalah hasil bentukan dari lingkungan tempat ia berada, pendekatan ekstensial menegaskan bahwa manusia memilih jalan pola hidupnya sendiri. Dalam pembasahan ini digunakan teori behavioral, menurut John B Watson dalam

(18)

Psikologi Behavioral (1913:22), pendekatan behavioral mengabaikan faktor pembawaan lahir seperti kecerdasan, bakat, insting dan lain – lain. Dengan kata lain manusia dianggap sebagai produk lingkungan. Manusia menjadi jahat, beriman penurut, berpandangan luas atau kolot adalah hasil bentukan dari lingkungannya.

Behavioral memandang bahwa ketika di lahirkan pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa – apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang di terimanya dari lingkungan sekitarnya. Mengenal pendekatan lebih lanjut menurut Aminuddin dalam jurnal Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa (1990:96) mengatakan bahwa menerapkan pendekatan behavioral haruslah di lakukan dengan mengikuti tahapan berikut:

- Mencari dan menentukan tokoh yang akan di kaji - Menelusuri perkembangan tokoh yang di kaji

- Menghubungkan perilaku yang muncul dengan lingkungan yang menelatarinya

Menurut Kartono dalam (http//.Kartini Kartono Penyesuaian Diri (2000:32), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efesien bisa dikikis.

Hariyadi, dkk (2003:22) menyatakan penyesuaian diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Dan berbicara tentang usaha, disini peneliti juga menggunakan teori usaha dalam makna psikologi yang menurut Wasis dan Sugeng Yuli Irianto (2001:18) usaha adalah upaya manusia untuk melakukan sesuatu untuk

(19)

mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu penulis memakai pendekatan behavioral dalam menganalisa psikologis tokoh utama dalam film The Last Samurai.

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah :

1. Mendeskripsikan kondisi psikologis yang di alami oleh tokoh utama

2. Mendeskripsikan cara tokoh utama menajalani kehidupannya dan Mendapatkan kedamaian dalam kehidupannya

1.5.2 Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin di capai penuis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah ilmu kepada pembaca

2. Menambah wawasan kajian ilmu psikologis untuk sebuah karya sastra.

3. Dapat dijadikan sebagai refrensi bagi yang ingin membahas kajian psikologis dalam sebuah film atau karya sastra

1.6. Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan tiga tahap yakni metode penyediaan data, metode analisis data dan metode penyajian data, Sudryanto dalam jurnal metode penyajian data (2006:120).

(20)

Metode analisis data Menurut Ardhana12 (dalam Lexy J. Moleong 2002:

103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.

Sedangkan meotde penyajian data Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan.Data yang disajikan harus sederhanaan jelas agar mudau dibaca.Penyajian data juga dimaksudkan agar para pengamat dapat dengan mudah memahami apa yang kita ajikan untuk selanjutnya dilakukan penilaian atau perbandingan dan lain lain.

Dalam menyelesaikan penyusunan data karya tulis ini, penulis menggunakan mode deskriptif, yaitu proses pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelomok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Nazir dalam metode penelitian ( 1998:63).

Adapun metode penyediaan data yang dignakan adalah metode pustaka atau library research, yaitu menggunakan sumber – sumber data tersebut berasal dari buku – buku yang terkait dengan judul penulisan yang ada di perpustakaan. Lalu penulis menyediakan data film, script dialog dari film The Last Samurai.

Metode kepustakaan adalah metode yang menggunakan beberapa aspek penting yang perlu di cari dan di gali dalam studiyang selaras dengan kegiatan penelitian antara lain: maalah yang ada, teori – teori, konsep – konsep dan penarikan kesimpulan serta saran.

(21)

Langkah – langkah yang di lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan data – data dari sumber refrensi yang berkaitan dengan judul

2. Menonton atau membaca script film The Last Samurai

3. Mencari, mengumpulkan daqn menganalisis nilai – nilai yang terdapat dalam film The Last Samurai yang mengandung unsure psikologis dan membrikan cerminan yang baik kepada pembaca

4. Mengambil kesimpulan dari analisis yang telah di lakukan

(22)

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP FILM “THE LAST SAMURAI”

ANALISA PSIKOLOGI PSIKODINAMIKA DAN BEHAVIORISTIK

2.1. Defenisi Film

Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari, Film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas masyarakat. Film merupakan gambar yang bergerak (Muving Picture). Menurut Effendi 1986 ; 239) film diartikan sebagai hasil budaya dan alat ekspresi kesenian.

Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai tekhnologi seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik.

Menurut Effendy ( 2000 : 207 ) mengemukakan bahwa teknik perfilman, baik peralatannya maupun pengaturannya telah berhasil menampilkan gambar – gambar yang semakin mendekati kenyataan. Dalam suasana gelap dalam bioskop, penonton menyaksikan suatu cerita yang seolah-olah benar – benar terjadi dihadapannya.

Film adalah fenomena sosial, psikologi, dan estetika yang kompleks yang merupakan dokumen yang terdiri dari cerita dan gambar yang diiringi kata-kata dan musik. Sehingga film merupakan produksi yang multi dimensional dan kompleks.

Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain. Keberadaannya praktis, hampir dapat disamakan dengan

(23)

kebutuhan akan sandang pangan. Dapat dikatakan hampir tidak ada kehidupan sehari – hari manusia berbudaya maju yang tidak tersentuh dengan media ini. Pada dasarnya film dapat dikelompokan ke dalam dua pembagian dasar, yaitu kategori film cerita dan non cerita. Pendapat lain menggolongkan menjadi film fiksi dan non fiksi. Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang, dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Pada umumnya film cerita bersifat komersial, artinya dipertunjukan di bioskop dengan harga karcis tertentu atau diputar di televisi dengan dukungan sponsor iklan tertentu. Film non cerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya, yaitu merekam kenyataan dari pada fiksi tentang kenyataan. (Sumarno, 1996:10).

Bedasarkan paparan defenisi film di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa film “The Last Samurai” ini adalah fiksi, meski berlatar sejarah namun kisah dalam film ini fiksi. Namun, kita bisa ambil hikmah dan pelajaran-pelajaran positif dari film tersebut. Yang dimana film ini berceritakan tentang pensiunan veteran Amerika yang dihantui oleh rasa bersalahnya sehingga membuat kondisi psikologisnya semakin tertekan. Tetapi berkat tekad usaha hidup yang kuat dan dukungan-dukungan dari orang di lingkungan barunya membuat dia semakin bisa melupakan trauma paska perang melawan suku Indian dan menemukan arti dari kehidupan yang sebenarnya.

2.2. Unsur Intrinsik Film “The Last Samurai”

Struktur formal karya sastra dapat disebut sebagai elemen atau unsure-unsur yang membentuk karya sastra. Karya sastra seperti film pada dasarnya dibangun oleh unsure-unsur tema, alur, plot, setiing, tokoh, dan sudut pandang. Unsur-unsur

(24)

ini menjadi focus untuk diresensi atau ditelaah secara struktur formal pada umumnya.

2.2.1. Tema

Tema adalah suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuatsuatu karya sastra. Disetiap karya sastra pastilah mempunyaisebuah tema, karena dalam sebuah karya sastra dianjurkan harus memiliki tema. Adapun karya sastra atau film “The Last Samurai” adalah perjalanan seorang pensiunan veteran Amerika yang berhasil menemukan kedamaian setelah memahami tingginya luhur budaya Jepang.

2.2.2 Alur (plot)

Alur / plot merupakan sebuah struktur rangkaian kejadian-kejadian dalam sebuah cerita yang disusun dengan secara kronologis. Atau definisi alur yakni suatu rangkaian cerita sejak awal hingga akhir. Menurut Aminudin (2000:90) Adalah rangkaian cerita yang dibentuk dari tahapan-tahapan kejadian atau peristiwa sehingga menjalani sebuah cerita dapat berbentuk dari berbagai macam rangkian kejadian ataru peristiwa. Plot atau alur merupakan struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai suatu interaksi fungsional skaligus sebagai tanda urutan dari bagian-bagian keseluruhan fiksi.

Alur dibagi menjadi 3 jenis yaitu alur maju, alur mundur, dan alur maju- mundur (campuran). Alur maju, yakni suatu alur yang peristiwa ditampilkannya secara kronologis, maju, secara berurutan dari tahap awal, tahap tengah, sampai dengan tahap akhir cerita. Alur mundur, adalah suatu alur yang ceritanya dimulai

(25)

setting waktunya pada masa lampau. Alur campuran adalah suatu alur yang diawali dengan klimaks dari cerita, yang kemudian melihat lagi masa lalu atau masa lampau dan diakhiri dengan sebuah penyelesaian dari cerita tersebut.

Alur / plot dalam film ini adalah alur maju-mundur (campuran). Maju adalah ketika cerita dilanjutkan bagaimana Algrent beradaptasi dalam budaya Jepang. Sedangkan mundur adalah ketika Algrent mengingat trauma dirinya paska peperangan melawan suku Indian.

2.2.3. Latar (Setting)

Dalam pembuatan karya sastra pasti dibutuhkan Latar atau setting, karena latar dapat menentukan situasi umum sebuah karya sastra. Menurut Suparmin (2000:54) Latar cerita atau setting ialah sesuatu keadaan yang melingkupi pelaku dalam sebuah cerita.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud latar ialah tempat, waktu dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita yang akan mempengaruhi inti cerita dan pengambilan nilai-nilai yang ingin diungkapkan pengarang, melingkupi keadaan pelaku dalam sebuah cerita.

Adapun latar atau setting dalam film “The Last Samurai” ini berada di dua tempat yaitu Amerika dan Jepang tepatnya di daerah Kyushu pada restorasi Meiji pada akhir abad ke-19.

(26)

2.2.4 Penokohan

Tokoh adalah pelaku dalam cerita yang memiliki konflik dalam cerita sehingga mampu menjalin suatu cerita. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan bagaimana watak setiap tokoh.

Adapun tokoh dalam film”The Last Samurai” adalah

1. Nathan Algrent : Seorang pensiunan veteran Amerika yang menerima medali Medal Of Honour. Meski prajurit berprestasi, Algrent dihantui rasa bersalah paska setelah peperangannya melawan suku Indian.

Algrent mempunyai sifat pantang menyerah dan kasar. Algrent sebenarnya juga seorang yang baik.

2. Katsumoto : Pemimpin kelompok samurai yang tidak ingin jepang diracuni oleh budaya barat. Katsumoto sangat menjunjung tinggi budaya Jepang.

3. Omura : Perdana menteri Jepang yang bersifat jahat dan sangat licik. Ia mencoba membunuh Katsumoto. Omura juga menghasut Kaisar

Jepang untuk mengikuti budaya barat seutuhnya karena menganggap Negara barat lebih maju dari Jepang.

4. Kolonel Bagley : Orang yang mementingkan uang di atas segalanya.

Bagleylah yang menghasut Algrent untuk melatih tentara Jepang agar ia mendapatkan bonus yang lebih besar.

5. Taka : Wanita sekaligus adik dari Katsumoto yang merawat Algrent pada saat ia ditawan didesa samurai. Ironisnya suami dari Taka terbunuh oleh Algrent yang saat hendak ingin membunuh Algrent.

(27)

6. Simon Graham : Seorang Jurnalistik dan sekaligus pemandu Algrent saat berada di jepang.

7. Higen : Anak dari Taka, yang sebelumnya tidak menyukai Algrent dan seiring berjalannya waktu higen menganggap Algrent sebagai

pahlawannya.

8. Ujio : Teman dekat dari Katsumoto, pria yang sangat membenci Nathan Algren, tetapi setelah melihat perkembangan dari Algrent seiring berjalannya waktu, ia menjadi pelatih beladiri untuk Algrent 9. Kapten Gant: Rekan kerja sekaligus orang yang menawarkan

pekerjaan untuk melatih tentara Jepang dari Bagley dan Omura.

2.2.5. Sudut Pandang

Menurut Teori Sastra sudut pandang sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang pertama dibagi lagi menjadi dua, yaitu: sudut pandang orang pertama-tokoh utama dan sudut pandang orang pertama-tokoh sampingan.

Menurut Heri Jauhari (2013:54) sudut pandang disebut dengan pusat narasi yaitu penentu corak dan gaya cerita. Waatk dan kepribadian dari pencerita akan banyak menentukan cerita yang disajikan kepada pembaca. Keputusan seorang pengarang dalam hal menentukan siapa yang menceritakan kisah menentukan apa yang terdapat dalam cerita. Apabila pencerita berbeda, detail-detail cerita yang dipilih nantinya juga akan berbeda.

Dalam hal ini, sudut pandang dari film “The Last Samurai” ini Edward Zwick (Sutradara) telah membuat film yang beroperasi baik di setiap tingkatan,

(28)

membawa ide-ide filosofis yang sederhana tapi mendalam, tetapi menghindari kesalahan dengan membuat ide-ide dan karakter yang mengungkapkannya super heroik. Pada akhirnya, film ini dengan indah menyampaikan pesan kuat tentang perang, tradisi, kehormatan etika, dan budaya, yang meskipun tidak terlalu asli, namun sensitif dan cerdas dibawa ke depan layar.

2.3. Psikologi Secara Umum

. Psikologi adalah Ilmu yang berhubungan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang.

Psikologi juga dapat diartikan sebagai Ilmu pengetahuan yang membahas tentang gejala dan kegiatan jiwa.

Sementara itu, Pengertian Psikologi dilihat dari sudut pandang Terminologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan jiwa, hakekatnya, asal muasalnya, proses bekerjanya, dan pengaru yang ditimbulkannya.

Pengertian psikologi Secara khusus yaitu ilmu yang mendalami sifat khusus dari setiap jiwa manusia dengan cara mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan yang memiliki target atau objek kajian yaitu jiwa.

2.4. Hubungan Sastra dan Psikologi

Ilmu psikologi adalah kajian tentang menguraikan kejiwaan seseorang dan dalam kaitannya dengan sastra, digunakan untuk meneliti alam bawah sadar pengarangnya atau pembuat karya sastra tersebut. Munculnya cabang psikologi sastra karena adanya pembahasan tentang hukum – hukum psikologi yang

(29)

diterapkan pada karya sastra, contohnya bagaimana sebuah tulisan dipengaruhi berdasarkan kehidupan pribadi pembuatnya atau pengarangnya.

Psikologi turut berperan penting dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan melihat dari sudut pandang kejiwaannya, baik dari sudut pandang pengarang, tokohnya atau karya itu sendiri. Dengan demikian, adanya konflik batin dalam satu proses pembuatan karya sastra menarik untuk dianalisa menggunakan ilmu psikologi, dan pada akhirnya lahir ilmu baru berupa ‘Psikologi Sastra’.

Dengan meneliti sebuah karya sastra yang dilakukan melalui pendekatan psikologi sastra, secara tidak langsung hal itu telah melibatkan ilmu psikologi. Jadi, pada dasarnya psikologi sastra adalah analisis pada teks dengan melibatkan pertimbangan relevansi dan juga peranan studi psikologis.

Ada pendapat dari Rene Wellek dan Austin Warren ( 1993:81-93) serta Hardjana (1991:60) yang menyatakan bahwa psikologi bisa memasuki bidang sastra melalui beberapa cara yaitu:

Ketika dilakukan pembahasan mengenai proses penciptaan karya sastra

Adanya pembahasan secara psikologis mengenai pembuat karya tersebut baik sebagai pribadi maupun sebagai satu tipe

Adanya pembicaraan tentang kaidah psikologi yang bisa diperoleh dari karya sastra

Pembahasan mengenai pengaruh karya sastra terhadap pemirsanya.

2.5. Psikologi Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson (1913:12) yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan

(30)

unsur subyek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).

Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.

Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik.

Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif.

(31)

2.6. Psikologi Psikodinamika

Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.

Pemahanan Freud (1893:2) tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti megikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.

Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis.

Banyak pakar yang kemudian ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).

Menurut Sigmun Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen yaitu Id, Ego, dan Superego. d adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir.

Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan

(32)

primitif. Menurut Freud, id adalah aspek biologis dan merupakan sistem didalam kehidupan. oleh karena itu id merupakan dunia batis atau subjektif manusia dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif.

Ego adalah aspek kebribadian yang timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan baik dengan dunia kenyataan (Realitas). Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian. Oleh karena itu ego dapat mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi dan cara-cara memenuhinya, serta dapat memilih objek-objek yang dapat memenuhinya.

superego dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah. Dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Super ego lebih merupakan kesempurnaan dari pada kesenangan, karena itu super ego memberikan pedoman untuk membuat sebuah penilaian.

2.7. Sinopsis Cerita Film “The Last Samurai”

Film ini menceritakan tentang seorang veteran Amerika yang bernama Nathan Algrent yang berpangkat kapten. Meski berprestasi, Algrent di hantui rasa bersalah karena sebuah pertempuran yang melawan penduduk asli benua Amerika yaitu perang melawan suku Indian. Dibalik pertempuran itu terjadi pembunuhan masal terhadap anak – anak dan wanita suku Indian yang tidak bersalah, dengan gejolak batin sang kapten yang tidak ingin membunuh para penduduk suku Indian

(33)

yang tersisa, Algrentpun terpaksa melakukan pembunuhan karena perintah dari atasannya yaitu Colonel Bagley.

Didasari dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya, Algrent mengundurkan diri dari pekerjaannya yaitu sebagai veteran Amerika. Sering berjalannya waktu, Algrent menjadi seorang yang bertempramen tinggi atau bisa di katakan pemarah, arogan dan kasar. Dan di tambah lagi Algrent menjadi pemabuk berat dengan usaha untuk menghilangkan masalah yang di alaminya pada peristiwa pertempuran melawan suku Indian. Berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya saat Algrent masih menjadi kapten, sekarang Algrent mendapatkan pekerjaan sebagai sales senjata di perusahaan senjata Winchester Company. Di pekerjaan ini Algrent menjadi lebih tertekan dan merasa jenuh, selama bekerja di perusahaan senjata tersebut, ia seperti di kucilkan dan tidak di hormati layaknya pensiunan tentara yang berpangkat kapten dan mendapat bayaran yang sedikit. Pada suatu saat, Algrent bertemu dengan rekan seperjuangannya yaitu kapten Gant, ia menawarkan suatu pekerjaan.

Yang tak lain adalah pekerjaan yang akan melibatkan ia dengan peperangan lagi, di pertemukan lagi dengan atasannya saat beperang mealwan suku Indian, yaitu Colonel Bagley. Disini Bagley pun memperkenalkan Algrent dengan perdana menteri Jepang yaitu Omura, kali ini Algrent di tawarkan untuk melatih pasukan Jepang yang sebagian besar adalah petani agar hebat seperti pasukan Barat. Dengan keterpurukan dan tekanan yang di alaminya selama ia bekerja menjadi sales senjata, ia menerima pekerjaan itu. Ini seperti ke ironisan dalam kehidupannya.

Singkat cerita, sesampainya di Jepang, Algrent melatih pasukan Jepang dengan tujuan untuk melawan samurai (pejuang Jepang pada masa lampau). Omura mengangap bahwa samurai terlalu kuno dan tidak dapat mengikuti jaman, di sini

(34)

Algrent di janjikan imbalan besar jika berhasil melenyapkan para samurai di negeri Jepang. Belum lama melatih pasukan barunya, kapten Algrent di hadapkan pada perlawanan yang di lakuka para samurai pimpinan Kastumoto. Pasukan yang belum mahir terpaksa di turunkan untuk melawan samurai, pertempuran terjadi di hutan belantara.

Pasukan yang belum dispilin tampak merasa panic dan tak tahu harus berbuat apa. Kekalahan pasukan tak membuat Algrent menyerah begitu saja, ia terusw melawan para samurai meski terjatuh berkali – kali. Akhirnya kehabisan tenaga, Algrent melemah sehingga Katsmuto memutuskan untuk membawa dan menawan kapten. Di perkampungan, Algrent di rawat dan di obati lukanya oleh Taka (istri yang suaminya terbunuh oleh Algrent di medan perang ). Kapten merasa kagum karena taka tidak membencinya sama sekali. Di perkampungan yang sangat sederhana tersebut Algrent belajar banyak hal – hal. Ternyata para samurai hidup penuh dengan kedisiplinan dan jauh dari kata kuno seperti yang di katakan Omura.

Algrent akhirnya mulai belajar pedang, belajar bahasa Jepang dan pendiriannya mulai luntur mengenai tugasnya untuk melenyapkan samurai.

Ternyata budaya jepang sangat luhur dan tinggi. Dan hanya kebudayaannya saja, ia melihat kesetiaan yang begitu luar biasa, dan di desa inilah Algrent mulai menemukan kedamaian sekaligus jalan keluar dari masa lalunya yang terus meghantuinya. Hal inilah penulis tertarik untuk meneliti kondisi psikologis Nathan Algrent, loyalitas, kesetiaan dan kedisiplinan mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.

(35)

BAB III

ANALISIS PSIKOLOGIS PADA TOKOH UTAMA NATHAN ALGRENT DALAM FILM “THE LAST SAMURAI”

3.1. Analisis Psikologis Tokoh Utama Dalam Film “The Last Samurai”

Cuplikan 1 menit : 00:02:20,811 --> 00:05:38,309

Percakapan antara McCabe Dan Nathan Algrent:

“ McCabe berkata :

Dia bekas pasukan Kavaleri ke-7... (Nathan Algrent) ...dan berjaya dalam operasi mereka (Tim pasukan Nathan) melawan suku Indian yang paling liar.

Hadirin, aku persembahkan padamu...

...Kapten Nathan Algren!

Captain Nathan Algren!

Ya!Ya!

Sebentar, Tuan dan Nyonya.

Sialan kau, Algren, keluarlah!

Ini penampilan terakhirmu!

Kau kupecat! Sekarang keluarlah!

Ayo! Aku muak dengan ini!

Ayo!

(36)

Analisis 1 :

Pada percakapan ini, McCabe sebagai atasan atau manejer dari suatu perusahaan senjata Winchester, disini McCabe terkesan memaksa sekaligus membentak Nathan yang dimana Nathan bekerja sebagai sales senjata di perusahaan tersebut.Didalam percakapan diatas terlihat Tn.McCabe memaksa dan membentak Nathan untuk memasarkan senjata baru dari pabrik tersebut Nathan Algrent dikala Nathan mengingat peperangannya melawan suku Indian yang membuat dia trama dan ditambah lagi dengan perlakuan Tn.Mcabe yang membuatnya semakin tertekan dan merasa muak.

Cuplikan 2 menit : 00:06:27,553 --> 00:09:56,961

Percakapan antara Nathan Algrent, Kolonel Bagley dan Omura:

Dalam percakapan ini, Nathan telah diajak oleh temannya yaitu Kapten Gant yang menawarkan pekerjaan dari Kolonel Bagley yang dimana Bagley adalah salah satu pemimpin dari regu tim dari Nathan Algrent yang berperang melawan suku Indian karena dialah Nathan terpaksa membunuh anak-anak dan wanita yang tidak bersalah dari suku tersebut dan membuat psikologis Nathan tertekan. Dan dalam percakapan ini, ada seorang perdana mentri Jepang sekaligus penasehat Kaisar Jepang. Omura sangat menginginkan terjadinya westernisasi pada negara Jepang khususnya pada militer Jepang dan ingin menghilangkan budaya-budaya lama seperti Samurai yang dianggapnya sudah kuno. Oleh karena itu Omura datang ke Amerika untuk mengkontrak Nathan sebagai pelatih sekaligus menjadi pimpinan dalam pasukan Jepang yang direkomendasikan oleh Bagley

(37)

“Kolonel Bagley:

“Lama tak bertemu senang bertemu denganmu. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Tn.Omura dari jepang... dan rekannya yang namanya sedang kuhafal.

Silahkan duduk

“Omura:

Whiskey.

“Kolonel Bagley:

“Jepang berkeinginan untuk menjadi negara yang beradap. Dan Tn.Omura bersedia menghabiskan biaya berapapun.... untuk menyewa orang kulit putih ahli untuk melatih tentara mereka. Dan kalau kita memainkan kartu kita dengan benar... Kaisar memberi AS hak eksklusif untuk menyediakan senjata”.

“Nathan Algrent:

Aku punya kontrak dengan Winchester Company

“Kolonel Bagley:

Aku yakin Tn. Omura punya beberapa konsep dari jenis kontraknya.

“Omura:

Penampilanmu untuk Winchester Company digaji 25 dolar per minggu, kami akan membayarmu 400 dolar sebulan.

“Nathan Algrent:

Jadikan lima ratus. Lima ratus untuk masing-masing, dan lima ratus dolar lagi saat pekerjaan kami selesai. Berapa banyak pahlawan lain yang sudah kau bariskan?

“Ajudan Omura/”Omura:

Dia tidak sopan/ Begitulah disini, tanahnya pedagang murahan.

Tanahnya pedagang murahan.

“Nathan Algrent:

(38)

Whiskey. Jadi siapa orang yang akan anak buahmu lawan?

“Omura:

Namanya Katsumoto Moritsugu.duku dia pernah jadi guru Kaisar. Dia adalah Samurai.

“Nathan Algrent:

Samurai?

“Kolonel Bagley:

Kata yang mungkin kau gunakan adalah Pejuang. Tn Omura tahu betul bagaimana pengalaman kita berurusan dengan pembelot.

“Nathan Algrent:

Benarkah?

“Omura:

Dia bahkan sudah baca bukumu. Studi Kapten Algrent tentang pengadilan...

“Kolonel Bagley:

...adalah faktor yang sangat penting dalam pendudukan kami di Cheyenne.

(Dicuplikan ini Nathan tertawa)

“Omura:

Maaf. Apanya yang lucu?

“Nathan Algrent:

Korps berkumpul kembali. Ini Cuma benar-benar... memberiku inspirasi!. Permisi aku harus buang air kecil

“Kolonel Bagley:

Tidak apa-apa. Aku akan bicara dengannya sebentar

(39)

“Omura:

Kolonel Bagley, Kami menghubungimu karena kau atasan Algrent. Dan kau meyakinkan kami dia ikut

kau atasan Kapten Algren...

“Kolonel Bagaley:

Dia akan melakukannya. Aku cuma butuh waktu sebentar. Nathan aku melakukan apa yang diperintahkan padaku disana, dan aku tidak menyesal. Bagaimana kalau kita lupakan masa lalu

“Nathan Algrent:

Kau ingin aku membunuh orang Jepang, aku akan membunuhnya

“Kolonel Bagley”/ “Nathan Algrent:

Aku tidak menyuruhmu membunuh siapapun/ Kau ingin aku membunuh musuh mereka... aku akan membunuh mereka. Rebs, atau Sioux atau Cheyenne demi lima ratus dolar sebulan, akan kubunuh siapapun yang kau mau. Tapi ingatlah satu hal dikepalamu... aku akan dengan senang hati membunuhmu secara cuma-cuma

Analisis 2 :

Dari cuplikan di atas, kita bisa melihat Nathan menerima tawaran dari Bagley dan Omura. Karena dia sudah tidak tahan dengan pekerjaan sebagai sales atau endorser senjata yang hanya mendapatkan gaji 25 dollar sebulan. Disini kita juga bisa melihat kebencian Nathan kepada Bagley karena peperangan paska melawan suku Indian. Dicuplikan ini kita bisa mengkaitkan dengan teori psikoanalisis Ego adalah aspek kebribadian yang timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan baik dengan dunia kenyataan (Realitas). Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian. Oleh karena itu ego dapat mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi dan cara-cara memenuhinya, serta dapat memilih objek-objek yang dapat

(40)

memenuhinya. Dari sini dapat di ambil kesimpulan bahwa Nathan menerima tawaran dari Bagley karena ia membutuhkan uang lebih untuk bertahan hidup dengan cara menerima tawaran dari Bagley.

Cuplikan 3 menit : 00:10:12,899 --> 00:10:46,426

“Nathan Algrent:

12 Juli 1876.

Ada sedikit kenyamanan di tengah kehampaan lautan. Tidak ada masa lalu. tidak ada masa depan. Dan sesekali, aku dihadapkan oleh kenyataan pahit atas keadaan saat ini. Aku dipekerjakan untuk membantu menekan pemberontakan dari pemimpin suku lagi. Rupanya, ini satu-satunya pekerjaan yang cocok bagiku. Aku ditimpa keironisan dalam hidupku.

Analisis 3:

Dalam cuplikan ini menunjukkan Id dari tokoh utama, id adalah sistem yang orisinal didalam kepribadian. Dan Id merupakan dunia batis atau subjektif manusia yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif.

Id bekerja menurut prinsip kenikmatan, karena jika Id terhambat akan terjadi konflik yan menimbulkan gelisah, sakit dan perasaan yang tidak menyenangkan. Dicuplikan menunjukkan bahwa Nathan ingin kembali lagi melatih pasukan, meskipun dia akan menerima keironisannya yang tidak mau berhubungan dengan namanya peperangan dikala itu yang pernah membuatnya mengalami trauma dan tekanan saat ia membawa pasukan melawan ratusan warga Indian yang tidak bersalah. Karena kejenuhan yang membuatnya semakin tertekan selama bekerja sebagai endorser atau pemasaran senjata oleh tokoh utama cukup parah.

Dan disinilah ia ingin melatih pasukan dan mendapatkan kehormatannya sebagai veteran.

(41)

3.2 Analisis Usaha Pada Tokoh Utama Dalam Film “The Last Samurai”

Usaha menurut teori psikologi menurut Wasis dan Sugeng Yuli Irianto (2001:18) usaha adalah upaya manusia untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Dari dalam beberapa cuplikan berikut ini kita akan dapat menganalisa apa-apa sja usaha yang dilakukan tokoh utama.

Cuplikan 1 menit : 00:35:54,701 --> 00:38:20,365

Percakapan anatara Nathan Algrent, Nobutada dan Taka:

Dalam percakapan ini, Nathan telah mengalami kekalahan setelah berperang melawan para Samurai dan Nathan ditangkap oleh Samurai dan menjadikan tawanan didesa para samurai tersebut. Nathan dibawa dan dirawat oleh Taka. Ia adik dari pemimpin desa sekaligus pimpinan samurai yang bernama Katsumoto.

Katsumoto memerintahkan adiknya untuk merawat Nathan dirumahnya. Dalam percakapan ini juga ada Nobutada yang melainkan penduduk desa sekaligus samurai, Nobutada sudah dianggap Katsumoto sebagai adik angkatnya sendiri.

“Nobutada”/”Nathan Algrent:

Kondisinya sedang buruk/ Sake

“Nobutada:

Sake?

“Nathan Algrent:

Sake.

(42)

“Nathan Algrent:/”Nobutada:

Sake/ Taka akan merawatmu

“Nathan Algrent:

Sake. Sake. Sake!

“Nobutada”/”Taka:

Biarkan dia minum, Bibi. / Tidak. Tidak akan

“Nobutada”/”Taka:

Ini desaku! / Ini rumahku

“Nathan Algrent:

Kumohon. Sake, Sake! Tidak!, Tidak!, Sudah Kubilang! Tidak!!

Analisis 4:

Dari cuplikan diatas, Nathan sedang dalam tekanan yang luar biasa karena mengingat trauma lamanya, dan dicuplikan ini Nathan memaksa ingin meminta minuman keras atau sake. Dapat disimpulkan bahwa Nathan ingin meminum sake karna ia ingin meredakan traumanya kalau dia meminum sake, sama sebelumnya saat dia masi berada di Amerika, ketika traumanya kembali ia hanya ingin meminum minuman keras saja, karena itu salah satu usaha dia untuk membat dia tenang.

Cuplikan 2 menit : 00:53:01,206 --> 00:54:56,853

Setelah beberapa hari Nathan berada didesa tersebut, Nathan merasakan dia seperti tidak ditawan didesa tersebut, malah ia diperlakukan layaknya sperti orang biasa.

Ini membuat nathan semakin bingung dan Nathan ingin mempelajari apa-apa saja yang ada didalam desa tersebut

(43)

“Hari tidak diketahui. Bulan tidak diketahui, aku melanjutkan hidup di antara orang-orang yang tidak biasa ini. Aku tawanan mereka yang tidak bisa melarikan diri. Seringkali aku diperlakukan dengan sedikit acuh... seolah aku anjing yang tersesat. Semua orang sopan, semua orang tersenyum dan membungkuk. Tapi dibawah rasa hormat mereka, aku menemukan waduk perasaan yang dalam.

Mereka adalah orang-orang yang membangkitkan rasa ingin tahu. Dari awal mereka bangun mereka mencurahkan perhatian mereka akan kesempurnaan dari apapun yang mereka kejar. Kedisiplinan semacam ini. Aku terkejut bahwa kata “Samurai”

bereti “Melayani”..dan Katsumoto ,eyakini bahwa pemberontakannya sebagai pelayanan untuk Kaisar.

Dari awal mereka bangun...

Analisis 5:

Dari cuplikan diatas, kita bisa melihat disini Nathan mulai tertarik dengan kehidupan warga-warga yang ada didesa samurai tersebut. Seolah-olah Nathan di perlakukan seperti orang biasa pada umumnya dan tidak di anggap seperti tawanan perang pada umumnya. Dan dicuplikan ini, mulai timbul rasa ingin tahu yang besar mengapa mereka mempunyai sikapp yang begitu disiplin dan menjunjung tinggi rasa hormat. Ini bisa menjadi salah satu sarana Nathan untuk mendapatkanan kehidupan yang lebih baik lagi.

Cuplikan 3 menit : 00:56:56,853 --> 00:58:47,537

Percakapan Nathan Algrent dan Nobutada:

Dalam percakapan ini, Nathan sedang berlatih pedang bersama Nobutada dipedesaan tersebut. Nathan sudah mulai tertarik mempelajari salah satu tradisi mereka yaitu Samurai.

“Nobutada”/”Nathan Algrent:

(44)

Maaf. Terlalu banyak pikiran/ terlalu banyak pikiran?

Terlalu banyak pikiran?

(Nobutada)

Pikiran tentang pedang, perhatian orang-orang musuh

(Nathan Algrent)

Terlalu banyak pikiran. Kosongkan pikiran, kosongkan pikiran....

Dari cuplikan diatas Nobutada mengajarkan sedikit cara untuk memfokuskan perhatiannya kepada musuh yang akan dilawannya. Dengan cara membuat pikiran kita tenang dan serileks mungkin dengan cara mengosongkan pikiran. Mungkin cara ini juga mampu mengatasi beban pikiran yang dialami oleh Nathan itu sendiri

||

“Nathan Algrent:

Terima kasih. Boleh tambah nasinya?

“Nobutada:

Taka. Dia bicara bahasa jepang! Makan yang banyak jangan sungkan.

“Nathan Algrent:

Tidak secepat itu. Apa bahasa Jepang untuk ini

“Taka:

Bagaimana dia bisa mengerti?

“Nobutada:

Simpul rambut.

(45)

“Nathan Algrent:

Tidak, tidak Jangan terlalu cepat. Aku Algrent

“Nobutada”/”Nathan Algrent:

Nobutada/ Nobutada. Magojiro / Magojiro. Higen / Higen.

“Nathan Algrent:

Taka.

(Dicuplikan no 397, Nathan langsung menyebut nama taka tanpa di beritahu)

Analisis 6:

Dari cuplikan diatas, kita bisa melihat Nathan Algrent mulai berlatih pedang bersama Nobutada, dan seiring berjalannya waktu Nathan Algrent mulai bisa berbicara sedikit-sedikit menggunakan bahasa Jepang, dan disini kita bisa melihat kondisi psikologis Nathan Algrent mulai membaik. Dari cuplikan ini kita bisa melihat cara atau usaha Nathan Algrent mengatasi trauma dan tekanan psikologis yang di alaminya melalui belajar dan memahami kehidupan yang ada didesa para samurai tersebut.

Cuplikan 4 menit : 01:42:17,515 --> 01:44:25,891

Percakapan antara Nathan, Higen dan Taka:

Dalam percakapan ini, Nathan sedang melakukan persiapan untuk berperang melawan pasukan Kaisar yang dipimpin oleh Omura dan Bagley. Nathan sudah merubah pemikirannya yang pertamanya ingin membnnuh para samurai dan sekarang berbalik melawan pasukan dari Kaisar Jepang untuk melindungi desa tersebut. Dalam percakapan ini juga ada anak yang bernama Higen, anak dari Taka yang ayahnya dibunuh oleh Nathan Algrent dalam peperangan sebelumnya.

(46)

“Higen”/”Nathan Algrent:

Apa kau juga akan melawan orang kulit putih? / ya, kalah mereka datang kemari.

“Higen:

Kenapa?

“Nathan Algrent:

Karena mereka datang untuk menghancurkan apa yang kucintai.

“Taka:

Jalan hidup Samurai sangat sulit bagi anak-anak. Dia merindukan ayahnya

“Nathan Algrent:

Dan dia marah karena aku yang membuat hal itu terjadi

“Taka:

Tidak. Dia marah karena dia takut kalau kau juga akan mati

||

“Higen:

Ayahku mengajarkanku kalau mati dalam perang itu mulia

“Nathan Algrent:

Itu adalah apa yang dia yakini.

“Higen”/ “Nathan:

Aku akan takut untuk mati dalam peperangan, / begitu juga denganku. / tapi kau sudah sering pergi berperang dan aku selalu taku. Aku tidak ingin kau pergi.

Analisis 7:

(47)

Dari cuplikan di atas bisa disimpulkan bahwa Nathan memiliki sifat yang baik meskipun dulunya dia adalah seorang yang tempramen, kasar dan pemabuk berat. Dan dari cuplikan ini pula kita bisa melihat teori Psikodinamika Super Ego yang muncul dalam diri tokoh utama, Super ego dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah.

Dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Super ego lebih merupakan kesempurnaan dari pada kesenangan, karena itu super ego memberikan pedoman untuk membuat sebuah penilaian.

Dari cuplikan diatas, kita bisa melihat perubahan pemikiran dari Nathan Algrent yang pertama-tamanya ingin menghancurkan para samurai dan sekarang ia akan berperang melawan para tentara Jepang yang ingin menghancurkan desa sekaligus dengan warga-warganya, karena didesa tersebut Nathan bisa menemukan cara untuk menghilangkan tekanan psikolgis yang dialaminya sekaligus mendapatkan kedamaiannya dalam hidupnya. Dari cuplikan ini kita juga bisa melihat bagaimana anak dari Taka yaitu Higen menolak Nathan Algrent untuk ikut berperang, karena ia takut kalau Nathan akan mati terbunuh seperti ayahnya karena Higen sudah menganggap Nathan sebagai ayahnya sendiri

(48)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dalam akhir penelitian ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa film The Last Samurai ditampakkan sesuai dengan ajaran bushido. Disiplin, setia pada pimpinan dan negara, menolong yang lemah, dan murni dalam pikiran maupun tindakan. Pemerintahan Meiji ditunjukkan sebagai pihal yang salah. Kaisar tak bertenaga dan negara dipegang Omura, minister terkuat di council.1876 Omura berlayar ke Amerika, negara yang sedang berbenah setelah perang Utara dan Selatan sebelas tahun sebelumnya. Kapten NathanAlgren, veteran perang, disewa sebagai penasehat militer bertugas untuk melatih Imperial Army yang baru dibentuk dalam hal pemakaian rifle dan artillery.Dalam engagement pertama Nathan terkepung sendirian, meskipun tetap melawan dengan gigih. Katsumoto merasa telah menemukan macan putih yang dilihatnya dalam meditasi.Musim dingin tiba dan Nathan ditahan di desa markas pihak samurai. Di sana Nathan yang dikejar-kejar rasa bersalah atas tindakan masa lalu menemukan tempat berteduh dan tujuan hidup baru. Secara bertahap ia mengikuti cara hidup samurai yang disiplin dan murni. Sampai pada akhirnya memutuskan untuk berganti sisidan berpihak pada samurai.

Unsur-unsur psikologis yang mendukung film ini membuat film ini lebih menarik lagi. Meskipun psikologis merupakan unsur entrinsik dalam sebuah film, namun tidak bisa dipungkiri bahwa membuat film tanpa adanya unsur psikologis di ibaratkan tubuh tanpa nyawa. Rasa senang, sedih, tertawa, marah, tertekan dan

(49)

perilaku lainmerupakan perwakilan dari unsur-unsur psikologis, sebab tingkah laku yang ditunjukkan lewat tulisan, siap ataupun ekspresi. Semuanya adalah produk psikologis khususnya dalam hal ini psikologis behaviorisme dan psikodinamika.

Adapun kesimpulan yang bisa diambil dari film ini ialah kita bisa mengetahui kondisi psikologis dari tokoh utama Nathan Algrent yaitu:

1. Tertekan dan Trauma: Dikarenakan pertempuran yang dialaminya paska melawan suku Indian dan membunuh anak-anak dan wanita yang tidak bersalah\

2. Tempramen: Nathan selalu di hantui rasa bersalah karena pertempuran itu dan membuatnya lebih mudah marah

3. Pemabuk: ketika Nathan mulai merasakan traumanya kembali dan membuat dia tertekan, Nathan membiaskan dirinya meminum alkohol atau minuman keras dengan tujuan untuk menghilangkan traumanya meskipun itu hanya sementara.

4.2. Saran

Memlalui penelitian ini saya berharap agar kiranya penikmat sastra dapat lebih memerhatikan unsur-unsur ektrinsik dalam sebuah karya sastra. Seperti halnya unsur psikolgis yang terkandung dalam film “The Last Samurai” merupakan gambaran dari pembentukan perilaku individu. Ketika seseorang dihapkan dengan permasalahan masa lalunya dia tidak akan mudah menyerah begitu saja dan terus mencari titik keluar dari permasalahannya. Bisa disimpulkan juga bahwa pengaruh lingkungan juga berpengaruh besar terhadap perkembangan kondisi psikolgis.

(50)

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Atkinson, Rita L. dkk. 1996. Pengantar Psikologi. Terjemahan Nurjannah Taufiq.

Batam: Interaksara

Budiardjo, A. 1991. Kamus Psikologi. Semarang: Dahara Prize

Dakir. 1993. Dasar-Dasar Psikologi. Yogyakarta: Gramedia

Freud, Sigmund. 2006. Psikoanalisis Sigmund Freud. Terjemahan K. Bertens.

Surabaya: Ikon Teralitera

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra Edisi Revisi.

Yogyakarta : Media Pressindo.

http://misscounseling.blogspot.com John B Watson. 1913. Pendekatan Behavior

diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://id.m.wikipedia.org Pengertian sastra diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://belajarpsikologi.com Pengertian Psikologis diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://google.com/amp/s/dosenpsikologi.com/ pendekatan tekstual dalam psikologi sastra

(51)

diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://idtesis.com pengertian dan jenis metode diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://pandek29.blogspot.com/2012/11/pengertian-psikodinamika-teori.html

diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://wikipedia.org Pengertian Usaha diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://defenisiusaha.blogspot.com Usaha Menurut Wasis dan Sugeng Irlianto

diakses pada tanggal 4 – desember 2018

http://www.resensi-film.com/movie/the-last-samurai/

di akses pada tangal 4 – Desember 2018

https://informasi-doni.blogspot.com/2012/09/pengertian-alur-majumundur- dan-campuran

diakses pada tanggal 16 -01 -2019

http://wikipedia.org Sinopsis film The Last Samurai

diakses pada tanggal 16 -01 -2019

https://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-behavioristik-john- watson-1878-1958. diakses pada tanggal 16 -01 -2019

http://pandek29.blogspot.com/2012/11/pengertian-psikodinamika-teori.html

diakses pada tanggal 16 -01 -2019

(52)

www.academia.edu/15499261/ID_EGO_dan_SUPEREGO diakses pada tanggal 17-01-2019

http://www.academia.edu/31913314/Materi_Psikologi_Psikodinamika_- _Makalah

diakses pada tanggal 17-01-2019

http://www.resensi-film.com/movie/the-last-samurai/

diakses pada tanggal 17-01-2019

cdc.binus.ac.id/himpsiko/2018/01/psychoanalytics-by-sigmund-freud/

diakses pada tanggal 17-01-2019

https://www.infodasar.com/2017/09/pengertian-psikologi-secara-umum- dan.html

diakses pada tanggal 17-01-2019

https://www.scribd.com/doc/66776396/Hubungan-Antara-Psikologi-Dengan- Sastra

diakses pada tanggal 17-01-2019

(53)

ABSTRAK

Film ini menceritakan tentang seorang veteran Amerika yang bernama Nathan Algrent yang berpangkat kapten. Meski berprestasi, Algrent di hantui rasa bersalah karena sebuah pertempuran yang melawan penduduk asli benua Amerika yaitu perang melawan suku Indian. Dibalik pertempuran itu terjadi pembunuhan masal terhadap anak – anak dan wanita suku Indian yang tidak bersalah. Didasari dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya, Algrent mengundurkan diri dari pekerjaannya yaitu sebagai veteran Amerika. Setelah mengudnurkan diri Nathan Mendapat pekerjaan baru menjadi sales senjata di perusahaan senajata Winchester Company. Seiring berjalannya waktu, Nathan ditawarkan pekerjaan sebagai pelatih tentara jepang sekaligus pimipinan perang melawan samurai, Nathan menerimanya karena kondisi kehidupan barunya yang membuat ia semakin terpuruk. Sesampainya di Jepang Nathan melawan para samurai tersebut dan pada pertempuran tersebut, pasukan Nathan kalah dalam pertempuran dan Nathan menjadi tawanan perang dan dibawa kedesa para samurai tersebut. Di desa tersebut Nathan tidak diperlakukan layaknya tawanan pada umumnya, malah ia diperlakukan seperti orang biasa. Seiring berjalannya waktu Nathan mulai tertarik dengan kehidupan dan budaya yang ada didalam desa samurai tersebut, dan membuatnya belajar tentang banyak hal yang ada didalam desa tersebut. Didesa inilah Nathan mulai mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahan dihidupnya sekaligus mengatasi tekanan psikologis yang dialaminya. Adapun teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori psikodinamika yaitu teori yang berusalaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Teori ini dikemukakan oleh pakar psikologi yang bernama Sigmund Freud. Menurut Frued,

Referensi

Dokumen terkait