• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menghitung Implikasi Anggaran Subsidi Pemerintah untuk COVID-19 dan Kerja dari Rumah dalam Mitigasi COVID-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Menghitung Implikasi Anggaran Subsidi Pemerintah untuk COVID-19 dan Kerja dari Rumah dalam Mitigasi COVID-19"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

CSIS Commentaries is a platform where policy researchers and analysts can present their timely analysis on various strategic issues of interest, from economics, domestic political to regional affairs. Analyses presented in CSIS Commentaries represent the views of the author(s) and not the institutions they are affiliated with or CSIS Indonesia.

CSIS Commentaries DMRU-026-ID 1 April 2020

Menghitung Implikasi Anggaran Subsidi Pemerintah untuk COVID-19 dan Kerja dari Rumah dalam Mitigasi COVID-19

Teguh Yudo Wicaksono Kepala, Mandiri Institute Carlos Mangunsong

Peneliti Ekonomi Utama, Development Technology and Strategy (DTS), Indonesia

Poin Utama

Sekitar 50 persen pekerja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi menggunakan internet untuk melakukan pekerjaan utama.

Dengan asumsi seluruh pekerjaan dari pekerja di atas ini dapat dilakukan sepenuhnya dengan internet, maka ada sekitar 50 persen lapangan pekerjaan di Jabodetabek yang bisa dikerjakan dari rumah.

Hampir sebagian besar pekerjaan di sektor jasa dapat dikerjakan dari rumah.

(2)

2

Industri pengolahan dan konstruksi merupakan sektor yang membutuhkan mobilitas pekerja ke lokasi kerja.

Kebijakan Kerja Dari Rumah (KDR) yang ketat dapat mengurangi mobilitas pekerja yang berasal dari Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi sebesar 78,8 persen pekerja dari daerah ini.

Kompensasi penuh gaji bulanan kepada pekerja yang tidak dapat bekerja di dari rumah selama 1 bulan membutuhkan dana sebesar Rp 21, 4 triliun.

Bila target pembatasan sosial ditargetkan untuk 80 persen penduduk—dan juga target 80 persen pekerja harus berada di rumah—pemerintah cukup membatasi 60 persen pekerja yg saat ini tidak bisa KDR untuk tetap di rumah.

Kebijakan ini membutuhkan sekitar Rp 12,8 triliun yang diberikan kepada 60 persen pekerja yang pekerjaannya tidak bisa KDR.

Bila kompensasi hanya untuk 3 minggu (75 persen dari gaji 1 bulan) dan target 60 persen pekerja kelompok non KDR dibutuhkan dana setidaknya Rp 9,9 triliun.

Hal penting dari kebijakan KDR adalah desain teknis dan mekanisme distribusi alokasi dana yang dapat mengidentifikasikan pekerja yang jenis perkerjaannya tidak bisa KDR.

Untuk menghambat penyebaran COVID-19, pemerintah mendorong pekerja di wilayah-wilayah terdampak untuk melakukan Kerja Dari Rumah (Work From Home). Hal penting yang perlu dibahas dalam diskusi mitigasi COVID-19 adalah berapa banyak pekerjaan yang sebetulnya dapat dilakukan di rumah? Bila kebijakan Kerja Dari Rumah (KDR) diterapkan secara ketat dan untuk seluruh pekerja, maka pemerintah harus menyiapkan anggaran untuk kompensasi pekerja yang pekerjaannya tidak dapat dilakukan dari rumah dan KDR menyebabkan penghasilannya menurun atau tidak ada. Tentu pertanyaan berikutnya adalah berapa kompensasi yang harus dibayarkan? Lalu apakah kebijakan KDR akan bervariasi antar sektor ekonomi dan jenis lapangan kerja?

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas ini. Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan temuan dalam artikel ini. Pertama, kami mengklasifikasikan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah berdasarkan persentase pekerja yang menggunakan internet untuk bekerja. Persentase ini kemudian dikategorikan berdasarkan Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Persentase pekerja yang menggunakan internet ini digunakan sebagai proksi untuk mengestimasi angka probabilitas pekerjaan tertentu dapat dilakukan di rumah. Pendekatan ini tentu bukan yang ideal.1 Namun kita dapat mengasumsikan bahwa ini penilaian cepat yang memungkinkan berdasarkan data yang tersedia.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa data yang digunakan adalah berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019 di bulan Agustus. Sampel yang diambil pada Survei Sakernas di bulan Agustus umumnya relatif besar yang memungkinkan kita melakukan disagregasi di tingkat kabupaten/kota. Catatan ketiga, kami fokus ke daerah Jabodetabek dengan alasan daerah ini merupakan episentrum penyebaran COVID-19.

Seberapa besar KDR?

Dari data Sakernas Agustus 2019 ditemukan bahwa ada 15,6 juta pekerja yang tinggal di Jabodetabek.

Dari 15,6 juta ini, lebih dari separuh pekerja (50.9% atau 7,9 juta pekerja) di Jabodetabek menggunakan

1 Jonathan Dingel dan Brent Neiman dalam How Many Jobs Can be Done at Home? menggunakan data O*NET dan indexing untuk mendapatkan gambaran lebih detail mengenai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah.

(3)

3

internet dalam pekerjaan utama mereka (lihat Gambar 1). Bila kita asumsikan bahwa seluruh jenis pekerjaan bagi pekerja yang menggunakan internet dapat dikerjakan dari rumah, maka sekitar 50.9 persen jenis pekerjaan di Jabodetabek dapat dilakukan dari rumah.

Terdapat sejumlah variasi dari jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan dari rumah berdasarkan lapangan pekerjaan. Dengan data yang lebih detail kami menemukan bahwa mayoritas pekerjaan yang terkait dengan tata usaha dapat dikerjakan dari rumah (yaitu sekitar 88,9 persen). Pekerjaan yang sifatnya manajerial, profesional dan teknisi secara umum juga sebagian besar dapat dikerjakan dari rumah.

Sementara itu pekerjaan teknis operasional, seperti operator mesin dan buruh produksi sebagian besar masih membutuhkan kehadiran para pekerja di tempat kerja. Dari data, 50,8 persen pekerjaan yang terkait dengan operator dan perakit mesin dapat dilakukan melalui internet. Hanya 33,4 persen pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan pengolahan yang dapat dilakukan di rumah dan hanya 24.5 persen untuk jenis pekerjaan kasar.

Gambar 1. Proporsi pekerja yang menggunakan internet untuk pekerjaan utama

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis

Proporsi pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah juga sangat bergantung pada sektor ekonomi. Secara umum lebih dari separuh pekerja di sektor jasa menggunakan internet dalam pekerjaan utama mereka.

Jika kita menggunakan akses terhadap internet sebagai proksi untuk menentukan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah, maka sekitar 92,1 persen pekerjaan di sektor informasi dan teknologi dapat dikerjakan dari rumah. Demikian halnya dengan jasa keuangan, di mana sekitar 88,6 persen pekerjaan di sektor tersebut berpotensi dilakukan dari rumah para pekerja.

88.9%

80.1% 78.9% 78.4%

50.9% 50.8%

43.2%

33.4%

24.5%

9.0%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

(4)

4

Di sisi lain, sektor ekonomi yang terkait dengan pengolahan seperti manufaktur dan konstruksi sebagian besar membutuhkan pekerjaan yang sifatnya harus dilakukan di lokasi kerja. Hanya sekitar 42,1 persen pekerjaan di sektor manufaktur (industri pengolahan) yang dapat dilakukan dari rumah.

Sementara hanya 38,4 persen di sektor konstruksi. Ini pun dapat dipastikan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan melalui internet merupakan pekerjaan yang terkait dengan manajerial dan administrasi.

Terakhir yang tidak mengherankan adalah sektor pertanian, di mana hanya 8,6 persen pekerjaan dapat dilakukan melalui internet.

Tabel 1. Proporsi pekerja yang menggunakan internet berdasarkan sektor ekonomi

Sektor % Internet

A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 8,6%

B Pertambangan dan Penggalian 65,6%

C Industri Pengolahan 42,1%

D Pengadaan Listrik dan Gas 85,4%

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang 24,6%

F Konstruksi 38,4%

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda

Motor 48,3%

H Transportasi dan Pergudangan 69,3%

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 34,1%

J Informasi dan Komunikasi 92,1%

K Jasa Keuangan dan Asuransi 88,6%

L Real Estat 61,4%

M,N Jasa Perusahaan 72,0%

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 82,5%

P Jasa Pendidikan 70,7%

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 73,0%

R,S,T,U Jasa Lainnya 35,1%

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis

Melalui kebijakan KDR diharapkan juga mobilitas pekerja lebih terbatas. Semakin rendah mobilitas diharapkan angka penularan COVID-19 juga berkurang. Secara umum 48 persen (atau sekitar 10,7 juta) pekerja yang tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dapat bekerja dari rumah.

Namun, ada sejumlah kota, terutama yang dekat dengan Jakarta, yang memiliki kemampuan KDR yang lebih tinggi. Misalnya sekitar 65,5 persen pekerja di Depok memungkinkan untuk KDR.

Sementara itu 61,9 persen pekerja yang tinggal di Tangerang Selatan dan hampir 60 persen pekerja yang tinggal di kota Bekasi berpotensi untuk bekerja dari rumah melalui internet.

(5)

5

Bila penerapan bekerja dari rumah diberlakukan secara ketat, maka kita dapat mengestimasi bahwa lebih dari 50 persen pekerja di Depok, Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Kota Bekasi, Jakarta Utara, Kabupaten Bekasi hingga kota Bogor bisa dikurangi mobilitasnya. Angka ini merupakan jumlah yang signifikan dan dapat membantu penurunan drastis angka penularan COVID-19.

Gambar 2. Proporsi pekerja yang menggunakan internet berdasarkan domisili tempat tinggal

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis.

KDR juga berpotensi mengurangi mobilitas antar daerah secara cukup signifikan, mengingat hampir separuh dari pekerja yang berada di Bodetabek memungkinkan untuk KDR ketimbang menempuh perjalanan menuju DKI Jakarta.

Berdasarkan data, sekitar 5,5 juta pekerja yang berada di Jabodetabek (termasuk yang di Jakarta) bekerja di dalam wilayah DKI Jakarta. Dari 5,5 juta pekerja ini, sekitar 1,7 juta pekerja berasal dari wilayah- wilayah sekitar, seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bila sebagian besar dari pekerja ini menggunakan internet dalam pekerjaan utama, dan diasumsikan pekerjaan mereka seluruhnya dapat dikerjakan dari rumah, maka kebijakan yang mendorong pekerja bekerja secara daring akan signifikan menurunkan mobilitas pekerja dari Bodetabek ke DKI Jakarta.

(6)

6

Dari data Sakernas Agustus 2019, 78,8 persen pekerja (atau sekitar 1,4 juta pekerja) yang berasal dari Bodetabek dapat bekerja melalui internet. Mendorong KDR secara efektif dan ditargetkan ke mereka yang dapat bekerja dari rumah dapat mengurangi angka infeksi antar daerah yang cukup substansial.

Sementara itu 61,4 persen pekerja (atau 2,2 juta pekerja) di DKI Jakarta yang menggunakan internet dan juga bekerja di DKI akan terdampak dengan penerapan ketat kebijakan bekerja di rumah.

Gambar 3. Proporsi pekerja yang menggunakan internet dan lokasi bekerja di DKI Jakarta berdasarkan domisili tempat tinggal

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis.

Implikasi Anggaran dari Kebijakan Bekerja Dari Rumah

Bila pemerintah melakukan karantina wilayah, implikasi paling besar tentu kepada mereka yang sama sekali tidak bisa KDR. Agar kebijakan karantina wilayah efektif—bila pemerintah menempuh kebijakan ini, pemerintah harus memberikan insentif yang cukup kepada para pekerja agar mereka tidak meninggalkan rumah, terutama sekali kepada pekerja yang berada pada pekerjaan yang tidak memungkinkan dilakukan melalui akses internet. Pertanyaan penting berikutnya, berapa besarnya kompensasi yang cukup agar mereka tidak keluar dari rumah? Lalu, pekerja yang seperti apa yang perlu menjadi target untuk kompensasi ini?

Pertama, pemerintah hanya perlu fokus kepada mereka yang tidak dapat KDR atau bekerja dengan internet. Dengan kata lain kompensasi cukup diberikan kepada kelompok pekerja ini agar mereka tetap di rumah. Pekerja yang memungkinkan bekerja melalui internet akan mendapatkan upah/gaji bulanan dari tempat mereka bekerja seperti biasa. Dengan demikian bila sekitar 50 persen pekerja di

84.2% 84.1% 82.6% 81.4% 80.3%

73.2%

69.7%

64.4% 61.4%

78.8%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

(7)

7

Jabodetabek dapat bekerja dari rumah, kompensasi pemerintah sebaiknya diberikan kepada 50 persen pekerja yang tidak dapat bekerja dari rumah.

Kedua, besaran kompensasi atas kelompok pekerja yang tidak dapat KDR tergantung dari cakupan dan besaran kompensasi dari pemerintah. Bila pemerintah menginginkan karantina wilayah total, di mana tidak ada mobilitas sama sekali, artinya pemerintah perlu merumahkan seluruh pekerja. Namun, meski merumahkan seluruh pekerja, pemerintah tidak perlu memberikan kompensasi ke seluruh pekerja. Pemerintah cukup memberikan kompensasi kepada mereka yang jenis pekerjaannya tidak memungkinkan dilakukan melalui internet.

Dari data Sakernas 2019 ada sekitar 7,63 juta pekerja di Jabodetabek yang bekerja tanpa internet dalam pekerjaan utama mereka (Tabel 2). Mereka merupakan pekerja yang dapat menjadi target dari kebijakan karantina wilayah. Rata-rata gaji per bulan dari pekerja ini sebesar Rp 3 juta di tahun 2019.

Tabel 2. Jumlah dan Rata-Rata Gaji Bulanan Pekerja yang tidak menggunakan internet dalam Pekerjaan Utama berdasarkan Profesi

Profesi Jumlah Pekerja

(juta orang) Rata-rata Gaji per bulan (Rp juta)

Manajer 0,13 3,71

Profesional 0,25 2,80

Teknisi dan Asisten Profesional 0,23 4,23

Tenaga Tata Usaha 0,16 3,89

Tenaga Usaha Jasa dan Tenaga Penjualan 2,83 2,80

Pekerja Terampil Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,17 1,47

Pekerja Pengolahan, Kerajinan, dan YBDI 0,82 2,83

Operator dan Perakit Mesin 1,05 3,11

Pekerja Kasar 1,99 2,17

Total 7,63 3,00

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa luas cakupan kebijakan pemerintah untuk menjamin pekerja dapat KDR? Kami melakukan simulasi biaya dengan menggunakan gaji bulanan pekerja ini sebagai basis utama. Dalam simulasi ini dilakukan sejumlah skenario yang meliputi 1) jumlah pekerja yang menjadi sasaran kebijakan dan 2) besaran kompensasi yang akan diberikan (100 persen atau 75 persen dari gaji bulanan). Perlu dicatat angka dalam simulasi ini mengasumsikan bahwa pekerja yang menggunakan internet sepenuhnya dapat bekerja dari rumah.

Tabel 3 memberikan simulasi sederhana atas besaran kompensasi yang perlu diberikan berdasarkan target cakupan pekerja dan besaran gaji. Bila pemerintah menargetkan full-coverage dan membayar upah

(8)

8

sebesar upah yang diterima oleh pekerja yang pekerjaannya tidak dapat dilakukan dari rumah (non KDR), maka alokasi anggaran sekitar Rp 21,42 triliun (kolom 2 Tabel 3). Bila pemerintah hanya membayarkan 75 persen dari gaji bulanan mereka, maka alokasi anggaran dibutuhkan sebesar Rp 16,2 triliun (kolom 4 Tabel 3).

Namun demikian, bila kita merujuk suatu penelitian yang menyimpulkan bahwa dibutuhkan 80 persen penduduk untuk melakukan pembatasan sosial (social distancing) agar angka penularan COVID-19 turun secara signifikan, maka alokasi anggaran yang dibutuhkan akan lebih rendah.2 Dalam hal ini kita asumsikan juga bahwa dibutuhkan setidaknya 80 persen dari pekerja untuk bekerja dari rumah. Dengan angka tersebut, maka pemerintah membutuhkan setidaknya 60 persen pekerja yang tidak dapat KDR untuk tetap berada di rumah sementara waktu.3 Bila 60 persen pekerja ini dibayarkan gaji mereka secara utuh, maka besaran anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 12,85 triliun (kolom 3 Tabel 3). Namun demikian, bila pemerintah hanya mengalokasi sekitar 75 persen dari upah bulanan dengan target 60 persen pekerja yang tidak dapat KDR, maka biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 9,9 triliun (kolom 5 Tabel 3).

Bila pemerintah memfokuskan kepada kelompok pekerja yang lebih rentan, misalnya mereka yang masuk kategori berkeahlian rendah, maka alokasi anggaran akan lebih rendah. Namun demikian, perlu juga diperhatikan bahwa pengurangan cakupan dan juga kompensasi sebaiknya tetap memperhatikan target minimal cakupan yang dibutuhkan untuk mengurangi secara drastis angka penularan COVID- 19.

Pemerintah juga dapat menggunakan basis konsumsi, dan bukan pendapatan, dalam memberikan kompensasi kepada mereka yang harus dirumahkan. Penggunaan konsumsi sebagai basis kompensasi memungkinkan pemerintah untuk mengalokasi anggaran yang relatif lebih rendah. Meski tentu saja optimalisasi anggaran dalam mencapai tujuan agar individu atau pekerja tetap berada di rumah harus tetap diperhatikan.

Tabel 3 Simulasi Kompensasi berdasarkan Cakupan Pekerja, Gaji dan Profesi

Profesi

Upah Full 1 bulan 75% dari upah bulanan Target

100%

(triliun)

Target (triliun) 60%

Target 100%

(triliun)

Target (triliun) 60%

Manajer 0,51 0,31 0,39 0,24

Profesional 0,72 0,43 0,55 0,33

Teknisi dan Asisten Profesional 1,01 0,61 0,78 0,47

Tenaga Tata Usaha 0,64 0,38 0,49 0,30

2 “Modelling transmission and control of the COVID-19 Pandemic in Australia” oleh Sheryl L Chang, Nathan Harding, Cameron Zachreson, Oliver M Cliff, Mikhail Prokopenko. Di unduh dari https://arxiv.org/pdf/2003.10218.pdf pada tanggal 28 Maret 2020.

3 Sesuai data terdapat 50 persen pekerja yang menggunakan internet dan diasumsikan bisa bekerja dari rumah. Untuk mencapai target 80 persen pekerja, pemerintah perlu meningkatkan sebesar 30 persen angka, yang angka dapat diperoleh dari pekerja yang sama sekali tidak menggunakan internet dalam pekerjaan mereka. Dengan demikian bila pemerintah menargetkan 60 persen dari kelompok pekerja yang tidak pernah menggunakan internet sama sekali untuk tetap berada di rumah, maka pemerintah dapat mencapai tambahan 30 persen angka (60 persen dikalikan dengan 50 persen pekerja yang tidak menggunakan internet).

(9)

9

Tenaga Usaha Jasa dan Tenaga Penjualan 8,12 4,87 6,26 3,76 Pekerja Terampil Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 0,26 0,15 0,20 0,12

Pekerja Pengolahan, Kerajinan, dan YBDI 2,38 1,43 1,83 1,10

Operator dan Perakit Mesin 3,35 2,01 2,59 1,55

Pekerja Kasar 4,44 2,66 3,42 2,05

Total 21,42 12,85 16,52 9,91

Sumber: Sakernas Agustus 2019. Hasil estimasi penulis.

Kesimpulan

Akibat pandemi COVID-19 dan kebijakan pembatasan mobilitas, banyak pekerja yang tidak dapat bekerja di lokasi kerja. Dalam hal ini, tantangan kebijakan saat ini antara lain mengidentifikasikan jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan dari rumah. Dengan demikian para pengambil kebijakan dapat mengeluarkan kebijakan kompensasi spesifik yang menyasar kepada mereka yang membutuhkan.

Kami mencoba menghitung besaran alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk mengompensasi para pekerja yang tidak dapat bekerja di rumah agar mereka tetap berada di rumah. Perlu dicatat, model simulasi kami menggunakan asumsi yang cukup kuat. Salah satunya model ini tidak memperhitungkan heterogenitas dari produktivitas para pekerja yang tentu mempengaruhi insentif pekerja untuk tetap berada di rumah.

Beberapa hal penting berikutnya adalah mekanisme teknis untuk mengidentifikasikan pekerja yang memang tidak memungkinkan KDR. Pendataan termutakhir mengenai karakteristik pekerja dalam hal ini menjadi bagian terpenting untuk menjamin kebijakan kompensasi tepat sasaran. Meski terdapat berbagai keterbatasan, artikel ini diharapkan dapat memberikan pijakan awal yang bermanfaat untuk penelitian terkait berikutnya.

CSIS Indonesia, Pakarti Centre Building, Indonesia 10160 Tel: (62-21) 386 5532| Fax: (62-21) 384 7517 | csis.or.id

COVID-19 Commentaries Editors

Philips J. Vermonte, Shafiah Muhibat, Vidhyandika Perkasa, Yose Rizal Damuri, Beltsazar Krisetya

Gambar

Gambar 1. Proporsi pekerja yang menggunakan internet untuk pekerjaan utama
Tabel 1. Proporsi pekerja yang menggunakan internet berdasarkan sektor ekonomi
Gambar 2. Proporsi pekerja yang menggunakan internet berdasarkan domisili tempat tinggal
Gambar 3. Proporsi pekerja yang menggunakan internet dan lokasi bekerja di DKI Jakarta  berdasarkan domisili tempat tinggal
+2

Referensi

Dokumen terkait