• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIKMA BARU PEMBELAJARAN MATEMATIKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARADIKMA BARU PEMBELAJARAN MATEMATIKA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PARADIKMA BARU PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh: Dr. Supinah

(Widyaiswara PPPPTK Matematika)

A. PENDAHULUAN

(2)

2 Sebagian besar dari mereka tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan.

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional dan menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar nasional, salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah adalah Depdiknas melakukan pergeseran paradigma dalam proses pembelajaran, yaitu dari teacher active teaching menjadi student active learning . Maksudnya adalah orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered).

B. PARADIKMA BARU PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Paradigma baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan yang memiliki ciri-ciri berikut: (1) pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching), (2) pendidikan diorganisir dalam suatu struktur yang fleksibel, (3) pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri, dan (4) pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan (Zamroni dalam Sutarto Hadi, 2003: 2). Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator yang akan memfasilitasi siswa dalam belajar, dan siswa sendirilah yang harus aktif belajar dari berbagai sumber belajar.

(3)

3 diantaranya dengan mulai diberlakukannya KTSP ini, menuntut partisipasi yang tinggi dari siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Untuk itu perlu bagi guru bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampai-kan berbagai konsep yang diajarmenyampai-kan di dalam mata pelajaran yang diampunya, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya lebih lama konsep tersebut dan bagaimana setiap individual mata pelajaran dipahami sebagai bagian yang saling berhubungan dan membentuk satu pemahaman yang utuh. Bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari sesuatu, arti dari sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari, serta bagaimana guru dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan mampu mengkaitkannya dengan kehidupan nyata.

(4)

4 Lampiran Permendiknas RI No. 22 (2006, 416) menyebutkan bahwa, dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Sementara itu, dalam Permendiknas RI No. 41 (2007: 6) disebutkan bahwa proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi mengajar dan sekaligus melibatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajarannya.

Apa yang dikemukakan dalam Permendiknas tersebut di atas, merupakan salah satu upaya atau terobosan yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan pergeseran paradigma dalam proses pembelajaran, yaitu dari teacher active teaching menjadi student active learning dengan harapan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional dan menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar nasional. Maksud pergeseran paradigma tersebut adalah orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered).

(5)

5 Matematika Realistik (Realistik Mathematics Education(RME)), (2) Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah (Problem Based Learning), (3) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dan Pembelajaran Matematika Kontekstual (Contextual Teaching & Learning).

C. KONTEKSTUAL ATAU REALISTIK DALAM PEMBELAJARAN

MATEMATIKA

Pembelajaran kontekstual berangkat dari suatu keyakinan bahwa seseorang tertarik untuk belajar apabila ia melihat makna dari apa yang dipelajarinya (Sutarto Hadi,2005: 17). Lebih lanjut dikemukakan, orang akan melihat makna dari apa yang dipelajarinya apabila ia dapat menghubungkan informasi yang diterima dengan dengan pengetahuan dan pengalamannya yang terdahulu. Johnson (2002: 24), mengemukakan pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa mampu menghubungkan pelajaran di sekolah dengan konteks nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mengetahui makna apa yang dipelajari, seperti: (1) membuat hubungan yang bermakna; (2) melakukan pekerjaan yang berarti; (3) pengaturan belajar sendiri; (4) bekerja sama; (5) berpikir kritis dan kreatif; (6) mendewasakan individu; (7) mencapai standar yang tinggi; dan (8) menggunakan penilaian autentik. University of Georgia Projects (2001: 5), mendifinisikan pembelajaran kontekstual sebagai berikut: (1) membantu siswa membuat hubungan antar pembelajaran mereka dan penerapan dunia nyata; (2) meliputi strategi pengajaran yang berfokus pada siswa sebagai pelajar yang aktif; (3) memberi kesempatan pada siswa untuk mengatasi masalah kompleks dunia nyata dalam latar yang berbeda; (4) menghubungkan pengetahuan para siswa dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga masyarakat dan pekerja.

(6)

6 di luar sekolah untuk menyelesaikan masalah dunia nyata. Hubungannya dengan belajar terjadi ketika para siswa menggunakan dan mengalami kesulitan menghubungkan masalah-masalah nyata kaitan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan pekerja. Sementara itu, Howey mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual mewakili konsep yang berkaitan dengan menghubungkan isi yang dipelajari siswa dengan konteks dimana isi tersebut dapat digunakan. Menghubungkan isi dengan konteks adalah bagian penting yang membawa arti pada proses pembelajaran.

Dari apa yang dikemukakan di atas kaitannya dengan pembelajaran matematika, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kontekstual atau realistik dalam pembelajaran matematika adalah bahwa dalam pembelajaran matematika hendaknya ditandai antara lain: (1) didasarkan pada masalah; (2) pembelajaran terjadi dalam konteks yang beragam, seperti: rumah, sekolah, masyarakat, dan tempat kerja; (3) membantu perkembangan pembelajaran mandiri; (4) menggambarkan keanekaragaman siswa; (5) menggunakan kelompok-kelompok belajar yang saling memerlukan; (6) menggunakan penilaian yang autentik; (7) memerlukan pemikiran yang lebih tinggi (kritis dan kreatif). Di samping itu, dapat dikemukakan kelebihan dari pembelajaran kontekstual, yaitu: (1) siswa sebagai subjek belajar; (2) siswa lebih memperoleh kesempatan meningkatkan hubungan kerja sama antar teman; (3) siswa memperoleh kesempatan lebih untuk mengembangkan aktivitas, kreativitas sikap kritis, kemandirian, dan mampu mengkomunikasi dengan orang lain; (4) siswa lebih memiliki peluang-peluang untuk menggunakan keterampilan-keterapilan dan pengetahuan baru yang diperlukan dalam kehidupan yang sebenarnya; (5) tugas guru sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi siswa selama pembelajaran berlangsung sebagai contoh menyiapkan alat peraga.

D. KESIMPULAN

(7)

7 teaching menjadi student active learning dengan harapan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional dan menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar nasional. Maksud pergeseran paradigma tersebut adalah orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dengan demikian dalam melaksanakan pembelajaran di kelas guru diharapkan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching).

Guru dapat mewujudkan paradikma baru pembelajaran matematika diantaranya dengan menggunakan pembelajaran matematika baru seperti (1) Pendidikan matematika realistik (Realistik Mathematics Education(RME)), (2) Pembelajaran berbasis pemecahan masalah (Problem Based Learning), (3) Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dan Pembelajaran matematika kontekstual (Contextual Teaching & Learning).

DAFTAR PUSTAKA

Atwi Suparman. 1997. Desain Instructional. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka.

Berns dan Erikson. 2001. Theoretical Roots of Contextual Teaching and Learning in Mathematics. Georgia: The Departemet of Mathematis Education.

Bruce Joyce dan Marcha Weil. 1996. Models of Teaching, 5th- edition. Needham Heights. Mas, 02194 asimon & Schuster Company.

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2003. Pendekatan Kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Dikdasmen.

(8)

8 Elly Estiningsih. 1994. Analisis GBPP SD 1994. Bahan Ajar untuk Program Penataran Baca, Tulis, Hitung yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar Depdikbud.

Marpaung, Y. 2001. Pendekatan Realistik dan Sani dalam Pembelajaran Matematika (makalah yang disampaikan pada seminar Pendekatan realistik dan sani dalam Pendidikan Matematika di Indonesia). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Marpaung, Y. 2006. Pembelajaran Matematika dengan Model PMRI (Makalah yang disampaikan pada seminar dan lokakarya pembelajaran matematika). Yogyakarta: PPPG Matematika.

Robert G. Patricia M. Contextual Teaching and Learning: Preparing Students for the New Economy. The Highlightzone: research @ work no. 5

Robert N Gagne dan Leslie J Briggs. 1992. Principles of Instructional Design, 4th edition. New York: Holt Rineharart and Winston.

Suryanto & Sugiman. 2001. Pendidikan Matematika Realistik (Disampaikan pada seminar Pendekatan realistik dan sani dalam Pendidikan Matematika di

Indonesia). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Suryanto. 2001. Pendidikan Matematika Realistik ( Makalah yang disampaikan dalam Lokakarya Penyusunan Perangkat Penataran Matematika bagi Widyaiswara BPG) Yogyakarta: PPPG Matematika.

Sutarto Hadi. 2003. Pendidikan Realistik: Menjadikan Pelajaran matematika Lebih Bermakna bagi Siswa (Makalah yang Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika ’Perubahan Paradigma dari Paradigma Mengajar ke Paradigma Belajar’). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Sutarto Hadi. 2005. Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Banjarmasin: Penerbit Tulip.

Referensi

Dokumen terkait

Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah (1) CIRC sangat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah, (2)

Pengaruh Harga dan Kualitas Produk terhadap keputusan pembelian Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara harga

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi fraktur akar gigi anterior berdasarkan umur dan jenis kelamin yang dicabut di Departemen Bedah Mulut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman dengan garam memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air (%), kadar vitamin C (mg/100 g bahan),

lzin Usaha Perkebunan (IUP) adalah izin tertulis dari Pejabat yang berwenang dan wajib dimiliki oleh perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya

Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber yang dianggap mengetahui permasalahan yang berkaitan dengan penyelesaian utang

ON agar garis yang terbentuk datar, mulai dari bagian ujung kiri garis lintang atau garis tepi pada peta tersebut sampai ujung kanan.. Jika peta tersebut

Biakan bakteri dalam media MHA tersebut diamati ada atau tidak zona hambat yang terbentuk kemudian diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong untuk