• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dan DPD. Kedua lembaga tersebut dipilih melalui mekanisme pemilihan umum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dan DPD. Kedua lembaga tersebut dipilih melalui mekanisme pemilihan umum"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perwujudan representasi di Indonesia dilaksanakan oleh lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) serta Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) yang merupakan forum kelembagaan dari DPR dan DPD. Kedua lembaga tersebut dipilih melalui mekanisme pemilihan umum yang demokratis. Apabila dilihat menurut representasinya, maka DPR merupakan politic representation, sementara itu DPD berkedudukan sebagai territorial representation. Sejatinya kewenangan DPR diatur secara jelas dalam Pasal 20 Undang-Undang Dasar 1945, sementara itu DPD diatur dalam Pasal 22C dan 22D, kemudian keduanya berkumpul dalam satu forum yang disebut MPR sebagaimana disebut dalam Pasal 2 Ayat (1) UUD 1945.

Merujuk pada konsep representasi di atas dan dihubungkan dengan cita-cita reformasi yang menentukan adanya pembatasan kekuasaan, maka disusunlah suatu sistem checks and balances dengan menggunakan prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power). Presiden dan DPR merupakan lembaga yang menentukan regulasi undang-undang. DPR sebagai perwakilan lembaga perwakilan yang diamanati oleh konstitusi juga harus diseimbangkan dengan munculnya DPD sebagai lembaga baru yang mencerminkan lembaga perwakilan daerah. Apabila dilihat dari perbandingan parlemen di dunia, maka dikenal istilah cameral system

(2)

2

(sistem kamar), yang mana sistem ini terdiri dari unicameral, bicameral dan multicameral. Ketiga sistem ini diperkenalkan oleh negara-negara di dunia yang telah melewati fase revolusi industri seperti negara Perancis dan Inggris.

Berdasarkan Pancasila sila ke-4 bahwa Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan/perwakilan pada butir pengamalannya yaitu di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dalam hal ini kepentingan partai politik direpresentasikan oleh DPR, oleh karena itu dibutuhkan representasi daerah agar menjadi penyeimbang di dalam lembaga legislatif untuk tetap mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan partai politik atau sekelompok golongan tertentu. Dalam proses lahirnya DPD, sistem kamar kedua tidaklah mudah, melainkan melalui proses yang sulit dan perdebatan yang rumit dalam sidang MPR. Gagasan pembentukan system bicameral di Indonesia mendapat perlawanan yang cukup agresif dari sebagian kelompok politik di MPR melalui panitia adhoc perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) pada tahun 1999 hingga tahun 2002. Kelompok penentang seperti Fraksi TNI/Polri memiliki kekhawatiran yang amat mendalam terhadap eksistensi DPD yang dikhawatirkan bertentangan dengan sila keempat dan kelima Pancasila. Bagi mereka, keberadaan DPD dapat mengancam NKRI dan menjerumuskan Indonesia ke arah negara federal.1

Dasar pembentukan DPD yaitu perubahan ketiga UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 10 November 2001, dimana anggota DPD dipilih dari setiap provinsi

1 Mexsasai Indra, Dinamika Hukum Tata Negara Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2011, h. 178.

(3)

3

melalui pemilihan umum. Penyusunan perubahan ketiga UUD 1945 tidak menegaskan hal-hal apa saja yang menjadi kewenangan DPD sedangkan DPR dijelaskan dengan jelas dan tegas. Apabila dilihat dari sistem ketatanegaraan dalam bidang legislasi, maka DPD mempunyai fungsi dan wewenang yang tidak komprehensif. UUD 1945 secara limitatif mengatur pelaksanaan fungsi parlemen yang lain seperti fungsi anggaran, kontrol, representasi, dan rekrutmen jabatan publik. Dalam implementasi fungsi-fungsi parlemen tersebut, kewenangan atau kedudukan DPD hanyalah bersifat penunjang terhadap fungsi-fungsi parlemen yang dimiliki oleh DPR itu sendiri. Oleh karenanya UUD 1945 harus diamandemen agar sejalan dengan pengamalan butir sila ke-4 Pancasila, yaitu di dalam musyawarah harus mengutamakan kepentingan bersama tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga DPD bukan lagi sebagai lembaga penunjang DPR namun sebagai lembaga penyeimbang DPR agar terjadi checks and balances di dalam lembaga legislatif.

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 22D pada UUD 1945 yang jelas menunjukkan konstitusi Indonesia menganut sistem bikameral yang lunak (soft bicameralism) dimana satu lembaga perwakilan mempunyai kekuatan lebih kuat (DPR) dibanding lembaga perwakilan lainnya (DPD). Sebagaimana konsekuensinya lembaga perwakilan yang lebih lemah kekuatannya tersebut, yakni DPD hanya memiliki kewenangan terbatas.2 Hal tersebut tidak sesuai dengan latar belakang pembentukan DPD, yaitu untuk mengakomodasi kepentingan daerah

2 Patrialis Akbar, Lembaga-lembaga Negara menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, h. 75.

(4)

4

dalam pengambilan kebijakan nasional demi menjaga integrasi nasional. Serta pembentukan DPD dapat dikatakan sebagai upaya institusionalisasi keterwakilan wilayah. Sehingga harus ada amandemen UUD 1945 agar sejalan dengan Pancasila.

DPD yang anggotanya dipilih langsung melalui pemilu, ternyata konstitusi hanya memberi fungsi yang sangat sumir jika dibanding dengan proses perekrutannya yang demokratis. Berbeda dengan DPR yang diatur dalam tujuh pasal (Pasal 19 sampai dengan Pasal 22B), DPD hanya diatur dalam 2 Pasal, (Pasal 22C dan Pasal 22D). Dalam UUD disebutkan secara tegas, bahwa DPR mempunyai fungsi legislatif, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan (Pasal 20 ayat 1), maka DPD juga mempunyai fungsi-fungsi tersebut namun tidak secara penuh dan utuh.

Dalam bidang legislatif. misalnya DPD tidak dapat ikut menetapkan undang- undang sebagaimana layaknya lembaga perwakilan rakyat, sebab Pasal 20 ayat (1) sudah mengunci bahwa yang memegang kekuasaan membentuk undang-undang adalah DPR.3 Sehingga harus ada perubahan agar DPD mempunyai kekuasaan dalam membentuk undang-undang yang sama-sama kuat (perfect Bicameralism) atau nyaris sama kuat (strong bicameralism) dengan DPR. Namun DPD juga diberikan kewenangan dalam membentuk undang-undang, akan tetapi hanya dapat mengusulkan dan ikut membahas RUU tertentu serta tidak diberikan kewenangan untuk menetapkan undang-undang bersama DPR dan Presiden.

Selain menjalankan fungsi pertimbangan dan pengawasan, menurut UUD 1945 DPD menjalankan fungsi legislasi yang terbatas pada dua hal, yaitu:

3 Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Rajawali Press, Jakarta, 2011, h. 69.

(5)

5

1. Dapat Mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tertentu, 2. Ikut Membahas RUU tertentu.

Sedangkan fungsi legislasi, DPR memiliki tugas dan wewenang:

1. Menyusun Program Legislasi Nasional (Prolegnas), 2. Menyusun dan membahas RUU,

3. Menerima RUU yang diajukan oleh DPD (terkait otonomi daerah;

hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah; pengelolaan SDA dan SDE lainnya; serta perimbangan keuangan pusat dan daerah),

4. Membahas RUU yang diusulkan oleh Presiden ataupun DPD, 5. Menetapkan undang-undang bersama dengan Presiden,

6. Menyetujui atau tidak menyetujui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (yang diajukan Presiden) untuk ditetapkan menjadi undang-undang.

Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3) telah mereduksi kewenangan legislasi DPD. Karena substansi dari UU MD3 dalam mengatur aspek kelembagaan antara DPR dengan DPD sangat timpang, tidak sesuai dengan apa yang ditujukan

(6)

6

oleh UUD 1945 yang mempresentasikan kedua lembaga tersebut sebagai perwujudan dari prinsip checks and balances.

Dengan kewenangan legislasi DPD yang demikian serta upaya yang sudah dilakukan oleh DPD. Jika merujuk pada konsep legitimasi, seharusnya legitimasi lembaga berbanding lurus dengan kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945.

Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dituliskan oleh UUD 1945 yang merupakan produk politik masa itu. Seperti halnya yang dikatakan Stephen Sherlock4, sesungguhnya DPD Indonesia adalah perbandingan yang sangat aneh yang tidak pernah ditemukan di belahan dunia manapun, dimana DPD adalah percampuran antara tingginya legitimasi publik karena DPD dipilih secara langsung dengan rendahnya kualitas kewenangan yang dimilikinya. Seharusnya DPD mendapatkan kualitas kewenangan legislasi agar sesuai dengan legitimasi publik yang diperoleh. Oleh karena itu harus ada perluasan kewenangan DPD dalam bidang legislasi dengan amandemen UUD 1945 atau membentuk peraturan perundang-undang tersendiri yang khusus mengatur tentang DPD.

Pembentukan undang-undang tersendiri untuk mengatur DPD didukung oleh pakar Hukum Tata Negara Umbu Rauta yang mendukung apabila DPD membentuk undang-undang tersendiri. Alasannya ada perintah dalam UUD 1945, Pasal 22C ayat 4 dan Pasal 22D ayat 4. Pasal 22C ayat 4 menyatakan susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan undang-undang. Sementara Pasal 22D ayat 4 menyatakan anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diberhentikan dari jabatannya, yang syarat-syarat dan tata caranya diatur dalam undang-undang.

4 Putusan MK No. 79/PUU-XII/2014, h. 79-80.

(7)

7

Menurut Umbu Rauta, DPD dapat diatur dengan undang-undang tersendiri karena DPD adalah lembaga negara utama yang sejajar dengan DPR, BPK, dan MK.5 Dengan adanya undang-undang tersendiri yang mengatur tentang DPD, akan lebih memudahkan DPD untuk memperkuat kewenangannya dalam proses legislasi, yang selama ini hanya dalam tahap dapat mengajukan dan ikut membahas berbagai undang-undang tertentu.

Dari kedua langkah tersebut dapat dikembangkan melalui Sistem Bikameral Ideal. Dengan memperluas kewenangan legislasi DPD dalam tahapan membahasa rancangan undang-undang dan ikut serta menetapkan undang-undang. Sehingga dapat tercipta checks and balances dalam lembaga legislatif.

B. Rumusan Masalah

Apakah kewenangan legislasi Dewan Perwakilan Daerah sudah atau belum sejalan dengan hakikat Sistem Bikameral Ideal?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berpegang pada perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui kewenangan legislasi Dewan Perwakilan Daerah sudah atau belum sejalan dengan hakikat Sistem Bikameral Ideal.

2. Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu:

5“Perkuat Kewenangan, DPD Minta Tidak Diatur Dalam UU MD3”, Tribunnews, 6 Oktober 2020.

(8)

8 2.1 Manfaat Teoritis

Hasil Penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam kajian pengembangan ilmu hukum, khususnya ilmu hukum tata negara yang berkaitan dengan lembaga negara.

2.2 Manfaat Praktis

Hasil dari Penelitian ini diharapkan dapat membuka cakrawala pikir dan menjadi bahan sumbangan pemikiran bagi Pemerintah dan DPR serta MPR mengenai sistem bikameral ideal

D. Kerangka Teori

Pada penelitian ini akan menggunakan teori bicameral sebagai bahan pijakan utuk mejawab rumusan masalah. Selanjutnya akan dilihat terlebih dahulu dari Risalah Amandemen UUD 1945 atau Naskah Komperehensif UUD 1945 terkait kedudukan dan peran DPD. Sehingga mampu ditelaah akar dari pembagian kewenangan legislasi DPD dan DPR.

Prinsip checks and balances merupakan prinsip ketatanegaraan yang menghendaki agar kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif sama-sama sederajat dan saling mengontrol satu sama lain. Kekuasaan negara dapat diatur, dibatasi, bahkan dikontrol dengan sebaik-baiknya, sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penyelenggara negara ataupun pribadi-pribadi yang sedang menduduki jabatan dalam lembaga-lembaga negara dapat dicegah dan ditanggulangi.6

6Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, Sinar Grafika, 2010, h. 61.

(9)

9

Mekanisme checks and balances dalam suatu demokrasi merupakan hal yang wajar, bahkan sangat diperlukan. Hal itu untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan oleh seseorang atau pun sebuah institusi, atau juga untuk menghindari terpusatnya kekuasaan pada seseorang ataupun sebuah institusi, karena dengan mekanisme seperti ini, antara institusi yang satu dengan yang lain akan saling mengontrol atau mengawasi, bahkan bisa saling mengisi.7

Prinsip tersebut mulanya merupakan prinsip yang diterapkan dalam sistem ketatanegaraan Amerika Serikat, di mana sistem ketatanegaraan dimaksud memadukan antara prinsip pemisahan kekuasaan dan prinsip checks and balances.

Kekuasaan negara dibagi atas kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, yang masing-masing dipegang oleh lembaga yang berbeda tanpa adanya kerjasama satu sama lain, sedangkan dengan checks and balances, antara satu lembaga dan lembaga lainnya terdapat keseimbangan kekuasaan dan mekanisme saling kontrol.

Prinsip checks and balances tidak dapat dipisahkan dari masalah pembagian kekuasaan. Sebagamana ditulis oleh Robert Weissberg, “A principle relatedto separation of powers is the doctrine of checks and balances. Whereas separation of powers devides governmental power among different officials, checks and balances giveseach official some power over the others”.8

Dalam mencapai prinsip checks and balances dalam lembaga legislatif, digunakanlah sistem parlemen bikameral merupakan sistem parlemen yang terdiri dari dua kamar atau dua badan. Anggota masing-masing kamar dipilih melalui

7 Gaffar, Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, h. 89.

8Robert Weissberg, Understanding American Government, Holt Rinehart and Winston, New York, 1970, h. 35

(10)

10

pemilihan umum. Sistem parlemen dua kamar ini dimaksudkan untuk dapat saling mengawasi (checks and balances).

Penerapan sistem parlemen bikameral di dalam praktiknya sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, sejarah dan perkembangan ketatanegaraan negara yang bersangkutan. Negara yang berbentuk kesatuan dimungkinkan memakai sistem bikameral agar pertimbangan bahwa kamar kesatu dapat mengimbangi dan membatasi kekuasaan dari kamar kedua. Dikhawatirkan bahwa sistem unikameral akan memberi peluang untuk menyalahgunakan kekuasaan, oleh karena mudah dipengaruhi oleh situasi politik. Di Indonesia sendiri penerapan sistem bikameral dalam lembaga legislatif belum terlihat mencerminkan checks and balances karena keterbatasan kewenangan legislasi DPD, sehingga dibutuhkan perluasan kewenangan legislasi DPD untuk membahas rancangan undang-undang yang tidak terbatas pada undang-undang tertentu dan DPD ikut menetapkan undang-undang dengan DPR dan Presiden.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian yuridis normative, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder.9 Penelitian yuridis normative seringkali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundangan-undangan (law inbooks) atau hukum dikonsepkan sebagai

9Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Rajawali Pers, Jakarta, 2003, h. 13.

(11)

11

kaidah atau norma yang merupakan patokan perilaku manusia yang dianggap pantas.10

Nama lain dari penelitian yuridis normatif adalah penelitian hukum doktriner, juga disebut sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen. Dikatakan penelitian hukum doktriner karena penelitian ini dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain.

Dikatakan sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen karena penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan. Jenis ini dipergunakan mengingat bahwa obyek dalam penelitian ini adalah mengenai penerapan sistem bikameral yang ideal dan penerapan prinsip checks and balances dalam ketatanegaraan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Spesifikasi penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis, yaitu penelitian yang mendiskripsikan secara terperinci kewenangan DPD dalam menjalankan asas checks and balances tentang apa saja yang menjadi pokok permasalahannya. Suatu penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta tertentu tentang masalah-masalah yang diteliti.

Bersifat deskripsi karena dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara rinci, sistematis, dan menyeluruh menegenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pokok permasalahan. Dalam penilitian ini penulis

10Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo, Persada, Jakarta, 2006, h. 118.

(12)

12

mencoba mencari gambaran baru untuk di tawarkan agar kewenangan DPD dapat sejalan dengan prinsip checks and balances.

2. Pendekatan Penelitian

Untuk menjawab isu hukum diatas, sebagaimana yang sudah terumus pada rumusan masalah, maka penelitian ini merupakan penelitian hukum (legal research)11 dan akan menggunakan beberapa pendekatan. Pertama akan menggunakan pendekatan konseptual. Kedua, menggunakan pendekatan perbandingan. Ketiga menggunakan pendekatan filosofis. Keempat, menggunakan pendekatan kasus.

Pendekatan konseptual (conceptual approach) diperlakukan mengingat adanya ketidaksesuaian konsep terbentuknya dan kewenangan DPD dalam mewujudkan prinsip checks and balances.

Dalam melihat bangunan dari dua konsep tersebut penulis beranjak dari pandangan-pandangan sarjana dan doktrin-doktrin hukum yang berkembang dalam ilmu hukum. Sehingga dapat dibangun atau rekonstruksi dari dua konsep tersebut.

Setelah mendapatkan konsep yang jelas, penulis menggunakanpendekatan perbandingan (comparative approach) digunakan untuk membandingkan sistem bikameral legislastif di Indonesia dengan negara kesatuan yang menganut sistem bikameral.

Pendekatan filosofis (philosophical approach) digunakan untuk menangkap makna nilai dari terbentuknya DPD. Setelah itu digunakan pendekatan kasus (case approach) mengingat Undang-undang tidak mengatur secara spesifik isu hukum

11 Marzuki, Pieter Mahmud, loc. cit.

(13)

13

penelitian.12 Selanjutnya, pendekatan filosofis digunakan untuk menelaah masalah- masalah yang berkaitan dengan pembatasan kewenangan DPD sehingga dapat memunculkan solusi untuk memperluas kewenangan legislasi DPD sesuai prinsip checks and balances berdasar telaah kasus tersebut.

3. Bahan Hukum

Sumber data merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian, karena kesalahan dalam menggunakan dan memahami sumber data dapat mengakibatkan data yang diperoleh meleset dari yang diharapkan. Sumber data di bagi menjadi tiga yaitu:

3.1 Bahan Hukum Primer

Sumber data primer merupakan data pokok yang diperlukan dalam penelitian, yang terdiri dari norma atau kaidah dasar berupa Peraturan Perundang-undangan dan konvensi serta instrumen hukum internasional lainnya yang mendukung.

Peraturan Perundang-undangan yang akan menjadi data dalam penelitian ini yaitu:

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

c) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

12Ibid, h. 124.

(14)

14

d) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

e) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

f) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan.

g) Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 92/PUU- X/21012.

h) Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 79/PUU- XII/2014.

3.2 Bahan Hukum Sekunder

Data sekunder adalah data yang menunjang data primer dan merupakan pelengkap bagi data primer. Data sekunder diperoleh dengan melakukan penelitian literature, yaitu melakukan penelitian atau pendapat para ahli hukum yang dituangkan dalam literatur hukum, karya tulis ilmiah bidang hukum seperti jurnal hukum laporan penelitian hukum, serta bentuk-bentuk tulisan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.

3.3 Bahan Hukum Tersier

(15)

15

Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti rancangan undang- undang, kamus hukum, dan majalah.

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara studi pustaka (library research) yaitu mengumpulkan fakta-fakta di lapangan dan bahan hukum yang dilakukan secara studi kepustakaan dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Metode library research adalah dengan mempelajari sumber-sumber atau bahan-bahan tertulis yang dapat dijadikan bahan penelitian berupa rujukan buku-buku, wacana yang dikemukakan oleh para sarjana hukum, artikel, jurnal ilmiah, maupun majalah, yang berkaitan erat dengan permasalahan yang telah dirumuskan.

5. Metode Penyajian Data

Setelah mendapat fakta di lapangan yang diperoleh maka, disajikan dalam bentuk uraian. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan apakah fakta di lapangan sudah sesuai dengan landasan teori atau sebaliknya tidak sesuai dengan landasan teori, sehingga dapat dipertanggungjawabkan, kemudian dapat disusun secara berurutan.

6. Metode Analisa Data

Metode analisa yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode analisa kualitatif, artinya suatu cara penelitian yang menghasilkan deskriptif analitis.

Deskriptif analitis yaitu apa yang ada dilapangan dikaitkan dengan landasan teori yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh berdasarkan penelitian. Bahan penelitian dari UUD 1945, jurnal serta buku maupun putusan Mahkamah Konstitusi

(16)

16

(MK) yang kemudian akan dikumpulkan. Setelah semua data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data yang dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan kenyataan, kemudian hasil analisa tersebut di paparkan dalam bentuk tesis.

Referensi

Dokumen terkait

“Langkah-langkah yang dilakukan oleh agen dan perusahaan dalam menangani pendaftaran peserta baru adalah sesuai prosedur dan SOP yang diberlakukan yaitu peserta

[r]

Pada penelitian yang dilakukan di bioskop Z menggunaka n software arena 15.0 untuk membuat model simulasi dari sistem antrian pelanggan di bioskop sehingga

Strategi yang dapat diterapkan adalah strategi ST (Strengths-Treaths) agar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Program Studi PTM dapat menggunakan semua

Untuk mahasiswa yang akan mengambil Tugas Akhir dengan Outline Perancangan Sistem Berorientasi Objek mahasiswa wajib melakukan riset keperusahaan atau

Asuhan Keperawatan Klien Harga Diri rendah Kronoligi : Jakarta. Y,Fransiska.Andri

a. Variasi dalam Pembelajaran.. Menulis di Papan Tulis. Mengkondisikan Situasi Siswa. Menilai Hasil Belajar. Pelaksanaan Ujian Program Mengajar. Pelaksanaan Ujian praktik

Upaya diversifikasi dapat dilakukan baik dalam pemanfaatan produk buah kelapa seperti pembuatan kelapa parut kering, santan awet, juga diversifikasi dalam pemanfaatan kelapa