• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN SEJARAH DALAM BINGKAI IPS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBELAJARAN SEJARAH DALAM BINGKAI IPS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

29

Staf Pengajar Prodi Pendidikan Sejarah, FPIPS, IKIP PGRI Wates

ABSTRACT

History learning is a means to present factual knowledge of various events that occurred in the past, so that students are expected to understand, appreciate and actualize the values contained in these historical events in everyday life. Through history learning, it is hoped that the spirit of nationalism and patriotism will be built. In reality, history learning has not yet succeeded optimally in achieving these goals, this is due to various factors, especially the professionalism of teachers and the view that history is a boring rote lesson, so students are less interested and consider it the second lesson. In elementary, junior high and vocational schools, history is integrated in social studies subjects along with other social sciences such as geography and sociology. The purpose of social studies learning is to build good citizens who are able to solve various social problems around them. Learning history in the social studies framework contributes to providing past facts for solving various social problems. When viewed from the purpose or system of history learning, history learning is part of social studies learning, especially in the affective domain, namely to make the younger generation as good citizens who have a high spirit of nationalism and patriotism and want to appreciate the struggle of their heroes. This is in accordance with the tradition of social studies as “citizenship transmission.”

Keywords: history learning, social studies

Pendahuluan

Pembelajaran sebagai suatu kegiatan antara guru dengan siswa untuk tujuan pendidikan, sudah ada semenjak dahulu kala, namun selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan kreativitas manusia. Pembelajaran ini dialami oleh manusia sepanjang hayat dan berlaku di mana pun serta kapan pun, sehingga pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya siswa dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai tujuan yang ditentukan yaitu menguasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Istilah pengajaran lebih bersifat formal dan cenderung dalam konteks guru dengan siswa di kelas atau di sekolah. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan siswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, baik dihadiri guru maupun tidak. Dengan kata lain, dalam pembelajaran cenderung siswa lebih aktif. Karena itu istilah pembelajaran mengandung makna yang lebih luas dibanding dengan pengajaran. Meskipun demikian sampai saat ini masih kita dapati beberapa penulis menggunakan istilah pengajaran dan pembelajaran sering digunakan untuk kontek yang sama.

Gagne dan Briggs (1979: 3) menyatakan bahwa:

intruction is a human undertaking whose purpose is to help peoplelearn. While learning may happen without any instruction, the effects of instruction on learning are often beneficial and usually easy to observe. When instruction is designed to accomplish a

(2)

30

particular goal learning, it may or may not be successful. . . . instruction is a set of events which affect learners in such a way that learning is facilitated.

Dengan demikian pengajaran merupakan suatu sistem yang bertujuan membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mendukung terjadinya proses belajar siswa. Sementara itu menurut UU No. 20 Tahun 2003, Bab I Pasal 1 Ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran juga dapat dikatakan sebagai proses atau kegiatan yang sitematis dan sistemik dan bersifat komunikatif dan interaktif antara guru dengan siswa dalam rangka membantu siswa memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan.

Sampai saat ini pembelajaran sejarah dapat berdiri sendiri (seperti di sekolah SMA) namun juga bisa melebur bersama ilmu sosial lainnya (seperti di sekolah SD, SLTP, dan SMK). Pembelajaran sejarah yang berdiri sendiri jelas memiliki karakter sendiri, seperti di SMA terutama ditujukan untuk mengembangkan rasa senang belajar peristiwa sejarah dan belajar dari peristiwa sejarah, mengenal lebih lanjut jati diri bangsa, berpikir historis, memiliki kemampuan dasar metodologi sejarah (historical skills), rasa kebangsaan, cinta damai, dan mengenal dan mampu menggunakan konsep-konsep utama sejarah (Wineburg, 2001; Hasan, 2011). Namun akan lain jika pembelajaran sejarah dalam bingkai IPS, hal ini akan menjadi bagian dari pisau analisa bersama ilmu-ilmu sosial lainnya dalam membantu memecahkan berbagai permasalahan sosial. Inilah yang akan dikaji secara lebih mendalam dalam tulisan ini.

Tujuan Pembelajaran Sejarah

Wineburg (2006: 6) menyatakan bahwa sejarah penting diajarkan di sekolah karena memiliki potensi untuk menjadikan kita manusia yang berperikemanusiaan, dan ini yang belum tentu dilakukan oleh semua mata pelajaran yang ada dalam kurikulum sekolah. Masa lalu dapat dijadikan sebagai sumber yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pertemuan dengan masa lalu dapat memperluas cakrawala pemikiran kita. namun masa lalu yang kurang sesuai dengan kebutuhan sekarang dapat diabaikan. Dengan kata lain Wineburg melihat pentingnya sejarah diajarkan di sekolah-sekolah, namun kita harus mampu memetik nilai-nilai dari masa lalu yang sesuai dan selaras dengan kehidupan kita sekarang.

Senada dengan hal tersebut di atas Daniel (1981) dan Soedjatmoko (1990) mengungkapkan bahwa pembelajaran sejarah merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan sikap kesetiaan dan tanggung jawab warga negara terhadap negara dan bangsanya atau dengan kata lain mampu membentuk kepribadian bangsa. Memperdalam pengertian sejarah bangsanya akan dapat menyinari dan mengahayati kepribadian bangsa.

Hal demikian juga diungkapkan oleh Widja (1989) menyatakan bahwa sejarah sebagai suatu memori kolektif yang dijadikan sebagai landasan bagi identitias diri dan mewariskan kepada generasi muda suatu kebanggaan kolektif serta dedikasi bagi bangsa dan negara. Sartono Kartodirdjo (Poesponegoro dan Notosusanto, 1984) menyatakan bahwa sejarah Indonesia yang menggambarkan kondisi bangsa Indonesia baik dalam suka maupun duka dan peran beberapa tokoh sejarah mampu membangkitkan rasa kebanggaan dari generasi muda sehinggga mampu memantapkan kepribadian dan identitasnya.

(3)

31

Sementara itu, Ali (1963: 291) menyebutkan tujuan pembelajaran sejarah nasional adalah: membangkitkan dan mengembangkan semangat kebangsaan; membangkitkan hasrat dalam mewujudkan cita-cita kebangsaan; menyadarkan siswa tentang cita-cita nasional dan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita nasional tersebut sepanjang masa.

Banks (1990: 282) menyatakan bahwa “ Many educators and lawmakers believe that history should be thought in the public schools because it contributes to the development of patriotism and democratic attitudes”. Senada dengan itu, Kochhar (2008: 62) menjelaskan bahwa pembelajaran sejarah mengajarkan bagaimana memasukkan nilai-nilai patriotisme ke dalam pikiran generasi muda, karena hanya melalui sejarah generasi muda memperoleh pengetahuan mengenai berbagai tindakan yang telah dilakukan oleh para patriot bangsanya.

Wahid (2007) mengemukakan bahwa pembaharuan tekad bersama generasi muda sangat memerlukan kesadaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu. Oleh sebab itu generasi muda perlu memepelajari sejarah bangsanya secara utuh, objektif, dan kritis.

Lembaran sejarah Indonesia memberikan pelajaran yang sangat penting tentang bagaimana seharusnya generasi muda memainkan peran dan membuat lembaran sejarah pada saat ini dan masa yang akan datang.

Kartodirdjo (2005: 122) menyatakan bahwa dalam rangka pembangunan bangsa, pembelajaran sejarah tidak semata-mata berfungsi untuk memberikan pengetahuan sejarah sebagai kumpulan fakta sejarah, tetapi menyadarkan siswa atau membangkitkan kesadaran sejarahnya. Untuk sampai pada sikap dan perilaku kesejarahan, terutama sikap patriotisme diperlukan adanya kesadaran sejarah, sebagaimana ungkapkan oleh Soedjatmoko (1990:

67), bahwa kesadaran sejarah akan membimbing manusia pada pengertian mengenal diri sendiri sebagai bangsa. Berkaitan hal tersebut Carr (1965: 35) menyatakan bahwa “History is a continuous process of interaction between the historian and his facts, an unending dialog between the present and the past” atau sejarah merupakan interaksi antara sejarawan dengan fakta-fakta sejarah dan dialog tanpa akhir antara masa sekarang dan masa lampau.

Dengan melihat pendapat dari beberapa ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah akan dapat membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme bagi generasi muda di Indonesia. Pembelajaran sejarah memiliki tugas utama untuk menanamkan semangat berbangsa dan bertanah air.

Pembelajaran sejarah membangkitkan kesadaran empati pada siswa, yaitu sikap dan toleransi terhadap orang lain yang disertai dengan kemampuan untuk imajinasi dan kreativitas. Kemampuan untuk mengidentifikasikan diri secara empatik dengan orang lain tersebut merupakan ikatan benang merah yang membantu siswa mengenai kebersamaan dan solidaritas. Toleransi mengajarkan kepada siswa agar memiliki jiwa demokratis, menghargai dan menghormati orang lain, disertai dengan tanggung jawab dan komitmen dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa. Proses pengenalan diri sebagai titik awal timbulnya harga diri, kebe Proses pengenalan diri sebagai titik awal timbulnya sense of solidarity, yaitu harga diri, kebersamaan dan keterikatan, dan sense of belonging yaitu rasa keterpautan dan rasa memiliki, serta sense of pride, yaitu rasa bangga terhadap bangsa dan tanah air (Wiriaatmadja, 2002: 156-157).

Hal tersebut di atas tampaknya telah mengilhami para penyusun kurikulum sekarang ini karena itu dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dirumuskan bahwa tujuan pembelajaran sejarah di sekolah adalah agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis

(4)

32

dan pemahaman sejarah. Melalui pembelajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia. Pembelajaran sejarah juga bertujuan agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang (Pusat Kurikulum, 2006).

Seperti telah dijelaskan di bagian terdahulu bahwa untuk memahami sejarah secara menyeluruh, maka siswa harus mampu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai peristiwa sejarah yang mereka pelajari. Adapaun nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh bangsa Indonesia terdahulu menurut Kutoyo (1983), meliputi ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegotong-royongan, penghormatan kepada orang tua, kecintaan kepada bangsa dan negara, persatuan dan kesatuan, perikemanusiaan, kerakyatan, kebersamaan, musayawarah, dan sebagainya.

Dalam upaya untuk melatih siswa agar mampu berpikir kesejarahan atau memahami nilai-nilai sejarah tersebut, maka metode inkuiri dan klarifikasi nilai kiranya sangat cocok untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran sejarah. Dengan metode inkuiri siswa dihadapkan pada materi yang berbeda-beda dan memberikan analisis yang berbeda-beda, sehingga mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai isu kontemporer yang ada.

Begitu juga dengan menggunakan Model TELSTAR (Tune in, Explore, Look, Sort, Test, Act, Reflect), terutama untuk menjelaskan nili-nilai keadilan sosial dengan jalan siswa menemukan sendiri di bawah bimbingan guru atau inkuiri (Marsh, 2008: 157). Pembelajaran sejarah dapat dilakukan juga dengan metode klarifikasi nilai siswa diharapkan dapat menjelaskan, mengungkap dan memerinci nilai-nilai yang ada dalam peristiwa sejarah dan kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Sejarah di Indonesia

Terkait dengan pembelajaran sejarah di Indonesia pada saat ini, banyak komentar dari para pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan yang menyatakan bahwa fenomena pembelajaran sejarah yang terjadi di Indonesia, antara lain terkait dengan masalah strategi dan metode pembelajaran sejarah, kurikulum sejarah, masalah materi, buku ajar atau buku teks, profesionalisme guru sejarah, dan lain-lain.

Permasalahan yang terkait dengan strategi dan model pembelajaran sejarah masih jauh dari harapan untuk memungkinkan anak melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. Pembelajaran sejarah di sekolah menengah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Tidak aneh bila pendidikan sejarah terasa kering, tidak menarik, dan tidak memberi kesempatan kepada anak didik untuk belajar menggali makna dari sebuah peristiwa sejarah (Hasan, 2007a). Hal senada juga disampaikan oleh Taufik Abdullah yang memberi penilaian bahwa strategi pedagogis sejarah Indonesia sangat lemah. Pendidikan sejarah di sekolah masih berkutat pada pendekatan chronicle dan cenderung menuntut anak agar menghafal suatu peristiwa (Abdullah dalam Alfian, 2007). Siswa tidak dibiasakan untuk mengartikan suatu peristiwa guna memahami dinamika suatu perubahan. Karena itu tepatlah apa yang diungkapkan oleh Gunning (1978)

(5)

33

bahwa metode pembelajaran yang mengutamakan hafalan akan menyebabkan pemaparan sejarah secara dangkal atau kurang sempurna dan cacat.

Pembelajaran sejarah yang konvensional dan berpusat pada guru akan menjadikan siswa pasif dan membosankan dan sampai saat ini masih banyak dilakukan oleh para guru dalam pembelajaran sejarah. Hal ini akan mengakibatkan peran siswa sebagai pelaku sejarah pada zamannya menjadi terabaikan. Pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya atau lingkungan sosialnya tidak dijadikan bahan pelajaran di kelas, sehingga menempatkan siswa sebagai peserta pembelajaran sejarah yang pasif. Dengan kata lain, kekurang cermatan pemilihan strategi mengajar akan berakibat fatal bagi pencapaian tujuan pengajaran itu sendiri (Widja, 1989: 13). Oleh karena itu sudah saatnya sekarang ini dikembangkan model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran sejarah.

Proses pembelajaran konstruktivisme mengajarkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Karena itu dalam pembelajaran guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada siswa dalam bentuk yang serba sempurna. Dengan kata lain, siswa harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya masing-masing, sehingga dalam pembelajaran ini lebih terpusat pada siswa, guru cenderung hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Hasil penelitian Nair & Malar (2005) menunjukkan adanya peningkatan prestasi dan motivasi belajar sejarah setelah pembelajaran sejarah menggunakan model konstruktivisme. Suatu pengetahuan sejarah yang ditunjang dengan pengalaman praktis warga negara yang baik di sekolah akan dapat membantu loyalitas dan membantu mereka untuk menemukan dirinya dengan latar belakang sejarah yang luas (Jerolimek, 1971).

Pembelajaran sejarah di sekolah harus berpedoman pada kurikulum yang berlaku.

Kurikulum adalah rencana tertulis dan dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan guna mengembangkan potensi siswa menjadi berkualitas. Dalam sebuah kurikulum termuat berbagai komponen, seperti, tujuan, konten dan organisasi konten, serta proses yang menggambarkan posisi siswa dalam belajar dan penilaian hasil belajar. Selain komponen tersebut, kurikulum sebagai suatu rencana tertulis dapat pula berisikan sumber belajar dan peralatan belajar dan evaluasi kurikulum atau program. Sejak Indonesia merdeka, telah terjadi beberapa kali perubahan kurikulum dan mata pelajaran sejarah berada didalamnya.

Akan tetapi, materi-materi yang diberikan dalam kurikulum yang sering mendapat kritik dari masyarakat maupun para pemerhati sejarah baik dari pemilihannya, teori pengembangannya, dan implimentasinya yang seringkali digunakan untuk mendukung kekuasaan (Alfian, 2007; Adam, 2010).

Materi pembelajaran sejarah di Indonesia juga banyak mengandalkan buku teks atau buku ajar. Masalah buku ajar ini sudah ada sejak sistem pendidikan nasional mulai diterapkan di Indonesia tahun 1946. Sebagian besar buku ajar, baik yang diterbitkan oleh swasta maupun pemerintah nampaknya tidak layak untuk dijadikan referensi. Sebagian besar penulis buku hanya membaca dokumen kurikulum secara harfiah dan tidak mampu memahami jiwa kurikulum dengan baik. Sebagian besar penulis buku juga tidak paham sejarah sebagi ilmu, historiografi, dan tertinggal sangat jauh dalam referensi mutahkir penulisan. Di samping itu, materi pembelajaran merupakan sejarah politik dan cenderung berpihak pada pemerintah yang berkuasa (Purwanto, 2006; Adam, 2010).

(6)

34

Masalah profesionalisme guru sejarah di Indonesia juga masih dipertanyakan, sampai saat ini masih berkembang kesan dari para guru, pemegang kebijakan di sekolah bahwa pelajaran sejarah dalam mengajarkannya tidak begitu penting memperhatikan masalah keprofesian, sehingga tidak jarang tugas mengajar sejarah diberikan kepada guru yang bukan profesinya. Akibatnya, guru mengajarkan sejarah dengan ceramah mengulangi apa isi yang ada dalam buku (Anggara, 2007: 102).

Sementara itu banyak sekolah yang memposisikan guru sejarah sebagi guru yang tidak favorit, dan mata pelajaran sejarah sekadar sebagai pelengkap. Bahkan banyak kasus ditemukan, guru sejarah menjadi sasaran permintaan sekolah untuk menaikkan nilai siswa rendah prestasinya agar siswa yang bersangkutan dapat naik kelas. Selain itu, sebagian besar guru sejarah juga tidak mengikuti perkembangan hasil penelitian dan penerbitan mutakhir sejarah Indonesia. Hal yang terakhir itu juga berkaitan dengan adanya kenyataan bahwa institusi resmi yang menjadi tempat pendidikan tambahan bagi guru sejarah itu hanya berkutat pada substansi historis dan metode pengajaran sejarah yang tertinggal jauh (Purwanto, 2006: 268). Karena itu pembelajaran sejarah di sekolah selama ini sering dilakukan kurang optimal. Pelajaran sejarah seolah sangat mudah dan digampangkan.

Banyak pendidik yang tidak berlatar belakang pendidikan sejarah terpaksa mengajar sejarah di sekolah (Hariyono, 1995: 143). Hal demikian jelas akan membawa dampak pada kurang efektifnya pembelajaran sejarah di Indonesia. Di samping itu juga masih adanya persepsi bahwa pelajaran IPS, khususnya sejarah adalah pelajaran hafalan yang membosankan, sehingga siswa kurang tertarik dan menganggap sebagai pelajaran nomor dua. Hal ini didukung hasil penelitian Peneltian Nor Anida Fateraniah (2003) tentang “Nasionalisme Dalam Pembelajaran IPS Sejarah SLTP Negeri 8 Yogyakarta” menunjukkan bahwa belum efektifnya pembelajaran IPS sejarah karena belum optimalnya guru dalam menggunakan metode dan media pembelajaran serta sikap siswa terhadap mata pelajaran IPS Sejarah yang terkesan sebagai pelajaran hafalan dan kurang menarik.

Melihat kenyataan tersebut di atas maka diperlukan adanya perubahan paradigma pembelajaran sejarah. Perubahan paradigma ini sebenarnya sudah dirintis oleh Robinson, yakni dari sejarah lama yang terlalu kaku dan membatasi pada sejarah politik menuju sejarah baru yang mencakup aspek sosial-ekonomi, budaya, pendidikan, psikologi dan sebagainya serta menggunakan pendekatan inter disipliner atau multi disipliner. Bahkan perubahan itu terlihat begitu kuat, termasuk dalam filsafat pendidikan sejarah, yakni dari perenialisme ke arah esensialisme bahkan social reconstructionism dan kemudian melebur menjadi sejarah eklektik (Supardan, 2012).

Sementara itu teori pembelajaran berbeda dengan teori belajar, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bruner (Budiningsih, 2008: 11) bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif sedangkan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode yang optimal, sedangkan teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utama adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menitik beratkan pada hubungan variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Teori belajar memfokuskan pada bagaimana seseorang belajar. Sebaliknya, teori ini menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar.

(7)

35 Pembelajaran Sejarah Dalam Kontek IPS

Definisi social studies atau IPS pada awalnya dikemukakan oleh Edgar Bruce Wesley pada tahun 1937 yaitu, “The social studies as the social science simplified for pedagogical purpose” atau social studies adalah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa “The social studies consists of Geography, History, Economic, Sociology, Civics and various combination of these subjects” (Barr, Barth, dan Shermis, 1987: 194).

Sementara itu, National Council for Social Studies (NCSS) mendefinisikan social studies sebagai berikut.

Social studies is the integrated study of social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school pogram, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such diciplines as anthropology, archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology as well as appropriate content from humanities, mathematics and natural sciences. The primary purpose of socialstudies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decision for the public good a citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world (NCSS, 1994: 213)

IPS atau Social studies di dalamnya mencakup berbagai konsep yang berhubungan dengan aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, psikologi, geografi, dan filsafat yang dipilih untuk tujuan pembelajaran pada jenjang sekolah dan perguruan tinggi. Namun bila dianalisis, pengertian social studies memberikan gambaran bahwa social studies merupakan disiplin dari ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan untuk memenuhi tujuan pendidikan, baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah maupun pada tingkat pendidikan tinggi. Oleh karena itu aspek dari masing-masing disiplin ilmu sosial itu perlu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuan Institusional dan tujuan kurikuler pembelajaran tersebut.

Sejalan dengan itu Somantri (2001: 103) menyatakan bahwa IPS dapat dimaknai sebagai seleksi dari struktur disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila. Dengan demikian, sejarah merupakan bagian dari IPS dan bersama dengan ilmu-ilmu sosial lain secara terintegrasi dalam IPS serta dikembangkan untuk mencapai tujuan pedidikan nasional.

Kaitan antara IPS dengan sejarah, menurut Barr, Barth, dan Shermis, (1987: 82-83) sebenarnya kaitan antara keduanya sejak awal telah dikembangkan, bahkan para sejarawan, seperti: Henry Johnson, Carl Bekker, Charles Beard dan James Harvey Robinson yang turut menggagas terbentuknya IPS. Mereka mengembangkan apa yang dinamakan sejarah baru, dengan pembelajaran sejarah yang diolah secara ilmiah. Mereka ingin melihat pembelajaran itu sebagaimana seorang sejarawan memecahkan masalah sejarah, sekaligus menekankan pada proses perkembangan historis. Siswa diharapkan menjadi warga negara yang baik melalui kebaikan dari isi dan metodologi sejarah. Artinya, dengan mempelajari materi sejarah dapat membantu menyelesaikan permasalahan kewarganegaraan. Ini semua merupakan pembaharuan dalam studi-studi sosial dan selanjutnya diikuti oleh ahli-ahli ilmu sosial lain.

(8)

36

Dalam IPS semula terdapat tiga tradisi, yaitu: (1) IPS diajarkan sebagai transmisi nilai kewarganegaraan (social studies as citizenship transmission); (2) IPS diajarkan sebagai ilmu-ilmu sosial (social studies as social scinces); (3) IPS diajarkan sebagai reflektif inquiry (social studies as reflective inquiry). Namun kini telah berkembang menjadi lima tradisi, yaitu: (4) IPS sebagai kritik kehidupan social (social studies as social criticism); (5) IPS sebagai pengembangan individu (social studies as personal development of the individual (Sapriya, 2008: 11). Oleh karena itu, IPS tidak hanya diajarkan pada jenjang sekolah dasar, tetapi sampai pada jenjang pendidikan tinggi.

Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 37 ayat satu dan penjelasannya bahwa pendidikan sejarah adalah bagian dari ilmu pengetahuan sosial (IPS). Di dalam penjelasan undang-undang tersebut dinyatakan bahwa bahan kajian IPS dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis siswa terhadap kondisi sosial masyarakat. Penjelasan ini menempatkan materi pendidikan sejarah sebagai materi kurikulum dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Mengeah Atas (SMA), walaupun mesti disadari bahwa mungkin nama mata pelajarannya bisa IPS atau Sejarah (Hasan, 2007a). Hal ini mengingat bahwa pendidikan sejarah di Indonesia untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta sekolah menengah kejuruan disampaikan dalam kemasan IPS, sementara itu untuk sekolah menengah atas diberikan dalam kemasan sebagai mata pelajaran sejarah. Namun demikian baik dalam kemasan IPS maupun mata pelajaran sejarah, pembelajaran sejarah tetap harus memperhatikan lingkungan sekitar, baik dalam pengkajian maupun penerapannya. Meskipun demikian, dalam kegiatan pembelajaran tidak semua karakter lingkungan sekitar dapat dijadikan sumber belajar. Sehubungan dengan hal tersebut guru harus mampu memilihnya, sehingga mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan menggunakan lingkungan sekitar, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial sebagai materi maupun media pembelajaran, maka akan mendorong siswa untuk kreatif dan memahami permasalahan di sekitarnya. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem pembelajaran ilmu pengetahuan sosial.

Apabila dilihat dari tujuan atau sistem pembelajaran sejarah maka pembelajaran sejarah merupakan bagian dari pembelajaran IPS, terutama dalam ranah afektif, yakni untuk menjadikan generasi muda sebagai warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memiliki semangat nasionalisme dan patriotisme tinggi serta mau menghargai perjuangan para pahlawannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Barr, Barth, dan Shermis (1987: 58) bahwa tujuan IPS sebagai Citizenship Transmission diantaranya untuk mengembangkan rasa patriotisme.

Sementara itu, Hasan (2007a) menyatakan bahwa sesuatu yang harus disadari untuk pendidikan sejarah di masa mendatang adalah pendidikan sejarah sebagai media pendidikan tidak berkenaan dengan benda mati, tetapi dengan generasi yang penuh idealisme karena itu mereka harus cerdas dalam emosi, dalam sikap, dalam kerja keras, dalam kehidupan berbangsa, dan dalam kehidupan ummat manusia. Pendidikan sejarah tidak perlu membatasi dirinya pada kaidah-kaidah ilmu semata yang juga pada dasarnya memiliki aspek etika dan aspek afektif lain.

Dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun 2006 dan kemudian disempurnakan dengan Kurikulum 2013 telah memberi peluang kepada

(9)

37

guru dan sekolah untuk mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai dengan kepentingan, karakteristik sosial-budaya atau situasi dan kondisi setempat. Guru sejarah dan atau IPS di sekolah diberikan otonomi yang luas untuk mengembangkan materi pembelajaraan yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerahnya. Masalah-masalah sosial kontemporer yang sedang dihadapi para siswa dapat diangkat sebagai materi pembelajaran sejarah sebagai pengembangan dari materi dalam dokumen kurikulum.

Dalam mengembangkan materi pembelajaran sejarah sesuai dengan KTSP diperlukan reorientasi pembelajaran sejarah dari yang berfokus pada sejarah dunia atau sejarah nasional kepada sejarah lokal yang relevan dengan persoalan daerah setempat, serta perubahan dari sejarah yang menampilkan peranan tokoh besar kepada sejarah yang menampilkan peranan orang-orang biasa, termasuk para siswa dengan persoalan sosialnya sebagai pelaku sejarah pada zamannya (Supriatna, 2007). Karena itu pembelajaran dalam kontek IPS perlu dirancang secara baik, sehingga pembelajaran sejarah perlu reorientasi perspektif pembelajarannya. Orientasi masa lampau dalam pemilihan bahan dan interpretasi sejarah perlu diimbangi dengan perluasan orientasi berwawasan kini dan masa depan (Surjo, 1991: 14). Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak kering dan membosankan, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial, yang pada gilirannya akan berkontribusi terhadap penyiapan generasi muda yang baik, dan menjadi aktor dalam pembangunan bangsa dan negara.

Kurikulum 2013 mengamanatkan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan saintifik (scientific approach) dengan model pembelajaran inkuiri, diskoveri, pemecahan masalah, dan model pembelajaran projek. Menurut Banks (1990) model pembelajaran inkuiri sosial dalam pembelajaran IPS akan dapat menghasilkan fakta, konsep, generalisasi dan teori. Tujuan inkuiri sosial adalam membantu masyarakat dalam memecahkan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Sejarah yang bertitik tolak dari ruang dan waktu akan sangat membantu dalam menemukan fakta-fakta yang telah terjadi, sehingga akan menjadi bahan pisau analisa dalam membangun konsep dan teori, terutamaa dalam upaya pemecahan berbgai masalah sosial yang ada di masyarakat.

Kesimpulan

Pembelajaran sejarah bertujuan membantu siswa memahami dan menghayati berbagai peristiwa masa lampau untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang.

Dengan mempelajari sejarah diharapkan siswa akan bangga terhadap perjuangan para pendahulunya dan pada gilirannya akan mampu membangkitkan sikap nasionalisme dan patriotisme. Namun sayangnya pembelajaran belum bisa tercapai secara efektif, hal ini karena masih banyak yang memandang bahwa pembelajaran sejarah sangat membosankan dan sikap masyarakat yang memandang ilmu-ilmu sosial merupakan mata pelajaran kelas dua setelah ilmu-ilmu eksakta.

Pembelajaran sejarah dalam bingkai IPS seperti yang terjadi di SD, SLTP dan SMK menjadikan sejarah terintegrasi dengan mata pelajaran ilmu sosial lainnya, seperti geografi dan sosiologi. Materi pembelajaran sejarah akan dijadikan sebagai referensi dalam membantu memecahkan masalah-masalah sosial yang ada dimasyarakat bersama dengan ilmu sosial lainnya. Dengan demikian sejarah dalam bingkai IPS akan menjadi bagian dari pisau analisa bersama ilmu sosial untuk tujuan IPS, yaitu untuk membentuk warga negara yang baik yang mampu memecah berbagai masalah sosial yang ada di sekitarnya.

(10)

38 Daftar Pustaka

Adam, A. W. (2010). Menguak Misteri Sejarah. Jakarta: Kompas.

Alfian, M. (2007). “Pendidikan Sejarah dan Permasalahan yang Dihadapi”. Makalah.

Disampaikan dalam Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se- Indonesia (IKAHIMSI). Universitas Negeri Semarang, Semarang, 16 April 2007.

Ali, M. R. (1963). Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Djakarta: Bhratara.

Anggara, B. (2007). “Pembelajaran Sejarah yang Berorientasi pada Masalah- Masalah Sosial Kontemporer”. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI). Universitas Negeri Semarang, Semarang. 16 April 2007

Banks, J. (1990). Teaching strategies for the social studies. New York & London: Longman.

Barr, R. D. , et al. (1987). Hakikat Dasar Studi Sosial. Disadur oleh Alma, B. &

Haslasgunawan. Bandung: Sinar Baru.

Budiningsih, A. (2008). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Carr, E. H. , (1965). What Is History?. New York: Macmillan.

Daniel, R. V. (1981). Studying History: how and Why. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Fateraniah, N. A. (2003). Nasionalisme Dalam Pembelajaran IPS Sejarah di SLTP Negeri 8 Yogyakarta (Tesis). Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.

Gagne, R. M. and Briggs,L. J. (1979), Priciples of Instructional Design. Second Ed. New York:

Holt, Renehart and Winston.

Gunning, D. (1978). The Teaching of History. London: Croom Helm.

Hasan, S. H. (2011). Pendidikan Sejarah Indonesia: Isu dalam Ide dan Pembelajaran. Agus Mulyana (ed. ). Bandung: Rizqi Press.

Jerolimek, J. (1971). Social Studies in Elementary Education. New York: MacMillan Inc.

Kartodirdjo, S. (2005). Sejak Indische sampai Indonesia. Jakarta: Kompas.

Kochar, S. K. (2008). Teaching of History. Terj. Purwanta dan Hardiwati. Yogyakarta:

Grasindo.

Kutoyo, S. (1983). Suatu Catatan Tentang Kesadaran Sejarah; Pemikiran Tentang Pembinaan Keadaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud.

Marsh, C. (2008). Studies of Society and Environment; Exploring the Teaching Possibilities. 5Th ed. Australia: Pearson Prentice Hall.

Nair, S. & Malar a/p M. (2005). Penggunaan Model Konstruktivisme Lima Fasa Nedhan Dalam Pembelajaran Sejarah. Dalam Jurnal Pendidik dan Pendidikan. Vol. 20(p. 21- 41).

NCCS, (1994). ”Curriculum Standar for Social Sudies, Expection for Excelence”. Washington:

NCCS.

(11)

39

Poesponegoro, M. D. dan Notosusanto, N. (1984). Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta:

Balai Pustaka.

Purwanto. B. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesia Sentris. Yogyakarta: Ombak.

Sapriya. (2008). Pendidikan IPS. Bandung: Laboratorium PKN UPI.

Soedjatmoko, (1990). Dimensi Manusia Dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Somantri, M. N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Supardan, D. (2001). Kreativitas Guru Sejarah dalam Proses Pembelajaran: Studi Kasus di SMU Kotamadya Bandung. Historia, No. 3, Vol. II. Jurusan pendidikan Sejarah, UPI, Bandung.

Supriyatna, N. (2007). Kontruksi Pembelajaran Sejarah Kritis. Bandung: Historia Utama Press.

Wahid, H. N. (2007) Sikap Generasi Muda Penerus Bangsa Mengisi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (Sebuah renungan dalam rangka mewujudkan tujuan penyelenggarannegara). Jurnal Negarawan, Setneg, No. 5, Agustus 2007.

Widja, I G. (1989). Dasar - Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah.

Jakarta: Debdikbud.

Wineburg, S. (2001). Historical Thinking and Other Unnatural Acts. Philadelphia, PA: Temple University Press.

Wiriatmadja, R. (2002). Pendidikan Sejarah di Indonesia; Perspektif Lokal, Nasional dan Global. Bandung: Historia Utama Press, Jurusan pendidikan Sejarah UPI.

(12)

40

Referensi

Dokumen terkait

Hambatan dari penegakan tindakan administratif keimigrasian (TAK) pada Kantor Imigrasi Kelas I Tanjungpinang adalah personil keimigrasian yang tidak memadai untuk melakukan

kualifikasi Asli dan Copy hasil scan (copy diserahkan ke pokja) saudara yang.. telah di upload di aplikasi Web LPSE Provinsi

Berdasarkan hasil observasi di salah satu pasar tradisional, tidak semua ikan asin dikemas dengan plastik, sebagian ada yang dibiarkan terbuka begitu saja

Kegiatan perbaikan pembelajaran yang penulis laksanakan bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran menggunakan metode tanya jawab dapat meningkatkan

Program Pensiun Manfaat Pasti atau sering disebut difined benefit plan ialah suatu program yang memberikan formula atas manfaat yang akan diterima pegawai pada

Definisi pengendali banjir adalah sungai yang mengalirkan debit banjir kiriman dari luar kota atau dari daerah perbukitan serta mempunyai DAS yang cukup luas, sedangkan drainase

bisnis yang dapat diterapkan Soerabi Pa’is berdasarkan hasil analisis SWOT , dan.. (4) mengetahui urutan prioritas alternatif strategi yang dapat diterapkan

Pembelajaran berbasis lingkungan dengan metode karya wisata juga menuntut guru untuk selalu meningkatkan kreativitas penyajian materi agar siswa tidak mengalami kebosanan ketika