di Kota Batam
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh
EUNIKE SILITONGA 161301136
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019/2020
Gambaran E-readiness pada Siswa/i Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Batam
Eunike Silitonga dan Filia Dina Anggaraeni Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran E-readiness terhadap pembelajaran e-learning di masa pandemi covid-19 pada Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Batam. Di masa pandemi covid-19 fungsi e-learning yang pada awalnya hanya sebagai pelengkap atau tambahan, berubah menjadi fungsi pengganti dalam sistem pembelajaran. Oleh sebab itu, kita perlu melihat kesiapan dari peserta didik untuk tetap menjaga kualitas dari pendidikan itu sendiri. Teori e-readiness yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Guglielmino &
Guglielmino (2003). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala e-readiness yang disusun oleh peneliti dengan jumlah aitem 20 butir dan reabilitas alpha sebesar 0,881. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 385 orang. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa e-readiness pada siswa/i tingkat SMA di Kota Batam yang tergolong pada kategori sedang. Subjek yang termasuk dalam kategori e-readiness tinggi sebanyak 101 orang (26,2%), subjek yang termasuk dalam kategori sedang 273 orang (70,9%), dan subjek yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 11 orang (2,9%).
Kata Kunci: e-learning, e-readiness, Siswa SMA, Kota Batam
Eunike Silitonga dan Filia Dina Anggaraeni Faculty of Psychology University of Sumatera Utara
ABSTRACT
This study aims to determine the description of readiness of e-learning during the covid-19 pandemic in high school students in Batam City. During this covid-19 pandemic, the function of e-learning, which initially as a complement function and suplement function, turned into a substitute function in the learning system.
Therefore, we have too see the readiness of students to keep maintain the quality of education itself. The e-readiness theory used in this research was proposed by Guglielmino and Guglielmino (2003). This theory confirmed that there are two components of learner readiness for successful e-learning; technical readiness and self-directed learning readiness. Each component is composed of spesific knowledge, attitudes, skills, and habits. Measurement tool that was used in this research is e- readiness scale arranged by researcher, with 20 items and reability of alpha was 0.880. The subject in this research was 385 people. The result indicates that the e-readiness of high school students in Batam City are in moderate category. 101 people (26,2%) counted as high category, 273 people (70,9%) counted as moderate category, and 11 people (2,9%) counted as low category.
Key Words: e-learning, e-readiness, Highschool student, Batam City
KATA PENGANTAR
Segala hormat, puji syukur dan kemuliaan kepada Tuhan Yesus Kristus karena kasih setia-Nya, penyertaan-Nya dan berkat-Nya yang luar biasa dalam hidup penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Gambaran E- readiness pada Siswa Tingkat SMA di Kota Batam”.
Skripsi ini penulis persembahkan sepenuhnya kepada kedua orang tua penulis.
Papa Jonston Silitonga dan Mama Meri Hutabarat. Keduanya lah yang membuat penulis bisa sampai pada tahap dimana skripsi ini selesai, yang selalu mendukung penulis baik secara emosional maupun finansial. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Abang dan Kakak Penulis. Terimakasih kepada Bang Sabar, Kak Friscila, Bang Simon, dan keponakan tante yang paling lucu, Cainan Yesyurun Samosir. Terimakasih untuk segala cinta, kasih sayang, nasihat, pengorbanan, serta doa dari Papa, Mama, Abang, dan Kakak yang terus kalian berikan kepada penulis.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi. Keberhasilan dalam menyelesaikan penelitin ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D, Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, beserta Wakil Dekan 1, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
dan juga sebagai dosen pembimbing skrispsi. Untuk segala bimbingan, saran, arahan, waktu, bahkan kesabaran dan dukunggan yang telah Ibu berikan selama saya berkuliah di Fakultas Psikologi USU dan juga selama saya mengerjakan skripsi ini, penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan sebanyak- banyaknya kepada ibu.
3. Ibu Rr. Lita Hadiati Wulandari, M.Pd, Psikolog dan Ibu Fasti Rola, M.Psi, Psi, selaku dosen penguji proposal penelitian dan penguji ujian sidang skripsi.
Terimakasih atas bantuan, bimbingan, arahan, dan saran yang telah diberikan kepada peneliti.
4. Seluruh Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih atas bimbingan dan ilmu yang telah dibagikan kepada penliti selama berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
5. Terimakasih untuk Yahya Anthoni, yang selalu mendukung, mendengarkan, dan memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Teman-teman satu rumah;
Hana dan Yemima, terimakasih untuk kebersamaan (suka dan duka) yang telah kita lalui selama berkuliah di Kota Medan.
6. Sahabat-sahabat penulis, “Jams” (Cahaya, Daniella, Friska, Febby, dan Debo) terimakasih untuk segala suka dan duka yang sudah kita lewati selama 4 lebih, semoga kita tetap kompak dan tetap solid sampai kita tua nanti ya. Terkhusus untuk cahaya, terimakasih atas waktu yang telah diberikan untuk dapat membantu penulis dalam pengolahan data penelitian.
7. Seluruh “Alfa Omega Youth” yang ada di Kota Batam. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam menyebarkan kuesioner penelitian. Biarlah Tuhan yang membalaskannya.
8. Siswa/I Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Batam. Terimakasih sudah sudah bersedia menjadi responden dari peneliti, dan mengisi skala penulis secara sukarela.
9. Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penelitian ini, yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu. Peneliti menyampaikan terimakasih atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan
Akhir kata, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan yang didapatkan selama proses pengerjaan skripsi ini. Penulis juga berharap semoga penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dan juga para pembaca pada umumnya. Terimakasih
Medan, Juli 2021
Eunike Silitonga 161301136
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
BAB I ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II ... 13
A. E-Readiness ... 13
1. Definisi E-Readiness ... 13
2. Komponen E-Readiness ... 14
B. E-Learning ... 21
1. Pengertian E-Learning ... 21
2. Fungsi E-Learning ... 23
3. Komponen E-Learning ... 24
BAB III ... 27
A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 27
B. Definisi Operasional ... 27
C. Populasi dan Sampel ... 29
D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 30
E. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur ... 31
F. Uji Coba Alat Ukur ... 33
G. Lokasi dan Waktu Pengambilan Data ... 36
H. Prosedur Penelitian ... 36
I. Metode Analisa Data ... 38
BAB IV ... 39
A. Analisa Data ... 39
B. Hasil Penelitian ... 41
C. Pembahasan ... 58
BAB V ... 70
A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 74
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Blueprint Penyusunan Skala E-readiness……….31
Tabel 3.2 Distribusi Aitem pada Skala Sebelum Uji Coba………..34
Tabel 3.3 Distribusi Aitem pada Skala Setelah Uji Coba………35
Tabel 3.4 Distribusi Aitem pada Skala Penelitian………...35
Tabel 4.1 Presentase Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin………39
Tabel 4.2 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Jenis Kelamin……….40
Tabel 4.3 Presentase Subjek Berdasarkan Usia………...40
Tabel 4.4 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Usia………41
Tabel 4.5 Presentase Subjek Berdasarkan Kelas……….41
Tabel 4.6 Kategorisasi E-reasiness Berdasarkan Kelas………..42
Tabel 4.7 Rumus Kategorisasi………43
Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Data Penelitian dari Skala E-readiness………43
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi E-readiness pada siswa SMA di Kota Batam……...44
Tabel 4.10 kategorisasi E-readiness pada Siswa SMA di Kota Batam………..45
Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Komponen Technical Readiness……47
Tabel 4.12 Kategorisasi Berdasarkan Komponen Technical Readiness……….48
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Berdasarakan Komponen SDL Readiness…………49
Tabel 4.14 Kategorisasi Berdasarkan Komponen SDL Readiness………..49
Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek Technical Knowledge………...51
Tabel 4.16 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek Technical Knowledge…...52 Tabel 4.17 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek Technical Attitude……….53 Tabel 4.18 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek Technical Attitude….…….53 Tabel 4.19 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek Technical Skills………..55 Tabel 4.20 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek Technical Skills………….56 Tabel 4.21 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek Technical Habits………58 Tabel 4.22 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek Technical Habits..….…….59 Tabel 4.23 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek SDL Knowledge………60 Tabel 4.24 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek SDL Knowledge…….……61 Tabel 4.25 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek SDL Attitude….……….62 Tabel 4.26 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek SDL Attitude….…………63 Tabel 4.27 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek SDL Skills……..………...64 Tabel 4.28 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek SDL Skills………..….……65 Tabel 4.29 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aspek SDL Habits……..………..66 Tabel 4.30 Kategorisasi E-readiness Berdasarkan Aspek SDL Habits………..….…...67
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Uji Daya Beda Aitem dan Reabilitas Lampiran B Hasil Penelitian
Lampiran C Skala Penelitian
Lampiran D Data Mentah Subjek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu upaya sadar dan terencana guna menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian. Tujuan pemerintah menyelenggarakan pendidikan ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan itu diperlukan oleh setiap orang untuk menghadapi perekembangan dari masa ke masa (Lestari, 2018).
Di zaman modern saat ini dunia pendidikan mengalami perkembangan yang sangat pesat, salah satunya ialah dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Berkembanganya kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh besar dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Pengembangan dan pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan dapat menjadikan reformasi sistem pendidikan menjadi lebih baik (Budiana, 2015).
Disisi lain, perkembangan TIK memberikan kesempatan yang semakin luas untuk dimanfaatkan dalam mendukung proses pembelajaran maupun meningkatkan pengelolaan pendidikan (Waryanto & Insani, 2013).
Komputer, internet, telepon, e-mail, dan layanan pesan singkat merupakan sarana
berbasis teknologi yang dapat digunakan sebagai media komunikasi dalam bidang pendidikan (Suyanto & Jihad, 2013). Teknologi dan Informasi (TIK) telah merovolusi cara belajar saat ini, dimana tidak terbatas pada ruang kelas tetapi telah melampaui batas geografi dan juga waktu (Purwandari, 2017).
Metode pembelajaran konvensional dengan tatap muka yang biasanya bersumber dari guru dan buku, serta jadwal pembelajaran yang sudah mulai tergeser karena adanya pembelajaran online atau e-learning yang berbasis teknologi. Mahasiswa dan siswa dapat dengan mudah memperoleh materi kuliah dan materi pelajaran dari internet. Guru dan dosen juga dapat dengan mudah memperoleh dan menyampaikan bahan ajar secara online. Dulu, untuk mencari referensi, artikel, buku atau jurnal harus pergi ke perpustakaan dan atau ke toko buku. Namun saat ini, informasi tentang berbagai tema dan topik dapat kita temukaan di e-Book, e-Journal, SlideSare, SlidePlayer, academia.edu, dan posting blog, dapat digunakan secara luas diberbagai halaman internet atau situs web (Praherdhiono & Setyosari , 2019)
Keberadaan teknologi informasi dan komunikasi memberikan inovasi bagi dunia pendidikan. Dengan adanya inovasi pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi dapat digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Perkembangan dan kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat khususnya internet, sehingga muncul terobosan baru dalam bidang pendidikan yang disebut dengan e-learning. E-learning merupakan media yang dapat digunakan untuk pembelajaran online dengan memanfaatkan teknologi
3
(Wijaya, Lukman, & Yadewani 2020). E-learning juga merupakan suatu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan disekolah. Dimana, suatu pembelajaran disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Made, 2014). Menurut Waryanto &
Insani (2013), e-learning didefinisikan sebagai penyampaian konten pembelajaran atau pengalaman belajar secara elektronik menggunakan komputer dan media berbasis komputer.
E-learning merupakan suatu inovasi dalam dunia pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, dimana e-learning memberikan kesempat bagi guru untuk membuat variasi dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu guru tidak sekedar mengunggah materi pembelajaran yang dapat diakses secara online oleh siswa, tetapi guru juga dapat melakukan evaluasi, menjain komunikasi, berkolaborasi, dan mengelola aspek-aspek pembelajaran lainnya (Waryanto &
Insani, 2013). Tidak hanya dalam kegiatan penyampaian suatu materi pembelajaran, tetapi e-learning juga dapat memberikan perubahan dalam kemampuan siswa di berbagai kompetensi. Melalui e-learning, siswa tidak hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa juga dapat secara aktif mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan sebagainya. Setiap materi pembelajaran dapat divirtualisasikan oleh guru dalam berbagai format sehingga materi pelajaran dapat menjadi lebih menarik dan lebih dinamis, dan mampu memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran (Hartanto, 2016).
Sehingga, e-learning menuntut setiap siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan
mengoptimalkan sumber-sumber pembelajaran yang ada (Waryanto & Insani, 2013)
Awal tahun 2020, dunia dikagetkan dengan adanya virus baru yang disebut dengan Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Covid-19 merupakan sebuah virus yang menyerang pernafasan manusia. Coronavirus merupakan keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan hingga berat, jenis coronavirus diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) (Kesehatan, 2020). Virus covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2020 (Putri, 2020). Sedangkan di Indonesia kasus pertama covid-19 dilaporkan pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Jumlah kasus di Indonesia terus meningkat, hingga 29 Maret 2020 tercata 1.115 kasus dan 102 kematian (Handayani, Bahij, & dkk, 2020). Hingga, World Health Organization (WHO) mengumumkan covid-19 sebagai pandemi global.
Dalam upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan social distancing. Menurut Center for Diseasei (CDC), Social Distancing yaitu menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia (Pratiwi, 2020). Dimana social distancing bertujuan untuk pembatasan interaksi sosial dimana kegiatan sekolah, bekerja, dan beribadah dilakukan dari rumah. Sehingga, interaksi sosial diluar rumah yang dapat menciptakan keramaian dan kerumunan dapat diminimalisir (Sulistyohati, 2020).
5
Pandemi covid-19 merupakan krisis kesehatan pertama yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Banyak negara yang akhirnya memutuskan untuk menutup sekolah, perguruan tinggi, dan universitas. Dengan adanya pandemi covid-19 ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki kegelisahan terhadap kelangsungan pendidikan di dunia. Organisasi Internasional yang berpusat di New York, AS, menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sektor yang begitu berdampak oleh virus corona (Purwanto, Pramono, & dkk, 2020). Pandemi covid-19 juga berdampak pada sistem pendidikan di Indonesia, yang dimana pemerintah Indonesia pun turut mengambil kebijakan untuk mendiadakan sementara pembelajaran tatap muka dan diganti dengan pembelajaran online baik tingkat sekolah maupun tingkat perguruan tinggi (Pujilestari, 2020). Hal tersebut dapat kita lihat dari kebijakan Menteri Pendidikan dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada satuan pendidikan yang menyatakan bahwa meliburkan sekolah dan perguruan tinggi (Kemdikbud, 2020). Dengan adanya keijakan ini semakin mendorong semua pihak yang terlibat di sekolah, termasuk guru dan siswa untuk menggunakan dan memanfaatkan e-learning.
Kebijakan tersebut direspon dan ditindaklanjuti oleh seluruh pemerintah daerah yang ada di Indonesia, untuk melaksanakan proses belajar dengan menggunakan e-learning. Pemerintah Kota Batam merupakan salah satu daerah yang juga memberikan respon terhadap surat edaran Menteri Pendidikan yaitu Nadiem Anwar Makarim, B.A, M.B.A, mengenai kegiatan pelaksanaan program belajar dari rumah
(BDR). Kota Batam merupakan salah satu kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah Kota Batam terdiri dari beberapa Pulau, yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang yang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. Kota Batam merupakan salah satu kota dengan letak yang sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang sangat dekat dan berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Sebagai kota terencana, Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan tersepat di Indonesia (JDIH Kota Batam, 2015).
Siswa/i Tingkat SMA di Kota Batam diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan sistem Pendidikan di masa pandemi covid-19. E-Learning dapat dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing guru maupun siswa.
Penggunaan e-learning dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi digital, seperti Google classroom, video converence, live chat, zoom, google classroom, google class meeting, dan sebagainya (Dewi, 2020). Meskipun kegiatan belajar mengajar di sekolah ditiadakan, bukan berarti siswa hanya tinggal diam dan duduk manis dirumah. Kegiatan belajar antara guru dan siswa harus tetap dilaksanakan.
Dimana situasi ini memaksa guru dan murid untuk melakukan interaksi secara digital sehingga pembelajaran dapat tetap terlaksana (Jamal, 2020).
Pembelajaran dengan e-learning di masa pandemi covid-19 menjadi hal yang baru dan menantang bagi setiap siswa/i tingkat SMA di Kota Batam. Berdasarkan survey yang peneliti lakukan melalui googleform. Dari 69 respondent yang menjawab, 12 respondent (17,39%) menyatakan sudah pernah mengikuti
7
pembelajaran e-learning sebelum pandami covid-19 ini terjadi. Sedangkan 57 respondent (82,61%) menyatakan belum pernah mengikuti pembelajaran e- learning. Dari data tersebut, kita dapat melhat bahwa pembelajaran e-learning di Kota Batam benar-benar terjadi ketika pandemi covid-19 ini. Sehingga, fungsi e- learning yang pada awalnya hanya sebagai pelengkap atau tambahan, di masa pandemi covid-19 ini berubah menjadi fungsi pengganti dalam sistem pembelajaran. Setiap peserta didik seperti dipaksa untuk siap dalam mengikuti pembelajaran e-learning.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembelajaran e-learning tentu memilki kendala, salah satu kendala yang peneliti dapat dilapangan ialah penggunaan jaringan internet yang membutuhkan banyak biaya, dan juga sinyal di Indonesia yang masih tidak stabil. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan salah satu pelajar tingkat SMA di Kota Batam :
“Kendalanya itu di sinyal, dan terutama kuota, handphone. Bagi mereka yang mempunyai penghasilan ekonomi yang sangat sedikit, sangat susah bagi mereka untuk membeli kuota untuk mengikuti pelajaran online”
(Komunikasi Personal, September 2020) Disisi lain, terdapat juga kendala dimana siswa/siswi yang kurang dapat memahami materi yang disampaikan oleh gurunya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan salah satu pelajar tingkat SMA di Kota Batam :
“Saya sangat tidak paham tentang semua materi yang disampaikan oleh guru. Karena semua hanya melalui video Youtube, selalu terjadi
masalah jika pengumpulan tugas di G-Drive, Google classroom lah.
Ribet, dan pembelajaran online ini sangat menguras kuota internet bagi pelajar. Apalagi jika ada murid-murid yang tidak mempunyai Handpohone untuk pembelajaran online”
(Komunikasi Personal, September 2020) Dari kedua hal diatas, dapat kita lihat bahwa pembelajara e-learning pasti akan memiliki kendala, sehingga menjaga kualitas dari pendidikan menjadi tantangan baru dan nyata. Proses belajar mengajar antara guru dan murid yang semula dapat dilakukan melalui interaksi langsung kini tidak dapat lagi dilakukan. Interaksi langsung diruang kelas antara guru dan murid harus dibatasi bahkan ditiadakan sama sekali. Kegiatan belajar mengajar (KMB) pun secara mendadak harus dijalankan dengan menggunakan sistem e-learning. Guru dan murid yang terbiasa melakukan KMB dengan interaksi langsung di ruang kelas, suka atau tidak suka, harus menyesuaikan diri dan menerima metode belajar jarak jauh sebagai satu- satunya jalan dalam melaksanakan KMB (Media Indonesia, 2020).
Dalam upaya menjaga kualitas dari pendidikan tersebut, kita tentunya perlu melihat kesiapan dari siswa/siswi dalam penerapan pembelajaran e-learning.
Misalnya, kesiapan secara fisik, kesiapan secara finansial, atau kesiapan secara psikologis. Adapun kesiapan yang dimaksud dalam melakukan e-learning ini dikenal dengan istilah electronic readiness, e-learning readiness atau e-readiness.
E-Readiness merupakan kesiapan mental atau fisik untuk terlibat dalam e-learning. E-readiness turut mempengaruhi kesuksesan program pendidikan yang
9
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses akademik.
(Kaur & Abas, 2004). E-readiness merupakan instrument yang efektif untuk mengevaluasi efektivitas e-learning (dalam Priyanto, 2008). Dalam hal ini, e- readiness dipandang sebagai alat yang menuntun perjalanan pengembangan e- learning dari tahap analisis sampai tahap evaluasi. E-readiness bergantung pada kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan penggunaan teknologi dan internet dalam kegiatan pembelajaran. Aspek penting pembelajaran ialah kesiapan diri setiap siswa, karena siswa merupakan subjek pembelajaran dan harus diperhatikan serta dibimbing dalam mencapai tujuan pembelajarannya (Handayani, Bahij, dkk, 2020)
Berdasarkan Survey Distance Education Online Symposium litserv (DEOS-L) menetapkan bahwa terdapat dua komponen utama dari kesiapan pelajar agar sukses dalam e-learning, yaitu technical readiness dan self-directed learning readiness.
Masing-masing komponen tersebut terdiri dari knowledge, attitudes, skills, dan habits dimana keempat komponen ini dapat disingkat sebagai KASH (Guglielmino
& Guglielmino (dalam Purkish, 2003). Knowledge merupakan pemahaman dasar apa yang diperlukan dalam e-learning. Attitude merupakan perasaan, kepercayaan dan kecenderungan berperilaku yang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku seseorang. Skills merupakan keterampilan yang diperlukan seseorang dalam menjalankan e-learning. Habits merupakan kebiasaan yang dapat mendukung suksesnya e-learning seseorang. Keempat komponen ini perlu ada dalam diri seseorang supaya dapat menjadi e-learner yang sukses.
Tanpa adanya kesiapan dalam melakukan sesuatu yang baru, kemungkinan seseorang untuk suskses sangatlah kecil. Guglielmino dan Guglielmino (dalam Purkish,2003) menyatakan bahwa dalam sistem pembelajaran, penyedia pendidikan sering melupakan satu komponen penting, yaitu pelajar. Sehingga, kita perlu melihat bagaimana kesiapan dari siswa/i tingkat SMA di Kota Batam dalam penerapan sistem pembelajaran e-learning.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa perlu untuk meneliti lebih jauh perilah kesiapan siswa SMA di Kota Batam dalam penerapan pembelajaran e- learning, sehingga setiap siswa/siswi tahu bagaimana kesiapan dirinya sendiri dalam pembelajaran e-learning dan dapat memberikan feedback baik kepada guru dan pemerintah guna menciptakan metode pembelajaran e-learning yang lebih baik kedepannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian-uraian latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana gambaran e-readiness pada siswa SMA di Kota Batam?”
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran e-readiness pada siswa SMA di Kota Batam, dimana penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada teori-teori yang akan diuraikan di landasan teoritis.
11
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya temuan dalam bidang psikologi, khususnya di bidang Psikologi Pendidikan, mengenai e-readiness pada siswa/i tingkat SMA sehingga dapat memperkaya teori- teori yang sudah ada sebelumnya
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi tambahan baik kepada guru dan pemerintah di Kota Batam dalam kesiapan pelajar tingkat SMA dalam penerapan pembelajaran e-learning. Dan juga sebagai acuan dalam penerapan kebijakan dalam pembelajaran online.
2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis
Untuk mengetahui bagaimana gambaran e-readiness pada siswa tingkat SMA di Kota Batam.
b. Bagi Siswa-Siswi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca khususnya siswa SMA di Kota Batam sehingga mereka dapat mengetahui kondisi e-readiness yang dimiliki.
E. Sistematika Penulisan
Dalam proposal penelitian ini terdapat tiga BAB dengan sistematika penulisanan antara lain :
1. BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan uraian singkat mengenai latar belakang permasalahan serta fenomena yang terjadi di lapangan, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Bab ini menguraikan teori yang mendasari masalah yang menjadi variabel dalam penelitian. Teori-teori yang dimuat adalah teori mengenai e- readiness dan e-learning.
2. BAB III : METEDOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan penjelasan mengenai metode yang digunakan selama penelitian yang terdiri dari pendekatan penelitian, metode pengumpulan data, populasi dan sampel penelitian, Teknik pengambilan sampel, alat ukur yang digunakan, prosedur pengumpulan data, lokasi dan waktu pengambilan data, dan tahap-tahap penelitian.
3. BAB IV : ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian, intepretasi data, dan pembahasan.
4. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. E-Readiness
1. Definisi E-Readiness
E-learning readiness atau e-readiness merupakan konsep yang baru.
Readiness berarti siap secara fisik dan mental untuk melakukan sesuatu. E- readiness turut mempengaruhi kesuksesaan program pendidikan yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses akademik (Kaur & Abas, 2004).
Menurut Dada (2006), e-readiness merupakan tingkat dimana suatu negara, bangsa atau ekonomi siap untuk mendapatkan keuntungan yang didapatkan melalui teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan, Menurut (Maugis, Chouchir, & dkk, 2003), e-readiness merupakan kemampuan untuk mengejar kesempatan menciptakan suatu nilai dengan difasilitasi oleh penggunaan internet.
Dalam konteks pendidikan, E-readiness diartikan sebagai kemampuaan pengguna dari e-learning untuk beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang baru, penggunaan teknologi baru, dan terlibat dalam pembelajaran mandiri. (Gay, 2018). Dalam hal ini, e-readiness dipandang sebagai alat yang
menuntun perjalanan pengembangan e-learning dari tahap analisis sampai pada tahap evaluasi.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa, e-readiness adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki kesiapan dan kemampuan untuk terlibat didalam pembelajaran online atau e-learning.
2. Komponen E-Readiness
Terdapat beberapa hal yang harus dipenuni agar seseorang dapat dikatakan siap mengikuti e-learning. Survei Distance Education Online Symposium Listserv (DEOS-L) menetapkan bahwa terdapat dua komponen utama dari kesiapan pelajar agar dapat sukses dalam e-learning, yaitu technical readiness dan self-directed learning readines. Masing-masing komponen tersebut terdiri dari knowledge, attitudes, skills, dan habits. Keempat komponen ini dapat disingkat sebagai KASH (Guglielmino & Guglielmino (dalam Purkish, 2003).
a. Technical Readiness for e-Learning
Komponen pertama dari e-readiness adalah kesiapan teknis. Kesiapan secara teknis berarti kesiapan individu untuk mengoperasikan teknologi, misalnya teknologi komputer dan teknologi internet. Individu yang memiliki knowlegde, attitudes, skills, dan habits dalam teknologi akan lebih memiliki keuntungan dalam halnya kesiapan untuk e-learning.
15
i. Technical Knowledge
Technical Knowledge berarti pengetahuan yang dibutuhkan dalam e-learning, misalnya pengetahuan dasar mengenai komponen dan operasi sistem yang digunakan dalam e-learning.
ii. Technical Attitudes
Sikap dalam hal ini merupakan perasaan positif terhadap penggunaan teknologi sebagai sistem pembelajaran, kepercayaan diri dalam mengatasi teknologi, dan harapan yang positif untuk mengatasi tantangan baru.
iii. Technical Skills
Technical Skills ialah kemampuan individu untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dibutuhan dalam penggunaan e-learning. Misalnya, individu yang akan menggunakan sistem web-based memerlukan kemampuan atau pengetahuan untuk mengakses internet, menjalankan fungsi e-mail, dan kemampuan lain yang dibutuhkan. Salter (dalam Prayudi, 2009), menyatakan bahwa semakin baik technical skill yang dimiliki oleh individu, maka individu tersebut akan semakin siap untuk menggunakan e-learning sebegai sistem pembelajaran.
iv. Technical Habits
Technical Habits merupakan kebiasaan individu yang berhubungan dengan penggunaan e-learning. Kebiasaan secara teknis dapat beragam tergantung pada penggunaan teknologi dalam e-learning.
Mengembangkan kebiasaan untuk berpartisipasi, mempelajari tugas, dan menyelesaikan tugas merupakan hal yang penting.
b. Self-Directed Learning Readiness
Komponen kedua dari e-readiness adalah Self-Directed Learning, yang selanjutnya akan disingkat dengan SDL. Guglielmino dan Guglielmino (2003) menyatakan bahwa persiapan yang paling baik bagi kesuksesan e-learning adalah dengan meningkatkan self-directed learnng readiness.
SDL berarti bahwa pengaturan dalam pembelajaran adalah tanggung jawab pelajar bukan karena adanya paksaan dari luar (Long, 2003). Tanggung jawab terhadap pembelajaran sangat penting dalam e-learning dan dalam pembelajaran lainnya. Menurut Malcolm Knowles (dalam Guglielmino &
Guglielmino, 2003), SDL merupakan suatu proses dimana pelajar, dengan atau tanpa bantuan dari orang lain, mengidentifikasikan kebutuhan pembelajaran, mendefinisikan tujuan pembelajaran, mengembangkan dan mengimplementasikan rencana pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran yang telah didapat. Sedangkan, menurut Gibbons (2002), SDL merupakan peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian, atau pengembangan diri yang dipilih dan dilakukan oleh seorang individu dengan cara apapun dan kapanpun dia inginkan. Karakteristik SDL yang berhubungan dengan suksesnya e-learning dalam literatur dikenal dengan independence, self-direction, atau autonomy in learning. SDL juga memiliki empat komponen, yaitu knowledge, attitudes, skills, dan habits.
17
i. Self-Directed Learning Knowledge
Persyaratan penting dalam kesiapan untuk SDL adalah pengetahuan diri (self-knowledge) : pemahaman mengenai diri sendiri sebagai seorang pelajar. Hal tersebut termasuk pengetahuan mengenai inisiatif, ketekunan dan kesadaran mengenai diri sendiri untuk merasakan dan memproses informasi. Kesiapan untuk self-directed learning juga termasuk pengaturan pembelajaran sendiri.
ii. Self-Directed Learning Attitudes
Sikap (attitudes) merupakan komponen utama dari kesiapan untuk SDL. Sikap (attitudes) yang dibentuk berdasarkan pada keinginan yang kuat untuk belajar atau berubah. Individu yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan senang mempelajari hal baru berfokus pada pengembangan diri yang terus menerus, serta memandang pembelajaran sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah cenderung menjadi pelajar e-learning yang sukses. Sikap percaya diri sebagai pelajar yang kompeten dan efektif berarti melihat diri sendiri sebagai pelajar yang mampu dan berinisiatif dalam pembelajaran.
Menerima tanggung jawab untuk pembelajaran seorang dan memandang masalah sebagai tantangan merupkan komponen sikap (attitudes) yang saling berkaitan. Pelajar yang self-directed percaya bahwa tanggung jawab utama dalam pembelajaran ada pada diri sendiri.
Pelajar sendirilah yang harus mengenal kebutuhan untuk belajar dan mengambil tanggung jawab.
Dalam setting e-learning yang telah didesain sedemikian rupa, kreativitas dan kemandirian juga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Setting e-learning yang menantang membutuhkan kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan mengembangkan pemikiran seseorang dan proses untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dibandingkan dengan hanya mengikuti petunjuk.
Pelajar self-directed yang efektif menggunakan semua peralatan yang tersedia. Individu yang mau bertanya, mengklarifikasi, atau meminta nasehat para ahli akan selalu berusaha, dimana hal ini merupakan proses pembelajaran. Selain itu, hal penting dari SDL adalah menghargai pembelajaran, yaitu suatu pemikiran mengenai pentingnya pembelajaran yang dicapai oleh diri sendiri. Biasanya, orang-orang kurang menghargai prestasi seseorang yang didapat di luar situasi kelas formal. Mereka cenderung berpikir bahwa apabila instruktur tidak mengatakan apa yang harus dipelajari, tidak memberikan informasi, dan tidak menguji kita, hal tersebut tidak termasuk ke dalam pembelajaran.
iii. Self-Directed Learning Skills
Logikanya, kemampuan akademis dasar merupakan bagian yang penting dalam e-readiness, terutama kemampuan membaca.
19
Pelajar yang self-directed biasanya dapat mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan pembelajaran mereka. Kemampuan yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ini adalah kemampuan untuk merencanakan tujuan pembelajaran, mengembangkan rencana pembelajaran, mengidentifikasi sumber pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran. Kemampuan mengatur waktu dan mempersiapkan dokumen atau laporan dapat mendukung proses ini.
iv. Self-Directed Learning Habits
Salah satu kebiasaan penting dalam diri pelajar yang self- directed adalah persistence: ketekunan untuk mencapai tujuan meskipun ada masalah, kebosanan, atau faktor lain yang sedang melanda. Kebiasaan seperti perencanaan yang sistematis, pengaturan media dan materi pembelajaran, dan penyelesaian tugas sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan dapat meningkatkan keefektifan e- learning.
Dua kebiasaan penting lainnya meliputi reflection dan environmental scanning. Individu yang reflektif berpikir mengenai suatu tindakan atau kejadian, hasil yang mungkin terjadi dari tindakan atau kejadian tersebut, performansi diri, bagaimana tindakannya akan diinterpretasikan oleh orang lain, serta menganalisis pembelajaran diri, proses pembelajaran, dan hasil pembelajaran. Dengan kata lain,
individu yang reflektif adalah individu yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang makro dan mikro dalam mencari insight atau pemahaman baru. Environmental scanning merupakan kesadaran akan perubahan dan dampak-dampak yang mungkin terjadi dalam suatu lingkungan, termasuk kebutuhan untuk pembelajaran baru.
Berdasarkan hasil survei, Guglielmino dan Guglielmino (2003) mendeskripsikan pelajar yang memiliki self-directed yang tinggi, antara lain : 1) Merupakan orang yang memiliki inisiatif, kemandirian, dan ketekunan
untuk belajar,
2) Merupakan orang yang bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan melihat masalah sebagai tantangan, bukan rintangan,
3) Merupakan orang yang memiliki disiplin diri dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,
4) Merupakan orang yang percaya diri dan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar atau berubah,
5) Merupakan orang yang mampu menggunakan kemampuan belajar, mengorganisasikan waktu dan menetapkan langka yang tepat untuk belajar, dan merencanakan untuk menyelesaikan tugas,
6) Merupakan orang yang menikmati pembelajaran dan cenderung berorientasi pada tujuan.
21
B. E-Learning
1. Pengertian E-Learning
E-Learning terdiri dari dua kata, yaitu „e‟ dan „learning‟. „e‟ adalah singkataran dari electronic, dan „learning‟ artinya pembelajaran. Sehingga e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang berbasis pada peralatan elektronik. Menurut Hartley (dalam Harsanto, 2014), e-learning didefinisikan sebagai pembelajaran dengan menggunakan internet, intraret, atau jaringan elektronik lain baik dalam pengembangan, penyampaian maupun evaluasi konten. E-learning juga suatu pembelajaran yang disusun dengan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Allen (dalam Khoirunnisa, Dewi, & Nurwidawati, 2018).
Menurut Zhang (dalam Harsanto, 2014), e-learning merujuk pada kegiatan belajar via internet yang menyediakan bagi orang cara belajar yang fleksibel dan personal melalui kesempatan yang terbuka, biaya yang murah dan memiliki dampak besar.
Menurut (Munir, 2009), E-learning adalah program aplikasi berbasis internet yang memuat semua informasi tentang informasi seputar pendidikan yang jelas, dinamis, dan akurat serta up to date serta memberikan kemudahan bagi para pembelajar untuk melakukan pembelajaran secara online. Dengan adanya e-learning berbasis web dapat membantu strategi pembelajaran dalam menyebarkan informasi mengenai pendidikan secara luas.
Pada dasarnya, e-learning memiliki dua tipe yaitu synchronous dan asynchronous (Hartanto, 2016). Synchronous berarti pada waktu yang sama proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama antara pendidik dan peserta didik. Hal ini memungkinkan interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik secara online. Dalam pelaksanaannya, synchronous training mengharuskan pendidik dan peserta didik mengakses internet secara bersamaan. Pendidik memberikan materi pembelajaran dalam bentuk makalah atau slide presentasi dan peserta didik dapat mendengarkan presentasi secara langsung melalui internet. Peserta didik juga dapat mengajukan pertanyaan atau komentar secara langsung ataupun melalui chat window. Synchronous training merupakan gambaran dari kelas nyata, namun bersifat maya (virtual) dan semua peserta didik terhubung melalui internet. Synchronous training sering juga disebut sebagai virtual classroom.
Ansynchronous berarti tidak pada waktu bersamaan. Peserta didik dapat mengambil waktu pembelajaran berbeda dengan pendidik memberikan materi.
Ansynchronous training popular dalam e-learning karena peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran dimanapun dan kapanpun. Peserta didik dapat melaksanakan pembelajaran dan menyelesaikannya setiap saat sesuai dengan rentang jadwal yang sudah ditentukan. Pembelajaran dapat berbentuk bacaan, animasi, simulasi edukatid, tes, quis, dan pengumpulan tugas.
Jadi, e-learning merupakan suatu media untuk menyampaikan pembelajaran yang bersifat elektronik yang dapat digunakan oleh siapapun baik
23
itu pengajar maupun peserta didik dimanapun dan kapanpun dengan bantuan jaringan internet.
2. Fungsi E-Learning
Ada 3 fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu dalam (Wahyuningsih & Makmur, R, 2017)
a. Sumplemen ( Tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila pebelajar mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/ keharusan bagi pebelajar untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, pebelajar yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
b. Komplemen (Pelengkap)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik dikelas. Proporsi penggunaan e-learning dengan pembelajaran tatap muka dapat seimbang yang biasanya disebut sebagai blended-learning. Tujuannya agar peserta didik semakin memantapkan tingkat penguasaan materi yang telah diterima melalui proses pembelajaran. Biasanya penyampaian materi online berfungsi sebagai
penunjang dalam pembelajaran tatap muka dan sudah di programkan oleh pendidik untuk diikuti, sehingga peserta didik memiliki kewajiban untuk mengikutinya.
c. Subtitusi (Pengganti)
Tujuan dari e-learning sebagai pengganti kelas konvensional adalah agar pebelajar dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahan sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari. Ada 3 (tiga) alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat diikuti pebelajar: Sepenuhnya secara tatap muka (konvensional); sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan; sepenuhnya melalui internet.
3. Komponen E-Learning
Komponen yang membentuk e-learning menurut Romisatriawahono (dalam Darmawan, 2016) adalah infrastruktur e-learning, sistem dan aplikasi e- learning, dan konten e-learning.
a. Infrastruktur E-learning, merupakan peralat yang digunakan dalam e-
learning yang dapat berupa personal computer (PC) yaitu komputer yang dimiliki secara pribadi, jaringan komputer yaitu kumpulan dari sejumlah perangkat berupa komputer, hub, switch, router, atau perangkat jaringan lainnya yang terhubung dengan menggunakan media komunikasi tertentu.
Internet merupakan singkatan dari Interconnection Networking yang diartikan sebagai komputer-komputer yang terhubung diseluruh dunia dan
25
perlengkapan multimedia yaitu alat-alat media yang menggabungkan dua unsuratau lebih media yang terdiri atas teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Termasuk didalamnya perlatan teleconference yaitu pertemuan jarak jauh antara beberapa orang yang fisiknya berada pada lokasi yang berbeda secara geografis apabila kita memberikan layanan synchronous learning yakni proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama ketika sedang mengajar dan murid sedang belajar melelui teleconference.
b. Sistem dan aplikasi e-learning yang sering disebut dengan learning
management system (LMS), yang merupakan sistem perangkat lunak yang memvirtualisasi proses belajr mengajar konvensional untuk administrasi, dokumentasi, laporan suatu pelatihan, ruangan kelas dan peristiwa online, program e-learning, dan konten pelatihan, misalnya segala fitur yang berhubungan dengan manajement proses belajar mengajar seperti bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian, serta sistem ujian online yang semuanya terakses dengan internet.
c. Konten e-learning merupakan konten dan bahan ajar yang ada pada e-
learning sistem (LMS). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk misalnya multimedia-based content atau konten berbentuk multimedia interaktif seperti multimedia pembelajaran yang memungkinkan kita menggunakan mouse, keyboard untuk mengoperasikannya atau text-based
content yaitu konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran yang ada di wikepedia.org, ilmukomputer.com, dsb. Biasa disimpan dalam learning management system (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh peserta didik kapanpun dan dimanapun. Sedangkan pelaku utama yang ada dalam pelaksanaan e-learning dapat dimaksudkan sama dengan proses belajar mengajar konvensional, yaitu perlu adanya pengajar (guru) yang membimbing siswa (peserta didik) yang menerima bahan ajar dan administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu (Azwar, 2014). Penelitian kuantitatif deskriptif dilakukan untuk mendapatkan hasil analisis statistik mengenai gambaran tingkat kesiapan dalam penerapan sistem e-learning pada pelajar tingkat SMA di Kota Batam.
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Menurut (Sugiyono, 2018) Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah gambaran e-readiness terhadap pembelajaran e-learning.
B. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penentuan konstrak atau sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur (Sugiyono, 2018).
Definisi operasional pada masing-masing variabel dalam penelitian adalah sebagai berikut :
a. E-readiness
E-readiness adalah kesiapan siswa untuk mampu menggunakan e-learning sebagai media pembelajaran serta mampu menuntun dan mengarahkan proses pembelajarannya. Komponen e-readiness tersebut terdiri dari technical readiness dan self-directed learning readiness, yang dikemukakan oleh Guglielmino dan Guglielmino (2003).
Technical readiness merupakan kesiapan individu untuk mampu menggunakan e-learning sebagai media pembelajaran, dimana techinical readiness terdiri atas 4 komponen, yaitu (1) technical knowlegde, merupakan pengetahuan yang dibutuhkan dalam mengelola atau menggunakan e-learning, (2) technical attitudes, merupakan perasaan, kepercayaan, dan harapan positif terhadap penggunaan e-learning sebagai alat atau sistem pembelajaran, (3) technical skills, merupakan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan yang dibutuhkan dalam penggunaan e-learning, (4) technical habits, merupakan kebiasaan individu yang berhubungan dengan penggunaan e-learning.
Sedangkan, Self-Directed Learning Readiness (SDL) merupakan kesiapan individu untuk mampu menuntun dan mengarahkan pembelajarannya.
SDL terdiri atas 4 (empat) komponent yaitu ; (1) SDL Knowlegde, yaitu pengetahuan dan pemahaman mengenai diri sendiri untuk memproses suatu informasi, (2) SDL atitudes, yaitu sikap yang dibentuk oleh individu didasarkan pada keinginan untuk belajar dan berubah, (3) SDL Skilss, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan pembelajaran, (4) SDL
29
Habits, merupakan kebiasaan individu yang dapat meningkatkan keefektifan dalam belajar.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2018).
Populasi dari penelitian ini adalah siswa/siswi tingkat SMA di Kota Batam, Kepulauan Riau dengan jumlah 25.245 orang (Kemdikbud, 2020). Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2018). Pengambilan sampling yang digunakan dalam penelitian ini ialah Incidental Sampling. Incidental Sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yan secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok dengan kriteria penelitian (Sugiyono, 2018).
Diketahui bahwa, jumlah populasi pelajar SMA di Kota batam (N) sebanyak 25.245 orang. Sehingga, penentuan jumlah sampel dari populasi didasarkan pada tabel yang dikembangkan oleh Issac dan Michael, dengan tingkat kesalahan 5%.
Sehingga, dari tabel tersebut didapatkan sampel berjumlah 381 orang (Sugiyono, 2018).
D. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengambilan data dengan skala atau disebut dengan metode skala. Skala merupakan suatu bentuk pengukuran terhadap performansi tipikal individu yang cenderung dimunculkan dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sering dihadapi (Azwar, 2009)
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala e-readiness. Skala ini disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang dikemukan oleh Guglielmino (2003).
Skala e-readiness memiliki 2 komponen, yaitu technical readiness dan self- directed learning readiness. Masing-masing kedua komponen tersebut terbagi lagi menjadi knowledge, attitudes, skill, dan habits. Skala e-readiness disusun berdasarkan uraian yang terdapat dalam landasan teori.
Skala e-readiness ini menggunakan model skala ordinal yang disusun berdasarkan penskalaan model Likert. Skala disusun berdasarkan skala psikologi yang terdiri dari dua kategori aitem yaitu aitem favorable dan aitem unfavorable.
Aitem disebut favorable apabila isinya mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya atribut yang diukur, sedangkan aitem disebut unfavorable apabila isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur.
31
No Komponen E- Readiness 1 Technical Readiness
Jumlah Aitem Jumlah Favorable Unfavorable
Knowledge 3 3 6
Attitudes 3 3 6
Skills 3 3 6
Habits 3 3 6
2 SDL Readiness
Knowledge 3 3 6
Attitudes 3 3 6
Skills 3 3 6
Habits 3 3 6
Jumlah 24 24 48
Tabel 3.1 Blueprint Penyusunan Skala E-readiness
Masing-masing aitem terdiri dari 5 (lima) pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skor bergerak dari angka 5 sampai dengan angka 1.
Untuk aitem favourable, Sangat Sesuai (SS) diberi skor 5, Sesuai (S) diberi skor 4, Netral (N) diberi skot 3, Tidak Sesuai (TS) diberi skor 2, dan Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 1. Sedangkan untuk aitem unfavourable apabila Sangat Sesuai (SS) diberi skor 1, Sesuai (S) diberi skor 2, Netral (N) diberi skot 3, Tidak Sesuai (TS) diberi skor 4, dan Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 5.
E. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur 1. Validitas Alat Ukur
Menurut Yusuf (2014), Validitas alat ukur adalah sejauh mana instrumen penelitian benar-benar mengukur apa yang akan di ukur.
Makin tinggi validitas tersebut, instrument tersebut makin bisa dipercaya untuk digunakan dalama penelitian.
Dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah validitas konten atau isi (content validity) yakni dengan evaluasi dari seorang ahli yang berkompeten perihal relevansi item dengan tujuan intrument tersebut. Peneliti meminta bantuan professional judgement yaitu dosen pembimbing dalam penyeleksian aitem berdasarkan blueprint skala yang akan diukur yaitu skala e-readiness.
2. Reabilitas Alat Ukur
Reliabilitas tes adalah proporsi variabilitas skor tes yang disebabkan oleh perbedaan yang sebenarnya diantara individu, sedangkan ketidakreliabelan adalah proporsi variabilitas skor tes yang disebabkan oleh error dalam pengukuran (Azwar, 2009). Reliabilitas alat ukur dilakukan dalam satu kali pengambilan data (single trial administration) dengan menggunakan uji konsistensi internal alpha Cornbach.
Reliabilitas alat ukur yang baik ditunjukkan dengan nilai koefisien yang positif dan mendekati angka 1 (Azwar, 2014). Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx‟) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar 2014). Adapun