20
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Fisik Pelet Daun Indigofera sp.
Pelet daun Indigofera sp. yang dihasilkan pada penelitian tahap pertama memiliki ukuran pelet 3, 5 dan 8 mm. Berdasarkan hasil pengamatan penampakan fisik, pelet daun Indigofera sp. memiliki warna dan bau hampir sama yaitu warna hijau tua dan bau menyerupai daun teh, namun memiliki tekstur yang berbeda pada semua ukuran. Pelet ukuran 3 dan 5 mm memiliki tekstur halus dan mengkilap sedangkan pelet ukuran 8 mm memiliki tekstur kasar dan terlihat kurang kompak. Hal ini disebabkan karena saat proses pembuatan pelet bahan lebih mudah masuk ke dalam lubang die dengan ukuran lebih besar dan proses penekanan yang lebih rendah yang menghasilkan pelet yang kurang kompak dibandingkan pada die ukuran lebih kecil. Daun Indigofera sp. pada penelitian ini digiling dengan menggunakan screen yang sama (5 mm), agar dihasilkan ukuran partikel yang relatif sama. Pelet daun Indigofera sp. hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Pelet Daun Indigofera sp. Ukuran Die 3, 5 dan 8 mm
Sifat Fisik Daun Indigofera sp. Sebelum dan Sesudah Dibentuk Pelet
Sifat fisik daun Indigofera sp. sebelum dan sesudah dibentuk pelet memiliki karakteristik yang berbeda. Sifat fisik daun Indigofera sp. sebelum dan sesudah dibentuk pelet disajikan pada Tabel 2. Nilai berat jenis daun Indigofera sp. sebelum dibentuk pelet adalah 601,61 kg/m3 sedangkan setelah dibentuk pelet dengan ukuran 3, 5 dan 8 mm masing-masing meningkat menjadi 1465,2 kg/m3, 1623,93 kg/m3 dan 1674 kg/m3. Rendahnya nilai berat jenis pada daun Indigofera sp. dalam bentuk tepung (sebelum pemeletan) menunjukkan bahwa daun Indigofera sp. bentuk tepung memiliki sifat amba atau bulky karena berat jenis merupakan indikator dalam menentukan sifat bulky dari suatu bahan.
21 Tabel 2. Sifat Fisik Daun Indigofera sp. Bentuk Tepung dan Pelet
Peubah Tepung Ukuran Pelet (mm) Rataan
Pelet 3 5 8 BJ (kg/m3) 601,61 1465,20 1623,93 1674,00 1587,86 KT (kg/m3) 290,33 620,71A 625,41A 567,97B 604,69 KPT (kg/m3) 324,46 659,50A 645,61A 577,03B 627,38 ST (0) 35,66 18,14A 21,28B 24,13C 21,18 PDI (%) - 97,91A 96,09B 90,86C 94,95 Kadar Air (%)* 14,00 8,49 6,37 12,23 -
Keterangan : BJ = Berat Jenis, KT = Kerapatan Tumpukan, KPT = Kerapatan Pemadatan Tumpukan, ST = Sudut Tumpukan, PDI = Pellet Durability Index.
*
Hasil pengamatan dari Laboratorium Nutrisi Ternak Perah
Huruf berbeda pada baris yang sama menunjukan nilai berbeda berdasarkan uji Kontras Ortogonal pada taraf 1%
Daun Indigofera sp. bentuk tepung memiliki nilai rataan kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan berturut-turut 290,33 kg/m3 dan 324,46 kg/m3. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Gauthama (1998) bahwa tepung hijauan mempunyai kerapatan tumpukan 120-380 kg/m3. Daun Indigofera sp. yang telah dibentuk menjadi pelet mengalami peningkatan nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan. Nilai kerapatan tumpukan pelet ukuran 3, 5 dan 8 mm berturut-turut adalah 620,71 kg/m3, 625,41 kg/m3, dan 567,97 kg/m3, sedangkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan pelet ukuran 3, 5 dan 8 mm berturut-turut adalah 659,50 kg/m3, 645,61 kg/m3, dan 577,03 kg/m3. Perbedaan nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan pada daun Indigofera sp. sebelum dan sesudah dibentuk pelet disebabkan karena daun Indigofera sp. bentuk tepung sudah mengalami pemadatan saat proses pembuatan pelet sehingga memiliki nilai kerapatan yang tinggi. Bahan yang mempunyai kerapatan rendah (<450 kg/m3) membutuhkan waktu mengalir dengan arah vertikal lebih lama dan sebaliknya dengan bahan yang mempunyai kerapatan yang lebih besar (>500 kg/m3) termasuk kategori bahan yang mengalir cepat (Khalil, 1999a). Nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan pelet daun Indigofera sp. yang lebih besar menunjukkan bahwa daun Indigofera sp. bentuk pelet memerlukan ruang atau volume yang lebih kecil per satuan berat tertentu dibandingkan dengan daun Indigofera sp. bentuk tepung.
22 Nilai sudut tumpukan yang dihasilkan daun Indigofera sp. bentuk tepung lebih besar (35,660) dibandingkan dengan daun Indigofera sp. bentuk pelet (Tabel 2). Sudut tumpukan pelet daun Indigofera sp. ukuran 3, 5 dan 8 mm masing-masing adalah 18,140, 21,280, 24,130. Hal tersebut disebabkan daun Indigofera sp. bentuk tepung memiliki ukuran partikel yang halus sehingga saat dicurahkan pada bidang miring atau ketinggian tertentu membutuhkan sudut yang lebih besar yang mengindikasikan bahwa bahan tersebut memiliki daya alir yang lebih rendah dibandingkan dengan bentuk pelet. Daun Indigofera sp. bentuk pelet akan lebih efisien dalam hal penanganan, pengangkutan, dan penyimpanan karena telah mengalami pemadatan sehingga dapat menghemat ruang untuk menampung pelet per satuan berat tertentu. Tepung hijauan mempunyai sudut tumpukan berkisar 33-520, sedangkan pembuatan pakan dalam bentuk pelet dapat menurunkan sudut tumpukan hingga 240 (Gauthama, 1998).
Sifat Fisik dan Kualitas Fisik Pelet Daun Indigofera sp. Berbeda Ukuran
Sifat fisik merupakan sifat dasar dari suatu bahan yang mencakup aspek yang luas sehingga pengetahuan tentang sifat fisik bahan penting diketahui karena terkait dengan kemudahan dalam penanganan, pengolahan, dan penyimpanan. Sifat fisik dan kualitas fisik pelet daun Indigofera sp. yang diukur dalam penelitian ini meliputi berat jenis (BJ), kerapatan tumpukan (KT), kerapatan pemadatan tumpukan (KPT), sudut tumpukan (ST), dan Pellet Durability Index (PDI). Hasil sifat fisik dan kualitas fisik pelet daun Indigofera sp. diuraikan sebagai berikut :
Berat Jenis
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa berat jenis tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh ukuran die, artinya perbedaan ukuran die yang digunakan pada penelitian ini tidak mengubah nilai berat jenis daun Indigofera sp. Hal ini diduga bahwa ukuran die 3, 5, dan 8 mm masih merupakan selang ukuran die yang mewakili ukuran partikel seragam dalam menentukan berat jenis, seperti yang disampaikan oleh Gauthama (1998) bahwa berat jenis tidak nyata dipengaruhi oleh perbedaan ukuran partikel.
23
Kerapatan Tumpukan dan Kerapatan Pemadatan Tumpukan
Hasil uji statistik pada Tabel 2. memperlihatkan bahwa perbedaan ukuran die berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai kerapatan tumpukan (KT) dan kerapatan pemadatan tumpukan (KPT). Hasil uji Kontras Ortogonal menunjukkan bahwa pelet daun Indigofera sp. ukuran 3 mm memiliki nilai KT dan KPT yang sama dengan pelet daun Indigofera sp. ukuran 5 mm namun nilai keduanya lebih tinggi dibandingkan (P<0,01) dengan pelet daun Indigofera sp. ukuran 8 mm. Hal tersebut disebabkan pelet ukuran 3 dan 5 mm memiliki tekstur yang lebih kompak dibandingkan dengan ukuran 8 mm sehingga memiliki nilai kerapatan yang lebih tinggi. Pelet ukuran 8 mm memiliki tekstur yang kurang kompak karena saat pemadatan pelet pada proses pembuatan pelet tekanan yang diterima lebih rendah sehingga menghasilkan pelet dengan kerapatan yang rendah. Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan Gauthama (1998) bahwa kerapatan tumpukan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran pelet yang dihasilkan. Selain itu kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan juga dipengaruhi oleh kadar air pelet, terjadi penurunan kadar air setelah dibentuk pelet (Tabel 2). Pelet daun Indigofera sp. ukuran 3 dan 5 mm memiliki kadar air lebih rendah dibandingkan dengan pelet ukuran 8 mm. Semakin tinggi kadar air pelet maka semakin rendah nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan pelet pada penelitian ini.
Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan menentukan kecuraman silo yang digunakan dengan tujuan untuk memperlancar laju alir bahan yang tidak mudah mengalir dan mencegah bahan pakan yang berterbangan saat bongkar muat. Hasil statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,01) pada perbedaan ukuran die terhadap nilai sudut tumpukan. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa sudut tumpukan pelet ukuran 3 mm berbeda sangat nyata terhadap sudut tumpukan pelet ukuran 5 dan 8 mm, dan sudut tumpukan pelet ukuran 5 mm berbeda sangat nyata terhadap sudut tumpukan pelet ukuran 8 mm. Sudut tumpukan yang dibentuk oleh pelet ukuran 3, 5, dan 8 mm berturut-turut adalah 18,140, 21,280, dan 24,130 (Tabel 2). Perbedaan sudut tumpukan pada penelitian ini berada pada kisaran dibawah 300 (Fasina dan Sokhansanj, 1993) yang menujukkan bahwa pelet yang dihasilkan pada penelitian ini sangat mudah mengalir pada bidang miring atau pada ketinggian tertentu.
24 Pellet Durability Index
Pellet Durability Index (PDI) merupakan salah satu karakteristik untuk menilai kualitas fisik pelet. Pelet yang baik adalah pelet yang kompak, kokoh dan tidak mudah rapuh (Murdinah, 1989). Hasil statistik menunjukkan bahwa perbedaan ukuran die berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai durability. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata antara pelet ukuran 3 mm dengan pelet ukuran 5 dan 8 mm terhadap nilai PDI dan pelet ukuran 5 mm berbeda sangat nyata dengan pelet ukuran 8 mm terhadap nilai PDI. Nilai PDI yang dihasilkan pada pelet dengan ukuran 3, 5 dan 8 mm masing-masing adalah 97,91%, 96,09% dan 90,86% (Tabel 2). Nilai PDI pada semua ukuran berada pada kisaran di atas standar spesifikasi durability minimum 80% (Dozier, 2001) sehingga pelet yang dihasilkan dalam penelitian ini tergolong kokoh dan tidak mudah rapuh. Kadar air daun Indigofera sp. bentuk tepung mengalami penurunan setelah dibentuk menjadi pelet (Tabel 2). Kadar air pelet ukuran 3, 5, dan 8 mm masing-masing adalah 8,49%, 6,37% dan 12,23%. Kadar air daun Indigofera sp. bentuk tepung menurun karena pada saat proses pembuatan pelet daun Indigofera sp. menerima panas dari mesin pelet yang dapat menurunkan kadar air daun Indigofera sp. setelah dibentuk pelet.
Sifat Fisik Pelet Daun Indigofera sp. Berbeda Ukuran Selama Masa Simpan
Suhu dan kelembaban berpengaruh sangat penting terhadap penyimpanan. Imdad dan Nawangsih (1999) menyebutkan lingkungan hidup yang ideal bagi pertumbuhan serangga yaitu pada suhu 25-300 C. Menurut Sofyan dan Abunawan (1974), syarat umum ruang penyimpanan antara lain suhu berkisar antara 18-240 C, bersih dan terang, mempunyai ventilasi yang baik, serta bebas dari serangan serangga dan tikus.
Rataan suhu dan kelembaban ruang penyimpanan serta nilai aktivitas air pelet selama masa simpan disajikan pada Tabel 3. Rataan suhu ruang penyimpanan adalah 27,38 0C dan rataan kelembaban 75,65%. Suhu dan aktivitas air maksimum terjadi pada hari ke-15, sedangkan kelembaban maksimum terjadi pada hari ke-7. Kondisi di Indonesia yang beriklim tropis dengan suhu dan kelembaban yang tinggi akan mempercepat terjadinya penurunan kualitas bahan baku pakan dan pertumbuhan kapang selama penyimpanan (Ahmad, 2009). Suhu dan kelembaban ruang
25 penyimpanan dapat mempengaruhi sifat fisik pelet Indigofera sp. karena dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.
Tabel 3. Rataan Suhu dan Kelembaban Ruang Penyimpanan serta Nilai Aktivitas Air Pelet Selama Masa Simpan
Hari ke- Suhu (0C) Kelembaban (%) Nilai Aktivitas air (Aw) Pelet
3 mm 5 mm 8 mm 0 27,43 75,50 0,58 0,67 0,79 7 27,38 77,79 0,65 0,73 0,82 15 27,52 74,28 0,80 0,76 0,86 30 27,24 75,38 0,77 0,79 0,81 60 27,33 75,31 0,78 0,79 0,79 Rataan 27,38 75,65 0,72 0,75 0,81
Penyimpanan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang bertujuan untuk mempertahankan dan menjaga kualitas produk. Penyimpanan pakan dalam industri peternakan mempunyai peranan yang sangat penting untuk kelangsungan produksi hal ini untuk menunjang ketersediaan pakan dengan kualitas baik untuk diberikan kepada ternak. Kemasan yang digunakan pada penelitian ini adalah kemasan plastik dan karung plastik. Menurut Imdad dan Nawangsih (1999) kemasan adalah wadah atau media yang digunakan untuk membungkus bahan atau komoditi sebelum disimpan untuk memudahkan pengaturan, pengangkutan, penempatan pada tempat penyimpanan serta memberikan perlindungan pada bahan atau komoditi. Pengemasan terhadap produk bertujuan untuk melindungi produk dari pengaruh oksidasi dan mencegah terjadinya kontaminasi dengan udara luar.
Berdasarkan hasil pengamatan penampakan fisik pelet daun Indigofera sp. pelet dengan ukuran 3 dan 5 mm memiliki tekstur yang halus dan mengkilap, berbeda dengan pelet ukuran 8 mm karena selain memiliki tekstur yang kasar juga terlihat kurang kompak. Namun, memiliki bau dan warna yang sama pada semua ukuran yaitu hampir menyerupai bau wangi daun teh dan berwarna hijau tua. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan yang signifikan selama masa simpan yang mengindikasikan bahwa tingkat kerusakan selama masa simpan rendah.
26 Gambar 4. Gambar Kemasan Pelet Daun Indigofera sp. Selama Masa Simpan
Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Berat Jenis Pelet
Berat jenis (BJ) memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan, dan penyimpanan karena menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis yang umum diterapkan pada pabrik pakan seperti dalam proses pengeluaran bahan dari silo untuk dicampur atau digiling (pada ransum bentuk mash) dan proses pengemasan (pada ransum pentuk pelet). Gambar 5 menunjukkan interaksi waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap berat jenis pelet. Rataan nilai BJ pelet ukuran 3, 5 dan 8 mm selama masa simpan berturut-turut adalah 1337,48 kg/m3, 1335,90 kg/m3, dan 1312,75 kg/m3. Rataan nilai BJ pelet untuk semua ukuran pada hari ke-0, 7, 15, 30, dan 60 berturut-turut adalah 1575,47 kg/m3, 1288,13 kg/m3, 1277,78 kg/m3, 1251,09 kg/m3, dan 1251,09 kg/m3 (Lampiran 5).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang sangat nyata (P<0,01) antara waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap berat jenis pelet (Gambar 5). Nilai BJ pelet pada semua ukuran cenderung lebih tinggi pada hari yang sama pelet keluar dari mesin (hari ke-0), kemudian nilai BJ mengalami penurunan secara drastis (P<0,01) pada hari ke-7 dan cenderung konstan hingga hari ke-60. Nilai BJ pelet ukuran 3 dan 5 mm relatif lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan nilai BJ pelet ukuran 8 mm pada penyimpanan hari ke-7, demikian pula untuk penyimpanan hari ke-15 pada pelet ukuran 3 mm.
27 Gambar 5. Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet
terhadap Berat Jenis Pelet
Penurunan nilai BJ setelah masa simpan menunjukkan terjadi perenggangan antar partikel tepung daun yang dipadatkan. Sifat adesif dari partikel tepung daun diduga mengalami penurunan sehingga massa pelet berkurang untuk setiap satuan pengisian ruangan (volume). Hal ini menunjukkan bahwa pelet daun Indigofera sp. yang disimpan hingga 60 hari memiliki nilai berat jenis yang relatif konstan.
Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Kerapatan Tumpukan Pelet
Kerapatan tumpukan dan sudut tumpukan penting diketahui dalam merencanakan suatu gudang penyimpanan dan volume alat pengolahan (Syarief dan Irawati, 1993). Kerapatan tumpukan memegang peranan penting dalam memperhitungkan volume ruang yang dibutuhkan suatu bahan dengan berat tertentu, misalnya pengisian silo, elevator, dan ketelitian penakaran secara otomatis (Khalil, 1999a). Gambar 6 menyajikan interaksi waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap kerapatan tumpukan pelet.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang sangat nyata (P<0,01) antara waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap kerapatan tumpukan pelet. Nilai kerapatan tumpukan pelet pada semua ukuran meningkat setelah penyimpanan pelet 7 dan 15 hari, kemudian cenderung konstan pada umur simpan 30 dan 60 hari (Gambar 6) untuk pelet ukuran 3 dan 8 mm, dan menurun untuk pelet ukuran 5 mm. Pelet ukuran 3 dan 5 mm memiliki kerapatan
28 yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelet ukuran 8 mm, hal ini menunjukkan bahwa pelet ukuran 8 mm memerlukan ruang yang lebih banyak untuk menampung atau menyimpan. Rataan nilai kerapatan tumpukan pelet untuk ukuran 3, 5 dan 8 mm selama masa simpan berturut-turut adalah 633,88 kg/m3, 644,48 kg/m3, dan 597,43 kg/m3. Sedangkan rataan umur simpan 0, 7, 15, 30 dan 60 hari untuk semua ukuran pelet berturut-turut adalah 604,69 kg/m3, 615,94 kg/m3, 644,37 kg/m3, 638,28 kg/m3, dan 623,05 kg/m3 (Lampiran 6).
Gambar 6. Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Kerapatan Tumpukan Pelet
Nilai KT pelet ukuran 5 mm pada saat sebelum simpan dan setelah disimpan 60 hari mengalami kesamaan, sedangkan pelet ukuran 3 dan 8 mm memiliki nilai KT yang lebih tinggi setelah pelet disimpan 60 hari dibandingkan dengan sebelum penyimpanan. Peningkatan nilai KT pada pelet ukuran 5 mm setelah disimpan menunjukkan terjadi pemadatan ukuran partikel dibandingkan dengan partikel ukuran 3 dan 8 mm. Pelet dengan ukuran 3 dan 8 mm nilai KT-nya masih tinggi meskipun sampai 60 hari disimpan. Hal ini menunjukkan bahwa pelet masih memiliki kerapatan yang tinggi meskipun sudah disimpan sampai 60 hari. Khalil (1999a) menyatakan bahwa bahan dengan kerapatan tumpukan tinggi membutuhkan waktu jatuh dan mengalir yang lebih singkat daripada bahan ransum dengan kerapatan tumpukan yang rendah.
29
Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Kerapatan Pemadatan Tumpukan Pelet
Kerapatan pemadatan tumpukan adalah perbandingan antara berat bahan terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah melalui proses pemadatan seperti penggoyangan. Nilai kerapatan pemadatan tumpukan penting diketahui karena sangat bermanfaat pada saat pengisian bahan ke dalam wadah yang diam tetapi bergetar. Tingkat pemadatan bahan sangat menentukan kapasitas dan akurasi pengisian tempat penyimpanan seperti silo.
Gambar 7. Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Kerapatan Pemadatan Tumpukan Pelet
Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa ukuran pelet dan umur simpan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai kerapatan pemadatan tumpukan. Pelet ukuran 8 mm memiliki nilai kerapatan pemadatan tumpukan paling rendah dibandingkan dengan pelet ukuran 3 dan 5 mm (Gambar 7). Hal ini disebabkan karena pelet ukuran 8 mm mendapatkan tekanan yang lebih rendah saat proses pembuatan pelet sehingga terlihat kurang kompak. Selain itu, nilai kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh kadar air pelet. Pelet ukuran 8 mm memiliki kadar air yang paling tinggi dibandingkan dengan pelet ukuran 3 dan 5 mm. Kerapatan pemadatan tumpukan pelet ukuran 3 dan 5 mm relatif konstan masa simpan. Hal ini disebabkan karena ukuran partikel pelet yang lebih kecil sehingga pada saat penggoyangan pelet dengan mudah menempati rongga-rongga yang kosong.
30 Dalam Gambar 7 dapat dilihat bahwa nilai kerapatan pemadatan tumpukan meningkat hingga umur simpan 15 hari kemudian menurun pada umur simpan 30 hari dan cenderung konstan sampai umur simpan 60 hari. Peningkatan dan penurunan nilai kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh peningkatan kadar air pelet selama masa simpan.
Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Sudut Tumpukan Pelet
Sudut tumpukan adalah sudut yang terbentuk antara bidang datar dengan kemiringan tumpukan yang akan terbentuk bila bahan dicurahkan pada bidang datar melalui sebuah corong serta menunjukkan kriteria kebebasan bergerak dari partikel pada suatu tumpukan bahan. Soesarsono (1988) berpendapat bahwa nilai sudut tumpukan sangat berperan dalam mendesain corong pemasukan (hopper) dan corong pengeluaran, misalnya pada silo atau pada mesin pengolah. Bahan padat dapat mengalir bebas jika sudut corong pemasukan atau pengeluaran harus sama atau lebih kecil daripada sudut tumpukan bahan. Grafik interaksi antara ukuran die dengan umur simpan terhadap sudut tumpukan pelet disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8. Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Sudut Tumpukan Pelet
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang nyata (P<0,05) antara waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap nilai Sudut Tumpukan (ST). Hasil uji lanjut menunjukkan terjadi peningkatan nilai sudut tumpukan pada semua ukuran pelet dengan semakin lamanya waktu penyimpanan.
31 Peningkatan nilai ST mengandung arti bahwa dengan semakin lama penyimpanan maka karakteristik pelet tersebut semakin sulit untuk bergerak, mungkin terjadi pelengketan antar partikel pelet. Namun, nilai ST ini masih dibawah 30 derajat yang berarti bahwa pelet Indigofera sp. untuk setiap ukuran (3, 5, dan 8 mm) meskipun sudah disimpan hingga 60 hari masih tergolong baik karena bahan dianggap mudah mengalir karena sudut yang terbentuk berada pada kisaran di bawah 300 (Fasina dan Sokhansanj, 1993). Tingkat kemudahan alir bahan akan berpengaruh terhadap efisiensi sistem pergerakan (conveying system) yang memudahkan dalam perpindahan bahan. Nilai ST pada pelet yang berdiameter 8 mm lebih tinggi dibandingkan dengan pelet yang berukuran 3 dan 5 mm. Sudut tumpukan berbanding terbalik dengan kerapatan tumpukan. Semakin tinggi kerapatan tumpukan maka semakin rendah sudut tumpukan, seperti yang terlihat pada hasil penelitian ini.
Pelet ukuran 3 mm cenderung mengalami peningkatan sudut tumpukan hingga umur simpan 30 hari sedangkan pelet ukuran 5 mm mengalami peningkatan pada umur simpan 7 hari kemudian relatif konstan pada umur simpan 15 hari dan mengalami peningkatan kembali hingga umur simpan 60 hari (Gambar 8). Pelet ukuran 8 mm mengalami peningkatan sudut tumpukan yang sama dengan pelet ukuran 5 mm namun pada umur simpan 15 hari mengalami penurunan sudut tumpukan. Hal ini disebabkan karena peningkatan kadar air selama masa simpan.
Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Pellet Durability Index
Pellet Durability Index adalah persentase daya tahan keutuhan pelet terhadap perlakuan mekanis selama proses pembuatan pelet, dapat digambarkan dengan persentase pelet yang utuh dan pelet yang hancur. Indeks Ketahanan Pelet merupakan salah satu karakteristik untuk menilai kualitas fisik pelet. Menurut Thomas et al. (1998) durability terkait dengan berbagai proses dalam pemanfaatan pelet seperti transportasi untuk mengetahui kualitas pelet yang dihasilkan sehingga uji Pellet Durability Index sangat penting dilakukan. Pengaruh innteraksi antara ukuran die dengan umur simpan terhadap Pellet Durability Index pelet disajikan pada Gambar 9.
32 Gambar 9. Pengaruh Interaksi Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet
terhadap Pellet Durability Index
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang nyata (P<0,05) antara waktu penyimpanan dan ukuran pelet terhadap Pellet Durability Index. Nilai Pellet Durability Index untuk setiap ukuran relatif konstan pada setiap waktu penyimpanan. Pelet ukuran 8 mm memiliki nilai Pellet Durability Index yang lebih rendah dibandingkan dengan pelet ukuran 3 dan 5 mm (Lampiran 9). Hal ini disebabkan pelet ukuran 8 mm terlihat kurang kompak sehingga menyebabkan pelet tersebut mudah rapuh. Selain itu, pelet ukuran 8 mm memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya. Selama masa simpan rataan Pellet Durability Index mengalami penurunan namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Rataan Pellet Durability Index berada pada kisaran 94,16-94,95% (Lampiran 9) selama masa simpan yang menunjukkan bahwa nilai tersebut berada di atas nilai minimum yang disarankan oleh Dozier (2001) yaitu 80% sehingga dalam penelitian ini memberikan kecenderungan bahwa pelet dapat disimpan lebih lama. Hal ini berarti pelet Indigofera sp. yang dibuat untuk setiap ukuran dalam penelitian ini masih memiliki daya simpan yang baik meskipun sudah disimpan selama dua bulan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pelet antara lain karakteristik bahan baku, yaitu protein, lemak, serat, pati, kepadatan, tekstur dan air serta kestabilan karakteristik bahan yang akan menghasilkan kualitas pelet yang baik (McElhinney, 1994).
33
Pengaruh Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Kadar Air Pelet
Kadar air merupakan persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering. Kadar air berdasarkan berat kering adalah perbandingan antara berat air dalam suatu bahan dengan bahan kering bahan tersebut (Syarief dan Halid, 1994). Tabel 4 menyajikan nilai kadar air pelet selama masa simpan.
Tabel 4. Kandungan Kadar Air Pelet Selama Masa Simpan Ukuran
(mm)
Lama Penyimpanan (hari)
rataan 0 7 15 30 60 3 8,49E 9,45G 9,77G 9,03F 10,37H 9,42B 5 6,37A 7,42C 7,48C 6,92B 7,83D 7,20A 8 12,23J 11,69I 11,73IJ 10,69H 12,51K 11,77C Rataan 9,03A 9,52B 9,66B 8,88A 10,24C
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom dan baris menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) antara ukuran die dengan masa simpan terhadap kadar air. Kadar air pelet selama masa simpan cenderung mangalami peningkatan meskipun terjadi penurunan pada umur simpan 30 hari namun mengalami peningkatan kembali pada umur simpan 60 hari. Rataan kadar air pelet selama masa simpan berkisar antara 7-11%. Pelet ukuran 8 mm memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya, hal ini disebabkan karena ukuran pelet yang lebih besar dan terlihat tidak kompak yang menyebabkan air mudah masuk ke dalam pelet.
Kadar air pelet erat kaitannya dengan sifat fisik pelet. Semakin tinggi kadar air menyebabkan berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan Pellet Durability Index rendah serta nilai sudut tumpukan yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa pelet yang memiliki kadar air tinggi memerlukan ruang penyimpanan yang lebih luas, tidak mudah mengalir, mudah rapuh atau tidak kompak sehingga menyebabkan tidak efisien dalam hal penanganan dan penyimpanan.
34
Pengaruh Waktu Penyimpanan dan Ukuran Pelet terhadap Aktivitas Air Pelet
Aktivitas air (Aw) bahan pakan adalah air bebas yang terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya (Syarief dan Halid, 1994). Aktivitas air merupakan peubah paling penting dalam menentukan ketahanan simpan. Aktivitas air erat kaitannya dengan kelembaban relatif ruang penyimpanan. Tabel 5 memperlihatkan nilai aktivitas air pelet selama masa simpan. Tabel 5. Nilai Aktivitas Air (Aw) Pelet Selama Masa Simpan
Ukuran (mm)
Lama Penyimpanan (hari)
Rataan 0 7 15 30 60 3 0,58 0,65 0,80 0,77 0,78 0,72A 5 0,67 0,73 0,76 0,79 0,79 0,75A 8 0,79 0,82 0,86 0,81 0,79 0,81B Rataan 0,68A 0,73A 0,81B 0,79B 0,79B
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom dan baris menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara ukuran die dengan masa simpan. Namun, hasil uji lanjut memperlihatkan bahwa ukuran die dan masa simpan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap aktivitas air. Nilai aktivitas air pada semua perlakuan relatif meningkat hingga umur simpan 15 hari kemudian sedikit menurun hingga umur simpan 60 hari (Tabel 5). Pelet ukuran 8 mm memiliki nilai aktivitas air lebih tinggi dibandingkan dengan pelet ukuran 3 dan 5 mm. Semakin besar ukuran pelet maka semakin tinggi nilai aktivitas air dan semakin lama umur simpan pelet maka nilai aktivitas air relatif meningkat dalam penelitian ini. Hal ini disebabkan karena kadar air pelet mengalami peningkatan selama masa simpan sehingga meningkatkan aktivitas air. Nilai aktivitas air yang berubah-ubah juga disebabkan karena suhu dan kelembaban ruang penyimpanan yang berubah-ubah.