49 HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT KLINIS DAN SKIN PRICK TEST PADA PASIEN URTIKARIA
DI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
Herwinda Brahmanti, Firstya Diyah Ekasiwi*, Iriana Maharani**
Abstrak
Latar Belakang : Urtikaria merupakan kelainan pada kulit yang terjadi di epidermis berupa erupsi eritematosa yang meninggi, berbatas tegas dan biasanya disertai rasa gatal, serta dapat hilang timbul yang disebabkan karena adanya faktor pencetus. Sekitar 15-25% penduduk pernah mengalami urtikaria di waktu tertentu selama hidupnya. Skin Prick Test merupakan salah satu pemeriksaan penunjang pada urtikaria berupa tes kulit yang dimediasi oleh IgE atau diperantarai oleh reaksi hipersensitivitas tipe 1.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara riwayat klinis dengan pemeriksaan skin prick test pada urtikaria. Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Jumlah sampel sebesar 20 orang yang didiagnosis urtikaria oleh Divisi Alergi-Imunologi Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini menggunakan metode desktriptif dan metode analisis chi-square. Hasil: Debu merupakan penyebab dengan persentase terbesar. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara riwayat klinis pasien dengan skin prick test pada urtikaria (p=0,004). Kesimpulan : Riwayat alergi terhadap debu rumah merupakan riwayat klinis dengan persentase terbesar dan mempunyai hubungan yang signifikan antara riwayat klinis pasien dengan skin prick test pada pasien urtikaria.
Kata Kunci: Riwayat Klinis, Skin Prick Test, Urtikaria
CORRELATION BETWEEN CLINICAL HISTORY WITH SKIN PRICK TEST IN URTICARIA PATIENTS IN DR. SAIFUL ANWAR GENERAL HOSPITAL MALANG
Abstract
Urticaria is a skin lesion that occurs in the epidermis consisting of erythematous eruptions that are elevated, well-circumscribed and typically pruritic, and can be intermittent due to originator factors. About 15-25% of the population had experienced urticaria at certain times during their lifetime. Skin Prick Test is one of the examination in urticaria in the form of IgE-mediated skin tests or mediated by type 1 hypersensitivity reactions. The aim of this study was to determine the relationship between clinical history and skin prick test results in urticaria patients. This research design was using cross-sectional observational analytic and consecutive sampling. The number of samples was 20 urticaria patients at the Allergy-Immunology Division Dermato-Venerology outpatient clinic Dr. Saiful Anwar Hospital Malang. This research used descriptive method in the form of distribution tables and chi-square analysis methods. The distribution table shows the highest percentage of dust. The results showed that there was a significant relationship between the clinical history of patients with skin prick test results in urticaria patients (p=0.004). It can be concluded that dust is a clinical history with the largest percentage and there is a strong relationship between the clinical history of patients with skin prick test results in urticaria patients.
Keywords: Clinical History, Skin Prick Test, Urticaria
*Program Pendidikan Dokter Spesialis Dermatologi & Venereologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya
**Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya-RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
E-mail: [email protected]
50 Pendahuluan
Urtikaria adalah kelainan kulit yang terjadi di epidermis, berupa erupsi eritematosa yang meninggi, berbatas tegas dan sering diikuti rasa gatal, serta hilang timbul akibat adanya faktor pencetus. Urtikaria merupakan salah satu penyakit pada kulit yang sering terjadi dengan angka kejadian yang cukup tinggi.
Sekitar 15-25% penduduk pernah mengalami urtikaria di waktu tertentu selama masa hidupnya.1,2 Berdasarkan durasinya, urtikaria diklasifikasikan sebagai urtikaria akut dan urtikaria kronis. Urtikaria akut terjadi jika keluhan berlangsung selama kurang dari 6 minggu, sedangkan urtikaria kronis jika keluhan berlangusng lebih dari 6 minggu. Angka kejadian urtikaria akut lebih tinggi dibandingkan dengan urtikaria kronis. Pentingnya mengetahui jenis urtikaria berdasarkan durasi adalah untuk mengetahui patogenesis dan terapi yang akan diberikan kepada penderita.3,4 Banyak faktor pencetus yang dapat menimbulkan terjadi urtikaria, seperti makanan, suhu, obat-obatan, aeroallergen, bahan terapeutik, dan serpihan kulit hewan. Hal utama yang paling penting dalam penatalaksanaan pasien urtikaria adalah mengidentifikasi faktor pencetus melalui anamnesis atau penggalian riwayat klinis, dan perlu kerja sama yang baik antar dokter dan pasien. Dengan didapatkannya riwayat klinis yang lengkap, maka dokter akan lebih mudah menentukan jenis pemeriksaan penunjang diagnosis dan melakukan interpretasi hasilnya 5
Penegakkan diagnosis urtikaria melalui anamnesis, pemeriksaan fisik ditunjang dengan pemeriksaan penunjang, salah satunya Skin Prick Test (SPT), berupa tes kulit yang dimediasi oleh IgE atau diperantarai oleh reaksi hipersensitivitas tipe 1.
Keuntungan menggunakan SPT ini yaitu tes bisa dilakukan dengan mudah dilakukan, praktis, relatif aman, bisa mengetahui hasilnya dengan cepat, dan
bisa menggunakan alergen secara bersamaan dalam satu kali tes. 1,2
Penelitian yang pernah dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta berupa penelitian retrospektif dengan hasil SPT positif mempunyai relevansi klinis yang sangat kecil dengan urtikaria kronis. Sedangkan, penelitian deskriptif analitik yang dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr.
Kariadi pada bulan Februari-Juni 2008 menunjukkan kesesuaian hasil identifikasi alergen menggunakan uji tusuk dan anamnesis sebesar 76,2%, sementara ketidaksesuaian hasil identifikasi alergen menggunakan uji tusuk dan anamnesis sebesar 14,2% dan 9,5%
konstan.5 Selain itu, penelitian yang dilakukan di Sub- bagian Alergi dan Imunologi Poliklinik IKKK RSUD Dr.
Moewardi selama tahun 2009-2010 dengan metode penelitian potong lintang mengambil dari rekam medis 30 pasien urtikaria kronis yang dilakukan SPT menunjukkan hasil secara statistik tidak bermakna dimana SPT kurang baik bila digunakan sebagai pemeriksaan penunjang uji riwayat alergi makanan pada urtikaria kronis.6
Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat klinis pasien dengan Skin Prick Test pada pasien urtikaria di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode bulan Juli – November 2018.
Bahan dan Metode
Desain penelitian ini adalah analitik observasional potong lintang, untuk mengetahui hubungan antara riwayat klinis dengan hasil skin prick test pada pasien urtikaria. Populasi sampel pada penelitian ini pasien yang berobat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, bersedia mengikuti penelitian dan memenuhi kriteria inklusi serta eksklusi. Kriteria inklusi pada sampel, yaitu laki-laki atau perempuan,
51 dengan diagnosis urtikaria, bersedia menjadi subjek
penelitian dan melakukan SPT serta menandatangani informed consent.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling selama periode 3 bulan penelitian. Besar sampel yang diperlukan sebanyak 19 pasien. Teknik analisis data menggunakan uji analisis chi-square dan uji koefisien kontingensi untuk mengetahui hubungan riwayat klinis pasien dengan hasil SPT.
Hasil
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan selama periode bulan Juli sampai November 2018,
telah dilakukan pemeriksaan terhadap 38 pasien dengan diagnosis urtikaria di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, namun yang masuk dalam penelitian sebanyak 20 pasien.
Gambar 1 dan 2 menujukkan bahwa persentase faktor pencetus terbesar adalah house dust sebesar 30%. Dari 20 pasien sebanyak 3 pasien tidak memiliki riwayat alergi, sebanyak 4 pasien terdiri dari 1 faktor pencetus, dan sebanyak 13 pasien memiliki lebih dari 1 faktor pencetus. Berdasarkan riwayat klinis, juga didapatkan faktor pencetus lain yang tidak terdapat pada jenis allergen skin prick test standar yaitu dingin, burung puyuh, kerang, sabun, karet, ikan laut, panas, sari manis dan bahan pakaian tertentu.
Gambar 1. Distribusi Faktor Pencetus Alergen Makanan Terbanyak berdasarkan Riwayat Klinis.
Keterangan: Bandeng 5%, Tongkol %%, Nanas 5%, Tempe 5%, Kacang Tanah 10%, Daging ayam 10%, Udang 10%, Kuning telur ayam 10%
52 Gambar 2. Distribusi Faktor Pencetus Alergen Hirup terbanyak berdasarkan Riwayat Klinis.
Keterangan: House Dust 30%
Gambar 3 menunjukkan bahwa persentase hasil SPT positif terhadap house dust adalah yang terbesar yaitu sebesar 45%. Dari 20 pasien, sebanyak 4 pasien
tidak menunjukkan hasil SPT positif, sebanyak 2 pasien menunjukkan 1 alergen positif, dan sebanyak 14 pasien menunjukkan hasil SPT lebih dari 1 alergen positif.
Gambar 3. Distribusi Faktor Pencetus Alergen Makanan berdasarkan Hasil Skin Prick Test.
Keterangan: Kacang hijau 5%, Rambutan 5%, Semangka 5%, Kuning telur ayam 5%, Pisang 10%, Daging ayam 10%, Daging kambing 10%, Kentang 15%, Coklat 15%, Kacang Tanah 15%, Jeruk 15%, Bandeng 20%, Pindang 20%, Nanas 20%, Kedelai 25%, Susu 25%, Udang 30%.
53 Gambar 4. Distribusi Faktor Pencetus Alergen Hirup berdasarkan Hasil Skin Prick Test.
Keterangan: Bulu anjing 35%, House Dust 45%.
Distribusi jumlah faktor pencetus yang terdapat pada pasien dengan diagnosis urtikaria berdasarkan riwayat klinis dan hasil SPT terdapat pada tabel 1. Hasil dari tabel 1 didapatkan 16 pasien (80%) menunjukkan adanya alergi berdasarkan riwayat klinis maupun SPT.
Terdapat 3 pasien (15%) yang berdasarkan riwayat klinis maupun SPT tidak memiliki alergi. Terdapat 1 pasien (5%) yang memiliki riwayat klinis, namun secara SPT tidak menunjukkan adanya alergi.
Tabel 1. Distribusi Jumlah Alergen berdasarkan Riwayat Klinis dan Skin Prick Test
Skin Prick Test
TOTAL Tidak Alergi Alergi
Riwayat Klinis
Tidak Alergi Jumlah 3 0 3
% 15.0% 0.0% 15.0%
Alergi Jumlah 1 16 17
% 5.0% 80.0% 85.0%
TOTAL Jumlah 4 16 20
% 20.0% 80.0% 100.0%
Berdasarkan uji chi-square, diperoleh nilai p=0,004 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara
riwayat klinis pasien dan hasil skin prick test pada pasien urtikaria (Tabel 2).
54 Berdasar uji koefisien kontingensi, nilai koefisien
kontingensi 0.643, menunjukkan hubungan yang kuat antara riwayat klinis dengan hasil SPT pada pasien urtikaria. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan hasil
bahwa riwayat alergi terhadap daging ayam, kacang tanah dan debu secara statistik bermakna terhadap hasil SPT dengan besar korelasi yaitu berturut-turut sebesar 0.707, 0.622, dan 0.586 (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil Uji Koefisien Kontingensi Value
Asymptotic Standardized
Errora
Approximate Tb Approximate Significance
Nominal by Nominal
Contingency
Coefficient .643 .000
Measure of Agreement
Kappa
.828 .166 3.757 .000
N of Valid Cases 20
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, tabel 1 menunjukkan dari 20 pasien yang menjadi subjek penelitian, sebanyak 3 pasien tidak mengetahui faktor pencetus, sebanyak 4 pasien memiliki riwayat klinis dengan 1 jenis faktor pencetus, dan sebanyak 13 pasien memiliki riwayat klinis lebih dari 1 jenis faktor pencetus.
Berdasarkan penelitian juga didapatkan faktor pencetus lain, yaitu dingin, burung puyuh, kerang, sabun, karet, ikan laut, sari manis dan bahan pakaian tertentu.
Faktor pencetus terbesar berdasarkan riwayat klinis dalah house dust. Efek alergen pada house dust disebabkan oleh protein tertentu yang bisa berasal dari kotoran tungau rumah yaitu Der p1 dan Der p2. Saat kotoran mengering, terurai, dan bercampur dengan debu rumah. Ketika debu terhirup, maka dapat terjadi reaksi alergi.7
Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan sebanyak 4 pasien tidak menunjukkan hasil SPT positif, sebanyak 2 pasien dengan 1 hasil SPT positif, dan Tabel 2. Hasil Uji Chi-Square
Value df
Asymptotic Significance
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square 14.118a 1 .000
Continuity
Correctionb 8.848 1 .003
Likelihood Ratio 12.410 1 .000
Fisher's Exact Test .004 .004
Linear-by-Linear
Association 13.412 1 .000
N of Valid Cases 20
55 sebanyak 14 pasien menunjukkan lebih dari 1 hasil
SPT positif.
Berdasarkan hasil penelitian, faktor pencetus terbesar berdasarkan hasil SPT adalah
house dust sebesar 45%. Mahes et al. melaporkanhasil SPT pada 122 pasien dengan urtikaria kronis, sebanyak 78 pasien (64%) sensitif terhadap antigen house dust mites. Hasil penelitian ini juga menunjukkan sebanyak 9 dari 20 pasien (45%) sensitif terhadap alergen house dust. Selain itu, udang juga menunjukkan hasil SPT positif sebesar 30%. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Koesmiati. dkk (1986), dan Soebiyanto, dkk (1985) yang mendapatkan hasil hewan laut memiliki kandungan antigen protein yang akan memicu respon imunologis berupa urtikaria.
8Skin Prick Test adalah salah satu pemeriksaan
penunjang yang memiliki sensitifitas tinggi namun spesifitasnya rendah, dan dapat dilakukan untuk pasien urtikaria. Hasil SPT negatif terhadap alergen memiliki negative predictive value yang sangat baik (>95%), artinya jika SPT negatif maka hampir dapat dipastikan tidak akan muncul reaksi urtikaria terhadap faktor pencetus yang dicurigai.
Sedangkan positive predictive value SPT hanya sekitar 50-60%, artinya jika SPT positif menunjukkan adanya hubungan antara alergen spesifik yang diteteskan dan reaktifitas pasien terhadap alergen tersebut.
9,10Pada beberapa alergen seperti beras, daging sapi dan vetsin menunjukkan riwayat klinis dan hasil SPT negatif. Hal ini disebabkan karena alergen makanan tersebut jarang sekali menyebabkan munculnya urtikaria, karena
alergenisitasnya yang rendah. Sedangkan pada riwayat klinis dan hasil SPT, house dust memiliki persentase yang cukup besar. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Koesmiati, dkk (1986), dan Soebianto, dkk (1985) yang mendapatkan hasil debu merupakan alergen hirup yang paling banyak menimbulkan urtikaria.
8Pada penelitian ini medapatkan hasil p value 0,004 lebih kecil dibandingkan dengan tingkat kesalahan 0,05 (Tabel 2). Hasil ini menjelaskan adanya hubungan signifikan riwayat klinis dengan hasil SPT pada pasien urtikaria. Pada tabel 1 juga menunjukkan distribusi adanya alergi berdasarkan riwayat klinis dan SPT sebesar 80%. Pada uji koefisien kontingensi, (Tabel 3) diperoleh nilai sebesar 0,643, yang berarti ada hubungan yang kuat pada riwayat klinis dengan hasil SPT pada pasien urtikaria.
Urtikaria bisa bersifat akut atau kronis. Pada urtikaria akut, 50% kasus penyebabnya dapat diketahui.11 Kebanyakan urtikaria akut disebabkan reaksi polyvalent specific antigen dengan IgE terikat sel mast.8 Pada urtikaria kronis hanya 5-10% kasus disebabkan reaksi alergi.12. Delapan puluh persen kasus urtikaria kronis tidak disebabkan oleh faktor eksogen, sehingga muncul istilah chronic idiopathic urticaria.7 Tiga puluh sampai 50% chronic idiopathic urticaria adalah autoimun. IgG anti IgE autoantibody dan IgG anti FcєRIα autoantibody berperan penting dalam patogenesis urtikaria kronis. Ikatan antara IgE dengan IgG anti IgE autoantibody serta ikatan antara FcєRIα (high-affinity IgE receptor) dengan IgG anti FcєRIα autoantibody menyebabkan aktivasi sel mast dan terjadi pelepasan histamin.6,13 Pada pasien yang tidak mengetahui faktor pencetus berdasarkan riwayat
56 klinis, menurut Siannoto (2017), sampai saat ini
teori mengenai etiologi dari urtikaria belum dapat dibuktikan, sehingga pada beberapa pasien tidak mengetahui faktor pencetus namun dapat menimbulkan manifestasi klinis berupa urtikaria. Sedangkan 13 pasien memiliki riwayat klinis lebih dari 1 jenis alergen.
Banyaknya alergen seperti alergen makanan, debu dan obat yang kontak dengan tubuh menyebabkan munculnya reaksi alergi. Sehingga sistem pertahanan tubuh akan melakukan perlawanan dengan cara pelepasan histamin yang dapat menimbulkan manifestasi klinis. Karena urtikaria kronis biasanya merupakan penyakit autoimun, sedangkan SPT adalah suatu metode pemeriksaan untuk mendeteksi suatu reaksi alergi, maka SPT kurang bisa membantu dalam mendiagnosis urtikaria kronis. Bila didapatkan SPT positif, relevansi klinisnya masih sulit dinilai.3,14 Kelemahan dari penelitian ini adalah tidak adanya pembagian jenis atau diagnosis urtikaria menjadi urtikaria akut dan kronis, sehingga tidak bisa membuktikan kesahihan relevansi klinis dengan hasil SPT pada dua kelompok urtikaria ini yang mungkin berbeda.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa alergen terbanyak (sekitar 80%) penyebab urtikaria adalah debu dan terdapat hubungan signifikan riwayat klinis dengan hasil skin prick test pada pasien urtikaria.
Saran
Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut yang membedakan relevansi klinis antara hasil anamnesis dan hasil skin prick test yang membedakan urtikaria kronis dan akut dengan jumlah sampel yang lebih banyak.
Daftar Pustaka
1. Zuberbier T., Balke M., Worm M., Edenharter G., Maurer M., et al. .Epidemiology of urticaria: A representative cross-sectional population survey., 2010. Clinical and Experimental Dermatology, 35(8), pp. 869–873.
2. Zuberbier T., Aberer W., Asero R., Bindsley-Jensen C., Brzoza Z., Canonica G., et al. The EAACI/GA2LEN/EDF/WAO Guideline for the definition, classification, diagnosis, and management of urticaria: The 2013 revision and update’, 2014. Allergy: European Journal of Allergy and Clinical Immunology, 69(7), pp. 868–887.
3. Vella, dkk. 2010. Urtikaria – Studi Retrospektif.
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Surabaya: 2010. Vol 22 no. 3 Desember 2010 hal 172-173
4. Borges MS, Asero R, Ansotegui IJ, Baiardini I, Bernstein JA, Canonica GW, et al. 2012. Diagnosis and treatment of urticaria and angioedema: A worldwide perspective. WAO Journal, 5: pp.125-47.
5. Kaplan AP. Urticaria and Angioedema.In: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Fitzpatrick TB, et al., editors.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2019. p. 684–709.
6. Rakhmawati, Dwi, dkk. 2014. Korelasi Hasil Skin Prick Test dengan Riwayat Alergi Makanan pada Urtikaria Kronik. Jurnal MDVI, 41(1); 10-13.
7. Zuberbier T. 2016. Dust Mite Allergy. European Centre for Allergy Research Foundation.
57 8. Cora Z. 2001. Korelasi tes kulit cukit dengan
kejadian sinusitis maksila kronis di bagian THT RSUP H. Adam Malik Medan. Kumpulan Naskah Karya Ilmiah FK USU. Medan.
9. Abrams EM, Sicherer SH. 2016. Diagnosis and management of food allergy. Canadian Medical Association Journal, 188(15):1087-93.
10. Bernstein, Jonathan A., Lang, David M., Khan, David A., et al. The diagnosis and management of acute and chronic urticaria: 2014 update’, 2014.
Journal of Allergy and Clinical Immunology. Elsevier Ltd, 133(5), p. 1270–1277.
11. Powell RJ, Leech SC, Huber PAJ, Nasser SM and Clark AT. 2015. BSACI guideline for the
management of chronic urticarial and angioedema.
Clinical & Experimental Allergy, 45 : 547–65.
12. Incorvala C, Frati F, Verna N, D’Alo A, et al. Allergy and the skin. Clinical and Experimental Immunology 2008; 153: 27-29.
13. Radonjic-Hoesli, S., Hofmeier, K.S., Micaletto, S. et al. 2018. Urticaria and Angioedema: an Update on Classification and Pathogenesis. Clinic Rev Allerg Immunol 54, 88–101.
14. Verstege A, Mehl A, Rolinck-Werninghaus C, Staden U, et al. The predictive value of skin prick test wheal size for the outcome of oral food challenges. Clinical and Experimental Allergy 2005;
35: 1220-1226.