• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT PRODUKTIVITAS DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TENAGA KERJA WANITA PADA PETERNAKAN AYAM LOKAL INTENSIF DI KECAMATAN AMPEL GADING KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH

(Productivity and Factors Affecting on Labor at Intensive Local Chicken Farming in Cibiyu Village, Subdistrict Ampel Gading District of Pemalang

Central Java)

DYAH MARDININGSIH,T.M.RAHAYUNING,WILUDJENG ROESSALI danSRIYANTO D.J.

Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Kampung Tembalang, Semarang

ABSTRACT

Case study was carried out at Cibiyuk village, Ampel Gading subdistrict, district of Pemalang Central Java, during March to May 2003. The study was aimed to assess productivity and factors offecting woman labor parctising intensive Kampung farming. The methods of study was using interview and in depth observation on focus group discussion (FGD). The results showed that woman labor’s skill was categorized good. Daily productive activity was sub optimum as the farming was still considered small scale farming.

Daily time spent for keeping the hens was 1.68 ± 0.32 hours. Disanvantage factors were low motivation for woman to expend the enterprice and low capital. Whilst the advantage factors were demands on egg, and meat of Kampung chicken and supports from local government and related institutions. Access and control of women to Kampung chicken farming was considered high especially on owner ships, family education and capital.

Key words: Woman productivity, local hen, and intensive system

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cibiyuk Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Pemalang mulai Maret sampai Mei 2003. Bertujuan untuk menjelaskan tingkat produktivitas wanita dalam beternak ayam lokal secara intensif, mengkaji dan memahami sebab-sebab masalah yang mereka alami dan net assessment dalam beternak serta menjelaskan fakta tentang akses dan kontrol wanita dalam kepemilikan ternak, pendidikan dalam beternak dan modal usaha. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam, observasi dan untuk memperoleh data pola perilaku secara umum dilakukan FGD (Focus Group Discussion). Duapuluh (20) wanita isteri peternak ayam lokal sistem instensif dipakai sebagai responden yang diambil secara acak sederhana. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif disajikan dalam bentuk narasi dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketrampilan wanita dalam beternak ayam lokal sistem intensif termasuk kategori baik. Pola kehidupan produktif masih belum optimal karena beternak hanya sebagai usaha sambilan dengan skala usaha kecil. Waktu yang dicurahkan untuk beternak ayam lokal rata-rata 1,68 jam ± 0,32. Faktor yang menghambat adalah kurangnya motivasi wanita untuk mengembangkan usahanya dan modal terbatas.

Sementara itu, faktor yang mendukung adalah permintaan daging dan telur ayam lokal terus meningkat serta adanya dukungan dari aparat setempat, pemerintah daerah dan instansi terkait. Akses dan kontrol wanita tinggi dalam beternak baik dalam pemilikan, pendidikan maupun modal.

Kata kunci: Tenaga kerja wanita, ayam lokal, sistem intensif

PENDAHULUAN

Usaha peternakan ayam lokal merupakan salah satu usaha yang berpotensi cukup besar

untuk menunjang kehidupan keluarga di pedesaan. Pada dasarnya ayam lokal merupakan kependekan dari ayam bukan ras yaitu semua ayam yang tidak termasuk ayam

(2)

ras antara lain seperti ayam Kedu ayam Mimikan, ayam Pelung dan lain-lain, masing- masing ayam dinamai sesuai dengan asal daerah dan ciri-ciri fisik berbeda antara satu dengan yang lain (RASYAF, 1993).

Ayam lokal memiliki kelebihan yang cukup potensial bila dikembangkan antara lain pemeliharaannya yang mudah, daya adaptasinya tinggi, lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam ras dan produk-produk ayam ras. (DJATMIKO dan SUGIHARTI, 1986) menurut RASYAF (1993), harga daging dan telur ayam lokal bersaing ketat dengan harga ayam ras dan harganya relatif stabil dengan konsumen yang cukup luas, sehingga usaha ayam lokal mempunyai potensi yang cukup besar untuk menunjang kehidupan keluarga petani di pedesaan dan cocok untuk usaha sampingan selain bercocok tanam (SANTOSO et al., 1991).

Menurut BALAI INFORMASI PERTANIAN (1986), pemeliharaan secara intensif akan meningkatkan populasi ayam lokal karena mampu menekan tingkat kematian sampai 27%

dengan produksi telur 103 butir/tahun/ekor bahkan dapat mencapai 151 butir/tahun/ ekor, dengan berat rata–rata 43 g/butir. Pada luas lahan yang sama pemeliharaan ayam lokal sistem intensif memuat lebih banyak dari pemeliharaan sistem ekstensif dan semi intensif, selain itu penggunaaan tenaga kerja lebih effisien (DUDUNG,1990).

Rumah tangga di pedesaan dalam mempertahankan hidupnya sebagian besar tergantung pada usaha tani keluarga. Peran keluarga, terutama wanita (istri) merupakan tenaga kerja yang menentukan (RATNAWATI et al., 1999). Peran serta merupakan suatu proses menuju kemandirian dan melalui kemandirian ini, wanita bisa terlepas dari ketergantungan.

Menurut WAHYANA (1990), pengenalan teknologi baru telah mempengaruhi hubungan sosial antara pria dan wanita.

Berangkat dari latar belakang pola usaha beternak, maka perlu dilakukan kajian tentang tingkat produktivitas tenaga kerja wanita dan faktor–faktor yang mempengaruhi beternak ayam lokal secara intensif. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan pola kehidupan produktif dan tingkat keterampilan wanita dalam beternak, memahami masalah yang mereka alami serta net assessment dalam beternak serta menjelaskan akses dan kontrol wanita dalam

kepemilikan ternak, pendidikan dan modal usaha. Penelitian ini bermanfaaat untuk pemecahan masalah pembangunan di bidang peternakan.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2003 yang merupakan penelitian deskriptif. Kualitatif dipilihnya Kecamatan Ampel Gading Kabupaten Pemalang, karena daerah ini merupakan salah satu daerah pengembangan ayam lokal di Jawa Tengah.

Pengembangan ayam lokal di Kecamatan Ampel Gading di lima desa yaitu Desa Cibiyuk, Desa Ujunggede, Desa Karangtalok, Desa Belimbing dan Desa Kebagusan. Dari lima desa ini dipilih Desa Cibiyuk sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan:

Populasi ternak dan peternaknya paling banyak, intensitas beternak cukup tinggi, dan potensial sistem pemeliharaannya dengan sistem intensif.

Dua puluh keluarga peternak (istri) yang aktif dalam beternak ayam lokal sistem intensif dipilih secara acak sederhana, data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam dan observasi partisipasi untuk mendapatkan informasi tentang tingkat ketrampilan beternak, curahan waktu kerja dalam beternak, net assessment, faktor-faktor yang mempengaruhi dalam beternak serta akses dan kontrol dalam beternak. Untuk memperoleh data pola perilaku peternak secara umum dilakukan dengan metode FGD (Focus Group Disscussion).

Data sekunder diperoleh melalui kantor desa, instansi terkait dengan penelitian dan pustaka. Data sekunder meliputi keadaan penduduk, topografi daerah dan data penunjang lainnya. Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan data dianalisis secara deskriftif kualitatif disajikan dalam bentuk naratif.

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan umum daerah penelitian

Kecamatan Ampel Gading merupakan salah satu kecamatan dari 13 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pemalang. Kecamatan Ampel Gading terletak di wilayah Pembantu

(3)

Bupati Comal berjarak 21 km dari Ibukota Kabupaten. Luas daerah 5.329,578 ha dengan jumlah desa 16 desa terdiri dari 6 desa perkotaan dan 10 desa pedesaan. Desa Cibiyuk merupakan centra pengembangan ayam Lokal sistem intensif di Kecamatan Ampel Gading.

Desa Cibiyuk berjarak 3,5 km dari Kecamatan Ampel Gading dan 13 km dari Kabupaten Pemalang. Batas-batas wilayah Desa Cibiyuk adalah: Sebelah utara berbatasan dengan Jalan Raya Lintas pantura, Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Ampel Gading, Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Widodaren, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Ujunggede. Luas daerah Desa Cibiyuk adalah 142,706 ha terdiri dari 93.176 ha (65,29%) tanah sawah, 44,54 ha (31,21%) tanah kering dan sarana lain 4.985 ha (3,39%), sebagian besar tanah sawah ditanami padi dengan perairan teknis sehingga musim tanam dan panen dapat dilaksanakan sepanjang tahun.

Hal ini berarti bahwa dari segi ketersediaan pakan bagi ayam lokal akan selalu terjamin karena bekatul hasil sampingan tanaman padi cukup tersedia sepanjang tahun.

Jumlah penduduk Desa Cibiyuk 2779 jiwa terdiri dari laki-laki 1373 orang (49,4%) dan wanita 1406 orang (50,6%). Disini terlihat bahwa penduduk wanita lebih banyak dibandingkan laki-laki dan pada umumnya mereka yang sudah menikah hanya sebagai ibu rumah tangga. Adanya usaha ternak ayam lokal yang dikembangkan di desa ini dapat memberikan kegiatan yang bermanfaat bagi waktu luang ibu rumah tangga. Disamping itu mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Pengelompokan penduduk berdasarkan umur yaitu: umur <15 tahun (1025 jiwa) dan >16 tahun (1371 jiwa). Dilihat dari pengelompokan usia sebagian besar penduduk pada usia produktif. Hal ini menunjukkan Desa Cibiyuk potensial untuk pengembangan ayam lokal, karena usia produktif akan memberikan sumbangan besar untuk tenaga kerja yang dijalankan.

Tingkat pendidikan formal akan mempengaruhi setiap tekhnologi baru yang berkaitan dengan pengembangan ayam lokal.

Rendahnya tingkat pendidikan akan berakibat pada cara berfikir yang sederhana sehingga dapat menghambat adopsi teknologi baru yang dikenalkan.

Tingkat pendidikan formal penduduk Desa Cibiyuk masih rendah diatas 56,7% pada tingkat Sekolah Dasar sedangkan tidak sekolah atau belum sekolah mencapai 22,2%. Tingkat pendidikan formal yang rendah ini memungkinkan akan mempengaruhi daya terima terhadap teknologi baru yang diperkenalkan.

Mata pencaharian penduduk Desa Cibiyuk sebagian besar disektor pertanian, 20% mata pencaharian sebagai petani sedangkan 61,4%

sebagai buruh tani. Pada umumnya di Desa Cibiyuk menguasai lahan yang sempit 0,25 ha.

Buruh tani di Desa Cibiyuk bekerja dengan sistem bagi hasil sehingga pendapatan yang diperoleh hanya kecil dan perlu sumber pendapatan yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Petani Desa Cibiyuk memilih usaha beternak ayam lokal sistem intensif karena tidak membutuhkan tempat yang luas dan ayam lokal tidak asing lagi bagi penduduk Desa Cibiyuk karena beternak ayam lokal sudah dilakukan secara turun-temurun, walaupun sistem beternaknya masih dengan cara tradisional.

Populasi ternak di Desa Cibiyuk terbanyak adalah ayam lokal, hal ini dapat dimaklumi karena ayam lokal sudah dikenal sejak lama dan dari beternak ayam lokal ini memperoleh keuntungan yang cukup besar, ternak besar tidak terdapat di Desa Cibiyuk Hal ini disebabkan oleh pengolahan lahan pertanian dikerjakan dengan bantuan traktor. Selain itu tidak ada lahan untuk menggembalakan ternak.

Ternak kecil seperti kambing dan domba cukup diminati karena ternak kecil lebih mudah dijual dan modalnya tidak besar. Di Desa Cibiyuk, pemeliharaan itik telah mulai dijalankan secara intensif seperti ayam lokal walaupun skala usahanya masih kecil. Seperti halnya ayam lokal, usaha ini juga dijalankan sebagai usaha sampingan dari usaha bertani.

Identitas responden

Identitas responden meliputi umur, mata pencaharian, pengalaman beternak, tingkat pendidikan dan jumlah pemilikan ayam lokal.

Peternak yang terpilih dalam penelitian menunjukkan 100% termasuk usia produktif.

Berdasarkan usia, kesempatan untuk mengembangkan usaha peternakan ayam lokal

(4)

masih baik karena kemampuan fisik, pola berfikir maupun dalam bekerja masih dalam kondisi prima. Hal ini dapat diartikan bahwa tenaga kerja yang produktif akan lebih mampu mencurahkan tenaga secara optimal pada usaha yang dijalankan.

Mata pencaharian pokok suami (kepala keluarga) responden (90%) di sektor pertanian dan 10% di sektor non pertanian. Mereka yang bekerja di sektor pertanian 35% sebagai petani sedangkan 65% bekerja sebagai buruh tani.

Responden yang suaminya bekerja di sektor non pertanian bekerja sebagai pedagang dan karyawan pabrik. Sementara itu, 100%

responden bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Kenyataan bahwa sebagian besar suami adalah buruh tani, maka pemeliharaan ayam lokal sebagai usaha sampingan tentu dapat membantu sebagai sumber pendapatan mereka.

Selain itu karena responden tidak bekerja di luar rumah, usaha ayam lokal dapat untuk mengisi waktu luang dan dapat meningkatkan jiwa kemandirian serta ketrampilan wanita, selain dapat menambah pendapatan keluarga

Pengalaman beternak para responden sebagian besar 60% (<5 tahun) dan 40% (>5 tahun). Responden pada umumnya mulai tertarik pada pola pemeliharaan ayam lokal secara intensif sejak digalakkannya pengembangan ayam lokal dengan sistem intensif pada tahun 1996 yang disertai dengan pengucuran dana dari berbagai pihak di Kecamatan Ampel gading umumnya dan Desa Cibiyuk pada khususnya sebagai sentra pengembangan ayam lokal di Jawa Tengah. Di Desa Cibiyuk juga mendapat bantuan dari negara Jepang melalui proyek RRMC (Rice Rural Rearing Multication Center) yang telah berakhir pada awal tahun 2003.

Pendidikan responden sebagian besar 85%

pada tingkatan Sekolah Dasar dan yang sederajat sedangkan 15% sisanya berpendidikan SLTP. Rendahnya tingkat pendidikan akan menghambat adopsi inovasi baku. Dinas Peternakan menyikapi pendidikan peternak yang relatif rendah dengan melakukan penyuluhan melalui metode demonstrasi.

Tingkat kepemilikan peternak sebagian besar (90%) di bawah 300 ekor terdiri dari starter, grower dan layer.

Tingkat produktivitas tenaga kerja wanita Tingkat produktivitas diukur dari pola kerja produktif ibu (wanita) dalam penanganan tata laksana beternak sistem intensif dan waktu yang dicurahkan untuk beternak. Ayam yang diusahakan adalah ayam Kedu Murni dan Crossing Kedu Arab, diperoleh awalnya dari Kedu dan Kendal. Peternak telah mampu menghasilkan bibit dengan melakukan penetasan sendiri dengan bantuan mesin tetas berkapasitas 200−500 butir. Ayam yang menetas kemudian di sexing dan di culling untuk selanjutnya ditempatkan pada kandang DOC.

Pakan yang diberikan pada umumnya berupa campuran bekatul, konsentrat, tepung ikan dan jagung giling. Pemberian pakan dicampur dengan air untuk menghindari pakan yang tercecer. Sebagian besar pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pada jam 07.00 WIb dan pukul 14.00 WIB. Pada umumnya setiap ekor per hari membutuhkan 90–100 gram pakan.

Sementara itu, air minum diberikan secara terus-menerus kadang diberi vitamin dan mineral, penggantian air minum 2 kali sehari bersamaan pemberian pakan.

Kandang ayam lokal yang digunakan untuk periode starter menggunakan kandang postal sedangkan periode bertelur menggunakan kandang battery. Sementara itu, peternak yang mempunyai usaha pembibitan dilengkapi dengan kandang khusus yaitu kandang yang dilengkapi tempat bertelur dengan kapasitas 3–

5 ekor ayam betina, selain itu kandang dilengkapi umbaran dengan daya tampung 6 ekor ayam yaitu 1 ekor pejantan dan 5 ekor betina. Kandang yang dimiliki para responden pada umumnya terpisah dengan rumah tetapi ada juga yang berimpit dengan rumah.

Kandang terbuat dari bambu demikian juga tempat makan dan minum dari bambu yang dibelah dua dan ditempatkan membujur sepanjang sisi luar kandang battery.

Pencegahan penyakit dilaksanakan para responden dengan pembersihan tempat pakan dan minum setiap hari, pembersihan kandang dua minggu sekali dan pemberian vaksin.

Vaksinasi diberikan pada umur empat hari melalui tetes mata, selanjutnya diberikan lagi pada umur empat minggu yang diulang setiap

(5)

empat bulan sekali melalui suntikan pada dada dan paha. Jenis penyakit yang sering menyerang ayam lokal adalah ND dan Coccidiosis. Ayam yang sudah terserang penyakit biasanya diusahakan diobati dan selanjutnya dijual. Hasil yang dijual sebagian besar adalah telur konsumsi, bibit (DOC), ayam siap bertelur, ayam afkir dan kotoran ternak. Telur yang dipanen langsung dipasarkan melalui pedagang pengumpul atau langsung ke konsumen. Tujuan pemasaran adalah ke Desa Cibiyuk sendiri, Pemalang, Cirebon bahkan ada yang sampai Jakarta.

Semua responden melibatkan dua orang anggota keluarga dalam menjalankan usaha ternaknya yaitu suami isteri tetapi ada juga yang dibantu oleh anaknya. Hasil pengamtan dilapangan ada 6 kegiatan yang dilaksanakan oleh wanita dalam mengelola ayam lokal yaitu kegiatan memberikan pakan dan minum, pembersihan kandang, mencampur pakan, pengambilan telur, vaksinasi dan pemasaran.

Rata-rata curahan waktu kerja setiap hari bervariasi antara satu responden dengan responden lainnya. Hal ini tergantung dari tingkat ketrampilan dan jenis kegiatan yang dilakukan. Paling cepat waktu yang dicurahkan untuk bekerja di peternakan ayam lokal setiap hari antara 63−147 menit dengan pemilikan dibawah 300 ekor sampai lebih dari 300 ekor.

Mencampur bahan pakan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu rata–rata 32,5 menit.

pemberian pakan dan minum satu kali adalah 12,62 menit, membersihkan tempat minum dan makan rata–rata 6,43 menit. Pemasaran telur membutuhkan waktu antara 30-60 menit tergantung dari jarak sampai tempat pemasaran. Pengambilan telur dilaksanakan 2 kali sehari, rata–rata waktu yang dibutuhkan sekali pengambilan 6,5 menit, sedangkan kegiatan vaksinasi sebagian kecil yang dilakukan perempuan tetapi waktu yang dibutuhkan tidak terlalu banyak karena vaksinasi tidak dilaksanakan setiap hari tetapi hanya waktu tertentu saja. Rata-rata wanita/para ibu dalam 1 hari memerlukan waktu untuk beternak/memelihara ayam lokal 1,68 jam/hari ± 0,32.

Dilihat dari kehidupan produktif wanita di Desa Cibiyuk dalam mengelola ayam lokal tingkat produktivitasnya sudah cukup baik, hal ini ditunjukkan dari penanganan tata laksana beternak ayam lokal sudah cenderung

mendekati aturan/inovasi sistem intensif. Perlu diperhatikan adalah komposisi pakan, persentase bekatul masih tinggi. Produktivitas ayam lokal sangat dipengaruhi (80%) oleh pakan, oleh sebab itu pakan harus dijaga kualitasnya. Selain ransum, ayam lokal perlu secara periodik diberi hijauan segar secukupnya seperti daun pepaya, kangkung dan kecambah kacang hijau.

Faktor–faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja wanita

Faktor-faktor yang menghambat tingkat produktivitasnya adalah;

a. Beternak ayam lokal masih merupakan usaha sampingan sehingga keinginan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produktivitas kerja kurang maksimal.

b. Para peternak ayam lokal kurang tahan uji, apabila harga pakan tinggi, ayam terserang penyakit sehingga harga ayam menjadi rendah, para peternak menjadi malas untuk meneruskan usahanya.

c. Beberapa peternak lebih terfokus hanya untuk mendapatkan dana dari pemerintah ataupun swasta dalam program pengembangan, dibandingkan dengan keinginan untuk beternak ayam lokal.

d. Kurangnya modal untuk pengembangan usaha. Hal ini disebabkan karena sebagian besar mata pencahariannya sebagai buruh tani dengan pemilikan lahan yang relatif sempit.

Adapun faktor–faktor yang mendukung produktivitas tenaga kerja wanita adalah:

a. Kesadaran dan ketrampilan wanita untuk berusaha cukup tinggi dan sudah tergabung dalam kelompok.

b. Permintaan akan daging dan telur ayam lokal maupun bibit dari pasar lokal maupun daerah lain seperti Cirebon, Jakarta dan rumah makin terus meningkat.

c. Desa Cibiyuk terletak dekat jalan raya pantura sehingga memudahkan pemasaran dan pengadaan sarana produksi.

d. Adanya dukungan dari pimpinan wilayah setempat maupun dari pemerintah daerah dan instansi terkait dalam input teknologi.

(6)

Net assesment wanita dalam beternak ayam lokal sistem intensif adalah:

a. Penyuluhan khusus untuk wanita/isteri mengenai beternak ayam lokal untuk meningkatkan ketrampilan mereka dalam beternak, mengingat para wanita mempunyai banyak waktu luang sehingga memungkinkan pengelolaan ayam lokal dilakukan sepenuhnya oleh wanita.

b. Bantuan modal yang diperuntukkan/

diberikan khusus pada para wanita/istri bukan kepada kepala rumah tangga sehingga wanita mempunyai akses dan control yang lebih tinggi dalam beternak dan memupuk jiwa kemandirian.

c. Dihidupkan/diaktifkan kembali kelompok peternak ayam lokal wanita yang pernah ada untuk wadah komunikasi antar peternak

d. Untuk meningkatkan motivasi dalam beternak perlu diselenggarakan lomba ketrampilan beternak ayam lokal melalui kelompok secara kontinyu.

Akses dan kontrol wanita dalam beternak ayam lokal sistem intensif

Wanita di Desa Cibiyuk mempunyai akses yang tinggi dalam beternak ayam lokal secara intensif, hal ini dapat ditunjukkan dari semua wanita/istri melakukan kegiatan beternak, mulai dari mencampur bahan pakan, memberi pakan dan minum, membersihkan kandang, vaksinasi, pengambilan telur sampai dengan memasarkan hasil. Dalam hal pendidikan beternak melalui penyuluhan dari dinas terkait wanita/istri ini juga diikutsertakan. Adapun wanita di Desa Cibiyuk ini mempunyai kontrol yang cukup tinggi, walaupun usaha ternak ayam lokal sistem intensif merupakan tanggung jawab suami tetapi wanita/istri ikut dalam pengambilan keputusan baik dalam pemeliharaan maupun pemasaran hasil. Bahkan dalam tahun 2003 bantuan modal sebesar Rp. 20.000.000 untuk pengembangan ayam lokal diberikan kepada wanita yang tergabung dalam 2 kelompok.

Sehingga akses dan kontrol wanita di Desa Cibiyuk semakin tinggi.

KESIMPULAN

Hasil penelitian tentang tingkat produktivitas tenaga kerja wanita dan faktor- faktor yang mempengaruhinya pada peternakan ayam lokal sistem intensif di Kecamatan Ampel Gading kabupaten Pemalang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat produktivitas tenaga kerja wanita dilihat dari tingkat ketrampilan wanita dalam beternak ayam lokal secara intensif termasuk dalam kategori baik sedangkan pola kehidupan produktif masih belum optimal karena beternak ayam lokal masih sebagai usaha sambilan dengan skala usaha yang kecil. Waktu yang dicurahkan untuk beternak ayam lokal dalam satu hari rata–

rata 1,68 jam ± 0,32.

2. Faktor–faktor yang menghambat tingkat produktifitas wanita ialah kurangnya motivasi untuk mengembangkan usahanya, modal yang terbatas. Faktor–faktor yang mendukung adalah permintaan daging dan telur ayam lokal yang terus meningkat, adanya dukungan untuk input teknologi dari Pemerintah Daerah.

3. Wanita mempunyai akses dan kontrol yang tinggi dalam beternak ayam lokal baik dalam pemilikan, pendidikan dalam beternak maupun modal usaha.

DAFTAR PUSTAKA

BALAI INFORMASI PERTANIAN, 1986. Pengembangan Ayam Lokal di Jawa Tengah Hasil Temu Tugas Sub Sektor Peternakan. Bina Peternakan Propinsi Jawa Tengah.

DJATMIKO, A.M. dan SUGIHARTI. 1986. Beternak ayam kampung. PT Sungkat, Jakarta

DUDUNG, A.M. 1990. Memelihara Ayam Kampung Sistem Baterai. Penerbit Kanisius Yogyakarta.

RASYAF, M. 1993. Memelihara Ayam Lokal.

Penerbit Kanisius. Yogjakarta.

RATNAWATI, S. NELSON, H. KARIO dan T.S.

PANJAITAN. 1999. Tingkat partisipasi tenaga kerja wanita dalam usaha pemeliharaan ternak di NTT. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Viterimene Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Bogor. hlm. 684−690.

(7)

SANTOSO,WIBOWO dan E. JUARINI. 1991. Telaah finansial usaha ayam lokal di pedesaan. Pros.

Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional.

Fakultas Peternakan Jenderal Sudirman, Purwokerto. hlm. 76−81

WAHYANA. 1991. Tile Making in Java. Economic and political weekly (29) April WS 19-WS 33.

DISKUSI Pertanyaan:

Bagaimana tingkat produktivitas tenaga kerja pria, kenapa yang dibahas hanya tingkat produkdivitas tenaga kerja wanita?

Jawaban:

Karena memang di Pemalang hanya wanita yang berternak ayam lokal, 90% dari wanita di daerah tersebut hanya sebagai ibu rumah tangga yang lebih banyak berada di rumah.

Referensi

Dokumen terkait

Bidang Pendaftaran, Ekstensifikasi, dan Penilaian mempunyai tugas melaksanakan bimbingan dan pemantauan pelaksanaan kebijakan teknis pendaftaran, melaksanakan bimbingan

Adanya galur mutan yang memiliki kadar gula batang lebih manis dibandingkan tetua, hal ini terlihat bahwa perlakuan radiasi gamma dapat memperbaiki sifat gula batang

Walaupun Nabi Musa (a.s) diberi mukjizat tongkat sakti dan merupakan seorang rasul yang diberi anugerah oleh Allah dapat bercakap dengan Allah tanpa ada perantaraan , namun

Bahan-bahan hukum yang diperoleh akan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif, khususnya dalam hasil analisis dari pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan

Adalah merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. Apabila perusahaan ingin

Pemberian ekstrak etanol kulit manggis (Garcinia mangostana) peroral menghambat penurunan testosteron total pada tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang dipapar

Menurut Ramaiah (2006) bahwa salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri disminore adalah melakukan aktifitas olahraga. Beberapa latihan dapat meningkatkan

Salah satu keyakinan masih dapat tumbuh kemungkinan ISAT akan menaikkan harga dan mengurangi bonus-bonus yang dilakukan pada saat ini.. Rencana itu sudah berlangsung sejak dua