• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Obyek Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang paling dominan digunakan dalam pertimbangan penilai properti di Surabaya. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner. Responden pada penelitian ini adalah penilai di Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang sudah bekerja sekurang-kurangnya 1 tahun.

Berdasarkan data dari 133 responden, didapat melalui kuisioner yang dibagikan diperoleh data responden berdasarkan usia, lama ia bekerja sebagai penilai, jenis keanggotaan pada MAPPI, posisi di KJPP, sudah menjadi penilai publik atau belum serta pendapatan yang diperoleh perbulan. Dibawah ini akan dijelaskan deskripsi profil responden dan jawaban responden pada variable- variabel penelitian.

Tabel 4.1. Karakteristik Responden

Karakteristik Responden

Belum Memiliki Ijin Penilai

Penilai Properti Sederhana

Penilai

Properti Total

Jenis Kelamin :

Pria 72 21 30 123

Wanita 5 1 4 10

77 22 34 133

Usia :

20 - 25 tahun 12 3 5 20

26 - 30 tahun 34 7 6 47

31 - 35 tahun 12 5 12 29

36 - 40 tahun 7 4 7 18

41 - 50 tahun 10 1 4 15

> 50 tahun 2 2 - 4

77 22 34 133

(2)

Lanjutan Tabel 4.1. Karakteristik Responden

Karakteristik Responden

Belum Memiliki Ijin Penilai

Penilai Properti Sederhana

Penilai

Properti Total

Lama Berprofesi :

1 - 2 tahun 24 4 7 35

2 - 3 tahun 18 5 8 31

3 - 4 tahun 13 3 5 21

4 - 5 tahun 5 1 2 8

> 5 tahun 17 9 12 38

77 22 34 133

Jenis Keanggotaan di

MAPPI :

Anggota Afiliasi 10 4 2 16

Anggota Peserta 55 14 24 93

Anggota Terakreditasi 12 2 1 15

Anggota Bersertifikat - 2 7 9

77 22 34 133

Posisi di KJPP :

Surveyor 36 11 10 57

Staf Penilai 40 7 19 66

Kepala Cabang 1 1 2 4

Partner - 3 3 6

77 22 34 133

Penilai Publik :

Penilai Publik 10 14 12 36

Bukan Penilai Publik 67 8 22 97

77 22 34 133

Pendapatan :

Rp.3.500.000 s/d

Rp.4.500.000 65 18 22 105

Rp.4.500.001 s/d

Rp.5.500.000 7 2 4 13

Rp.5.500.001 s/d

Rp.6.500.000 2 2 2 6

> Rp.6.500.000 3 - 6 9

77 22 34 133

(3)

4.1.1 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin responden, bisa dilihat dalam gambar 4.1 bahwa presentase terbesar berada pada jenis kelamin pria yaitu 92% dan jenis kelamin wanita yang 8% atau hanya ada 10 orang penilai wanita dari 133 penilai.

Kepemilikan ijin penilai yaitu 77 orang belum memiliki ijin penilai, 22 orang merupakan penilai properti sederhana dan 34 orang sudah menjadi penilai properti. Mayoritas penilai bekerja di KJPP namun banyak yang belum memiliki ijin penilaian dan berdampak pada terbatasnya jenis aset yang bisa dinilai.

Gambar 4.1. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

4.1.2 Profil Responden Berdasarkan Usia

Berdasarkan usia responden, jumlah terbesar berada pada kisaran usia 26- 30 tahun yaitu sebanyak 35 persen atau 47 responden dari total 133 responden dan jumlah terendah berada pada kisaran usia >50 tahun yaitu sebanyak 3% atau hanya 4 responden saja. Sisanya yaitu kisaran usia 20-25 tahun sebanyak 15%

atau 20 responden, kisaran usia 31-35 tahun sebanyak 22% atau 29 responden, kisaran usia 36-40 tahun sebanyak 14% atau 18 responden dan kisaran usia 41-50 tahun sebanyak 11% atau 15 orang. Usia bukan merupakan faktor utama seorang penilai sudah memiliki ijin penilaian atau belum, bisa dilihat pada rentang usia

Pria 92%

Wanita 8%

Jenis Kelamin

(4)

hasil bahwa dari 4 orang penilai 2 orang belum memiliki ijin penilaian.

Sedangkan ijin penilai properti terbanyak dimiliki penilai dalam rentang usia 31- 35 tahun yaitu sebanyak 12 orang.

Gambar 4.2. Profil Responden Berdasarkan Usia

4.1.3 Profil Responden Berdasarkan Lama Berprofesi Sebagai Penilai Dari total 133 responden, sebanyak 29% sudah berprofesi sebagai penilai lebih dari 5 tahun, atau sebanyak 38 orang. Sisanya yaitu sebanyak 26% atau 35 responden telah berprofesi sebagai penilai selama rentang waktu 1-2 tahun, sebanyak 23% atau 31 responden berprofesi sebagai penilai selama rentang waktu 2-3 tahun, sebanyak 16% atau 21 responden berprofesi sebagai penilai selama rentang waktu 3-4 tahun dan 8 responden atau 6% dari total 133 responden telah berprofesi sebagai penilai selama 4-5 tahun. Kebanyakan penilai yang baru bekerja selama 1-2 tahun belum memiliki ijin penilai, dari hasil penelitian bisa dikatakan bahwa lebih lama seseorang berprofesi sebagai penilai maka kebutuhan untuk mendapatkan ijin penilaian semakin besar dan bisa dilihat dari jumlah

20 - 25 tahun 15%

26 - 30 tahun

35%

31 - 35 tahun 22%

36 - 40 tahun 14%

41 - 50 tahun 11%

> 50 tahun

3%

Usia

(5)

Gambar 4.3. Profil Responden Berdasarkan Lama Berprofesi Sebagai Penilai

4.1.4 Profil Responden Berdasarkan Jenis Keanggotaan di MAPPI

Berdasarkan jenis keanggotaan di MAPPI, responden yang merupakan anggota peserta memiliki jumlah terbanyak yaitu 70% atau sebanyak 93 responden. Sedangkan responden yang sebagai anggota bersertifikat memiliki jumlah terendah yaitu hanya 7% atau 9 responden dari total 133 total responden.

Sisanya merupakan anggota afiliasi sebanyak 12% atau 16 responden dan anggota terakreditasi sebanyak 11% atau 15 responden. Kebanyakan anggota peserta di MAPPI dengan jumlah 55 responden belum memiliki ijin penilaian dan masih melakukan penilaian sesuai tugas yang diberikan oleh KJPP atau dengan kata lain memiliki keterbatasan lingkup objek penilaian. Dari 9 orang yang merupakan anggota bersertifikat 7 diantaranya sudah merupakan penilai properti dan 2 sisanya merupakan penilai properti sederhana, maka semakin tinggi keanggotaan penilai seharusnya penilai telah memiliki ijin penilaian.

1 - 2 tahun

26%

2 - 3 tahun

23%

3 - 4 tahun 16%

4 - 5 tahun 6%

> 5 tahun

29%

Lama Berprofesi Sebagai Penilai

(6)

Gambar 4.4. Profil Responden Berdasarkan Keanggotaan di MAPPI

4.1.5 Profil Responden Berdasarkan Posisi di KJPP

Berdasarkan posisinya di KJPP responden dengan posisi sebagai staff penilai memiliki jumlah terbanyak yaitu 50% atau 66 responden, diikuti oleh responden dengan posisi sebagai surveyor sebanyak 43% atau 57 responden, sebanyak 4% atau 6 responden termasuk sebagai partner dan 3% dari total 133 responden atau 4 responden merupakan kepala cabang. Bisa dilihat bahwa surveyor dan staff penilai merupakan posisi terendah di KJPP dan dalam posisi ini kebanyakan penilai belum memiliki ijin penilaian. Tetapi belum tentu juga tidak ada yang memiliki ijin penilaian, dibuktikan bahwa dari total 57 orang anggota surveyor ada 11 orang yang memiliki ijin penilaian properti sederhana dan 10 orang yang telah memiliki ijin penilaian properti, serta dari 66 staff penilai 7 orang telah memiliki ijin penilaian properti sederhana dan 19 orang memiliki ijin penilaian properti. Posisi tertinggi di KJPP merupakan partner, yaitu 6 orang penilai dari total 133 responden dan tidak ada yang belum memperoleh ijin penilaian.

Anggota A;iliasi

12%

Anggota Peserta 70%

Anggota Terakreditasi

11%

Anggota Berserti;ikat

7%

Jenis Keanggotaan di MAPPI

(7)

Gambar 4.5. Profil Responden Berdasarkan Posisi di KJPP

4.1.6 Profil Responden Berdasarkan Sertifikasi Penilai Publik

Berdasarkan kedudukannya sebagai penilai publik atau bukan telah diperoleh data bahwa 27% dari 133 total responden atau sebanyak 36 responden sudah penilai publik dan sisanya 73% atau sebanyak 97 responden belum menjadi penilai publik. Penelitian ini juga menunjukan bahwa sebanyak 22 orang penilai yang belum menjadi penilai publik tetapi telah memiliki ijin penilai sebagai penilai properti. Ada juga yang merupakan penilai publik namun belum memiliki ijin penilai yaitu sebanyak 10 orang, dengan demikian ada atau tidaknya predikat sebagai penilai publik tidak menjamin seorang penilai memiliki ijin penilaian.

Surveyor 43%

Staf Penilai 50%

Kepala Cabang 3%

Partner 4%

Posisi di KJPP

(8)

Gambar 4.6. Profil Responden Berdasarkan Sertifikasi Penilai Publik

4.1.7 Profil Responden Berdasarkan Pendapatan

Berdasarkan jumlah pendapatan perbulan yang didapat oleh responden sebanyak 79% atau 105 responden memperoleh di kisaran Rp.3.500.000- Rp.4.500.000, sebanyak 10% atau 13 responden memperoleh pendapatan di kisaran Rp.4.500.001-Rp.5.500.001, sebanyak 6 responden atau 4% dari total 133 responden memperoleh penghasilan perbulan di kisaran Rp.5.500.001- Rp.6.500.000 dan sisanya sebanyak 7% atau 9 responden memperoleh pendapatan perbulan lebih dari Rp.6.500.000. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa semakin tinggi jabatan di KJPP dan ijin penilaian yang dimiliki semakin besar juga pendapatannya perbulan, dilihat dari 9 responden dengan pendapatan lebih dari Rp.6.500.000 6 diantaranya merupakan penilai properti dan merupakan partner serta kepala cabang.

Penilai Publik 27%

Bukan Penilai Publik

73%

Penilai Publik

(9)

Gambar 4.7. Profil Responden Berdasarkan Pendapatan

4.2. Uji Validitas

Tabel 4.2. Uji Validitas

Faktor - Faktor Heuristik Variabel Pearson Correlation

Sig. (2- tailed)

Representative Heuristic

RH_1 0,660 0,000

RH_2 0,681 0,000

RH_3 0,520 0,000

RH_4 0,592 0,000

RH_5 0,714 0,000

Availability Heuristic

AH_1 0,762 0,000

AH_2 0,747 0,000

AH_3 0,667 0,000

AH_4 0,630 0,000

AH_5 0,695 0,000

Anchoring and Adjustment Heuristic

AAH_1 0,878 0,000

AAH_2 0,880 0,000

AAH_3 0,729 0,000

AAH_4 0,694 0,000

AAH_5 0,662 0,000

Positivity Heuristic

PH_1 0,684 0,000

PH_2 0,664 0,000

Rp.3.500.000 - Rp.4.500.000

79%

Rp.4.500.001 - Rp.5.500.000

10%

Rp.5.500.001 - Rp.6.500.000

4%

> Rp.6.500.000 7%

Pendapatan

(10)

Uji Validitas bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan mampu mengukur apa yang hendak diukur atau dengan kata lain validitas menunjukan ketepatan item-item pernyataan dalam kuesioner. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Pearson dalam mengukur valid atau tidaknya pertanyaan pada kuisioner dengan cara mengkorelasikan skor jawaban yang diperoleh pada masing-masing item dengan skor total dari keseluruhan item.

Suatu instrumen dikatakan valid apabila hasil pearson correlation bernilai positif dan hasil Sig. (2-tailed) < α 0,05. Dari hasil kuisioner yang diperoleh, telah diuji dan terbukti bahwa semua butir pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah valid karena memiliki nilai pearson correlation positif dan Sig. (2-tailed) <

α 0,05. Maka dapat dikatakan bahwa semua pertanyaan dapat mengukur Representative Heuristic, Availability Heuristic, Anchoring and Adjustment Heuristic dan Positivity Heuristic.

4.3. Uji Reliabilitas

Setelah semua data valid maka dilanjutkan dengan uji reliabilitas. Uji reliabilitas betujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data yang konsisten dan tidak bersifat tendensius. Kriteria alat ukur dinyatakan reliable adalah jika Alpha Cronbach >

0,6 dan hasil pengukuran Alpha Cornbach < 0,6 berarti tidak reliable (Kountur, 2007). Berdasarkan tabel 4.3 dibawah ini bisa dilihat bahwa variabel Representative Heuristic, Availability Heuristic, Anchoring and Adjustment Heuristic dan Positivity Heuristic memiliki Cronbach Alpha > 0,6 sehingga variabel-variabel tersebut dinyatakan reliabel.

Tabel 4.3. Uji Reliabilitas

Faktor - Faktor Heuristik Cronbach Nilai

(11)

4.3.1 Mean

Dalam uji reliabilitas terhadap 133 hasil kuisioner diperoleh rata-rata atau yang disebut dengan mean sebagai berikut :

Tabel 4.4. Mean Variabel Mean

RH1 4.067

RH2 4.015

RH3 4.030

RH4 4.225

RH5 4.090

AH1 3.887

AH2 4.300

AH3 3.797

AH4 4.000

AH5 4.173

AAH1 1.744

AAH2 1.774

AAH3 2.233

AAH4 2.759

AAH5 1.947

PH1 4.052

PH2 3.661

PH3 4.270

PH4 4.398

PH5 3.827

4.4. Analisa Faktor

Berikut akan dijelaskan hasil analisa faktor terhadap faktor-faktor heuristik yaitu, Representative Heuristic, Availability Heuristic, Anchoring and

(12)

4.4.1 Barlett’s Test dan Keiser Meyer Olkin (KMO)

Dari tabel 4.5 diketahui nilai signifikansi yang dihasilkan Barlett’s Test sebesar 0,000 yang berarti kurang dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang baik pada 20 faktor, sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

Tabel tersebut juga menunjukan nilai KMO sebesar 0,651 lebih besar dari 0,5 sehingga bisa diartikan 133 responden dalam penelitian telah layak untuk dilakukan analisa selanjutnya. Hasil pengelolahan data juga menunjukan nilai anti image correlation semua faktor lebih besar dari 0,5.

Tabel 4.5. Barlett’s Test dan Nilai KMO

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy 0.651 Barlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 1199,415

Df 190

Sig. 0.000

4.4.2 Determinant of Correlation Matrix dan Anti Image Correlation

Matrik korelasi dapat dikatakan memiliki keterkaitan antar variabel apabila determinan memiliki nilai dibawah 1. Hasil perhitungan menunjukan hasil Determinant of Correlation Matrix = 0,6, maka matrik korelasi antar variabel saling terkait. Dalam pengujian Measures of Sampling Adequacy (MSA) menunjukan pengujian terhadap 20 variabel menghasilkan Anti Image Correlation yang ditandai dengan huruf “a” diharuskan memiliki standar nilai diatas 0,5.

Dapat dilihat dari tabel 4.6.

(13)

Tabel 4.6. Measures of Sampling Adequacy (MSA)

Variabel Anti Image Correlation

Measures of Sampling Adequacy (MSA) Standard

Keterangan

RH_1 0.562 0.5 Memenuhi

RH_2 0.675 0.5 Memenuhi

RH_3 0.643 0.5 Memenuhi

RH_4 0.625 0.5 Memenuhi

RH_5 0.65 0.5 Memenuhi

AH_1 0.622 0.5 Memenuhi

AH_2 0.648 0.5 Memenuhi

AH_3 0.676 0.5 Memenuhi

AH_4 0.536 0.5 Memenuhi

AH_5 0.558 0.5 Memenuhi

PH_1 0.611 0.5 Memenuhi

PH_2 0.633 0.5 Memenuhi

PH_3 0.667 0.5 Memenuhi

PH_4 0.66 0.5 Memenuhi

PH_5 0.677 0.5 Memenuhi

AAH_1 0.647 0.5 Memenuhi

AAH_2 0.646 0.5 Memenuhi

AAH_3 0.863 0.5 Memenuhi

AAH_4 0.724 0.5 Memenuhi

AAH_5 0.716 0.5 Memenuhi

(14)

4.4.3 Penentuan Jumlah Faktor

Untuk menentukan jumlah faktor yang terbentuk digunakan eigen value dan cumulative variance. Masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 4.7. Total Variance

Com

Initian Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings

Rotation Sums of Squared Loadings Total % of

Var

Cum

% Total % of Var

Cum

% Total % of Var

Cum

% 1 3.502 17.508 17.508 3.502 17.508 17.508 3.101 15.505 15.505 2 2.668 13.338 30.846 2.668 13.338 30.846 2.689 13.445 28.950 3 2.581 12.906 43.753 2.581 12.906 43.753 2.586 12.931 41.881 4 1.894 9.469 53.222 1.894 9.469 53.222 2.268 11.341 53.222 5 1.220 6.098 59.320

6 1.096 5.481 64.801 7 0.977 4.886 69.687 8 0.852 4.258 73.945

9 0.761 3.807 77.752

10 0.736 3.682 81.433

11 0.660 3.302 84.735

12 0.553 2.763 87.499

13 0.521 2.607 90.106

14 0.455 2.275 92.381

15 0.403 2.015 94.396

16 0.357 1.783 96.179

17 0.301 1.505 97.684

18 0.237 1.183 98.866

(15)

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui 4 komponen dengan eigen value terbesar.

Dari tabel tersebut juga bisa dilihat cumulative variance. Cumulative variance digunakan untuk mengukur validitas faktor-faktor yamng digunakan saat penelitian. Faktor-faktor tersebut dikatakan dapat mewakili keseluruhan penelitian jika memiliki cumulative variance > 50%. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pengelompokan faktor memiliki cumulative variance sebesar 53,223%, yang berarti faktor-faktor tersebut telah mewakili keseluruhan data penelitian.

4.4.4 Factor Loadings

Tabel 4.8. Rotated Component Matrix

Variabel Component

1 2 3 4

AAH_2 0.906 0.038 -0.014 -0.192

AAH_1 0.903 0.029 -0.022 -0.196

AAH_3 0.691 0.082 0.059 -0.184

AAH_5 0.662 0.051 0.135 0.144

AAH_4 0.616 0.064 -0.032 -0.015

PH_5 0.068 0.833 0.038 -0.016

PH_4 0.139 0.808 -0.035 0.144

PH_1 -0.05 0.751 0.08 0.062

PH_3 0.171 0.62 -0.164 0.085

PH_2 -0.036 0.52 0.025 -0.34

AH_1 0.137 -0.107 0.75 -0.109

AH_2 -0.024 0.053 0.733 0.22

AH_5 -0.149 0.061 0.712 0.063

AH_3 0.07 0.085 0.67 -0.121

AH_4 0.093 -0.195 0.587 0.076

RH_5 0.04 -0.124 -0.157 0.767

RH_1 -0.135 0.034 0.106 0.688

RH_2 -0.031 0.059 -0.161 0.644

RH_4 -0.184 0.155 0.121 0.514

RH_3 -0.059 -0.028 0.219 0.407

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dibuktikan bahwa 4 faktor semula kembali mengelompok dalam kategorinya masing-masing. Tabel 4.9 dibawah ini diketahui

(16)

yang layak masuk ke dalam pengelompokan faktor-faktor heuristik tersebut karena memiliki factor loadings > 0.5.

Tabel 4.9. Pengelompokkan Faktor Faktor Faktor

Heuristik

Factor Loadings

% Variance

AAH_2 0.906

17.508

AAH_1 0.903

AAH_3 0.691

AAH_5 0.662

AAH_4 0.616

PH_5 0.833

13.338

PH_4 0.808

PH_1 0.751

PH_3 0.620

PH_2 0.520

AH_1 0.750

12.906

AH_2 0.733

AH_5 0.712

AH_3 0.670

AH_4 0.587

RH_5 0.767

9.469

RH_1 0.688

RH_2 0.644

RH_4 0.514

RH_3 0.407

(17)

4.4.5 Interpretasi Faktor

1. Faktor 1 atau Anchoring and Adjustment Heuristic

Faktor 1 ini memiliki eigen value 3,502 dengan presentase variance sebesar 17,508%. Hal ini berarti faktor 1 memberikan kontribusi sebesar 17,508%

terhadap pengambilan keputusan penilai properti.

Faktor 1 meliputi :

a. AAH_2 : Dengan memiliki patokan nilai yang akan dikeluarkan, proses adjustment sering diabaikan

b. AAH_1 : Mengembangkan proses penilaian dari data yang didapat pertama kali

c. AAH_3 : Menentukan patokan nilai dari hasil penilaian sebelumnya untuk digunakan pada penilaian saat ini

d. AAH_5 : Memperkirakan hasil penilaian terlebih dahulu sebelum melakukan metode perhitungan yang seharusnya

e. AAH_4 : Menentukan indikasi nilai pasar berdasarkan pengamatan sesaat pada waktu inspeksi

2. Faktor 2 atau Positivity Heuristic

Faktor 2 memiliki eigen value 2,668 dengan presentase variance sebesar 13,338%. Hal ini berarti Positivity Heuristic memberikan kontribusi sebesar 13,338% terhadap pengambilan keputusan dalam proses penilaian properti.

Faktor 2 meliputi :

a. PH_5 : Memilik persyaratan khusus sebelum menyetujui melakukan penilaian

b. PH_4 : Melakukan penilaian properti yang sesuai dengan kompentensi diri sendiri saja

c. PH_1 : Menggunakan asumsi-asumsi dalam melakukan penilaian d. PH_3 : Memiliki kepercayaan diri atas kemampuan diri sendiri dalam

melakukan proses penilaian

(18)

3. Faktor 3 atau Availability Heuristic

Faktor 3 memiliki eigen value sebesar 2,581 dengan presentase variance sebesar 12,906%. Hal ini membuktikan bahwa faktor 3 memberikan kontribusi sebesar 12,906% terhadap setiap pengambilan keputusan penilai properti.

Faktor 3 meliputi :

a. AH_1 : Menilai properti saat ada data lengkap dari properti tersebut b. AH_2 : Menilai sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI) c. AH_5 : Menggunakan data-data yang menunjukan harga pasar rata-rata

disekitar objek

d. AH_3 : Menggunakan harga transaksi properti sebagai satu-satunya sumber data

e. AH_4 : Menggunakan data yang tersedia saat melakukan penilaian properti

4. Faktor 4 atau Representative Heuristic

Faktor 4 memiliki eigen value sebesar 1,894 dengan presentase variance sebesar 9,469%. Hal ini membuktikan bahwa faktor 4 memberikan kontribusi sebesar 9,469% terhadap setiap pengambilan keputusan penilai properti dan angka tersebut merupakan yang terkecil diantara faktor-faktor heuristik lain.

Faktor 4 meliputi :

a. RH_5 : Menggunakan bantuan tenaga ahli lain dalam melakukan penilaian yang tidak sesuai dengan kompetensi

b. RH_1 : Menilai properti pada daerah yang kurang dikenal karena memiliki pengalaman yang hampir sama dengan properti yang berbeda c. RH_2 : Menggunakan data primer sebagai sumber data

d. RH_4 : Menggunakan data masa lalu untuk dibandingkan dengan data saat ini

e. RH_3 : Menilai properti seperti yang sudah pernah dinilai sebelumnya

(19)

4.5. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan penyebaran kuisioner, didapatkan hasil bahwa faktor-faktor heuristik menjadi salah satu pertimbangan dalam diri penilai saat melakukan penilaian.

Pertimbangan yang dilakukan merupakan dorongan atas suatu sifat yang tanpa disadari muncul karena adanya kebiasaan dan pengulangan kejadian secara terus- menerus. Kejadian tersebut bisa berupa kasus-kasus tertentu yang pernah dihadapi penilai dalam beberapa kesempatan, sehingga penilai menjadi terbiasa dan sudah mengerti sela atau dapat mencari jalan keluar terbaik karena sudah pernah menghadapi kejadian serupa. Dampaknya berupa munculnya patokan yang diterapkan penilai dalam proses penilaian yang sedang dihadapi dan yang akan dihadapi dikemudian hari.

Dalam penelitian ini penulis mengambil responden yang sudah tergabung dalam MAPPI dan minimal merupakan anggota afiliasi. Dari hasil analisa yang telah dilakukan, dapat dibuktikan bahwa Anchoring and Adjustment Heuristic merupakan faktor dominan dalam diri penilai. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas penilai dalam melakukan proses penilaian sudah membuat patokan terlebih dahulu yang berasal dari kejadian atau kasus serupa yang pernah mereka alami. Patokan atau standar yang dibuat juga didukung oleh informasi terbaru yang diperoleh penilai, informasi tersebut biasanya akan disesuaikan lagi dengan kebutuhan penilai dalam proses penilaian. Informasi yang didapat biasanya berupa data penilaian terdahulu yang disesuaikan dengan objek penilaian saat ini, biasanya tidak selalu sama karena jenis properti yang berbeda- beda namun penilai seringkali juga membandingkan lebih dari 1 properti. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kebanyakan penilai sudah memperkirakan nilai sebelum melakukan metode perhitungan yang seharusnya, biasanya terjadi pada waktu inspeksi. Dari penjelasan tersebut berarti dalam hasil melakukan proses penilaian, mayoritas penilai memiliki kecenderungan untuk menentukan patokan nilai terlebih dahulu. Kecenderungan penilai tersebut termasuk dalam Anchorimng and Adjustment Heuristic.

(20)

terdiri dari hal-hal yang berasal dari dalam diri penilai masing-masing. Dalam proses penilaian kebanyakan penilai memiliki spesifikasi khusus sebelum melakukan penilaian. Disamping itu penilai juga memiliki kecenderungan untuk menilai jenis properti yang mereka sudah familiar, atau bisa dikatakan kebanyakan penilai memilih untuk menghindari resiko salah dalam menilai.

Penilaian yang dilakukan penilai berdasarkan positivity heuristic juga seringkali dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang dibuat oleh penilai sendiri. Kebanyakan dari penilai yang memiliki kecenderungan demikian melakukan pendekatan pasar sebelum melakukan penilaian, karena mereka harus membuktikan sendiri agar percaya bahwa asumsi yang mereka lakukan tidak salah. Tetapi permasalahan yang sering terjadi adalah asumsi penilai satu dengan yang lain seringkali berbeda dan asumsi tersebut tidak ada standar kebenarannya.

Dalam peneitian ini, factor loadings ketiga setelah Positivity Heuristic adalah Availability Heuristic atau suatu kebiasaan penilai yang mencari informasi terbaru untuk sebagai pendukung dalam melakukan penilaian. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa penilai melakukan penilaian ketika data yang dibutuhkan sudah lengkap, penilai beranggapan informasi atau data tersebut merupakan modal dasar dalam melakukan penelitian. Penilaian yang dilakukan penilai menggunakan standar yang diterapkan terhadap semua penilai yaitu Standar Penilaian Indonesia (SPI), didalamnya terdapat kode etik yang harus diterapkan serta tahap-tahap dalam melakukan penelitian. Kebanyakan penilai menggunakan informasi harga pasar rata-rata disekitar objek penilaian, karena penilai merasa lebih mudah untuk dijadikan pembanding. Selain itu harga transaksi properti juga digunakan penilai dalam menentukan hasil penilaian, ada juga penilai yang hanya menggunakan harga transaksi tersebut dan menyebabkan ketidaksesuaian dengan hasil penilaian yang sebenarnya. Hasil bias yang seringkali muncul adalah disebabkan oleh data yang digunakan belum bisa dibuktikan keakuratannya, serta setiap penilai memiliki sumber data yang

(21)

pertimbangan dalam penilaian properti. Dari hasil penelitian, kebanyakan penilai menggunakan bantuan tenaga ahli lain dalam melakukan penilaian yang dirasa penilai sendiri kurang berkompeten. Penilai juga seringkali menyetujui untuk menilai properti seperti yang pernah mereka nilai sebelumnya, jadi dengan jenis properti yang sejenis penilai merasa lebih bisa menentukan nilai yang sesuai.

Informasi yang didapat penilai juga dibandingkan dengan kasus yang sedang dihadapi, makan pengalaman masa lalu mengenai pemecahan masalah. Tetapi seringkali data yang digunakan tidak sesuai dengan properti yang akan dinilai, dan jika hal ini menjadi kebiasaan makan hasil yang bias bukan tidak mungkin untuk muncul.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pelaksaan PPL selalu melakukan konsultasi baik dengan guru maupun dengan pembimbing lapangan (DPL) sebelum maupun setelah melaukan praktik mengajar agar

Kriteria intelectual stimulating pada perilaku kepemimpinan meliputi 6 sub kriteria yaitu mendorong tim kerja untuk memikirkan ide-ide baru, membuat tim kerja mampu melihat

Dugaan subdivisi genetik pada populasi ikan ini juga didukung oleh data frekuensi ha- plotipe; frekuensi dua jenis haplotipe yang pa- ling sering muncul (ABA dan ABB), pada po-

Variabel independen yaitu sistem informasi akuntansi manajemen, penulis mengambil nilai tertinggi (5) dan untuk nilai terendah (1) dikalikan banyaknya pertanyaan

Karakteristik yang diteliti meliputi jumlah pekerja tetap, hari orang pekerja harian, balas jasa dan upah, nilai pekerjaan konstruksi yang diselesaikan, kondisi

Adanya rancangan temperature control system diharapkan dapat menjaga kestabilan temperatur kecap sehingga aliran dalam pipa lancar dengan tetap menjaga kualitas produk kecap

Tahap memberchek, setelah data diperoleh di lapangan, baik melalui observasi, wawancara ataupun studi dokumentasi, dan responden telah mengisi data kuesioner, serta

Selanjutnya untuk dapat merancang program pelatihan seperti terrsebut diatas diperlukan langkah langkah sebagai penjabaran dari manajemen pelatihan/diklat yang merupakan