Inclusively Creative: Peran Bank Indonesia dalam pengembangan Ekonomi Digital dan Teknologi Finansial
Dias Satria1
Daftar Isi
Daftar Isi ... 2
Pendahuluan ... 3
Perkembangan Ekonomi Digital dan Tekfin ... 4
Highlights: E Commerce Indonesia ... 7
Highlights: Teknologi finansial ... 12
Isu dan Tantangan kedepan ... 18
Isu dan tantangan tenaga kerja ... 18
Tekfin dan Sistem Pembayaran... 18
Ekonomi digital dan UMKM ... 19
Strategi kedepan (Inclusively creative): Infrastruktur, Kebijakan, Riset dan Teknologi ... 21
Pendahuluan
Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan inovasi dalam teknologi informasi “internet of things” memberikan dampak yang luas bagi perekonomian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Perkembangan ini mampu menciptakan sebuah model bisnis dan pelaku ekonomi baru yang sangat dinamis, sehingga mampu menggeser praktik-praktik ekonomi tradisional yang eksis sebelumnya.
Perkembangan ekonomi digital dan tekfin di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat didorong permintaan lokal yang sangat besar serta pemain-pemain lokal yang baru.
Masalah mendasar ekonomi Indonesia, antara lain:
1. Ekonomi Indonesia masih termarginalisasi dalam rantai nilai global (Global value chain)
1. Tingginya biaya logistik (transportasi).
2. Inovasi dan teknologi yang rendah.
3. Ekonomi yang terfragmentasi.
2. Rendahnya produktivitas dan daya saing.
Kedepan tidak bisa tergantung dari kekayaan alam (Gas, Batu Bara dll).
Kedepan tidak bisa tergantung dari tenaga kerja yang murah.
Perkembangan ekonomi digital dan tekfin yang pesat tentu harus diimbangi dengan instrument dan strategi kebijakan yang tepat agar mampu memberikan multiplier yang luas, khususnya bagi pengembangan bisnis-bisnis lokal (UMKM).
Hal inilah yang menjadi bahasan kali ini, khususnya dalam menakar Peran Bank Indonesia dalam mendorong perkembangan Ekonomi Digital dan Tekfin khususnya dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Perkembangan Ekonomi Digital dan Tekfin
Berdasarkan data yang dilansir oleh World Bank, Jumlah populasi Indonesia mencapai 261,12 juta jiwa dengan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) sebesar 5%
pertahun. Pertumbuhan GDP tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan sektor perbankan sebesar 48,9% dan pinjaman yang dilakukan oleh masyarakat paada institusi/lembaga keuangan sebesar 17,2%.
Terkait dengan penggunaan sosial media dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia memiliki penetrasi sebesar 40% atau sekitar 130 juta penduduk yang aktif menggunakan sosial media dengan total mobile subscription sebesar 415,7 juta.
Penggunaan sosial media tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya jaringan atau koneksi internet yang memadai. Internet merupakan salah satu bentuk perkembangan IT yang mana saat ini dimanfaatkan oleh hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan tingkat penetrasi internet di Indonesia begitu besar yakni 51% atau 143,2 juta yang terbagi kedalam 2 (dua) macam media yang digunakan yani Desktop (30%) dan Mobile (70%). Besarnya penetrasi penggunaan internet melalui media mobile tersebut dilatarbelakangi oleh tumbuh dan berkembangnya smartphone yang memiliki berbagi fitur.
Kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet saat ini sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan, baik itu terhadap aspek budaya, aspek sosial, pendidikan sampai kepada aspek ekonomi.
Sampai kemudian lahir media baru sebagai media massa modern atau sosial media.
Tingginya intensitas penggunaan internet oleh masyarakat dalam mengakses info-info terupdate menjadikan mereka tidak dapat terlepas dari aktivitas berselancar di dunia maya / online.
Data menunjukkan bahwa 3 (tiga) kegiatan dengan intensitas penggunaan internet / online everywhere terbanyak adalah 69% masyarakat tetap online pada saat mereka
sedang beristirahat, 35% lainnya menggunakan internet ketika sedang menunggu, dan 29% ketika sedang menonton TV. Sedangkan beberapa kegiatan lainnya diantaranya yakni, menghabiskan waktu bersama keluarga (17%), while commuting (14%),
Gambar 1 Intensitas Penggunaan Internet
Salah satu pemanfaatan atau penggunaan internet terbesar adalah dalam bidang ekonomi/perdagangan. Di Indonesia sendiri, penggunaan internet dalam perdagangan e commerce khususnya retail mengalami peningkatan setiap tahunnya terhitung dari tahun 2016-2017 yang mana secara tidak langsung meningkatkan nilai perdagangan.
Dari tahun 2017, nilai e commerce retail mengalami kenaikan sebesar US$ 1535m, dari US$7056m pada tahun 2017, menjadi US$ 8591m pada tahun 2018 yang mana akan diproyeksikan mengalami kenaikan yang cukup signifikan sampai dengan tahun 2022 yakni sebesar US$ 16475m (Gambar 2). Terjadinya peningkatan tersebut secara tidak langsung dipengaruhi oleh semakin banyaknya online shop yang menawarkan
Gambar 2 perdagangan e commerce khususnya retail mengalami peningkatan
Highlights: E Commerce Indonesia
Pendapatan dari transaksi pasar e commerce pada tahun 2018 berkisar US$ 9,138m.
Pendapatan tersebut harapkan mampu menunjukkan atau menggambarkan kondisi tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR 2018-2022) dari 16,6%, memperkirakan menghasilkan volume pasar pada tahun 2022 sebesar US$ 16,865m.
Segmen pasar terbesar adalah pada bidang fashion dengan volume pasar sebesar US$
3,052m di tahun 2018.
Penetrasi penggunaan sebesar 40,0% di tahun 2018 dan diperkirakan akan mencapai 48,3% di tahun 2022.
Rata-rata pendapatan per user (ARPU) berkisar US$ 85.43.
- Besarnya nilai pendapatan yang diperoleh dari penjualan e commerce tidak akan dapat dicapai tanpa adanya peran konsumen atau pembeli. Masyarakat yang dapat dengan mudah mengakses e-commerce melalui jaringan internet yang ada di smartphone mereka secara tidak langsung akan meningkatkan nilai perdagangan.
Tahun 2018, jumlah digital buyers di Indonesia mencapai 31,6 juta dan diproyeksikan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya sampai dengan tahun 2022 sebesar 43,9 juta digital buyers (Gambar 3).
Inclusive Internet Index merupakan salah satu program yang dirancang oleh Facebook dan bekerja sama dengan The Economist Intelligence Unit. Tujuan dari Inclusive Internet Index adalah berusaha untuk mengukur sejauh mana internet tidak hanya dapat diakses dan dijangkau, akan tetapi juga "relevan untuk semua, memungkinkan penggunaan yang dapat memberikan hasil atau dampak positif pada bidang sosial dan ekonomi baik pada level individu ataupun grup”. Indeks tersebut terdiri dari 46 indikator untuk masing- masing Negara dari 75 negara tersebut yang diatur dalam empat kategori:
1. Ketersediaan,
Penjualan retail e commerce beberapa Negara di Asia Tenggara tahun 2016 (dalam US Billion Dollar). Pada beberapa Negara di Asia Tenggara diantaranya seperti Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Indonesia merupakan Negara dengan nilai penjualan e commerce terbesar di Asean yakni sebesar US$5,29b (Gambar 4).
Metode Pembayaran online shopping paling popular dikalangan masyarakat Indonesia Gambar 3 Jumlah Digital Buyers di Indonesia
Gambar 4 Penjualan retail e commerce beberapa Negara di Asia Tenggara tahun 2016 (dalam US Billion Dollar)
sistem transfer yang disediakan oleh lembaga penyedia jasa keuangan menjadi salah satu sistem yang banyak digunakan oleh masyarakat yakni sebesar 80,7% yang mana saat ini sistem transfer sendiri semakin dimudahkan dengan adanya adopsi perkembangan IT khususnya internet, misalnya mobile banking dan internet banking. Sedangkan, COD sebesar 27,1% dan kartu kredit sebesar 2,5%.
Fintech, merupakan salah satu terobosan baru dalam dunia keuangan digital yang baru- baru ini dikenalkan di Indonesia. Penggunaan Fintech yang belum begitu banyak gunakan oleh masyarakat Indonesia serta kurangnya literasi masyarakat akan fintech menjadikan Indonesia belum mampu menjadi salah satu Negara yang masuk pada peringkat 20 besar negarra Asia Pasifik yang memiliki tingkat telah mengadopsi fintech dan memiliki pertumbuhan yang begitu pesat. Untuk saat ini, the leading companies dalam pertumbuhan fintech adalah mayoritas berasal dari Negara Australia dengan salah satu perusahaannya yakni Prospa Advance.
Prospa Advance sendiri merupakan salah satu online lender (pemberi pinjaman) bagi para pelaku bisnis atau UMKM yang ada di Australia. Dimana Prospa Advance memberikan banyak kemudahan kepada para pelaku bisnis untuk mendapatkan pinjaman yang berkisar antara $5000 dan $250.000 tanpa membutuhkan persyaratan atau keamanan.
Aplikasi ini hanya membutuhkan waktu 10 menit sampai permohonan pengajuan dana disetujui dan akan cair dalam kurun waktu 24 jam.
Gambar 5 Pengguna Jaringan Sosial