• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 35/DPD RI/IV/2014-2015 TENTANG

HASIL PENGAWASAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG ATAS NOMOR 3 TAHUN 2015

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG

NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

TAHUN ANGGARAN 2015 JAKARTA

2015

(2)
(3)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/DPD RI/IV/2014-2015

TENTANG

HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;

b. bahwa Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; hubungan pusat dan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama; serta penyampaian hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti;

c. bahwa sehubungan dengan bahan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melalui Komite IV sesuai dengan lingkup tugasnya telah membahas dan merumuskan hasil pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja

(4)

482

Negara Tahun Anggaran 2015 sebagai bahan pertimbangan bagi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk ditindaklanjuti;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015;

Mengingat : 1. Pasal 22D Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568);

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5669);

4. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib;

5. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia;

Dengan Persetujuan Sidang Paripurna ke-13, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

Masa Sidang IV Tahun Sidang 2014—2015 MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015.

(5)

PERTAMA : Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

KEDUA : Isi dan perincian sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA menjadi lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari putusan ini.

KETIGA : Putusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2015 DEWAN PERWAKILAN DAERAH

REPUBLIK INDONESIA PIMPINAN

Ketua,

IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,

G.K.R. HEMAS

Wakil Ketua,

Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD

(6)
(7)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/DPD RI/IV/2014 - 2015

TENTANG

HASIL PENGAWASAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG ATAS NOMOR 3 TAHUN 2015

TENTANG PERUBAHAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 ATAS TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

JAKARTA

2015

(8)
(9)

BAB I PENDAHULUAN A. UMUM

Tujuan negara dan pemerintah Indonesia sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ialah mewujudkan suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam implementasinya komitmen tersebut tercermin dalam program pembangunan yang dilakukan dalam berbagai tahapan, baik jangka panjang, jangka menengah, maupun jangka pendek (tahunan) yang diatur dan yang merujuk pada UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang- undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.

Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan Pasal 22D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 248 UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD—

mengemban tugas untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN yang setiap tahun ditetapkan dalam bentuk undang-undang. Hal tersebut perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dalam tata kelola penyelenggaraan pemerintahan hingga menimbukan kerugian negara. Demikian pula untuk APBNP Tahun 2015 sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015, DPD RI telah melakukan pengawasan dengan maksud agar APBN sebagai pedoman dan arah pembangunan Indonesia dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran.

B. DASAR HUKUM

1. Pasal 22D ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Dewan Perwakilan Daerah dapat (i) melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta (ii) menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

(10)

488

2. Pasal 248 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD menyatakan bahwa DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.

3. Pasal 249 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD menyatakan bahwa DPD menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan undang-undang APBN, pajak, pendidikan, dan agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

4. Pasal 258 huruf h Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD menyatakan bahwa anggota DPD mempunyai kewajiban menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.

5. Pasal 265 ayat (4) huruf a Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD menyatakan bahwa tugas panitia kerja DPD di bidang pengawasan adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang bidang tertentu.

6. Pasal 284 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD menyatakan bahwa DPD menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 248 ayat (1) huruf d kepada DPR sebagai bahan pertimbangan.

7. Pasal 5 ayat (1) huruf f Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib menyatakan bahwa DPD melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; serta pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.

8. Pasal 5 ayat (1) huruf g Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib menyatakan bahwa DPD menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; serta pelaksanaan undang-undang APBN, pajak, pendidikan, dan agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

9. Pasal 76 ayat (1) huruf b Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib menyatakan bahwa tugas Komite di bidang pengawasan adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN.

(11)

10. Pasal 79 Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenang DPD, Komite IV memiliki lingkup tugas yaitu anggaran pendapatan dan belanja negara; pajak dan pungutan lain; perimbangan keuangan pusat dan daerah; pertimbangan hasil pemeriksaan keuangan negara dan pemilihan anggota BPK; lembaga keuangan dan perbankan;

koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah; serta statistik.

C. MAKSUD DAN TUJUAN

Pada Tahun Sidang 2014-2015 DPD RI telah menetapkan program kerja dan target capaian yang dialokasikan ke dalam tiap masa sidang melalui setiap komite sebagai alat kelengkapan dalam rangka pelaksanaan tugas pada fungsi legislasi, fungsi pertimbangan, dan fungsi pengawasan. Sesuai dengan amanat konstitusi DPD RI memfokuskan pengawasan atas pelaksanaan beberapa undang-undang, di antaranya ialah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 (UU APBNP Tahun 2015).

Tujuan dilaksanakannya pengawasan atas pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015 adalah mengevaluasi dan mengawasi pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam UU APBNP Tahun 2015, khususnya yang berkaitan dengan pengimplementasian otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

D. KELUARAN DAN TINDAK LANJUT

Hasil pengawasan DPD RI ini disahkan pada tanggal 9 Juli 2015 dalam Sidang Paripurna ke-13 Masa Sidang IV Tahun Sidang 2014-2015 dan selanjutnya disampaikan kepada DPR RI, Pemerintah, dan lembaga-lembaga negara terkait agar ditindaklanjuti sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(12)

490

BAB II

PELAKSANAAN PENGAWASANATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG

NOMOR 27 TAHUN 2014

TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

A. OBJEK PENGAWASAN

Salah satu program kerja DPD RI pada Tahun Sidang 2014-2015 adalah pengawasan atas pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015. Secara umum DPD RI memfokuskan pengawasan pada berbagai permasalahan yang terjadi di daerah yang berkaitan dengan pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015.

Beberapa pokok pengawasan DPD RI terhadap UU APBNP Tahun 2015 yang berkaitan dengan kebijakan strategis dalam APBNP 2015, khususnya mengenai Alokasi Transfer ke Daerah yang meliputi dana bagi hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK), dan dana desa adalah sebagai berikut.

1. Postur penerimaan negara:

a. penerimaan perpajakan;

b. penerimaan negara bukan pajak; dan c. hibah.

2. Perbandingan alokasi belanja kementerian negara/lembaga dengan dana transfer ke daerah dan dana desa.

3. Alokasi belanja kementerian/lembaga.

4. Dana transfer ke daerah:

a. dana bagi hasil; dan

b. dana perimbangan yang meliputi DAU dan DAK.

5. Sumber pembiayaan daerah berupa pinjaman daerah dan dana cadangan daerah.

6. Dana desa.

Pengawasan atas pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015 ini sekaligus merupakan bentuk tindak lanjut terhadap aspirasi masyarakat dan daerah yang ditampung oleh DPD RI.

B. ASPEK PENGAWASAN 1. Aspek Yuridis

Berdasarkan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

(13)

Pelaksanaan dan pengelolaan APBN terkait dengan beberapa peraturan perundang-undangan, antara lain, adalah:

a. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

b. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

c. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;

d. UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

e. UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan;

f. UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;

g. UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan; dan h. Peraturan perundang-undangan bidang keuangan lainnya.

2. Aspek Filosofis

Kebijakan transfer ke daerah diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan desentralisasi fiskal melalui sistem pengalokasian dana yang lebih memperhatikan (i) aspek kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta antardaerah dan (ii) aspek pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Dengan demikian, diharapkan kebijakan anggaran transfer ke daerah dapat mendorong peningkatan daya saing dan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah.

3. Aspek Sosiologis

APBN merupakan instrumen bagi Pemerintah untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai target pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan negara, mencapai stabilitas perekonomian, serta menentukan arah dan prioritas pembangunan nasional secara umum guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan amanat Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

C. METODE DAN INSTRUMEN PENGAWASAN

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 79 Peraturan Tata Tertib DPD RI, pembahasan materi yang berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara menjadi lingkup tugas Komite IV DPD RI. Dalam rangka penyusunan hasil pengawasan atas

pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015, digunakan metode kualitatif yang meliputi penyerapan aspirasi masyarakat melalui kunjungan kerja, rapat kerja dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait, rapat dengar pendapat (RDP), serta rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan para pakar.

Bentuk dan skematis laporan pengawasan APBN disusun berdasarkan postur APBN dengan tetap menampilkan secara khusus tempat yang menjadi pengawasan sebagai objek random sampling.

(14)

492

D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN KEGIATAN

Untuk mencapai target dan sasaran yang diinginkan dalam pengawasan tersebut, DPD RI telah melakukan berbagai aktivitas berdasarkan agenda kegiatan yang telah disusun sesuai dengan program kegiatan berikut.

1. Penyerapan aspirasi masyarakat pada saat kegiatan anggota DPD RI di daerah pemilihan, khususnya pada kunjungan kerja Komite IV DPD RI ke Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dilaksanakan pada tanggal 27-30 Mei 2015.

2. Penyusunan Hasil Pengawasan DPD RI atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 23-25 Juni 2015.

(15)

BAB III

TEMUAN DALAM PENGAWASAN

ATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014

TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

Dalam pengawasan atas pelaksanaan UU APBNP Tahun 2015, DPD RI menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu sebagai berikut.

1. Postur penerimaan negara

a. Penerimaan negara dalam APBNP Tahun 2015 yang terdiri atas penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, dan hibah adalah sebesar Rp1.768.970,7 miliar atau terdapat penurunan sebesar Rp24.618,2 miliar dari APBN 2015. Dari jumlah tersebut pendapatan pajak dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 19,09%. Sementara itu, penerimaan PNBP mengalami penurunan sebesar 31,5% yakni sejumlah Rp281.072,9 miliar.

b. Pertanyaan yang mendasar adalah dalam keadaan resesi dan era bisnis global yang memberikan insentif perpajakan, mengapa penerimaan pajak dalam APBNP Tahun 2015 justru dinaikkan? Meskipun pada kenyataannya, penerimaan pajak pada bulan Mei tahun 2015 jika dibandingkan dengan tahun 2014 pada periode yang sama ternyata mengalami penurunan pada kisaran 4%. Dengan demikian, penerimaan sektor pajak pada tahun 2015 diperkirakan tidak mencapai target sehingga perlu dilakukan reformasi secara menyeluruh mengenai aparatur, regulasi, dan lembaga yang menangani perpajakan.

c. Penerimaan negara lainnya, yaitu PNBP dalam APBNP justru mengalami penurunan cukup drastis, khususnya dari penerimaan migas. Padahal, jika dikaitkan dengan fluktuasi naiknya mata uang asing pada tahun 2015 seharusnya penerimaan migas yang diekspor akan memperoleh penerimaan yang lebih besar.

2. Perbandingan belanja kementerian negara/lembaga dengan dana transfer ke daerah dan Dana Desa.

Untuk mewujudkan asas-asas pemerintahan yang baik (good governance), dalam tata kelola pemerintahan yang desentralistik (otonomi daerah), seharusnya kekuatan pembangunan di daerah lebih diutamakan. Akan tetapi, pada kenyataannya jumlah belanja kementerian/lembaga dalam APBNP Tahun 2015, yaitu sebesar Rp779.536,9 miliar, lebih besar daripada dana transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp664.121,9 miliar.

3. Transfer dana bagi hasil ke daerah dalam APBNP Tahun 2015 sejumlah Rp15.119,3 miliar, terutama diperoleh dari bagi hasil sumber daya alam migas dan pertambangan minerba yang masing-masing berperan pada kisaran 48%.

(16)

494

4. Dana alokasi umum dalam APBNP Tahun 2015 tidak mengalami perubahan, yaitu sejumlah Rp352.887,8 miliar. Sebesar 27,7% diperoleh dari pendapatan dalam negeri neto.

5. Alokasi belanja kementerian/lembaga yang memperoleh kenaikan cukup signifikan sebesar lebih dari 40% dalam APBNP Tahun 2015 adalah Kementerian Perhubungan 44%, Kementerian Sosial 257%, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 40%, dan Kementerian Pariwisata 40%.

6. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, terdapat persyaratan berupa penetapan RKP Desa, RPJMNDES, dan APBD Desa, tetapi ternyata belum didukung dengan adanya bendahara desa.

7. Dari aspek pengawasan dana desa, terdapat perubahan peran dan fungsi BPD sejak diberlakukannya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pengaturan menurut undang-undang tersebut mengeluarkan BPD dari unsur penyelenggara pemerintahan sehingga melemahkan fungsi BPD.

8. Aturan hukum sebagai petunjuk pelaksanaan pengelolaan keuangan desa sebagai implementasi dari PP Nomor 22 Tahun 2015—yang merujuk pada UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa—belum sepenuhnya diterbitkan oleh Pemerintah.

9. Dalam pengawasan ditemukan adanya kecenderungan SKPD kabupaten/kota kurang serius menangani pengelolaan dana desa. Hal tersebut disebabkan oleh urusan pelaksanaan tugas sepenuhnya berada di desa, sedangkan SKPD hanya berkaitan dengan manajemen penyaluran saja.

(17)

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. SIMPULAN

1. Era business global, khususnya di kawasan Masyarakat Ekonomi Asean, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi penerimaan pajak. Hal tersebut hendaknya diiringi dengan perhitungan yang cermat dalam penerimaan APBNP Tahun 2015.

2. Dalam mengimplementasikan desentralisasi, alokasi anggaran dalam APBNP 2015 untuk pembangunan di daerah melalui dana transfer masih lebih kecil daripada belanja kementerian/lembaga. Hal tersebut tidak sejalan dengan otonomi daerah dan prinsip money follow function.

3. Jumlah alokasi DBH SDA Migas dan Pertambangan Minerba yang diperoleh daerah tidak mencukupi untuk membiayai reklamasi dan pelestarian lingkungan akibat eksplorasi dan eksploitasi migas yang telah dilakukan.

4. Formula perhitungan DAU yang ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 belum mencerminkan keadilan, khususnya bagi daerah kepulauan.

5. Pada APBNP Tahun 2015 terdapat kenaikan alokasi belanja pada beberapa kementerian/lembaga yang nilainya cukup signifikan.

6. Belum ada regulasi yang mengatur mekanisme dan struktur APB Desa dalam bentuk Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa, termasuk mengenai kriteria bendahara desa.

7. Diperlukan upaya penguatan fungsi dan peran BPD untuk mendukung perangkat desa dalam pengawasan dana desa.

8. Belum terbitnya peraturan pelaksanaan pengelolaan keuangan desa sangat menyulitkan daerah dalam penyusunan peraturan daerah tentang pengelolaan keuangan desa, termasuk dalam hal ini bagi desa adat yang belum diatur secara tersendiri, yakni masih mengikuti ketentuan Pasal 96 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

9. Dana desa menyangkut keuangan negara sehingga diperlukan sosialisasi dan kehati-hatian mengenai pelaksanaan peruntukannya karena di dalam kebijakan maupun pelaksanaan rawan menimbulkan kerugian negara yang dapat diancam sebagai tindak pidana korupsi.

B. REKOMENDASI

1. Harus dilakukan upaya penanganan (treatment) secara khusus terhadap aparat pengelola pajak agar capaian target penerimaan tidak kurang dari 90%. Selain itu, Kementerian terkait diharapkan memberikan dukungan bagi pencapaian target penerimaan pajak pada tahun 2015.

2. Pemerintah agar segera mempercepat penerbitan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan pembagian kewenangan sebagai pelaksanaan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

(18)

496

3. Besaran persentase bagi hasil migas untuk daerah berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebesar 15,5% agar dapat ditingkatkan melalui percepatan perubahan atas UU Nomor 33 Tahun 2004.

4. Diperlukan adanya reformulasi DAU meliputi kepulauan dan lautan.

5. Dana transfer ke daerah harus lebih besar dari belanja kementerian/lembaga, sebagai simbol tata kelola pemerintahan desentralistik. Adanya kenaikan alokasi belanja pada beberapa kementerian/lembaga harus disertai dengan transparansi dan akuntabilitas penggunaannya sehingga diharapkan dapat bermanfaat dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

6. Perangkat desa, khususnya bendahara desa, harus berstatus PNS dengan kompetensi berbasis pendidikan akuntansi karena pengelolaan keuangan negara seharusnya dilakukan oleh PNS. Mekanismenya dapat direkrut PNS dari kecamatan/kabupaten atau melalui mekanisme seleksi terbuka sebagaimana pelaksanaan UU Aparatur Sipil Nasional.

7. Pemerintah dan pemerintah daerah agar segera meninjau ulang peraturan pemerintah dan peraturan daerah dalam rangka memperjelas hubungan kewenangan antara pemerintah desa dan BPD, pemerintah desa dan Kecamatan, serta pemerintah desa dan pemerintah daerah. Di samping itu, DPD RI juga merekomendasikan pengevaluasian terhadap fungsi dan peran BPD kepada Pemerintah agar fungsi dan peran BPD semakin optimal dalam pelaksanaan pengawasan dana desa.

8. Pemerintah agar merumuskan Perpres tentang mekanisme pengelolaan keuangan daerah, termasuk desa dan desa adat, antara lain meliputi unsur:

1) peranan Bank Pembangunan Daerah dan Lembaga Pembiayaan Desa Adat;

2) struktur APB desa berbasis indikator yang mudah dipahami oleh perangkat desa dan tata kelola pengawasan dana desa; dan

3) mekanisme penyaluran dana desa untuk kebutuhan desa yang dibolehkan menurut undang-undang, termasuk untuk pengembangan badan usaha milik desa.

Selain itu, Pemerintah agar segera menerbitkan peraturan menteri tentang aset-aset desa yang memiliki pengalihan status desa atau desa yang dimekarkan sebagai implementasi Pasal 76 UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Penetapan desa pemekaran segera dipercepat agar pada tahun mendatang dapat memperoleh alokasi dana desa.

9. Perlu dipersiapkan tenaga pendamping sebagaimana yang dilakukan oleh PNPM Perdesaan agar pengimplementasian dana desa dilakukan sesuai dengan amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

(19)

BAB V PENUTUP

Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 ini disusun dan disampaikan sesuai dengan amanat konstitusi. Hasil pengawasan ini selanjutnya disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun dan menetapkan kebijakan legislasi.

Jakarta, 9 Juli 2015 DEWAN PERWAKILAN DAERAH

REPUBLIK INDONESIA PIMPINAN

Ketua,

IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,

G.K.R. HEMAS

Wakil Ketua,

Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD

Referensi

Dokumen terkait

Google Glass adalah sebuah gadget (perangkat teknologi modern) yang berwujud kacamata, yang memiliki kemampuan untuk menampilkan informasi serta fungsi layaknya smartphone

Padatan yang telah direkristalisasi dari kulit biji tanaman Annona muricata dikarakterisasi dengan mengunakan alat Gas Chromarography (GC) menghasilkan 8 puncak

Untuk indikator pencapaian perkembangan anak juga belum ada deskriptornya sehingga guru masih susah dalam melaksanakan penilaian Oleh sebab itu peneliti menawarkan

penyajian laporan keuangan sebesar 0,262, Aksesibilitas sebesar 0,109, Faktor peraturan perundang-undangan sebesar 0,115 dan Faktor Latar Belakang Pendidikan sebesar

” 26 Memang Yesus mati di kayu salib tetapi bangkit pada hari ke tiga.Dalam Kitab Wahyu Yesus Kristus merupakan saksi yangbenar- benar dapat dipercayai karena telah mati

Hal ini karena dengan meningkatnya konsentrasi gliserol yang ditambahkan pada larutan film , maka akan menyebabkan lemahnya interaksi antar molekul-molekul pati sehingga kerapatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume dan bentuk saluran penambah ( riser ) terhadap cacat penyusutan, cacat porositas, kekerasan dan meneliti kandungan

Berpedoman kepada hasil pengujian pengujian unjuk kerja penyearah 3 fasa terkendali dengan resistif pada keadaan tegangan suplai tidak simetris, penulis