• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur a. Kondisi geografis dan perkembangan Kota Samarinda

Kota Samarinda adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut dan udara. Dengan Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota ini memiliki luas wilayah 718 km² dan berpenduduk 812.597 jiwa (Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2015), menjadi kota dengan penduduk terbesar di seluruh Kalimantan.

Samarinda terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat diantara 0°21'81"–1°09'16" LS dan 116°15'16"–117°24'16" BT.

Kota Samarinda memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

- Utara Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara - Selatan Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara

- Barat Kecamatan Tenggarong Seberang dan Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara.

- Timur Kecamatan Muara Badak, Anggana, dan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Gambar 4.1

Peta Wilayah Kota Samarinda (Sumber: Wikipedia.com)

(2)

Kota Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia serta kota terbesar di seluruh Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk 812,597 jiwa. Samarinda memiliki wilayah seluas 718 km² dengan kondisi geografi daerah berbukit dengan ketinggian bervariasi dari 10 sampai 200 meter dari permukaan laut. Kota Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam dan menjadi gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur melalui jalur sungai, darat maupun udara.

Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201–1300), sebelum dikenalnya nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi yaitu Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas). Penyebutan enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 M).

Pada tahun 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang Banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Ketika itu rombongan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Paser.

Selanjutnya suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi kawasan di daerah yang sekarang disebut Samarinda.

Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan bagian timur pada masa otoritas Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1976): ―Bermukimnya suku Banjar di daerah ini untuk pertama kali ialah pada waktu kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar.‖ Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas masyarakat Samarinda di kemudian hari, walaupun telah ada beragam suku yang datang, seperti Bugis dan Jawa.

(3)

Pada tahun 1730, rombongan Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona merantau ke Samarinda. Semula mereka diizinkan Raja Kutai bermukim di muara Karang Mumus, tetapi dengan pertimbangan subjektif bahwa kondisi alamnya kurang baik, mereka memilih lokasi di Samarinda Seberang.Dalam kaitan ini, lokasi di bagian Samarinda Kota sebelum kedatangan Bugis Wajo, sudah terbentuk permukiman penduduk dengan sebagian areal perladangan dan persawahan yang pada umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan Karang Asam.

Mengenai asal mula nama Samarinda, tradisi lisan penduduk Samarinda menyebutkan, asal-usul nama Samarendah dilatarbelakangi oleh posisi sama rendahnya permukaan Sungai Mahakam dengan pesisir daratan kota yang membentenginya. Tempo dulu, setiap kali air sungai pasang, kawasan tepian kota selalu tenggelam. Selanjutnya, tepian Mahakam mengalami pengurukan/penimbunan berkali-kali hingga kini bertambah 2 meter dari ketinggian semula.

Oemar Dachlan mengungkapkan, asal kata ―sama randah‖ dari bahasa Banjar karena permukaan tanah yang tetap rendah, tidak bergerak, bukan permukaan sungai yang airnya naik-turun. Ini disebabkan jika patokannya sungai, maka istilahnya adalah ―sama tinggi‖, bukan ―sama rendah‖. Sebutan

―sama-randah‖ inilah yang mula-mula disematkan sebagai nama lokasi yang terletak di pinggir sungai Mahakam. Lama-kelamaan nama tersebut berkembang menjadi sebuah lafal yang melodius: ―Samarinda‖.

b. Keadaan Kondisi Penduduk Kota Samarinda

Akhir tahun 2010 Kota Samarinda dibagi menjadi 10 kecamatan yaitu, Kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Kota, Sambutan, Samarinda Seberang, Loa Janan Ilir, Sungai Kunjang, Samarinda Ulu, Samarinda Utara dan Sungai Pinang. Sedangkan jumlah kelurahan di Kota Samarinda sampai saat ini sebanyak 59 kelurahan.

Pada tahun 2010 Penduduk Kota Samarinda tercatat sebanyak 727.500 jiwa. Angka ini terus meningkat tiap tahun-ketahun. Pada tahun 2014 jumlah penduduk kota Samarinda adalah sebanyak 797.006 jiwa dan pada tahun 2015 sebanyak 812.597 jiwa, atau dengan kata lain, dalam kurun waktu 3 tahun

(4)

terakhir pertumbuhan penduduk kota Samarinda rata-rata 3,12% per tahun yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan pemeluk agama terbanyak adalah Islam, disamping terdapat juga pemeluk agama Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Kota Samarinda

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Samarinda 2017

c. Kondisi Perekonomian Kota Samarinda

Kondisi Perekonomian Daerah Potensi perekonomian Kota Samarinda cukup menonjol karena memproduksi bahan baku yang diolah pada berbagai industri seperti : Industri Migas, industri Pertambangan batubara, industri Pengolahan Rotan, Industri Plywood, Industri Moulding, serta industri Pengrajin Kayu. Selain industri menengah, juga memiliki potensi industri rumah tangga atau produk kerajinan rakyat seperti : batu-batuan (kristal, kecubung, dll), rotan (topi seraung, lampit, dll), peralatan dan hiasan tradisional (mandau, patung, manik-manik, dll), serta pakaian tradisional (sarung samarinda, batik Kaltim, dll). Kota Samarinda juga menyimpan potensi perekonomian melalui sektor pariwisata, diantaranya : Air terjun Tanah Merah, Kebun Raya Samarinda, Cagar Budaya Suku Dayak, Mesjid Tua Samarinda Seberang, serta potensi Wisata di sepanjang Sungai Mahakam.

(5)

2. Gambaran Umum “Gerakan Samarinda Menggugat” (GSM) Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur.

a. Sejarah Terbentuknya Gerakan Samarinda Menggugat

Langit mulai tersaput gelap. RHWA masih duduk bersila di taman Balaikota. Pria yang akrab disapa RR itu tengah serius memandu lalu lintas diskusi warga. Wajah mereka mulai bermandikan temaram cahaya lampu jalan. Dialog makin bertenaga, ketika warga membuka memori tentang peristiwa tewasnya tiga bocah Samarinda pertengahan 2011. Ketiganya menjadi korban pertama lubang tambang pencabut nyawa. Diskusi semarak, pendapat warga semakin galak.

Diskusi di Taman Bercerita kian hangat. Setelah Jembatan Tenggarong, Kutai Kartanegara ambruk. Hasyim adalah salah satu korban yang selamat. Dia selamat setelah berjuang keras melewati derasnya arus Sungai Mahakam di antara puing reruntuhan jembatan. Dari peristiwa naas itu, lahirlah keinginan forum Taman Bercerita untuk menggugat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemkab Kukar dianggap lalai merawat fasilitas publik. Kelalaian yang menyebabkan Hasyim dan puluhan warga lainnya menjadi korban. Namun gugatan terhadap Pemkab Kukar kandas. Kondisi kesehatan Hasyim yang kian memburuk membuat pengorganisiran korban jembatan ambruk terbatas. ―Sejak mengalami kecelakaan, kondisi kesehatan Hasyim menurun. Dia kesulitan menggalang dukungan korban lainnya.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menunda gugatan ke Pemkab Kukar,‖

ungkap KAB.

Sabtu, 24 Desember 2011. Sebulan setelah ambruknya Jembatan Tenggarong, Kalimantan Timur kembali dirundung duka. Dua murid kelas 1 Sekolah Dasar di Samarinda, Dede Rahmat (6) dan Ema (6) tewas setelah tenggelam di kolam bekas tambang milik PT Panca Prima Mining. Satu jam setelah kejadian, informasi tewasnya Dede dan Ema sampai di forum Taman Bercerita. Saat itu juga, tema diskusi berubah. Dari tema tentang pro kontra Ahmadiyah menjadi tambang pencabut nyawa. Diskusi senja itu hanya satu dari serial cerita kegelisahan warga kota yang dimuntahkan di taman Balaikota.

Taman kota itu berada tak jauh dari Kantor Walikota Samarinda yang berdiri kokoh di puncak bukit. Jarak dengan taman yang berada di kaki bukit

(6)

ke tempat Walikota berkantor hanya sekitar 200 meter. RR menjadi moderator diskusi. Warga beradu argumentasi. Tak tahan dengan sikap gamang pemerintah terhadap tambang, mereka sepakat menggugat Pemerintah Kota Samarinda. Pemerintah dinilai melakukan pembiaran terhadap tambang batubara yang menghilangkan nyawa lima anak Samarinda dan kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Balaikota cukup luas. Sekitar 10 kali 10 meter. Posisinya persis di sudut Jalan Kusuma Bangsa dan Jalan Balaikota. Taman beralas paving blok itu tak rimbun dengan pepohonan. Di salah satu sudut taman, terpampang papan iklan besar di pinggirnya. Tak jauh dari taman, Plaza Mulia Mall Samarinda menjulang lebih tinggi dari Kantor Walikota. Jalur pejalan kaki membelah taman dengan Jalan Balaikota. Hampir setiap jam pulang kerja, warga memenuhi jalan itu untuk berolahraga. Sebagian besar memilih jogging mengitari jalur jalan Kantor Walikota.

Gambar: 4.2

Kegiatan “Taman Bercerita” dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, komunitas hobi, komunitas seni, budayawan, agamawan

berdiskusi di depan balaikota Samarinda.

(Sumber: Kahar Al Bahri)

Bercerita di taman kota digagas oleh KAB dan sejumlah pegiat gerakan sosial di Samarinda. Mereka bermimpi warga Samarinda punya ruang untuk menceritakan kisah apa saja tentang dinamika kehidupan kota secara terbuka

(7)

di ruang publik. Akhirnya, pada akhir November 2011, dicetuskan ―Taman Bercerita‖. Suatu forum diskusi di taman Balaikota dengan slogan ―Setiap warga punya cerita tentang kotanya‖. KAB terinspirasi dari gerakan occupy dimana warga menduduki pusat pemerintahan untuk menggelar protes terhadap kebijakan pemerintah. Tren occupy terjadi di beberapa kota besar dunia seperti London dan New York. Termasuk di Jakarta saat itu. Taman Balaikota menjadi pilihan tepat menjadi pusat occupy di Samarinda.

Wall Street adalah nama jalan untuk markas Bursa Saham New York (New York Stock Exchange). Krisis itu menguak berbagai ‗keculasan‘

korporasi yang bermarkas di jalan ini. Kelas pekerja dan masyarakat bawah kemudian melakukan protes karena merasa turut menjadi korban kehancuran ekonomi yang dipicu oleh Wall Street. Gerakan ini kemudian memunculkan sebutan ―Occupy Wall Street‖ (OWS). Mereka yang tergabung dalam gerakan itu menginginkan agar ‗kerasukan korporasi‘ segera dikikis habis. Tanggal 17 September 2011 dipilih sebagai awal dari gerakan OWS. Tanggal itu merupakan Hari Konstitusi Amerika. Ide Gerakan (OWS) itu kemudian menyebar cepat melalui media online dengan bantuan grup hacker Anonymous.

Tanpa bermaksud untuk mereplikasi mentah-mentah, di Samarinda sekelompok pegiat lingkungan dan gerakan sosial Samarinda di akhir November 2011 memulai ‗pendudukan‘ taman Balaikota Samarinda dengan sebutan ―Taman Bercerita‖. Taman Bercerita adalah ruang yang disediakan untuk warga kota berbagi cerita tematik seputar isu kehidupan Kota Samarinda. Dari perbincangan di media sosial, obrolan di warung kopi, Taman Bercerita bermula.

Ditinjau dari model pergerakan masyarakat sipil sebagaimana dirumuskan oleh Scholte (1999) dan Edelman (2011), Taman Bercerita adalah model gerakan visibility dan audibility, sebuah strategi yang sifatnya dapat ditangkap oleh indera penglihatan dan pendengaran, Sasarannya adalah pengenalan dan keterlibatan masyarakat luas. Tujuan akhirnya adalah mengkritisi dan mengkontrol agenda pemerintahan lewat mobilisasi sosial.

Aspek lain yang menonjol dari Taman Bercerita adalah commonality atau absennya struktur organisasional yang hirarkis. Taman Bercerita ingin

(8)

mempraktekkan demokrasi langsung, semua diatur dan diputuskan bersama, hidup adalah urunan demikian slogan mereka.

Tak ada keanggotaan tetap di forum ini. Semuanya bersifat terbuka.

Siapa saja bisa ikut berdiskusi di Taman Bercerita. ―Banyak diantara mereka adalah pekerja formal di Samarinda. Setelah pulang kerja, mereka singgah di taman bercerita. Ada juga yang singgah setelah selesai olahraga,‖ ujar KAB yang akrab disapa Bang O. Meskipun tidak formal, Taman Bercerita diorganisir cukup baik. Ada tema dan waktu yang tetap. Diskusi dimulai jam 5 sore sampai jam 7 malam, setiap Senin hingga Sabtu. Untuk Sabtu, Taman Bercerita memberi ruang bagi komunitas hobi di Samarinda untuk berbagi ide dan peristiwa. ―Kami hanya menjadi moderator dan membagikan fotokopi bahan diskusi dari warga yang menjadi pembicara,‖ kata KAB.

Meskipun tidak ada keanggotaan yang tetap, taman bercerita selalu ramai dikunjungi oleh 10 hingga 20 orang lebih yang setiap harinya datang dan membagikan cerita. SA bertanggungjawab mengatur kelengkapan diskusi.

Menjaga konsistensi tema, memastikan kesiapan pembicara dan ketersediaan bahan diskusi. Tema Taman Bercerita berdasarkan hari antara lain, Senin Kebangsaan, Selasa Layanan Publik, Rabu Lingkungan Hidup, Kamis Hak Asasi Manusia, Jumat Budaya dan Sabtu Komunitas. Sementara itu Dayang Erlika memperluas informasi undangan dan hasil diskusi taman bercerita melalui media sosial Twitter. Dia memberdayakan akun twitter

Taman Bercerita dengan isu terhangat di Samarinda dan Kalimantan Timur. Tercatat ada 127 followers. ―#samarinda dibasahi hujan.. sebuah harapan atau ancaman? Mari bercerita tentang banjir kota di @tamanbercerita..

setiap warga punya cerita,‖ tweet akun Taman Bercerita. Membagi cerita dengan tema yang sudah ditentukan setiap harinya berjalan selama tiga bulan pertama, taman bercerita tidak mengandalkan donasi untuk konsumsi. Secara urunan, mereka mengumpulkan uang setiap kali diskusi. Setiap orang yang ingin menyumbangkan dana untuk konsumsi langsung menyimpannya di lantai

forum. Mereka biasa memesan makanan dan minuman dari pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar taman. ―Dari dulu prinsip kami dari awal, hidup adalah urunan,‖ ujarnya SA lalu tertawa.

(9)

Menu makanan dan minuman Taman Bercerita sangat tergantung dari menu yang dijajakan PKL. Biasanya, PKL sekitar Taman Bercerita menjual kentang tornado, bubur kacang ijo, kolak pisang, bakso pisang ijo dan susu kedelai. Waktu diskusi yang terbatas di Taman Bercerita, membuat RHWA dan kawan-kawan meminta bantuan YKTM untuk mencari tempat alternatif untuk berdiskusi. YKTM adalah aktifis Forum Pelangi Kalimantan Timur dan rohaniawan yang aktif di Taman Bercerita.

Dengan cepat, YKTM menyiapkan salah satu ruangan milik Yayasan Bina Insan Samarinda sebagai tempat diskusi. Bina Insan merupakan lembaga pendidikan Katolik yang dikelola Keuskupan Agung Samarinda. Sejak 2008, Bina Insan juga menjadi sekretariat Forum Pelangi, Samarinda. ―Bina Insan adalah ruang pergerakan. Sebagai kampus ekologi dan perjuangan memanusiakan manusia dan memulihkan keutuhan ciptaan Tuhan,‖ kata Pastor YKTM.

Gambar: 4.3

Konsolidasi warga kota Samarinda yang resah terhadap situasi pengelolaan kota yang semakin membahayakan warga.

(Sumber: Yustinus S. Hardjanto)

Yayasan Bina Insan mendadak ramai dengan diskusi warga membahas rencana gugatan hukum ke pemerintah. Mereka juga membuka posko gugatan.

Alhasil, dengan berbagai persiapan, warga mendeklarasikan gugatan hukum terhadap pemerintah dengan nama ―Gerakan Samarinda Menggugat‘‘ (GSM).

(10)

Namun dengan adanya kegiatan yang membuat tempat ini ramai membuat Direktur Yayasan Bina Insan meminta YKTM berhenti menggunakan Yayasan Bina Insan sebagai pusat pergerakan GSM. Karena sebelumnya, dua truk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Samarinda datang ke Kantor Yayasan Bina Insan sekitar dua minggu setelah deklarasi GSM.

Satpol PP Samarinda memperingatkan Bina Insan untuk tidak melanjutkan pembangunan salah satu fasilitas yayasan karena belum mengantongi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). ―Saya mengartikan bahwa, walaupun masih dalam tahap deklarasi, gerakan ini sudah memiliki gaung yang cukup kuat. Sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap Pemkot Samarinda,‖ ujarnya.

Kedatangan Satpol PP Samarinda memberi kesan intimidasi gerakan.

Karena sebelumnya Walikota Samarinda secara lisan memberikan ijin membangun fasilitas Yayasan Bina Insan, sambil menunggu Pemkot menerbitkan IMB.

(11)

B. Hasil Penelitian

1. Gerakan Sosial (GSM) Yang Memperjuangkan Perubahan Kebijakan Pelestarian Lingkungan

Luas kota Samarinda hanya sekitar 0,6% luasan Kaltim namun sekitar 24%1 dari 812.597 penduduk Kaltim tinggal di Samarinda (BPS, 2015).

Samarinda, merupakan kota dengan jumlah penduduk paling besar di provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), bahkan paling banyak populasinya dibanding kota- kota lainnya di pulau Kalimantan. Kepadatan penduduk tidak terjadi begitu saja, tetapi tumbuh sejak masa Kesultanan Kutai yang menjadikan Samarinda sebagai pintu gerbang Kesultanan dan pelabuhan dagang. Samarinda menjadi kota pelabuhan utama, yang dibelah sungai Mahakam, sungai terpanjang nomer satu di Kalimantan Timur dan terbesar ketiga di Indonesia. Di masa lalu, sebagai pintu gerbang kerajaan yang menghubungkan dengan bangsa lain, Samarinda menjadi pintu ekspor sarang burung, lilin, getah perca, karet, damar, rotan dan teripang.

Kandungan batubara sepanjang Mahakam menarik kedatangan pedagangpedagang Inggris dan Hongkong.

Pelabuhan ini lebih ramai sejak kekuasaan jatuh ke tangan Belanda (sekitar tahun, 1850) dengan masuknya pekerja-pekerja tambang yang didatangkan dari Jawa dan China. Belanda mengeluarkan izin dan konsesi pertambangan batubara dan minyak. Sepanjang 1886-1903 telah dikeluarkan 36 konsesi dan izin (verguning). Konsesi selama 75 tahun diberikan kepada pengusaha atau perorangan, konsesi selama 3-5 tahun hanya untuk perorangan (Syamtasiyah 2013:137- 144).

Pada masa kemerdekaan kota pelabuhan ini menjadi ibu kota provinsi.

Kota Samarinda tak hanya menjadi saksi utama model ekonomi Indonesia paska kolonialisasi yang bergantung pada industri pertambangan migas dan mineral serta kayu pada akhir abad 18 hingga abad 20. Kala itu dikenal sebagai banjir kap, atau sistem penebangan yang sistematis di seluruh wilayah Kaltim, dengan sentra alat transportasi utama Sungai Mahakam sebagai lalu lintas kayu-kayu hutan Kalimantan diangkut ke Jawa, Sulawesi, hingga Malaysia, Cina, dan Jepang.

Pengerukan batubara kembali marak sejak industri kayu runtuh karena jumlah tegakan pohon yang ditebang lebih banyak dari yang ditanam. Selain produksi migas juga mulai berkurang drastis setelah dieksploitasi lebih dari satu

(12)

abad lalu. Berdarkan hasil wawancara dengan MJL salah penggiat lingkungan menyatakan bahwa.

Di masa Orde Baru, sebelum masa Otonomi daerah, ijin tambang di Kalimantan Timur meliputi 69 ijin Kuasa Pertambangan (KP), 9 Ijin Kontrak Karya (KK) dan 40 ijin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), dengan total ijin adalah 118 buah.

Jumlah ijin ini meningkat hampir 13 kali lipat masa Otonomi Daerah menjadi 1488 Ijin Usaha Pertambangan (Panduan Wawancara MJI, Minggu: 17/12/2017).

Kota Samarinda tak luput dari incaran perusahaan tambang batubara. Data Distamben 2008, luas IUP di Samarinda adalah 24.933,5 hektar dan luas PKP2B

Gambar: 4.4

Peta kota Samarinda yang penuh dengan izin tambang. Sebagian besar di keluarkan pada masa kepemimpinan Achmad Amins dan

Sjahrie Jaang.

(Sumber: Jatam Kaltim)

(13)

dan KP Pusat sebesar 22.839 hektar. Bila ditotal jumlahnya mencapai 66,5 persen dari luas Samarinda yaitu 71.800 hektar. Sementara, menurut MJI Dinamisator Jaringan Atvokasi Tambang (JATAM) dalam wawancara menyatakan bahwa.

Hingga Desember Tahun 2008, luas KP di Samarinda seluas 27,549.66 hektar (38,37%), KP Pusat seluas 2,343.00 hektar (3,26%) dan PKP2B sebesar 20,843.10 hektar 2 (29,03%). Jika ditotal, luasnya 50,735.76 hektar atau sekitar 71 persen luasan 3 Samarinda. Samarinda yang diprediksi akan menjadi salah satu Kota Metropolitan di Indonesia, sebenarnya tengah menggali kuburnya sendiri. Eksploitasi kayu diteruskan dengan eksploitasi batubara di Samarinda membuat kota mengalami kebangkrutan secara ekologis (Panduan Wawancara No.9/MJI/17/12/2017).

Hal senada yang di ungkapkam oleh KAB atau yang sering di sapah Bang O menyatakan bahwa.

Kerusakan lingkungan yang dialami oleh petani, peternak ikan, mahasiswa, buruh kasar, pekerja kantoran hingga rohaniwan merupakan wujud salah urus tata kota. Sejak 2004 hingga 2014, Ibu kota Kalimantan Timur ini tidak memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah yang jelas sehingga pemerintah kota dengan mudah menerbitkan izin-izin pertambangan tanpa melihat batas-batas ruang hidup. Izin pertambangan yang diterbitkan diatas permukiman padat penduduk dan wilayah pertanian akhirnya melahirkan perebutan ruang dan konflik (Panduan Wawancara No.9/KAB/19/12/2017).

Pada masa otonomi daerah, terjadi pelimpahan wewenang pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan diharapkan rakyat menjadi tuan rumah di Negeri sendiri. Namun yang terjadi, rezim pemerintahan berikutnya justru kembali mengeksploitasi kekayaan alam dengan cara yang lebih brutal. Orang-orang kaya di masa industri kayu kemudian juga menjadi pemain batubara sekaligus merambah ke panggung politik, berkuasa. Jurang pemisah antara kepentingan rakyat untuk bertahan hidup dengan kepentingan pengusaha dan politik partai semakin lebar.

Di kalangan para pengusaha, bisnis batubara ini membuat para pengusaha menjadi orang kaya di negeri yang jumlah penduduk miskin dengan pendapatan di bawah Rp. 7000 per hari berjumlah 32 juta orang. Pada 2009 sebagian besar dari daftar 10 orang terkaya di Indonesia adalah pengusaha yang bergerak di industri ekstraktif pertambangan batubara dan perkebunan sawit. Berdarkan hasil wawancara dengan MJI menyatakan bahwa.

Batubara ternyata hanya mendatangkan kekayaan bagi segelintir orang.

Pendapatan yang dihasilkan dari batubara untuk Kota Samarinda juga tak banyak. Apalagi yang bisa dirasakan langsung oleh penduduknya,

(14)

mereka justru hanya merasa kotanya seolah menjadi tempat buangan limbah tambang batubara (Panduan Wawancara No.10/MJI/17/12/2017).

Pertengahan tahun 2008, tanggul limbah batubara milik PT. Cahaya Energi Mandiri jebol, menghantam perkebunan dan kolam ikan warga. Banjir tiba-tiba menggenangi kebun dan kolam ikan milik keluarga Sania, warga kelurahan Tanah Merah. Hasil pengecekan lapang, ditemukan sejumlah perusahaan tambang - KSU PUMA, CV Tujuh Tujuh, dan PT. Cahaya Energi Mandiri, yang beroperasi di hulu Kelurahan ini sehingga banjir menjadi langganan wilayah yang lebih rendah letaknya. Banjir dari ketiga tambang ini juga menggenangi salah satu pondok pesantren di sana.

Sayangnya, penegakan hukum yang lemah, membuat protes warga berakhir negosiasi untuk mendapatkan ganti rugi. Celakanya ganti rugi yang tak seberapa itu belum mampu menghentikan banjir lumpur yang datang berulang karena hancurnya hutan dan kawasan tangkapan air di hulu. Hanya dua orang yang bersikeras memperkarakan banjir, meskipun keduanya mendapat ganti rugi yaitu Ibu S dan Pak A.

Protes Ibu S dan Pak A dimuat koran. Kabar itu sampai ke telinga mahasiswa, kemudian sampai ke jalan Suwandi No 72, rumah perlawanan Jatam Kaltim. Hasil wawancara dari ketua Jaringan Atvoksi Tambang Kalimantan Timur MJI menyatakan bahwa.

Ternyata tak hanya warga kelurahan Tanah Merah. Kali ini Jatam Kaltim yang didatangi oleh warga yang sawahnya dihantam banjir lumpur batubara di kelurahan Makroman. Kedatangan petani Makroman bersama Imran - peyuluh pertanian yang bertahun-tahun mendampingi kelompok tani Makroman. Mereka mengadukan sawah petani terendam banjir lumpur batubara sehingga hasil panen menurun setiap tahun (Panduan Wawancara No.18/MJI/17/12/2017).

Sejak itu Jatam Kaltim memulai kerja-kerja advokasi di Makroman. Bersama petani Makroman, Jatam melakukan pelaporan ke instansi-instansi pemerintah kota Samarinda, pejabat dan DPRD provinsi hingga presiden terpilih saat itu.

Namun respon pemerintah selalu berujung negosiasi ganti rugi yang tak sepadan, bukan upaya tegas menghentikan penyebab utama banjir: hujan dan lahan di dataran tinggi yang dikeruk batubaranya.

(15)

Hal serupa disampaikan oleh PR, sebagai tim Atvoksi Jatam Kaltim di Makroman menyatakan bahwa.

Meskipun sadar tidak menjawab persoalan utama, ganti rugi menjadi pilihan satu-satunya. Belum lagi, tak jarang perusahaan ingkar janji membayar ganti ruginya terhadap para petani. Tetap saja di kala musim panas, petani mengalami kekeringan dan di musim penghujan sawah petani tergenang banjir dan lumpur (Panduan Wawancara No.13/PR/22/12/2017).

Gambar 4.5

Pak K berada di kawasan keruk perusahaan CV. Arjuna di Makroman yang membongkar lahan-lahan pertanian tepat di

belakang rumahnya (Sumber: GSM)

Pak K Petani di Makroman juga menyampaikan kekesalannya terhadap Pemerintah Kota Samarinda.

Banjir, lumpur, janji ganti rugi, ingkar janji, lama-lama membuat saya sadar, inilah siasat perusahaan. Saya bosan dengan janji-janji palsu yang dibuat pemerintah dan perusahaan. “Rasanya saya sudah bosan

“diapusi” dalam bahasa jawa diapusi artinya “dibohongi” sama pemerintah yang janjinya mensejahterakan rakyat kecil seperti kami ini, pemerintah itu kan ibarat “bapak” bagi anak-anaknya. Kalo bapak yang baik gak mungkin menyengsarakan anak-anaknya (Panduan Wawancara No. 4/K/27/12/2017).

(16)

Gambar 4.6

Tambang tatubara datang menghancurkan pangan. Ibu-ibu kehilangan sumber pangan untuk anak-anaknya. kawasan keruk perusahaan CV.

Arjuna di Makroman (Sumber: GSM)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak K, beliau menyatakan bahwa.

Dulu saya tinggal di Makroman sejak 1985. Saya awalnya adalah perantau yang mengadu nasib ke kota Samarinda. Di tanah rantau saya bertemu dengan sosok perempuan yang menurut saya sangat baik yaitu ibu N, kemudian saya menikah dan punya anak. Awalnya kondisi kami baik, saya dan istri berdagang di pasar Segiri Kota Samarinda, menjajakan makanan waktu itu. Namun makin lama kondisi perekonomian keluarga saya memburuk, sehingga saya memutuskan tinggal di kelurahan Makroman, setelah kedatangan para transmigran di sana. Saya meminjam tanah milik kerabat istri saya. Lahan itu kemudian saya diolah menjadi petak-petak sawah (Panduan Wawancara No.11/K/27/12/2017).

Bertahun-tahun Komari mengolah lahan pertanian yang luasnya 3 Ha.

Malangnya, pada 2009 sebuah perusahaan tambang batubara milik CV Arjuna menambang gunung-gunung penyedia air bagi sawah dan permukiman di bawahnya.

Hal serupa yang di sampaikan oleh istri dari Pak K yaitu Ibu N

Sejak adanya perusahaan itu membuat sawah saya krisis air ketika kemarau, banjir ketika hujan menjadi petaka bagi saya dan para petani di Makroman. Hama tikus juga menjadi bencana bagi padi-padi yang mulai ranum di amakan tikus, karena hewan ini kehilangan tempattinggalnya sehingga sawah menjadi habitat baru tikus (Panduan Wawancara No.9/N/27/12/2017).

(17)

Gambar: 4.7

Sawah Pak K dengan Istrinya Ibu N yang berdampingan lansung dengan perusahaan CV. Arjuna di Makroman

(Sumber: GSM)

Bersama warga yang lainnya K dan N sudah melaporkan permasalahan yang menjadi derita bagi mereka. Sayangnya suara mereka tak pernah di dengar.

Hingga akhirnya mereka memutuskan bergerak bersama ―Gerakan Samarinda Menggugat‖ (GSM) untuk menggugat Pemerintah Kota, DPRD hingga Menteri.

Kekesalan para petani dan pemilik kolam ikan di kawasan-kawasan hulu dan hilir ini bermuara bersama kekesalan warga di pusat-pusat kota Samarinda yang juga menjadi korban banjir berkala apalagi hampir tiap tahun ada saja yang meninggal di lubang tambang batubara. Muara kekesalan ini berujung pada percakapan untuk mencari alternatif penegakan hukum yang mampu memaksa pemerintah dan perusahaan taat hukum. Mereka ingin menggugat Pemerintah yang dianggap lalai mengurus wilayah dan warga negaranya.

Semangat memperjuangkan lingkungan hidup yang sehat dan aman diwujudkan kemudian dengan membangun sebuah gerakan perjuangan lingkungan bernama Gerakan Samarinda Menggugat (GSM) yang dideklarasikan pada tanggal 21 Januari 2012 bertepatan dengan hari jadi Kota Samarinda yang ke 344.

Gerakan Samarinda Menggugat (GSM) menjadi semangat baru bagi masyarakat Samarinda yang telah bosan ditipu dengan janji-janji politik yang digadang setiap lima tahun sekali. GSM merupakan gerakan alternatif warga

(18)

Samarinda mendorong penegakan hukum lingkungan. Semangat gugatan GSM adalah perubahan kebijakan yang melindungi warga dari kerugian akibat kerusakan lingkungan di Samarinda.

Gugatan warga negara merangkum semua kepentingan atas keinginan merubah kebijakan yang merugikan warga Samarinda ―Secara keadilan hukum warga bersatu menggunakan hak konstitusional menegur pemerintah, sebagai penanda pengambil kebijakan tidak pro rakyat. Berdarkan hasil wawancara dengan MJI yang merupakan NGO, Jaringan Atvoksi Tambang ( JATAM) menyataka sebagai berikut.

Mulanya adalah kegelisahan, karena di hulu, sawah dihantam banjir, kota direndam banjir karena hukum tak bergigi dan kegelisahan berubah kemarahan, kemarahan “Gerakan Samarinda Menggugat” (GSM) (Panduan Wawancara No.19/MJI/17/12/2017).

Hal tersebut juga di ungkapkan oleh pendiri ―Gerakan Samarinda Menggugat‖

(GSM), KAB atau yang sering di sapah Bang O.

Mereka adalah warga kota Samarinda yang memperjuangkan keselamatan lingkungan, desa dan tanah airnya dari daya rusak tambang batubara. Mereka bersama warga kota lainnya yang melawan daya rusak pertambangan batubara atau kerusakan lingkungan lainnya. Melakukan gugatan kepada Pemerintah Kota Samarinda adalah merupakan bentuk memperjuangkan keadilan lingkungan (Panduan Wawancara No.23/KAB/9/12/2017).

(19)

Matriks 4.1.

Gerakan Sosial (GSM) Yang Memperjuangkan Perubahan Kebijakan Pelestarian Lingkungan

Dasar

Sebelum Gerakan Sosial

Panduan Wawancar

a Setelah Gerakan Sosial

Sebelum Setelah

Proses Gerakan

Sosial

Dulu saya tinggal di Makroman sejak 1985 setelah kedatangan para transmigran di sana saya meminjam tanah milik kerabat istri saya. Lahan itu kemudian saya diolah menjadi petak- petak sawah tapi, sejak adanya perusahaan itu membuat sawah saya krisis air ketika

kemarau, banjir ketika hujan menjadi petaka bagi saya dan para petani di Makroman.

Hama tikus juga menjadi bencana bagi padi-padi yang mulai ranum di amakan tikus, karena hewan ini kehilangan tempattinggalnya

sehingga sawah menjadi habitat baru tikus

Mulanya adalah kegelisahan, karena di hulu, sawah dihantam banjir, kota direndam banjir karena hukum tak bergigi dan kegelisahan berubah kemarahan, kemarahan “Gerakan Samarinda Menggugat”

mereka adalah warga kota Samarinda yang memperjuangkan

keselamatan lingkungan, desa dan tanah airnya dari daya rusak tambang batubara. Mereka

bersama warga kota lainnya yang melawan daya rusak

pertambangan batubara atau kerusakan

lingkungan lainnya.

No. 9- 11./Pak. K.

No. 19/MJI- 23/KAB.

Sumber: Data Primer, diolah tanggal 30 Desember 2017

(20)

2. Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya (GSM) Dalam Memperjuangkan Perubahan Kebijakan Pelestarian Lingkungan

a. Kerugian Warga Kota Samarinda

Kerugian yang diderita para tergugat sebagai korban dan pihak yang sama dengan 812.597 jiwa penduduk Kota Samarinda sampai dengan Desember Tahun 2015, akan diuraikan tersendiri dalam sub bab berikutnya di bawah ini; Salah satu faktor terbesar terjadinya perubahan iklim adalah akibat ulah manusia, yang terjadi karena emisi manusia dari Gas Rumah Kaca, yang berasal dari berbagai kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggunaan batu bara berlebihan, pembukaan hutan (vegetasi lahan) dan rawa gambut, pemupukan tanaman, pemeliharaan hewan ternak, hingga memproduksi barang-barang hasil industri. Mayoritas sumber Gas Rumah Kaca Indonesia berasal dari sektor perubahan tata guna lahan dan kehutanan, energi, pembakaran lahan gambut, limbah, pertanian, dan industri.

Secara umum perubahan iklim akan membawa perubahan kepada parameterparameter cuaca yaitu temperatur, curah hujan, tekanan, kelembaban udara, laju serta arah angin, kondisi awan, dan radiasi matahari. Perubahan pada curah hujan akan berdampak pada sektor-sektor yang terkait dengan air, yaitu sumber daya air, pertanian, infrastruktur (termasuk pemukiman, transportasi, Pembangkit Listrik Tenaga Air dan penataan ruang), perikanan, rawa, dan lahan gambut, serta pantai. Dampak perubahan iklim terhadap sektor- sektor terkait sumber daya air antara lain, meningkatnya kejadian cuaca dan iklim ekstrem yang berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Gambar: 4.8

Perumahan Talangsari di Lempake Samarinda dihimpit oleh aktifitas tambang batubara

(Sumber Jatam Kaltim)

(21)

b. Kota Samarinda sejak 71% wilayah menjadi konsesi pertambangan, banjir menyerang pusat-pusat kota.

Banjir untuk kota Samarinda adalah cerita lama. Namun setelah maraknya tambang batubara banjir kian mendera. Sebelumnya tanpa tambang batubara, banjir yang relatif besar hanya datang dalam siklus 3 atau 5 tahunan sekali. Kini dalam 3 tahun terakhir, banjir selalu melanda kota ini setiap kali terjadi hujan deras. Musim hujan kini identik dengan musim banjir. Samarinda lebih sering dihantam banjir semenjak maraknya pengerukan batubara.

Berdarkan hasil wawancara dari PR sebagai koordinator Jatam Kaltim menjelaskan bahwa.

Banyak warga harus mendongkrak pondasi dan tiang ruang agar terhindar dari genangan banjir. Tidak hanya banjir dan lahan yang tak subur yang menjadi dampak daya rusak pertambangan, kesehatan manusia juga ikut terdampak. Dinas Kesehatan Kota Samarinda mencatat tangguan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) adalah daftar penyakit teratas yang diderita warga Samarinda. Hingga awal 2011 tercatat 17.444 kasus orang yang mengalami penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (Panduan Wawancara No.10/PR22/12/2017).

Ini membuktikan bahwa kualitas udara di Samarinda sangat buruk. Selain karena aktifitas pertambangan batubara, kondisi ini diperburuk dengan minimnya hutan kota, ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai penyaring udara. Hal yang sama di sampaikan oleh MJI Koordianator Jatamas terkait Kota Samarinda dalam wawacancara sebagai berikut:

Gelap gulita, karena pemadaman listrik bergilir adalah pengalaman yang biasa untuk warga Samarinda. Padahal Samarinda bersama beberapa Kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Timur adalah pemasok lebih dari separuh produksi batubara di Indonesia.

Samarinda ibarat memakan bagian tubuhnya sendiri, untuk memperkaya segelintir perusahaan dan pengusaha ekstraktif, mempertebal kantong Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menerangi kota-kota di daerah lain bahkan negara lain (Panduan Wawancara No.20/MJI/17/12/2017).

Alih fungsi hutan dan lahan menjadi wilayah pertambangan batubara berakibat pada tingginya angka banjir di Samarinda paska otonomi daerah.

Banyaknya ijin tambang yang dikeluarkan di Samarinda membuat hutan kota hanya tersisa 0,8% dari luasan kota. Sehingga tidak ada lagi daerah resapan air yang mampu menahan air hujan. Tidak heran jika satu kali banjir bisa menggenangi 14.000 keluarga. Banjir semakin sering menghantam kota. Kini

(22)

bisa 4 kali setahun. Sepanjang 2007-2011, Jatam Kaltim mencatat 72 kali banjir menyerang Samarinda.

Gambar: 4.9

Banjir di Kota Samarinda

(Sumber: Fachmi Rachman/Tribun Kaltim)

Berdarkan hasil wawancara dengan SA. Mahasiswa MIPA Biologi Universitas Mulawarman

Karena banjir saya terpaksa harus tinggal di rumah pamannya untuk menghindari jebakan banjir ketika hujan turun. Biasanya waktu tempuh dari rumah orangtua saya ke kampus hanya memakan waktu 45 menit, namum ketika hujan turun dan air mulai menggenangi kota maka saya bisa menghabiskan waktu 1 sampai 1,5 jam di jalan menuju kampus (Panduan Wawancara No.6/SA/24/12/2017)

Gambar 4.10

Banjir di simpang empat Mall Lembuswana Kota Samarinda (Sumber: Robi Johan/ Kaltim Pos 2015)

(23)

Hal ini tidak hanya dirasakan SA. Begitupula dengan KAB atau Bang O, salah satu penggiat GSM.

Saya setiap hari harus mengantar jemput anaknya ke sekolah, kalau semalaman hujan datang maka keesokan paginya saya harus mengantar anaknya lebih awal dari jam biasanya dan mengantri panjang di titik-titik banjir sepanjang perjalanannya. Saya yang tinggal kira-kira lima kilometer dari sekolah anak-anaknya itu, ketika banjir harus melewati dua sampai tiga titik banjir di Kota Samarinda (Panduan Wawancara No.3/KAB/17/12/2017)

Gambar: 4.11

Banjir di Jalan Lempake Kota Samarinda (Sumber: Dokumen Pribadi, September 2017) Keresahan yang sama dialami oleh seorang rohaniwan. Pastor YKTM

Sejak tahun 2008 saya bertugas di salah satu paroki di Keuskupan Agung Samarinda (KASRI), tak jarang terjebak banjir ketika harus melakukan pelayanan baik ke lingkungan paroki ataupun harus ke stasi-stasi di pinggiran kota Samarinda. “Bahkan tak jarang pula Gereja tempat saya bertugas terendam banjir, sehingga kami harus mengeluarkan biaya untuk menaikkan lantai atau jika dana belum mencukupi maka kami membuat sekat saja di pintu-pintu agar ketika banjir air tidak langsung masuk ke dalam ruangan pastoran”(Panduan Wawancara No.35/31/12/2017).

Tak hanya Gereja. Pondopo Pesantren juga kerap kebanjiran, seperti yang disampaikan oleh AA.

Buruknya pengelolaan lingkungan di Kota Samarinda. “Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Al-Fatah Samarinda sudah sering

(24)

direndam banjir lumpur. Bahkan, banjir sampai masuk ke rumah beberapa ustadz setinggi lutut (Panduan Wawancara No.10/AA/31/12/2017).

Berdasarkan penuturan KAB dalam wawancara menyatkan bahwa.

Hal ini akan meningkatkan kerusakan prasarana dan sarana, menurunnya produksi pangan serta kerugian harta benda perorangan dan korban jiwa manusia. Sejak 71% wilayah kota Samarinda menjadi konsesi pertambangan, banjir menyerang pusat-pusat Kota Samarinda (Panduan Wawancara No.4/KAB/19/12/2017).

Menurut catatan Jatam Kaltim, terdapat 35 titik banjir di Samarinda. Salah satunya adalah di simpang empat lampu merah Lembuswana. Dimana tempat ini merupakan salah satu pusat kota. Beberapa fasilitas publik terbangun di sekita jalur ini. Ada rumah sakit umum daerah, mall, kampus hingga rumah jabatan Walikota pun terbangun di daerah ini. Namun sayangnya jalur ini menjadi jalur mati ketika banjir menggenangi kota.

c. Tragedi 28 anak meninggal di Lubang Tambang Batubara

Kota Samarinda merupakan salah satu wilayah yang ditetapkan kementerian ESDM masuk dalam wilayah usaha pertambangan, dengan itu Pemkot Samarinda mengeluarkan kebijakan pengelolaan pertambangan batubara sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Dinas Pertambangan dan Energi Kota Samarinda mencatat hingga tahun 2014, ada 5 izin dalam bentuk PKP2B yang sepenuhnya dikeluarkan oleh pemerintah pusat, 1 IUP Pemerintah Propinsi, dan 63 IUP yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah Kota Samarinda. Dengan luasan masingmasing 33,48% PKP2B, 32,5% IUP Propinsi, 38,37% IUP Kota. Total dari luas wilayah pertambangan terhadap luas wilayah Kota Samarinda sudah mencapai angka 71%.

Banyaknya ijin pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota Samarinda tidak hanya berdampak pada alih fungsi lahan dan banjir yang menjadi keresahan warga. Pengawasan terhadap ijin yang dikeluarkan juga mendatangkan petaka bagi warga kota khususnya anak-anak. Lubang bekas galian tambang seluas satu hingga dua kali lapangan sepak bola dengan kedalaman sekitar 80 meter ke atas yang dibiarkan begitu saja telah memangsa nyawa anak-anak, generasi masa depan Samarinda. Generasi masa depan Samarinda adalah generasi suram karena ruang hidup yang minim dan lingkungan hidup yang tidak aman dan nyaman. Lubang bekas galian batubara yang dibiarkan menganga tergenang oleh air menjadi petaka bagi anak-anak.

(25)

Gambar: 4.12

Koko Handoko (16) meninggal di lubang Tambang CV. Atap Tri Utama di Bentuas Kecamatan Palaran, Samarinda pada 8

Desember 2015.

(Sumber: Yustinus S. Hardjanto 2015)

Hasil wawancara dari PR yang merupakan koordinator Jatam Kaltim menyatakan bahwa.

Kualitas Air Lubang-lubang bekas tambang dari lima konsesi pertambangan batubara di Samarinda ditemukan memiliki derajat keasaman (pH) yang sangat rendah, jauh di bawah standar yang ditetapkan pemerintah. Dari seluruh sampel, diantaranya memiliki derajat keasaman (pH) 3,2 ppm. Seluruh sampel yang diambil juga terdeteksi mengandung konsentrasi logam berat. Hal itu yang menyebabkan ketika anak berenang di lubang tambang batubara, tenaganya cepat terkuras dan pada akhirnya menghembuskan nafas terahir di lubang tambang (Panduan Wawancara No.11/PR/22/12/2017).

(26)

Gambar: 4.13

Kualitas air di bekas lubang tambang batubara di Samarinda (Sumber: Jatam Kaltim)

Selanjutnya PR menjelaskan dalam wawancara terkait debu tambang batubara.

Dalam hal ini bukan cuma kualitas air yang buruk tapi debu batubara pun sangat mengganggu kesehatan, contoh kasus seperti yang terjadi tahun 2013 ada 8 fasilitas pendidikan yang terkena dampak dari debu tambang batubara, mulai dari SD, SMP, hingga Pesantren yang terjadi di Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, sebulan lamanya murid gotong-royong membersihkan kelas dari debu tambang batubara dimusim kering dan lumpur dimusim penghujan (Panduan Wawancara No.12/PR/ 22/12/2017).

(27)

Gambar: 4.14

Ada 8 fasilitas pendidikan terkena dampak debu tambang batubara

(Sumber: Jatam Kaltim 2013)

Berdasarkan hasil wawancara yang di ungkapkan oleh KAB menyebutkan bahwa.

Dampak dari obral izin pertambang batubara yang tumpang tindih antar kawasan, padat pemukiman, salah satunya mengakibatnya lubang-lubang eks tambang meninggalkan air beracun dan logam berat yang sudah menelan korban anak- anak tenggelam di lubang eks tambang batubara sampai Desember 2017 berjumlah 28 orang diantaranya anak-anak dengan rincian di Kota Samarinda (15 anak), Kutai Kertanegara (10 anak) Pasir Panajem Utara (2 orang). Kutai Barat (1 anak) (Panduan Wawancara No.10/KAB/9/12/2017).

(28)

Gambar: 4.15

Proses evakuasi Dede Rahmad (6) yang meninggal di lubang tambang perusahaan PT. Panca Prima Mining pada 24 Desember

2011

(Sumber: Abdallah Naem 2011)

Hal yang senada yang di ungkapkan oleh MJI terkait kasus anak meninggal di lubang tambang.

Setiap peristiwa tewasnya korban dilubang tambang tidak pernah sekalipun terselesaikan secara tuntas pada jalur hukumnya. Tidak hadirnya niatan baik untuk menyelamatan lingkungan dari bahaya pertambangan batubara terlebih kepada masa depan anak-anak Samarinda dirasa menjadi alasan utama kasus semacam ini terus berulang selama 6 tahun (Panduan Wawancara No.21/MJI/17/12/2017).

(29)

Tabel: 4.2

Daftar Korban Anak Meninggal Di Lubang Tambang Batubara Kalimantan Timur

No. Perusahaan Korban Lokasi Waktu

Kerjadian 1. PT. Kitadin Muhammad Fariqi (14)th Desa bangun Rejo Kec.

Tenggarong Seberang

26 Januari 2012 2. PT. Bara Sigi Mining

(BSM)

Sanofa M Rian (14)th Desa Sebulu Modern RT.

14 (jalan poros Tenggarong Sebulu) Kecematan Sebulu

05 Agustus 2015 3. PT. Muliana Jaya Budi Maulana (11)th Kelurahan Jawa RT.4

Kecamatan Sangasanga

Agustus 2013 4. PT. Multi Harapan

Utama

Mulyadi (15)th RT.3, Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong Seberang

16 Desember 2015 5. SKU Wijaya Kusuma Dewi Ratna (9)th Desa Sumber Sari Kec.

Sebulu

30 Desember 2015 6. PT. Bukit Baiduri

Energi

Noval Fajar Slamet Riyadi (15)th Desa Bukti Raya RT.19 Kec. Tenggarong Seberang

23 Maret 2016 7. PT. Bukti Baiduri Diky Daditya (15)th Desa Bukti Raya RT.19

Kec. Tenggarong Seberang

23 Maret 2016 8. PT. Kitadin Tidak Terindentifikasi Tenggarong Seberang,

Kutai Kartanegara

15 Mei 2016 9. PT. Insani Bara Perkasa Wilson (17)th KM. 9, RT 18, Desa

Purwajaya Kec. Lojanan

15 Mei 2016 10. PT. Hymco Coal Miftahul Jannah (10)th Sungan Kebau Kec.

Sambutan

13 Juli 2011

11. PT. Hymco Coal Junaidi (13)th Sungan Kebau Kec.

Sambutan

13 Juli 2011

12. PT. Hymco Coal Ramadhani Sungan Kebau Kec.

Sambutan

13 Juli 2011 13. PT. Panca Prima

Mining

Dede Rahmad (Eza) (6)th Sambutan Idaman Permai, Pelita 2 Samarinda

24 Desember 2011 14. PT. Panca Prima

Mining / PD PAU

Emaliya Raya Dinata (Ema) (6)th Sambutan Idaman Permai, Pelita 2 Samarinda

24 Desember 2011 15. PT. Insani Bara Perkasa Maulana Mahendra (11)th Blok B RT.20, Simpang

Pasar Palaran Samarinda

25 Desember 2012 16. Tak Terindentifikasi M. Shendy (8)th Sambutan Pelita 4, Handil

Kopi Blok L No 4

14 Maret 2013 17. PT. Eenergi Cahaya

Industritama

Nadia Zaskia Putri (10)th Kel. Rawa Makmur Kec.

Palaran

08 April 2013 18. PT. Graha Benua Etam M. Raihan Saputra (10)th Sempaja, Samarinda 22 Desember

2014 19. PT. Energi Cahaya

Mandiri

Ardi Bin Hasyim (13)th Sambutan, Samarinda 23 Mei 2015 20. PT. Lana Harita

Indonesia

M. Yusuf Subhan (11)th Sungai Siring, Samarinda 24 Agustus 2015 21. PT. Transisi Energi

Satunama

Aprilia Wulandari (12)th Lok Bahu, Samarinda. 18 November 2015 22. CV. Atap Tri Utama Koko Dwi Handoko (16)th Bentuas Palaran, Samarinda 08 Desember

2015 23 CV. Panca Bara

Sejahtera

Kusmayadi (22)th Palaran Samarinda 03 Mei 2016 24. PT. Insani Bara Perkasa M. Arham (5)th (Setelah

Amputasi 6 kali operasi 27 hari di RSUD A. Moeis Samarinda)

Palaran Samarinda 06 Mei 2016

25 PT. Bumi Energi Kaltim Agus Irawan (Iwan) (20)th Bumiling Panajam Paese Utara

12 Pebruari 2016 26 PT. Energi Cahaya

Industritama

Dias Mahendra (15)th Penajam Paser Utara Tak Terindentifikasi 27 PT. Bumi Energi

Cahaya Industritama

EdY Kurniawan Bukuan, Palaran Samarinda 08 Nivember 2016 28 PT. Gunung Bayan

Pratama Coal

Novita Sari Pit 7D5, Desa Belusuh, Kecamatan Silud Ngurai

Kuatai Barat

25 juni 2017

Sumber Data: Jaringan Atvokasi Tambang Kalimantan Timur 2017

(30)

d. Perubahan Iklim Emisi Gas Rumah Kaca dari Penambangan Batubara

Achmad Santosa dalam tulisannya Introduction: Climate Change Risk, Sources and Government Policies and Measures (Climate Change Liability:

Cambridge 2012), cuaca ekstrem juga memberikan dampak yang meresahkan bagi populasi yang tinggal di pesisir pantai, karena seringkali menjadi korban dari bencana yang terjadi akibat cuaca ekstrem, wabah penyakit, kekeringan, serta banjir. Hal ini juga memberikan dampak negatif bagi sektor pertanian, seperti diketahui sektor pertanian merupakan sumber mata pencaharian bagi 40% tenaga kerja di Indonesia.

Perubahan iklim yang telah dirasakan dampaknya di seluruh penjuru tanah air, pemerintah telah berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca hingga 26% melalui upaya nasional dan hingga 41% dengan dukungan internasional pada 2020. Selain itu Indonesia juga turut serta sebagai pihak dalam Framework Convention on Climate Change (FCCC) dengan meratifikasi konvensi tersebut melalui UU No. 6 Tahun 1994 serta telah meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU No. 17 Tahun 2004.

Kontribusi pertambangan batubara di Kota Samarinda terhadap perubahan iklim yang cukup drastis yang telah terjadi di Propinsi Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda, diuraikan sebagai berikut: Batubara merupakan sumber emisi penyebab perubahan iklim global yang signifikan.

Penambangan dan pembakaran batubara yang digunakan untuk pembangkit energi, pembuatan semen dan produksi baja merupakan mesin utama pemanasan global. Proses bagaima pembuangan emisi dan berapa emisi yang dikeluarkan dari kegiatan penambangan dan pembakaran batubara tersebut akan dijelaskan di bawah ini:

1. Emisi Gas Rumah Kaca dari Penambangan Batubara

Penambangan batu bara merupakan salah satu sumber terbesar emisi metana yang ada di atmosfer. Tambang batubara itu melepaskan emisi metana ke atmosfer. Emisi metana itu dua puluh kali lebih kuat daripada karbondioksida sebagai gas rumah kaca. Di Amerika Serikat sendiri pada tahun 2006, pelepasan gas metana yang terkait dengan energi sebesar 26%

adalah hasil langsung dari penambangan lapisan batubara yang terkubur. Di

(31)

seluruh dunia, sekitar 7% dari emisi metana tahunan berasal dari tambang batubara. Metana ini dapat digunakan untuk menghasilkan energi dengan lebih efisien daripada batubara itu sendiri.

Secara teoritik, metana dapat ditangkap dari lapisan bawah tanah sebelum dilakukan penambangan terbuka, tetapi kalau pun pernah, hal ini sangat jarang dilakukan. Lebih mudah menangkapnya dalam tambang bawah tanah. Besar volume emisi metana pada batubara ini sebesar 8%.

Pelepasan metana pada batubara dapat melalui 2 kegiatan yakni:

a. Coal mine methane (CMM-Metana Tambang Batubara) merupakan metana yang disemburkan oleh lapisan batubara selama penambangan batubara.

b. Coalbed methane (CBM-Metana Lapisan Batubara) merupakan gas metana yang terperangkap pada lapisan batubara yang tidak atau tidak akan ditambang.

2. Selain itu, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh suatu kegiatan penambangan batubara kerap kali menjadi lebih besar akibat aktivitas land clearing yang dilakukan sebelum kegiatan penambangan.

Wilayah penambangan seringkali berada pada areal berhutan sehingga ketika hutan ditebang, emisi karbon dioksida (CO2) dilepaskan ke udara dalam jumlah yang besar. Indonesia menghasilkan 13.1 Miliar Ton dan Indonesia menempati urutan ke 2 di dunia setelah Brasil yang menghasilkan sekitar 25.8 Miliar metrik ton karbon dioksida equivalent (CO2e) antara 1990 dan 2010 sebagai negara yang menghasilkan emisi paling tinggi dari hilangnya hutan selama periode 20 tahun. Emisi Gas Rumah Kaca dari Pembakaran Batubara.

Begitu bahan bakar fosil dibakar untuk menghasilkan energi, maka karbon dalam bahan bakar bereaksi dengan oksigen yang kemudian membentuk gas karbon dioksida, yakni CO2. Sebagian besar gas ini dilepaskan ke atmosfer. Pembakaran batubara (yang terdiri dari karbon 'bebas') menghasilkan lebih banyak karbon dioksida per unit energi yang dihasilkan daripada bahan bakar fosil lainnya. Dibandingkan dengan gas (yang sebagian besar terdiri dari metana dengan senyawa karbon, CH4), batubara melepaskan 66% lebih banyak CO2 per unit energi yang dihasilkan.

(32)

Kekayaan sumber daya alam pertambangan umum batubara di kota Samarinda yang sangat besar ini dapat dilihat dari luas areal pertambangan sebesar 24.376 Ha, yang penambangannya dilakukan dengan tambang terbuka (open pit), dengan jumlah Perusahaan Pemegang Kuasa Pertambangan (KP) eksploitasi, yang ijinnya diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI sampai dengan tahun 2007 adalah 58 sebanyak 34 KP. Hingga 2008, Walikota telah menerbitkan 46 ijin KP eksploitasi seluas 22.202,43 ha, 5 (lima) KP eksplorasi seluas 859,10 ha, dan 3 (tiga) ijin KP Penyelidikan umum seluas 1.314,70 ha, dengan rincian sebagai berikut.

(33)

Tabel: 4.3

Daftar Ijin Usaha Pertambangan batubara (IUP) Samarinda

No Nama perusahaan Luas Wilayah

(HA)

Nomor Keterangan

1. Bara Sumber Makmur KOPTAM 87.51 545/29/KPE/VI/2001 Operasi Produksi

2. Kopta KUD 97.35 545/020/KPE/I/2003 Operasi Produksi

3. Arjuna CV (I) 695.50 545/142/KPE/2004 Operasi Produksi

4. Arjuna CV (II) 902.50 454/143/KPE/2004 Operasi Produksi

5. Panca Prima Mining PT (I) 430.50 454/144/KPE/2004 Operasi Produksi

6. Panca Prima Mining PT (II) 950.20 545/179/KPE/2004 Operasi Produksi

7. Cahaya Tiara PT (I) 1.000.00 545/145/KPE/2004 Operasi Produksi

8. Cahaya Tiara PT (II) 680.30 545/146/KPE/2004 Operasi Produksi

9. Yayasan Laskar Pemuda Adat Dayak 131.70 545/140/KPE/2004 Operasi Produksi

10. Baratam Makmur CV (I) 120.10 545/023/HUK-KS/2005 Operasi Produksi

11. Baratama Makmur CV (II) 64.13 545/024/HUK-KS/2005 Operasi Produksi

12. Transisi Energi CV 946.60 545/080/HUK-KS/2005 Operasi Produksi

13. Samarinda Prima Coal 690.00 152/HK-KS/2005 Operasi Produksi

14. Putra Mahakam Mandiri KSU 90.50 308/HK-KS/2005 Operasi Produksi

15. Era Bara Energi CV 85.87 361/HK-KS/2005 Operasi Produksi

16. Graha Benua Etam 498.70 361/HK-KS/2005 Operasi Produksi

17. Dunia Usaha CV 1.351.00 035/HK-KS/2006 Operasi Produksi

18. Limbuh CV 1.200.00 034/HK-KS/2006 Operasi Produksi

19. Sungai Berlian CV 170.80 077/HK-KS/2006 Operasi Produksi

20. Gelinggang Mandiri KSU 101.60 279/HK-KS/2006 Operasi Produksi

21. Buana Rizky Arma CV (1) 948.20 406/HK-KS/2006 Operasi Produksi

22. Bukit Pinang Bahari 64.01 502/HK-KS/2006 Operasi Produksi

23. Internasional Prima Coal PT (I) 1.542.00 538/HK-KS/2006 Operasi Produksi 24. Internasional Prima Coal PT (II) 1.300.00 536/HK-KS/2006 Operasi Produksi 25. Internasional Prima Coal PT (III) 396.00 537/HK-KS/2006 Operasi Produksi

26. Himko Coal PT 125.00 545/188/HK-KS/2007 Operasi Produksi

27. Berkat Nanda 415.50 545/254/HK-KS/2007 Operasi Produksi

28. Buana Rizky Arma CV (II) 199.90 545/305/HK-KS/2007 Operasi Produksi

29. Nadvara CV 628.70 545/351/HK-KS/2007 Operasi Produksi

30. Bumi Betuah PT 64.60 545/388/HK-KS/2007 Operasi Produksi

31. Tunggai Viradus Kaltim CV 69.80 545/389/HK-KS/2007 Operasi Produksi

32. Nuansacipta Coal Invertmen 2.001.00 545/477/HK-KS/2007 Operasi Produksi

33. Transisi Energi CV (II) 195.60 545/488/HK-KS/2007 Operasi Produksi

34. Mampala Jaya CV (II) 185.60 545/512/HK-KS/2007 Operasi Produksi

35. Panca Bara Sejahtera CV 133.00 545/081/HK-KS/2008 Operasi Produksi

36. Tiara Bara Borneo PT 564.80 545/096/HK-KS/2008 Operasi Produksi

37. Mada Perkasa CV 496.20 545/109/HK-KS/2008 Operasi Produksi

38. Sakha CV (I) 94.92 545/110/HK-SK/2008 Operasi Produksi

39. Atap Tri Utama CV 414.40 545/177/HK-KS/2008 Operasi Produksi

40. Sakha CV (II) 46.27 454/178/HK-KS/2008 Operasi Produksi

41. Bismillahi RBS Kaltim CV 100.30 545/281/HK-KS/2008 Operasi Produksi

42. Busur Abadi 791.76 545/282/HK-KS/2008 Operasi Produksi

43. Ardom CV 948.73 545/300/HK-KS/2008 Operasi Produksi

44. Mahatidana KSU 193.20 545/402/HK-KS/2008 Operasi Produksi

45. Tujuh Tujuh CV 189.4 545/403/HK-KS/2008 Operasi Produksi

46. Himko Coal PT 595.10 545/187/HK-KS/2007 Operasi Produksi

47. Rinda Putra Sejahtera CV 644.10 545/557/HK-KS/2007 Operasi Produksi

48. Bright Energi Indoensia PT 215.00 545/018/HK-KS/2008 Operasi Produksi

49. Multi Bara Energi CV 399.9 545/429/HK-KS/2008 Operasi Produksi

50. Erida Makmur Bersama 545.00 545/478/HK-KS/2008 Operasi Produksi

51. Mampala Jaya CV (II) 706.70 545/001/HK-KS/2008 Operasi Produksi

52. Makkari Tutu Abadi CV 61.80 545/028/HK-KS/2008 Operasi Produksi

53. Mutiara Etam Coal CV 546.20 545/251/HK-KS/2008 Operasi Produksi

Sumber: Distamben Kota Samarinda Tahun 2012

(34)

Disamping ijin KP yang diterbitkan oleh Walikota terdapat pula perusahaan kontraktor PKP2B yang beroperasi di wilayah Kota Samarinda, yang perjanjiannya dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI dengan perusahaan kontraktor PKP2B, yakni PT Lanna Harita dan PT Mahakam Sumber Jaya .

Pertambangan batubara salah satu kegiatan yang memiliki resiko tinggi atau berdampak penting terhadap kelestarian lingkungan. Pertambangan umum batubara khususnya yang beroperasi (eksploitasi) dengan metode open pit mining memiliki karakteristik kegiatan yang merubah bentang alam, menghilangkan vegetasi awal, mengubah kontur lahan, mengupas lapisan pucuk yang subur zat hara, menyebabkan polutan udara dan menghasilkan limbah cair yang dapat bersifat asam (acid). Oleh karena itu pertambangan batubara seyogyanya dikelola dengan prinsip-prinsip pertambangan yang baik (good mining practices) yang mengutamakan prinsip pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi sebagai berikut:

1. Kenaikan temperatur suhu udara di Kota Samarinda rata-rata sebesar 0,04 derajat/tahun.

2. Data Tren Suhu Udara Rata-Rata Stamet Temindung Samarinda Tahun 1982 -2012 yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda.

3. Meningkatnya jumlah curah hujan rata-rata di Kota Samarinda pada tahun 2012

4. Data Tren Curah Hujan Dari Tahun Ke Tahun Stamet Temindung Samarinda Tahun 1978-2012 yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda.

5. Data Curah Hujan Tahunan Stamet Temindung Samarinda Tahun 1978 – 2012 yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda.

6. Data Tren Hari Hujan Dari Tahun Ke Tahun Stamet Temindung Tahun 1978-2012 yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda.

Terbukti bahwa perubahan iklim akibat meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) dan menurunnya kemampuan menyerap (absorbsi) tumbuhan-

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 12 Tahun 2004 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan, perlu

Dalam Permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa Standar Proses adalah kriteria mengenai

Sözde iş merkezi olarak kullanılan Regus Pla- za’dan tık çıkmadığı gibi, ülke için çok önemli olan bu meseleyi hükümet de duymazlıktan geldi!. Dün- ya üzerinde

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat membagi informasi dan pengetahuan tentang representasi gaya kepemimpinan seseorang dalam hal ini adalah calon

menyatakan cukup mudah karena responden berpikir bahwa dengan menggunakan mobile commerce memang lebih mudah dalam penyelesaian transaksi tetapi dalam hal kepengurusan

hal ini juga sejalan dengan hasil dari pengukuran kapasitas paru yang diketahui terdapat 30 responden (85,7%) yang kapasitas parunya tidak normal

Berdasarkan hasil skala sikap yang tertera pada tabel 2, terlihat bahwa siswa memberikan respon yang positif dan menaruh minat terhadap pembelajaran matematika

Pada menjalankan kuasa-kuasa yang diberikan oleh seksyen 168, Kanun Tanah Negara, maka inilah diberi kenyataan bahawa adalah dicadangkan hendak mengeluarkan surat