BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan adalah sebuah ruang, bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu dan digunakan pembaca bukan untuk dijual. (Sulistiyo Basuki, 1991:3).
Wafford (1969:1) dalam bukunya manajemen dan tata kerja perpustakaan sekolah menerjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum.
Menurut Sulistiyo Basuki, (1991: 52) Perpustakaan bertugas mengelola koleksi perpustakaan, yang mencakup kegiatan-kegiatan survey kebutuhan pengguna, penyusun kebijakan, pengembangan koleksi, pemilihan, dan pengadaan bahan perpustakaan. Pengolahan, pelayanan, perawatan, bahan pustakan serta evaluasi koleksi. Pengelolaan koleksi harus selaras dengan misi dan visi perpustakaan.
Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya
memenuhi kebutuhan pendidikan (E. Yani Sulistyowati, 2012:90) dalam Info PERSADHA (Media Informasi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma) Vol.10 No.2.
1. PERANAN PERPUSTAKAAN
Menurut Sutarno, (2003: 55-56) dalam buku perpustakaan dan masyarakat, peran yang dijalankan oleh perpustakaan antara lain adalah:
a. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.
b. Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan antara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.
c. Perpustakaan dapat berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya baca, melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
d. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
e. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan
f. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan.
g. Perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan pemakai (user education).
h. Perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasil karya umat manusia yang tak ternilai haraganya.
i. Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan.
j. Secara tidak langsung, perpustakaan yang berfungsi dan dimanfaatkan dengan baik, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalah gunaan obat-obat terlarang dan tindak indisipliner.
2. FUNGSI PERPUSTAKAAN
Secara umum, menurut Darmono (2001:3) dalam buku Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, perpustakaan mengemban beberapa fungsi umum sebagai berikut:
a. Fungsi Informasi
Perpustakaan menyediakan berbagai informasi dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan oleh pengunjung perpustakaan, dapat memilih informasi yang layak sesuai dengan kebutuhannya, dan memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tugas perpustakaan untuk menyediakan bahan informasi yang tepat, teliti dan lengkap serta mengajarkan kepada pemakai bagaimana memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhannya.
b. Fungsi Pendidikan
Koleksi dan pelayanan perpustakaan harus mendukung tercapainya tujuan pendidikan perguruan tinggi secara keseluruhan, untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan, mempercepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru.
c. Fungsi kebudayaan
Fungsi perpustakaan disini adalah sebagai perekam hasil kebudayaan bangsa. Koleksinya dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfaatkan berbagai informasi sebagai rekam budaya untuk meningkatkan taraf hidup, mutu kehidupan manusia baik secara individual maupun secara
kelompok, mendorong tumbuhnya kreativitas dalam berkesenian, untuk membangkitkan minat terhadap kesenian dan keindahan.
d. Fungsi rekreasi
Sebagai bahan selingan dari kegiatan ilmiah di perguruan tinggi, perpustakaan menyediakan berbagai koleksi yang bisa menciptakan kehidupan yang seimbang baik jasmani dan rohani, menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif dan menyenangkan. misalnya: novel, buku musik, buku tips menarik, dan buku memasak makanan favorit: termasuk didalamnya koran, majalah populer, dan lain sebagainya.
e. Fungsi penelitian
Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian dan perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil penelitian dari semua anggota tersebut.
f. Fungsi Deposit
Perpustakaan berkewajiban menyimpan dan melestarikan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah indonesia.
Perpustakaan yang menjalankan fungsi deposit secara nasional adalah perpustakaan nasional.
B. Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi
Soetopo (2002) dalam bukunya teknologi informasi perpustakaan mengatakan perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah atau perguruan tinggi yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal.
Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka, dikelola secara sistematis untuk di gunakan berbagai informasi bagi pemakai perpustakaan.
Menurut Rusina Syahrial Pamuntjak perpustakaan perguruan tinggi adalah Perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi, baik yang berupa perpustakaan universitas, perpustakaan fakultas, perpustakaan akademi, perpustakaan sekolah tinggi, maupun perpustakaan lembaga penelitian dalam lingkungan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan suatu unsur penunjang yang merupakan perangkat kelengkapan dibidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Setiap perguruan tinggi harus memiliki perpustakaan yang bertugas menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang disebut Unit Pelaksana Teknis.
PPT sering diibaratkan sebagai jantungnya Perguruan Tinggi (the heart of university), maka keberadaannya harus ada agar dapat memberikan layanan kepada sivitas akademika sesuai dengan kebutuhan. Dalam rangka
melaksanakan pengelolaan perpustakaan diperlukan pedoman sebagai panduan dan karena itu diperlukan pengetahuan tentang Standar Nasional Indonesia Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNI 7330.2009) dalam upaya pencapaian pengelolaan PPT yang baku.
Tujuan PPT (Perpustakaan Perguruan Tinggi)
Perpustakaan Perguruan Tinggi, diselenggarakan dengan tujuan untuk menunjang pelaksanaan program PT sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Dalam menunjang pengabdian kepada masyarakat, maka Perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT) melakukan kegiatan dengan mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi bagi masyarakat.
2. Pada dasarnya, tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT) secara umum adalah menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah dan merawat pustaka serta mendayagunakan untuk kepentingan civitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi
Secara umum, perpustakaan perguruan tinggi memiliki tugas, yaitu menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan,
mengolah, dan merawat pustaka serta mendayagunakannya baik bagi civitas academica maupun masyarakat luar kampus. Berdasarkan Pedoman umum
pengelolaan koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi, maka tugas dari Perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT) dapat dirinci, yaitu sebagai berikut:
1. Mengikuti perkembangan kurikulum serta perkuliahan dan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pengajaran atau proses pembelajaran.
2. Menyediakan pustaka yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas- tugas dalam rangka studi.
3. Mengikuti perkembangan mengenai program-program penelitian yang diselenggarakan di lingkungan Perguruan Tinggi induknya dan berusaha menyediakan literatur ilmiah dan bahan lain yang diperlukan bagi peneliti.
4. Memutakhirkan koleksi dengan mengikuti terbitan-terbitan yang baru baik berupa tercetak maupun tidak tercetak.
5. Menyediakan fasilitas yang memungkinkan pengguna mengakses perpustakaan lain maupun pangkalan-pangkalan data melalui jaringan lokal (intranet) maupun global (internet) dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi yang diperlukan (Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi, Jakarta: PNRI. 2002. Hal. 6).
Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi
Sesuai dengan standard Nasional Indonesia , fungsi PPT adalah:
1. Lembaga pengelola sumber-sumber informasi 2. Lembaga pelayanan dan pendayagunaan informasi 3. Wahana rekreasi berbasis ilmu pengetahuan
4. Lembaga pendukung pendidikan (pencerdas bangsa)
5. Lembaga pelestari khasanah budaya bangsa. Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0103/o/1981 menyatakan PPT berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, pusat penelitian dan pusat informasi bagi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan budaya serta peningkatan kebutuhan pemustaka maka fungsi PPT dikembangkan lebih rinci sebagai berikut :
1. Studying Center, artinya bahwa perpustakaan merupakan pusat belajar maksudnya dapat dipakai untuk menunjang belajar (mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan dalam jenjang pendidikan).
2. Learning Center, artinya berfungsi sebagai pusat pembelajaran (tidak hanya belajar) maksudnya bahwa keberadaan perpustakaan di fungsikan sebagai tempat untuk mendukung proses belajar dan mengajar.
(Undang-undang No 2 Tahun 1989 Ps. 35: Perpustakaan harus ada di setiap satuan pendidikan yang merupakan sumber belajar).
3. Research Center, hal ini dimaksudkan bahwa perpustakaan dapat dipergunakan sebagai pusat informasi untuk mendapatkan bahan atau data atau informasi untuk menunjang dalam melakukan penelitian.
4. Information Resources Center, maksudnya bahwa melalui perpustakaan segala macam dan jenis informasi dapat diperoleh karena fungsinya sebagai pusat sumber informasi.
5. Preservation of Knowledge center, bahwa fungsi perpustakaan juga sebagai pusat pelestari ilmu pengetahuan sebagai hasil karya dan tulisan bangsa yang disimpan baik sebagai koleksi deposit, local content atau grey literatur.
6. Dissemination of Information Center, bahwa fungsi perpustakaan tidak hanya mengumpulkan, pengolah, melayankan atau melestarikan namun juga berfungsi dalam menyebarluaskan atau mempromosikan informasi.
7. Dissemination of Knowledge Center, bahwa disamping menyebarluaskan informasi perpustakaan juga berfungsi untuk menyebarluaskan pengetahuan (terutama untuk pengetahuan baru) C. Pengertian Pemeliharaan Koleksi Bahan Pustaka
Dalam suatu perpustakaan agar koleksi buku-bukunya tetap baik dan tidak mudah rusak, maka perlu diadakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mencegah akan timbulnya unsur-unsur yang dapat merusak bahan pustaka. Hal ini sangat penting dilaksanakan, karena keutuhan dan
kerapian dari buku itu akan besar manfaatnya ataupun pengaruhnya terhadap pemakainya. Buku-buku yang sebagian telah rusak serta kurang teratur susunannya pasti akan menimbulkan rasa kurang senang untuk pengunjung perpustakaan, bahkan akan mengurangi selera (minat) untuk membacanya.
Dalam usaha pemeliharaan bahan pustaka ini juga tidak terlepas dengan lingkungan perpustakaan. Pemeliharaan lingkungan ini, yaitu pemeliharaan dan penjagaan bahan pustaka yang tidak berkenaan dengan fisik bahan pustaka, melainkan menyangkut gedung perpustakaan, ruang baca ruang penyimpanan dan peralatan yang ada di dalamnya. Pemeliharaan lingkungan yang dapat disebut juga dengan konservasi preventif adalah usaha menciptakan kondisi lingkungan yang baik dan ideal bagi bahan pustaka agar tidak terjadi kerusakan pada bahan pustaka tersebut (Darmono , 2001:79).
Untuk memudahkan pembahasan perlu dibatasi pengertian pelestarian sesuai definisi dari International Federation Of Library Association (IFLA) dalam buku Antologi Kepustakawanan Indonesia Blasius Sudarsono (2006:314-318):
1. Pelestarian (preservation). Mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip.
2. Pengawetan (conservation). Membatasi pada kebijakan dan cara khusus untuk melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.
3. Perbaikan (restoration). Menunjukan pada pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak.
4. Tujuan pelestarian bahan pustaka dan arsip. Adalah untuk melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dan arsip dengan alih media lain dan atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan secara optimal.
5. Pokok pelestarian bahan pustaka. Kelestarian bahan pustaka dan arsip tergantung pada beberapa faktor, diantaranya adalah: mutu bahan dasar, kualitas lingkungan penyimpanan, dan musuh-musuh lain.
6. Mutu bahan dasar. Pada dasarnya setiap bahan pustaka terdiri atas zat organik yang suatu saat pasti akan hancur.
7. Kualitas lingkungan simpan. Untuk jangka waktu yang panjang ada beberapa faktor berikut: Pertama, suhu udara dan kelembaban relatif akan sangat menentukan kelestarian bahan pustaka dan arsip. Kedua, unsur lain dalam kelompok kualitas lingkungan adalah polusi udara, termasuk adanya berbagai gas dan debu, selain juga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan jamur. Ketiga, unsur terakhir pada kelompok ini adalah cahaya, terutama cahaya ultra violet yang berperan dalam proses penguraian zat organik.
8. Hewan, insektisida, dan jamur. Walau insekta termasuk jenis hewan, namun disini agak dibedakan. Pengertian insekta disini juga bukanlah
seperti yang didefinisikan dalam biologi, namun lebih diartikan sebagai binatang kecil yang umumnya dapat merusak bahan pustaka dan arsip.
Sedangkan yang dimaksud hewan adalah binatang perusak selain insekta.
9. Penggunaan dan salah penanganan. Di sini peran utama dipegang oleh manusia. Apabila peran itu salah dilakukan, maka manusia dapat pula digolongkan sebagai musuh bahan pustaka dan arsip.
10. Bencana alam dan musibah. Apabila bencana alam atau musibah terjadi, kerusakan atas koleksi dapat terjadi dalam volume yang besar dan dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
11. Pencegahan. Usaha pelestarian bahan pustaka dan arsip dapat dibedakan atas dua jenis keiatan, yaitu pencegahan kerusakan koleksi dan perbaikannya.
12. Perbaikan. Perbaikan untuk koleksi yang bernilai tinggi umumnya hanya dikerjakan oleh petugas yang ahli. Kerusakan kecil dapat diperbaiki oleh petugas biasa dengan catatan menggunakan cara aman dan benar.
13. Alih bentuk. Alih bentuk ke media lain misalnya dengan mikrofilm atau fis merupakan usaha lain dalam melestarikan koleksi.
Sudarsono (1989:2) dalam buku Karmidi Martoatmodjo, menerangkan bahwa pengawetan (conservation) dibatasi pada kebijaksanaan dan cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi
tersebut. Perbaikan (restoration) menunjukan pada pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak.
Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai terkait dengan kegiatan pemeliharaan bahan pustaka di perpustakaan:
a. Menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam setiap bahan pustaka atau dokumen.
b. Menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka atau dokumen.
c. Mengatasi kendala kekurangan ruang (space).
d. Mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan informasi.
e. Menjaga keindahan dan kerapian.
D. Fungsi Pemeliharaan Bahan Pustaka
Kegiatan pemeliharaan bahan pustaka memiliki beberapa fungsi antara lain:
a. Fungsi Perlindungan:
Upaya melindungi bahan pustaka dari beberapa faktor yang mengakibatkan kerusakan.
b. Fungsi Pengawetan:
Upaya pengawetan terhadap bahan pustaka agar tidak cepat rusak dan dapat dimanfaatkan lebih lama lagi.
c. Fungsi Kesehatan:
Upaya menjaga bahan pustaka tetap dalam kondisi bersih sehingga tidak berbau pengap dan tidak mengganggu kesehatan pembaca maupun pustakawan.
d. Fungsi Pendidikan:
Upaya memberikan pendidikan kepada pembaca, bagaimana memanfaatkan bahan pustaka yang baik dan benar.
e. Fungsi kesabaran:
Upaya pemeliharaan bahan pustaka membutuhkan kesabaran dan keteltian.
f. Fungsi Sosial:
Pemeliharaan bahan pustaka sangat membutuhkan keterlibatan dari orang lain.
g. Fungsi Ekonomi:
Pemeliharaan yang baik akan berdampak pada keawetan bahan pustaka, yang akhirnya dapat meminimalisasi biaya pengadaan bahan pustaka.
h. Fungsi Keindahan:
Dengan pemeliharaan yang baik, bahan pustaka di perpustakaan akan tersusun rapi, indah, dan nyaman.
E. Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka
Dalam pengelolaan sebuah perpustakaan banyak sekali faktor yang menyebabkan kerusakan bahan pustaka. Selain manusia, hewan, debu, jamur, zat kimia, dan alam juga bisa merusak bahan pustaka. Agar tidak mudah rusak, hendaknya setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka tersebut.
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka menurut Karmidi Martoatmodjo (1999:36) dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Faktor Biologi
Bahan pustaka terdiri atas selulosa perekat dan protein yang merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup seperti jamur, serangga, binatang pengerat, dan lain-lain. Makhluk tersebut hidup ditempat yang lembab dan suhu tinggi.
a. Binatang Pengerat
Tikus merupakan binatang perusak buku yang sulit untuk di berantas. Binatang ini biasanya memakan buku-buku yang disimpan dalam gudang dan kadang-kadang kertas di sobek-sobek dan di kumpulkankan untuk dijadikan sarang. Tindakan pencegahan untuk melindungi kertas dari serangan tikus adalah dengan menyediakan tempat penyimpanan yang bersih dan kering serta harus selalu di
kontrol secara berkala. Lubang-lubang yang memungkinkan tikus dapat masuk harus ditutup dengan rapat.
b. Serangga
Banyak berbagai macam serangga atau kutu buku yang senang sekali memakan lem dan kertas dalam buku-buku di perpustakaan.
Pencegahannya agar tidak diserang oleh serangga atau kutu buku, yaitu dengan memberi kamper atau kapur barus pada rak-rak buku.
c. Jamur
Jamur berkembang biak dengan spora, dapat menyebar di udara dan apabila menemukan lingkungan yang cocok maka spora tersebut akan berkembang biak. Kertas merupakan tempat yang ideal bagi jamur. Terutama di lingkungan yang mempunyai kelembaban udara yang tinggi. Untuk menghindarinya Caranya: buku-buku yang akan di bebaskan dari jamur dimasukkan dalam ruang khusus dan disemprot dengan zat kimia tersebut (fumigasi).
2. Faktor Fisika
Selain faktor biologi ada lagi faktor perusak bahan pustka yang hebat, yaitu faktor fisika, Misalnya seperti debu, cahaya, suhu dan kelembaban.
a. Debu
Debu dapat masuk secara mudah ke dalam ruang perpustakaan melalui pintu, jendela, atau lubang-lubang angin di perpustakaan.
Debu selain membuat kotor, juga dapat secara tidak langsung dapat merusak buku. Upaya pencegahannya dengan membersihkannya dengan kemoceng yang terbuat dari bulu ayam, sebetulnya kemoceng bukanlah alat pembersih debu melainkan se bagai pemindah debu. Alat yang baik untuk menghilangkan debu dengan vacuum cleaner.
Karena alat ini dapat menghisap debu dan bisa di sesuaikan penggunaannya dengan tempat yang akan dibersihkan.
b. Cahaya
Cahaya adalah suatu bentuk energi elektromagnetik yang berasal dari radiasi cahaya matahari dan lampu listrik. Hindarilah sinar matahari yang masuk langsung ke perpustakaan. Kerusakaan yang terjadi karena pengaruh sinar ultra violet adalah memudarnya tulisan, sampul buku, dan kertas juga akan menjadi rapuh. Untuk menghindarinya hendaknya diusahakan kain gorden sehingga panas atau sinar yang masuk keperpustakaan bisa diatur dan lampu di ruangan juga di atur dinyalakan pada saat diperlukan saja.
c. Suhu dan kelembaban udara
Kerusakan kertas yang diakibatkan oleh suhu udara yang terlalu tinggi. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan kertas menjadi rapuh,
warna kertas menjadi kekuningan. Sebaliknya apa bila lembab terlalu tinggi buku akan menjadi lembab dan akibatnya buku diserang jamur.
Salah satu untuk menjaga kelembaban suhu udara yaitu dengan cara mengontrol kelembaban dan temperatur suhu ruangan.
3. Faktor Kimia
Kandungan asam dalam kertas akan mempercepat kerusakan kertas karena asam akan mempercepat reaksi hidrolisis. Hidrolisasi adalah reaksi yang terjadi karena adanya air (H2O). Reaksi hidrolis pada kertas mengakibatkan putusnya rantai polimer serat selulosa sehingga mengurangi kekuatan serat. Tinta merupakan salah satu sumber terbentuknya asam pada kertas. Karena tinta dibuat dengan mencampur asam lanat, garam besi dan asam sulfat agar tetesan dapat melekat dengan baik.
4. Faktor Lain
Faktor lainnya yang masuk kedalam salah satu penyebab kerusakan bahan pustaka ini yaitu manusia dan bencana alam.
a. Manusia
Yang paling banyak menjadi penyebab dari kerusakan buku itu adalah manusia. Hal ini terjadi karena kurang pengertian tentang bagaimana caranya menggunakan. Misalnya: pembaca sengaja merobek bagian-bagian buku tertentu dari sebuah buku, misalnya diambil
gambarnya. Untuk mencegah kejadian tersebut dapat menggunakan beberapa cara yaitu agar ditanamkan rasa cinta terhadap buku dan memberikan pengertian tentang cara pemeliharaan buku secara baik.
b. Bencana alam
Bencana alam merupakan musibah yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, dan dapat mengakibatkan kerusakan koleksi bahan pustaka dalam jumlah besar dan dalam waktu ya ng relatif singkat. Oleh karena itu pustakawan diharapkan mampu menekan sekecil mungkin akibat dari bencana alam tersebut. Misalnya mencegah kebakaran yaitu dengan cara memasang alat pemadam kebakaran di tempat-tempat yang mudah dijangkau, dilarang merokok di dalam ruangan perpustakaan, instalasi listrik harus diperiksa secara awal dan pemakaian peralatan listrik harus hati-hati.
F. Pemeliharaan Bahan Pustaka Buku
Menyadari akan adanya banyak masalah yang ada, maka pemeliharaan bahan pustaka ini sangat penting untuk kelestarian suatu informasi yang terkandung dalam suatau bahan koleksi. Adapun pemeliharaan ini dapat dilakukan dengan cara reproduksi, penjilidan laminasi atau penyampulan penyiangan dan fumigasi. Menurut pendapat (Lasa HS, 2007: 163 -165):
1. Reproduksi
Koleksi langka, penting, bernilai historis atau mudah rusak perlu di reproduksi. Reproduksi ini dapat dilakukan dengan cara fotokopi, pembuatan bentuk mikro, dan pembuatan duplikasinya.
2. Penjilidan
Untuk perbaikan jilidan yang rusak dilakukan kegiatan penjijidan yang merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam perpustakaan. Berbagai hal yang dapat membuat buku rusak antara lain karena usia, kondisi ruang penyimpanan yang tidak memenuhi syarat, cara pemakaian yang relatif sering dan salah. Ragam kerusakan yang Bahan-bahan yang perlu di jilid antara lain: lantaran sampulnya mudah rusak, sampulnya terlalu tipis, terlepas jilidannya, atau majalah lepas.
3. Laminasi atau penyampulan
Laminasi atau penyampulan ini dengan cara memberikan pelindung plastik atau bahan lain agar bahan pustaka itu tidak mudah sobek atau hancur. Di samping itu, dengan penyampulan buku, maka buku tampak rapi. cara tersebut cocok dan tepat apabila dipergunakan untuk kertas yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi dengan cara lain seperti menambal, menyambung, penjilidan dan sebagainya, dengan demikian kertas menjadi lebih kuat, biasanya kertas yang dilaminasi
adalah yang sudah tua, berwarna kuning kecoklatan, berbau apek, kotor, berdebu dan sebagainya oleh karena pengaruh lingkungan dan bertambahnya keasaman.
4. Penyiangan
Penyiangan adalah proses pengeluaran buku dari jajaran koleksi suatu perpustakaan. Pengeluaran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, koleksi itu tidak diminati lagi, sudah ada edisi baru, atau bertentangan dengan kebijakan pemerintaah dan etika masyarakat.
5. Fumigasi
Fumigasi atau pengasapan bertujuan untuk membunuh jamur maupun serangga yang tumbuh pada bahan kertas. Fumigasi dapat dilaksanakan dalam kotak, lemari fumigasi, ruang fumigasi, ruang penyimpanan arsip, ruang perpustakan, maupun ruang deposit. Bahan fumigasi disebut fumigant.