• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEPUTAR TARJIH (LANJUTAN) KH. M. SHIDDIQ AL JAWI, S.Si, MSI Islamic Business Online School

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEPUTAR TARJIH (LANJUTAN) KH. M. SHIDDIQ AL JAWI, S.Si, MSI Islamic Business Online School"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

SEPUTAR TARJIH (LANJUTAN)

KH. M. SHIDDIQ AL JAWI, S.Si, MSI Islamic Business Online School

(2)

Pokok Bahasan

Kaidah-Kaidah Menjama’ Dalil

Kaidah-Kaidah Tarjih di Antara Dua Dalil Kaidah-Kaidah Tarjih dalam Satu Dalil

(3)

KAIDAH-KAIDAH

MENJAMA’ DALIL

(4)

Jika terdapat dua dalil yang nampak bertentangan (ta’arudh), maka hukum asalnya dan yang lebih utama adalah menjama’ dua dalil itu, yakni mengamalkan dua dalil secara bersamaan.

Kaidah ushuliyah menyebutkan :

لامعإ ن

يليلدلا

نولو نم هجو

لىوأ نم

لامهإ امهدحأ

Mengamalkan dua dalil walaupun hanya dalam satu segi/makna, lebih utama daripada mengabaikan salah satunya. (M. Husain Abdullah, Al Wadhih fi ushul Al Fiqh, hlm. 390).

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(5)

Di antara kaidah-kaidah untuk menjama’ dua dalil yang nampak bertentangan (ta’arudh) adalah sbb : Kaidah Pertama, jika terdapat fi’il Nabi SAW, lalu terdapat fi’il Nabi SAW yang berkebalikan, maka berarti fi’il itu hukumnya mubah (boleh).

Contoh :

(1) Nabi SAW pernah menolak hadiah dari kaum kafir (HR Tirmidzi, no. 1504), namun pernah juga Nabi SAW menerima hadiah dari Raja Najasyi, Muqauqis, dll. Berarti menerima hadiah dari orang kafir, hukumnya boleh. (‘Atha bin Khalil, Taisir, hlm. hlm. 277).

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(6)

(2) Nabi SAW tidak menyolatkan syuhada Perang Uhud secara umum, namun Nabi SAW menyolatkan sebagian syuhada Uhud. Berarti menyolatkan syuhada yang gugur di medan perang, hukumnya boleh. (Taqiyuddin An Nabhani, Syakhshiyyah, 2/168).

(3) Nabi SAW pernah berdiri ketika ada jenazah yang lewat. Namun dalam waktu yang lain, Nabi SAW juga pernah duduk saja ketika jenazah lewat.

Ini menunjukkan bahwa berdiri ketika jenazah lewat, hukumnya boleh. (‘Atha bin Khalil, Taisir, hlm. 277)

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(7)

Kaidah Kedua, jika terdapat qaul Nabi SAW, lalu terdapat fi’il Nabi SAW yang berkebalikan, maka berarti fi’il itu khususiyat bagi Nabi SAW, sedang yang berlaku untuk umat Islam adalah qaul Nabi SAW.

Contoh :

(1) Nabi SAW pernah bersabda,”Ciuman itu termasuk sentuhan, maka berwudhulah karena mencium.” (al qublah minal lamsi fa-tawadhdha’uu minha) (HR Malik, Syafi’i, dan Baihaqi, Juz 1/123). Namun Nabi SAW pernah mencium sebagian istri beliau lalu sholat tanpa berwudhu (HR Bukhari, no. 1982). Maka bagi kita, mencium istri membatalkan wudhu, sedang khusus bagi Nabi SAW tidak membatalkan wudhu. (‘Atha bin Khalil, Taisir, hlm. hlm. 279).

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(8)

(2) Nabi SAW pernah bersabda,”Aurat laki-laki antara pusarnya dan lututnya.” (‘auratul rajuli maa baina surratihi wa rukbatihi). (HR Daraquthhni, dalam As Sunan, dan Baihaqi, dalam As Sunan Al Kubra).

Namun Nabi SAW pernah berbicara dengan Abu Bakar dan Umar seraya pahanya tersingkap.

Namun ketika Utsman datang, Nabi SAW menutupi pahanya. (HR Bukhari, no. 3695, Muslim,no 2403).

Maka bagi umat Nabi SAW yang laki-laki, paha termasuk aurat. Sedang bagi Nabi SAW paha bukan aurat, sebagai khususiyat Nabi SAW.

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(9)

(3) Nabi SAW pernah bersabda,”Pilih dari mereka empat.” (ikhtar minhunna arba’an) kepada Qais bin Al Harits yang masuk Islam dan mempunyai delapan istri.

(HR Abu Dawud).

Namun Nabi SAW mempunyai istri lebih dari empat, dan terdapat riwayat sahih dari Imam Bukhari, Nabi SAW pernah menghimpun sembilan istri.

Maka bagi umat Nabi SAW yang laki-laki, paling banyak mempunyai empat istri. Sedang bagi Nabi SAW boleh lebih dari empat, sebagai khususiyat Nabi SAW.

(M. Husain Abdullah, Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh, hlm.

392).

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(10)

Kaidah Ketiga, jika terdapat qaul Nabi SAW, lalu terdapat qaul Nabi SAW yang berkebalikan, maka dilakukan jama’ yang memungkinkan.

Contoh :

(1) Nabi SAW pernah bersabda:

اوءرقإ نآرقلا

، نلو اولكأت هب

”Bacalah Al Qur`an, tapi janganlah kamu mencari makan dengan Al Qur`an” (HR Ahmad, Abu Ya’la, Thabrani, Baihaqi, dinilai sahih oleh Al Albani).

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(11)

Sementara di sisi lain, Nabi SAW bersabda :

َّ نإ

َّ قَحَأ اَم

متْذَخَأ

َّ هْيَلَع

ََّار ْجَأ باَت ك

الله

”Sesungguhnya sesuatu yang kamu paling berhak mengambil upahnya, adalah Kitabullah.” (HR Bukhari).

Dua qaul Nabi SAW yang nampak bertentangan ini dapat dijama’, bahwa larangan mengambil upah dalam mengajarkan Al Qur`an, bukanlah larangan tegas (haram), melainkan larangan yang sifatnya tidak tegas, yakni makruh.

(Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Iqtishadi, hlm.

98)

Pokok

Bahasan #1 Kaidah

Menjama’

Dalil

(12)

KAIDAH TARJIH DI ANTARA DUA DALIL

(13)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Jika terdapat dua dalil yang nampak bertentangan (ta’arudh), dan tidak dapat dilakukan jama’ dia antara keduanya serta tidak dapat dilakukan nasakh pada salah satunya, maka dua dalil tersebut perlu dilakukan tarjih.

Tarjih antara dua dalil, khususnya antara dua dalil yang zhanni, misalnya antara satu dalil hadis dengan hadis lainnya yang zhanni, dapat dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa murajjih (kaidah penarjihan), seperti : sanadnya, matannya, madlul (makna)-nya, dan hal eksternal di luar hadis.

(14)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Contoh tarjih berdasarkan sanad, yaitu para periwayat hadisnya.

(1) Periwayat hadis yang lebih banyak jumlahnya dalam satu thabaqah (lapisan generasi), lebih kuat daripada periwayat yang sedikit jumlahnya.

Misal : Hadis bahwa Nabi SAW tidak mengambil perkataan Dzul Yadain, mengenai shalat Nabi SAW yang kurang 2 rakaat dari yang seharusnya (4 rakaat), kecuali setelah diperkuat oleh Abu Bakar dan Umar.(‘Atha bin Khalil, Taisir, hlm. 282).

(15)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(2) Periwayat hadis yang terlibat langsung dengan peristiwa, lebih kuat daripada periwayat yang tidak terlibat langsung dengan peristiwa.

Misal : Riwayat Abu Rafi’ RA bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah dalam keadaan tidak berihram, lebih kuat dari riwayat Ibnu ‘Abbas RA bahwa Nabi SAW menikahi Maemunah dalam keadaan ihram. Karena Abu Rafi’ RA itulah yang saat itu menjadi penghubung (safiir) antara Nabi SAW dengan Maemunah. (‘Atha bin Khalil, Taisir, hlm. 283).

(16)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(3) Periwayat hadis yang berkedudukan sebagai istri Nabi SAW, lebih kuat daripada periwayat hadis yang lain, untuk masalah-masalah yang terkait dengan kehidupan suami istri.

Misal : Riwayat ‘Aisyah RA bahwa bertemunya dua khitan sudah mewajibkan mandi, lebih kuat daripada riwayat Abu Hurairah RA bahwa mandi baru wajib jika suami keluar air mani.

(‘Atha bin Khlil, Taisir, hlm. 284).

(17)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(4) Periwayat hadis yang lebih dekat kepada Nabi SAW, lebih kuat daripada periwayat hadis yang tidak dekat dengan Nabi SAW.

Misal :

Riwayat Ibnu Umar, dalam Haji Wada’ Nabi SAW hanya berhaji tapi tidak berumrah (HR Ahmad dan Muslim), lebih kuat daripada riwayat Suraqah bin Malik bahwa Nabi SAW dalam Haji Wada’ berhaji dan berumrah (HR Ahmad), karena Ibnu Umar saat itu berada di bawah unta Nabi SAW.

(M. Husain Abdullah, Al Wadhih, hlm. 393).

(18)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Contoh tarjih berdasarkan matan, yaitu nash ad dalil (nash atau teks hadisnya itu sendiri).

(1) Hadis yang mutsbit (menetapkan adanya ssuatu), lebih kuat daripada hadis yang naafi, atau menafikan sesuatu.

Misal : Bilal meriwayatkan, bahwa Nabi SAW pernah memasuki Ka’bah dan sholat di dalamnya.

Sedang Usamah, meriwayatkan Nabi SAW pernah memasuki Ka’bah namun tidak sholat di dalamnya. Riwayat Bilal lebih kuat daripada riwayat Usamah. (M. Husain Abdullah, Al Wadhih, hlm. 394).

(19)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(2) Hadis yang mengandung ziyadah (tambahan), lebih kuat daripada hadis yang tidak mengandung ziyadah.

Misal : Hadis bahwa Nabi SAW bertakbir tujuh kali pada saat sholat Ied (HR Ahmad), lebih kuat daripada hadis lain bahwa Nabi SAW bertakbir empat kali dalam sholat Ied. (Mushonnaf Abdur Razzaq) (M. Husain Abdullah, Al Wadhih, hlm.

394).

(20)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Contoh lain :

Hadis Nabi SAW bahwa sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud (tanpa salam). (HR Muslim).

Sedang dalam hadis lain, sujud sahwi dilakukan dengan cara sujud dua kali dan setelah itu mengucapkan salam (HR Abu Dawud).

Hadis kedua lebih kuat dari hadis pertama, karena hadis kedua mengandung ziyadah (tambahan), yaitu adanya salam, setelah sujud sahwi.

(M. Husain Abdullah, Al Wadhih, hlm. 395).

(21)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(3) Hadis yang berfaedah tahrim (menunjukkan hukum haram), lebih kuat daripada hadis yang berfaedah ibaahah (menunjukkan hukum boleh).

Hukum tahrim lebih kuat dari hukum ibaahah, karena sabda Nabi SAW :

َّْعَد

ََّكُبي رَي اَم ىَل إ

اَم

ََّكُبي رَي ََّل

“Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, menuju apa-apa yang tidak membuatkamu ragu.

(HR Bukhari dan Tirmidzi).

(‘Atha bin Khalil, Taisir, 285)

(22)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Contohnya :

Hadis yang menunjukkan haramnya

perempuan berhaji tanpa suami atau

mahram (HR Bukhari no 1763; dan

Muslim, no. 1341), lebih kuat daripada

hadis yang menunjukkan bolehnya

perempuan berhaji tanpa suami atau

mahram (HR Bukhari, no. 3400).

(23)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(4) Hadis yang berfaedah tahrim (menunjukkan hukum haram), lebih kuat daripada hadis yang berfaedah wujuub (menunjukkan hukum wajib).

Hukum tahrim lebih kuat dari hukum wujuub, juga didasarkan pada sabda Nabi SAW :

َّْعَد

ََّكُبي رَي اَم ىَل إ

اَم

ََّكُبي رَي ََّل

“Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, menuju apa-apa yang tidak membuatkamu ragu.”

(HR Bukhari dan Tirmidzi).

(‘Atha bin Khalil, Taisir, 285)

(24)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

Contohnya :

Hadis yang mengharamkan riba, lebih kuat daripada hadis yang mewajibkan membayar utang bagi yang mampu.

Note :

Bagi siapa saja yang mempunyai utang ribawi ke bank, berarti boleh menunda pembayaran utang ke bank, sambil nego bank untuk bebas BDO, karena penundaan itu berarti mengutamakan hukum haramnya riba, mengalahkan hukum wajibnya membayar utang.

(25)

Pokok

Bahasan #2 Kaidah

Tarjih di Antara Dua Dalil

(5) Hadis yang mempertahankan hukum asal, lebih kuat daripada hadis yang meniadakan hukum asal.

Contohnya : Hadis yang berbunyi,”Barangsiapa menyentuh dzakarnya maka hendaklah dia berwudhu.”(أضوتيلاف هركذ سم نم) (HR Tirmidzi dan Nasa`i) yang mempertahankan hukum asal (yaitu wajibnya berwudhu), lebih kuat daripada hadis,”Sesungguhnya dzakarmu itu hanyalah bagian dari tubuhmu.” (كنم ةعضب ن ه نامنإ) (HR Tirmidzi dan Nasa`i) yang meniadakan hukum asal (kewajiban wudhu). (‘Atha bin Khalil, Taisir, 288)

(26)

KAIDAH TARJIH

DALAM SATU DALIL

(27)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Tarjih juga dapat terjadi dalam satu dalil, yaitu ketika dalam satu dalil yang sama, baik ayat maupun hadits, ternyata mempunyai dua makna (dalaalah) yang berbeda atau bertentangan.

Sebelum dijelaskan kaidah tarjihnya, perlu dijelaskan dulu lima macam makna (dalaalah) yang dapat terkandung dalam satu dalil (nash) sbb :

Pertama, al isytirak, yaitu adanya satu kata (lafazh) yang mempunyai dua makna yang berbeda, seperti kata “al quruu’” yang mempunyai makna “suci” atau makna “haid”.

(28)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Kedua, an naql, yaitu adanya pemindahan makna dari makna bahasa (makna lughawi) menjadi makna urfi atau makna syar’i.

Misalnya : makna “sholat” yang makna lughawinya bermakna doa, tetapi telah dipindahkan maknanya menjadi makna syar’i, yaitu sholat yang kita lakukan.

Ketiga, majaz, yaitu makna yang bukan makna hakiki, karena ada qarinah yang mencegah pemaknaan menurut makna hakikinya. Misalnya : menyentuh, yang makna majazinya dapat berarti

“menggauli”.

(29)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Keempat, idh-maar (رامضلإا), yaitu adanya penyembunyian makna yang dikira-kirakan ada sebelum suatu kata.

Misalnya : dalam QS Muhammad ayat 7, redaksi “in tanshurullah” (الله ناوصرنت نإ) yang berarti “jika kamu menolong Allah”, terdapat idh-mar, yaitu kata

“agama” sebelum kata “Allah”. Sehingga maknanya

“jika kamu menolong [agama] Allah.”

Kelima, takhshiish (صيصختلا), yaitu kata khusus yang dikeluarkan dari makna umum yang dicakup suatu kata. Misalnya, kata “bangkai belalang” (al jaraad) merupakan kata khusus yang dikeluarkan dari kata umum “bangkai” (al maitah).

(30)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Dari lima macam dalalah di atas, akan terdapat 10 (sepuluh) macam kaidah untuk mentarjih beberapa makna yang mungkin terdapat dalam satu nash.

Kaidah tarjihnya sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad Husain Abdullah :

لقنلاف حجار

لىع كا رتشلإا

. نرامضلإاو نزاجملاو

نامهو يواستم

نا

حجار لك

نامهنم لىع

لقنلا كا رتشلإاو

. صيصختلاو حجار

لىع

نرامضلإا نزاجملاو

لقنلاو كا رتشلإاو

“Naql lebih rajih daripada isytirak. Idh-mar dan majaz –yang keduanya sama kuat– lebih rajih masing-masingnya daripada naql dan isytirak.

Takhshish lebih rajih daripada idh-mar, majaz, naql, dan isytirak.” (Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh, hlm. 400).

(31)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Contoh kaidah tarjih pertama : كا رتشلإا لىع حجار لقنلا

(naql lebih rajih daripada isytirak).

Misalnya : ada firman Allah SWT yang berbunyi (ةاكولا ناوتآو) “wa aatuuz zakaata” (dan bayarlah olehmu zakat).

Kata “az zakat” ada dua kemungkinan makna :

Makna Pertama, makna “naql”, yaitu makna baru yang telah dipindahkan dari makna bahasanya (an nama’, bertumbuh), menjadi makna syar’i, yakni memberikan harta dengan jumlah tertentu kepada mustahiq sebagaimana dijelaskan syara’.

(32)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Makna Kedua, makna “isytirak”, yaitu “zakat”

mempunyai makna musytarak (ganda) secara bersamaan, yaitu dapat bermakna bahasanya (an nama’, bertumbuh), dan dapat bermakna syar’i-nya sekaligus, yakni memberikan harta dengan jumlah tertentu ’ kepada mustahiq zakat.

Manakah yang lebih rajih dari dua makna ini, apakah makna “naql” ataukah makna “isytirak”?

Jawabnya : naql lebih rajih daripada isytirak.

Jadi, makna “zakat” dalam ayat tersebut,”Maka bayarlah harta kepada mustahiq zakat dalam jumlah tertentu yang dijelaskan syara,” bukan bermakna isytirak (an nama’ dan zakat sekaligus).

(33)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Contoh kaidah tarjih kedua : كا رتشلإا لىع حجار نرامضلإا (idh-mar lebih rajih daripada isytirak).

Misalnya : dalam surat Yusuf 82 “was alil qaryah”

(ةيرقلا لأساو) yang berarti secara harfiyah “dan bartanyalah kamu kepada kampung.”

Kata “qaryah” ada dua kemungkinan makna :

Makna Pertama, makna “idh-mar”, yaitu makna tersembunyi sebelum kata “qaryah” yaitu “ahlul qaryah” (penduduk kampung).

Makna kedua, makna “isytirak”, yaitu “qaryah”

mempunyai makna ganda sekaligus, yaitu bermakna

“bangunan” (abniyah) atau “penduduk” (ahl).

(34)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Manakah yang lebih rajih dari dua makna ini, apakah makna “idh-mar” ataukah makna

“isytirak”?

Jawabnya : idh-mar lebih rajih daripada isytirak.

Jadi, makna “qaryah” dalam ayat tersebut

adalah ”ahlul qaryah”, yakni “penduduk

kampung”, bukan bermakna “penduduk atau

bangunan kampung.”

(35)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Contoh kaidah tarjih ketiga : لقنلا لىع حجار نزاجملا (majaz lebih rajih daripada naql).

Misalnya : dalam surat At Taubah 28 “innamal msyrikuuna najasun” (سجن نوك رشملا نامنإ) yang berarti secara harfiyah “sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”.

Kata “najas” ada dua kemungkinan makna :

Makna Pertama, makna “majaz”, yaitu makna tidak sebenarnya, yaitu najis aqidahnya (najis maknawi), bukan makna hakikinya (najis tubuhnya).

Makna kedua, makna “naql”, yaitu bermakna najis secara syar’i, yaitu “najis tubuhnya” yang wajib seorang muslim bersuci jika menyentuhnya.

(36)

Pokok

Bahasan #4 Kaidah Tarjih Dalam Satu Dalil

Manakah yang lebih rajih dari dua makna ini, apakah makna “majaz” ataukah makna

“naql”?

Jawabnya : majaz lebih rajih daripada naql.

Jadi, makna “najasun” dalam ayat tersebut adalah makna majaz-nya yang berarti ”kotor aqidahnya” (najis maknawi), bukan makna

“naql”-nya, yaitu “najis tubuhnya” (najis hissi/’aini).

Wallahu a’lam.

(37)

و

َّالله باوصلابَّملعأ

Wallahu a’lam bish-shawabi

(38)

www.fissilmi-kaffah.com I-BOS 0811-2399-231

Contact Us :

[email protected]

@IslamicBusinessOnlineSchool

# E n e r g i z i n g P e o p l e

Terima Kasih…

Referensi

Dokumen terkait