• Tidak ada hasil yang ditemukan

Child Protection Rapid Assessment. Gambaran Ringkas & Ujicoba di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Child Protection Rapid Assessment. Gambaran Ringkas & Ujicoba di Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Child Protection Rapid Assessment

Gambaran Ringkas

&

Ujicoba di Indonesia

2011

(2)

Child Protection Rapid Assessment (CPRA)

Dikembangkan untuk penggunaan bersama oleh The Inter Agency Standing Committee (IASC) Needs Assessment Task Force (NATF), CPRA adalah assement khusus yang dilakukan untuk mendapatkan potret sesaat (snapshot), atau mengumpulkan informasi penting secara cepat, mengenai prioritas kebutuhan respon perlindungan anak dalam populasi suatu wilayah yang berada dalam situasi darurat kemanusiaan akibat bencana.

Potret hasil CPRA utamanya diarahkan untuk dapat dimanfaatkan sebagai pijakan untuk menentukan skala kebutuhan dan resiko

perlindungan anak; prioritas respon yang dibutuhkan; serta dasar perancangan respon tertentu. Selain itu, tergantung pada konteks permasalahannya, hasil CPRA juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan advokasi terhadap para pemangku kepentingan; serta menginformasikan kebutuhan assesment perlindungan anak lanjutan yang lebih komprehensif.

KONTEKS DAN WAKTU CPRA

CPRA adalah bagian dari dan ada di dalam kerangka asesmen humanitarian cluster system yang biasanya diaktifkan mengikuti terjadinya situasi darurat yang berskala besar dan berlangsung cepat.

CPRA dapat menjadi komponen dari Assesment Cepat Kluster Perlindungan, atau dilakukan berdiri sendiri.

CPRA adalah cluster/sector specific assessment, sehingga umumnya dilakukan pada fase III, setelah situasi umum bencana terdefinisikan pada fase I dan prioritas kluster utama terdefinisikan pada fase II.

Dalam kerangka waktu, CPRA biasanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 minggu, sehingga selesai bertepatan dengan fase III dalam kerangka assement NATF.

Dalam beberapa situasi, CPRA dapat dilakukan pada fase lebih awal setelah terjadinya situasi darurat.

RESIKO PERLINDUNGAN ANAK YANG MENJADI FOKUS ASSESSMENT

CPRA dilakukan untuk menggali informasi seputar resiko perlindungan anak dalam situasi darurat yang dikelompokkan menjadi issue kunci berikut:

1. Keterpisahan Anak, primer maupun sekunder

2. Respon pengasuhan di masyarakat untuk kasus keterpisahan anak 3. Keamanan dan keselamatan fisik, serta kekerasan terhadap anak 4. Situasi resiko tindak kekerasan seksual terhadap anak

5. (Situasi keterlibatan anak dalam konflik senjata) 6. Situasi kesejahteraan psikososial

7. Situasi resiko eksploitasi ekonomi terhadap anak 8. Dukungan pihak lain bagi masyarakat

CPRA tidak dimaksudkan sebagai:

Assesment yang komprehensif Mekanisme monitoring Dasar penyusunan program jangka panjang

Sumber informasi yang dapat digeneralisasikan untuk seluruh populasi yang terdampak

WHAT WE

NEED TO KNOW

(3)

CPRA TOOLKIT

Untuk menggali informasi mengenai resiko perlindungan anak dalam situasi darurat di atas, digunakan perangkat kerja CPRA yang terdiri dari:

Panduan desk review, berupa checklist untuk memandu pengumpulan informasi sekunder dan dokumen-dokumen yang relevan untuk setiap issue kunci

Panduan Interview Informan Kunci (IKK), dengan kombinasi pertanyaan pengarah tertutup, semi-terbuka (berkategori), dan terbuka

Panduan Observasi Langsung (OL), berupa checklist untuk memandu pengumpulan informasi melalui pengamatan langsung di lokasi.

Laporan Lokasi, yang merupakan perangkat untuk merangkum seluruh informasi mengenai satu lokasi pengamatan yang utamanya bersumber dari IKK dan OL.

Perangkat pengolah data, berupa

computerized spreadsheet program yang dapat

memberikan gambaran sederhana hasil olahan data berupa tabel frekuensi maupun grafis.

Panduan Ringkas CPRA, sebuah buku pedoman dalam melakukan CPRA yang memuat langkah-langkah dan sejumlah informasi, pertimbangan, pengingat, dan hal praktis lainnya.

PELAKSANAAN CPRA

1. PERSIAPAN

a. Persiapan CPRA sebaiknya dilakukan sejak awal sebagai bagian dari kegiatan mitigasi, pengurangan resiko bencana, atau membangun kesiapan menghadapi bencana.

b. Persiapan diantaranya meliputi:

- pengorganisasian peran dan kontribusi antar lembaga yang terlibat dalam kelompok kerja, termasuk menentukan siapa yang berperan dalam kepemimpinannya.

- adaptasi perangkat/toolkit dari sisi bahasa dan operasionalisasi;

- penyiapan tim CPRA yang meliputi penunjukan dan pelatihan anggota tim, serta pengelolaan tim;

- rencana kegiatan assessment dan koordinasi dengan mekanisme assessment lain yang mungkin ada, serta penyiapan logistik pelaksanaan CPRA.

- Kesepakatan mengenai pendistribusian hasil dan komitmen respon atau langkah tindak lanjutnya

2. MENJALANKAN CPRA

a. Mengaktifkan koordinasi antar lembaga atau kelompok kerja CPRA segera setelah situasi darurat kemanusiaan muncul, dan berkoordinasi dengan proses assessment lain yang mungkin ada untuk memastikan CPRA siap dilakukan.

b. Berdasar informasi gambaran situasi umum maupun situasi hasil asesmen kluster perlindungan jika ada, ditentukan apakah CPRA akan dilakukan; dan langkah-langkah persiapan dilakukan;

c. Lokasi-lokasi yang akan menjadi kerangka sampling CPRA ditetapkan berdasar kriteria/batasan yang disepakati.

d. Menyusun/merevisi/mematangkan rencana assessment, yang meliputi penugasan CPRA Toolkit dikembangkan

untuk kepentingan dan penggunaan global, sehingga untuk setiap negara/daerah harus dilakukan adaptasi dan (jika mungkin) ujicoba terlebih dahulu dari sisi perterjemahan bahasa dan

operasionalisasinya

(4)

spesifik anggota tim ke jenis kegiatan dan lokasi-lokasi, perangkat yang digunakan dan pengelolaan data, kerangka waktu, supervisi, daftar informan kunci, transportasi dan logistik, kegiatan debriefing, dan budget, serta prosedur standar jika ada kebutuhan tindakan segera (urgent action).

e. Pelatihan anggota tim pelaksana CPRA, dilaksanakan dalam waktu singkat dengan materi latar belakang situasi darurat yang terjadi; konsep/issue kunci, prinsip, dan etika kerja perlindungan anak (dalam situasi darurat); orientasi CPRA toolkit;

pengorganisasian tim; pengelolaan kerja;

serta logistik kegiatan assessment.

f. Pastikan ada koordinasi dengan lembaga atau pihak lain yang berkepentingan di tiap tingkatan wilayah, formal maupun informal, untuk memastikan CPRA berjalan sedekat mungkin dengan rencana.

g. Lakukan mekanisme kontrol yang dapat memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan maksud asesment, akurat, tidak bias, lengkap, terorganisir dan terjaga penyimpanannya, serta diproses secara tepat waktu.

h. Lakukan debriefing sedapat mungkin setiap akhir hari untuk mengolah temuan dan pengalaman tim, serta menyusun laporan lokasi yang telah selesai diambil datanya.

Kebutuhan “urgent action” juga dilaporkan dan ditindaklanjuti ke mekanisme penanganan yang ada di wilayah tersebut.

i. Pengolahan data sebaiknya dilakukan oleh satu pihak yang ditugaskan secara khusus mulai dari menerima dan memasukkan data laporan lokasi ke sistem pengolahan data, dan memproduksi laporannya.

3. HASIL DAN TINDAK LANJUT

a. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan CPRA, oleh program pengolah data dituangkan dalam bentuk grafis dan tabel data sederhana yang mudah dibaca dan difahami, dan telah dikelompokkan ke dalam tema/issue spesifik terkait situasi dan kebutuhan respon perlindungan anak.

b. Lembaga-lembaga pengguna laporan ini, baik

yang tergabung dalam kelompok kerja CPRA maupun lembaga lain yang memiliki dan terkait dengan kepentingan perlindungan anak, dapat memanfaatkan informasi dasar tersebut untuk kepentingan perencanaan respon yang sesuai atau untuk pelaksanaan asesmen lanjutan yang lebih spesifik sesuai dengan fokus kerjanya.

Ketika sumber daya dan waktu terbatas, prioritaskan:

Lokasi-lokasi yang terkena dampak kemanusiaan paling parah

Lokasi yang dapat diakses Lokasi-lokasi yang paling sedikit informasi

mengenainya

Sebuah assessment hanya dapat diterima secara etis jika

disertai dengan komitmen untuk menindaklanjuti hasilnya menjadi program

kerja jika dibutuhkan

(5)

UJI COBA CPRA DI INDONESIA Laporan Ringkas

Waktu pelaksanaan: 15 Juni – 23 Juli 2011

Sampling Frame: Daerah yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi 2010 di Kabupaten Sleman (Provinsi DIY) dan Kabupaten Magelang (Provinsi Jawa Tengah)

Lokasi: Kabupaten Sleman

1. Desa Umbulharjo 2. Desa Girikerto

3. Desa Purwobinangun 4. Desa Hargobinangun 5. Desa Wukirsari 6. Desa Glagaharjo 7. Desa Wonokerto 8. Huntara Kuwang 9. Huntara Plosokerep 10. Huntara Kentingan 11. Huntara Banjarsari 12. Huntara Jetis Sumur 13. Huntara Gondang I 14. Huntara Gondang II 15. Huntara Gondang III 16. Huntara Mandiri 17. Huntara Dongkelsari

Kabupaten Magelang

18. Desa Ngrajek - Mungkid 19. Desa Sirahan – Salam 20. Desa Jumoyo –Salam

21. Desa Tamn Agung –. Muntilan 22. Huntara Desa Jumoyo

23. Huntara Adikerto - Muntilan 24. Huntara Larangan, Jumoyo 25. Huntara Sirahan

26. TPA Desa Tanjung

Lembaga yang Terlibat: Pusat Kajian Perlindungan Anak, Universitas Indonesia Columbia University

Kementrian Sosial Republik Indonesia UNICEF Indonesia

Dinas Sosial Provinsi DIY

Bapemas PP&KB Kab. Magelang

Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Transmigrasi Kab. Magelang Badan Kesbangpol & Pen. Bencana Kab. Magelang

Hope World Wide Indonesia

Lembaga Perlindungan Anak Yogyakarta Forum Perlindungan Anak Kab. Klaten

Tim CPRA 2 Supervisor 6 Data collectors 1 Data manager 1 translator

Hasil CPRA Global Toolkit diadaptasi untuk kebutuhan Indonesia Kelompok tenaga terlatih dari tingkat nasional dan lokal (DIY dan Magelang) dalam penggunaan dan pengelolaan CPRA

(6)

BEBERAPA CATATAN KUNCI:

1. PROSES ADAPTASI

Adaptasi perangkat CPRA dilakukan utamanya terhadap perangkat Interview Informan Kunci, Observasi Langsung, Laporan Lokasi, dan perangkat lunak pengolahan data.

Adaptasi dilakukan dalam 5 fase, yaitu: (1) Sebelum Pelatihan Tim CPRA; (2) Selama Pelatihan dengan melibatkan peserta dari berbagai lembaga dan penggiat perlindungan anak, termasuk dari praktek lapangan dengan warga desa di luar sampling frame yang terdampak erupsi tahun 2010; (3) Konsultasi dengan praktisi perlindungan anak; (4) Setelah selesai pelaksanaan di 6 lokasi pertama untuk aspek bahasa dan istilah; (5) –akan dilakukan-- di akhir uji coba.

Adaptasi dilakukan terhadap konteks bencana yang lebih sesuai dengan riwayat/situasi Indonesia, termasuk dalam kategorisasi permasalahan; penggunaan bahasa (kata, frasa); format/lay-out; dan keurutan pertanyaan yang lebih sesuai dan mudah difahami.

2. PENYIAPAN TIM & TRAINING

Tim yang terdiri dari berbagai lembaga dan memiliki pemahaman memadai mengenai perlindungan anak dalam situasi darurat memungkinkan untuk dapat menguasai dan mengoperasikan CPRA toolkit dengan baik.

Hasil diskusi terfokus untuk mengevaluasi pelaksanaan training menunjukkan sejumlah hal yang dinilai berdampak signifikans dalam mempermudah tim melakukan CPRA. Diantaranya: positive team spirit; keseimbangan pemahaman perangkat dan aspek geo-sosial-budaya setempat; diskusi yang cukup mengenai operasionalisasi sejumlah istilah; kehadiran sejumlah narasumber yang memperkaya diskusi pemahaman; kesempatan berlatih menggunakan perangkat di dalam kelas maupun berupa praktek lapangan.

3. OPERASIONALISASI PERANGKAT

Dua hal yang dinilai secara mendasar mempengaruhi efektivitas penyampaian “pesan kunci” di setiap item selama proses interview dengan informan kunci, adalah:

Bagaimana memastikan bahwa setiap pesan kunci tersebut dipersepsikan secara sama oleh interviewer maupun informan kuncinya

Kecukupan pemahaman assessor atas tema-tema masalah perlindungan anak yang ditanyakan.

Pemahaman yang terbatas atas suatu issue perlindungan anak tertentu dapat menyebabkan kesalahan atau kurang spesifik dalam melakukan penggalian informasi atau gagal “mengejar” informasi lebih lanjut. Sebaliknya pemahaman yang baik, akan memungkinkan assessor untuk “mengejar” setiap tanda/kata yang dikemukakan atau mengarahkan informan untuk berpikir ke area masalah yang dimaksud.

(7)

Operasionalisasi perangkat tak hanya mempersyaratkan penggunaan kata/frasa baku yang sesuai, tetapi juga fleksibilitas assessor dalam menyampaikan pesan kunci secara efektif.

4. OPERASIONAL PENGAMBILAN DATA

Pemahaman mengenai situasi geospatial dan pemilihan/penggunaan contact person yang memahami “jalur” pengaruh secara sosial-budaya di lokasi-lokasi yang menjadi target assesment sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan dan peluang memperoleh informan kunci yang sesuai dengan kriteria.

5. PERUBAHAN KONDISI MASYARAKAT SUBJEK CPRA

Ujicoba dilakukan lebih dari 6 bulan setelah pengalaman traumatis dan situasi darurat kemanusiaan berlalu,

Sebagian besar dari mereka sedang dalam proses membangun kembali stabilitas kehidupannya. Diduga ini secara signifikans mempengaruhi kondisi faktor resiko dan faktor pelindung yang ada di masyarakat setiap lokasi.

Sebagian anggota masyarakat telah mengalami berkali-kali assessment kebutuhan dari berbagai lembaga sebelumnya. Dalam beberapa kesempatan hal ini memunculkan situasi tertentu, seperti antipati atau harapan akan mendapatkan bantuan segera. Tim assessment sejak awal harus mengkomunikasikan tujuan ujicoba CPRA ini secara jelas ke setiap fihak yang terlibat.

6. KETERLIBATAN PEMERINTAH

Rasa kepemilikan atas program dan komitmen yang diterjemahkan menjadi keterlibatan lembaga pemerintahan cukup tinggi. Bentuk keterlibatan tersebut adalah:

Dinsos DIY mengirimkan 2 orang staf untuk terlibat dalam kegiatan pelatihan;

menyediakan ruangan khusus di lingkungan kantor Dinsos untuk dipergunakan sebagai ruang kerja dan koordinasi tim CPRA; membantu akses ke wilayah sasaran, dan memonitor progres secara berkala.

BapemasPPKB kab. Magelang, mengirimkan seorang staf untuk terlibat dalam pelatihan, meminta penjelasan khusus kepada unsur Pemda Kab. Magelang, membantu perencanaan dan akses kegiatan CPRA di wilayah Magelang, dan memonitor progres secara berkala.

Kementrian Sosial RI menugaskan 4 orang staf dan pekerja sosial untuk terlibat penuh selama ujicoba CPRA.

7. PEMERIKSAAN RELIABILITAS INFORMASI DARI CPRA

Berjarak waktu sekitar 2 minggu dari pelaksanaan interview informan kunci, Tim CPRA melakukan diskusi kelompok menggunakan Participatory Ranking Method

(8)

(PRM) di setiap lokasi dan melibatkan informan kunci tambahan selain informan kunci semula. PRM dilakukan untuk mengidentifikasi prioritas masalah-masalah utama kesejahteraan anak yang di lokasi bersangkutan, yang kemudian digunakan sebagai pembanding, sekaligus untuk melihat reliabilitas informasi hasil CPRA.

Secara umum, hasil pelaksanaan PRM menunjukkan hasil yang sejalan dengan hasil CPRA. Seperti tampak pada tabel berikut, masalah perlindungan anak cenderung muncul tidak sebagai prioritas.

MASALAH ANAK FREK AVE.RANK

Penghasilan & kesejahteraan 8 2,8

Kesehatan & nutrisi 13 2,9

Dokumen kependudukan 2 3,0

Kesulitan dalam pendidikan 24 3,5

Perilaku negatif yang anak 15 4,0

Anak terpisah 6 4,2

Psikososial/kenangan buruk 13 4,3

Rumah & prasarana 19 4,9

Ancaman bencana alam/susulan 5 5,0

Kekerasan terhadap anak 3 6,0

Pekerja anak 3 6,3

8. CONTOH KELUARAN DATA CPRA (Lihat Lampiran)

KESIMPULAN & TINDAK LANJUT

CPRA sebagai perangkat yang dikembangkan untuk penggunaan global pada dasarnya dapat digunakan sebagai perangkat baku untuk berbagai situasi darurat kemanusiaan di Indonesia.

Sejumlah adaptasi perlu dilakukan dengan menggunakan teknik/pendekatan lain untuk meningkatkan ketajaman, cakupan masalah dan aspek perlindungan anak, kesesuaian kontekstual, dan operasionalisasi perangkat ini.

CPRA merupakan perangkat yang, di luar manfaat objektifnya, dapat digunakan untuk mensinergikan upaya dan sumberdaya yang dimiliki berbagai lembaga di Indonesia dalam meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat khususnya dalam merespon masalah perlindungan anak.

Untuk efektivitas pengembangan dan pemanfaatan CPRA sebagai perangkat standar yang diterima bersama oleh semua pihak yang berkepentingan dengan perlindungan anak dalam situasi darurat di Indonesia, maka semacam kelompok kerja dapat dibangun dengan memanfaatkan/memperluas mekanisme koordinasi yang telah ada, seperti inter-agency child protection sub-cluster.

(9)

Belajar dari pengalaman respon bencana di berbagai daerah selama ini, maka pemahaman dan kemampuan penggunaan CPRA Toolkit harus dapat disebarluaskan ke berbagai wilayah di Indonesia, utamanya yang selama ini banyak mengalami situasi darurat akibat bencana. Kementerian Sosial dapat mengambil inisiatif untuk berperan lebih besar dalam membangun kapasitas kelembagaan di daerah dalam hal ini dengan memanfaatkan personil yang telah terlatih dalam penggunaan CPRA Toolkit.

(10)

Lampiran CUPLIKAN CONTOH

Child Protection Rapid Assessment Tool Pilot

Sleman District, Yogyakarta, Indonesia.

July 2011 N : 17 sites

Pemisahan dari PengasuhSemula

(11)
(12)

Topic/Phase (page

#)

Suggested Tasks Week 1 Week 2 Week 3 Week 4 Week 5

1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7

1. Coordination and Planning

2 to 3

Form assessment coordination

body

Agree on roles and

responsibilities Agree on lead agency Develop work-plan, including

who will lead each activity Determine the initial

geographic sample (scenarios) Determine logistical and HR

needs

Cost the operation and

raise/flag funds Analyze the risk and develop

contingencies

2. Preparing for the Assessment

4 to 7

Refine and adapt What We

Need to Knows Conduct Desk Review Develop sample frame Define urgent action procedure Contact key resources 3. Reviewing &

Adapting the Data Collection & Analysis tools

7 to 10 Adapt modules

4. Structure, Recruitment and Training of Assessment Teams

10 to 12

Recruit assessors and

supervisors Train assessors and

supervisors

5. Data Collection and Management

12 to 13

Deploy teams to the field Supervise fieldwork Provide regular technical and

logistical support to teams Collect field reports, clean and

enter the data 6. Data analysis,

Interpretation and Report Writing

14 to 18

Analyse and interpret the data Write reports and disseminate

(13)

Referensi

Dokumen terkait

• Pengembangan modul Penanganan Kasus kekerasan terhadap PRT dan PRTA untuk Polisi dan pelatihan bagi polisi dari unit perlindungan perempuan dan anak.. • Terbentuknya

Kebijakan dan standar ini berlaku untuk pembangunan dan pengembangan sistem informasi di Kementerian yang dilaksanakan secara internal dan/atau menggunakan pihak ketiga

Dewan akan sekuat u?naya memperjuangkan alokasi dana untuk pengembangan pendidikan dengan mencari sumber-sumber dana yang dapat diterima oleh berbagai pihak Hal ini

LAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PKM) Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PDGK 4209) S1 PGSD Universitas Terbuka DISUSUN OLEH : NAMA : .....................NIM : .....................SEMESTER: IV (EMPAT) UPBJJ : UT PANGKAL PINANG POKJAR : MUNTOK MASA REGISTRASI : 2015.1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH UNIVERSITAS TERBUKA PANGKAL PINANG TAHUN 2015 2 / 9 ii LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PELAKSNAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PDGK 4209) Oleh ..................... telah diketahui dan disahkan oleh Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok sebagai salah satu tugas akhir semester IV (Empat). Tempat : Muntok Hari : Minggu Tanggal : Mei 2015 Pembimbing Mahasiswa Sarbudiono, S.Pd ..................... NIP. 19680528 199103 1 005 NIM. ..................... 3 / 9 iii KATA PENGANTAR Alhamdullilah, segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT dan atas berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini dengan baik. Melalui mata kuliah ini, penulis berlatih untuk menerapkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari dalam kegiatan merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, sehingga penulis dapat mengoreksi diri agar menjadi seorang guru yang profesional. Penyusunan laporan tugas akhir semester IV ini tentu tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya : 1.Bapak Drs. Syarif Fadillah, M.Si, selaku kepala UPBJJ UT Pangkal Pinang; 2.Bapak Hermansyah selaku pengelolah UT pangkal Pinang Pokjar Muntok; 3.Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok; 4.Bapak Mulkan selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 4 Jebus; 5.Bapak Sarmin selaku Kepala sekolah Dasar Negeri 5 Simpang Teritip; 6.Bapak Jhoni Darma Putra, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 6 Parittiga; 7.Bapak Parjana, S.Pd.SD selaku Supervisor 2 yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar; 8.Kedua orang tua dan teman Mahasiswa yang telah memberi bantuan baik moral, maupun materi dan juga semua pihak yang telah banyak membantu dalam pembuatan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun penulis telah bekerja dengan maksimal. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan, selanjutnya penulis berharap Laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini akan memberi manfaat bagi pembaca, dan semua pihak yang berkepentingan. Muntok, Mei 2015 Penulis, 4 / 9 iv DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................. iii DAFTAR ISI ........................................................................................ iv BAB I. PENDAHULUAN......................................................................1 A.Latar Belakang ...........................................................................1 B.Deskripsi Profil Mahasiswa .............................................................2 BAB II. PELAKSANAAN PKM.......................................................................... 3 A.Manfaat Mengikuti PKM ...............................................................3 B.Tempat Pelaksanaan PKM ..............................................................3 C.Waktu Pelaksanaan PKM ...............................................................3 BAB III. ULASAN PROSES SELAMA PELAKSANAAN PKM .....................5 A.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Eksakta ........................5 B.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Non Eksakta ..................5 BAB IV. PENUTUP.............................................................................6 A.Kesimpulan ................................................................................. 6 B.Saran ......................................................................................... LAMPIRAN ............................................................................................. oLembar Kelengkapan Berkas Laporan Praktek PKM ...............................oSurat Rekomendasi Kepaka Sekolah ...................................................oSurat Kesediaan Teman Sejawat .......................................................o10 (Sepuluh) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...................................... o3 (Tiga) APKG 1 dan APKG 2 .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Refleksi .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Observasi .......................................................oJurnal Pembimbingan .................................................................... 5 / 9 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Mengajar pada hakekatnya ialah membelajarkan siswa, dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa mengandung maksud agar guru berupaya mengaktifkan siswa belajar. Dengan demikian, di dalam proses pembelajaran guru menggunakan berbagai strategi dan media semata-mata supaya siswa belajar (Sri Anitah W, dkk, 2009:1.3). Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ketegasan di atas menjelaskan bahwa guru harus memiliki sikap keprofesionalisme yang harus dimiliki. Profesional sendiri adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) yang telah dilaksanakan, diharapkan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dan untuk mengetahui hasil pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemammpuan Mengajar (PKM) maka perlu disusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan tersebut guna dijadikan acuan untuk pelaksanaan pembelajaran lebih baik. Kegiatan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar dilaksanakan di SD Negeri 4 Jebus yang beralamat di Desa Limbung, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. SD Negeri 4 Jebus dikepalai oleh bapak Mulkan memiliki 7 tenaga pendidik dan 2 tenaga kependidikan. Sekolah ini memiliki 6 rombel dengan jumlah siswa 108 orang yang kebanyakan merupakan penduduk setempat.

dfLAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PKM) Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PDGK 4209) S1 PGSD Universitas Terbuka DISUSUN OLEH : NAMA : .....................NIM : .....................SEMESTER: IV (EMPAT) UPBJJ : UT PANGKAL PINANG POKJAR : MUNTOK MASA REGISTRASI : 2015.1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH UNIVERSITAS TERBUKA PANGKAL PINANG TAHUN 2015 2 / 9 ii LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PELAKSNAAN PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN MENGAJAR (PDGK 4209) Oleh ..................... telah diketahui dan disahkan oleh Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok sebagai salah satu tugas akhir semester IV (Empat). Tempat : Muntok Hari : Minggu Tanggal : Mei 2015 Pembimbing Mahasiswa Sarbudiono, S.Pd ..................... NIP. 19680528 199103 1 005 NIM. ..................... 3 / 9 iii KATA PENGANTAR Alhamdullilah, segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT dan atas berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini dengan baik. Melalui mata kuliah ini, penulis berlatih untuk menerapkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari dalam kegiatan merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, sehingga penulis dapat mengoreksi diri agar menjadi seorang guru yang profesional. Penyusunan laporan tugas akhir semester IV ini tentu tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya : 1.Bapak Drs. Syarif Fadillah, M.Si, selaku kepala UPBJJ UT Pangkal Pinang; 2.Bapak Hermansyah selaku pengelolah UT pangkal Pinang Pokjar Muntok; 3.Bapak Sarbudiono, S.Pd selaku Pembimbing Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Mengajar di UPBJJ UT Pangkal Pinang Pokjar Muntok; 4.Bapak Mulkan selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 4 Jebus; 5.Bapak Sarmin selaku Kepala sekolah Dasar Negeri 5 Simpang Teritip; 6.Bapak Jhoni Darma Putra, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri 6 Parittiga; 7.Bapak Parjana, S.Pd.SD selaku Supervisor 2 yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar; 8.Kedua orang tua dan teman Mahasiswa yang telah memberi bantuan baik moral, maupun materi dan juga semua pihak yang telah banyak membantu dalam pembuatan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun penulis telah bekerja dengan maksimal. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan, selanjutnya penulis berharap Laporan pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar ini akan memberi manfaat bagi pembaca, dan semua pihak yang berkepentingan. Muntok, Mei 2015 Penulis, 4 / 9 iv DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................. iii DAFTAR ISI ........................................................................................ iv BAB I. PENDAHULUAN......................................................................1 A.Latar Belakang ...........................................................................1 B.Deskripsi Profil Mahasiswa .............................................................2 BAB II. PELAKSANAAN PKM.......................................................................... 3 A.Manfaat Mengikuti PKM ...............................................................3 B.Tempat Pelaksanaan PKM ..............................................................3 C.Waktu Pelaksanaan PKM ...............................................................3 BAB III. ULASAN PROSES SELAMA PELAKSANAAN PKM .....................5 A.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Eksakta ........................5 B.Temuan Dalam Praktek Mengajar Mata Pelajaran Non Eksakta ..................5 BAB IV. PENUTUP.............................................................................6 A.Kesimpulan ................................................................................. 6 B.Saran ......................................................................................... LAMPIRAN ............................................................................................. oLembar Kelengkapan Berkas Laporan Praktek PKM ...............................oSurat Rekomendasi Kepaka Sekolah ...................................................oSurat Kesediaan Teman Sejawat .......................................................o10 (Sepuluh) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...................................... o3 (Tiga) APKG 1 dan APKG 2 .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Refleksi .........................................................o10 (Sepuluh) Lembar Observasi .......................................................oJurnal Pembimbingan .................................................................... 5 / 9 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Mengajar pada hakekatnya ialah membelajarkan siswa, dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa mengandung maksud agar guru berupaya mengaktifkan siswa belajar. Dengan demikian, di dalam proses pembelajaran guru menggunakan berbagai strategi dan media semata-mata supaya siswa belajar (Sri Anitah W, dkk, 2009:1.3). Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ketegasan di atas menjelaskan bahwa guru harus memiliki sikap keprofesionalisme yang harus dimiliki. Profesional sendiri adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) yang telah dilaksanakan, diharapkan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dan untuk mengetahui hasil pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemammpuan Mengajar (PKM) maka perlu disusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan tersebut guna dijadikan acuan untuk pelaksanaan pembelajaran lebih baik. Kegiatan Praktek Pemantapan Kemampuan Mengajar dilaksanakan di SD Negeri 4 Jebus yang beralamat di Desa Limbung, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. SD Negeri 4 Jebus dikepalai oleh bapak Mulkan memiliki 7 tenaga pendidik dan 2 tenaga kependidikan. Sekolah ini memiliki 6 rombel dengan jumlah siswa 108 orang yang kebanyakan merupakan penduduk setempat.