Child Protection Rapid Assessment
Gambaran Ringkas
&
Ujicoba di Indonesia
2011
Child Protection Rapid Assessment (CPRA)
Dikembangkan untuk penggunaan bersama oleh The Inter Agency Standing Committee (IASC) Needs Assessment Task Force (NATF), CPRA adalah assement khusus yang dilakukan untuk mendapatkan potret sesaat (snapshot), atau mengumpulkan informasi penting secara cepat, mengenai prioritas kebutuhan respon perlindungan anak dalam populasi suatu wilayah yang berada dalam situasi darurat kemanusiaan akibat bencana.
Potret hasil CPRA utamanya diarahkan untuk dapat dimanfaatkan sebagai pijakan untuk menentukan skala kebutuhan dan resiko
perlindungan anak; prioritas respon yang dibutuhkan; serta dasar perancangan respon tertentu. Selain itu, tergantung pada konteks permasalahannya, hasil CPRA juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan advokasi terhadap para pemangku kepentingan; serta menginformasikan kebutuhan assesment perlindungan anak lanjutan yang lebih komprehensif.
KONTEKS DAN WAKTU CPRA
CPRA adalah bagian dari dan ada di dalam kerangka asesmen humanitarian cluster system yang biasanya diaktifkan mengikuti terjadinya situasi darurat yang berskala besar dan berlangsung cepat.
CPRA dapat menjadi komponen dari Assesment Cepat Kluster Perlindungan, atau dilakukan berdiri sendiri.
CPRA adalah cluster/sector specific assessment, sehingga umumnya dilakukan pada fase III, setelah situasi umum bencana terdefinisikan pada fase I dan prioritas kluster utama terdefinisikan pada fase II.
Dalam kerangka waktu, CPRA biasanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 minggu, sehingga selesai bertepatan dengan fase III dalam kerangka assement NATF.
Dalam beberapa situasi, CPRA dapat dilakukan pada fase lebih awal setelah terjadinya situasi darurat.
RESIKO PERLINDUNGAN ANAK YANG MENJADI FOKUS ASSESSMENT
CPRA dilakukan untuk menggali informasi seputar resiko perlindungan anak dalam situasi darurat yang dikelompokkan menjadi issue kunci berikut:
1. Keterpisahan Anak, primer maupun sekunder
2. Respon pengasuhan di masyarakat untuk kasus keterpisahan anak 3. Keamanan dan keselamatan fisik, serta kekerasan terhadap anak 4. Situasi resiko tindak kekerasan seksual terhadap anak
5. (Situasi keterlibatan anak dalam konflik senjata) 6. Situasi kesejahteraan psikososial
7. Situasi resiko eksploitasi ekonomi terhadap anak 8. Dukungan pihak lain bagi masyarakat
CPRA tidak dimaksudkan sebagai:
Assesment yang komprehensif Mekanisme monitoring Dasar penyusunan program jangka panjang
Sumber informasi yang dapat digeneralisasikan untuk seluruh populasi yang terdampak
WHAT WE
NEED TO KNOW
CPRA TOOLKIT
Untuk menggali informasi mengenai resiko perlindungan anak dalam situasi darurat di atas, digunakan perangkat kerja CPRA yang terdiri dari:
Panduan desk review, berupa checklist untuk memandu pengumpulan informasi sekunder dan dokumen-dokumen yang relevan untuk setiap issue kunci
Panduan Interview Informan Kunci (IKK), dengan kombinasi pertanyaan pengarah tertutup, semi-terbuka (berkategori), dan terbuka
Panduan Observasi Langsung (OL), berupa checklist untuk memandu pengumpulan informasi melalui pengamatan langsung di lokasi.
Laporan Lokasi, yang merupakan perangkat untuk merangkum seluruh informasi mengenai satu lokasi pengamatan yang utamanya bersumber dari IKK dan OL.
Perangkat pengolah data, berupa
computerized spreadsheet program yang dapat
memberikan gambaran sederhana hasil olahan data berupa tabel frekuensi maupun grafis.
Panduan Ringkas CPRA, sebuah buku pedoman dalam melakukan CPRA yang memuat langkah-langkah dan sejumlah informasi, pertimbangan, pengingat, dan hal praktis lainnya.
PELAKSANAAN CPRA
1. PERSIAPAN
a. Persiapan CPRA sebaiknya dilakukan sejak awal sebagai bagian dari kegiatan mitigasi, pengurangan resiko bencana, atau membangun kesiapan menghadapi bencana.
b. Persiapan diantaranya meliputi:
- pengorganisasian peran dan kontribusi antar lembaga yang terlibat dalam kelompok kerja, termasuk menentukan siapa yang berperan dalam kepemimpinannya.
- adaptasi perangkat/toolkit dari sisi bahasa dan operasionalisasi;
- penyiapan tim CPRA yang meliputi penunjukan dan pelatihan anggota tim, serta pengelolaan tim;
- rencana kegiatan assessment dan koordinasi dengan mekanisme assessment lain yang mungkin ada, serta penyiapan logistik pelaksanaan CPRA.
- Kesepakatan mengenai pendistribusian hasil dan komitmen respon atau langkah tindak lanjutnya
2. MENJALANKAN CPRA
a. Mengaktifkan koordinasi antar lembaga atau kelompok kerja CPRA segera setelah situasi darurat kemanusiaan muncul, dan berkoordinasi dengan proses assessment lain yang mungkin ada untuk memastikan CPRA siap dilakukan.
b. Berdasar informasi gambaran situasi umum maupun situasi hasil asesmen kluster perlindungan jika ada, ditentukan apakah CPRA akan dilakukan; dan langkah-langkah persiapan dilakukan;
c. Lokasi-lokasi yang akan menjadi kerangka sampling CPRA ditetapkan berdasar kriteria/batasan yang disepakati.
d. Menyusun/merevisi/mematangkan rencana assessment, yang meliputi penugasan CPRA Toolkit dikembangkan
untuk kepentingan dan penggunaan global, sehingga untuk setiap negara/daerah harus dilakukan adaptasi dan (jika mungkin) ujicoba terlebih dahulu dari sisi perterjemahan bahasa dan
operasionalisasinya
spesifik anggota tim ke jenis kegiatan dan lokasi-lokasi, perangkat yang digunakan dan pengelolaan data, kerangka waktu, supervisi, daftar informan kunci, transportasi dan logistik, kegiatan debriefing, dan budget, serta prosedur standar jika ada kebutuhan tindakan segera (urgent action).
e. Pelatihan anggota tim pelaksana CPRA, dilaksanakan dalam waktu singkat dengan materi latar belakang situasi darurat yang terjadi; konsep/issue kunci, prinsip, dan etika kerja perlindungan anak (dalam situasi darurat); orientasi CPRA toolkit;
pengorganisasian tim; pengelolaan kerja;
serta logistik kegiatan assessment.
f. Pastikan ada koordinasi dengan lembaga atau pihak lain yang berkepentingan di tiap tingkatan wilayah, formal maupun informal, untuk memastikan CPRA berjalan sedekat mungkin dengan rencana.
g. Lakukan mekanisme kontrol yang dapat memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan maksud asesment, akurat, tidak bias, lengkap, terorganisir dan terjaga penyimpanannya, serta diproses secara tepat waktu.
h. Lakukan debriefing sedapat mungkin setiap akhir hari untuk mengolah temuan dan pengalaman tim, serta menyusun laporan lokasi yang telah selesai diambil datanya.
Kebutuhan “urgent action” juga dilaporkan dan ditindaklanjuti ke mekanisme penanganan yang ada di wilayah tersebut.
i. Pengolahan data sebaiknya dilakukan oleh satu pihak yang ditugaskan secara khusus mulai dari menerima dan memasukkan data laporan lokasi ke sistem pengolahan data, dan memproduksi laporannya.
3. HASIL DAN TINDAK LANJUT
a. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan CPRA, oleh program pengolah data dituangkan dalam bentuk grafis dan tabel data sederhana yang mudah dibaca dan difahami, dan telah dikelompokkan ke dalam tema/issue spesifik terkait situasi dan kebutuhan respon perlindungan anak.
b. Lembaga-lembaga pengguna laporan ini, baik
yang tergabung dalam kelompok kerja CPRA maupun lembaga lain yang memiliki dan terkait dengan kepentingan perlindungan anak, dapat memanfaatkan informasi dasar tersebut untuk kepentingan perencanaan respon yang sesuai atau untuk pelaksanaan asesmen lanjutan yang lebih spesifik sesuai dengan fokus kerjanya.
Ketika sumber daya dan waktu terbatas, prioritaskan:
Lokasi-lokasi yang terkena dampak kemanusiaan paling parah
Lokasi yang dapat diakses Lokasi-lokasi yang paling sedikit informasi
mengenainya
Sebuah assessment hanya dapat diterima secara etis jika
disertai dengan komitmen untuk menindaklanjuti hasilnya menjadi program
kerja jika dibutuhkan
UJI COBA CPRA DI INDONESIA Laporan Ringkas
Waktu pelaksanaan: 15 Juni – 23 Juli 2011
Sampling Frame: Daerah yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi 2010 di Kabupaten Sleman (Provinsi DIY) dan Kabupaten Magelang (Provinsi Jawa Tengah)
Lokasi: Kabupaten Sleman
1. Desa Umbulharjo 2. Desa Girikerto
3. Desa Purwobinangun 4. Desa Hargobinangun 5. Desa Wukirsari 6. Desa Glagaharjo 7. Desa Wonokerto 8. Huntara Kuwang 9. Huntara Plosokerep 10. Huntara Kentingan 11. Huntara Banjarsari 12. Huntara Jetis Sumur 13. Huntara Gondang I 14. Huntara Gondang II 15. Huntara Gondang III 16. Huntara Mandiri 17. Huntara Dongkelsari
Kabupaten Magelang
18. Desa Ngrajek - Mungkid 19. Desa Sirahan – Salam 20. Desa Jumoyo –Salam
21. Desa Tamn Agung –. Muntilan 22. Huntara Desa Jumoyo
23. Huntara Adikerto - Muntilan 24. Huntara Larangan, Jumoyo 25. Huntara Sirahan
26. TPA Desa Tanjung
Lembaga yang Terlibat: Pusat Kajian Perlindungan Anak, Universitas Indonesia Columbia University
Kementrian Sosial Republik Indonesia UNICEF Indonesia
Dinas Sosial Provinsi DIY
Bapemas PP&KB Kab. Magelang
Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Transmigrasi Kab. Magelang Badan Kesbangpol & Pen. Bencana Kab. Magelang
Hope World Wide Indonesia
Lembaga Perlindungan Anak Yogyakarta Forum Perlindungan Anak Kab. Klaten
Tim CPRA 2 Supervisor 6 Data collectors 1 Data manager 1 translator
Hasil CPRA Global Toolkit diadaptasi untuk kebutuhan Indonesia Kelompok tenaga terlatih dari tingkat nasional dan lokal (DIY dan Magelang) dalam penggunaan dan pengelolaan CPRA
BEBERAPA CATATAN KUNCI:
1. PROSES ADAPTASI
Adaptasi perangkat CPRA dilakukan utamanya terhadap perangkat Interview Informan Kunci, Observasi Langsung, Laporan Lokasi, dan perangkat lunak pengolahan data.
Adaptasi dilakukan dalam 5 fase, yaitu: (1) Sebelum Pelatihan Tim CPRA; (2) Selama Pelatihan dengan melibatkan peserta dari berbagai lembaga dan penggiat perlindungan anak, termasuk dari praktek lapangan dengan warga desa di luar sampling frame yang terdampak erupsi tahun 2010; (3) Konsultasi dengan praktisi perlindungan anak; (4) Setelah selesai pelaksanaan di 6 lokasi pertama untuk aspek bahasa dan istilah; (5) –akan dilakukan-- di akhir uji coba.
Adaptasi dilakukan terhadap konteks bencana yang lebih sesuai dengan riwayat/situasi Indonesia, termasuk dalam kategorisasi permasalahan; penggunaan bahasa (kata, frasa); format/lay-out; dan keurutan pertanyaan yang lebih sesuai dan mudah difahami.
2. PENYIAPAN TIM & TRAINING
Tim yang terdiri dari berbagai lembaga dan memiliki pemahaman memadai mengenai perlindungan anak dalam situasi darurat memungkinkan untuk dapat menguasai dan mengoperasikan CPRA toolkit dengan baik.
Hasil diskusi terfokus untuk mengevaluasi pelaksanaan training menunjukkan sejumlah hal yang dinilai berdampak signifikans dalam mempermudah tim melakukan CPRA. Diantaranya: positive team spirit; keseimbangan pemahaman perangkat dan aspek geo-sosial-budaya setempat; diskusi yang cukup mengenai operasionalisasi sejumlah istilah; kehadiran sejumlah narasumber yang memperkaya diskusi pemahaman; kesempatan berlatih menggunakan perangkat di dalam kelas maupun berupa praktek lapangan.
3. OPERASIONALISASI PERANGKAT
Dua hal yang dinilai secara mendasar mempengaruhi efektivitas penyampaian “pesan kunci” di setiap item selama proses interview dengan informan kunci, adalah:
Bagaimana memastikan bahwa setiap pesan kunci tersebut dipersepsikan secara sama oleh interviewer maupun informan kuncinya
Kecukupan pemahaman assessor atas tema-tema masalah perlindungan anak yang ditanyakan.
Pemahaman yang terbatas atas suatu issue perlindungan anak tertentu dapat menyebabkan kesalahan atau kurang spesifik dalam melakukan penggalian informasi atau gagal “mengejar” informasi lebih lanjut. Sebaliknya pemahaman yang baik, akan memungkinkan assessor untuk “mengejar” setiap tanda/kata yang dikemukakan atau mengarahkan informan untuk berpikir ke area masalah yang dimaksud.
Operasionalisasi perangkat tak hanya mempersyaratkan penggunaan kata/frasa baku yang sesuai, tetapi juga fleksibilitas assessor dalam menyampaikan pesan kunci secara efektif.
4. OPERASIONAL PENGAMBILAN DATA
Pemahaman mengenai situasi geospatial dan pemilihan/penggunaan contact person yang memahami “jalur” pengaruh secara sosial-budaya di lokasi-lokasi yang menjadi target assesment sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan dan peluang memperoleh informan kunci yang sesuai dengan kriteria.
5. PERUBAHAN KONDISI MASYARAKAT SUBJEK CPRA
Ujicoba dilakukan lebih dari 6 bulan setelah pengalaman traumatis dan situasi darurat kemanusiaan berlalu,
Sebagian besar dari mereka sedang dalam proses membangun kembali stabilitas kehidupannya. Diduga ini secara signifikans mempengaruhi kondisi faktor resiko dan faktor pelindung yang ada di masyarakat setiap lokasi.
Sebagian anggota masyarakat telah mengalami berkali-kali assessment kebutuhan dari berbagai lembaga sebelumnya. Dalam beberapa kesempatan hal ini memunculkan situasi tertentu, seperti antipati atau harapan akan mendapatkan bantuan segera. Tim assessment sejak awal harus mengkomunikasikan tujuan ujicoba CPRA ini secara jelas ke setiap fihak yang terlibat.
6. KETERLIBATAN PEMERINTAH
Rasa kepemilikan atas program dan komitmen yang diterjemahkan menjadi keterlibatan lembaga pemerintahan cukup tinggi. Bentuk keterlibatan tersebut adalah:
Dinsos DIY mengirimkan 2 orang staf untuk terlibat dalam kegiatan pelatihan;
menyediakan ruangan khusus di lingkungan kantor Dinsos untuk dipergunakan sebagai ruang kerja dan koordinasi tim CPRA; membantu akses ke wilayah sasaran, dan memonitor progres secara berkala.
BapemasPPKB kab. Magelang, mengirimkan seorang staf untuk terlibat dalam pelatihan, meminta penjelasan khusus kepada unsur Pemda Kab. Magelang, membantu perencanaan dan akses kegiatan CPRA di wilayah Magelang, dan memonitor progres secara berkala.
Kementrian Sosial RI menugaskan 4 orang staf dan pekerja sosial untuk terlibat penuh selama ujicoba CPRA.
7. PEMERIKSAAN RELIABILITAS INFORMASI DARI CPRA
Berjarak waktu sekitar 2 minggu dari pelaksanaan interview informan kunci, Tim CPRA melakukan diskusi kelompok menggunakan Participatory Ranking Method
(PRM) di setiap lokasi dan melibatkan informan kunci tambahan selain informan kunci semula. PRM dilakukan untuk mengidentifikasi prioritas masalah-masalah utama kesejahteraan anak yang di lokasi bersangkutan, yang kemudian digunakan sebagai pembanding, sekaligus untuk melihat reliabilitas informasi hasil CPRA.
Secara umum, hasil pelaksanaan PRM menunjukkan hasil yang sejalan dengan hasil CPRA. Seperti tampak pada tabel berikut, masalah perlindungan anak cenderung muncul tidak sebagai prioritas.
MASALAH ANAK FREK AVE.RANK
Penghasilan & kesejahteraan 8 2,8
Kesehatan & nutrisi 13 2,9
Dokumen kependudukan 2 3,0
Kesulitan dalam pendidikan 24 3,5
Perilaku negatif yang anak 15 4,0
Anak terpisah 6 4,2
Psikososial/kenangan buruk 13 4,3
Rumah & prasarana 19 4,9
Ancaman bencana alam/susulan 5 5,0
Kekerasan terhadap anak 3 6,0
Pekerja anak 3 6,3
8. CONTOH KELUARAN DATA CPRA (Lihat Lampiran)
KESIMPULAN & TINDAK LANJUT
CPRA sebagai perangkat yang dikembangkan untuk penggunaan global pada dasarnya dapat digunakan sebagai perangkat baku untuk berbagai situasi darurat kemanusiaan di Indonesia.
Sejumlah adaptasi perlu dilakukan dengan menggunakan teknik/pendekatan lain untuk meningkatkan ketajaman, cakupan masalah dan aspek perlindungan anak, kesesuaian kontekstual, dan operasionalisasi perangkat ini.
CPRA merupakan perangkat yang, di luar manfaat objektifnya, dapat digunakan untuk mensinergikan upaya dan sumberdaya yang dimiliki berbagai lembaga di Indonesia dalam meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat khususnya dalam merespon masalah perlindungan anak.
Untuk efektivitas pengembangan dan pemanfaatan CPRA sebagai perangkat standar yang diterima bersama oleh semua pihak yang berkepentingan dengan perlindungan anak dalam situasi darurat di Indonesia, maka semacam kelompok kerja dapat dibangun dengan memanfaatkan/memperluas mekanisme koordinasi yang telah ada, seperti inter-agency child protection sub-cluster.
Belajar dari pengalaman respon bencana di berbagai daerah selama ini, maka pemahaman dan kemampuan penggunaan CPRA Toolkit harus dapat disebarluaskan ke berbagai wilayah di Indonesia, utamanya yang selama ini banyak mengalami situasi darurat akibat bencana. Kementerian Sosial dapat mengambil inisiatif untuk berperan lebih besar dalam membangun kapasitas kelembagaan di daerah dalam hal ini dengan memanfaatkan personil yang telah terlatih dalam penggunaan CPRA Toolkit.
Lampiran CUPLIKAN CONTOH
Child Protection Rapid Assessment Tool Pilot
Sleman District, Yogyakarta, Indonesia.
July 2011 N : 17 sites
Pemisahan dari PengasuhSemula
Topic/Phase (page
#)
Suggested Tasks Week 1 Week 2 Week 3 Week 4 Week 5
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
1. Coordination and Planning
2 to 3
Form assessment coordination
body
Agree on roles and
responsibilities Agree on lead agency Develop work-plan, including
who will lead each activity Determine the initial
geographic sample (scenarios) Determine logistical and HR
needs
Cost the operation and
raise/flag funds Analyze the risk and develop
contingencies
2. Preparing for the Assessment
4 to 7
Refine and adapt What We
Need to Knows Conduct Desk Review Develop sample frame Define urgent action procedure Contact key resources 3. Reviewing &
Adapting the Data Collection & Analysis tools
7 to 10 Adapt modules
4. Structure, Recruitment and Training of Assessment Teams
10 to 12
Recruit assessors and
supervisors Train assessors and
supervisors
5. Data Collection and Management
12 to 13
Deploy teams to the field Supervise fieldwork Provide regular technical and
logistical support to teams Collect field reports, clean and
enter the data 6. Data analysis,
Interpretation and Report Writing
14 to 18
Analyse and interpret the data Write reports and disseminate