BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
PT. PLN (Persero) sebagai BUMN di Indonesia yang bertugas menyuplai serta mengatur pasokan listrik dalam negeri, tentunya terus-menerus melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan listrik secara bertahap diseluruh pelosok negeri.
Beberapa upaya telah dilakukan seperti memanfaatkan berbagai energi alternatif untuk dapat menghasilkan pasokan listrik yang cukup.
Pasokan listrik tersebut untuk dapat disalurkan kepada para konsumen memerlukan media atau fasilitas pendukung agar dapat menyentuh daerah terpencil yang jauh dari sumber pembangkit. SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang atau konduktor yang dihubungkan dari setiap tower yang dibangun dan bertegangan nominal antara 35Kv - 245Kv dengan jarak antar tower ±350 meter dan dibeberapa lokasi terdapat tower yang berbeda jaraknya dan tingginya tergantung medan yang dilewatinya untuk membentuk suatu jaringan baru.
Proses pelaksanaan proyek pembangunan tower tersebut memiliki risiko-risiko, mulai dari pelaksanaan pekerjaan pondasi hingga instalasi kabel yang menghubungkan tiap tower dari pekerjaan tersebut. Kendala-kendala dilapangan yang sering ditemukan, baik teknis maupun non teknis yang secara langsung dapat mempengaruhi produktivitas, prestasi (performance), kualitas dan anggaran biaya proyek. Dari sudut pandang proses, risiko adalah adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan, sehingga terjadi konsekuensi yang tidak diinginkan (COSO, 1992).
Pengamatan terhadap beberapa risiko yang ditemukan pada pelaksanaan proyek pembangunan tower diantaranya terjadi keterlambatan pencapaian progress yang diakibatkan oleh kendala pada pekerjaan pondasi, dimana kondisi tanah dilapangan bervariasi di tiap titik lokasi tower, sehingga memerlukan penanganan dan metode yang berbeda dalam pelaksanaannya di beberapa lokasi. Selain faktor tanah, keterlambatan juga diakibatkan oleh sulitnya lokasi pekerjaan dalam hal transportasi material, dan adanya beberapa titik lokasi pembangunan yang tanahnya belum dibebaskan.
Pembangunan tower selain memiliki risiko pada saat pelaksanaan pembangunannya, juga memiliki risiko saat tower tersebut difungsikan.
Berdasarkan hasil dari analisa awal tersebut perlu dilakukan penelitian untuk memperkirakan data-data dan informasi apa saja yang belum tersedia
selama proses pelaksanaan proyek yang merupakan risiko konstruksi. Risiko konstruksi yang diperoleh tersebut kemudian diolah untuk dapat diketahui risiko mana saja yang menjadi risiko dominan yaitu risiko yang memiliki nilai frekuensi kejadian tinggi serta risiko yang memberikan dampak yang besar pula terhadap proses pelaksanaan sebuah proyek konstruksi. Risiko yang dihadapi proyek bergantung pada asumsi dan perkiraan yang digunakan. Risiko yang akan dihadapi dalam proyek lebih berat sehubungan dengan sifat proyek hanya berjalan dalam satu jangka waktu pelaksanaan yang tidak berulang. Sehubungan dengan itu diperlukan pula manajemen risiko untuk melihat risiko-risiko yang dihadapi dan meninjau pengaruhnya terhadap sasaran kegiatan.
Termasuk dalam tahapan manajemen risiko adalah perencanaan manajemen risiko, identifikasi risiko, analisa risiko, penanganan risiko, dan monitor terhadap risiko. Identifikasi risiko adalah langkah awal dalam penerapan manajemen risiko dan merupakan tahapan yang penting dalam pelaksanaan kegiatan. Dengan identifikasi risiko pada proses pelaksanaan kegiatan konstruksi akan diketahui risiko-risiko apa saja yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan sejak mulai dikerjakan sampai selesai. Selanjutnya akan diketahui seberapa potensial risiko-risiko tersebut dalam mempengaruhi tercapainya sasaran kegiatan dan dapat pula sekaligus direncanakan penentuan langkah penanganan yang tepat atau langkah mitigasi untuk meminimalisasi akibat buruk dari risiko yang ditemukan.
1.2. Perumusan Masalah
Dari penulisan latar belakang di atas, maka permasalahan yang berkaitan dengan penelitian mengenai identifikasi, analisa, dan pengelolaan risiko meliputi :
1. Apa saja risiko dominan selama pengerjaan Proyek Pembangunan Tower PT. PLN yang dapat mempengaruhi besarnya biaya pelaksanaan 2. Apa saja risiko dominan selama pengerjaan
Proyek Pembangunan Tower PT. PLN yang dapat mempengaruhi lamanya waktu pelaksanaan 3. Bagaimana penanganan dan respon risiko untuk
risiko paling dominan yang terjadi pada Proyek Pembangunan Tower PT. PLN
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan Tugas Akhir ini adalah :
1. Menganalisa risiko paling dominan yang dapat mempengaruhi biaya pelaksanaan pada Proyek Pembangunan Tower PT. PLN
2. Menganalisa risiko paling dominan yang dapat mempengaruhi waktu pelaksanaan pada Proyek Pembangunan Tower PT. PLN
3. Mengetahui respon risiko dari risiko paling dominan yang terjadi pada Proyek Pembangunan Tower PT. PLN
1.4. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penulisan nanti bisa lebih terarah dan sistematis, maka pembahasan dalam penulisan ini dibatasi sebagai berikut :
1. Risiko yang diteliti adalah risiko teknis pelaksanaan yang berpengaruh terhadap biaya, mutu dan waktu.
2. Analisa dan pengelolaan hasil identifikasi risiko dilakukan terhadap risiko yang paling sering terjadi dan berdampak paling besar.
1.5. Manfaat
Penyusunan Tugas Akhir ini diharapkan mampu mendapatkan beberapa manfaat sebagai berikut, antara lain :
1. Dapat mengidentifikasi kemungkinan risiko yang akan terjadi sedini mungkin, sehingga dapat mengetahui cara mengelola risiko tersebut dengan baik.
2. Dapat menjadi referensi bagi penelitian sejenis kedepannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Proyek
Proyek adalah suatu kegiatan (sekuen) yang unik, kompleks, dan seluruh aktivitas di dalamnya memiliki satu tujuan, yang harus diselesaikan tepat waktu, tepat sesuai anggaran, dan sesuai dengan spesifikasi (Wysocki, Beck, dan Crane, 2000).
2.2. Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi adalah proses di mana rencana / desain dan spesifikasi dikonversikan menjadi struktur dan fasilitas fisik. Proses konstruksi melibatkan organisasi dan koordinasi seluruh sumberdaya proyek (tenaga kerja, peralatan konstruksi, material permanen dan sementara, suplai dan fasilitas, uang, teknologi dan metode, waktu) untuk menyelesaikan proyek tepat waktu, tepat sesuai anggaran, serta sesuai dengan standar kualitas dan kinerja yang dispesifikasikan oleh perencana.
Pemegang peranan utama pada proses konstruksi adalah kontraktor dan sub-kontraktor beserta tenaga kerjanya. Pihak lain yang terlibat antara lain arsitek/engineer sebagai penyelia/supervisor,
pemasok/supplier material dan peralatan, konsultan, pemilik proyek, serta penyedia jasa pengangkutan (Barrie dan Paulson,1992).
2.3. Konstruksi Tower
Salah satu perlengkapan SUTT / SUTETI adalah Tower. Tower adalah konstruksi bangunan yang kukuh, berfungsi untuk menyangga/merentang kawat penghantar dengan ketinggian dan jarak yang cukup agar aman bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Antara tower dan kawat penghantar disekat oleh isolator (Suhadi dkk,2008).
2.3.1. Jenis – Jenis Tower
Menurut bentuk konstruksinya jenis-jenis tower dibagi atas 4 macam yaitu :
a. Lattice tower b. Tubular steel pole c. Concrete pole d. Wooden pole
2.3.2. Komponen – Komponen Tower
Komponen tower terdiri dari beberapa bagian diantaranya :
a. Pondasi
Pondasi adalah konstruksi beton bertulang untuk mengikat kaki tower (stub) dengan bumi.
Jenis fondasi tower beragam menurut kondisi tanah tempat tapak tower berada dan beban yang akan ditanggung oleh tower. Fondasi tower yang menanggung beban tarik dirancang lebih kuat/besar daripada tower tipe suspension.
b. Stub
Stub adalah bagian paling bawah dari kaki tower, dipasang bersamaan dengan pemasangan fondasi dan diikat menyatu dengan fondasi.
c. Leg
Leg adalah kaki tower yang terhubung antara stub dengan body tower. Pada tanah yang tidak rata perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi leg.
d. Common Body
Common body adalah badan tower bagian bawah yang terhubung antara leg dengan badan tower bagian atas (super structure).
e. Super structure
Super structure adalah badan tower bagian atas yang terhubung dengan common body dan cross arm kawat fasa maupun kawat petir.
f. Cross arm
Cross arm adalah bagian tower yang berfungsi untuk tempat menggantungkan atau mengaitkan isolator kawat fasa serta clamp kawat petir.
g. K frame
K frame adalah bagian tower yang terhubung antara common body dengan bridge maupun cross arm.
h. Bridge
Bridge adalah penghubung antara cross arm kiri dan cross arm tengah.
i. Rambu tanda bahaya
Rambu tanda bahaya berfungsi untuk memberi peringatan bahwa instalasi SUTT/SUTETI mempunyai risiko bahaya.
j. Rambu identifi kasi tower dan penghantar/jalur
Rambu identifikasi tower dan penghantar/jalur berfungsi untuk memberitahukan identitas tower:
- Nomor tower - Urutan fasa - Penghantar/Jalur
- Nilai tahanan pentanahan kaki tower k. Anti Climbing Device (ACD)
ACD disebut juga penghalang panjat berfungsi untuk menghalangi orang yang tidak berkepentingan untuk naik tower.
l. Step bolt
Step bolt adalah baut yang dipasang dari atas ACD ke sepanjang badan tower hingga super structure dan arm kawat petir.
Berfungsi untuk pijakan petugas sewaktu naik maupun turun dari tower.
m. Halaman tower
Halaman tower adalah daerah tapak tower yang luasnya diukur dari proyeksi ke atas tanah galian fondasi.
2.3.3. Tahapan Pembangunan Tower
Komponen kegiatan pembangunan Tower SUTT dibagi menjadi 4 tahap, yaitu Tahap Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca- operasi. Berikut ini disebutkan beberapa kegiatan yang sangat perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan keempat tahap tersebut
Tahap prakonstruksi
a. Penentuan Jalur
Jalur SUTT ditentukan berdasarkan pertimbangan teknis, ekonomi, dampak lingkungan, dan aspek sosial. Survei lapangan dibutuhkan untuk menyesuaikan tata ruang, kondisi topografi, karakteristik flora dan fauna, karakteristik masyarakat, dan status kepemilikan lahan.
b. Desain Rinci
Desain rinci harus memperhatikan hasil survei dan menghasilkan tower schedule.
c. Pembebasan Lahan
Pemrakarsa harus melaksanakan pembebasan lahan dan bangunan yang akan digunakan sebagai lokasi tapak menara.
d. Penyiapan Tenaga Kerja
Sedapat mungkin tenaga kerja diambil dari penduduk sekitar lokasi proyek. Pelatihan tenaga kerja pun harus dilakukan untuk jenis- jenis keterampilan yang dibutuhkan proyek.
Pengetahuan mengenai keselamatan kerja juga harus diberikan kepada para tenaga kerja.
Tahap konstruksi
e. Mobilisasi Alat Dan Bahan
Berupa Bahan-Bahan Yang Diangkut Termasuk Material Untuk Pondasi Tapak Menara, Besi- Baja Menara, Kawat Penghantar, Insulator, Dan Lain-Lain.
f. Penyiapan Lahan Tapak Penyangga
Mencakup pembersihan dan perataan permukaan lahan. Pembersihan dilakukan untuk menyingkirkan benda-benda keras dan tumbuh- tumbuhan di lokasi lahan tapak menara.
Pembersihan dan perataan lahan dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan alat berat bila diperlukan.
g. Pemasangan Pondasi
Jenis pondasi dipilih berdasarkan spesifikasi menara dan daya dukung tanah. Prosesnya adalah penggalian lubang, pemadatan tanah dasar, dan pemasangan struktur pondasi menara di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan. Besi grounding dan stub menara dipasang bersamaan di tahap ini.
h. Pendirian Menara
Dilakukan setelah pondasi menara terpasang kuat sesuai umur beton. Pendirian suatu menara jenis menara latise umumnya membutuhkan waktu +/- 14 hari. Sedangkan pendirian menara jenis tiang baja membutuhkan waktu 2 hari dengan bantuan alat berat (crane).
i. Penarikan Penghantar
Penarikan kawat penghantar (stringing) dilakukan dengan menggunakan alat pulling winches machine. Setelah itu, kawat disetel
Gambar 2.15.
Baut panjat (step bolt)
Gambar 2.16. Halaman tower
agar kawat penghantar memiliki tegangan tarik dan tinggi andongan yang ditentukan.
Semuanya dikerjakan setelah seluruh menara selesai didirikan dan insulator- insulator terpasang di tempatnya.
j. Uji Coba
Sebelum dilakukan uji coba dilakukan final cek untuk memeriksa kelengkapan dan kesempurnaan konstruksi dan kelengkapannya.
Setelah kegiatan tersebut, dilakukan kegiatan energizing (pemberian tegangan).
k. Penyaluran Tenaga Listrik
Setelah SUTT diaktivasi, arus listrik mulai dialirkan dari sisi pengirim menuju sisi penerima. Besaran tegangan juga disesuaikan dengan yang direncanakan. Pengendalian aliran dilakukan dari control room gardu induk atau dari Pusat Pengatur Beban (Area Control Center).
Tahap operasi l. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan guna memastikan semua peralatan jaringan SUTT dapat berfungsi dengan baik. Adapun pemeliharaan untuk ruang bebas dilakukan dengan cara memotong tumbuhan atau bangunan yang masuk ke ruang tersebut.
m. Pemantauan Dampak Lingkungan
Dilakukan sesuai ketentuan yang tercantum dalam dokumen UKL-UPL. Dampak lingkungan yang perlu dipantau adalah besaran medan magnet dan medan listrik.
Tahap pasca operasi n. Uprating
Tahap pasca-operasi pada suatu kegiatan yang berhubungan dengan SUTT umumya
hanya meliputi peningkatan tegangan listrik (uprating). Jarang sekali suatu SUTT harus dibongkar keseluruhannya karena tidak bisa digunakan lagi.
2.4. Risiko Konstruksi
Risiko adalah kondisi dimana terdapat kemungkinan keuntungan / kerugian ekonomi atau finansial, kerusakan atau cedera fisik, keterlambatan, sebagai konsekuensi ketidakpastian selama dilaksanakannya suatu kegiatan (Cooper dan Chapman, 1993).
2.4.1. Konsep Risiko
Risk dan Uncertainty, Meskipun risiko memiliki kaitan yang erat dengan ketidakpastian/
uncertainty, keduanya memiliki perbedaan.
Ketidakpastian adalah kondisi dimana terjadi kekurangan pengetahuan, informasi, atau
pemahaman tentang suatu keputusan dan konsekuensinya (Ritchie dan Marshall, 1993).
Risk dan Opportunity, Kejadian di masa yang akan datang tidak dapat diketahui secara pasti. Kejadian ini atau suatu keluaran / output dari suatu kegiatan / peristiwa dapat berupa kondisi yang baik atau kondisi yang buruk. Jika yang terjadi adalah kondisi yang baik maka hal tersebut merupakan kesempatan baik (opportunity), namun jika terjadi hal yang buruk maka hal tersebut merupakan risiko (Kerzner, 2001).
2.4.2. Jenis – Jenis Risiko
Kangari (1995) menuliskan penelitiannya yang berjudul Risk Management Perceptions and Trends of US. Construction. Dari penelitian ini diketahui persepsi kontraktor-kontraktor mengenai alokasinya dan importance risiko-risiko konstruksi yang berlaku pada proyek-proyek konstruksi di Amerika Serikat. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif. Hasil identifikasi adalah sebagai berikut.
Risiko yang penting:
- Produktivitas tenaga kerja dan peralatan - Kualitas pekerjaan
- Keselamatan kerja - Kemampuan kontraktor . Resiko yang kurang penting:
- Ketersediaan material, tenaga kerja, dan peralatan
- Kerusakan material - Inflasi
- Kuantitas pekerjaan aktual - Perselisihan tenaga kerja
- Kegagalan keuangan pihak-pihak yang terlibat - Negosiasi untuk change-order
- Ganti rugi / indentification
- Proses penyelesaian perpanjangan kontrak.
-
2.5. Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah “suatu kegiatan yang dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui (melalui rencana analisa risiko atau bentuk observasi lain) untuk meminimalisasi konsekuensi buruk yang mungkin muncul”. Untuk itu risiko harus didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau prosedur yang reaktif (Webb, 1994).
2.5.1. Perencanaan Manajemen Risiko
Proses pengembangan dan dokumentasi strategi dan metode yang terorganisasi, komprehensif, dan interaktif, untuk keperluan identifikasi dan penelusuran isu-isu risiko, pengembangan rencana penanganan risiko,
penilaian risiko yang kontinyu untuk menentukan perubahan risiko, serta mengalokasikan sumberdaya yang memenuhi (Kerzner,2002).
2.5.2. Identifikasi Risiko
Pada dasarnya identifikasi risiko diawali dengan menyusun daftar kejadian-kejadian tidak diharapkan di proyek yang mungkin menyebabkan kegagalan dalam mencapai sasaran proyek.
Sumbernya adalah sebagai berikut (Kerzner, 2001) : A. Sumber yang obyektif
Yaitu kejadian pada proyek-proyek sebelumnya yang tercatat dalam rekord-rekord proyek. Dapat juga dilakukan melalui analisa terhadap kontrak-kontrak yang telah dibuat (Djojosoedarso, 1999).
B. Sumber yang subyektif
Yaitu pengalaman para pakar terkait yang dapat diperoleh melalui wawancara. Ketepatan identifikasi didukung oleh keterampilan pihak yang melakukan identifikasi dalam menentukannya atau memberikan judgement.
2.5.3. Analisis Risiko
Penilaian risiko membuat entitas mampu mempertimbangkan batas dimana peristiwa potensial dapat memiliki dampak pada pencapaian tujuan. Manajemen harus menilai peristiwa dari dua perspektif, kemungkinan dan dampak, dan biasanya menggunakan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif.
a. Analisa Risiko dengan Menggunakan Teknik Kualitatif
Analisa risiko dengan menggunakan teknik kualitatif terdiri dari beberapa cara, yaitu : (PMBOK, 2004)
a. Kemungkinan risiko dan dampak yang akan terjadi
Memperkirakan risiko yang mungkin saja dapat terjadi dilakukan dengan menyelidiki masing- masing risiko, secara spesifik, yang mungkin saja dapat terjadi. Memperkirakan dampak dari risiko dilakukan dengan menyelidiki dampak-dampak potensial apa saja yang mungkin saja terjadi.
Setiap risiko yang sudah teridentifikasi harus ditaksir kira-kira bagaimana kemungkinan terjadinya dan bagaimana dampak yang akan ditimbulkan jika risiko tersebut terjadi. Risiko dapat diperkirakan dengan cara wawancara atau diadakan rapat dengan peserta yang terpilih yang berkaitan langsung dengan kategori risiko yang akan dibahas.
b. Matriks kemungkinan dan dampak (Probability and impact matrix)
Informasi risiko dengan prioritas tinggi, sedang, ataupun rendah dapat juga dituangkan dalam bentuk matriks. Kategori-kategori tersebut dapat dibedakan juga dengan warna masing-masing.
c. Risk data quality assesment
Analisa risiko dengan teknik kualitatif membutuhkan data yang akurat dan tidak memihak (objektif) jika ingin mencapai hasil yang dapat dipercaya. Analisa dari data kualitas risiko adalah teknik untuk mengevaluasi seberapa perlukah data risiko tersebut untuk manajemen risiko.
d. Kategorisasi risiko (Risk categorization) Risiko dalam proyek bisa digolongkan berdasarkan dokumen-dokumen asli risiko, daerah mana saja di dalam proyek yang berpengaruh, atau kategori yang berguna lainnya untuk membatasi bagian proyek mana saja yang berdampak akibat dari ketidakpastian.
e. Risk urgency assesment
b. Analisa Risiko dengan Menggunakan Teknik Kuantitatif
Cara-cara yang digunakan dalam analisa risiko dengan teknik kuantitatif, yaitu : (PMBOK, 2004)
Data gathering and representation techniques 1) Interviewing (Wawancara)
Dari teknik wawancara ini didapatkan informasi optimistic, most-likely, pessimistic dari pekerjaan-pekerjaan yang berisiko.
2) Probability distributions (Distribusi kemungkinan)
3) Expert judgement (Putusan dari para ahli) Dapat dilakukan pada pokok permasalahan didalam atau diluar organisasi.
Teknik-teknik yang dipergunakan untuk analisa risiko dengan teknik kuantitatif, yaitu : (PMBOK, 2004)
a. Sensivity analysis
b. Expected monetary value analysis c. Decision tree analysis
c. Pengukuran Potensi Risiko
Risiko yang potensial adalah risiko yang perlu diperhatikan karena memiliki probabilitas terjadi yang tinggi dan memiliki konsekuensi negatif yang besar dan terjadinya risiko ditandai dengan adanya error pada estimasi waktu, estimasi biaya, atau teknologi desain (Soemarno, 2007)
2.5.4. Perencanaan Respon Risiko
Rencana respon risiko adalah proses untuk mengembangkan pilihan dan menentukan tindakan untuk memperbesar kesempatan dan mengurangi
tanda-tanda akan terjadinya bahaya pada tujuan proyek.
Berikut ini adalah beberapa strategi untuk menghadapi risiko-risiko negatif atau ancaman (Gusdi Hendy, 2011) :
a. Menghindari (Avoid)
Menghindari risiko (risk avoidance) meliputi perubahan rencana manajemen proyek untuk mengurangi ancaman-ancaman yang diakibatkan oleh risiko-risiko yang buruk, untuk mengasingkan tujuan awal proyek dari dampak risiko.
b. Memindahkan (Transfer)
Ketika seseorang atau suatu badan mentransfer atau mengalihkan risiko ke pihak lain, mereka akan mengalihkan tanggung jawab finansialnya untuk suatu risiko kepada pihak lain dengan membayar jasa tersebut, contohnya adalah asuransi.
c. Mengurangi (Mitigate)
Mengurangi risiko (risk mitigation) adalah mengadakan pengurangan dalam hal kemungkinan dan/atau dampak dari risiko yang dapat merugikan sampai ke batas yang dapat diterima.
Selain itu, juga terdapat beberapa strategi untuk menangani risiko-risiko yang positif, yaitu :
a. Memanfaatkan (Exploit) b. Membagi (Share) c. Memperbesar (Enhance)
Sedangkan strategi yang harus dipersiapkan untuk keduanya (kesempatan dan ancaman) adalah penerimaan (acceptance). Strategi itu diambil karena hampir tidak mungkin untuk mengurangi semua risiko yang ada di sebuah proyek.
2.5.5. Pengawasan dan Kontrol terhadap Risiko Pengawasan dan kontrol terhadap risiko adalah proses dari mengidentifikasi, menganalisa, dan merencanakan untuk risiko baru yang muncul, mengawasi risiko-risiko yang telah teridentifikasi, menganalisa kembali risiko-risiko yang sudah ada, pengawasan terhadap risiko-risiko yang telah terjadi, dan memeriksa pelaksanaan dari respon yang dilakukan terhadap risiko sembari mengevaluasi keefektifannya
Cara-cara yang dapat digunakan dalam melaksanakan pengawasan dan kontrol terhadap risiko, yaitu :
1. Risk Reassessment (Menaksir Risiko)
Pengawasan dan kontrol terhadap risiko umumnya memerlukan identifikasi risiko baru dan perkiraan risiko tersebut dapat terjadi.
2. Risk Audits
3. Variance and Trend Anlysis
Kecenderungan dalam pelaksanaan proyek harus ditampilkan dalam bentuk data. Earned value analysis dan metode lainnya dari variance and trend analysis mungkin dapat digunakan untuk mengawasi kinerja proyek secara keseluruhan.
Hasil dari analisis ini adalah ramalan penyimpangan pekerjaan proyek pada penyelesaian mulai dari biaya dan target waktu yang telah ditentukan.
4. Status Meetings
Project risk management (Manajemen risiko proyek) dapat dijadikan sebagai agenda dalam rapat yang diadakan secara berkala. Risk management (manajemen risiko) akan menjadi lebih mudah jika lebih sering dipraktikan, dan diskusi tentang risiko tersebut secara berkala dilakukan.
2.6. Populasi Dan Sampel
Populasi ialah Wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 1997:59).
Sampel adalah sebagian dari unit-unit yang ada dalam populasi yang ciri-ciri atau karakteristiknya benar-benar diselidiki. Berkenaan dengan teknik pengambilan sampel, (Nasution, 2003:53) mengatakan bahwa “Mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitiannya,serta mutu pelaksanaan dan pengolahannya”.
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : sampling random (probability sampling) dan sampling nonrandom (nonprobability sampling) (Sundayana, 2010).
1. Teknik Sampling Random
Sampling random yaitu pengambilan sampel secara acak yang dilakukan dengan cara undian, atau tabel bilangan acak/random atau dengan menggunakan kalkulator/komputer. Sampling random Terdiri dari :
a. Sampling Random Sederhana
Digunakan jika populasi bersifat homogen.
Dikatakan sederhana karena cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata/tingkatan yang ada dalam populasi itu.
b. Teknik Sampling Bertingkat
Teknik sampling ini disebut juga dengan istilah teknik sampling berlapis, berjenjang, dan petala.
Teknik ini digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri atas kelompok-kelompok
yang bertingkat. Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu.
c. Teknik Sampling Kluster
Teknik sampling ini disebut juga sebagai teknik sampling daerah, conditional sampling/restricted sampling/area sampling. Teknik ini digunakan apabila populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan seterusnya.
2. Teknik Sampling Nonrandom
Sampling nonrandom atau disebut juga sebagai incidental sampling, yaitu pengambilan sampel tidak secara acak.Teknik sampling nonrandom terdiri atas lima macam yaitu:
a. Teknik Sampling Sistematis (Systematical Sampling)
Teknik ini sebenarnya dapat termasuk kepada teknik random sampling sederhana yang digunakan secara ordinal. Artinya anggota sampel dipilh berdasarkan urutan tertentu.
b. Teknik Sampling Kebetulan (Accidental Sampling)
Teknik sampling kebetulan dilakukan apabila pemilihan anggota sampelnya dilakukan terhadap orang atau benda yang kebetulan ada atau dijumpai dan dipandang orang yang dijumpai tersebut. cocok dijadikan sumber data.
c. Teknik Sampling Bertujuan (Porpusive Sampling)
Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya. Sebagai contoh : untuk meneliti tentang disiplin siswa maka yang dipilih adalah orang yang ahli dalam kesiswaan seperti Kepala Sekolah, PKS urusan kesiswaan, dan Ketua OSIS yang dijadikan anggota sampel.
d. Teknik Sampling Kuota (Quota Sampling) Teknik ini digunakan apabila anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu (kuota) dengan ciri-ciri tertentu.
e. Teknik Bola Salju (Snowball Sampling)
Teknik penentuan sampel bola salju ini digunakan apabila jumlah sampel yang diketahui hanya sedikit. Dari sampel yang sedikit tersebut peneliti mencari informasi sampel lain dari yang dijadikan sampel terdahulu, sehingga makin lama jumlah sampelnya makin banyak. Seperti bola salju yang menggelinding makin lama bola salju tersebut makin besar.
2.7. Studi Terdahulu
Variabel-variabel dalam analisa risiko konstruksi juga sudah diperoleh pada penelitian- penelitian yang sejenis. Beberapa penelitian dengan tema Analisa Risiko Konstruksi adalah sebagai berikut :
1. Judul : Analisis Risiko Pada Proyek Pembangunan Apartemen The Pakubuwono View Jakarta
Peneliti : Laksmi Paramastri Kesimpulan :
Menganalisa risiko yang kemungkinan besar akan terjadi pada proyek ini adalah dengan menggunakan tabel Probablity x Impact terhadap biaya maupun terhadap waktu. Dari analisa tersebut didapatkan risiko yang kemungkinan besar terjadi dan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap biaya adalah (sesuai dengan ranking) :
a. Perubahan desain
b. Keterlambatan pembayaran oleh pihak owner
c. Kerusakan atau kehilangan material d. Kerusakan peralatan kerja
e. Kecelakaan tenaga kerja f. Krisis keuangan global g. Perubahan harga material
Sedangkan risiko-risiko yang kemungkinan besar terjadi dan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap waktu adalah sebagai berikut (sesuai dengan ranking) : a. Perubahan desain
b. Kerusakan atau kehilangan material c. Kerusakan peralatan kerja
d. Keterlambatan pembayaran oleh pihak owner
2. Judul : Analisis Risiko Konstruksi Pada Proyek Pembangunan Apartemen Petra Square Surabaya
Peneliti : Bagus Yuntar Kurniawan Kesimpulan :
Dari analisa didapatkan 9 variabel risiko yang dominan berdampak terhadap biaya, risiko-risiko tersebut adalah (sesuai dengan rangking), yaitu :
a. Keterlambatan pembayaran oleh owner b. Adanya perubahan desain/spesifikasi c. Kekurangan tempat penyimpanan material d. Produktifitas tenaga kerja yang rendah e. Tidak diterimanya pekerjaan oleh owner f. Keterlambatan pembayaran pada sub-kon
melalui kontraktor utama
g. Timbulnya kemacetan disekitar lokasi proyek
h. Kerusakan yang terjadi di daerah sekitar pada saat pemancangan
i. Perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan Sedangkan risiko-risiko yang dominan berdampak terhadap waktu adalah sebagai berikut (sesuai dengan rangking), yaitu :
a. Adanya perubahan desain/spesifikasi
b. Kekurangan tempat penyimpanan material c. Produktifitas tenaga kerja yang rendah d. Keterlambatan pembayaran oleh owner e. Perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan f. Tidak diterimanya pekerjaan oleh owner g. Keterlambatan pembayaran pada sub-kon
melalui kontraktor utama
h. Timbulnya kemacetan disekitar lokasi proyek
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3. 1. Konsep Penelitian
Penelitian ini direncanakan sebagai penelitian studi kasus untuk mengidentifikasi dan menganalisa risiko pelaksanaan proyek tower PT.
PLN. Penelitian yang dilakukan adalah mengidentifikasi risiko dan menganalisa risiko yang paling berisiko untuk terjadi.
3. 2. Rancangan Penelitian 3. 2. 1. Variabel Penelitian
Dari pengkajian studi literatur didapatkan variabel-variabel risiko yang biasanya terjadi dalam proyek konstruksi tower yang nantinya akan dijadikan sebagai identifikasi awal pada kuisioner survey pendahuluan yang akan disebarkan.
3. 2. 2. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini termasuk dalam populasi terjangkau (accessible population) atau dapat disebut sebagai populasi terbatas (finite population) yaitu bagian populasi target yang dibatasi oleh tempat dan waktu (Heriyanto, 2010).
Populasi terjangkau dalam penelitian analisa risiko konstruksi proyek pembangunan Tower PT. PLN di Jawa Timur ini adalah pihak-pihak pelaku konstruksi pelaksana tower PT. PLN di Jawa Timur antara tahun 2006-2011.
Responden yang dituju sebagai sampel adalah orang-orang / expert yang sedang atau pernah menangani proyek tower PT.PLN di Jawa Timur, diantaranya yang berposisi sebagai berikut :
1. Project Manager
2. Site Engineering Manager 3. Site Operational Manager 4. Kepala Pelaksana
3. 3. Data Dan Teknik Pengumpulan Data Data adalah fakta atau fenomena yang sifatnya mentah atau belum dianalisis, seperti angka, nama, keterangan, dan sebagainya. Dalam studi ini diperlukan data-data untuk mendukung keakuratan dari hasil penelitian ini.
3. 3. 1. Jenis Data
Ada beberapa jenis data yang digunakan dalam studi kasus proyek ini, yaitu jenis data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama atau data hasil dari wawancara.
Data primer yang dikumpulkan dapat berupa persepsi mengenai penting atau tidaknya risiko- risiko pada pelaksanaan kegiatan konstruksi sebagai variabel penelitian. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi langsung atau menggunakan penyebaran kuesioner, yaitu cara pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden (nara sumber).
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data berbentuk naskah tertulis atau dokumen yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak-pihak tertentu.
Data sekunder dalam penelitian dapat diperoleh dari data-data yang tersedia di perusahaan- perusahaan jasa konstruksi terkait serta sumber lain yang relevan.
3. 3. 2. Survey Pendahuluan
Survey pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan variabel-variabel risiko yang terjadi di proyek yang ditinjau untuk ditambahkan pada variabel risiko yang didapat dari studi literatur..
3. 3. 3. Teknik Pengumpulan Data
Data yang didapatkan untuk penelitian ini diperoleh dari responden yang pernah melaksanakan Proyek Pembangunan Tower PT. PLN di Jawa Timur. Data didapatkan dengan cara wawancara dan penyebaran kuisioner.
3. 4. Analisa Data
Berikut adalah langkah-langkah penelitian dari Tugas Akhir ini :
1. Identifikasi Risiko
Dilakukan melalui studi literature, observasi dan wawancara dengan menyebarkan kuisioner survey pendahuluan pada responden yang sudah terpilih dengan memilih jawaban iya dan tidak.
Jika responden menjawab iya pada satu pilihan risiko, maka risiko tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam form kuisioner tahap selanjutnya (frekuensi dan dampak, respon risiko).
2. Analisa risiko dilakukan melalui:
a. Penyebaran kuisioner utama dari hasil identifikasi risiko
b. Wawancara
c. Penilaian tingkat risiko (assessment) terhadap frekuensi risiko yang terjadi dan dampak yang ditimbulkan dari risiko tersebut
d. Penggambaran hasil dari assessment kedalam diagram scatter/ matriks berdasarkan frekuensi dan dampak
Analisa risiko menggunakan cara memperkirakan frekuensi terjadinya suatu risiko dan dampak dari risiko. Salah satu caranya adalah dengan penyebaran kuisioner tahap kedua (kuisioner frekuensi dan dampak) kepada responden yang telah terpilih sebelumnya. Skala yang digunakan dalam mengukur persepsi responden terhadap frekuensi dan dampak risiko dilakukan dengan menggunakan rentang angka 1 sampai dengan 5, yaitu :
Pengukuran frekuensi kejadian : 1 = sangat jarang 2 = jarang 3 = cukup 4 = sering 5 = sangat sering
Pengaruh risiko konstruksi terhadap performance proyek:
1 = sangat kecil 2 = kecil 3 = sedang 4 = besar 5 = sangat besar
Williams (1993), sebuah pendekatan yang dikembangkan menggunakan dua kriteria yang penting untuk mengukur risiko, yaitu :
1. Kemungkinan (Probability), adalah kemungkinan (Probability) dari suatu kejadian yang tidak diinginkan.
2. Dampak (Impact), adalah tingkat pengaruh atau ukuran dampak (Impact) pada aktivitas lain, jika peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.
Untuk mengukur resiko, menggunakan rumus :
I
* P
R
Dimana :R = Tingkat risiko
P = Kemungkinan (Probability) risiko yang terjadi I = Tingkat dampak (Impact) risiko yang terjadi
Tabel 3.2 Matriks Probabilitas dan Dampak
Setelah mengetahui tingkatan frekuensi dan dampak dari suatu risiko, dapat diplotkan pada matriks frekuensi dan dampak seperti pad gambar 3.1 untuk mengetahui strategi mengahadapi risiko tersebut dan mengetahui risiko mana yang kemungkinan terjadinya besar dan berdampak besar bagi proyek tersebut. Risiko yang terplotkan pada kuadran I dan kuadran II pada matriks di bawah merupakan risiko yang harus selalu direspon karena merupakan risiko yang kemungkinan dan dampaknya besar pada proyek tersebut.
Gambar 3.1. Matriks berdasarkan Frekuensi dan Dampak
3. Respon Risiko dilakukan melalui : a) Wawancara dan observasi b) Penyebaran kuisioner
Untuk mengetahui bagaimana respon yang ditentukan pada suatu risiko juga dilakukan penyebaran kuisioner respon risiko pada responden yang telah terpilih sebelumnya. Cara-cara penanganan risiko terdiri dari 4 cara, yaitu :
a. Diterima b. Dikurangi c. Dialihkan d. Dihindari
Dampa
k
Probabilitas
3. 5. Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian tersebut diatas dapat dilihat lebih jelas dalam bagan alir seperti gambar 3.3 berikut ini.
BAB IV
DATA DAN ANALISA 4. 1. Data Penelitian
Data penelitian diperoleh melalui kuesioner dan In Depth Interview yang dilakukan terhadap responden dalam penelitian ini. Responden dalam penelitian ini adalah Project Manager, Site Engineer, Site Operational, Pelaksana.
4. 2. Analisa Risiko
4.2.1. Analisa Risiko berdasarkan Dampak terhadap Biaya
Pada saat dilakukan survey kuesioner frekuensi risiko dan dampak risiko kepada responden, peneliti menggunakan metode skala likert untuk mengukur probability atau frekuensi kejadian variabel risiko yang relevan pada proyek pembangunan tower PT. PLN di Jawa Timur ini.
Begitu pula untuk mengukur impact dari kejadian variabel risiko juga digunakan skala likert. Dimana
skala likert untuk mengukur probability atau frekuensi, yaitu :
Sangat Jarang (SJ) = 1
Jarang (J) = 2
Cukup (C) = 3
Sering (S) = 4
Sangat Sering (SS) = 5
Keterangan skala pada probability atau frekuensi terjadinya risiko adalah sebagai berikut : SJ (Sangat Jarang) = < 3 kali kejadian
J (Jarang) = 3 – 5 kali kejadian C (Cukup) = 6 – 7 kali kejadian S (Sering) = 8 – 10 kali kejadian SS (Sangat Sering) = > 10 kali kejadian Kriteria penetapan skala probability atau frekuensi terjadinya risiko ini didapatkan dari studi literatur pada penelitian sejenis sebelumnya.
Skala Likert untuk mengukur impact terhadap biaya, yaitu :
Sangat Kecil (SK) = 1
Kecil (K) = 2
Sedang (S) = 3
Besar (B) = 4
Sangat Besar (SB) = 5
Dengan keterangan skala pada impact terhadap biaya sebagai berikut :
SK (Sangat Kecil) = 0 - 10 juta K (Kecil) = 10 – 20 juta C (Cukup Besar) = 20 – 30 juta B (Besar) = 30 – 40 juta SB (Sangat Besar) = 40 – 50 juta Kriteria penetapan skala pada impact terhadap biaya ini dilakukan sendiri oleh peneliti.
Kriteria tersebut dibuat berdasarkan nilai biaya kontijensi dari nilai proyek pembangunan untuk satu unit tower PT. PLN di Jawa Timur. Nilai kontrak proyek untuk sebuah tower didapatkan dari data yang diberikan responden berupa harga masing- masing tipe tower yang dibedakan berdasarkan tipe pondasinya, daftar harga tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.2 Harga 1 unit Tower PT. PLN di Jawa Timur
Sumber : PT. Modern Surya Jaya
Dalam hal ini diambil harga untuk 1 buah tower tipe BB karena tipe ini yang dominan digunakan di wilayah dengan kondisi geografis Jawa Timur yaitu sebesar 500 juta rupiah per unitnya.
Sedangkan besar nilai biaya kontijensi pada proyek tersebut diambil sebesar 10% dari nilai kontrak.
TIPE PONDASI HARGA AA 450.000.000 BB 500.000.000 CC 600.000.000 DD 850.000.000
Batasan yang digunakan menggunakan biaya kontijensi karena besaran nilai 10% yang digunakan merupakan batasan biaya atas sebuah risiko yang mungkin dapat terjadi pada saat pelaksanaan pembangunan proyek tower tersebut. Pengambilan nilai biaya kontijensi 10% ini dikarenakan tidak ada rumusan yang baku untuk menentukan besar angka biaya kontijensi, yang pada umumnya berkisar 10 sampai 13 persen. Apabila nilai biaya kontijensi 10% terhadap nilai kontrak, maka biaya kontijensi adalah sebesar 50 juta rupiah, yang kemudian ditetapkan sebagai skala dengan membagi nilai biaya kontijensi tersebut dalam 5 interval.
Setelah diketahui nilai skala probability serta nilai skala impact dari kejadian variabel risiko terhadap biaya yang didapat dari hasil kuesioner kepada responden pada proyek pembangunan tower PT. PLN di Jawa Timur, kemudian dilanjutkan dengan analisa risiko yang menggunakan tabel Probability x Impact (PxI). Proses pengerjaan tabel Probability x Impact adalah dengan cara memasukkan nilai skala probability dan memasukkan nilai skala impact terhadap biaya yang telah didapat dari hasil survey kuesioner, kemudian dilanjutkan dengan mengalikan skala pada kolom probability dan skala pada kolom impact. Kemudian didapat nilai yang dijadikan acuan untuk mengetahui risiko-risiko mana saja yang kemungkinan terjadinya besar dan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap biaya. Berikut adalah tabel Probability x Impact (PxI) dari masing- masing variabel risiko.
Tabel 4.3 Tabel Probability x Impact terhadap biaya
Frekuensi I PxI
(P) Biaya
A Risiko Force Majeure
A1 Gempa Bumi 1,429 1,571 2,245
A2 Banjir 2,286 2,000 4,571
A3 Tanah Longsor 1,714 1,714 2,939
A4 Badai 1,143 1,286 1,469
A5 Ledakan 1,286 1,714 2,204
A6 Tersambar Petir 2,000 2,286 4,571
A7 Cuaca tidak menentu 3,000 2,000 6,000
A8 Demonstrasi / Huru-hara 2,143 1,857 3,980
B Risiko Material dan Peralatan
B1 Ketersediaan materia l 2,143 2,000 4,286
B2 Kerusakan atau kehilangan (pencurian) material 2,143 2,286 4,898
B3 Kekurangan tempat penyimpanan material 2,143 2,571 5,510
B4 Keterlambatan pengiriman material dari supplier 2,571 1,857 4,776
B5 Kenaikan harga material 2,429 2,571 6,245
B6 Kerusakan peralatan mesin dan perlengkapan proyek 2,143 2,429 5,204 C Risiko Tenaga Kerja
C1 Kecelakaan dan keselamatan kerja 2,286 2,286 5,224
C2 Pemogokan tenaga kerja 1,143 1,714 1,959
C3 Kepindahan pekerja senior yang potensial 1,286 1,286 1,653
C4 Tenaga kerja yang tidak terampil 1,714 1,857 3,184
C5 Kurang tersedianya jumlah tenaga kerja dilapangan 2,143 2,143 4,592
C6 Produktifitas tenaga kerja yang rendah 1,714 2,143 3,673
No Variabel
D Risiko Kontraktual
D1 Ketidak jelasan pasal-pasal dalam kontrak 1,429 1,571 2,245
D2 Pasal-pasal yang kurang le ngkap 1,571 1,571 2,469
D3 Perbedaan intersepsi spesifikasi antara owner dan kontraktor 1,714 1,714 2,939
D4 Dokumen-dokumen yang tidak lengkap 1,857 1,429 2,653
D5 Keterlambatan pembayaran oleh owner 2,571 2,000 5,143
D7 Perselisihan antara owner dan kontraktor 2,000 1,429 2,857
D8 Keterlambatan pembayaran pada sub-kon melalui main-kon 2,286 1,286 2,939
4.2.2. Analisa Risiko berdasarkan Dampak terhadap Waktu
Analisa risiko berdasarkan impact terhadap waktu ini dihitung dengan cara yang sama seperti analisa risiko berdasarkan impact terhadap biaya.
Peneliti juga menggunakan skala likert untuk mengukur probability maupun mengukur impact terhadap waktu. Pengukuran skala probability sama dengan yang telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan skala likert untuk mengukur impact terhadap waktu, yaitu :
Sangat Kecil (SK) = 1
Kecil (K) = 2
Sedang (S) = 3
Besar (B) = 4
Sangat Besar (SB) = 5
Dengan keterangan skala pada impact terhadap waktu sebagai berikut :
SK (Sangat Kecil) = 0 – 20 hari K (Kecil) = 21 – 40 hari C (Cukup Besar) = 41 – 60 hari B (Besar) = 61 – 80 hari SB (Sangat Besar) = 81 – 100 hari Kriteria penetapan skala impact terhadap waktu ini dilakukan sendiri oleh pihak peneliti.
Kriteria tersebut didasarkan pada denda keterlambatan sebesar 1 ‰ dari nilai kontrak proyek per hari. Denda keterlambatan pada proyek ini adalah sebesar 500 ribu rupiah per hari. Berdasarkan nilai biaya kontijensi yang sebesar 10 % dari nilai kontrak, yaitu sebesar 50 juta rupiah, didapatkan 100 hari keterlambatan untuk mencapai nilai sebesar nilai biaya kontijensi, kemudian peneliti menetapkan skala dengan membagi nilai jumlah hari keterlambatan yang didapatkan diatas kedalam 5 interval.
Setelah diketahui nilai skala probability serta nilai skala impact dari kejadian variabel risiko terhadap waktu yang didapat dari hasil kuesioner kepada responden pada proyek pembangunan tower PT. PLN di Jawa Timur, kemudian dilanjutkan dengan analisa risiko yang menggunakan tabel Probability x Impact (PxI). Proses pengerjaan tabel Probability x Impact adalah dengan cara memasukkan nilai skala probability dan memasukkan nilai skala impact terhadap waktu yang telah didapat dari hasil survey kuesioner, kemudian dilanjutkan dengan mengalikan skala pada kolom probability dan skala pada kolom impact.
Tabel 4.4 Tabel Probability x Impact terhadap waktu
Frekuensi I PxI
(P) (waktu)
No Variabel
A Risiko Force Majeure
A1 Gempa Bumi 1,429 1,429 2,041
A2 Banjir 2,286 2,143 4,898
A3 Tanah Longsor 1,714 1,571 2,694
A4 Badai 1,143 1,429 1,633
A5 Ledakan 1,286 1,571 2,020
A6 Tersambar Petir 2,000 1,714 3,429
A7 Cuaca tidak menentu 3,000 2,429 7,286
A8 Demonstrasi / Huru-hara 2,143 1,571 3,367
B Risiko Material dan Peralatan
B1 Ketersediaan material 2,143 2,143 4,592
B2 Kerusakan atau kehilangan (pencurian) material 2,143 2,143 4,592
B3 Kekurangan tempat penyimpanan material 2,143 2,000 4,286
B4 Keterlambatan pengiriman material dari supplier 2,571 2,429 6,245
B5 Kenaikan harga mat erial 2,429 2,143 5,204
B6 Kerusakan peralatan mesin dan perlengkapan proyek 2,143 2,286 4,898 C Risiko Tenaga Kerja
C1 Kecelakaan dan keselamatan kerja 2,286 1,857 4,245
C2 Pemogokan tenaga kerja 1,143 2,000 2,286
C3 Kepindahan pekerja senior yang potensial 1,286 1,286 1,653
C4 Tenaga kerja yang tidak terampil 1,714 2,143 3,673
C5 Kurang tersedianya jumlah tenaga kerja dilapangan 2,143 2,286 4,898
C6 Produkti fitas tenaga kerja yang rendah 1,714 1,714 2,939
D Risiko Kontraktual
D1 Ketidak jelasan pasal-pasal dalam kontrak 1,429 1,714 2,449
D2 Pasal-pasal yang kurang lengkap 1,571 1,571 2,469
D3 Perbedaan intersepsi spesifikasi antara owner dan kontraktor 1,714 1,857 3,184
D4 Dokumen-dokumen yang tidak lengkap 1,857 2,000 3,714
D5 Keterlambatan pembayaran oleh owner 2,571 1,857 4,776
D7 Perselisihan antara owner dan kontraktor 2,000 1,857 3,714
D8 Keterlambatan pembayaran pada sub-kon melalui main-kon 2,286 1,857 4,245 E Risiko Pelaksanaan
E1 Pekerjaan Pondasi
E1.1 Pembebasan Lahan 3,714 3,286 12,204
E1.2 Kondisi lokasi site yang sulit 2,714 2,714 7,367
E1.3 Perbedaan kondisi tanah dasar 2,286 2,143 4,898
E1.4 Kondisi tanah yang tidak stabil 1,714 1,857 3,184
E1.5 Meluapnya air tanah 2,143 1,571 3,367
E1.6 Kesukaran dalam pemasangan tiang pancang 2,571 2,143 5,510
E1.7 Adanya t iang pancang yang pecah atau patah 2,000 2,000 4,000
E1.9 Kesesuai an kapasitas bearing yang digunakan 1,714 1,571 2,694
E 1.10 Kesalahan pada survey 2,000 2,143 4,286
E 1.12 Kesalahan pembesian (di mensi besi , jarak besi dan mut u besi) 1,714 1,571 2,694 E 1.13 Kesesuian dimensi yang digali (panjang, lebar dan kedalaman 1,429 1,857 2,653
sesuai dengan type pondasi yang telah ditentukan)
E 1.14 Mutu beton tidak sesuai dengan spek 1,714 1,857 3,184
E 1.15 Kesulitan dalam stub setting 1,714 2,000 3,429
E 1.16 Pemadatan yang tidak merata pada saat pengecoran 1,143 1,429 1,633
E 1.17 Kesalahan elevasi urugan tanah 1,143 1,429 1,633
E2 Pekerjaan Erection
E2.1 Detail tower tidak sesuai dengan gambar 1,429 2,143 3,061
E2.2 Kabel earthing yang dipasang tidak sesuai 1,571 1,714 2,694
E2.3 Kesulitan pengangkutan material ke lokasi 2,714 2,286 6,204
E2.4 Kerusakan pada fasilitas transportasi di sekitar 2,286 1,571 3,592
E2.6 Ketidaklengkapan materi al 2,143 1,714 3,673
E2.8 Kesulitan dalam perakitan per bagian tower 1,714 1,857 3,184
E2.9 Penyetelan dan perakitan yang tidak tepat 1,571 1,571 2,469
E 2.10 Kesukaran mendirikan tower sudut 1,571 1,857 2,918
E 2.11 Kelalaian dalam pemeriksaan baut (setelah pendirian) 1,714 1,429 2,449
E 2.12 Perusakan dan sabotase 1,571 1,286 2,020
E 2.13 Gangguan keamanan di lokasi proyek 2,143 1,429 3,061
E 2.14 Kesalahan Stub setting 1,286 2,000 2,571
E3 Pekerjaan Stringing
E3.1 Kelengkapan peralatan K3 2,000 1,429 2,857
E3.2 Kerusakan atau gangguan pada alat pengangkat 1,857 1,857 3,449
E3.3 Kesulitan pengangkutan material ke lokasi 2,571 2,286 5,878
E3.4 Kesiapan Kondisi Tower 2,000 2,143 4,286
E3.5 Kesulitan pemasangan insulator set dan montage roll 1,714 1,571 2,694 E3.6 Penarikan kondukt or dan earth wire yang tidak tepat 1,857 1,714 3,184
E3.7 Kesalahan Sagging dan clamping 1,571 1,286 2,020
E3.8 Kesulitan pemasangan peralatan/material accessories 1,857 1,571 2,918
E3.9 finalisasi stringing yang tidak sempurna 1,714 1,714 2,939
F Risiko Desain dan Teknologi
F1 Kesalahan desain 1,286 2,143 2,755
F2 Adanya perubahan desain 2,143 2,143 4,592
F4 Metode pelaksanaan yang salah 1,571 2,143 3,367
F5 Keruntuhan Struktur 1,143 2,286 2,612
F6 Data desain tidak lengkap 1,429 1,857 2,653
F7 Ketidak telitian dan ketidak sesuaian spesifikasi detail desain 1,714 2,000 3,429
Dari perhitungan diatas selanjutnya dengan bantuan program SPSS Statistic 17.0, data diinputkan untuk mengetahui posisi masing-masing variabel berada di kuadran mana. Nilai tengah yang digunakan sebagai batasan pemisah masing-masing kuadran adalah nilai rata-rata dari probability, rata- rata impact terhadap biaya serta impact terhadap waktu. Risiko-risiko yang mempunyai nilai cukup besar akan masuk pada kuadran 1 (satu) dan itulah
yang merupakan hasil analisa dari risiko yang kemungkinan besar terjadinya paling besar dan yang menimbulkan dampak yang cukup signifikan dibanding risiko lainnya terhadap biaya maupun terhadap waktu, sehingga perlu dilakukan tindak lanjut berupa suvey respon risiko.
Pada kedua tabel di bawah ini adalah variabel risiko yang masuk pada kuadran 1(satu) pada skala probability x impact yang merupakan risiko yang memiliki rangking tertinggi yang dapat berpengaruh pada waktu dan biaya.
Tabel 4.5 Tabel Probability x Impact terhadap biaya dengan risiko yang terpilih
Frek I PxI
(P) (Biaya)
E1.1 Pembebasan Lahan 3,714 3,000 11,143
E1.2 Kondisi lokasi site yang sulit 2,714 2,714 7,367
B5 Kenaikan harga material 2,429 2,571 6,245
E2.3 Kesulitan pengangkutan material ke lokasi 2,714 2,286 6,204
A7 Cuaca tidak menentu 3,000 2,000 6,000
E1.3 Perbedaan kondisi tanah dasar 2,286 2,571 5,878
G1 Kesalahan estimasi biaya 1,857 3,143 5,837
B3 Kekurangan tempat penyimpanan material 2,143 2,571 5,510
G2 Kesalahan estimasi waktu 2,000 2,714 5,429
C1 Kecelakaan dan keselamatan kerja 2,286 2,286 5,224
No Variabel
Tabel 4.6 Tabel Probability x Impact terhadap waktu dengan risiko yang terpilih
Frek I PxI
(P) (waktu)
E1.1 Pembebasan Lahan 3,714 3,286 12,204
E1.2 Kondisi lokasi site yang sulit 2,714 2,714 7,367
A7 Cuaca tidak menentu 3,000 2,429 7,286
B4 Keterlambatan pengiriman material dari supplier 2,571 2,429 6,245 E2.3 Kesulitan pengangkutan material ke lokasi 2,714 2,286 6,204 E1.6 Kesukaran dalam pemasangan tiang pancang 2,571 2,143 5,510
B5 Kenaikan harga material 2,429 2,143 5,204
A2 Banjir 2,286 2,143 4,898
B6 Kerusakan peralatan mesin dan perlengkapan proyek 2,143 2,286 4,898 C5 Kurang tersedianya jumlah tenaga kerja dilapangan 2,143 2,286 4,898
No Variabel
4. 2. 3 . Respon Risiko
Biaya Waktu A B C D
1 E1.1 Pembebasan Lahan V V V V - Menerima - karena yang berwenang adalah owner
- mempercepat proses negosiasi dengan pemilik tanah membentuk tim khusus yang berkordinasi dengan aparat desa setempat untuk urusan pembebasan lahan
2 E1.2 Kondisi lokasi site yang sulit V V V - Diantisipasi pada tahap penawaran tender pada tower kondisi yang sulit terdapat tambahan biaya
3 B5 Kenaikan harga material V V V - Membeli material yang dapat disimpan dalam jangka waktu lama diawal
4 E2.3 Kesulitan pengangkutan material ke lokasi V V V - Memilih alternatif cara mengangkut sesuai kondisi lokasi kerja
5 A7 Cuaca tidak menentu V V V V - Menggunakan patokan kurva S , sehingga hanya bisa diterima saja
atau dengan mengikuti prediksi harian cuaca untuk safety pekerja - Apabila akan terjadi hujan telah dipersiapkan terpal dilokasi untuk
melindungi material dan peralatan yang ada
- Apabila terjadi hujan deras maka pekerjaan dihentikan sementara - Waktu yang semakin berkurang otomastis diimbangin dengan penambahan
jumlah tenaga kerja serta peralatan untuk mengejar target selesai tepat waktu 6 E1.3 Perbedaan kondisi tanah dasar V V - Ada re-check survey sepanjang jalur transmisi, arah tower, arah pondasi
- Soil test lengkap - songdir boring dan tes lab melakukan evaluasi desain sesuai hasil tes
7 G1 Kesalahan estimasi biaya V V - Pada saat proses penawaran benar-benar melakukan cek atau prediksi harga
8 B3 Kekurangan tempat penyimpanan material V V - Pengiriman material disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan di lapangan - Pengaturan penempatan material digudang untuk mempermudah dan
mempercepat proses bongkar muat
10 G2 Kesalahan estimasi waktu V V - selalu melakukan evaluasi pekerjaan
- jika ada kemungkinan terlambat diambil keputusan yang bersifat kondisional dengan memprioritaskan waktu penyelesaian namun juga menimbang besar biaya
11 C1 Kecelakaan dan keselamatan kerja V V V - Ada Asuransi
- Memberikan pengarahan mengenai K3 selama dilapangan
- Melakukan supervisi saat pelaksanaan (memastikan proses pekerjaan dapat berjalan baik,cepat dan hemat
12 B4 Keterlambatan pengiriman material dari supplier V V V - Menyediakan tambahan armada untuk bongkar muat proses pengiriman
13 E1.6 Kesukaran dalam pemasangan tiang pancang V V - Menentukan metode yang tepat dan disediakan tenaga yang terampil dan pengalaman
14 A2 Banjir V V - Menentukan prediksi waktu banjir
- Menentukan pekerjaan atau lokasi tower yang rawan terjadi banjir agar proses pengerjaan dapat dikonsentrasikan ke lokasi tersebut terlebih dahulu
- Memakai metode pembuatan kisdan untuk mencegah masuknya air ke area kerja
15 B6 Kerusakan peralatan mesin dan perlengkapan proyek V V - Memberikan pengarahan cara penggunaan alat baik dan benar kepada para pekerja - Melakukan perbaikan segera mungkin jika ada alat yang rusak
16 C5 Kurang tersedianya jumlah tenaga kerja dilapangan V V - Segera dilakukan penambahan tenaga disesuaikan dengan kapasitas pekerjaan Keterangan :
A : Menerima Risiko (acceptance) B : Mengurangi Risiko (Mitigate) C : Memindahkan Risiko (Transfer) D : Menghindari (Avoid)
Respon Risiko Variabel Risiko
No Dominan Terhadap Keterangan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1. Kesimpulan
Hasil akhir dari penelitian ini merupakan jawaban dari permasalahan yang ada pada bab awal Tugas Akhir ini, yaitu:
1. Didapatkan 82 variabel risiko yang relavan pada pelaksanaan proyek pembangunan tower PT. PLN di Jawa Timur.
2. Dari analisa didapatkan 10 variabel risiko yang dominan berdampak terhadap biaya, risiko- risiko tersebut adalah (sesuai dengan rangking), yaitu :
a. Pembebasan Lahan
b. Kondisi lokasi site yang sulit c. Kenaikan harga material
d. Kesulitan pengangkutan material ke lokasi
e. Cuaca tidak menentu
f. Perbedaan kondisi tanah dasar g. Kesalahan estimasi biaya
h. Kekurangan tempat penyimpanan material
i. Kesalahan estimasi waktu
j. Kecelakaan dan keselamatan kerja
Sedangkan risiko-risiko yang dominan berdampak terhadap waktu adalah sebagai berikut (sesuai dengan rangking), yaitu :
a. Pembebasan lahan
b. Kondisi lokasi site yang sulit c. Cuaca tidak menentu
d. Keterlambatan pengiriman material oleh supplier
e. Kesulitan pengangkutan material ke lokasi
f. Kesukaran dalam pemasangan tiang pancang
g. Kenaikan harga material h. Banjir
i. Kerusakan peralatan mesin dan perlengkapan proyek
j. Kurang tersedianya jumlah tenaga kerja dilapangan
Pada pembangunan tower PT. PLN di Jawa Timur ini risiko akibat pembebasan lahan merupakan risiko yang paling dominan berdampak terhadap biaya dan juga dominan berdampak terhadap waktu.
3. Respon terhadap risiko yang paling dominan berdampak terhadap biaya dan waktu adalah
dengan mendesak owner untuk segera mempercepat proses pembebasan lahan serta membentuk tim khusus yang berkordinasi dengan aparat desa setempat untuk menyelesaikan masalah pembebasan lahan.
5. 2. Saran
Tentunya penelitian Tugas Akhir ini masih belum sempurna. Berikut ini saran yang dapat disampaikan :
1. Untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang sejenis agar juga menganalisa risiko-risiko dari sudut pandang owner dengan melibatkan responden yang lebih banyak sehingga diharapkan akan diperoleh hasil penelitian yang lebih signifikan,
2. Untuk kontraktor pelaksana pekerjaan tower harus ditindaklanjuti dengan melakukan monitoring terhadap hasil analisa risiko yang telah didapatkan agar tercapai penyelesaian proyek dengan tingkat risiko yang dihadapi serendah mungkin,
3. Melakukan analisa risiko secara kualitatif.