PERSEPSI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP CERITA RAKYAT MUNA
The Perception of Junior High School Student toward Munanese Folktale Mulawati
Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara
Kompleks Bumi Praja, Jalan Haluoleo, Anduonohu, Kendari Pos-el: [email protected],
Abstract
Munanese community in Sulawesi Tenggara also have their own traditional literature. This traditional literature have two types, they are prose and poems. Oral tradition which include as prose are legend, fairy tale, fable, myth, and sage. The existing of this oral tradition is almost disappear.
This was caused by the attention of young generation is less day by day. Beside that, some old people that know this oral tradition is difficult to find. Nowdays, oral tradition is changed by modern literature which can be found in every mass media. La Kimi Batoa wrote in his article tittled Munanese Oral Tradition which contained with some Munanese poems. This article try to discuss the relationship between local literature and its community. The writer will discuss students attitude of SMP toward Munanese folktale. The objective of this discussion is to describe the attitude of SMP student toward Munanese folktale.
Keywords: attitude, SMP students, munanese folktale Abstrak
Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara termasuk daerah yang memiliki berbagai jenis sastra daerah, baik yang bercorak cerita maupun yang bercorak bukan cerita. Sastra lisan bercorak cerita meliputi legenda, dongeng, fabel, mite, dan sage. Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan peradaban, keberadaan sastra daerah tersebut sudah semakin jarang didengar. Di samping karena para orangtua/sepuh yang mengetahui sastra daerah tersebut sudah jarang ditemui, juga karena semakin banyaknya sastra modern yang bisa dinikmati ataupun pelajari. Penelitian tentang sastra daerah Muna sudah pernah dilakukan. Dalam tulisan La Kimi Batoa berjudul Sastra Tradisional Daerah Muna, berisi uraian tentang contoh berbagai jenis syair-syair daerah Muna. Tulisan ini mencoba menelaah hubungan antara sastra daerah dan penikmatnya. Masalah yang akan dibahas adalah sikap siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhadap cerita rakyat Muna. Tujuan penelitian ini adalah terdeskripsikannya sikap siswa SMP terhadap cerita rakyat Muna.
Kata Kunci: sikap, siswa Sekolah Menengah Pertama, Cerita Rakyat Muna 1. Pendahuluan
Sastra daerah juga merupakan suatu bentuk ekspresi masyarakat pada masa lalu yang umumnya disampaikan secara lisan (Mitchell, 2003). Sepanjang sejarahnya manusia selalu butuh berkomunikasi dan berekspresi sebagai salah satu manifestasi eksistensi diri dari kelompok sosialnya.
Ekspresi tersebut baru dapat dilakukan secara
lisan karena pada saat itu tradisi tulis belum lazim digunakan.
Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara termasuk daerah yang memiliki berbagai jenis sastra daerah, baik yang bercorak cerita maupun yang bercorak bukan cerita. Sastra lisan bercorak cerita meliputi legenda, dongeng, fabel, mite, dan sage. Jenis sastra lisan bercorak bukan cerita dikenal dengan
Multilingual, Volume XII, No. 1, Tahun 2013 sebutan kantola, di antaranya nyanyian rakyat, ungkapan tradisional, dan teka-teki.
Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan peradaban, keberadaan sastra daerah sudah semakin jarang didengar. Selain karena para orangtua/sepuh yang mengetahui sastra daerah tersebut sudah jarang ditemui, juga karena semakin banyaknya sastra modern yang bisa dinikmati ataupun pelajari.
Ditambah lagi dengan kondisi sastra modern tersebut sudah terkemas dengan baik dan menarik melalui kaset, televise, ataupun radio.
Ketidakpedulian masyarakat terhadap eksistensi sastra daerah membuat sastra ini terancam punah. Tentu saja hal tersebut sangat disayangkan karena kita akan kehilangan suatu produk budaya yang sangat unik.
Penelitian tentang sastra daerah Muna sudah pernah dilakukan. Dalam tulisan La Kimi Batoa berjudul Sastra Tradisional Daerah Muna, berisi uraian tentang contoh berbagai jenis syair-syair daerah Muna. Selain itu, beberapa contoh nyanyian rakyat Muna dapat pula dijumpai dalam buku Sejarah Kebudayaan dan Kerajaan Muna karangan J.
Couvreur.
Penelitian yang telah dilakukan terhadap sastra daerah yang ada di Kabupaten Muna hanya mengamati cerita rakyat Muna sebagai satu objek tunggal. Sehubungan dengan itu, penelitian ini mencoba menelaah hubungan antara sastra daerah dan penikmatnya.
Masalah yang akan dibahas adalah bagaimana sikap siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhadap cerita rakyat Muna. Tujuan penelitian ini adalah terdeskripsikannya sikap siswa SMP terhadap cerita rakyat Muna.
Adapun hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah (1) sebagai informasi kepada siswa tentang gambaran umum pembelajaran sastra daerah khususnya cerita rakyat, (2) sebagai tentang pentingnya pemilihan metode dan materi ajar yang sesuai dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra daerah.
2. Kerangka Teori
2.1 Sikap
Menurut Alport (dalam Widayatun, 1999: 218), sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak. Sejalan dengan pendapat Alport tersebut, Widayatun memberikan pengertian sikap adalah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (www.hanstoe.wordpress.com).
2.2 Pengertian Cerita Rakyat
Cerita rakyat pada umumnya menampilkan tokoh yang bersifat sederhana dan stereotipe (flat and stereotypical character). Tokoh ini merepresentasikan kualitas sifat kemanusiaan tertentu. Dilihat dari segi alur, cerita rakyat pada umumnya bersifat linear dan hanya menampilkan satu jalinan kisah (Nurgiyantoro. 2005). Dalam buku Folklor Indonesia James Danandjaja (1986) dinyatakan bahwa dari semua bentuk atau genre folklore yang paling banyak diteliti oleh para ahli adalah cerita prosa rakyat.
Dalam dunia kesastraan Indonesia dikenal adanya sastra Melayu Lama yang merujuk pada bebagai jenis sastra rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat Melayu (kini juga menjadi milik Malaysia dan Singapura). Namun, di berbagai etnik di Indonesia juga dijumpai berbagai cerita rakyat lain yang dituturkan dalam bahasa- bahasa daerah yang bersangkutan.
Misalnya, di dalam masyarakat Muna dikenal cerita Aghunte-ghunteli, Niining Kubaea, Wa Ode Airi Kumala, Wamboro- boro, Kampo Motonuno, Bidhdhari, dan Kaluku Ghadi.
Nurgiyantoro (2005) membedakan cerita rakyat menjadi empat golongan
Siti Fatinah: Fonologi Bahasa Muna: Kajian Transformasi Generatif
besar, yaitu mitos, legenda, fable, dan dongeng. Berbeda dengan pendapat tersebut Bascom (dalam Danandjaja, 1986) yang membagi cerita prosa rakyat dalam tiga golongan besar, yaitu 1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale). Berikut penjelasan ketiga jenis cerita rakyat tersebut.
Mitos (myths) adalah salah satu jenis cerita lama yang sering dikaitkan dengan dewa-dewa atau kekuatan supranatural lain yang melebihi batas-batas kemampuan manusia. Menurut Lukens (2003), mitos merupakan sesuatu yang diyakini bangsa atau masyarakat tertentu yang pada intinya menghadirkan kekuatan-kekuatan supranatural.
Sehubungan dengan itu, Bascom juga menjelaskan bahwa Peristiwa yang terjadi dalam mite terjadi pada masa lampau dan di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang. Pada umumnya mite mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Mite juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya (1986).
Mitos dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori berdasarkan sudut pandang tertentu. Huck dkk (dalam Danandjaja, 1986) membedakan mitos ke dalam tiga jenis beedasarkan isi yang dikisahkan, yaitu (a) mitos penciptaan (creation myths), (b) mitos alam (nature myths), dan (c) mitos kepahlawanan (hero myths).
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh masyarakat
pemiliknya sebagai sesuatu yang benar- benar terjadi. Legenda memiliki ciri-ciri yang mirip dengan mite. Yang membedakannya adalah legenda tidak di anggap suci. Sebagian besar legenda ditokohkan oleh manusia, walaupun terkadang manusia tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa dan seringkali pula dibantu oleh makhluk-makhluk gaib.
Menurut Mitchell (dalam Nurgiyantoro, 2005), legenda adalah cerita magis yang sering dikaitkan dengan tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat yang nyata. Masyarakat sering menganggap legenda sebagai cerita yang bersifat historis, walaupun fakta yang dianggap ada tidak memilki akar kesejarahan yang kuat. Selain itu, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda seringkali dipandang sebagai “sejarah” kolektif (folk history), walaupun “sejarah” itu telah mengalami distorsi karena tidak tertulis dan seringkali jauh berbeda dengan aslinya. Jika kita ingin mempergunakan legenda sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah suatu folk, kita harus membersihkannya terlebih dahulu bagian-bagian yang memiliki sifat- sifat folklor, misalnya yang bersifat pralogis atau yang merupakan rumus- rumus tradisi lisan (Danandjaja, 1986).
Dongeng merupakan salah satu cerita rakyat (folktale) yang cukup beragam cakupannya. Istilah dongeng dapat dipahami sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi dan dalam banyak hal sering tidak masuk akal. Dari sudut pandang ini ia dapat dipandang sebagai cerita fantasi. Makna dongeng juga berkembang secara metaforis. Pada umumnya dongeng juga terikat oleh waktu
Multilingual, Volume XII, No. 1, Tahun 2013
dan tempat, dapat terjadi di mana saja dan kapan saja tanpa perlu harus ada semacam pertanggungjawaban pelataran. Menurut Danandjaja (1986), dongeng adalah cerita pendek kolektif kesustraan lisan. Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran.
2.3 Cerita Rakyat Muna
Cerita rakyat merupakan warisan budaya dan lahir dari masyarakat serta kelestariannya ditentukan oleh masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat Muna pada umumnya bertemakan masalah sosial, yaitu masalah kehidupan keluarga raja di Muna dengan menggunakan alur lurus sehingga peristiwa dalam cerita tersusun baik dan memperlihatkan hubungan sebab-akibat (Mappau. 2005).
3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Pemilihan metode ini bertujuan untuk mengetahui sikap siswa SMP kelas VIII terhadap cerita rakyat, kantola, sajak atau puisi rakyat, dan nyanyian rakyat di Kabupaten Muna.
Penelitian ini adalah jenis penelitian survei. Menurut Kerlinger (dalam Riduwan, 2007), penelitian survei biasanya dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam (2004).
Sampel sering didefinisikan sebagai bagian dari populasi yang timbul karena dua hal, yakni (1) proses reduksi objek penelitian karena besarnya populasi, dan (2) proses generalisasi dari hasil-hasil penelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan- kesimpulan pada objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas (Zuriah, 2007).
3.1. Tahap Penentuan Sampel
Pada tahap ini sample dipilih dan ditentukan dari siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kabupaten Muna.
Siswa yang menjadi sampel adalah siswa kelas VIII. Sampel akan dipilih dengan cara proporsional random sampling (Sugiyono dalam Riduwan: 2007). Kabupaten Muna memiliki 123 Sekolah Menengah Pertama, yaitu 96 SMP Negeri, 14 SMP Swasta, 5 MTs Negeri, dan 8 MTs Swasta. Penulis memilih tiga SMP, yaitu SMP Negeri 1 Katobu, SMP Negeri 9 Lohia, dan SMP Negeri 1 Napabalano.
3.2. Tahap Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini akan dikumpulkan dengan menggunakan angket/kuesioner. Menurut Sugiyono (2011), angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menyajikan 43 pertanyaan.
Pertanyaan mengenai sikap siswa terhadap cerita rakyat terdiri dari 17 item.
3.3. Tahap Pengolahan Data
Skala pengukuran yang digunakan pada tahapan ini adalah skala sikap. Skala sikap yang digunakan adalah skala Likert, yaitu jenis skala sikap untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial (Riduwan, 2007).
Skala Likert sering disebut sebagai summated scale yang berisi sejumlah pernyataan dengan kategori respons (Silalahi, 2010). Pengolahan data dilakukan tiga langkah kerja, yaitu mekapitulasi instrumen yang telah dikumpulkan dari 99 responden, menghitung jumlah skor tertinggi dan terendah dari tiap item pertanyaan dalam angket, dan melihat kecenderungan tiap item pertanyaan secara kontinum. Kemudian, menentukan persentase kelompok responden untuk tiap item pertanyaan.
Siti Fatinah: Fonologi Bahasa Muna: Kajian Transformasi Generatif 4. Pembahasan
Kabupaten Muna merupakan salah satu daerah otonom tingkat II dari 12 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Socara geografis, Kabupaten Muna terletak di jazirah Pulau Sulawesi bagian Tenggara yang meliputi sebagian Pulau Buton bagian Utara ( 3 kecamatan ) dan bagian Utara Pulau Muna ( 20 Kecamatan), serta pulau- pulau kecil disekitarnya atau berada pada posisi 4006’ sampai 5015’ lintang Selatan dan 12208’ – 123015’ bujur Timur.
Secara administrasi, Kabupaten Muna berbatasan dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan di sebelah Utara, Kabupaten Buton Utara di sebelah Timur , Kabupaten Buton di sebelah Selatan, dan Kabupaten Bombana dan Selat Spelman di sebelah Barat. Jumalh penduduk Kabupaten Muna saat ini adalah 227.595 jiwa yang tersebar di 23 kecamatan dan 237 desa/
kelurahan.
Kondisi Geografis Kabupaten Muna pada umumnya merupakan daratan rendah dengan ketinggian rata-rata kurang dari 100 meter dari permukaan laut. Keadaan ini dijumpai mulai dari Timur sampai Selatan Kota Raha. Bagian wilayah yang ada di bagian
Utara Pulau Buton terdiri dari barisan pegunungan dengan ketinggian antara 300-800 meter di atas permukaan laut (www.formuna.wordpress.com).
Sikap siswa SMP terhadap cerita rakyat di Kabupaten Muna dapat dijelaskan dengan beberapa pertanyaan yang diajukan dalam bentuk angket. Penjelasan sikap mereka dapat dilihat dalam rekapiltulasi respon siswa di bawah ini. Pertanyaan pertama adalah “Cerita Rakyat Muna adalah cerita yang indah”.
Jumlah skor ideal untuk item pertanyaan nomor 1 (skor tertinggi) = 495 (SS). Jumlah skor terendah = 99 (STS)
Berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari 99 responden, sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari jawaban nomor 1, sikap siswa terhadap keindahan yang diperoleh dari cerita rakyat Muna tergolong cukup, yakni 53, 73%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapatdi ketahui bahwa:
Menjawab 5 = 8 / 99 x 100 = 8.08%
Menjawab 4 = 19 / 99 x 100 = 19.19%
Menjawab 3 = 27 / 99 x 100 = 27.27%
Menjawab 2 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Menjawab 1 = 21 / 99 x 100 = 21.21%
Untuk item pertanyaan nomor 2, yaitu “Saya sangat senang membaca cerita rakyat Muna”. Berdasarkan data (item No.
2) yang diperoleh dari 99 responden, sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 2, sikap siswa terhadap kesenangannya membaca cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 48, 88%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:.
Multilingual, Volume XII, No. 1, Tahun 2013
Menjawab 5 = 7 / 99 X 100 = 7.07%
Menjawab 4 = 13 / 99 X 100 = 13.13%
Menjawab 3 = 25 / 99 X 100 = 25.25%
Menjawab 2 = 26 / 99 X 100 = 26.26%
Menjawab 1 = 28 / 99 X 100 = 28.28%
Pernyataan berikutnya adalah tentang kemudahan memperoleh cerita rakyat Muna di toko-toko buku. Respon yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 3,
sikap siswa terhadap kemudahan memperoleh cerita rakyat Muna di took- toko buku tergolong kurang/lemah dengan persentase 37, 74%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 0 / 99 x 100 = 0
Menjawab 4 = 1 / 99 x 100 = 1.01%
Menjawab 3 = 12 / 99 x 100 = 12.12%
Menjawab 2 = 46 / 99 x 100 = 46.46%
Menjawab 1 = 40 / 99 x 100 = 40.40%
Sikap siswa terhadap pernyataan nomor 4, yaitu cerita rakyat Muna dapat dipahami dengan mudah oleh pembacanya, Berdasarkan data (item No. 4) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang
diperoleh dari pertanyaan nomor 4, sikap siswa terhadap kemudahan dalam memahami cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 48, 08%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 6 / 99 x 100 = 6.06%
Menjawab 4 = 12 / 99 x 100 = 12.12%
Menjawab 3 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Menjawab 2 = 31 / 99 x 100 = 31.31%
Menjawab 1 = 26 / 99 x 100 = 26.26%
Cerita rakyat Muna dapat membuka wawasan pembacanya adalah pernyataan nomor 5. Berdasarkan data (item No. 5) yang diperoleh dari 99 responden menunukkan bahwa sikap siswa terletak
pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 5, sikap siswa terhadap kemudahan dalam memahami cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 49, 69%.
Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 5 / 99 x 100 = 5.05%
Menjawab 4 = 14 / 99 x 100 = 14.14%
Menjawab 3 = 32 / 99 x 100 = 32.32%
Menjawab 2 = 21 / 99 x 100 = 21.21%
Menjawab 1 = 27 / 99 x 100 = 27.27%
Nilai-nilai kebaikan adalah salah unsur yang bisa diperoleh dengan membaca cerita rakyat Muna. Berdasarkan data (item No. 6) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah setuju. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 6, sikap siswa terhadap kemudahan dalam memahami cerita rakyat Muna tergolong kuat dengan persentase 70, 90%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Menjawab 4 = 27 / 99 x 100 = 27.27%
Menjawab 3 = 32 / 99 x 100 = 32.32%
Menjawab 2 = 11 / 99 x 100 = 11.11%
Menjawab 1 = 5 / 99 x 100 = 5.05%
Pertanyaan nomor 7 meminta persetujuan dari siswa tentang pemerolehan nilai-nilai pendidikan ketika membaca cerita rakyat Muna. Berdasarkan data (item No. 7) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah setuju. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 7, sikap siswa terhadap pemerolehan nilai-nilai pendidikan dalam cerita rakyat Muna tergolong kuat dengan persentase 64, 24%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 21 / 99 x 100 = 21.21%
Menjawab 4 = 25 / 99 x 100 = 25.25%
Menjawab 3 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Menjawab 2 = 12 / 99 x 100 = 12.12%
Menjawab 1 = 17 / 99 x 100 = 17.17%
Pemerolehan nilai-nilai moral dengan membaca cerita rakyat adalah pernyataan nomor 8. Siswa memberikan
respon beragam mengenai hal ini.
Berdasarkan data (item No. 8) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan
Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012
bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 8, sikap siswa terhadap pemerolehan nilai-nilai
moral dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 50, 50%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:.
Menjawab 5 = 4 / 99 x 100 = 4.04%
Menjawab 4 = 18 / 99 x 100 = 18.18%
Menjawab 3 = 28 / 99 x 100 = 28.28%
Menjawab 2 = 25 / 99 x 100 = 25.25%
Menjawab 1 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Pesan-pesan keagamaan yang dapat diperoleh dalam cerita rakyat Muna adalah isi pernyataan nomor 9. Berdasarkan data (item No. 9) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 9, sikap siswa terhadap pemerolehan pesan-pesan keagamaan dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 46, 86%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 3 / 99 x 100 = 3.03%
Menjawab 4 = 15 / 99 x 100 = 15.15%
Menjawab 3 = 23 / 99 x 100 = 23.23%
Menjawab 2 = 30 / 99 x 100 = 30.30%
Menjawab 1 = 28 / 99 x 100 = 28.28%
Kita akan mendapatkan pesan- pesan kritik sosial ketika membaca cerita rakyat Muna. Kalimat tersebut adalah pernyataan nomor 10. Berdasarkan data (item No. 10) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 10, sikap siswa terhadap pemerolehan pesan dari kritik-kritik sosial yang terdapat dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 50, 70%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 5 / 99 x 100 = 5.05%
Menjawab 4 = 17 / 99 x 100 = 17.17%
Menjawab 3 = 26 / 99 x 100 = 26.26%
Menjawab 2 = 29 / 99 x 100 = 29.29%
Menjawab 1 = 22 / 99 x 100 = 22.22%
Pemahaman budaya masyarakat Muna dengan membaca cerita rakyat Muna adalah pernyataan nomor 11.
Berdasarkan data (item No. 11) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang
diperoleh dari pertanyaan nomor 11, maka sikap siswa terhadap pemahaman budaya dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 47, 47%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 3 / 99 x 100 = 3.03%
Menjawab 4 = 16 / 99 x 100 = 16.16%
Menjawab 3 = 20 / 99 x 100 = 20.20%
Menjawab 2 = 36 / 99 x 100 = 36.36%
Menjawab 1 = 24 / 99 x 100 = 24.24%
Pernyataan yang terdapat dalam angket item 12 adalah tentang keindahan gaya bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat Muna. Berdasarkan data (item No.
12) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data
yang diperoleh dari pertanyaan nomor 12, sikap siswa terhadap keindahan gaya bahasa dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 51, 11%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 5 / 99 x 100 = 5.05%
Menjawab 4 = 18 / 99 x 100 = 18.18%
Menjawab 3 = 27 / 99 x 100 = 27.27%
Menjawab 2 = 26 / 99 x 100 = 26.26%
Menjawab 1 = 23 / 99 x 100 = 23.23%
Pernyataan yang terdapat dalam angket item ke 13 adalah kemudahan memahami gaya bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat Muna. Berdasarkan data (item No. 13) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari
pertanyaan nomor 13, sikap siswa terhadap kemudahan memahami gaya bahasa dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 51, 51%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012
Menjawab 5 = 7 / 99 x 100 = 7.07%
Menjawab 4 = 15 / 99 x 100 = 15.15%
Menjawab 3 = 31 / 99 x 100 = 31.31%
Menjawab 2 = 21 / 99 x 100 = 21.21%
Menjawab 1 = 25 / 99 x 100 = 25.25%
Tema-tema cerita rakyat Muna memberikan inspirasi bagi pembacanya.
Inilah pernyataan yang terdapat dalam angket item nomor 14. Berdasarkan data (item No. 14) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi,
berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 14, sikap siswa terhadap inspirasi yang diperoleh dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 51, 11%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 6 / 99 x 100 = 6.06%
Menjawab 4 = 17 / 99 x 100 = 17.17%
Menjawab 3 = 25 / 99 x 100 = 25.25%
Menjawab 2 = 29 / 99 x 100 = 29.29%
Menjawab 1 = 22 / 99 x 100 = 22.22%
Kesederhanaan alur cerita dalam cerita rakyat Muna adalah pernyataan yang terdapat dalam angket item ke 15.
Berdasarkan data (item No. 15) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang
diperoleh dari pertanyaan nomor 15, maka sikap siswa terhadap kesederhanaan alur dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 49, 89%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 4 / 99 x 100 = 4.04%
Menjawab 4 = 19 / 99 x 100 = 19.19%
Menjawab 3 = 30 / 99 x 100 = 30.30%
Menjawab 2 = 15 / 99 x 100 = 15.15%
Menjawab 1 = 31 / 99 x 100 = 31.31%
Tokoh protagonis yang terdapat dalam cerita rakyat Muna memberikan inspirasi bagi pembacanya. Pernyataan tersebut terdapat dalam angket item ke 16.
Berdasarkan data (item No. 16) yang
diperoleh dari 99 responden menunjukkan bahwa sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 16, sikap siswa terhadap pemerolehan inspirasi dari
Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012
tokoh protagonis dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 54, 14%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 11 / 99 x 100 = 11.11%
Menjawab 4 = 14 / 99 x 100 = 14.14%
Menjawab 3 = 27 / 99 x 100 = 27.27%
Menjawab 2 = 29 / 99 x 100 = 29.29%
Menjawab 1 = 18 / 99 x 100 = 18.18%
Tokoh antagonis yang terdapat dalam cerita rakyat Muna dilukiskan dengan jelas. Inilah pernyataan terakhir yang menggambar sikap siswa terhadap cerita rakyat Muna. Berdasarkan data (item No. 17) yang diperoleh dari 99 responden menunjukkan, sikap siswa terletak pada daerah netral. Jadi,
berdasarkan data yang diperoleh dari pertanyaan nomor 17, sikap siswa terhadap kejelasan penggambaran dari tokoh antagonis dalam cerita rakyat Muna tergolong cukup dengan persentase 53, 53%.
Berdasarkan pada kelompok responden, dapat diketahui bahwa:
Menjawab 5 = 9 / 99 x 100 = 9.09%
Menjawab 4 = 14 / 99 x 100 = 14.14%
Menjawab 3 = 28 / 99 x 100 = 28.28%
Menjawab 2 = 32 / 99 x 100 = 32.32%
Menjawab 1 = 16 / 99 x 100 = 16.16%
Dari keseluruhan pernyataan yang berjumlah 17, 15 item yang direspon siswa dengan cukup baik, 2 item pernyataan direspon dengan baik oleh sebagian siswa yang menjadi responden.
5. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh setelah melalui proses rekapitulasi data tanggapan dari responden dapat disimpulkan bahwa kecenderungan sikap mereka adalah
cukup, yakni berada pada kisaran persentase 40% sampai 60%. Rata-rata perhitungan besaran persentase tersebut adalah 51,76%.
Kesimpulan di atas membuktikan bahwa sikap siswa terhadap cerita rakyat daerah Muna tidaklah seburuk yang diduga oleh sebagian masyarakat, meskipun mereka adalah generasi yang telah bersentuhan dengan sastra modern.
Mereka masih dan berusaha memahami sastra daerah yang ada di sekitar mereka.
I Wayan Nitayadnya: Rima, Diksi, dan Gaya Bahasa Puisi Karya T.S. Atjat
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja. James. 1986. Folklor Indonesia. Jakarta: PT. Temprint.
Lukens, Rebecca J. 2003. A Critical Handbook of Children’s Literature. New York:
Longman.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ramlah, Mappau, S.S. 2005. Struktur Sastra Lisan Muna. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.
Riduwan, Drs. M.B.A. 2007. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Silalahi, Ulber, Dr. MA. 2010. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama
Sugiyono, Prof. Dr. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Zuriah, Nurul, Dra, M.Si. 2007. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori- Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
www.hanstoe.wordpress.com. Pengertian Sikap. Diakses 17 Januari 2012.
www.formuna.wordpress.com. Profil Kabuapaten Muna. Diaksed 25 Januari 2012.