1
SUASANA HATI, TEKANAN KETAATAN DAN
KEPUTUSAN ETIS:
SUATU STUDI EKSPERIMENTAL
Gracella Theotama 232013005
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected]
PENDAHULUAN
Isu riset penelitian ini adalah tuntutan bagi auditor untuk selalu memberikan keputusan etis (ethical audit judgment) namun dalam praktiknya banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Keputusan etis auditor merupakan keputusan yang sesuai dengan etika yang berlaku. Etika merupakan dasar mengenai tindakan yang benar dan yang salah atau yang baik dan yang buruk (Griffin dan Ebert 2006).
Brommer et al. (1987) menyatakan bahwa terdapat 20 lebih variabel yang relevan dengan pengambilan keputusan etis individu. Variabel-variabel tersebut dikelompokkan menjadi faktor lingkungan yaitu work, personal, professional, governmental, legal dan sosial, serta faktor individu yaitu faktor demografi (demographic factors) dan faktor psikologi (psychological factors). Ford dan Richardson (1994) dalam studi empirisnya tentang pembuatan keputusan etis meringkas ada dua faktor yang berpengaruh yaitu faktor individual dan faktor situasional. Riset- riset terdahulu yang meneliti faktor-faktor tersebut dalam lingkup profesi akuntan sudah banyak dilakukan. Riset penelitian ini akan berfokus kepada faktor psikologis individu yaitu suasana hati (mood), dan salah satu bentuk tekanan sosial yaitu tekanan ketaatan (obedience pressure) dalam lingkup auditor.
Suharnan (2005) menyatakan bahwa stres, depresi, kecemasan dan suasana hati akan berdampak pada proses kognitif auditor. Proses kognitif merupakan proses dari berpikir, belajar, mengingat, memahami dan merespon informasi untuk menentukan sebuah keputusan dan memecahkan suatu masalah. Pengaruh ini dibuktikan oleh riset penelitian terdahulu oleh Cianci dan Bierstaker (2009) yang menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan etis terjadi perbedaan antara individu dengan suasana hati positif (positive mood) dan individu dengan suasana hati negatif (negative mood).
2
Individu dengan suasana hati positif akan memiliki keputusan yang lebih etis dibandingkan dengan individu dengan suasana hati negatif.
Replika riset tersebut dilakukan oleh Rokhmania (2013) dengan fokus auditor dan memberikan bukti empiris yaitu pertama, auditor dalam suasana hati positif akan memberikan penilaian etis dengan tingkat etika yang berbeda dibandingkan dengan auditor dalam suasana hati negatif. Kedua, auditor dalam suasana hati netral memberikan penilaian etis dengan tingkat etika yang berbeda dengan auditor dalam suasana hati yang negatif. Ketiga, auditor dalam suasana hati positif memberikan penilaian etis dengan tingkat etika yang hampir sama dengan auditor dalam suasana hati netral. Hal ini membuktikan bahwa suasana hati memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan etis auditor.
Pengaruh yang diberikan suasana hati saat auditor harus memberikan keputusan akan dilema etika yang dihadapi akan semakin rumit dengan adanya tekanan ketaatan yang diberikan. Tekanan ketaatan merupakan bagian dari tekanan sosial. Tekanan sosial yang umumnya sering dihadapi oleh auditor dan memberikan pengaruh terhadap keputusan yang diberikan adalah tekanan ketaatan dan tekanan kesesuaian (conformity pressure). Riset-riset terdahulu oleh DeZoort dan Lord (1994), Nadirsyah dan Malahayati (2007), Jamilah et al., (2007), Cahyaningrum dan Utami (2015) telah memberikan bukti empiris bahwa tekanan ketaatan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan yang dilakukan oleh auditor. DeZoort dan Lord (1994) membuktikan bahwa auditor akan cenderung untuk memberikan keputusan tidak etis dalam keadaan tekanan ketaatan tinggi. Riset Lord dan DeZoort (2001) memberikan temuan empiris bahwa tekanan ketaatan meningkatkan kesediaan auditor untuk menutupi saldo akun yang memiliki salah saji yang material.
Lord dan DeZoort (2001) menjelaskan bahwa meskipun pedoman etika sangat jelas dipahami oleh auditor, tekanan ketaatan membawa auditor dalam sebuah kebimbangan yang cenderung akan memengaruhi kemampuan mereka untuk bertahan saat menghadapi sebuah masalah atau dilema. Mereka memilih untuk bertindak tidak etis agar dinilai memiliki kinerja yang baik pada saat evaluasi atau agar dipandang sebagai sosok yang baik dalam bekerja tim. Pengaruh tekanan ketaatan terhadap
3
keputusan etis dapat dijelaskan dalam teori tekanan (obedience theory) yang dikembangkan oleh Milgram.
Riset terdahulu tentang pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh suasana hati telah diteliti oleh Cianci dan Bierstaker (2009), Rokhmania (2013) dan Curtis (2006) belum mempertimbangkan apabila secara bersamaan auditor mengalami tekanan ketaatan yang seringkali dihadapi oleh auditor. Hal ini menjadi senjang penelitian (research gap) yang menarik untuk diuji dengan menggunakan metoda eksperimen.
Keunggulan dari metoda eksperimen adalah menyediakan kekuatan hubungan kausal antarvariabel dependen dengan independen yang diteliti (Utami dan Nahartyo 2013).
Riset penelitian ini bertujuan menguji kausalitas suasana hati dan tekanan ketaatan dalam pengambilan keputusan etis dalam tatanan audit. Riset penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmu dan kontribusi riset-riset mendatang serta memberikan kontribusi kepada para profesional khususnya auditor untuk membantu memahami dan mengevaluasi bagaimana pengaruh suasana hati dan tekanan ketaatan terhadap keputusan yang akan diambil dikaitkan dengan praktik-praktik yang terjadi sesungguhnya.
TELAAH TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Suasana Hati (Mood)
Robbins et al. (2001) menyatakan bahwa suasana hati merupakan bagian dari afek (affect). Afek merupakan sebuah sebutan umum yang mencakup berbagai perasaan yang dialami oleh individu. Afek merupakan sebuah konsep utama yang di dalamnya mencakup emosi dan suasana hati. Suasana hati lebih bersifat kognitif berbeda dengan emosi yang lebih berorientasi pada tindakan/aksi. Pelled dan Xin (1999) menyatakan bahwa suasana hati dapat bertahan dalam durasi yang panjang dan dapat berubah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain dan suasana hati memiliki kemampuan untuk memengaruhi keputusan.
Berdasarkan kepada penelitian Watson et al. (1988) dinyatakan bahwa terdapat indikator yang dapat mengindikasi apakah individu dalam suasana hati positif atau dalam suasana hati negatif. Indikator suasana hati yang positif adalah perasaan
4
ketertarikan, optimis, bersemangat, tangguh, antusias tinggi, bangga, selalu siap (waspada), inspiratif, memiliki tekad, penuh perhatian dan aktif. Indikator suasana hati negatif adalah depresi, marah, bersalah, kecewa, bermusuhan, takut, menganggap diri sendiri rendah, gugup, dan khawatir. Sedangkan kondisi rata-rata antara suasana hati negatif dan positif diketahui sebagai suasana hati netral (neutral mood) (Chung et al., 2008).
Clore et al. (1994) menyatakan bahwa individu dalam keadaan suasana hati negatif akan cenderung lebih mengingat kembali informasi-informasi yang negatif dari memorinya. Sebaliknya, individu dengan suasana hati positif cenderung lebih mengingat informasi yang lebih positif dari memori mereka.
Tekanan Ketaatan (Obedience Pressure)
Tekanan ketaatan adalah salah satu bentuk dari tekanan sosial dan merupakan kondisi tekanan yang dialami sebagai hasil dari individu yang memiliki otoritas lebih tinggi memerintahkan tindakan yang harus dilakukan oleh individu lainnya (Lord dan DeZoort 2001; Davis et al., 2006). Tekanan ketaatan umumnya muncul dari pihak- pihak yang memiliki kekuasaan. Hartanto dan Kusuma (2001) memberikan bukti dalam risetnya bahwa auditor yang memeroleh tekanan ketaatan dalam bentuk perintah yang tidak tepat akan melakukan tindakan yang menyimpang dari standar profesional yang berlaku.
Teori tekanan ketaatan (obedience theory) yang dikembangkan oleh Milgram (1963) menjelaskan bahwa individu yang menerima tekanan ketaatan akan cenderung mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku, kepercayaan serta pendirian mereka sendiri. Teori ini juga menjelaskan bahwa individu yang mengalami tekanan ketaatan, melepaskan tanggung jawab individual mereka atas keputusan yang telah diambil dan menempatkan penuh tanggung jawab tersebut kepada pihak yang lebih berkuasa atau pihak yang memberikan perintah, karena mereka merasa bahwa keputusan yang diberikan bukan lagi menjadi tanggung jawab individu.
5 Keputusan Etis
Keputusan etis merupakan keputusan yang didasarkan kepada etika yang berlaku. Etika didefinisikan sebagai seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan (Maryani dan Ludigdo 2001). Griffin dan Ebert (2006) menyatakan bahwa etika merupakan dasar mengenai tindakan yang benar dan yang salah atau yang baik dan yang buruk. Jones (1991) mengartikan keputusan etis sebagai keputusan yang dapat diterima baik secara legal dan moral oleh masyarakat luas, sebaliknya adalah keputusan tidak etis. Dalam konteks audit maka keputusan yang diberikan oleh auditor harus sesuai dengan kode etik profesi akuntan publik yang berlaku. Prinsip dasar etika profesi akuntan publik yang harus dipatuhi yaitu prinsip integritas, prinsip objektivitas, prinsip kompetensi dan kehati-hatian profesional, prinsip kerahasiaan serta prinsip perilaku profesional (IAPI 2008)
Penelitian-penelitian terdahulu berkaitan dengan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku etis auditor sudah banyak dilakukan antara lain oleh Lucyanda dan Endro (2012), Ustadi dan Utami (2005), Raharjo (2013), Mueller dan Clarke (1998) dan Hastuti (2007). Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang berperilaku etis maupun tidak etis sekalipun. Oleh karena itu, kode etik yang ada harus lebih dari sekedar prinsip, namun harus ditegakkan agar tujuan praktis tercapai.
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Hubungan Suasana Hati (Mood) dengan Keputusan Etis
Individu dapat mengalami perubahan suasana hati setiap harinya dan dapat memengaruhi kinerja (Seibert dan Ellis 1991). Sama halnya dengan auditor yang dapat mengalami perubahan suasana hati baik karena hal yang berkaitan dengan pekerjaan maupun hal lain diluar pekerjaan. Suasana hati memengaruhi pandangan dan individu terhadap suatu keadaan. Suasana hati positif akan menyebabkan pandangan individu terhadap suatu keadaan lebih baik dan positif dibandingkan dengan suasana hati negatif (Forgas dan George 2001).
Clore dan Huntsinger (2007) dalam risetnya mengungkapkan hal yang senada bahwa suasana hati memengaruhi persepsi subjek kepada sebuah objek (informasi).
6
Objek akan terlihat berdampak tidak menguntungkan, tidak memberikan manfaat dan akan membawa kepada dampak yang merugikan ketika berada dalam suasana hati negatif. Sebaliknya, objek akan terlihat memberikan manfaat, dan memberikan dampak yang baik ketika individu berada dalam suasana hati yang positif. Persepsi tersebut kemudian akan memengaruhi pertimbangan yang dilakukan sampai kepada pengambilan keputusan.
Gaudine dan Thorne (2001) mengembangkan cognitive-affective model yang menjelaskan bahwa suasana hati positif meningkatkan potensi individu untuk lebih mengenali dan menghargai dilema etika yang dihadapi dan kemudian memaknainya dengan cara yang tepat, sehingga dalam pengambilan keputusan akan menghasilkan keputusan yang lebih etis. Riset yang dilakukan George dan Jones (2001) mendukung dengan menunjukkan bahwa suasana hati positif lebih mendukung individu untuk lebih mudah melakukan tindakan membantu rekan kerja, melindungi organisasinya, memberikan saran yang membangun, terlibat dalam kegiatan pengembangan diri serta menyebarkan perbuatan baik.
Pengaruh suasana hati negatif dapat menyebabkan seseorang cenderung untuk fokus hanya kepada diri sendiri dan menekankan kepada dampak yang akan terjadi pada dirinya (Gaudine dan Thorne 2001). Kecenderungan ini, seringkali menyebabkan individu mengambil keputusan yang kurang tepat dan tidak jarang melanggar etika yang berlaku. Berdasarkan riset terdahulu dan argumen yang disampaikan maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Subjek yang bersuasana hati positif akan memiliki keputusan yang lebih etis daripada keputusan subjek yang bersuasana hati negatif.
Hubungan Tekanan Ketaatan (Obedience Pressure) dengan Keputusan Etis
Tekanan ketaatan merupakan bagian dari tekanan sosial yang sering dihadapi oleh auditor dan dapat memengaruhi kinerja. Tekanan ketaatan dapat berasal dari pimpinan maupun dari klien. Auditor dalam menjalankan tugasnya, banyak dihadapkan dengan dilema-dilema etika. Tekanan ketaatan yang diberikan, menambah dilema yang dirasakan auditor dalam menjalankan tugasnya, ditambah dengan konsekuensi yang akan diterima apabila tidak taat pada perintah yang diberikan. Tekanan ketaatan yang
7
diberikan oleh pimpinan maupun klien bisa saja merupakan perintah yang tidak tepat dengan kata lain merupakan perintah yang melanggar kode etik profesional yang berlaku.
Pada keadaan tersebut, memungkinkan auditor untuk berperilaku menyimpang, dengan melanggar etika profesi yang berlaku, sehingga akan berdampak kepada pengambilan keputusan yang kemudian akan berpengaruh kepada opini yang diberikan oleh auditor nantinya. Riset penelitian terdahulu oleh Hartanto dan Kusuma (2001) memberikan bukti bahwa auditor yang mendapatkan perintah tidak tepat baik dari atasan maupun entitas yang diperiksa akan cenderung berperilaku menyimpang dari standar profesional. Nadirsyah dan Malahayati (2007) mengungkapkan bahwa tekanan ketaatan cenderung membuat auditor tidak memiliki keberanian untuk tidak patuh pada perintah yang diberikan, sekalipun perintah yang diberikan menyimpang dari etika profesionalnya. Berdasarkan riset terdahulu dan argumen yang disampaikan maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Keputusan yang dilakukan oleh subjek dalam kondisi tekanan ketaatan rendah lebih etis dibandingkan keputusan subjek dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi.
Interaksi Antara Suasana Hati (Mood), Tekanan Ketaatan (Obedience Pressure), dan Keputusan Etis
Penelitian yang dilakukan DeZoort dan Lord (1994), Nadirsyah dan Malahayati (2007), Jamilah et al., (2007), serta Cahyaningrum dan Utami (2015) menunjukkan hasil bahwa tekanan ketaatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan etis audit. Perintah tidak tepat yang diberikan oleh pihak dengan kekuasaan lebih, cenderung akan memengaruhi perilaku auditor menjadi tidak etis. Sehingga, keputusan yang diberikan bisa menyimpang dari etika yang berlaku. Sebaliknya, auditor yang tidak mendapatkan tekanan ketaatan yang tinggi, dimungkinkan dapat memberikan keputusan yang tidak melanggar etika yang berlaku.
Penelitian yang dilakukan oleh Cianci dan Bierstaker (2009), Curtis (2006), Rokhmania (2013) menunjukkan bahwa suasana hati memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap pengambilan keputusan etis seorang auditor. Keputusan yang
8
dihasilkan oleh auditor yang sedang dalam suasana hati negatif akan menghasilkan keputusan yang kurang etis dikarenakan proses kognitif yang terjadi kurang maksimal.
Sebaliknya, auditor yang sedang dalam suasana hati positif dimungkinkan untuk memberikan keputusan yang lebih etis. Ketika subjek dalam tekanan ketaatan tinggi namun berada dalam suasana hati positif dimungkinkan untuk menghasilkan keputusan yang lebih etis. Sedangkan subjek dalam tekanan ketaatan rendah namun berada dalam suasana hati negatif dimungkinkan untuk menghasilkan keputusan yang kurang etis.
Berdasarkan riset penelitian terdahulu dan argumen yang disampaikan maka dapat disimpulkan sebuah hipotesis yaitu:
H3: Keputusan yang dihasilkan subjek dalam kondisi suasana hati positif dan tekanan ketaatan rendah akan menghasilkan keputusan yang paling etis.
METODA PENELITIAN Rancangan Penelitian
Riset penelitian ini menggunakan desain studi eksperimental 2x2 antar-subjek (between-subject design). Riset penelitian ini menggunakan variabel suasana hati dan tekanan ketaatan sebagai variabel bebas (variabel independen) serta variabel keputusan etis sebagai variabel terikat (variabel dependen). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program S1 Akuntansi yang telah lulus mata kuliah pengantar pengauditan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Subjek diminta untuk berperan sebagai seorang auditor eksternal dalam tatanan simulasi. Mahasiswa yang menjadi partisipan dipilih dengan asumsi bahwa mahasiswa telah mengetahui dan memahami nilai-nilai etika sebagai seorang auditor khusunya yang berhubungan dengan pengambilan keputusan etis.
Pemilihan subjek pada riset eksperimen dapat menggunakan mahasiswa sebagai penyulih (wakil), tidak terbatas hanya pada auditor dengan memperhatikan tingkat tugas yang diberikan karena beberapa penugasan memerlukan keahlian dan pengalaman yang tinggi (Utami dan Nahartyo 2013). Riset Ashton dan Kramer (1980) yang berfokus kepada pengambilan keputusan menemukan bahwa terdapat kesamaan yang besar antara kelompok mahasiswa dan non-mahasiswa dalam pemrosesan informasi dan
9
keputusan yang diberikan. Liyanarachchi (2007) dalam risetnya untuk meneliti kemungkinan menggunakan mahasiswa untuk riset eksperimen akuntansi menunjukkan bahwa mahasiswa memadai untuk menjadi pengganti dalam banyak eksperimen berkaitan dengan pengambilan keputusan dan menjaga perlakuan (treatment) yang diberikan jauh lebih penting daripada mendebat tipe subjek yang digunakan. Adapun matrik penelitian dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Matrik Eksperimen
Tekanan Ketaatan
Rendah Tinggi
Suasana Hati
Positif Grup 1 Grup 2 Negatif Grup 3 Grup 4
Variabel dan Manipulasi
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keputusan etis auditor. Keputusan etis merupakan keputusan yang didasarkan kepada etika yang berlaku. Etika didefinisikan sebagai seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan (Maryani dan Ludigdo 2001). Sedangkan, variabel independen dalam penelitian ini adalah: 1) Suasana hati merupakan bagian dari afek dan afek merupakan sebuah sebutan umum yang mencakup berbagai perasaan yang dialami oleh individu (Robbins et al., 2001); 2) Tekanan ketaatan merupakan kondisi tekanan yang dialami sebagai hasil dari individu yang memiliki otoritas lebih tinggi memerintahkan tindakan yang harus dilakukan oleh individu lainnya (Lord dan DeZoort 2001; Davis et al., 2006).
Perlakuan untuk variabel suasana hati dibagi menjadi dua kelompok yaitu suasana hati positif dan suasana hati negatif. Subjek diminta untuk membaca serangkaian skenario yang menggambarkan dirinya, skenario tersebut dibuat dengan didasarkan kepada “The Velten Mood Induction Statement” yang dikembangkan oleh Emmett Velten di tahun 1968. “Velten Statements for Elation” digunakan untuk skenario suasana hati positif, sedangkan untuk suasana hati negatif menggunakan
“Velten Agitation for Elation”. Perlakuan untuk variabel tekanan ketaatan dibagi dalam dua kelompok yaitu tekanan ketaatan rendah dan tekanan ketaatan tinggi. Manipulasi
10
disajikan dalam bentuk memo dari pimpinan. Memo pimpinan untuk kelompok tekanan ketaatan tinggi mengharuskan subjek untuk patuh pada setiap permintaan klien sekalipun merupakan permintaan yang melanggar kode etik yang berlaku, apabila tidak taat maka konsekuensi kehilangan pekerjaan siap diberikan. Sedangkan, untuk kelompok tekanan ketaatan rendah, tidak diharuskan dan dibebaskan dalam memberikan keputusan.
Tatanan penelitian
Tahap pertama penelitian ini adalah membagi secara random seluruh partisipan ke dalam empat grup sesuai dengan yang disajikan di Tabel 1, yaitu grup 1 (suasana hati positif dan tekanan ketaatan rendah), grup 2 (suasana hati positif dan tekanan ketaatan tinggi), grup 3 (suasana hati negatif dan tekanan ketaatan rendah) dan grup 4 (suasana hati negatif dan tekanan ketaatan tinggi). Berikutnya, penugasan untuk partisipan diberikan dalam bentuk modul sesuai dengan pembagian yang sudah dilakukan sebelumnya. Partisipan diminta untuk berperan sebagai auditor eksternal dari salah satu Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang akan melakukan audit ke PT Orang Muda Tbk di Surabaya.
Pada bagian pertama modul, partisipan diminta untuk mengisi data profil subjek (jenis kelamin, usia, indeks prestasi akademik). Pada bagian berikutnya, dilakukan pre test 1, subjek diminta untuk menjawab 10 pertanyaan dasar dalam bidang pengauditan.
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa dalam setiap kelompok terdapat randomisasi subjek dan untuk memastikan bahwa keputusan yang diberikan hanya karena treatment yang diberikan bukan karena tingkat pemahaman audit subjek. Selanjutnya, diberikan informasi simulasi yang terdiri dari peran yang akan dilakukan oleh subjek, tugas dan kewajiban subjek serta informasi perusahaan klien. Pertanyaan untuk pre test 2 kemudian diberikan kepada subjek, terdiri dari 4 pertanyaan.
Pada tahap manipulasi, perlakuan manipulasi atas suasana hati diberikan dengan menggunakan skenario yang dirancang berdasarkan kepada “The Velten Mood Statement” dan perlakuan manipulasi atas tekanan ketaatan diberikan dalam bentuk tekanan tinggi dan tekanan rendah. Grup dengan tekanan ketaatan tinggi diharuskan untuk taat kepada perintah pimpinan dan apabila tidak taat maka subjek akan kehilangan pekerjaan dengan catatan bahwa kinerjanya buruk. Grup dengan tekanan ketaatan
11
rendah, pimpinan membebaskan dalam pengambilan keputusan dan menyarankan bahwa menerapkan kode etik dan selalu berhati-hati merupakan hal yang penting.
Pengecekan atas perlakuan manipulasi variabel suasana hati dan tekanan ketaatan dilakukan, tujuannya untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan telah efektif sehingga subjek agar subjek bertindak sesuai dengan perlakuan yang diberikan.
Sebagai penugasan subjek perihal keputusan etis, disajikan dalam bentuk kasus.
Subjek berperan sebagai auditor eksternal dari salah satu Kantor Akuntan Publik di Indonesia dan akan bertugas untuk melakukan audit ke salah satu klien bersama rekan lainnya. Perusahaan klien kali ini merupakan perusahaan besar dan salah satu klien pemberi keuntungan untuk Kantor Akuntan Publik tempat subjek bekerja. Selama penugasan audit dilakukan, subjek menemukan fakta bahwa selama 4 tahun, klien melakukan suap ke aparat pajak dengan siasat menerbitkan faktur palsu untuk biaya jasa profesional Kantor Akuntan Publik di tempat subjek bekerja. Sebagai akibat dari tindakan ini, kewajiban pajak dari klien menurun drastis. Orang-orang yang terlibat nantinya akan diberikan keuntungan sebesar 25% dari nilai suap. Subjek kemudian diminta untuk memberikan keputusan, menerima atau menolak untuk terlibat dalam aksi tersebut.
Keputusan dilakukan dengan cara memberikan score pada skala dengan nilai 10- 100, keputusan dengan score semakin mendekati nilai 10 maka keputusan akan semakin etis. Tahap akhir dilakukan sesi taklimat (debriefing), bertujuan untuk mengembalikan subjek ke dalam kondisi semula setelah mendapatkan berbagai manipulasi. Subjek diberikan penjelasan bahwa output dari hasil penyelesaian modul akan dirahasiakan sesuai dengan etika penelitian.
Teknik Analisis
Tahap pertama pada penelitian ini adalah pengujian profil subjek menggunakan statistik deskriptif, dilanjutkan dengan pengujian randomisasi menggunakan One Way Analysis of Variance (One Way ANOVA). Pengujian randomisasi dilakukan untuk memberikan keyakinan bahwa perbedaan karakteristik demografi subjek (jenis kelamin, usia dan indeks prestasi kumulatif) dan pemahaman dalam bidang audit tidak berpengaruh dan hanya manipulasi perlakuan yang akan berpengaruh pada keputusan etis. Selanjutnya, untuk pengujian hipotesis, penelitian ini menggunakan uji
12
Independent-Samples T-Test untuk hipotesis pertama dan hipotesis kedua. Pada hipotesis tiga dilakukan pengujian dengan menggunakan Two Way Analysis of Variance (Two Way ANOVA). Hipotesis akan terdukung jika nilai signifikansi menunjukkan nilai kurang dari 0,05.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Subjek Penelitian
Eksperimen dilakukan pada mahasiswa program S1 Akuntansi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang telah lulus dalam mata kuliah Pengantar Pengauditan. Partisipan keseluruhan berjumlah 93 orang. Empat orang partisipan tidak mengisi kolom profil partisipan yang telah disediakan dengan lengkap, sehingga total hanya 89 orang partisipan yang akan dihitung pada tahap ini dan tahap-tahap berikutnya. Tabel 2 menyajikan profil partisipan secara keluruhan dan rinci.
Tabel 2 Profil Partisipan
Keterangan Total Presentase
Jenis Kelamin:
Laki-laki 28 31,46%
Perempuan 61 68,54%
Usia:
19-20 64 71,91%
21-22 18 20,22%
23-24 7 7,87%
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):
≤2,00 1 1,12%
2,01 – 2,99 17 19,10%
3,00 – 3,49 34 38,20%
≥ 3,50 37 41,58%
Sumber: Data Primer (Diolah)
Pengecekan Manipulasi
Tabel 3 menunjukkan hasil dari pengecekan manipulasi yang telah dilakukan.
Pengecekan manipulasi untuk pemahaman atas tugas dan peran subjek di dalam simulasi digunakan 4 butir pertanyaan, apabila subjek menjawab 3 butir pertanyaan dengan benar maka subjek lolos. Sedangkan, untuk pengecekan manipulasi terhadap
13
treatment suasana hati dan tekanan ketaatan yang telah diberikan, diukur dengan menggunakan skala 10-100 dengan rata-rata 55. Pada treatment suasana hati negatif dan tekanan ketaatan rendah, subjek akan lolos apabila memberikan score dibawah nilai 55 (nilai rata-rata), dan pada treatment suasana hati positif dan tekanan ketaatan tinggi, subjek akan lolos apabila memberikan score diatas nilai 55 (nilai rata-rata).
Tabel 3
Pengecekan Manipulasi
No Keterangan N Hasil Pengecekan
Manipulasi 1 Pemahaman atas tugas dan peran di
dalam simulasi (4 pertanyaan)
89 89
2 Suasana Hati (Mood) 89 86
3 Tekanan Ketaatan 89 85
4 Total partisipan setelah melewati keseluruhan manipulasi yang diberikan
89 82
Sumber: Data Primer (Diolah)
Subjek yang ikut dalam keseluruhan tahap manipulasi ini berjumlah 89 orang.
Berdasarkan pengecekan manipulasi untuk pemahaman atas tugas dan peran subjek di dalam simulasi, 89 orang subjek dinyatakan lolos. Kemudian, untuk pengecekan atas treatment suasana hati, 3 dari 89 orang subjek dinyatakan tidak lolos dan untuk treatment tekanan ketaatan, 4 dari 89 orang subjek dinyatakan tidak lolos. Oleh karena itu, hasil akhir dari pengecekan manipulasi ini ada total 7 orang subjek tidak lolos dan hanya 82 orang subjek yang akan ikut pada tahap pengujian berikutnya.
Uji One Way ANOVA
Pengujian menggunakan One Way ANOVA dilakukan untuk melihat dan memastikan bahwa hasil keputusan etis yang diberikan oleh subjek tidak dipengaruhi oleh faktor demografi dan pemahaman subjek dalam audit.
14 Tabel 4
Hasil Uji One Way ANOVA
Mean Square F Sig. Keterangan
Jenis Kelamin:
Between Groups 212,069 0,404 0,527 Tidak Berpengaruh Within Groups 524,849
Usia:
Between Groups 627,322 1,210 0,304 Tidak Berpengaruh Within Groups 518,296
IPK:
Between Groups 910,065 1,798 0,154 Tidak Berpengaruh Within Groups 506,023
Pemahaman dalam Audit:
Between Groups 651,797 1,263 0,293 Tidak Berpengaruh Within Groups 515,957
Sumber: Output SPSS versi 22
Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan di Tabel 4, hasil menunjukkan bahwa pengujian faktor demografi subjek yang terdiri dari jenis kelamin, usia dan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dan uji pemahaman dalam audit, memiliki nilai significancy (sig.) lebih besar dari alpha (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa keputusan etis yang diberikan oleh subjek hanya disebabkan oleh treatment yang diberikan bukan disebabkan oleh faktor demografi dan pemahaman subjek dalam audit.
Uji Hipotesis 1
Pengujian Hubungan Suasana Hati (Mood) dengan Keputusan Etis
Hipotesis pertama pada riset penelitian ini menyatakan bahwa ketika subjek sedang dalam suasana hati yang positif akan memiliki keputusan yang lebih etis dibandingkan dengan keputusan subjek yang sedang dalam suasana hati negatif.
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan uji Independent Sample T-Test dengan membandingkan hasil keputusan subjek yang menerima perlakuan yang
15
berbeda, yaitu perlakuan suasana hati positif dan perlakuan suasana hati negatif. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5
Hasil Pengujian Hipotesis 1
Mean Std. Devitiation F Sig. (2- tailed) Keputusan Etis
Kondisi Positive Mood 17,07 10,781
32,888 0,000 Kondisi Negative Mood 42,93 24,418
Sumber: Output SPSS versi 22
Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan nilai signifikansi atau sig. (2- tailed) 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05), ini menunjukkan bahwa suasana hati berpengaruh terhadap keputusan etis yang dilakukan oleh subjek. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) keputusan etis yang dilakukan oleh subjek dalam kondisi suasana hati positif adalah sebesar 17,07. Sedangkan nilai rata-rata (mean) keputusan etis subjek dalam kondisi suasana hati negatif adalah sebesar 42,93.
Dalam kasus penelitian ini, keputusan yang diberikan oleh subjek akan semakin etis apabila score yang diberikan semakin kecil atau semakin mendekati nilai 10. Oleh karena itu, berdasarkan perbandingan nilai rata-rata (mean) keputusan etis dua kelompok beda perlakuan, keputusan yang dilakukan oleh subjek yang sedang dalam suasana hati positif lebih etis dibandingkan dengan subjek yang sedang dalam suasana hati negatif.
Subjek ketika mendapatkan informasi dan kemudian diminta untuk memberikan keputusan, dalam kasus ini adalah menerima atau menolak untuk ikut serta dan menutupi tindakan klien yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku. Subjek dengan suasana hati negatif akan cenderung menerima tindakan klien tersebut dengan kata lain mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi yang ada. Hal ini terjadi karena dalam kondisi suasana hati negatif subjek akan melihat dan menilai apapun sebagai sesuatu yang akan berdampak buruk dan tidak akan memberikan manfaat bagi dirinya. Subjek juga cenderung terlalu fokus kepada kepentingan dirinya sendiri dan menghiraukan kepentingan bersama. Subjek berpandangan bahwa bertindak
16
sesuai dengan kode etik sekalipun belum tentu memberikan dampak baik. Suasana hati negatif akan membawa subjek dalam rasa cemas, khawatir yang tinggi dan rasa optimis yang rendah. Curtis (2006) menyatakan bahwa suasana hati negatif menyebabkan individu merasa bahwa kemungkinan terjadinya dampak buruk sebagai akibat dari tindakan yang tidak benar merupakan suatu hal yang tidak penting.
Hasil pengujian hipotesis ini sejalan dengan beberapa riset penelitian terdahulu Cianci dan Bierstaker (2009); Rokhmania (2013) yang memberikan bukti empiris bahwa ketika auditor dihadapkan dengan kasus etika dan diminta untuk memberikan keputusan, auditor dalam suasana hati positif akan memberikan keputusan yang lebih etis. Dengan demikian maka hipotesis pertama terdukung.
Uji Hipotesis 2
Pengujian Hubungan Tekanan Ketaatan dengan Keputusan Etis
Hipotesis kedua pada riset penelitian ini menyatakan bahwa keputusan yang dilakukan oleh subjek dalam kondisi tekanan ketaatan rendah lebih etis dibandingkan keputusan subjek dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan uji Independent Sample T-Test dengan membandingkan hasil keputusan subjek yang menerima perlakuan yang berbeda, yaitu tekanan ketaatan rendah dan tekanan ketaatan tinggi. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6
Hasil Pengujian Hipotesis 2
Mean Std. Devitiation F Sig. (2- tailed) Keputusan Etis
Tekanan Ketaatan Rendah 22,20 15,250
22,600 0,002 Tekanan Ketaatan Tinggi 37,80 26,411
Sumber: Output SPSS versi 22
Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai signifikansi atau sig. (2-tailed) adalah 0,002 lebih kecil dari alpha (0,05), ini dapat diinterpretasikan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh terhadap keputusan etis yang dilakukan oleh subjek. Hasil pengujian
17
menunjukkan nilai rata-rata (mean) keputusan etis yang dilakukan oleh subjek dengan tekanan ketaatan rendah adalah 22,20 dan subjek dengan tekanan ketaatan tinggi mempunya nilai rata-rata sebesar 37,80. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa subjek yang mengalami tekanan ketaatan rendah memiliki keputusan yang lebih etis (dengan nilai rata-rata lebih rendah) dibandingkan dengan subjek yang mengalami tekanan ketaatan tinggi.
Ketika subjek menerima tekanan ketaatan tinggi yang berasal dari pimpinan, subjek diharuskan untuk taat pada setiap perintah yang diberikan, sekalipun perintah yang diberikan bertentangan dengan kode etik profesi yang berlaku. Hal ini cenderung menambah dilema yang dialami oleh subjek, dalam satu sisi subjek paham apabila taat pada perintah yang diberikan maka akan melanggar kode etik yang berlaku, namun di sisi lain akan ada konsekuensi yang akan diberikan oleh pimpinan apabila tidak taat pada perintah yang diberikan. Dalam kondisi seperti ini, subjek cenderung lebih sering tidak memiliki keberanian untuk tidak taat pada perintah yang diberikan karena subjek berada pada level yang lebih rendah atau tidak memiliki kekuasaan. Alasan lain, subjek cenderung tidak ingin dan tidak berani menerima konsekuensi yang nantinya dianggap akan merugikan diri mereka. Selain itu, subjek merasa bahwa tanggung jawab atas keputusan yang diberikan akan menjadi tanggung jawab bersama. Hal-hal tersebut menyebabkan subjek pada akhirnya memberikan keputusan yang tidak sesuai dengan kode etik profesinya.
Penelitian ini sejalan dengan beberapa riset sebelumnya. Riset penelitian Cahyaningrum dan Utami (2015) menunjukkan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap keputusan audit yang dibuat oleh auditor dengan menggunakan studi eksperimental. Auditor yunior yang mendapat tekanan ketaatan tinggi cenderung mengikuti permintaan klien maupun atasan untuk memberikan toleransi salah saji atas penugasan audit dalam perusahaan klien. Sedangkan auditor yunior yang berada dalam kondisi tekanan ketaatan rendah, akan memberikan keputusan audit terhadap klien sesuai dengan fakta dan bukti yang ia temukan tanpa merisaukan ancaman-ancaman yang diberikan apabila bertindak tidak sesuai dengan keinginan mereka.
18
Nadirsyah dan Malahayati (2007) memberikan bukti bahwa tekanan ketaatan yang diberikan oleh atasan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan etis auditor dan jika tekanan ketaatan semakin tinggi cenderung membuat auditor berperilaku menyimpang dari standar profesionalnya. Jamilah et al. (2007) dalam risetnya memberikan bukti bahwa tekanan ketaatan berpengaruh terhadap keputusan yang diberikan dan hanya sedikit auditor yang bisa mengambil risiko untuk mencari pekerjaan lain dan kehilangan klien sebagai dampak yang akan diterima apabila menentang perintah dari atasan maupun klien.
Hasil Pengujian Hipotesis 3
Interaksi antara Suasana Hati, Tekanan Ketaatan dan Keputusan Etis
Pada hipotesis tiga, memprediksi adanya interaksi antara dua variabel bebas yaitu suasana hati dan tekanan ketaatan terhadap keputusan etis oleh auditor. Hipotesis tiga menyatakan bahwa keputusan yang dihasilkan subjek dalam kondisi suasana hati positif dan tekanan ketaatan rendah akan menghasilkan keputusan yang paling etis.
Pengujian hipotesis tiga ini menggunakan uji Two Way ANOVA.
Tabel 7
Hasil Pengujian Hipotesis 3
Mean Std.
Deviation
Mean Square
F Sig.
Mood Positif
Tekanan Rendah 13,00 4,702 Tekanan Tinggi 20,95 13,381
Mood Negatif
Tekanan Rendah 30,95 16,705 Tekanan Tinggi 55,50 25,231
Corrected Model 6841,032 24,616 0,000
Intercept 74254,498 267,190 0,000
Suasana Hati (Mood) 14117,378 50,799 0,000
Tekanan Ketaatan 5410,061 19,467 0,000
Mood*Tekanan Ketaatan
1410,595 5,076 0,027 Sumber: Output SPSS versi 22
19
Tabel 7, menunjukkan bahwa interaksi suasana hati dan tekanan ketaatan (mood*tekanan ketaatan) menunjukkan nilai Sig. 0,027 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara suasana hati, tekanan ketaatan dan keputusan etis.
Berdasarkan nilai rata-rata (mean) keputusan etis setiap kelompok, menunjukkan bahwa kelompok subjek yang menerima tekanan ketaatan rendah dan berada dalam suasana hati positif menghasilkan nilai rata-rata paling rendah dibandingkan dengan kelompok yang lain, artinya bahwa kelompok ini memiliki keputusan yang paling etis.
Subjek ketika menerima tekanan ketaatan rendah akan memiliki keputusan yang lebih etis jika dibandingkan dengan subjek yang menerima tekanan ketaatan tinggi.
Subjek cenderung lebih memiliki keberanian untuk menolak keinginan klien untuk bertindak melanggar kode etik profesi dengan kata lain memberikan keputusan sesuai etika yang berlaku. Pada saat yang bersamaan, subjek yang sedang dalam suasana hati positif memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan rasa untuk mementingkan kepentingan diri sendiri jauh lebih rendah dibandingkan dengan subjek dalam suasana hati negatif. Sedangkan, niat untuk mengungkapkan tindakan tidak etis cenderung kurang dimiliki oleh subjek yang berada dalam suasana hati negatif (Curtis 2006).
Ketika dalam tekanan tinggi, subjek dengan suasana hati positif masih memungkinkan untuk memberikan keputusan lebih etis. Subjek memiliki rasa optimis meskipun dirinya tidak patuh pada perintah yang diberikan karena melanggar etika profesi yang berlaku, semua hal akan tetap berjalan dengan baik dan akan memberikan manfaat dan dampak yang tidak merugikan baik untuk dirinya maupun kepentingan publik, bahkan dengan konsekuensi apapun yang nantinya akan diterima oleh subjek.
SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
Penelitian ini menguji hubungan kausalitas antara suasana hati dan tekanan ketaatan dengan keputusan etis oleh auditor. Simpulan dari penelitian ini bahwa pertama, penelitian ini memberikan bukti bahwa suasana hati berpengaruh terhadap keputusan etis oleh auditor. Keputusan yang dihasilkan oleh auditor yang sedang dalam suasana hati positif akan lebih etis dibandingkan dengan keputusan yang dihasilkan oleh auditor yang sedang dalam suasana hati negatif. Hal ini disebabkan karena perbedaan antara proses kognitif yang terjadi.
20
Kedua, tekanan ketaatan berpengaruh terhadap keputusan etis oleh auditor.
Auditor ketika dihadapkan dengan tekanan ketaatan yang tinggi lebih menghasilkan keputusan yang tidak etis dibandingkan dengan auditor yang dihadapkan dengan tekanan ketaatan rendah. Tekanan ketaatan yang diberikan oleh pihak yang lebih berkuasa dapat merubah perilaku auditor yang mendapat perintah menjadi berperilaku disfungsional. Auditor akan cenderung mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku. Konsekuensi-konsekuensi dan ancaman-ancaman yang diterima semakin mendukung auditor dalam tekanan ketaatan tinggi untuk mengambil keputusan tidak etis.
Ketiga, interaksi antara suasana hati dan tekanan ketaatan berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan etis oleh auditor. Auditor yang sedang dalam suasana hati negatif dan dihadapkan dengan tekanan ketaatan tinggi akan menghasilkan keputusan paling tidak etis. Sedangkan, auditor yang sedang dalam suasana hati positif dan dihadapkan dengan tekanan ketaatan rendah akan menghasilkan keputusan yang paling etis.
Keterbatasan Penelitian dan Saran Penelitian Mendatang
Keterbatasan penelitian ini adalah pelaksanaan eksperimen yang dilakukan dalam waktu yang berbeda sehingga berpotensi untuk terjadi rembesan informasi. Hal ini sudah di minimalisasikan dengan cara memberikan jeda waktu yang tidak terlalu panjang untuk pelaksanaan eksperimen. Pada penelitian berikutnya, ketika pelaksanaan eksperimen akan lebih baik jika dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Pada praktiknya, auditor bekerja secara grup sehingga disarankan penelitian berikutnya diminta untuk mengambil keputusan secara berkelompok. Selain itu, penelitian yang akan datang dapat memasukkan variabel sifat dan karakteristik auditor yang mungkin berpengaruh terhadap keputusan etis.