• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 016/PUU-IV/2006

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NO. 016/PUU-IV/2006"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NO. 016/PUU-IV/2006 PERIHAL

PENGUJIAN UU NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK

PIDANA KORUPSI (KPTPK) TERHADAP UUD 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (I)

J A K A R T A

SELASA, 29 AGUSTUS 2006

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NO. 016/PUU-IV/2006 PERIHAL

PENGUJIAN UU NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (KPTPK) TERHADAP UUD 1945

PEMOHON

Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin, dkk ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Selasa, 29 Agustus 2006 Pukul 10.45 WIB

Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 7, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H. K e t u a

2) H. ACHMAD ROESTANDI, S.H. Anggota

3) MARUARAR SIAHAAN, S.H. Anggota Sunardi, S.H. Panitera Pengganti

(3)

HADIR:

Pemohon :

1. Dr. Khusnul Mariyah.

2.

Kuasa Hukum Pemohon :

1. Januardi. S. Hariwibowo, S.H.

2. bayu Prasetio, S.H., M.H.

3. Dendy. K. Amudi, S.H.

(4)

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.45 WIB

1. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

Selamat pagi Saudara-saudara sidang Pemeriksaan Pendahuluan, Sidang Panel Pendahuluan untuk permohonan No. 016/PUU-IV/2006 dalam rangka pengujiaan Undang-undang N0. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Kepada Saudara Pemohon atau Kuasa Pemohon sebelum nanti saya persilakan Saudara untuk menyampaikan pokok-pokok permohonan Saudara atau membaca permohonan Saudara saya persilakan dulu memperkenalkan diri siapa saja yang hadir pada persidangan ini, silakan.

KETUK PALU 1X

2. KUASA HUKUM PEMOHON : JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Assalamualaikum, wr.wb Terima kasih yang Mulia.

Kami di sini hadir mewakili dari para Pemohon yaitu mereka adalah para pengurus-pengurus di KPU antara lain Prof. Dr Nazaruddin Syamsudin kemudiaan Prof. Dr Ramlan Surbakti MA kemudian Prof. Dr Rushadi Kantaprawira, Drs. Daan Dimara MA, Dr. Khusnul Mariyah, Dr.

Valina Singkah Subekti MA, Safder Yusak S.Sos. M.si, Drs. Hamdani Amin M.Sos, Asc. kemudian Drs. R Bambang Budiarto M.si. Kami sendiri adalah tim dari beberapa kantor saya Januardi Suryo Hariwibowo S.H bersama rekan-rekan saya dari Pak Bayu S.H, MH. dan juga Bapak Dendi K Amudi. Bersama kami juga kebetulan hadir prinsipal salah satunya adalah Ibu Khusnul Mariyah.

Demikian yang Mulia

3. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

Baik, Saudara pemohon atau Kuasa Pemohon sebagaimana biasanya dalam persidangan pemeriksaan pendahuluan, ini saya akan persilakan terlebih dahulu kepada Saudara Pemohon untuk menyampaikan permohonan Saudara untuk membacakan permohonan Saudara dalam persidangan ini sebagaimana diketahui dalam persidangan pendahuluan itu kan tiga hal harus jelas dulu itu tentang kewenangan mahkamah ini kemudian tentang kedudukan hukum

(5)

Saudara atau legal standing Saudara di dalamnya termasuk kepentingan Saudara dengan permohonan atau materi permohonan yang hendak Saudara ajukan dan yang ketiga tentang pokok permohonan itu sendiri.

Nah, itu yang perlu disampaikan pada kesempatan ini.

Saya persilakan kepada Saudara

4. KUASA HUKUM PEMOHON : JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Sebelum

5. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

Maksud saya mungkin pokok-pokoknya dulu dan terserah nanti yang mana menurut Saudara perlu di elaborasi barangkali silakan itu, ya mungkin tidak semuanya ya? ya

6. KUASA HUKUM PEMOHON : JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Baik, terima kasih yang Mulia.

Mungkin untuk mempersingkat dan mempermudah hanya kami bacakan yang pokok-pokok pikiran saja dan pasal-pasal mana yang kami mintakan untuk dilakukan uji materil ke Mahkamah Konstitusi ini.

Pertama permohonan ini adalah tertanggal 3 Agustus yang Mulia.

Kemudian seperti yang kami sebutkan tadi bahwa tim kami terdiri dari Bapak Muhammad Assegaf beliau berhalangan hadir, kemudian juga saya sendiri Januardi S Hariwibowo, kemudian ada Bapak B.L.

Noormandiri, S.H., yang berhalangan juga, Djoko Budihardjo, S.H., juga berhalangan kemudian Bapak Dendi K Amudi S.H ada di sebelah kanan saya dan Bapak Bayu Prasetiyo S.H, M.H ada di sebelah kiri. Kami memilih domisili semua di kantor Bapak Muhammad Assegaf di jalan H.

Samali No. 29 Jakarta selatan dan pihak-pihak yang kami wakili adalah seperti yang sudah kami bacakan terlebih dahulu tadi dari mulai Bapak Dr. Narazuddin Syamsudin sampai kepada Drs R Bambang Budiarto M.si.

Jadi inti dari atau pokok-pokok dari pengajuan Judicial Reveiw adalah berkenaan dengan materi muatan dalam Undang-undang No 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau kita sebut selanjutnya Undang-undang KPK yaitu Pasal 1 angka 3, Pasal 11 huruf b, Pasal 12 ayat (1) huruf a, Pasal 40, dan Pasal 53 Undang- undang Nomor 30 Tahun 2002. Kemudian dasar kami mengajukan ke Mahkamah Konstitusi adalah berdasarkan kewenangan dari Mahkamah Konstitusi ini sendiri. Berdasarkan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan :

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan

(6)

lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.”

Kemudian diatur juga lebih lanjut dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut “UU MK”) yang berbunyi:

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:

(a)menguji Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

(b) .….dst.”

Bahwa oleh karena objek permohonan pengujian materiil ini adalah materi muatan dalam Pasal 1 angka 3, Pasal 11 huruf b, Pasal 12 ayat (1) huruf a, Pasal 40, dan Pasal 53 UU KPK terhadap UUD 1945, maka berdasarkan landasan hukum dan hal-hal tersebut di atas, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berwenang untuk melakukan pengujian materiil tersebut.

II. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON

1. Bahwa sesuai ketentuan Pasal 51 ayat (1) UU MK jo. Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dengan Nomor Putusan 006/PUU-III/2005, Pemohon adalah perorangan Warga Negara Indonesia yakni kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu yang menganggap hak konstitusionalnya yang diberikan/dijamin oleh UUD 1945 telah dirugikan oleh berlakunya ayat, pasal dan/atau bagian dalam UU KPK yang dimohonkan pengujian materiil atau setidak-tidaknya bersifat potensial akan dirugikan yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. Hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945 yang telah dirugikan dengan berlakunya UU KPK tersebut, yaitu:

a. Hak Pemohon untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif atas dasar apapun dan untuk mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif tersebut, yaitu:

Mengenai uraiannya tidak perlu kami bacakan lebih lanjut yang Mulia. Karena di sini menyangkut pribadi-pribadi langsung para Pemohon, mengenai peristiwa-peristiwa yang mereka alami semenjak mulai dari penyelidikan, penyidikan hingga pemeriksaan di tingkat Pengadilan Tipikor.

(7)

Penjelasan dari hak Pemohon untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif, itu adalah :

Dengan demikian, Pemohon dihadapkan pada situasi tidak bisa memilih atas adanya dua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur tentang hal yang sama.

Kemudian yang b adalah :

b. Hak Pemohon atas perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, yaitu:

Ini juga penjelasannya cukup panjang, namun akan kami baca dengan ringkas.

2. Bahwa dengan Pasal 53 UU KPK dibentuk Pengadilan Tipikor yang bertugas dan berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh KPK. Dikaitkan dengan bagian Menimbang huruf c UU KPK serta ketentuan Pasal 1 angka 3 UU KPK, dimana pemberantasan tindak pidana korupsi yang merupakan tugas dan wewenang KPK adalah serangkaian tindakan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, maka Pemohon yang awalnya disidik dan ditetapkan sebagai Tersangka oleh KPK, dan dengan ketentuan Pasal 40 UU KPK, KPK dinyatakan tidak berwenang menghentikan penyidikan dan penuntutan, otomatis sudah langsung menjadi Terdakwa meskipun pada dasarnya tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa yang disangkakan kepada Pemohon sebenarnya bukan suatu tindak pidana korupsi. Dan setelah otomatis menjadi Terdakwa, maka Pemohon juga otomatis akan langsung menjadi Terpidana.

III. ALASAN PERMOHONAN PENGUJIAN MATERIIL

MATERI MUATAN UU KPK YANG DIAJUKAN PENGUJIAN MATERIIL

Bahwa materi muatan dari ayat dan pasal dari UU KPK yang diajukan untuk pengujian materiil yaitu masing-masing:

Pasal 1 angka 3, yang selengkapnya berbunyi:

“Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

(8)

Pasal 11 huruf b, yang selengkapnya berbunyi:

“Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang:

a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;

b. mendapatkan perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau

c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 12 ayat (1) huruf a, yang selengkapnya berbunyi:

”(1) Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:

a. melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;

b. ………”

Pasal 40, yang selengkapnya berbunyi:

“Komisi Pemberantasan Korupsi tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi.”

Pasal 53, yang selengkapnya berbunyi:

“Dengan Undang-undang ini dibentuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.”

HAK-HAK KONSTITUSIONAL PEMOHON DALAM AYAT, PASAL DAN/ATAU BAGIAN UUD 1945 YANG DIANGGAP DIRUGIKAN

Pasal 1 ayat (3), yang selengkapnya berbunyi:

“Negara Indonesia adalah negara hukum.”

Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2), yang selengkapnya berbunyi:

(1) “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan” (2) “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan

badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”

Pasal 27 ayat (1), yang selengkapnya berbunyi:

(9)

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”

Pasal 28D ayat (1), yang selengkapnya berbunyi:

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”

Pasal 28G ayat (1), yang selengkapnya berbunyi:

“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.” Pasal 28I ayat (2), yang selengkapnya berbunyi:

“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”

MATERI MUATAN UU KPK YANG BERTENTANGAN DENGAN UUD 1945 A. Pasal 1 angka 3 dikaitkan dengan Pasal 53 UU KPK Melanggar Prinsip

Kemandirian dan Kemerdekaaan Kekuasaan Kehakiman serta Menimbulkan Ketidakpastian Hukum dan Ketidakadilan, sehingga bertentangan dengan Pasal 24 ayat (1) dan (2), dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

1. Bahwa UU KPK diterbitkan dalam rangka pelaksanaan / penegakan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang- undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut “UU Korupsi”). Dimana Undang-undang ini hanya memerintahkan pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak pidana Korupsi / KPK, tetapi tidak mengamanatkan atau memerintahkan untuk membentuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi / Pengadilan Tipikor.

2. Bahwa sebagaimana bagian Menimbang huruf a, b, dan c dari UU KPK, disebutkan bahwa:

a. Bahwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi sampai sekarang belum dapat dilaksanakan secara optimal. Oleh karena

(10)

itu pemberantasan tindak pidana korupsi perlu ditingkatkan secara profesional, intensif dan berkesinambungan karena korupsi telah merugikan keuangan negara, perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional;

b. Bahwa lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberantas tindak pidana korupsi;

c. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 43 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, perlu dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang independen dengan tugas dan wewenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.

3. Bahwa ketentuan dalam Pasal 1 ayat (3) UU KPK, yang menjelaskan bahwa pemberantasan tindak pidana korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Bahwa dengan adanya ketentuan Pasal 1 angka 3 dan dihubungkan dengan Pasal 53 UU KPK yang mengatur secara khusus tentang pembentukan Pengadilan Tipikor, maka kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif telah dicampuradukkan dan digabungkan ke dalam satu lembaga negara yakni KPK.

5. Bahwa sebagai bagian dari kekuasaan kehakiman maka suatu lembaga pengadilan, harus merupakan kekuasaan yang merdeka dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan. Akan tetapi dengan pembentukan Pengadilan Tipikor berdasarkan UU KPK, telah memberikan makna tidak independennya pengadilan ini, dan hal ini juga bertentangan dengan asas imparsialitas dari lembaga peradilan.

6. Bahwa berdasarkan Ketentuan Pasal 53 UU KPK tersebut, maka Pengadilan Tipikor adalah satu kesatuan atau lebih tepatnya merupakan bagian dari KPK. Terlebih lagi Pasal 53 UU KPK, secara jelas menegaskan bahwa Pengadilan Tipikor hanya berwenang memeriksa dan memutus perkara tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh KPK. Dengan kata lain, Pengadilan Tipikor tidak berwenang untuk mengadili perkara tindak pidana korupsi yang penuntutannya dilakukan oleh lembaga lain selain KPK. Berarti jelas bahwa Pengadilan

(11)

Tipikor dibentuk hanya untuk kepentingan KPK, bukan untuk kepentingan pemberantasan korupsi secara luas/umum.

7. Bila dicermati dan secara faktanya, seluruh badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung baik itu di lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, maupun lingkungan peradilan tata usaha negara, semuanya diatur secara khusus dalam suatu undang-undang atau aturan hukum yang terpisah dari ketentuan yang mengatur tentang suatu lembaga negara tertentu, seperti:

- Pengadilan Umum yang diatur dengan Undang-undang Nomor 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 8 tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum;

- Mahkamah Agung yang diatur dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 2004 tentang Perubahan Undang- undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;

- Pengadilan Agama yang diatur dengan Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 tentang Perubahan Undang- undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;

- Pengadilan Militer yang diatur dengan Undang-undang Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer;

- Pengadilan Tata Usaha Negara yang diatur dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 9 tahun 2004 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

- Pengadilan Pajak yang diatur dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.

Demikian juga dengan pengadilan-pengadilan khusus di dalam lingkungan peradilan umum seperti:

- Pengadilan Hak Asasi Manusia yang diatur dengan Undang-undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia;

- Pengadilan Niaga yang dibetuk dan/atau diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi undang-undang berdasarkan Undang-undang Nomor 4 tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan menjadi Undang-undang,

(12)

dan yang telah dicabut dan digantikan dengan Undang-undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;

- Pengadilan Anak yang diatur dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak;

- Pengadilan Hubungan Industrial yang diatur dengan Undang-undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial;

- Pengadilan Perikanan yang diatur dengan Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

8. Dengan pembentukan dan pengaturan Pengadilan Tipikor di dalam UU KPK bersama dengan pembentukan dan pengaturan lembaga KPK, maka pasti akan menimbulkan banyak permasalahan sehubungan dengan independensi dan kemerdekaannya dalam memeriksa dan memutuskan perkara. Sehingga dapat dipastikan bahwa pengadilan ini tidak akan dapat memeriksa dan memutus perkara secara adil, atau dengan kata lain tidak akan dapat bertindak sebagai suatu lembaga pengadilan tetapi hanya sebagai suatu lembaga penghukuman, yang melakukan apa yang diminta atau diperintahkan oleh KPK. Dan pada akhirnya yang terjadi adalah setiap orang yang telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh KPK dan otomatis sudah menjadi terdakwa di Pengadilan Tipikor sebagaimana telah diuraikan di atas, juga berarti secara otomatis menjadi terpidana.

- Bahwa selain itu, ketentuan Pasal 1 angka 3 dan Pasal 53 UU KPK tersebut juga telah melanggar hak warga negara atas jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil sebagaimana diatur dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Hal ini karena proses pemeriksaan dan/atau penanganan perkara oleh KPK dan/atau Pengadilan Tipikor tidak memberikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil terhadap diri Pemohon, yang berbeda dibandingkan dengan warga negara lain yang perkara tindak pidana korupsinya ditangani oleh Kepolisian dan/atau Kejaksaan serta lembaga peradilan lain selain Pengadilan

B. Pasal 40 UU KPK Melanggar Prinsip Persamaan di Muka Hukum dan Kepastian Hukum, serta Bersifat Diskriminatif, Sehingga Bertentangan Dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945.

Mohon maaf yang Mulia bisa dilanjutkan oleh rekan kami, Dengan Pak Dendi.

(13)

7. KUASA HUKUM PEMOHON : DENDY. K. AMUDI, S.H., M.H Terima kasih yang Mulia.

Kami lanjutkan.

1. Bahwa berdasarkan Pasal 40 UU KPK, KPK dinyatakan tidak berwenang untuk mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan penuntutan. Artinya bahwa seseorang yang disidik atau diperiksa sebagai tersangka oleh KPK, otomatis juga sudah menjadi Terdakwa. Hal ini berbeda bagi tersangka perkara tindak pidana korupsi yang penanganan perkaranya dilakukan oleh Kepolisian atau Kejaksaan.

Sehingga, ketentuan ini jelas-jelas telah mencabut dan melanggar hak- hak asasi seorang warga negara atas kedudukan dan perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagaimana diberikan dan dijamin oleh konstitusi, yaitu dalam Pasal 27 ayat (1) serta Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

2. Bahwa di samping itu, sejak berlakunya Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, lembaga Kejaksaan diberi wewenang untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi selain wewenang yang dimiliki sebelumnya yaitu hanya melakukan penuntutan (sebagai Penuntut Umum), sebagaimana ditetapkan dalam KUHAP. Dimana sebelumnya, kewenangan Kejaksaan sebagai penyidik, merupakan kewenangan sementara yang diatur dalam Pasal 284 ayat (2) KUHAP (Ketentuan Peralihan) jo. Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP. Sehingga proses penegakan hukum terhadap seorang Warga Negara Indonesia, dapat dilakukan oleh tiga lembaga, yaitu: Kepolisian, Kejaksaaan dan KPK. Namun demikian ketentuan mengenai hukum acaranya berbeda-beda, yaitu untuk Kepolisian dan Kejaksaan menggunakan hukum acara sebagaimana diatur dalam KUHAP dan UU Korupsi, sedangkan untuk KPK, di samping menggunakan hukum acara sebagaimana diatur dalam KUHAP dan UU Korupsi, juga menggunakan UU KPK sebagai ketentuan khusus (lex specialis), sebagaimana disebutkan dalam Bagian Penjelasan Umum UU KPK. Sehingga ketentuan ini jelas sangat diskriminatif.

3. Bahwa dari konfigurasi peraturan perundang-undangan sedemikian tersebut di atas, maka seorang Warga Negara Indonesia dapat diperlakukan dengan menggunakan hukum yang berbeda, walaupun perbuatannya sama, yakni Tindak Pidana Korupsi. Seseorang yang didakwa melakukan Tindak Pidana Korupsi dan perkaranya ditangani oleh KPK, akan berbeda penanganan perkaranya dengan mereka yang ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan.

4. Bahwa pembedaan yang dilakukan tersebut telah memiliki kondisi yang sangat diskriminatif, yang nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan

(14)

dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) sebagaimana tersebut diatas.

5. Bahwa lebih jauh lagi, efek atau akibat dari berbagai pertentangan antara UU KPK dalam hubungannya dengan keberadaan peraturan perundang-undangan yang lainnya khususnya KUHAP adalah secara nyata telah mengakibatkan terjadinya ketidakpastian hukum. Karena UU KPK sebagai peraturan yang bersifat khusus (lex specialis) ternyata dalam banyak hal tidak sejalan dengan ketentuan KUHAP yang masih tetap berlaku, khususnya untuk perkara tindak pidana korupsi yang penanganannya dilakukan oleh Kepolisian dan Kejaksaan, bukan KPK, yang pada akhirnya menimbulkan perlakuan yang bersifat sangat diskriminatif atas diri Pemohon.

6. Pelanggaran terhadap prinsip persamaan di muka hukum dan kepastian hukum, serta perlakuan yang diskriminatif secara nyata dan jelas dialami oleh Pemohon atas nama Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, namun kami tidak bacakan.

C. Pasal 12 ayat (1) huruf a UU KPK Melanggar Hak Warga Negara atas Rasa Aman dan Jaminan Perlindungan dan Kepastian Hukum, Sehingga Bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.

1. Hak setiap Warga Negara atas rasa aman adalah merupakan conditio sine qua non bagi terciptanya perlindungan hukum terhadap setiap warga negara. Keberadaan KPK yang diberi kewenangan untuk melakukan penyadapan sangat jelas melanggar hak warga negara dari rasa aman untuk berkomunikasi.

2. Hal ini dikarenakan selain belum adanya undang - undang yang mengatur penyadapan, penyadapan terhadap warga negara berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kekuasaan dan mempunyai kepentingan tersendiri (vested interest). Sehingga dengan demikian sangat rentan terjadi abuse of power terhadap warga negara yang belum terbukti atau bahkan belum diduga terlibat tindak pidana korupsi sudah dilakukan penyadapan oleh aparat pemerintah in casu KPK yang seharusnya bertindak berdasarkan aturan hukum.

3. Selain itu proses penyadapan yang tanpa ada aturan tersebut jelas-jelas melanggar prinsip praduga tidak bersalah (presumption of innocent) yang merupakan prinsip utama dalam penegakan hukum.

4. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, Biro Investigasi Federal (FBI)

(15)

penyidikan terhadap adanya dugaan perbuatan kriminal diwajibkan untuk meminta izin kepada pengadilan federal (Federal District Court) dengan dasar yang kuat karena di Amerika Serikat penyadapan tanpa izin adalah merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

5. Bahwa ketiadaan aturan hukum yang mengatur mengenai penyadapan ini sehingga dapat mencegah pelanggaran HAM haruslah menjadi titik tolak untuk menghapuskan kewenangan KPK melakukan penyadapan.

6. Bahwa dengan adanya ketentuan Pasal 12 ayat (1) UU KPK yang memberikan wewenang kepada KPK untuk melakukan penyadapan dan perekaman pembicaraan dalam rangka melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, maka secara nyata hal tersebut telah menimbulkan kekhawatiran dan bahkan ketakutan serta perasaan tidak aman pada diri Pemohon, yang terus menerus dihantui dan dibayang-bayangi oleh perasaan takut dan kekhawatiran bahwa segala hal yang dia ucapkan dan lakukan sedang dalam penyadapan dan perekaman oleh KPK. Akibatnya bukan saja Pemohon menjadi merasa tidak aman dan terus menerus merasa khawatir, tetapi juga menjadi takut untuk melakukan sesuatu maupun untuk tidak melakukan sesuatu, yang akhirnya menyebabkan tidak maksimalnya kinerja Pemohon dalam melakukan segala aktivitas, pekerjaan, tugas serta tanggungjawab yang dibebankan kepadanya.

D. Pasal 11 huruf b UU KPK Menimbulkan Ketidakpastian Hukum dan Ketidakadilan, Sehingga bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

1. Pasal 11 huruf b UU KPK yang menyatakan pada pokoknya bahwa KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi yang mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat.

Permasalahannya adalah apa yang menjadi ukuran suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai yang meresahkan masyarakat? Apakah hanya sekedar bahwa telah terjadi sebuah diskursus yang menghangat di masyarakat oleh karenanya cukup alasan untuk melakukan penyelidikan atau bahkan penuntutan korupsi ? Adalah sangat sumir jika sesuatu yang tidak ada tolak ukurnya kemudian serta merta dijadikan bahan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan oleh KPK.

2. Ukuran kejelasan untuk dilakukannya penyelidikan, penyidikan dan penuntutan haruslah disandingkan dengan asas kepastian hukum dan keadilan bagi setiap warga negara, sehingga dengan demikian setiap perbuatan yang dilakukan oleh aparat pemerintah dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

(16)

3. Oleh karena itu sudah seharusnya KPK dalam melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan berdasarkan pada sebuah aturan hukum yang jelas dan transparan.

4. Bahwa ketidakpastian dan ketidakadilan yang diakibatkan oleh ketentuan Pasal 11 huruf b, secara nyata terlihat dari kenyataan antara lain, KPK dengan sengaja membocorkan informasi kepada wartawan / pers dari berbagai media massa secara tendensius mengenai segala hal atas diri Pemohon yang dipersangkakan atau bahkan yang sedang diselidiki oleh KPK, dimana pers kemudian memberitakannya secara besar-besaran dan secara tidak proporsional sehingga merusak dan menghancurkan citra dan karakter dari Pemohon, yang memang telah menjadi orang-orang yang begitu dikenal dan disorot oleh masyarakat luas sejak dimulainya proses pemilihan umum di era reformasi, apalagi dengan adanya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta anggota Dewan Perwakilan Daerah secara langsung yang merupakan sesuatu hal yang pertama kali dilaksanakan dan terjadi dalam sejarah perpolitikan nasional sejak merdeka atau berdirinya negara ini. Bahkan secara sistematik KPK telah melakukan pembentukan opini di masyarakat luas dengan cara memberikan/menyampaikan pernyataan-pernyataan atau pendapat- pendapat baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa Pemohon adalah orang-orang yang telah menimbulkan kerugian besar pada keuangan negara sehingga sudah seharusnya dihukum seberat-beratnya, walaupun dasar dari pernyataan dan pendapat tersebut hanya didasarkan informasi dan bukti-bukti yang sangat sumir dan lemah untuk dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga jelas bahwa ukuran atau parameter dari ketentuan Pasal 11 huruf b UU KPK yang menyatakan

“mendapatkan perhatian yang meresahkan masyarakat” adalah sangat tidak jelas dan mudah untuk diciptakan / disalahgunakan oleh setiap pihak yang kebetulan mempunyai kekuasaan untuk itu, dan hal ini berakibat pada tidak adanya perlindungan dan kepastian hukum yang adil bagi Pemohon sebagaimana dijamin oleh UUD 1945.

Dilanjutkan oleh rekan kami.

8. KUASA HUKUM PEMOHON : JANUARDI. S. HARIWIBOWO.

Terima kasih.

IV. PERMOHONAN

Berdasarkan dalil-dalil dan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, jelas bahwa materi muatan Pasal 1 angka 3, Pasal 11 huruf b, Pasal 12 ayat (1) huruf a, Pasal 40, dan Pasal 53 Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 24 ayat (1) dan

(17)

28I ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, dan karena itu Pemohon memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berkenan memeriksa dan memutuskan permohonan pengujian materiil Pemohon sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan Pemohon seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa materi muatan Pasal 1 angka 3, Pasal 11 huruf b, Pasal 12 ayat (1) huruf a, Pasal 40, Pasal 53, dan Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G ayat (1), dan Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945;

3. Menyatakan bahwa materi muatan Pasal 1 angka 3, Pasal 11 huruf b, Pasal 12 ayat (1) huruf a, Pasal 40, dan Pasal 53 Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya.

Apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)

Hormat kami, Kuasa Pemohon,

Baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama,

Mohamad Assegaf, S.H Januardi S. Haribowo, S.H. Bayu Prasetio, S.H., M.H.

9. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H Terima kasih Saudara Pemohon.

Kalau dilihat ini nampaknya memang sudah cukup jelas apa yang Saudara mohon pada Mahkamah ini. Tapi sesuai dengan ketentuan Undang-undang MK Pasal 39 ayat (2) bahwa Panel Hakim ini diwajibkan untuk memberikan nasihat kepada Pemohon sehubungan dengan permohonan Saudara.

Sebelum saya menggunakan kesempatan, saya akan memberikan kesempatan kepada Hakim anggota panel barangkali akan

(18)

menyampaikan beberapa saran atau klarifikasi barangkali terhadap permohonan Saudara.

Silakan Bapak Hakim yang berhormat, Bapak Siahaan.

10. HAKIM : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Terima kasih.

Saudara Pemohon, ada beberapa hal yang mungkin memerlukan perhatian, mungkin nanti Saudara bisa mempertimbangkannya sendiri apakah relevan untuk dipikirkan.

Yang pertama bahwa memang dalam ketentuan UU MK bahwa ketentuan, bagian atau pasal-pasal dari undang-undang yang sudah pernah diuji tidak boleh lagi diajukan untuk diuji, itu barangkali Pasal 60 UU MK dan dalam matrik yang tersusun oleh kita itu ada beberapa pasal yang sudah pernah diuji, yaitu misalnya yang Saudara sebutkan tadi mengenal Pasal 12 ayat (1) huruf a. Kemudian Pasal 40. Kalau berdasarkan Pasal 60 jelas posisi MK telah ada di situ kecuali Saudara bisa membuktikan bahwa alasan konstitusionalitas yang diajukan oleh permohonan terdahulu beda dengan alasan konstitusionalitas yang Saudara ajukan sekarang ini. Jadi kemungkinan ini perlu ditambahkan lagi kan, barangkali tadi ada permohonan yang mirip juga dengan ini bahwa kemudian dia ditarik tapi ada beberapa yang menurut Pemohon itu bahwa alasannya berbeda. Oleh karena itu Saudara pertimbangkan juga itu nanti, kalau Saudara memerlukan matrik itu mungkin agak, sebenarnya bisa dilihat di web site kita tapi kadang-kadang untuk membaca semua itu agak repot, tapi matrik itu ada pada Kepaniteraan.

Baru Saudara tinggal mempertimbangkan apakah pertimbangan atau alasan yang diajukan itu agak berbeda dengan yang diajukan.

Yang kedua yang menarik perhatian saya tentunya ada beberapa hal yang mungkin nanti Saudara menaruh suatu perbedaan posisi atau argumen dengan alasan yagn diajukan Pemohon yang terdahulu dan pertimbangan MK mengenai Pasal 40 yaitu mengenai tidak bolehnya dilakukan SP-3. Tetapi menjadi pertanyaan saya kalau SP3 itu masih dalam tahap penyidikan dan proses kearah penuntutan beberapa Pemohon ini sudah diputus oleh pengadilan, bahkan kalau boleh mungkin sudah berkekuatan dengan putusan MA. Apakah di dalam penjelasan Saudara mengenai legal standing ini Saudara pertimbangkan untuk dipisahkan juga standing Pemohon yang ini berbeda dengan standing Pemohon yang ada sekarang. Dengan mengukur dalam jurisprudensi MK yaitu putusan-putusan terdahulu menyangkut legal standing itu yang sudara bisa periksa juga nanti untuk bisa meletakkan secara proporsional, meskipun tentunya tidak mengurangi bahwa Pemohon yang lain memiliki suatu constitutional right yang mungkin bisa didalilkan mengenai itu, tapi Saudara bisa memberikan suatu pembedaan tentunya. Dari saya hanya itu saja yang terlihat. Dengan hal-

(19)

nanti dipertimbangkan oleh MK setelah mendengar DPR dan Pemerintah.

Tetapi untuk pendahuluan ini hanya itu yang merupakan perhatian saya.

Terima kasih.

11. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

Saudara Pemohon, itu tadi mohon dicatat dengan baik.

Sekiranya Saudara memang mengajukan alasan konstitusionalitas yang betul-betul berbeda, bukan sekedar berbeda redaksional maksud saya betul-betul berbeda, tentu memang boleh untuk mengajukan itu sesuai dengan Peraturan MK yang berlaku dalam kaitannya dengan Pasal 60 dari UU No. 24 Tahun 2003. Tapi mohon perbedaan memang jelas ditunjukkan dalam permohonan Saudara . Sebab kalau tidak MK akan terikat pada ketentuan Pasal 60 itu, kita sudah mempunyai sikap mengenai soal itu.

Kemudian saran saya yang kedua, adalah begini, betul Saudara mengutip Pasal 51 ayat (1) dari UU MK tentang kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama, itu betul. Sama dalam hal ini karena barangkali kebetulan beliau-beliau yang menjadi Pemohon pada permohonan ini adalah kalau tidak anggota KPU termasuk juga di dalamnya staf dari KPU. Dari sudut pandang itu memang sama kepentingannya, tapi ada perbedaan pula. Perbedaan pertama tadi sudah disampaikan oleh Pak Maruarar yaitu bahwa diantara para Pemohon ini ada yang status hukumnya sudah berbeda sekarang, ada yang sudah terpidana barangkali saya tidak tahu persis apakah sudah ada yang memiliki kekuatan hukum tetap atau bagaimana, mungkin sudah ya, itu tentu akan mempengaruhi. Mempengaruhinya apa?

Mempengaruhi ketika Saudara hendak memberikan argumentasi tentang hak konstitusionalitas yagn dirugikan, di situ perbedaannya.

Karena dari Pasal 51 ayat (1) itu yang menyatakan bahwa Pemohon adalah pihak yang hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, itu kan ada dua hal yang bisa ditarik dari situ. Pertama Saudara harus menjelaskan kualifikasi pemohon itu, apakah perorangan, lembaga negara, badan hukum, kesatuan masyarakat hukum adat, lembaga negara atau sebagainya. Itu harus tegas dulu. Kemudian dalam kualifikasi sebagai itu entah sebagai perorangan, lembaga negara atau satuan masyarakat hukum adat, apa lalu hak-hak yang dimiliki, yang kemudian dilanggar atau dirugikan oleh berlakunya undang-undang ini, itu yang harus jelas. Di sinilah ada perbedaan lantas antara kedua hal ini, nah itu yang tadi juga disampaikan oleh Bapak hakim anggota Bapak Maruarar Siahaan berkaitan dengan Pasal 40 misalnya tentu itu akan berakibat pada legal standing dari para Pemohon ini, karena apakah masih relevan alasan yang Saudara bacakan tadi terhadap Pemohon yang sudah dinyatakan bersalah melalui putusan pengadilan, terlepas dari persoalan apa putusan itu misalnya Saudara anggap adil atau tidak, tetapi yang jelas

(20)

ada putusan yang menyatakan itu bersalah sehingga menjadi relevant kan dia dalam kaitan itu, itu yang dimaksud tadi. Ini mohon dijelaskan di dalam permohonan secara lebih tegas. Saya juga hendak memberikan satu catatan kembali bahwa di sini ada tiga Pemohon lain yang barangkali perlu diperlukan tambahan penjelasan walaupun Saudara di sini tampaknya sudah berusaha juga menjelaskan misalnya ketidaktenangan bekerja dan sebagainya karena dibayang-bayangi oleh kemungkinan untuk tiba-tiba disidik begitu umpamanya ya, tapi mungkin Saudara di sini mengacu kepada putusan-putusan Mahkamah Konstitusi yang mengatakan bahwa kerugian itu bukan hanya aktual tapi juga yang bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi begitu kan. Ini tentang klausal bahwa menurut penawaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi itu yang perlu kami berikan penjelasan itu begini misalnya. “Dulu ada mahkamah itu pernah memutus satu ketentuan undang-undang dalam hal ini Undang-undang Pemilu Pasal 60 huruf g, yaitu larangan bagi mereka yang dianggap sebagai terlibat partai terlarang untuk menjadi anggota legislatif. Nah, itu walaupun belum tentu kerugian ada pada orang bersangkutan tapi itu menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi ya begitu kan, sebenarnya logikanya adalah seperti itu. Nah, kalau dalam permohonan ini tiga orang dari Pemohon ini yang Saudara sebutkan dalam permohonan apakah logika itu dapat diterima demikian begitu?

Nah ini, itu maksud saya kalau memang Saudara pandang itu sebagai alasan untuk menjadi dasar kepentingan dari Pemohon untuk mengajukan permohonan ini juga tentu alasannya perlu harus ditambah demikian maksudnya. Nah ini, lalu mengenai amar putusan tadi saya minta Saudara tapi rupanya kalau saya dengar dari apa yang Saudara baca tadi dari Petitum Saudara maksud saya, jadi Petitum Saudara orang kedua itu kata “dan” itu “dari” yang benar ya, sebab kalau “dan” lain artinya berarti Saudara meminta seluruh undang-undang itu mau dibatalkan.

12. KUASA HUKUM PEMOHON :JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

“Dari.”

13. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

“Dari” ya, berarti itu perbaikannya ya. Kemudian tadi saya sepintas perbaikan ketika Saudara membaca permohonan ini pada poin 9 di halaman 14 itu tampaknya juga ada perbaikan redaksi begitu?

14. KUASA HUKUM PEMOHON :JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Benar yang Mulia,

(21)

15. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H

Baik, nanti sekalian saja disampaikan kepada Panitera atau sekalian disampaikan nanti pada perbaikan yang kepada Saudara diberikan kesempatan 14 hari untuk melakukan perbaikan setelah mendengar nasihat dari anggota Panel ini. Bersamaan dengan itu juga sekalian boleh tidak perlu sekarang artinya diserahkan. Tapi tentu makin cepat makin baik, nah itu hal-hal yang saya sampaikan. Ini tambahan saja, ini teknis saja sifatnya, ini sebenarnya sudah cukup baik sistematis dari permohonan ini, tapi akan baik sekali misalnya kalau saya contohkan di dalam poin-poin dari permohonan Saudara tentang materi muatan Undang-undang KPK yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar misalnya di situ point a, saya contohkan ya? Pasal 1 angka 3 dikaitkan dengan Pasal 53 Undang-undang KPK, dikutip saja langsung bunyinya kan, Pasal 1 angka 3 itu bunyinya apa, sehingga bisa langsung dibandingkan dengan argumen Saudara dibawahnya sehingga orang atau pihak nanti. Dalam hal ini nanti permohonan kan akan dikirim pada Presiden, DPR dan juga ditembuskan kepada Mahkamah Agung. Dan KPK juga nanti sebagai Pihak Terkait nanti akan diikut diundang dan dia akan dikirim permohonan ini, akan mudah membacanyakan, apa bunyi dari pasal itu yang Saudara berikan argumen bahwa itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar itu. Saya menyarankan seperti itu dan sebagai saran tentu saja sifatnya tidak mengikat tetapi tentu akan lebih baik apabila itu dilaksanakan, tapi kami sesuai dengan kewajiban yang ditentukan oleh undang-undang sudah memberikan saran, nasihat dan termasuk juga klarifikasi demi kejelasan permohonan ini kepada Saudara Pemohon.

Itu dari saya dari Bapak Hakim cukup, ada pertanyaan dari Saudara Pemohon.

16. KUASA HUKUM PEMOHON :JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Terima kasih yang Mulia.

Dari penjelasan yang Mulia tadi kami ada sedikit pertanyaan lebih jelas, mohon penjelasan ini.

Tadi atas pengarahan yang Mulia Bapak Maruarar menjelaskan mengenai apabila ada pasal-pasal yang pernah diajukan pengujian meterilnya kemari tidak dapat diperiksa lagi kecuali bisa dijelaskan ada perbedaan mengenai hak-hak konstitusional yang dilanggar demikian pula mengenai yang Mulia Ketua juga menjelaskan mengenai adanya perbedaan antara pihak-pihak.

Terhadap pengarahan Bapak Maruarar kami ingin bertanya bagaimana misalnya kalau kami mengajukan pasal itu tidak dirubah tapi kemudian dengan penjelasan yang kami usahakan untuk memperlihatkan perbedaan dari yang pernah diajukan akan tetapi kemudian yang mulia melihatnya sebagai memang sama, apakah dalam

(22)

putusan nanti ini keseluruhan dari permohonan kami ini ditolak seluruhnya atau diterima seluruhnya atau pasal-pasal yang sama itu saja yang tidak dapat diterima, demikian pula pihak-pihaknya, apabila pihak- pihaknya tetap sama tapi kemudian legal standingnya tidak sama apakah keseluruhannya akan tidak diterima atau hanya pihak-pihak yang legal standingnya yang tidak tepat saja yang diputuskan tidak terima. Itu pertanyaan kami kemudian yang berikutnya mungkin untuk bahwa mengenai bukti dan saksi ada tambahan-tambahan juga selain kami daftar nanti kami akan sampaikan kepada Kepaniteraan.

Yang terakhir adalah mengenai izin, jadi para Pemohon ini seperti kita ketahui dalam pasal di Undang-undang Mahkamah Konstitusi ini bahwa salah satu bukti adalah keterangan dari para pihak-pihak sendiri adalah salah satu jadi alat bukti. Kami memohon pada yang mulia diperlukan kami izin dari para pemohon ini yang berjumlah enam orang yang saat ini sedang ditahan di Rutan Polda Metro Jaya tahanan titipan, apakah dengan panggilan resmi kepada mereka atau kami cukup memohon izin saja kepada lembaga yang menahan mereka?

Demikian yang Mulia pertanyaan dari kami, terima kasih.

17. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H Baik.

Terima kasih Saudara Pemohon ya. Sebelum nanti ada tambahan dari Bapak anggota hakim yang lain, terhadap pertanyaan pertama ya, nasihat kami tentu tidak boleh mengajarkan jadi kalau pertanyaan pertama itu silakan Saudara pelajari putusan-putusan Mahkamah Konstitusi, sebab begini kalau atau hakim memberi nasihat yang detail seperti itu nanti orang bingung yang Pemohonnya yang mana ini yang duduk di sini atau yang duduk di sana. Tentu saja Saudara silakan baca putusan-putusan Mahkamah Konstitusi itu ada apa yang permohonan dikabulkan sebagian, bagaimana di hukum acara di Undang-undang Nomor 24, itu jelas.

Kemudian yang kedua, mengenai bukti, salah satu bukti itu adalah keterangan para pihak tentu saja itu nanti apabila sudah memasuki materi, apabila permohonannya sudah memasuki pemeriksaan permohonan nanti 9 (sembilan) Hakim Konstitusi Pleno itu akan melihat relevansinya apakah memang keterangan pihak-pihak itu diperlukan atau tidak. Sebab begini Saudara, sebagaimana tadi juga dalam persidangan sebelumnya kami ingatkan kepada Pemohon bahwa ini adalah pengadilan terhadap undang-undang, kita bukan mengadili orang. Oleh karena itu relevansi keterangan dari pihak-pihak itu atau keterangan orang itu hanya akan dinilai atau perlu oleh Mahkamah bilamana itu ada kaitannya dengan persoalan pembuktian mengenai konstitusionalitas norma, bukan mengenai pembuktian terhadap fakta-fakta yang berkaitan misalnya dengan suatu peristiwa pidana tertentu umpamanya,

(23)

dinilai oleh 9 (sembilan) Hakim Konstitusi sebagai hal yang memang perlu untuk didengar secara oral tentu permohonan Saudara itu akan dipertimbangkan nantinya. Tetapi kami panel hakim tidak mempunyai kewenangan untuk memutuskan mengenai hal itu dan itu tahapannya baru akan dilakukan setelah permohonan ini memasuki pemeriksaan mengenai pokok perkara yang akan dilangsungkan secara Pleno oleh 9 (sembilan) Hakim Konstitusi.

Demikian, ada pertanyaan lain?

18. KUASA HUKUM PEMOHON :JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Sementara dari kami cukup.

19. HAKIM : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Pemohon saya merasa tadi permohonan sama telah diajukan dalam Pemohon perkara lain yaitu khususnya Mulyana. Di sana kami jelaskan juga mungkin supaya dipertimbangkan apakah memang dalam uji konstitusionalitas norma ini diperlukan Pemohon prinsipal hadir, terutama tentunya juga bisa Saudara lihat dari sudut kepentingan Saudara sehingga nampak netral dia kan? Tetapi yang lebih penting dari pada itu misalnya tentu bukti-bukti itu bisa diperoleh dengan cara yang lain tidak keterangan Pemohon dimana-mana sebenarnya adalah semacam apa yang sudah diajukan dipermohonan ini kan, itu tentunya sudah mewakili dia apa yang Saudara tuangkan di sini. Misalnya tentang argument Saudara, dalil Saudara bahwa Tipikor tidak Independen, nah ini yang Saudara harus buktikan tidak perlu harus hadir Pemohon misalnya dari sudut mana Saudara mengatakan bahwa dimana yang menyatakan bahwa peradilan Tipikor itu tidak independen dan dia seperti yang Saudara katakan dihalaman berapa saya kurang tahu putusannya kok bisa saja apa yang dilakukan oleh KPK itu tentu berat pembuktian itu, karena itu Pasal 24 tentang independensi dan kemudian Saudara dalilkan itu keberadaan itu tidak benar begitu sehingga bisa timbul satu masalah konstitusi seperti ini, ini tidak perlu Pemohon dihadirkan tapi Saudara mencari bukti dari sudut apa saja yang Saudara nyatakan.

Jadi saya pikir kehadiran, itu satu saran saja karena kita kan bukan mengadili orang jadi agak repot nanti misalnya Pemohon banyak hadir, tetapi yang dihasilkan kontra produktif. Jadi saya pikir ini Saudara carilah karena dalil Saudara sangat penting ini apakah benar ya, bagian dari KPK bukan dari peradilan, Peradilan Tipikor itu tuduhan Saudara serius lho itu menohok kepada sistem peradilan di Indonesia tapi buktikanlah begitu tidak perlu hadir Pemohon kalau saya supaya jangan repot nanti ya?

Ok saya kira tambahan saya, tapi itu pendapat kalau Saudara berusaha namanya juga usaha kan begitu.

(24)

20. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, SH.,MH.

Ya Saudara Pemohon.

Itu betul yang tadi digarisbawahi oleh Bapak hakim anggota yang berhormat Bapak Siahaan, bahwa memang di dalam bagian dari argumentasi Saudara itu, itu langsung berhubungan dengan persoalan sistem. Kalau Saudara itu bisa buktikan ini mungkin sesuatu hal yang menggegerkan juga itu, oleh karena itu tolong itu disiapkan betul mengenai pembuktian Saudara, karena ini bukan main-main.

Persoalannya begini, Pasal 24 misalnya yang dimana dari situ yang menjadi soal atau yang menjadi issue sepintas tampak dalam Pasal 24 itu adalah tentang kemerdekaan peradilan kan begitu? Orang kemudian tentu akan bertanya apa hak konstitusional Saudara yang dirugikan?

Apakah itu bukan hak para hakim? untuk mengajukan yang memiliki legal standing untuk mengajukan ini misalnya kalau itu dasarnya, tetapi karena penjelasan dari Pasal 51 ayat (1) huruf a itu tentang apa yang dimaksud tentang hak konstitusional itu, itu adalah hak yang diatur dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 itu mungkin Saudara urai dari situ, walaupun tampaknya misalnya itu adalah tentang kemandirian peradilan, tetapi ada hak konstitusional Saudara tidak di sana, itu perlu karena itu nanti kembali lagi tuduhan Anda itu nanti tanda petik, tuduhan Anda itu dalam argumentasi itu serius sekali.

Karena Anda menyatakan pengadilan TIPIKOR itu sebagai bagian dari KPK, tentu itu memerlukan pembuktian yang sangat serius dan cukup kompleks, saya kira dalam pemeriksaan, tetapi itu nanti dalam bagian pemeriksaan pokok perkara, yang sekarang yang penting Saudara jelas dulu sistematis dan mudah dipahami permohonan ini sebagaimana tadi sudah kami nasihatkan, kalau itu bisa dikerjakan dan kalau bisa walaupun secara hukum ini saran tentu boleh, secara hukum Saudara diberikan waktu 14 hari untuk menggunakan waktu perbaikan ini semakin cepat Saudara menyampaikan perbaikan tentu akan semakin baik bagi Saudara sendiri karena persidangan ini tidak lantas akan lebih panjang karena Saudara bisa lebih cepat dan lebih cepat pula persidangan akan dilaksanakan.

Demikian Saudara Pemohon, kalau masih ada pertanyaan kami persilakan, kalau tidak ada kami sudahi persidangan untuk kali ini yang pertama ini tentu menunggu perbaikan dari Saudara, ada pertanyaan?.

21. KUASA HUKUM PEMOHON :JANUARDI. S. HARIWIBOWO, S.H.

Dari kami cukup yang Mulia, kami akan segera lakukan perbaikan sesuai arahan yang mulia.

Terima kasih.

(25)

22. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, SH.,MH.

Baik Saudara Pemohon dengan demikian kalau tidak ada lagi pertanyaan dan nasihat sudah disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 39 ayat (2) Undang-undang Mahkamah Konstitusi maka pemeriksaan pendahuluan untuk perkara ini sidang Panel untuk pemeriksaan perkara ini untuk hari ini saya nyatakan ditutup dan selanjutnya akan diberitahukan kepada Saudara.

KETUK PALU 3 X.

.

SIDANG DITUTUP PUKUL 11.50 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Kita bisa menemukan lingkaran pada alat musik, peralatan rumah, bagian mobil, benda logam, roda, dan beberapa istilah yang menggunakan kata

Dalam bahasa Inggris ada ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk memperkenalkan diri sendiri dan seseorang atau orang lain, memberikan salam kepada orang yang

Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Earning per Share, Rerturn on Asset, Return on Equity, dan

Kernel yang dapat dipakai adalah kernel filter lolos-tinggi dengan nilai di pusat diisi dengan nilai yang lebih besar daripada nilai pada posisi tersebut untuk

Satu faktor yang menjadikan kita mesti beradai pada tempat bersaing dengan masyarakat lain; mengapa universiti kita tidak boleh berada di Sintok, tidak boleh sahaja berada

Berdasarkan hasil temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan pola pembinaan dan pengawasan kepala sekolah, dan disiplin guru

Kerjasama Polines-PLN Politeknik Negeri Semarang yang dapat dilakukan adalah validitas, reliabilitas dan menentuan tingkat kesulitan pada tiap-tiap butir soal ujian

Pelaksanaan pembelajaran dengan strategi pem- belajaran Learning Start With A Question (LSQ) berbantuan media audio visual pada siklus I su- dah cukup baik untuk guru maupun