5 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori
1. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan Siswa a. Pengertian Tugas Perkembangan
Individu dalam periode tertentu mempunyai tugas-tugas yang harus dicapai, seperti yang diungkapkan oleh Havighurst (Terj. Firmansyah, 1984:3), menyatakan bahwa:
Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.
Dari pendapat tersebut individu yang mencapai tugas perkembangan dengan baik maka mereka mempunyai kebahagiaan pada dirinya dan untuk pencapaian tugas perkembangan berikutnya akan menemukan keberhasilan, sedangkan untuk individu yang tidak dapat mencapai tugas perkembagan dengan baik maka akan mendapat masalah dalam proses pencapaian tugas perkembangannya dan akan mengalami kekecewaan dalam proses kehidupannya serta akan mendapat penentangan dari masyarakat.
Pendapat tersebut dilengkapi oleh Hurlock (Terj. Istiwidayanti &
Soedjarwo, 1980:9) menyatakan bahwa:
tugas-tugas perkembangan ini sebagai social expectations atau harapan sosial dalam arti bahwa setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Dalam pengertian ini lebih mengarah pada harapan dari kelompok tertentu untuk membawa anggotanya kepada harapan sosial yang baik, mempunyai perilaku-perilaku yang diharapkan kelompok budaya.
Penjelasan-penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas perkembangan merupakan tugas yang muncul dari alam dan lingkungan sekitar yang pada periode tertentu harus dicapai individu, tugas yang harus dicapai seperti harapan sosial yang apabila dapat mencapai dengan baik maka individu akan menemukan kebahagiaan serta dalam mencapai tugas berikutnya akan lebih mudah, sedangkan individu tidak berhasil mencapai tugas perkembangan dengan baik maka akan muncul kekecewaan dan akan mengalami kesukaran pada proses pencapaian berikutnya.
b. Tugas Perkembangan Siswa SMA
Siswa SMA pada umunya pada kisaran umur 15-18 tahun dan tergolong anak usia remaja, menurut Desmita (2005:190) menyatakan bahwa, ’’batasan usia remaja pada umumnya yaitu 12-15 tahun=masa remaja awal, 15-18 tahun=masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun=masa remaja akhir”. William Kay dalam Pikunas (1976:257)
’’Speaks about the one supreme task of adolescence, the acquisition of mature moral system to guide conduct”. Dalam definisi di atas menjelaskan bahwa tugas perkembangan yang paling utama atau paling tinggi dalam masa remaja untuk memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya.
Kemudian dalam sumber yang sama dijelaskan beberapa tugas perkembangan remaja menurut William Kay dalam Pikunas (1976:257):
Several developmental task pertain mainly to the middle and late phases of andolescence :
1) Accepting one’s adult physique and its various qualities as something final and self-related .
2) Attaining emotional independence from parent and authority figures.
3) Developing skill in interpersonal communication and learning to get along with peers and other people individually and in group.
4) Finding human models with whom to identify.
5) Accepting oneself and relying on one’s own abilities and resource.
6) Strengthening self-control on the basis of a scale of values and principle, or weltanschauung.
7) Outgrowing infantile, puerile,and pubescent modes of reaction and adjustment.
Berdasarkan pendapat tersebut tugas perkembangan remaja antara lain mampu menerima keadaan diri, mencapai kemandirian emosi, mampu mengembangkan hubungan interpersonal dengan orang lain, menemukan model manusia yang dijadikan identitasnya, mempunyai kepercayaan diri, mampu mengendalikan diri berdasarkan norma dan falsafah hidup, dan kemudian mampu meninggalkan sifat kekanak- kanakan.
Menurut Sunaryo Kartadinata dalam Supriatna (2011:121) bahwa ada 11 aspek perkembangan siswa SMA meliputi : landasan hidup religius, perilaku etis, kematangan emosional, kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria dan wanita, penerimaan diri dan perkembangannya, kemandirian perilaku ekonomi, wawasan dan persiapan karir, kematangan hubungan teman sebaya, dan persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.
Aspek-aspek perkembangan tersebut secara rinci adalah sebagai berikut :
1) Landasan hidup religius
Landasan hidup religius meliputi sholat dan berdoa, belajar agama, keimanan, dan sabar.
2) Landasan perilaku etis
Landasan perilaku etis meliputi jujur, hormat kepada orang tua, sikap sopan dan santun, ketertiban dan kepatuhan.
3) Kematangan emosional
Kematangan emosional meliputi kebebasan dalam mengemukakan pendapat, tidak cemas, pengendalian emosi, dan kemampuan menjaga stabilitas emosi.
4) Kematangan intelektual
Kematangan intelektual meliputi sikap kritis, sikap rasional, kemampuan membela hak pribadi, dan kemampuan menilai.
5) Kesadaran tanggung jawab
Kesadaran tanggung jawab meliputi mawas diri, tanggung jawab atas tindakan pribadi, partisipasi pada lingkungan, dan disiplin.
6) Peran sosial sebagai pria atau wanita
Peran sosial sebagai pria atau wanita meliputi perbedaan pokok laki- laki dan perempuan, peran sosial sesuai jenis kelamin, tingkah laku dan kegiatan sesuai jenis kelamin, dan cita cita sesuai jenis kelamin.
7) Penerimaan diri dan pengembangannya
Penerimaan diri dan pengembangannya meliputi kondisi fisik, kondisi mental, pengembangan cita-cita, dan pengembangan pribadi
8) Kemandirian perilaku ekonomis
Kemandirian perilaku ekonomis meliputi upaya menghasilkan uang, sikap hemat dan menabung, bekerja keras dan ulet, dan tidak mengharap pemberian orang.
9) Wawasan persiapan karir
Wawasan persiapan karir meliputi pemahaman jenis pekerjaan, kesungguhan belajar, upaya meningkatkan keahlian, dan perencanaan karir.
10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya
Kematangan hubungan dengan teman sebaya meliputi pemahaman tingkah laku orang lain, kemampuan berempati, kerja sama, dan kemampuan hubungan sosial.
11) Persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga
Persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga meliputi pemilihan pasangan/teman hidup, kesiapan menikah, membangun keluarga, dan reproduksi yang sehat.
Aspek-aspek tersebut merupakan bagian dari penyusun tugas perkembangan, ketika siswa mampu menguasai aspek-aspek tersebut siswa dinyatakan menguasai tugas perkembangan. Pendapat ahli lain juga menyatakan hampir sama seperti yang dikatakan oleh Havighurst dalam Hurlock (Terj. Istiwidayanti & Soedjarwo, 1980:10) menjelaskan tugas perkembangan remaja sebagai berikut :
1) Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
2) Mencapai peran sosial pria dan wanita.
3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
4) Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
5) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
6) Mempersiapkan karier ekonomi.
7) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
8) Memperoleh perangkat dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
Aspek-aspek yang telah disebutkan ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pencapaian tugas perkembangan siswa meliputi aspek- aspek landasan hidup religius, perilaku etis, kematangan emosional, kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria dan wanita, penerimaan diri dan perkembangannya, kemandirian perilaku ekonomi, wawasan dan persiapan karir, kematangan hubungan teman sebaya, dan persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.
c. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
Tingkat pencapaian tugas perkembangan siswa merupakan tahap- tahap seberapa tinggi siswa mampu dalam mencapai semua aspek-aspek tugas perkembangan siswa. Seberapa tinggi tingkat pencapaian tugas perkembangan berdasarkan angka yang didapatkan dari Inventori Tugas Perkembangan (ITP) yang sudah terstandar. Penentuan tingkat pencapaian tugas perkembangan ditentukan berdasarkan kriteria hasil skor Inventori Tugas Perkembangan (ITP) antara: rendah, sedang, dan tinggi. Menurut Syamsu Yusuf (2011:76) menyebutkan bahwa tingkat pencapaian tugas- tugas perkembangan ada tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Ketiga kategori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Tinggi. Indikatornya : memiliki sahabat dekat dua orang atau lebih, sebagai anggota klik dari jenis kelamin yang sama secara mantap, dipercaya oleh teman sekelompok dalam posisi tanggung jawab tertentu, memiliki penyesuaian sosial yang baik, meluangkan waktu untuk berinteraksi, mau bekerjasama dengan orang lain yang mungkin tidak disenangi untuk mencapai tujuan kelompok, menyenangi lawan jenis, memilihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga, mempunyai minat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelaminnya, mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan secara rutin, mempersepsi tubuh dan jenis kelaminnya secara tepat, memiliki pengetahuan tentang reproduksi, memiliki tujuan hidup yang realistik, mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi dengan keluarga secara mandiri, dan memiliki reputasi sifat moral yang baik.
2) Sedang. Indikatornya : memiliki seorang teman dekat, menjadi anggota klik namun kurang mendapat perhatian, memiliki kemampuan sosial yang sedang, merasa kurang percaya diri, apabila berada dalam kelompok yang beragam, remaja pria matang seksualnya namun kurang mempunyai perhatian terhadap remaja
wanita, menampilkan ciri-ciri maskulinitas namun masih ragu, takut atau menolak peran heteroseksualnya, hanya menyenagi olahraga ringan, mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak mampu memelihara program kesehatan dalam jangka waktu lama, ego idealnya dipengaruhi oleh dewasa muda, sikapnya belum ajeg antara desakan untuk menjadi dewasa dengan sikap kekanak-kanakan, kadang-kadang kurang bersikap jujur, bersikap altruis namun kurang matang, cenderung mementingkan kebutuhan sendiri daripada orang lain, mau bekerjasama apabila ada tekanan dari kelompoknya atau orang dewasa.
3) Rendah. Indikatornya : tidak memiliki teman akrab, tidak pernah diundang oleh teman untuk menghadiri acara kelompok, sering dikambing hitamkan oleh teman sebaya, sering balas dendam dengan sikap bermusuhan, remaja pria tidak mempunyai interes terhadap remaja wanita, tidak menyenangi olahraga, remaja wanita penampilannya seperti anak kecil, berpenampilan seperti remaja pria, kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan diri dan cenderung menolak apa yang dinasehati oleh orang tua, menampakkan ketidaksenangan terhadap tubuhnya, merasa cemas tentang kematangan yang lambat, tidak memiliki pengetahuan tentang reproduksi, ego idealnya sangat ditentukan oleh orang tua, menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan orang tua, menerima otoritas orang tua, mengalami kesulitan dalam menempuh hidup berkeluarga, berperilaku tidak jujur, tidak bertanggung jawab, tidak konsisten, tidak suka memperhatikan perasaan orang lain, bersikap kasar dan tidak sopan, menolak bekerjasama, dan suka memaksa otoritas.
Kriteria yang telah disebutkan oleh ahli tersebut, menunjukkan beberapa sifat yang telah digolongkan sesuai tingkatan tingkat pencapaian tugas perkembangan, hal itu meliputi tingkat hubungan dengan teman
sebayanya, tingkat kepercayaan dimata teman-temannya, tingkat kemandirian, serta memiliki reputasi yang baik tentang sikapnya.
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penguasaan Tugas Perkembangan Penguasaan tugas perkembangan tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, antara lain bisa mempengaruhi tugas perkembangan semakin baik atau sebaliknya. Menurut Havighurst dalam Hurlock (Terj. Istiwidayanti & Soedjarwo, 1980:11) faktor yang menghalangi tugas perkembangan antara lain:
1) Tingkat perkembangan yang mundur.
2) Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya.
3) Tidak ada motivasi.
4) Kesehatan yang memburuk.
5) Cacat tubuh.
6) Tingkat kecerdasan yang rendah.
Sedangkan faktor yang membantu tugas perkembangan adalah sebagai berikut:
1) Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
2) Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya.
3) Motivasi.
4) Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh.
5) Tingkat kecerdasan yang tinggi.
6) Kreativitas.
Beberapa faktor yang telah disebutkan di atas dapat terjadi kemungkinan yaitu pengaruh yang dapat menghalangi tugas perkembangan begitu juga yang dapat membantu tercapainya tugas perkembangan. Dalam kaitannya untuk membatu tugas perkembangan faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: Tingkat perkembangan normal, kesempatan belajar untuk menguasai tugas perkembangan,
mendapatkan motivasi, kesehatan yang baik serta kecerdasan yang tinggi dan kreativitas.
2. Komitmen dalam Melaksanakan Kegiatan Ekstrakurikuler a. Pengertian Komitmen
Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler dibutuhkan sikap dan perilaku yang menunjukkan rasa keinginan yang kuat dalam menjalankan kegiatan tersebut, salah satunya adalah komitmen. Menurut B.N Marbun dalam Hidayatullah (2009:59) ’’Komitmen adalah ucapan yang mengikat seseorang untuk melakukan sesuatu; ikrar, janji”. Pengertian tersebut bermaksud bahwa setiap seseorang melakukan ikrar sebagaimana ikrar yang dilakukan merupakan sebuah janji. Definisi hampir serupa juga disampaikan menurut Pirdata (2009:144) ’’Komitmen adalah suatu sikap yang disertai dengan realiasasi sikap dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melaksanakan tugas pekerjaan”. Pendapat tersebut menguatkan bahwa komitmen terjadi tidak hanya dalam bentuk ucapan melainkan suatu sikap yang diikuti dengan tindakannya. Hal tersebut sejalan dengan Agustian (2001:268) berpendapat bahwa ’’Komitmen bukan semata-mata sebuah janji yang terucap dimulut. Komitmen tidak hanya dalam alam pikiran. Tetapi komitmen harus diwujudkan melalui perbuatan dan praktek yang bisa diukur secara nyata dan visual”. Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen merupakan suatu ikrar atau janji yang diikuti sebuah sikap untuk merealisasikan dalam sebuah tindakan atau diwujudkan dengan praktek . b. Definisi Kegiatan Ekstrakurikuler
Menurut Zainal Aqib & Sujak (2011: 81) kegiatan ekstrakurikuler yaitu: suatu kegiatan yang diselenggarakan diluar jam pelajaran biasa dalam suatu susunan program pengajaran, disamping untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan, juga untuk pengayaan wawasan dan sebagai upaya pemantapan kepribadian. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan diluar
jam pelajaran biasa yang terprogram dan disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan masing-masing sekolahan, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk pengayaan wawasan dan sebagai upaya pemantapan kepribadian.
Sedangkan Noor (2012:75) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan siswa sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. Dalam pengertian yang dijelaskan di atas kegiatan ekstrakurikuler cenderung dikaitkan dengan kegiatan minat bakat yang pada pelaksanaannya terdapat layanan konseling untuk membantu siswa agar sesuai dengan pribadinya.
Pendapat tersebut dikuatkan dengan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas,2014) SK Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh siswa di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan.
Pada inti yang dimaksudkan Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang mendukung kegiatan pendidikan siswa yang dalam pengawasan satuan pendidikan yang dalam hal ini adalah sekolah.
Dapat ditarik kesimpulan kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran diluar jam mata pelajaran yang difungsikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa yang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari pihak sekolah dan dalam hal ini kegiatan bisa disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing.
c. Komitmen dalam Melaksanakan Kegiatan Ekstrakurikuler
Dari beberapa definisi ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler merupakan suatu ikrar atau janji, yang diikuti sebuah sikap untuk merealisasikan dalam sebuah tindakan, atau diwujudkan dengan praktek yang bisa diukur secara nyata dan visual dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran diluar jam
mata pelajaran, kegiatan itu difungsikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa yang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari pihak sekolah dan dalam hal ini kegiatan bisa disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Hal tersebut dimaksudkan seseorang membuat ikrar atau sebuah janji untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler namun hal itu tidak hanya sebagai ucapan ikrar atau janji melainkan dijadikan sikap untuk melaksanakan sebuah tindakan dan mewujudkannya sebagai bentuk kegiatan yang nyata. Dalam hal ini kegiatan ekstrakurikuler yang dimaksudkan yaitu kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler Sains, Bahasa, Pramuka, Paskibraka, Olahraga, kesenian dan jurnalistik yang ada di sekolahan.
Kegiatan ekstrakurikuler memiliki andil dalam proses pengembangan diri siswa dari segi kepribadian dan persiapan karier seperti halnya yang diungkapkan oleh Noor (2012:75-76) fungsi kegiatan ekstrakurikuler :
1) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas siswa sesuai dengan potensi, bakat, dan minat mereka.
2) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial siswa.
3) Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan bagi siswa yang menunjang proses perkembangan, 4) Persiapan karier, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk
mengembangkan kesiapan karier siswa.
d. Aspek-aspek komitmen
Bagian-bagian dari komitmen menurut Sopiah (2008:156) menyatakan : (1) Kepercayaan dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai – nilai organisasi; (2) Kemauan untuk mengusahakan tercapainya kepentingan organisasi dan; (3) Keinginan yang kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi. Dari aspek-aspek
tersebut dimaksudkan dalam pelaksanakan tujuan dan nilai dari komitmen tersebut harus dalam kepercayaan dan penerimaan kuat, kemudian kemauan dan usaha anggota dalam mencapai tujuan, serta keinginan kuat untuk menjadi anggota. Selanjutnya kalau aspek-aspek tersebut dikaitkan dengan pengertian Komitmen yang merujuk pada suatu ikrar atau janji yang diikuti sebuah sikap ternyata uraian tentang aspek-aspek sikap dari Sopiah tersebut seiring dengan pendapat Azwar yang menyatakan bahwa sikap terdiri dari 3 komponen yaitu Kognitif, Afektif, dan Konatif Azwar (1995:24):
Komponen Kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional dan komponen konatif merupakan kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.
Aspek-aspek komitmen tersebut yang meliputi kepercayaan dan penerimaan kuat digolongkan sebagai Komponen Kognitif, kemudian kemauan dan keinginan kuat sebagai anggota digolongkan sebagai Komponen Afektif, perilaku usaha dalam mencapai tujuan digolongkan sebagai Komponen Konatif atau Psikomotor.
e. Fungsi dan prinsip kegiatan Ekstrakurikuler
Dari Penjabaran di atas bidang-bidang yang menjadi fungsi dari ekstrakurikuler antara lain pengembangan pribadi dan sosial, serta untuk persiapan karier siswa, kemudian untuk prinsip dari kegiatan ekstrakurikuler Noor (2012:76) prinsip kegiatan ekstrakurikuler yaitu:
1) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat siswa masing-masing.
2) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela siswa.
3) Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan siswa secara penuh.
4) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan siswa.
5) Etos Kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat siswa untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6) Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
Dari prinsip di atas bisa ditarik kesimpulan prinsip kegiatan ekstrakurikuler antara lain untuk meningkatkan potensi, minat, bakat,dan kepribadian siswa, serta etos kerja dari siswa itu sendiri yang pada aplikasinya bermanfaat terhadap lingkungan sosial.
3. Sumbangan Komitmen dalam Melaksanakan Kegiatan Ekstrakurikuler terhadap Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
Komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler merupakan suatu ikrar atau janji, yang diikuti sebuah sikap untuk merealisasikan dalam sebuah tindakan, atau diwujudkan dengan praktek yang bisa diukur secara nyata dan visual dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran diluar jam mata pelajaran, kegiatan itu difungsikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa yang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari pihak sekolah. Komitmen tersebut memiliki beberapa aspek yang harus dicapai antara lain: kepercayaan dan penerimaan kuat, kemudian kemauan dan usaha anggota dalam mencapai tujuan, serta keinginan kuat untuk menjadi anggota. Aspek-aspek tersebut diterapkan terhadap kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan andil dalam proses pengembangan diri siswa dari segi kepribadian dan persiapan karier. Kegiatan ektrakurikuler tersebut memberikan beberapa peran antara lain: mengembangkan kemampuan dan kreativitas siswa sesuai dengan potensi, bakat, dan minat mereka, kemudian mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab dan minat mereka, kemudian mengembangkan suasana rileks menggembirakan, dan menyenangkan bagi siswa yang menunjang proses perkembangan, serta kegiatan ekstrakurikuler mengembangkan kesiapan karier.
Peran komitmen dalam Melaksanakan Kegiatan ekstrakurikuler sejalan dengan aspek-aspek yang harus dicapai dalam tugas
perkembanganan yang antara lain: landasan hidup religius, perilaku etis, kematangan emosional, kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria dan wanita, penerimaan diri dan perkembangannya. Dari fungsi dan peran komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler tersebut memberikan andil terhadap tingkat pencapaian tugas perkembangan.
B. Penelitian sebelumnya yang Relevan
Arlinda Dwi Cahyani (skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Surakarta 2013)
Telah melakukan penelitian tentang Kontribusi Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat Pencapaian Tugas-Tugas Perkembangan Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012. Berdasarkan penelitian ini Tingkat Pencapaian tugas-tugas perkembangan kelas VIII SMP Negeri 3 Surakarta rata-rata skor yang yang diperoleh adalah lebih dari 37,67 (>37,67) dan kurang dari 41,73 (<41,73) yaitu terdapat pada tingkat konformistik tingkat sadar diri dan tahap seksama. Rata-rata pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa berada pada tingkat IV. Tingkat sadar diri (SD). Pola asuh orangtua pada siswa- siswa tersebut dengan rata-rata skor yang diperoleh adalah lebih dari 46 (>46) dan kurang dari 90 (<90), dan ada kontribusi yang signifikansi antara pola asuh orang tua terhadap pencapaian tugas-tugas perkembangan.
C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan diatas, komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler diduga memberikan kontribusi terhadap tingkat pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa dimasa remaja. Siswa yang mempunyai komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang tinggi, maka akan terbantu dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya sebagai remaja, sehingga siswa merasa berbahagia ketika mampu mencapai tugas perkembangannya. Kemudian jika siswa memiliki komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler sedang maka siswa tersebut juga memiliki tingkat
pencapaian tugas perkembangan yang sedang, jika siswa memiliki komitmen dalam melaksankan kegiatan ekstrakurikuler rendah, maka siswa tersebut kurang terbantu dalam mencapai tugas perkembangannya dan akan merasa kesulitan untuk mencapai tugas perkembangannya sebagai remaja secara optimal.
Gambar 2.1. Skema Kerangka Pemikiran D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap penelitian atau suatu permasalahan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:
1. Tingkat pencapaian tugas perkembangan siswa kelas XI SMA N 2 Surakarta berada dalam kategori sedang.
2. Komitmen siswa dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler berada dalam kategori sedang.
3. Komitmen dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler berkontribusi terhadap tingkat pencapaian tugas perkembangan siswa.
Komitmen dalam mengikuti ektrakurikuler
Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
sedang Komitmen dalam
mengikuti ektrakurikuler Tinggi
tinggi Tingkat Pencapaian
Tugas Perkembangan tinggi
Komitmen dalam mengikuti ektrakurikuler rendah
tinggi Komitmen dalam
mengikuti ektrakurikuler sedang
tinggi Tingkat Pencapaian
Tugas Perkembangan rendah